Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 60


__ADS_3

"Ya ampun, Clara... Lama gak ketemu tau-tau dah mau mantu saja!" seru suara yang keluar dari smart phonenya.


"Kan Al juga udah nikah tiga tahun silam, Ren," jawab Clara, sambil duduk di atas ayunan taman. Sementara jari-jarinya yang lentik sibuk memainkan rambutnya.


"Apa, sudah tiga tahun? Kenapa kau menyembunyikan pernikahannya?  Tiga tahun menikah kau pasti sudah jadi nenek, ya?" ucap suara itu lagi.


"Ya, Al sengaja tidak mau mengadakan pesta, hanya ijab qobul aja tasyakuran kecil-kucilan. Untuk anak, Al belum punya sendiri, tapi dia punya anak tiri dari istrinya," jawab Clara, menjelaskan.


"What? Si ganteng nikahin janda? Astaga... Ra, tau gitu aku embat saja dia, hahahaha." Tawa Eren pun meledak, ia benar-benar menyesalkan Al yang menikah dengan Janda.


"Mau gimana lagi, Ren. Namanya juga jodoh siapa yang tahu, kan. Kaya kamu naksir kakak tiriku, tapi menikah dengan sepupuku," jawab Clara sambil tertawa. Dan diikuti pula suara tawa oleh Eren dari seberang.


"Aku jadi nyesele tinggal di Australi, Ra. Tau gitu biar aku di Indo saja, mendekatu Al biar jadi menantuku saja. Kan, Hanifa saja, kan selisih usia sama Quen cuma setahunan, kan?" keluh Eren.


"Hahaha, Kau tahu, Lusi dan Reza juga berkata demikian, kenapa Al tidak mau sama Alenta, kok malah pilih janda. Padahal Alenta cukup dekat dengan kita, kan? Anaknya kan ramah abis tu, gak kaya mamanya," ucap Clara.


"Tunggu! Apa kau pikir besanan dengan Reza dan Lusi aman bagimu?" tanya Eren.


"Kau meragukan kesetiaanku?"


"Tidak, tapi Reza? Lalu bagaimana perasaan Lusi?"


"Ren, ayolah itu sudah sangat lama, kita sudah sama-sama tua. Jadi ga akan ada lah pijiran seperti itu," ucap Clara.


"Sayang, kau sudah pulang? Ini akh lagi ngobroo sama Clara. Apakah kau ingin bicara dengannya?" ucap Eren begitu melihat suaminya datang.


Tak lama kemudian suara yang menyapa Clara berganti laki-laki. Ya, dia adalah Hans, kakak sepupunya. Keponakan dari mendiang ayah kandung yang hanya ia ketahui dari fotonya saja.


"Clara, apa kabar kau dan Vano?" sapa Suara itu yang terdengar lelah dari bekerja.


"Aku baik-baik saja, Kak. Kapan kakak akan. Ke Indo?" tanya Clara dengan nada seorang anak yang berbicara pada ayahnya, atau kakakknya. Entahlah. Meski dia juga dekat dengan Andrean, tapi, tetap saja kedekatannya tak akan mampu melebihi dengan yang sedarah.


"Pernikahan Quen kapan, sih? Ra?" tanya pria itu sambil meraih bulfoin san kalender yang berdiri di mejanya.


"Ya kurang lima hari, Kak. Ini sudah mulai sibuk, mengatur dekorasi rumah, acara di taman belakang saja Lebih luas," ucap Clara.


"Ya sudah, lusa aku Eren dan Hanifa akan ke Indo. Aku akan ke sana sebelum hari, H, ok?" ucap Hans menghibur.


"Ok, ya sudah, kakak istirahat saja dulu, baru pulang kerja, pasti capek, kan?" ucap Clara lalu mengakhiri panggilannya.


Clara kembali ke ruang tamu mengawasi petugas dekorasi yabg menghias ruangan sedemikian rupa. Sedangkan saa ini Quen masih saja sekolah, ia tidak mengambil libur, toh di rumah dia tidak akan melakukan apa-apa, gaun dan semua keperluannya sudah siap, orang tuannya yang mengatur.


"Calon pengantin baru kok gak izin libur saja, dulu?" sapa Gea saat melihat Quen masuk ke dalak kelas.


"Nanti, dong, libur nya kalau hony moon," jawab Quen sambio tertawa. Dalam hati gadis itu mengumpat, hony moon apaan, nikah aja gak yakin dia.


Tak lama kemudian dosen sudah masuk ke ruangan mereka, secara otomatis, ruangan yang sebelumnya sangat gaduh langsung hening.


Sekitar lima puluh menit acara kelas berlangsung. Para siswa sudah buyar, begitupun Quen dan Gea sudah keluar meninggalkan kelas.


Tiba di gerbang, Quen melihat mobil jaguar merah milik kakaknya, awalnya dia ragu, tapi, begitu melihat nomor platnya ternyata benar.


Ia berfikir, ngapain kakaknya kemari? Apakah untuk menjemput dirinya? Tumben sekali, kan? Gumam gadis itu dalam hati.


Gea memperhatikan sahabatnya yang berhenti sambil mengamati ke arah mobil sport merah maroon itu, karena penasaran, ia pun bertanya. " Quen, kau lihat apa?"


"Itu seperti mobil kakakku," jawab Quen.


"Coba samperin!" Seru Gea.


Quen pun mengamati kiri dan kanan jalan lalu menyebrang. Dan benar saja, Al langsung menurunkan kaca jendela dan meminta adiknya masuk.


Tanpa ragu-ragu, Quen membuka pintu samping kemudi dan duduk. "Tumben kakak jemput aku, ada apa?" tanya Quen sambil tertawa.


Al tidak menjawab, justru ia mendongkan tubuhnya ke arah Quen, entah dia yang sudah dewasa, atau lama tidak bertemu, tiba-tiba Quen memjadi nervous.


"Kakak, apa yang mau kau lakukan?"


"Kita akan ke Bandara jemput momy Jeslyn, kau pakai sabuk pengamannya, ok?" ucap Al tatkala berhasil meraih sabuk pengaman di sebelah kanan Quen.


"Kau cukup memintaku pakai saja, aku bisa memasangnya sendiri, keles," ucap Quen, memalingkan wajahny Ke jendela.


"Hay, calon pengantin, kenapa wajahmu jadi pucat begitu? Bukannya hal wajar bagimu mendapatkan pelukan dan ciuman dariku, hah? Atau karna tiga tahun gak kakak cium kamu malu?"


Goda Al sambil terkekeh.


"Ya gak gitu, kak. Kita kan udah sama-sama dewasa, yang tidak tahu, nanti dikiranya kita berbuat aneh-aneh di mobil, aja nanti." jawab Quen


Al mendapati wajah Quen nampak memucat, membuat ia berfikir kalau adiknya sudah pernah melakukan sesuatu dengan Aditya.

__ADS_1


"Quen, menghadaplah kemari!" perintah Al.


Dengan ragu-ragu Quen. Pun menoleh ke arah kakaknya, "Ada apa?" tanyanya.


"Kau sangat ketakutan barusan, kau pernah nglakuin itu, ya?" tanya Al ragu-ragu.


"Ya dulu, kan pernah satu kali sama kamu, kak."


"Dengan Aditya?"


Quen mengeleng dengan yakin.


"Aku berani bersumpah, seumur hidupku hingga detik ini, aku cuma melakukannya satu kali denganmu saja."


"Apakah Aditya tahu kau sudah tidak Virgin lagi?"


"Aku gak tahu, tapi, yang ku tahu, tidak semua gadis perawan itu berdarah saat melakukan hubungan,  lagi pula jaman sekarang kprawanan bukan lah prioritas utama anak kedokteran, kan? Aku tidak peduli jika usai malam pertama dia menceraikanku," jawab Quen yakin.


Al tau, Quen tidak ingin menikah dengan Adit bukan lataran masalah ini, tapi, soal dia dan mantan istrinya.


"Sudahlah, kau jangan sedih, maafin kakak, ya?" ucap Al merasa bersalah sambil mengelus belakang kepala Quen.


"Sudahlah, kan cuma satu kali dan lama, pasti tidak akan ketahuan, kan?" ucap Quen sambil tertawa.


Al pun mengidupkan mesin dan memacu mobilnya ke arah bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Jeslyn ibu kandungnya dari Singapura yang akan menghadiri acara pernikahan Quen.


Saat ia dan Al menunggu Jeslyn di tempat penjemputan, ia melihat sosok yang tak asing menyeret koper melintasi di depannya.


"Helena!" Teriak Quen pada wanita itu.


Wanita itu pun menoleh ke arah Quen dan menebarkan senyumnya. "Quen, kau di sini? Ngapain?" tanya Helena ramah.


"Ini aku dan kakakku menjemput Momy, kau dari mana?" tanya Quen ramah. Padahal dulu saat SMA mereka seperti musuh.


"Aku baru saja liburan dari Singapura, Nih."


"Ada yang jemput?"


"Tidak ada, Papaku sibuk hari ini, kau pasti juga tahu itu, kan?" jawab wanita itu.


"Kak, barengin Helena bisa, kan? Kasian dia," ucap Quen memohon pada kakaknya.


"Quen, tidak usah repot-repot, aku bisa naik taxi saja." ucap Helen merasa tidak sungkan.


"tidak apa-apa, mobilnya muat kok, kau dibelakang denganku, ok?" ucap Quen.


Mereka berempat pun akhirnya menuju ke parkiran mobil dan mengantarkan Helena lebih dulu.


"Lama gak jumpa ya, Qeun. Dengar-dengar kamu kemarin masuk fakultas ke dokteran, ya?" tanya Helena memulai pembicaraan.


"Iya, aku sudah lulus dan ini masih menjalani sekolah profesi, baru dah tugas, memang kau tahu dari mana, Helena?"


"Dari Alex, kalian satu universitas, kan?"


"Oh, masih berhubungan dengan dia, ya?" tanya Quen.


"Sebatas teman saja, Quen. Tidak lebih. Dengar-dengar dari dia kau akak menikah dengan pak dosen sekaliplgus dokter, ya?"


"Iya, kamu datangnya? Ini aku kasih undangan, tapi belum ada nama kaku, di situ," ucap Quen menyodorkan undangan berwarna hijau zambrut yang d hias dengan pita emas membuat undangan itu nampak mewah dan elegan.


Helena menerima undangan itu dengan senang hatu, ia membaca ada nama Quen dan Aditya di sana. Di bukanya dan gadis itu terkejut, "Astaga! Kau mo menikah dalam minggu ini?" ucap gadis itu terkejut.


"Hahaha, iya, kau datang, ya? Lagi pula papamu juga menerima undangan dari papaku, kau bjsa hadir bersama keluargamu, Helena," ucap Quen.


Kedua gadis itu asik mengobrol di kursi belakang tanpa sadar rumah helena sudah terlewat beberapa meter.


"Eh, tunggu, tunggu! Sepertinya rumahku kelewat deh, kak." ucap Helena merasa sungkan pada Al.


"Loh, iya, ya? Ya sudah tunggu putar balik saja, yang mana rumahnya?" tanya Al dengan lembut dan sangat berkharismatik.


"Setelah rumah ini, kak. Nah, ini rumahku, daaa?" ucap Helena yang tak langsung masuk meski gerbang sudah dibukakan oleh pembantunya, ia melihat mobil Al dan Quen dulu di depan pagar.


Setelah mobil itu tak lagi terlihat dari pandangannya, ia pun masuk ke dalam dan segera beristirahat. Karena kebetulan rumahnya sepi, kedua orang tuanya masih sama-sama berkeja.


"Nona Helen, apakah anda mau makan sesuatu?" tanya pembantu rumah Helena yang sudah bekerja sangat lama hingga jadi kepercayaan keluarganya.


"Terserah Bibi aja, aku mau mandi dulu, Bi," jawab Helena lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Usai mandi Helena keluar ke meja makan dengan handuk masih dililitkan di kepalanya, ia mencium aroma sup yang khas dari dapur. Karena kangen dengan masakan rumah, gadis itu pun beranjak ke dapur melihat apa yang di masak. Rupanya si Bibi memasak bakso ikan dan sayur cesim memang itu adalah favorit Helen.

__ADS_1


"Apakah sudah matang, Bi baksonya?" tanya Helena.


"Sebentar, ya Non. tunggu saja dulu di meja makan, sebentar lagi matang akan bibi antar ke sana," ucap wanita berusia empat puluhan itu yang berbodi sedikit melar namun berkulit bersih.


Helena pun menurut. Ia kembali duduk di kursinya sambil memainkan gawainya, tak lama kemudian ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari mamanya.


"Halo, Ma," jawab wanita itu, sambil menempelkan benda pipih itu pada telinga dan pipinya.


"Helena, kau sudah tiba di Bandara, Sayang?" ucap suara itu khawatir.


Helena memukul jidatnya sendiri, bagaimana dia lupa mengabari kaoau dia nebeng temannya tadi.


"Aku sudah di rumah, Ma. Maaf lupa gak ngabarin, tadi tu aku ketemu teman lama dan keasikan ngobrol, Ma."


"Oh, ya? Siapa dia?" tanya mamanya.


"Dia dulu teman SMA, mama belum tau, kok." jawab Helena.


"Ok, ya sudah, mama mau miting dulu sayang, kamu selamat beristirahat ya?"


"Ok Ma..."


Bersamaan dengan itu, bibi yang sedari tadi menyiapkan makan siang sudah datang dengan nampan berisi semangkik baso dan saus sambal untuk Helena.


"Makasih, ya Bi," ucap Gadis itu. Sambil mencicipi rasa kuahnya.


Karena masih panas, gadis itu bermaskut menunggunya agar agak dingin. Ia mengechat Alex mengabarkan kalau dia sudah berada di rumah saat ini.


["Hay, lex, kau lagi apa? Aku sudah ada di rumah, Nih."] tulis helena.


Tak lama kemudian ponselnya berdenting. Sebuah balasan dari Alex dia terima.


["Baru pulang dr gym, nih. Berapa lama kamu akan di rumah?"] isi balasan dari pria itu.


"Belum tahu tadi aku di bandara ketemu Quen dan kakaknya, dia memberiku tumpangan, dan juga undangan. Kamu juga dapat, kan? Kita datang bareng, ya?" balas Helena.


"Ok, aku akan datang sebelum acara ijab Qobul. Aku ingin menyaksikan kebahagiaannya saat itu," balas Alex.


"Jadi pagi, donk? Kenapa tidak malam saja saat resepsi?"


"Tidak apa-apa, kamu jadi bereng tidak?"


"Ya sudah, kalau gitu aku bareng papa mama saja pas malam resepsi, karena papaku bekerja di perusahaan keluarganya,"


"Ya sudah, aku pulng dulu." Alex pun mengakhiri obrolan chatnya dengan Helena yang juga mantannya di masa lalu.


🍁 🍁 🍁 🍁


"Lyli, kau lihat, saat seluruh keluarga besar ini berkumpul sangat ramai, tapi, tetap saja yang jadi pusat perhatian Quen, ya?" ucap Nayla pada Quen.


"Merek berkumpul karna acara pernikahan nona Quen, ya jelas saja, jadi perhatian, aneh deh mbak Nayla ini," ketus Lyli sekenanya.


"Ya bukan gitu, sih. Seolah keberadaanku tidak dianggap saja, mertua kandungku pun bahkan lebih condong ke Quen dari pada ke aku yang menantunya." Keluh Nayla.


"Kau mau jadi pusat perhatian, ya? Sini aku bantu." Lyli pun dengan sengaja menumpahkan minyak goreng di atas lantai tepat di bawah kaki Nayla, lalu mendorong wanita itu dengan gemas hingga membuatnya terjatuh dan berteriak.


"Aaa, Toloooong!" teriaknya. Ia meringis kesakitan ketika jatuh tersungkur, beruntung tidak sampai kesleo atau patah tulang.


"Lyli, apa yang kau lakukan?" bisik Nayla geram, ingin sekali dia menjambar asisten rumah tanngga ini.


"Tunggu sebentar, nanti keinginanmu untuk jadi pusat perhatian juga akan terkabul," jawab Lyli dengan cuek.


Dan benar sama, semua yang ada di ruang tamu berhambur ke dapur begitu mendengar teriakan Nayla.


"Ya ampun, Nayla, kau kenapa?" Tanya Clara, buru-buru dan bahkan hampir ikut terjatuh saat kakinya menginjak minyak goreng.


"Kenapa lantainya licin, Lyli?"


"Saya tidak sengaja menumpahkaj minyak goreng, Bu. Mbak Nayla tadi mah ambil atala pel tapi malah jatuh," jawab Lyli.


"Al, aku ajak Nayla ke kamar, biarkan dia istirahat dulu saja, kamu temani dulu," Perintah Clara pada putranya.


"Baik, Ma," Al pun memmbantu Nayla berdiri, lengannya dikalungkan pada pundaknya dan menuntunnya pergi dari dapur, dengan perlahan, ia menaiki tangga.


"Kaki kamu tidak sampai keseleo, kan, Nay?" Tanya Vano sambil memeriksa pergelangan kaki kanan dan kaki kirinya yang memang tidak terdapat masalah.


"Tidak, Mas. Maaf, ya, Aku jadi ngrepotin," ucap Nayla memasang tampang bersalah.


"Tidak apa-apa, ini cuma kcelakaan saja. lain kali kau hati-hati, ya? ya sudah kamu istirahat saja, aku akan cei email dari perusahaan." Al pun beranjak ke meja kerjanya yang terdapat di kamarnya.

__ADS_1


Coba saja Nayla tidak mengalami insiden ini, Pasti Al tidak akan mengecek emailnya karena disibukan dengan urusan dekorasi dan permasalahan yang tengah di alami Quen. beruntung Nayla tidak menyadarinitu, jadi dia hanya diam dan menurut tanpa harus bertengkar lagi.


__ADS_2