
“Jadi, kamu akan resign dari kantor dan kembali ke Jogja
untuk meneruskan usaha yang didirikan oleh keluargamu di sana?” tanya Al
setelah membaca surat pengunduran diri dari Candra.
“Iya, Pak. Saya minta maaf jika ada kesalahan yang saya
sengaja atau tidak selama bekerja di sini. Terimakasih pengalaman dan
kesempatan yang anda berikan selama hampir tujuh tahun ini. Saya sangat-sangat bersukur atas itu,” ucap Candra lagi dengan kepala tertunduk.
“Aku juga terimakasih banyak sama kamu. Kau sudah memberi yang
terbaik untuk perusahaan. Jaga diri baik-baik, dan seringlah main ke rumah,
oke?” ucap Al sambil memeluk pria yang kini sudah dia anggap sebagai saudara.
Terlebih setelah menikah dengan Novita.
“Pasti itu, Pak. Axel tetap di sini. Dia kuliah di Jakarta saja katanya,” jawab Candra.
Al mengantarkan Candra sampai depan pintu ruangannya.
Setelah itu, ia kembali duduk ke mejanya untuk bekerja. Sementara Candra, ia
berencana untuk langsung pulang. Tapi, karena ini sudah hampir jam makan siang, ia putuskan untuk beli makanan dulu untuk dia, Novi dan juga Adriel. Ia yakin, kalau Novita di rumah sangat sibuk beres-beres dan itu memungkinkan ia tidak sempat memasak. Jadi, ia membelinya dulu rumah makan yang memang sudah jadi langganan dia dan Novi jika memang tidak ingin masak.
Candra memang mirip secara fisik dengan Aditya. Tapi, sifat dan kepribadian berbanding terbalik. Aditya serius, romantis dan pintar masak. Kalau Candra, dia romantis, humoris dan tidak bisa masak. Pernah dipaksa masak, malah rasanya tidak karu-karuan.
“Mama, kita semua akan pindah ke Jogja? Sama kak Axel juga?
Apa dia tidak jauh jika kak Axel kuliahnya di sini dan rumahnya di sana?” tanya bocah
berusia tujuh tahun tersebut dengan polos. Yang sedari tadi hanya duduk
memandangi mamanya sibuk mengemasi barang-barang.
“Hanya kita bertiga saja, Sayang. Kakakkmu akan tetap
tinggal di sini. Adriel mau, kan pindah sekolah di Jogja?” tanya Novita balik.
“Tidak masalah. tapi, apakah kak Axel tidak masalah sendirian di sini?” tanya Adriel tidak puas.
“Kakak itu sudah
dewasa, Sayang. Tidak masalah dia di sini. Nanti, beberapa minggu sekali saat
libur, jika bukan kita yang ke sini, kak Axel yang akan ke Jogja. Bagaimana?”
ucap Novita memberi penjelasan pada putra bungsunya.
“Begitu, ya Ma?”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumssalam. Sayang. Itu papa sudah pulang. Ayo, kita
bukakan pintunya,” ucap Novita sambil menurunkan Adriel dari pangkuannya. Dan bergegas membuka pintu.
“Papa, kau sudah kembali?” tanya Adriel sambil memeluk pria
itu. dengan cepat pria itu langsung mengangkat tubuh anak itu dan
menggendongnya.
“Tentu saja. Biar kutebak, pasti anak papa ini belum makan
siang, kan? Papa belikan makanan,” ucap Candra setelah memberikan satu kantong kresek pada Novita.
“Bagaimana papa tahu? Kulihat sejak tadi mama tidak pegang
hp sama sekali?” jawab bocah itu dengan polos. Mungkin ia berfikir, jika saja mamanya pegang hp pasti juga tahu darinya.
“Papa menggunakan feeling saja, Sayang. Karena mama sibuk
beres-beres barang, pasti dia tidak akan sempat masak. Ayo, cuci tangan dan makan bersama,” ajak Candra pada putra sambungnya. Seraya menurunkan dari gendongannya.
Sekietika bocah berusia tujuh tahun itu berlari menuju dapur
untuk cuci tangan, setelahnya, mereka bertiga sama-sama makan bersama di meja makan.
“Kamu sudah izin lagi sama Al tadi? Bagaimana apakah semua
baik-baik saja?” tanya Novita membuka obrolan usai makan siang. Ketika Adriel sudah masuk ke dalam kamarnya untuk tidur siang.
“Sudah. Semua berjalan baik-baik saja. Jadi gimana? Kapan
kita akan ke Jogja?”
“Kapan memang? Bagaimana kalau kau saja dulu, bawa beberapa
barang, sedangkan aku di sini mengurus surat pindahnya Adriel, bagaimana? Jadi,
kau jemput aku, kita sudah tidak bawa banyak barang lagi,” ucap Novita sambil melirik beberapa koper yang isinya pakaian milinya, milik Adriel, mainan anaknya
dan buku-buku dan peralatan sekolah yang kelihatannya tak bisa hanya dengan satu kali angkut dalam mobil. Kecuali mobil pick up.
“Oke, baiklah. Axel belum kembali?”
“Mungkin sebentar lagi. Tadi telfon, katanya masih ada
kegiatan.”
Candra diam memandang Novita. Kemudian tiba-tiba sakja dia
main peluk saja dan mencium kening wanitanya sambil berbisik, “terimakasih banyak atas semuanya, ya?”
“Sama-sama. Aku juga terimakasih sama kamu. Kau, sudah
menerima kedua putraku seperti putramu sendiri.”
“Tapi, aku pengen anak gadis. Masak cowok doang?” timpal Candra.
Sementara Novita hanya memandang Candra sambil tersenyum
tertahan tanpa mmeberikan jawaban. Ia ingin berkata iya, tapi merasa usianya sudah tak lagi muda. Mau berkata tidak, kawatir juga dikira tidak benar-benar tulus menjadi seorang istri.
__ADS_1
“Oke, mungkin kita terlalu cepat untuk memiliki anak. kita
tiunggu sampai lima bulan pernikahan saja, bagaimana? Kita puaskan hari-hari kita bersenang-senang bersama Adriel dan Axel dulu. Sebab, kalau sudah punya bayi, kita tidak akan bisa bebas jalan-jalan, benar bukan?” tebak Candra.
Selama ini Candra memang selalu memikirkan kedua putra
sambungnya. Terlebih Adriel yang sejak lahir sidah tidak memiliki sosok ayah. Pantas saja, selama ini dia sangat menyukainya. Memang dia menginginkan sosok
ayah dalam hidupnya. Kasian sekali. Hanya saja, apa penyebab kematian Aditya, Candra sama sekali tidak tahu tentang itu.
***
Queen berdiri menatap foto papa dan mamanya dia halaman luas
sebuah klinik dengan mata sayu. Tempat praktik yang iya dirikian dengan tujuan memberi pelayanan terbaik pada masyarakat dan harganya g terjangkau bahkan gratis bagi yang benar-benar tidak punya, dan harapan
membuat kedua orangtuanya bangga semua sirna. Ia terus diam menatap seolah
tanpa berkedip. Mengabaikan beberapa orang yang ikut hadir dalam acara gunting
pita. Di sana juga ada Nayla, Bilqis dan Berlyn yang baru kemarin Al jemput
dari Singapura. Sementara Al sendiri, dia masih belum datang karena sebuah
urusan di kantor.
Seorang pria mengenakan jas seba hitam menghampiri Queen
dan membisikkan sesuatu. Queen tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat
dengan tangannya yang seolah mengatakan “tunngu.” Kemudiam wanita itu melihat
jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Bersamaan dengan itu
seorang pria sedikit terburu-buru datang menghampirinya.
“Maafkan aku jika terlambat sayang.”
Queen menoleh dan tersenyum. Barulah, saat suaminya datang,
ia melakukan gunting pita sebagai peresmian kalau klikin milknya yang ia beri nama “Permata Bunda” kini telah resmi dibuka dan akan bisa beroprasi hari ini.
Tepuk tangan riuh menyambut acaranya. Banyak yang datang
dari kalangan dokter dan perawat termasuk Gea dan juga pak Darto juga hadir. Memberi karangan bunga dan ucapan secara langsung pada Queen atas berdirinya klinik miliknya itu.
“Selamat Sayang. Atas pencapaianmu, semoga sukses,” ucap Al
sambil merangkul Queen dan memncium pipinya.
Lagi-lagi Queen hanya tersenyum saja menimpali ucapan
selamat dari suaminya, dan semua yang juga ikut hadir dalam acara itu. memang
sejak tujuh hari mamanya, wanita itu banyak berubah tak seperti biasa. Ia lebih
banyak diam daripada berbicara.
Setelah para tamu undangan sudah meninggalkan tempat, hanya
ada dia, Al dan beberapa tim medis yang ia pekerjakan, Queen memberi arahan
bersikap ramah. Setelahnya, Queen masuk ke dalam ruangannya yang juga diikuti
oleh Al.
“Kamu yang kuat, ya? meskipun papa dan mama sudah tiada, aku
masih ada untukmu. Aku berusaha memberi semua yang terbaik unutk mu delama aku
bisa,” ucap Al lirih.
“Terimakasih, Al. berjanjilah padaku untuk tidak pernah meninggalkan aku dalam keadaan
apapun,” jawab Queen yang akhirnya air mata yang ia bending sedari tadi jatuh
juga.”
“Kamu mau kita ke makam papa dan mama sekarang?”
Wanita itu mengangguk pelan dan keduanya pun meninggalkan
klinik yang sudah mulai ada satu dua pasien datang di hari pertama lauching.
Usai dari pemakaman, Queen terlihat lebih baik, dia sudah
mulai mau berbicara. Bahkan, siang itu, ia membawakan teh manis untuk Al untuk
menemani mereka ngobrol.
“Bagaimana dengan urusan kantor? Apakah perlu mencari
seorang CEO di perusahaan garmen yang papa pegang sebelumnya?” tanya Queen,
memulai pembicaraan.
‘’Mungkin nanti, perlu. Tapi, untuk selama ini, aku masih
bisa menghandle semuanya sendiri. Tidak masalah.”
“kesehatanmu itu penting, Sayang.”
“Aku akan jaga pola makan dan olahragaku. Kamu, sebagai
dokter, rawat aku, ya?” ucap Al. dan ternyata itu sukses membuat wanita itu
tersenyum tipis.
“Pokoknya, nomor satu kamu harus jaga diri. sekarang kan aku
sduah tidak bekerja di tempat orang, aku bisa membantumu urus perusahaan
seperti dulu lagi,” ucap Queen, kemudian menyeruput segelas teh miliknya.
“kamu jangan capek-capek. Cukup kau urus saja klinik dan
temani Berlyn biar dia tidak kesepian.”
__ADS_1
Queen pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Al dan keduanya
menikmati siang dengan semilir angin sejuk dibawah rindangnya pohon akasia.
***
“Halo, Nyonya. Saya sudah
mendapatkan informasi terkait Al dan Queen. Queen tidak terlihat memperpanjang
masalah, dan kemarin saya tahu hari ini dia membuka klinik sendiri untuk praktik.
Lumayan besar, fasilitas pelayanan di sana lengkap, ia juga memperkerjakan
beberapa dokter sepseialis, dokter umum dan juga banyak perawat. Apakah anda
ingin segera kembali ke Jakarta sekarang?” ucap seorang pria dari balik telfon
tanpa jeda. Membuat Lyli merasa muak dan mau muntah saja mendengarnya.
“Kau hanya kuminta cari informasi terkait ini saja. Kenapa jadi
kau memujinya begitu?” bentak Lyli kesal.
“Maaf. Saya hanya memberi info yang detil saja.”
“Baik, aku akan kembali ke rumah yang ada di Jakarta. Kau menemukan
kantor di mana Al bekerja sekarang? Di mana memangnya?” tanya Lyli sambil beranjak
meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
“Dia bekerja di dua perusahaan secara bersamaan. Terkadang di
perusahaan garmen, kadang juga di Interior.”
“baik, pantau saja terus, jika aku sudah sampai, atur aku bisa bertemu
dengannya. Aku akan memulainya saat ini juga.” panggilan pun ditutup dengan
kecepatan tinggi Lyli mengemudikan mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk sampai
di Jakarta dan bertemu dengan Al di sana. Persetan dengan Queen yang membuka
klinik besar dengan segala fasilitasnya sekarang. Tiba saatnya nanti, senyumannya
itu juga kan berubah menjadi tangisan darah. Orang tua sudah mati semua, dan
sebentar lagi suaminya kuambil. Tak lama setelah itu, anaknya yang akan kubunuh.
Batin Lyli.
Masuk perbatasan, Lily kembali menghubungi Bondan. Ia meminta
pria itu agar mencari informasi mengenai anak Al dan Queen. Agar ia bisa lebih
mudah melakukan misinya.
“Halo, Bondan. Aku minta kau sekarang juga cari tahu, siapa
sebenarnya anaknya Queen itu.”
“Baik Nyonya akan segera saya lakukan. Jika ketemu, apakah
anda ingin menculiknya?”
“Tidak, belum saatnya. Biarkan saja dulu dia rusak mentalnya
melihat papanya berkhianat. Setelah itu, culik dia.”
“Baik, saya akan berusaha mencari tahu,” jawab pria itu
kemudian menutup telfon.
Sementara Lyli sendiri ditengah jalan juga sibuk
membayangkan seperti apa anak mereka itu. sebab, ia belum tahu sama sekali
meskipun hanya ada di dalam foto. Karena melamun, mobil yang Lily kendarai
hampir saja menabrak seorang anak kira-kira dia berusia enam tujuh tahun. Dia tidak
melihat jelas wajahnya karena anak gadis itu mengenakan topi dan masker. Serta rambut
panjangnya yang berwarna hitam diikat dua.
“Heh, Tante, kalau ga bisa nyetir tuh dorong aja mobilnya. Gak
lihat rambu-rambu, ya? Tua, tapi **** baget,” umpat anak itu dengan berani. Bahkan
sorot matanya tampak tajam melotot padanya. Membuat Lyli yang mulanya hendak
minta maaf setelah keluar dari mobilnya jadi Cuma bengong saja saking syoknya. Bagaimana bisa
seorang anak kecil bisa mengatainya segitu pedasnya.
“Tiin tiiin tiiin!”
“Hoy, uda lampu hijau malah berhenti saja malah turun. Cepat
jalan,” bentak salah seorang pengendara mobil di belakang mobil Lyli. Bahkan ia
sampai tak sadar dia berhenti di depan zebracross lampu lalu lintas.
Setelah sadar, wanita itu segera masuk ke dalam mobil sambil
terus menggerutu tiada habis.
“Huh, anak siapa sih itu? kecil-kecil lidahnya tajam
sekali. Kek apa sih orang tuanya? Pasti bapak dan emaknya preman!” umpat Lyli
seorang diri. gara-gara bocah itu tadi, ternyata benar-benar merusak moodnya. Dua
pembantu yang takt ahu apa-apa, dia omelin. Begitulah bos, untuk marah, pasti
nemu saja alasannya unutk memarahi mereka dan membuat mereka diam merasa salah.
__ADS_1
Walau, terkadang juga tak masuk akal juga sih.