Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 4


__ADS_3

Sore itu, di dalam dapur, bik Yul nampak sibuk dengan segala


macam sesuatu yang akan dipersiapkan untuk makan malam nanti. Tiba-tiba saja


bel rumah berbunyi. Dengan tergesa-gesa wanita itu meninggalkan dapur dan


menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintunya.


“Iya, Sebentar!” teriaknya sambil setengah berlari.


Begitu pintu terbuka, di sana berdiri seorang pria dan


wanita. Mereka adalah teman tuan mudanya dan nona rumah ini.


“Oh, Mba Shinta dan Mas Vico? Kemarilah masuk. Non Queen dan


Den Al sudah kembali. Mari silahkan masuk biar saya beri tahu mereka.


Wanita paruh baya itu pun langsung menaiki anak tangga dan


mengetuk pintu kamar Queen secara perlahan.


“Iya,” sahut Al dari dalam kamar.


“Ada mas Vico dan mba Shinta di bawah, Tuan.


“Oh, iya, Bi. Terimakasih. Tunggu sebentar,” sahut Al lagi.


“Biar Shinta yang kemari saja, ya? Aku menemui Vico di


bawah?” tanya Al pada Queen.


Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan lembut saja. Lalu


Al pun meninggalkan kamar tersebut, mulai menuruni tangga dan menemui soulmatenya


untuk membahas lebih lanjut hal yang baru-baru ini mereka kerjakan.


“di mana Queen, Kak Al?” tanya Shinta ketika mendapti Al


sudah sampai di ruang tamu.


“Dia ada di kamar. Sedang beristirahat. Kamu kesanalah


menyusulnya,” ujar Al kepada Shinta.


Setelah Shinta naik dan terdegar suara pintu berderit


sebanyak dua kali, yang menandakan gadis itu sudah berada di dalam kamar Queen


yang kini juga telah menjadi kamar Al juga. Mereka bedua pun mulai berdiskusi.


“gimana? Beres?’ tanya Al pada Vico yang tengah bersandar


pada sofa ruang tamunya.


“Seperti yang kau inginkan. Apakah kau ingin melihat


bagaimana kondisinya? Soalnya aku juga belum lihat,” tawar Vico. Karena


sebenarnya dia sendiri juga penasaran.


Al melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangannya, ia


sempat berfikir sejenak. Lalu, akhirnya juga mengiyakan saja.


“Ya sudah, waktu makan malam masih panjang. Bisa lah kita


mengaku kerabat Jevin agar polisi yang berjaga di sana mengizinkan kita untuk masuk.”

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun berangkat menuju rumah sakit di


mana Jevin dirawat tanpa berpamitan kepada dua wanita yang tengah asik di dalam


itu, mungkin.


Al dan Vico hanya berpamitan kepada mamanya. Niatnya ia


sekalian mengantar Bilqis. Tapi, rupanya gadis kecil itu sudah tidak ada di


rumahnya, sudah sekitar sepuluh menit yang lalu ia diantar pulang oleh Dedi


karena mamanya juga mungkin segera pulang dari bekerja.


Sesampai di sana. Mereka tidak kesulitan untuk bisa masuk


dan membesuk Jevin. Karena selama ia ada di dalam penjara dan bahkan sampai


masuk IGD juga baru kali kedua ini ada yang mmebesuknya. Yang kemarin itu


katanya kakaknya.


Terlebih, dia tidak ada dugaan memiliki musuh. Jadi, kedatangan Al dan Vico tidak dianggap membahayakan pasien.


Setelah melihat keadaan Jevin yang babak belur tak sadarkan


diri dan nyaris tak dapat dikenali, Al bertanya pada perawat yang kebetulan


mengecek tabung ogsigen, cairan infus dan juga memberikan obat injek melalui infusnya.


“Sus, bagaimana keadaan saudara saya?” tanya Al dengan wajah


penuh simpati. DSedangkan Vico, ia hanya diam membisu saja.


“Pasien mengalami cidera yang lumayan parah. Kemungkinan


besar jika ia sadar dan sembuh nanti juga cacat seumur hidup. Tak bisa jalan


“Apakah tidak ad acara untuk membuatnya normal kembali, Sus?


Dengan terapi misalnya?”


“Ada saja, Pak. Tapi, kemungkinan untuk sembuh dan normal


Cuma lima persen saja.”


“Ya sudah, Sus. Terimakasih.”


“Waktu besuk sudah habis. Silahkan anda berdua keluar dan


meninggalakan tempat ini.” Teriak seorang polisi yang berpangkat sersan itu.


“Baik, Pak. Terimakasih.”


Al dan Vico pun kembali dengan perasaan lega dan puas.dengan


begitu, ia yakin, Jevin tidak akan mampu melakukan balas dendam dengan cara


apapun. Dan Luna, jelas ia akan menggugat cerai pria malang itu. Toh buktinya


selama ia masuk penjara selama tiga hari ini juga tidak ada mununjukkan batang


hidungnya.


****


Bilqis berlari menghampiri mamanya, ia datang lebih awal


sebelum ibunya pulang. Bahkan, Nayla sendiri tidak tahu kalau putrinya baru

__ADS_1


saja kembali dari tempat mantan suaminya.


“Kau terlihat senang sekali, Sayang? Apa yang membuatmu


seceria ini?” tanya Nayla saat putrinya sudah ada dalam gendongannya.


“Bisa kau tebak apa?” Bocah itu justru mlah balik bertanya.


“Apa? Apakah bibi sebelah rumah memberimu sesuatu?” tebak


Nayla.


“Salah. Aku baru saja datang ke rumah papa Al untuk yang


kedua kalinya.” Bilqis menunjukkan tawanya yang semringah.


Sementara Nayla terkejut. Bagaimana  bisa anak sekecil itu pergi ke sana? Dan naik apa dia? Apakah itu tidak terlalu berbahaya?


“Apa? Kau ke sana? Bagaimana bisa?”


“Hahaha. Aku memiliki nomor telfon rumah papa Al. Bilqis


mendapatkannya dari ibu guru. Om Dedi yang menjemputku Ma.”


Nayla terkejut, tak dapat membayangkan apa yang terjadi


selama dia di sana. Apakah kedatngannya diterima? Sementara Al dan Queen kini


sangat membenci dirinya. “Terus bagaimana saat kau di sana?”


“Bilqis barengin oma Clara. Dia senang kalau Bilqis datang.


Tadi, mama Queen juga baru pulang dari rumah sakit, Ma.”


“Pulang kerja?”


“Bukan. Dia sakit. Ada hal buruk terjadi padanya. Sepertinya


dia baru berkelahi. Tapi, sama siapa? Diakan orang baik, Ma.”


"Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang? Apakah calon bayinya baik-baik saja?" Dengan spontan Nayla menunjukkan mimik cemas dan khawatir. Sebab, dia pernah dengar, jika wanita pernah keguguran satu kali, seterusnya ia juga akan rentan.


"Dia baik-baik saja, Ma."


“Sayang, Bilqis jangan sering-sering ke sana, Ya? Bagaimana


pun mama sudah putus hubungan dengan mereka. Mama merasa malu dan tidak enak pada mereka semua.”


“Tapi, papa Al tidak keberatan Ma. Opa Vano dan kakek buyut


semua baik kok sama aku,” bantah gadis kecil itu.


"iya sayang mama tahu tapi tetap saja tidak enak karena kita sudah tidak ada hubungan dengan mereka. Jadi, kalau ke sana jangan sering-sering ya minimal dua minggu sekali, kalau bisa cukup satu bulan satu kali saja," pesan Nayla pada putrinya sambil berjalan menuju ke rumah mereka.


"Oh ya, lalu bagaimana saat mama Queen melihat kau berada disana? apakah dia tidak suka? Atau biasa saja?" Kayaknya Nayla penasaran dan ingin tahu.


"Tidak ada masalah, dia biasa-biasa saja. Cuma oma sama papa bilang kalau wanita hamil itu bawaannya sensitif dan emosian, jadi ya gitu marah-marah terus pada papa Al. Cuma sama Bilqis tidak kenapa-napa dia biasa saja seperti dulu," jawab bocah itu menyembunyikan sesuatu.


Namun, di mata Nayla yang adalah ibu kandungnya. Sekecil apapun kebohongan itu, dia akan tetap mengetahui kalau ada yang tidak beres.


"Dia tidak marah sama Bilqis?" tanya Nayla, berusaha memancing putrinya.


"Tidak. Cuma marah sama papa Al saja, lalu pergi, yang semula ngobrol dengan ku,


"Memang, apa alasannya?" Seolah Nayla pun masih tidak puas dengan jawaban putrinya yang terlihat terus menutupi sesuatu.


"Bilqis kurang tau, Ma. Ya sudah, Bilqis mau mandi dulu." Bocah itu merosot dari gendongan mamanya. Lalu berlari mengambil handuk dan ke kamar mandi.


Sementara Nayla meletakkan tasnya dan mulai memasak untuk makan malamnya dan juga putrinya.

__ADS_1


Kali ini dengan sengaja Nayla memasak makanan kesukaan Bilqis. Sayur Bening dan ayam kecap.


__ADS_2