
Queen terus memandang ke arah pintu dan melihat Nayla yang
entah dari mana saja dia. Bahkan ia mulai berani keluar malam.
Nayla berlagak cuek dan justru malah memasang wajah sinis
saat meilihat Queen mengetahui dia sudah pulang. Melihat dari lagaknya sepertinya Nayla sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan Queen. Entah, tentang apapun itu, yang pasti tidak jauh-jauh dari kata, dari mana kau?.
Tapi, sayang, Queen sudah bisa menebak apa yang nanti akan
Nayla jadikan jawaban jika ia bertanya dari mana atu sejenisnya. Jadi, ia diam
saja dan langsung ke dapur. Kebetulan bibi juga masih ada di dapur, jadi ia
bisa bertanya susu apa yang sebenarnya diberikan padanya.
“Bi, kok masih belum beristirhat? Ini kan sudah jam Sembilan
lewat?” tanya Queen, menyapa bibi yang baru saja menutup pintu rak piring.
“ini, Non. Masih belum ngantuk. Kok mangkuk bekas makannya
di bawa ke sini sendiri? Kan bibi bisa ambil dulu ke sana?”
Queen hanya tersenyum, menuju ke tempat cuci piring dan
mencucinya sendiri sambil berkata, “Sebenarnya, aku cuma masuk angin, Bi. Tadi, naik
motor lupa gak pake jaket, dan lagi siang juga lupa tidak makan."
“duh, Non di jaga kesehatannya, jangan gitu lagi, ya?”
Baru akan membilas mangkuk dan sendok bekas buburnya, Al
kembali dengan membawa gelas bekas susu yang isinya sudah dia habikan,
memberikannya kepada Queen agar sekalian dicuci. Queen yang tadinya lupa akan hal
itu, ia jadi ingat, dan segera menanyakannya seblum lupa untuk yang kedua
kalinya.
“Oh, iya, Bi. Susu yang bibi buat tadi apa, sih kok rasanya
aneh banget?”
“Itu, ya Non? Itu susu buat promil. Tuan Vano yang
memeblikan tadi, saat pergi bersama tuang Andrean,” jawab bibi.
“Hah, artinya papa dan kakek yang ngebeliin itu?” gumam
Queen seorang diri.
Al sedikit terkejut, susu promil yang harusnya Queen yang
meminum malah dia yang menghabiskannya sampai tak tersisa. Jadi, saat istrinya
bengong, tanpa sungkan walau masih ada bibi pria itu pun langsung mengangkat
tubuh wanaita itu.
Mungkin Al berfikir, kenapa harus malu, cuka menggendong istri sendiri. Lagipula, bibi juga sudah pernah lihat yang lebih dari ini, bukan?
“Kau tahu maksut papa dan kakek kan, Sayang?
Artinya, kau harus segera hamil, ayo kita buat kan mereka cucu dan cicit yang
banyak.”
Queen yang terkejut pun hanya menjerit dan berpegangan pada
leher Al. Ketika pria itu membawanya berjalan cepat setengah berlari.
Bibi yang melihat mereka berdua hanya mengelengkan kepala
saja dan membatin, “Kukira tuan Al itu sangat kaku dan dingin pada istri. Tapi,
sama non Queen kok romantis banget, ya? Kalau cintanya sama non Queen, kenapa
gak langsung menikah saja mereka berdua itu dulu?”
Nayla yang baru saja keluar dari kamar Bilqis putrinya,
melihat bagaimana suaminyamemperlakukan madunya nampak jelas kalau ia sangat
cemburu. Denga raut wajah emosi ia pun memasuki kamarnya dan menutup pintu
dengan sangat kencang.
“Al, sepertinya istri tuamu ngambeg,” ucap Queen saat suaminya
membaringkannya dan tangannya masih merangkul leher pria itu.
“Emang aku peduli? Tentu saja tidak.” Al pun langsung
mencium leher Queen dan sedikit menggigitnya membuat Queen menjerit karena
geli.
“Al, geli!” serunya sambil menjambak rambut pria itu.
“Apa kau tidak malu teriak-teriak begitu? Nanti yang ada
malah papa dan kakek bangun dan mendobrak pintu, dikira kau kuperkosa aja,”
ucap Al sambil tertawa.
“Lagian, kapan aku pernah bersedia melayanimu dengan suka rela? Kau juga
selalu memaksaku, kan selama ini?”
“Sekarang kau masih tidak mau, ya?” jawab Al dengan raut
wajah yang sedikit kecewa.
Queen mengamati wajah Al yang nampak kecewa tersebut, sambil
menahan senyumnya.
Al pun beranjak dari atas tubuh Queen, ia duduk di tepi
ranjang, mengeluarkan rokok elektrik dari dalam saku bajunya dan mulai
menyesabnya dan mengepulkan asabnya di udara.
Queen yang melihat tingkah Al seperti itu jadi semakin gemas
saja. Ia pun turut beranjak dan merangkul Al dari belakang dan berbisik manja,
“Kamu ingin punya anak cowok, apa cewek?”
“Apa pentingnya kamu tahu? Bukankah kamu tidak
menginginkannya? Aku tidak mau, jika kau melakukannya dengan terpaksa dan
karena ancaman.”
“Siapa yang mengancam? Kau bebas melakukan kapan saja sesukamu jika kau mau.
Kan, aku istrimu,” rayu Queen sambil mencium pipi Al dari belakang.
Sedangkan Al masih diam saja, bergeming sambil menikmati
rokok dan kepulan asap yang menutupi sebagian wajahnya.
Merasa lelah merayu, sekarang malah Queen balik ngambeg.
“Ya sudah, memang kau suaminya rokok, kan? Tidur saja dengan
rokok elektrikmu!” cetus Queen sambil tidur miring membelakangi Al.
Al tersentak mendengar dan melihat bagaimana ekspresi Queen.
‘Dasar wanita, salah atau benar ya benar terus saja maunya benar,’ gumam Al
__ADS_1
dalam hati.
Al pun meletakkan rokok eletriknya di atas nakas, kemudian
bersiap menerkam Queen yang malah balik ngambeg saat dirnya yang ngambeg dan
butuh dirayu.
“Dasar wanita,” ucap Al sambil memeluk tubuh Queen dari
belakng, dan kembali menggigit kecil leher dan daun telinga Queen dari
belakang, semantara tangnnya memeluk erat tubuh wanita itu dan kakinya mengunci
sehingga Queen tidak bisa bergerak dan hanya tertawa dan menjerit sebagai
lampiasan kegeliannya akibat ulah Al.
“Aaaal! Ampun, ah,” teriak Queen.
Tapi, Al tidak mengehentikan aktivitasnya, ia malah menambah
dengan tangannya menggelitiki area perut dan juga ketiak Queen.
“Udah, ah. Aku capek,” ucap Queen lagi. Akhirnya Al pun
menghentikan perbutannya.
Al menarik pundak wanita di depannya agar menghadap ke arah
dirinya dan menatap wajahnya dengan lekat dan membatin, ‘Tidak, dia tidak
seperti Clara. Aku sungguh mencintainya. Kenapa aku baru sadar sekarang? Apa
karena kemarin dia sangat manja, sehingga aku merasa dia tidak menarik?” batin
Al.’
“Lihatin apa, sih?’’
“Lihat jelmaan bidadari, sekarang ada dalam dekapanku, tanpa
harus aku mencuri selendangnya,” ucap Al masih menatap tajam dalam mata Queen
dan memberikan senyuman lembutnya.
Queen tersenyum menyentuh pipi, merambat ke rambut kepala
belakang dan leher pria di depannya itu. Tapapannya romantic. Tapi, jauh dalam
hatinya ia masih sempat-sempatnya mengumpat, ‘Kau tidak mencuri selendangku.
Tapi, harga diri dan kehormatanku sebagai wanita.’
"Jika memang aku bidadari, kau memang tidak mengambil slendangku, Tapi, kau langsung mencuriku, dan menawan hatiku," ucap Queen sambil menyentuh pipi Al.
“Kamu serius gak, mencintaiku?”
“Tentu saja Al. Kenapa sih kamu gak menceraikan Nayla?"
Tanya Queen sambil merubah posisinya duduk bersandar di sandaran spring bad.
Al pun mengikuti duduk dan bersandar di sana. “Apa alasanku
menceraikannya, Sayang? Jika aku tiba-tiba menceraikannya sekarang, yang ada
dia malah dendam loh sama kamu. Atau sebelum aku menikahimu. Pasti ia juga akan
berfikir ini sudah direncankan dan kau tidak mau ku nikahi tanpa kuceraikan
dia.”
Itu cuma alasan Al saja. Kalaupun Nayla benar dendam dengan Queen. apa yang bisa dia lakukan?
Queen diam tidak menjawab, ia tampak memikirkan sesuatu.
Tentu saja mengetahui dengan pasti hubungan antra Nayla dan Jevin, dan
membongkar kedoknya di depan Al.
aku simpan di kontak wa.”
Queen langsung menatap tajam ke arah Al dan memukulinya.
“Kamu jahat banget, sih?”
Al tertawa terbahak sambil menjadikan kedua tangannya
sebagai tameng dari serangan yang Queen berikan. Ia senang saat Queen seperti
ini, ia benar-benar telah cemburu dan mencintai dirinya. Karena Queen terus
memukuli dan tak mau berhenti, Al pun memegang kedua pergelangan Queen,
merebahkan tubuhnya dan mencium bibirnya.
Queen yang sudah seperti terhipnotis dengan perlakuan Al
yang memabukkan pun menurut saja dengan Apa yang Al lakukan padanya, tanpa
melakukan penolakan sedikitpun.
***
Queen terjaga saat suasana alam sudah terang benerang. Meski
begitu, mentari masih malu-malu untuk memancarkan sinarnya yang hangat. Wanita
itu menoleh di tempat seblahnya Al sudah tidak ada di sana. Sedangkan di toilet
kamarnya juga tidak ada suara apapun. ‘Kemana dia? Bukankah ini masih
terlalu pagi?’ gumam Queen dalam hati saat melihat jam dinding di kamarnya baru
menunjukkan pukul enam.
Wanita itu masih tampak bermalas-malasan saja di atas
kasurnya, ia merasakan badannya kaku dan sakit semua. Terlebih dibagian
persendiannya. Kemudian ia tersenyum seorang diri saat teringat bagaimana
kejadian semalam. Memang Al ganas banget. Tapi, aku suka.
“Kreeeeek!”
Begitu pintu terbuka berdiri Al di ambang pintu dengan
pakaian kantor yang rapi serta sudah mengenakan jas warna abu-abu dan membawa
nanmpan berisi sarapan dan segelas susu untuk Queen.
Queen yang merasa malu dengan suaminya tersenyum dan
menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Al pun berjalan dengan gagahnya meletakkan nampan di atas
nakas dan kemudian menyingkap lembut selimut yang Queen gunakan untuk menutupi
dirinya.
“Kenapa?” tanya Al lembut saat berhasil menyingkirkan slimut
dari wajah Queen, dan wajah mereka pun jadi berhadapan.
“Kamu kok sudah bangun duluan? Mana sudah rapi lagi,” jawab
Queen sambil memalingkan wajahnya.
“Iya Sayang. Ini nanti ada meeting pagi ini. Jadi aku harus
datang lebih awal, sarapan dulu, ya?”
Queen mengangkat kedua tangannya ke arah Al memberi isyarat
__ADS_1
agar Al menarik kedua tanggnya untuk bagun.
Al pun melakukannya dan langsung memeluk dan mencium kening
Queen dan berkata, “Kamu pasti lelah karena semalam, kan?”
Queen tidak mau menjawab, ia hanya mencubit perut suaminya
saja sambil tersenyum genit.
Sedangkan suaminya hanya tertawa dan berkata, “kau jangan
menggodaku dengan senyumanmu itu sayang.”
“Suapin aku!” ujar Queen dengan manja.
Al pun mulai mengambil nasi dan sayur sop dan mnyuapi
istrinya dengan sangat telaten sampai habis. Kemudian pria itu meraih susu yang
dibawanya dan meminta Queen untuk menghabiskannya.
“Air putih saja tidak ada, ya?” tawar wanita itu dengan
wajah dimelas-melasin.
“Ini papa dan kakek yang beliin. Kamu hargai mereka, dong!”
Queen pun memanyunkan bibirnya sampai lima centi. Namun,
dengan terpaksa dia meminumnya setelah tahu kalau yang diberikan padanya adalah
susu untuk progam hamil.
Al tersenyum melihat gelas itu sudah kosong, kemudian ia
berpamitan hendak berangkat ke kantor sekaligus membawa bekas makan istrinya.
“Al!” panggil Queen.
Pria itu yang sudah hampir sampai pintu pun menghentikan
langkahya dan menoleh ke belakang.
“Kamu belikan aku yang rasa coklat saja. Aku eneg minum yang
rasa vanilla,” ucap Queen.
Al pun tersenyum lembut dan hanya mengangguk pelan saja, dan
lenyap dari balik pintu. Tapi, kemudian pintu itu kembali terbuka. Queen
mengira itu Al kembali lagi, ternyata bukan. Melainkan Nayla.
Queen pun menyingkap selimutnya dan membetulkan bajunya.
“Ada apa, Kak Nay?”
Nayla hanya tertawa miring, kemudian berkata, “Kau boleh
bangga sekarang dengan perlakuan mas Al terhadapmu. Tapi, aku adalah wanita
pertamanya. Akupun juga dibegitukan. Tapi, setelah bosan, seperti yang kau
lihat! Dia mencampakkanku dan cari yang baru. Jadi, kau bersiap-siap saja
sekarang.”
Quen memasang muka jengah. Dalam hati ia berfikir, mungkin
Al merasa ada yang tidak beres dengan Nayla. Hanya saja tidak mau berbuat
apa-apa. Jadi, ia hanya membiarkannya agar Nayla tidak tahan dan minta cerai.
Tapi, wanita itu memang bebal, dan tak tahu malu.
“Kau lupa kalau kami hidup bersama sejak kecil? Kurasa itu
tidak mungkin!”
“Kau sangat percaya diri dengan perkataanmu itu. Oke tidak
apa-apa. Kamu karena belum ngalami sendiri saja.”
Merasa kalau Nayla hanya mengompori saja, Queen pun
membalasnya.
“Jadi kau merasa Al sudah bosen denganmu? Kurasa maklum lah.
Dia nikahin kamu juga sudah janda dengan satu anak. Sedangkan aku, walaupun aku
adalah seorang janda saat ia nikahi, kau tahu? Dia yang pertama menyentuhku. Dia tahu seperti apa rasanya prawan juga denganku, bukan dengan siapapun, apalagi kamu!”
Queen pun balas menyeringai dan keluar meninggalkan
kamarnya. Tak pedulikan dengan Nayla yang masih ada di dalam sana.
Mungkin benar, ia terlalu siang bangunnya. Bahkan papanya
juga sudah tidak ada di sana. Tinggal Bilqis dan kakeknya saja yang ada di meja
makan. Tapi, Kenapa Al tadi secara kusus membawakan sarapannya ke kamar jika
dia di meja makan tidak makan sendirian?
“Papa kemana, Kek? Apakah dia sudah berangkat?” tanya Queen.
“Iya. Al dan papamu sama-sama berangkat lebih awal hari ini.
Kamu tidak ke praktik, kah?”
“Tidak, Kan hari ini libur, Kek. Kakek ada acara tidak?
Bagaimana kalau aku temani kakek jalan-jalan?”
“Kau istirahatlah, jangan terlalu capek. Itu tidak akan baik
untukmu,” jawab Andrean, sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Ya tidak, Kek. Masa iya aku dirumah gak bisa nemani kakek?”
protes Queen sambil mengambil buah pisang dan memakannya.
“Kakek nanti ada acara. Kamu jaga rumah saja baik-baik, oke?
Kapan kamu bisa segera memberi cicit pada kakekmu yang sudah tua ini jika kau
terlalu banyak aktifitas di luar dan kurang istirahat terus-terusan? Apa
menunggu kakekmu ini mati dulu?”
“Kakek, kok ngomong gitu, sih?” Tiba-tiba saja Queen merasa
bersalah. Ia jadi berfikir, apapun yang lakukan bukan semata-mata karena
keinginan pribadinya. Melainkan juga papa dan kakeknya.
“Jujur, Queen. Kakek kecewa sama kamu saat kau menggunakan
pil kontrasepsi itu. Kukira Al yang memang tidak ada nita. Ternyata malah kamu
sendiri, kurang apa sih, Al itu?”
“iya kakek, maafkan aku. Aku salah!” jawab wanita itu sambil
menunduk.
Setelah cukup berbincang dan menyelesaikan sarapannya,
Andrean pun pergi meninggalkan meja makan. Ia bilang akan keluar dulu karena
sebuah urusan. Tapi, kenapa harus sepagi ini?”
Queen hanya menghela napas saja. Karena semua berpesan
__ADS_1
selama ia tidak praktik, ia harus tetap di rumah saja, me time.