Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 243


__ADS_3

Queen terus memandang ke arah pintu dan melihat Nayla yang


entah dari mana saja dia. Bahkan ia mulai berani keluar malam.


Nayla berlagak cuek dan justru malah memasang wajah sinis


saat meilihat Queen mengetahui dia sudah pulang. Melihat dari lagaknya  sepertinya Nayla sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan Queen. Entah, tentang apapun itu, yang pasti tidak jauh-jauh dari kata, dari mana kau?.


Tapi, sayang, Queen sudah bisa menebak apa yang nanti akan


Nayla jadikan jawaban jika ia bertanya dari mana atu sejenisnya. Jadi, ia diam


saja dan langsung ke dapur. Kebetulan bibi juga masih ada di dapur, jadi ia


bisa bertanya susu apa yang sebenarnya diberikan padanya.


“Bi, kok masih belum beristirhat? Ini kan sudah jam Sembilan


lewat?” tanya Queen, menyapa bibi yang baru saja menutup pintu rak piring.


“ini, Non. Masih belum ngantuk. Kok mangkuk bekas makannya


di bawa ke sini sendiri? Kan bibi bisa ambil dulu ke sana?”


Queen hanya tersenyum, menuju ke tempat cuci piring dan


mencucinya sendiri sambil berkata, “Sebenarnya, aku cuma masuk angin, Bi. Tadi, naik


motor lupa gak pake jaket, dan lagi siang juga lupa tidak makan."


“duh, Non di jaga kesehatannya, jangan gitu lagi, ya?”


Baru akan membilas mangkuk dan sendok bekas buburnya, Al


kembali dengan membawa gelas bekas susu yang isinya sudah dia habikan,


memberikannya kepada Queen agar sekalian dicuci. Queen yang tadinya lupa akan hal


itu, ia jadi ingat, dan segera menanyakannya seblum lupa untuk yang kedua


kalinya.


“Oh, iya, Bi. Susu yang bibi buat tadi apa, sih kok rasanya


aneh banget?”


“Itu, ya Non? Itu susu buat promil. Tuan Vano yang


memeblikan tadi, saat pergi bersama tuang Andrean,” jawab bibi.


“Hah, artinya papa dan kakek yang ngebeliin itu?” gumam


Queen seorang diri.


Al sedikit terkejut, susu promil yang harusnya Queen yang


meminum malah dia yang menghabiskannya sampai tak tersisa. Jadi, saat istrinya


bengong, tanpa sungkan walau masih ada bibi pria itu pun langsung mengangkat


tubuh wanaita itu.


Mungkin Al berfikir, kenapa harus malu, cuka menggendong istri sendiri. Lagipula, bibi juga sudah pernah lihat yang lebih dari ini, bukan?


“Kau tahu maksut papa dan kakek kan, Sayang?


Artinya, kau harus segera hamil, ayo kita buat kan mereka cucu dan cicit yang


banyak.”


Queen yang terkejut pun hanya menjerit dan berpegangan pada


leher Al. Ketika pria itu membawanya berjalan cepat setengah berlari.


Bibi yang melihat mereka berdua hanya mengelengkan kepala


saja dan membatin, “Kukira tuan Al itu sangat kaku dan dingin pada istri. Tapi,


sama non Queen kok romantis banget, ya? Kalau cintanya sama non Queen, kenapa


gak langsung menikah saja mereka berdua itu dulu?”


Nayla yang baru saja keluar dari kamar Bilqis putrinya,


melihat bagaimana suaminyamemperlakukan madunya nampak jelas kalau ia sangat


cemburu. Denga raut wajah emosi ia pun memasuki kamarnya dan menutup pintu


dengan sangat kencang.


“Al, sepertinya istri tuamu ngambeg,” ucap Queen saat suaminya


membaringkannya dan tangannya masih merangkul leher pria itu.


“Emang aku peduli? Tentu saja tidak.” Al pun langsung


mencium leher Queen dan sedikit menggigitnya membuat Queen menjerit karena


geli.


“Al, geli!” serunya sambil menjambak rambut pria itu.


“Apa kau tidak malu teriak-teriak begitu? Nanti yang ada


malah papa dan kakek bangun dan mendobrak pintu, dikira kau kuperkosa aja,”


ucap Al sambil tertawa.


“Lagian, kapan aku pernah bersedia melayanimu dengan suka rela? Kau juga


selalu memaksaku, kan selama ini?”


“Sekarang kau masih tidak mau, ya?” jawab Al dengan raut


wajah yang sedikit kecewa.


Queen mengamati wajah Al yang nampak kecewa tersebut, sambil


menahan senyumnya.


Al pun beranjak dari atas tubuh Queen, ia duduk di tepi


ranjang, mengeluarkan rokok elektrik dari dalam saku bajunya dan mulai


menyesabnya dan mengepulkan asabnya di udara.


Queen yang melihat tingkah Al seperti itu jadi semakin gemas


saja. Ia pun turut beranjak dan merangkul Al dari belakang dan berbisik manja,


“Kamu ingin punya anak cowok, apa cewek?”


“Apa pentingnya kamu tahu? Bukankah kamu tidak


menginginkannya? Aku tidak mau, jika kau melakukannya dengan terpaksa dan


karena ancaman.”


“Siapa yang mengancam? Kau bebas melakukan kapan saja sesukamu jika kau mau.


Kan, aku istrimu,” rayu Queen sambil mencium pipi Al dari belakang.


Sedangkan Al masih diam saja, bergeming sambil menikmati


rokok dan kepulan asap yang menutupi sebagian wajahnya.


Merasa lelah merayu, sekarang malah Queen balik ngambeg.


“Ya sudah, memang kau suaminya rokok, kan? Tidur saja dengan


rokok elektrikmu!” cetus Queen sambil tidur miring membelakangi Al.


Al tersentak mendengar dan melihat bagaimana ekspresi Queen.


‘Dasar wanita, salah atau benar ya benar terus saja maunya benar,’ gumam Al

__ADS_1


dalam hati.


Al pun meletakkan rokok eletriknya di atas nakas, kemudian


bersiap menerkam Queen yang malah balik ngambeg saat dirnya yang ngambeg dan


butuh dirayu.


“Dasar wanita,” ucap Al sambil memeluk tubuh Queen dari


belakng, dan kembali menggigit kecil leher dan daun telinga Queen dari


belakang, semantara tangnnya memeluk erat tubuh wanita itu dan kakinya mengunci


sehingga Queen tidak bisa bergerak dan hanya tertawa dan menjerit sebagai


lampiasan kegeliannya akibat ulah Al.


“Aaaal! Ampun, ah,” teriak Queen.


Tapi, Al tidak mengehentikan aktivitasnya, ia malah menambah


dengan tangannya menggelitiki area perut dan juga ketiak Queen.


“Udah, ah. Aku capek,” ucap Queen lagi. Akhirnya Al pun


menghentikan perbutannya.


Al menarik pundak wanita di depannya agar menghadap ke arah


dirinya dan menatap wajahnya dengan lekat dan membatin, ‘Tidak, dia tidak


seperti Clara. Aku sungguh mencintainya. Kenapa aku baru sadar sekarang? Apa


karena kemarin dia sangat manja, sehingga aku merasa dia tidak menarik?” batin


Al.’


“Lihatin apa, sih?’’


“Lihat jelmaan bidadari, sekarang ada dalam dekapanku, tanpa


harus aku mencuri selendangnya,” ucap Al masih menatap tajam dalam mata Queen


dan memberikan senyuman lembutnya.


Queen tersenyum menyentuh pipi, merambat ke rambut kepala


belakang dan leher pria di depannya itu. Tapapannya romantic. Tapi, jauh dalam


hatinya ia masih sempat-sempatnya mengumpat, ‘Kau tidak mencuri selendangku.


Tapi, harga diri dan kehormatanku sebagai wanita.’


"Jika memang aku bidadari, kau memang tidak mengambil slendangku, Tapi, kau langsung mencuriku, dan menawan hatiku," ucap Queen sambil menyentuh pipi Al.


“Kamu serius gak, mencintaiku?”


“Tentu saja Al. Kenapa sih kamu gak menceraikan Nayla?"


Tanya Queen sambil merubah posisinya duduk bersandar di sandaran spring bad.


Al pun mengikuti duduk dan bersandar di sana. “Apa alasanku


menceraikannya, Sayang? Jika aku tiba-tiba menceraikannya sekarang, yang ada


dia malah dendam loh sama kamu. Atau sebelum aku menikahimu. Pasti ia juga akan


berfikir ini sudah direncankan dan kau tidak mau ku nikahi tanpa kuceraikan


dia.”


Itu cuma alasan Al saja. Kalaupun Nayla benar dendam dengan Queen. apa yang bisa dia lakukan?


Queen diam tidak menjawab, ia tampak memikirkan sesuatu.


Tentu saja mengetahui dengan pasti hubungan antra Nayla dan Jevin, dan


membongkar kedoknya di depan Al.


aku simpan di kontak wa.”


Queen langsung menatap tajam ke arah Al dan memukulinya.


“Kamu jahat banget, sih?”


Al tertawa terbahak sambil menjadikan kedua tangannya


sebagai tameng dari serangan yang Queen berikan. Ia senang saat Queen seperti


ini, ia benar-benar telah cemburu dan mencintai dirinya. Karena Queen terus


memukuli dan tak mau berhenti, Al pun memegang kedua pergelangan Queen,


merebahkan tubuhnya dan mencium bibirnya.


Queen yang sudah seperti terhipnotis dengan perlakuan Al


yang memabukkan pun menurut saja dengan Apa yang Al lakukan padanya, tanpa


melakukan penolakan sedikitpun.


***


Queen terjaga saat suasana alam sudah terang benerang. Meski


begitu, mentari masih malu-malu untuk memancarkan sinarnya yang hangat. Wanita


itu menoleh di tempat seblahnya Al sudah tidak ada di sana. Sedangkan di toilet


kamarnya juga tidak ada suara apapun. ‘Kemana dia? Bukankah ini masih


terlalu pagi?’ gumam Queen dalam hati saat melihat jam dinding di kamarnya baru


menunjukkan pukul enam.


Wanita itu masih tampak bermalas-malasan saja di atas


kasurnya, ia merasakan badannya kaku dan sakit semua. Terlebih dibagian


persendiannya. Kemudian ia tersenyum seorang diri saat teringat bagaimana


kejadian semalam. Memang Al ganas banget. Tapi, aku suka.


“Kreeeeek!”


Begitu pintu terbuka berdiri Al di ambang pintu dengan


pakaian kantor yang rapi serta sudah mengenakan jas warna abu-abu dan membawa


nanmpan berisi sarapan dan segelas susu untuk Queen.


Queen yang merasa malu dengan suaminya tersenyum dan


menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


Al pun berjalan dengan gagahnya meletakkan nampan di atas


nakas dan kemudian menyingkap lembut selimut yang Queen gunakan untuk menutupi


dirinya.


“Kenapa?” tanya Al lembut saat berhasil menyingkirkan slimut


dari wajah Queen, dan wajah mereka pun jadi berhadapan.


“Kamu kok sudah bangun duluan? Mana sudah rapi lagi,” jawab


Queen sambil memalingkan wajahnya.


“Iya Sayang. Ini nanti ada meeting pagi ini. Jadi aku harus


datang lebih awal, sarapan dulu, ya?”


Queen mengangkat kedua tangannya ke arah Al memberi isyarat

__ADS_1


agar Al menarik kedua tanggnya untuk bagun.


Al pun melakukannya dan langsung memeluk dan mencium kening


Queen dan berkata, “Kamu pasti lelah karena semalam, kan?”


Queen tidak mau menjawab, ia hanya mencubit perut suaminya


saja sambil tersenyum genit.


Sedangkan suaminya hanya tertawa dan berkata, “kau jangan


menggodaku dengan senyumanmu itu sayang.”


“Suapin aku!” ujar Queen dengan manja.


Al pun mulai mengambil nasi dan sayur sop dan mnyuapi


istrinya dengan sangat telaten sampai habis. Kemudian pria itu meraih susu yang


dibawanya dan meminta Queen untuk menghabiskannya.


“Air putih saja tidak ada, ya?” tawar wanita itu dengan


wajah dimelas-melasin.


“Ini papa dan kakek yang beliin. Kamu hargai mereka, dong!”


Queen pun memanyunkan bibirnya sampai lima centi. Namun,


dengan terpaksa dia meminumnya setelah tahu kalau yang diberikan padanya adalah


susu untuk progam hamil.


Al tersenyum melihat gelas itu sudah kosong, kemudian ia


berpamitan hendak berangkat ke kantor sekaligus membawa bekas makan istrinya.


“Al!” panggil Queen.


Pria itu yang sudah hampir sampai pintu pun menghentikan


langkahya dan menoleh ke belakang.


“Kamu belikan aku yang rasa coklat saja. Aku eneg minum yang


rasa vanilla,” ucap Queen.


Al pun tersenyum lembut dan hanya mengangguk pelan saja, dan


lenyap dari balik pintu. Tapi, kemudian pintu itu kembali terbuka. Queen


mengira itu Al kembali lagi, ternyata bukan. Melainkan Nayla.


Queen pun menyingkap selimutnya dan membetulkan bajunya.


“Ada apa, Kak Nay?”


Nayla hanya tertawa miring, kemudian berkata, “Kau boleh


bangga sekarang dengan perlakuan mas Al terhadapmu. Tapi, aku adalah wanita


pertamanya. Akupun juga dibegitukan. Tapi, setelah bosan, seperti yang kau


lihat! Dia mencampakkanku dan cari yang baru. Jadi, kau bersiap-siap saja


sekarang.”


Quen memasang muka jengah. Dalam hati ia berfikir, mungkin


Al merasa ada yang tidak beres dengan Nayla. Hanya saja tidak mau berbuat


apa-apa. Jadi, ia hanya membiarkannya agar Nayla tidak tahan dan minta cerai.


Tapi, wanita itu memang bebal, dan tak tahu malu.


“Kau lupa kalau kami hidup bersama sejak kecil? Kurasa itu


tidak mungkin!”


“Kau sangat percaya diri dengan perkataanmu itu. Oke tidak


apa-apa. Kamu karena belum ngalami sendiri saja.”


Merasa kalau Nayla hanya mengompori saja, Queen pun


membalasnya.


“Jadi kau merasa Al sudah bosen denganmu? Kurasa maklum lah.


Dia nikahin kamu juga sudah janda dengan satu anak. Sedangkan aku, walaupun aku


adalah seorang janda saat ia nikahi, kau tahu? Dia yang pertama menyentuhku. Dia tahu seperti apa rasanya prawan juga denganku, bukan dengan siapapun, apalagi kamu!”


Queen pun balas menyeringai dan keluar meninggalkan


kamarnya. Tak pedulikan dengan Nayla yang masih ada di dalam sana.


Mungkin benar, ia terlalu siang bangunnya. Bahkan papanya


juga sudah tidak ada di sana. Tinggal Bilqis dan kakeknya saja yang ada di meja


makan. Tapi, Kenapa Al tadi secara kusus membawakan sarapannya ke kamar jika


dia di meja makan tidak makan sendirian?


“Papa kemana, Kek? Apakah dia sudah berangkat?” tanya Queen.


“Iya. Al dan papamu sama-sama berangkat lebih awal hari ini.


Kamu tidak ke praktik, kah?”


“Tidak, Kan hari ini libur, Kek. Kakek ada acara tidak?


Bagaimana kalau aku temani kakek jalan-jalan?”


“Kau istirahatlah, jangan terlalu capek. Itu tidak akan baik


untukmu,” jawab Andrean, sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


“Ya tidak, Kek. Masa iya aku dirumah gak bisa nemani kakek?”


protes Queen sambil mengambil buah pisang dan memakannya.


“Kakek nanti ada acara. Kamu jaga rumah saja baik-baik, oke?


Kapan kamu bisa segera memberi cicit pada kakekmu yang sudah tua ini jika kau


terlalu banyak aktifitas di luar dan kurang istirahat terus-terusan? Apa


menunggu kakekmu ini mati dulu?”


“Kakek, kok ngomong gitu, sih?” Tiba-tiba saja Queen merasa


bersalah. Ia jadi berfikir, apapun yang lakukan bukan semata-mata karena


keinginan pribadinya. Melainkan juga papa dan kakeknya.


“Jujur, Queen. Kakek kecewa sama kamu saat kau menggunakan


pil kontrasepsi itu. Kukira Al yang memang tidak ada nita. Ternyata malah kamu


sendiri, kurang apa sih, Al itu?”


“iya kakek, maafkan aku. Aku salah!” jawab wanita itu sambil


menunduk.


Setelah cukup berbincang dan menyelesaikan sarapannya,


Andrean pun pergi meninggalkan meja makan. Ia bilang akan keluar dulu karena


sebuah urusan. Tapi, kenapa harus sepagi ini?”


Queen hanya menghela napas saja. Karena semua berpesan

__ADS_1


selama ia tidak praktik, ia harus tetap di rumah saja, me time.


__ADS_2