Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 112


__ADS_3

Akbar merasa kedatangan Al kali ini tidak baik, seperti akan membuat masalah bahkan, lebih buruk dari seorang perampok. Tapi, pria itu berusaha tetap tenang dan seolah menyambut tamu yang datang dengan baik-baik.


"Assalamualaikum, Al. Ada apa kau kemari malam-malam begini dan membawa banyak orang?" Sapa Akbar. Yang juga menahan emosinya.


Mendengar ucapan salam dari Akbar Al hanya menyeringai tak menjawabnya malah menatap tajam pada Akbar yang masih lengkap mengenakan peci sarung dan baju Koko.


"Oh, kamu sudah muncul rupanya, sini ayo ngobrol!" ucap Al sambil melihat ke kursi di hadapannya.


"Ada perlu apa kamu? Kau ini berpendidikan tinggi harusnya tahu, kan bagaimana adab bertamu?"


Dan kau juga tahu dan paham agama bukan lalu apa hukumnya jika seseorang dengan sengaja mengeblongkan rem mobil dengan tujuan agar si pemilik mengalami kecelakaan? Sebelum kau mengajariku, didik adik kesayanganmu itu agar tidak berulah. Karena dia kakek dan nenekku meninggal, salah satunya selamat tapi dia lumpuh. Bahkan papa dan mamaku masih tergeletak tak sadar dengan bantuan bantuan alat agar tetap bernyawa. Dan karena itu, adikku sampai keguruan."


Akbar nampak terkejut dengan apa yang Al katakan ia memandang ke arah Lyli yang nampak tertunduk takut.


"Lyli apa benar kau yang merusak rem mobil keluarganya Al? Katakan dengan jujur!" Bentak Akbar.


Lyli nampak mendongak memberanikan diri berkata, "Kalau memang aku yang melakukan, apakah ada bukti? Dan lagi pula, aku sudah lama dipecat, bukan? Kapan setelah aku pergi dari sana kembali?"


Al tersenyum miring, mengeluarkan gawainya dari dalam saku, dan memberikan pada salah satu anak buahnya yang berdiri di sampingnya.


Memahami maksudnya, orang berbadan kekar dan berkulit hitam itu memutar video hasil rekaman CCTV yang sudah Al pangkas dan menunjukan inti.


Video yang berdurasi tak sampai sepuluh menit itu diputar ditunjukan kepada Akbar lalu, ibunya Lyli. Terlihat seorang berjubah hitam melompat pagar lalu dengan langakah pelan dan hati-hati ia mendekati mobil hitam dan menerobos ke bawah roda bagian depan lalu ia keluar memasukan tang ke dalam sakunya dan berlari keluar, sampai di depan gerban, ia membuka penutup wajahnya dan mengenakan jaket abu-abu yang mungkin sudah dia letakan di balik pohon dekat pagar rumah Al.


"Sudah dilihat?" Tanya Al dengan mimik datar tapi, menyeramkan.


Ya, walau kemiripan dengan Vano bagaikan pinang dibelah dua. Tapi, wajah Vano memancarkan kepribadian hangat dan ramahnya. Begitu pula Al. Dia type orang kaku, dingin dan selalu serius. Dia hanya lembut dengan tiga wanita saja, Clara, Queen dan Nayla saja. Selebihnya dia hanya akan berbicara jika ada kepentingan.


"Lyli, benar video itu bukan rekayasa?" Tanya Akbar antara marah, takut juga kecewa.


"Maafkan aku, mas, Al. Aku khilaf... Aku terlalu dimakan emosi dan dendam," ucap Lyli dengan rasa takut dan menyesal. Sebab, selama beberapa tahun dia kenal dan mengerti Al, tidak pernah sekalipun dia bisa berbuat dan bersikap seperti ini.


"Maaf, ya? Enak sekali cuma minta maaf. Apakah dengan permintaan maaf bisa mengembalikan segalanya? Papa mamaku, dan kakek nenekku bisa hidup kembali? Dan juga calon keponakanku? Quen sudah terpukul dengan hal yang kau sebabkan. Malah di tambah dengan calon anaknya keguruan. Apakah kau tidak berfikir? Jika itu kamu, apakah kau cukup menerima hanya dengan permintaan maaf?" bentak Al dengan marah dan emosi.


"Jika memang kau ingin masalah ini di bawa ke jalur hukum, silahkan agar kau puas, Al,"  ucap Akbar. Sebab, masalah yang Lyli buat jika bukan masalah ringan.


Lyli dan ibunya melihat Akbar dengan tatapan tidak percaya.


"Akbar, tidak adakah cara lain untuk menyelesaikan masalah ini? Kenapa kau meminta Al memnawa ini ke meja hijau, Nak?" Protes ibunya Lyli.


"Ibu tahu, kan? Kalau kakak memang tidak benar-benar sayang sama Lyli? Lihat saja Bu, lihat!" ucap Lyli kecewa.


Al cuma tertawa kecil melihat mereka bertiga yang nampak lucu.


"Sudah selesai, dramanya? Kalau sudah ayo iku aku!" Ucap Al lalu beranjak dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa mereka bertiga.


Dengan sigap mereka pun membawa Lyli beserta kakak dan ibunya dengan mata tertutup ke dalam mobil. Ketiganya sangat takut, jangankan berteriak, memberontak saja juga gentar. Karena masing-masing orang sudah siap dengan pistol di tangannya.


🍁 🍁 🍁 🍁 🍁


Helena merasa kesal beberapa hari ini, pikirannya benar-benar tidak bisa fokus. Bahkan untuk mengedit video atau konten yang akan dia up minggu ini saja dia sering salah dan tidak benar.


Merasa jengkel, ia pun keluar mencari hiburan ke club malam meski hanya sekedar memesan segelas minuman. Dia tetap menjaga agar tidak mabuk, tapi, dia sedang butuh miras kali ini.

__ADS_1


Keluar dari bar, Helena seperti orang gila, marah-marah sendiri karena hasrat memiliki Alex kian tinggi. Untuk meluapkan emosi, gadis itu menendangi apapun yang ada di depannya sebagai luapan amarah dan emosi.


* * *


Sementara malam itu, Aditya baru saja mengantarkan mama mertuanya dari rumah Alex. Hanya saja, adik iparnya masih belum tiba dari rumah mertuanya. Karena sudah malam dan besok pagi ada jadwal kerja, ia pun pulang lebih dulu.


Tiba di jalan, Novita menelfon suaminya, minta dibelikan sesuatu di sebuah minimarket.


Keluar dari minimarket dengan membawa kantong kresek berwarna putih, tiba-tiba sebuah kaleh minuman mendarat bebas di kepala belakang Aditya yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Aduh!" Seru Aditya. "Hey, siapa yang lempar kaleng sembarangan? Ngenai kepala orang nih," teriak Aditya sambil memegangi kepala belakang Aditya.


Helena yang sadar kalau kalau kaleng yang baru ditendangnya mengenai orang sangat terkejut. Dia sampai melongo dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Uh, sialan. Kenapa bisa ngenaim orang, sih? Mampus kau Helen," umpatnya dalam hati.


Tak mau jadi seorang pengecut, Helena pun berlari menghampiri pria itu dan meminta maaf.


"Mas, maaf saya tidak sengaja, tadi saya kesal dan menendangi apapun. Tapi, benar saya tidak sengaja dan tidak menyangka kalau akan mengenai kepala anda. Apakah anda gegar otak?" ucap Helena yang sudah sedikit terpengaruh dengan miras. Jadi agak ngawur dan tak masuk akal.


Aditya yang mulanya marah dan geram ekspresinya berubah saat melihat wanita di depannya adalah Helena. Ya, walau tidak akrab, tapi, dia tahu siapa Helena dari sejak hubungannya dengan Novita masih baik-baik saja. Soal dia pingsan dalam acara resepsi pernikahan Alex dan Queen dia juga tahu. Jadi, ia menebak-nebak kalau yang membuat suasana hati Helena malam ini buruk juga pasti Alex penyebabnya.


"Helena, ya? Kau kenapa?" tanya Aditya sambil tersenyum kecil dan bersandar pada mobilnya. Ia pun urung masuk dan ingin mengobrol dengan Helena.


"Kau kenal aku, Mas?" Tanya Helen dari jarak lima belas meter. Dan terus berjalan mendekati pria itu.


"Siapa yang tidak kenal dengan YouTubers sekaligus traveler blogger?"


Rupanya pandangan Helena tengah bermasalah, ia mengerutkan kedua alisnya dan mengucek-ngucek matanya beberapa kali lalu sedikit melotot melihat kenarah Aditya.


"Tunggu, kalau tidak salah kamu dr.Aditya iparnya Alex yang gagal nikah sama Queen, kan?" tanya Helena, asal nyeplos karena masih dalam pengaruh miras yang baru ditenggaknya.


"Oh, mungkin pak dokter sudah tahu, ya kalau saya selalu jadi langganan penolakan adik iparmu," jawab Helena sewot.


"Memang tidak ada pria lain yang mau padamu? Kau cantik, juga sexy gitu." Aditya mengamati setiap jengkal tubuh Helen yang memakai pakaian ketat dan mini.


Merasa diperhatikan, wanita yang tengah patah hati itu melangkah mendekati Aditya dan berdiri tepat di depannya. Tangan kanannya menyentuh dada pria itu dan berkata dengan nada setengah merayu, "Baru saja kau berkata apa? Aku cantik dan sexy. Apakah kau menolak wanita sepertiku jika kau jadi Alex?"


"Tentu saja tidak. Tapi, kalau sudah beristrikan Queen, pria mana yang sanggup berpaling darinya? Dia itu boneka bernyawa, hahaha." Aditya menertawakan Helena juga dirinya.


"Kau rupanya juga sama, belum bisa move on dari mantan pacarmu itu, ya? Kau menginginkan Queen dan aku menginginkan Alex, bagaimana kalau kita kerja sama?" Tawar Helena, blak-blakan.


"Aku sudah menikah, kala itu kembali rujuk dengan mantan istriku demi Axel. Apa imbalannya jika kau sudah dengan Alex, tapi nb Queen tidak mau jadi yang kedua?"


Helena tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil belakang Aditya dan mendorong pemilik mobil itu itu ke dalamnya hingga jatuh terlentang. Dengan cekatan Helena masuk dan menutup pintu mobil lalu menguncinya. Dengan berani gadis itu duduk di atas paha Aditya dengan posisi ngankang.


"Aku mau memberimu apa saja, anggap saja aku simpananmu, aku tidak akan berulah dan merahasiakan ini, aku juga tidak akan banyak menuntutmu akan ini," ucap Helena sambil menggerakkan pinggulnya membuat pria itu jadi gelagapan.


Aditya menatap wajah Helena dari bawah dalam kondisi remang-remang tanpa sepatah kata pun.


"Apa kau tidak mau denganku? Aku memang sudah tidak perawan lagi, tapi, hanya dengan Alex saja aku pernah melakukan itu, dan sejak kami break lima tahun lalu, kami tidak pernah melakukan itu lagi, apa kau tidak percaya?"


"Bukan soal itu, dengan siapa kau melakukan itu tidak penting bagiku, yang aku mau itu Queen. Kenapa kau malah menawarkan dirimu?"


"Kau kan tadi tanya jika kau tidak dapat mendapatkan dia, kan? Ya aku kasih ini, kau bisa coba dulu, jika kau mau kita lanjutkan kerja sama kita, jika tidak... Aku punya caraku sendiri." Helena pun beranjak dari atas tubuh Aditya dan hendak membuka pintu.

__ADS_1


Tapi, dengan cepat Aditya memengan pergelangan tangan Helena dan memintanya agar tetap tinggal.


Wanita itu tersenyum dan mulai meraba tubuh Aditya. Tanpa diminta dia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memuaskan pria di bawahnya itu meski sudah lama tidak melakukannya.


Permainan mereka memang singkat, sebab, handphone Aditya sedari tadi berdering terus tiada henti.


Di menit yang kelimabelas, Aditya mengambil posisi duduk sementara Helena dipangkunya berhadapan. Beberapa saat kemudian tubuh dia insan itu saling meregang dan sama-sama mencapai pelepasan untuk yang pertama kali.


Helena pun merasa lemas dan jatuh di pelukan Aditya. Kedua napasnya saling memburu. Aditya pun memejamkan mata sambil memeluk Helena dan mengatur napas.


Gawainya pun kembali berdering entah yang penerapan kali, ia menebak istrinya lah yang menelfonnya. Sebab, dia harusnya sudah tiba di rumah sejak tiga puluh menit lalu. tapi, karena bertemu dengan sosok yang bisa membantunya meraih keinginannya, ia pun rela mengulur waktu dan melakukan hal terlarang ini.


Dengan susah payah Aditya memintah Helena dari pangkuannya, kawatir napasnya terdengar oleh Novita. Begitu dia sudah bisa mengontrol napas dan menstabilkannya ia pun mengangkat panggilan itu.


"Halo, sayang," ucap Aditya, seolah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi padanya.


"Sayang, kau di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Novita, khawatir.


"Maaf, sayang. Tadi aku bertemu sama teman lama di depan mini market, dia mengajakku ngobrol dan minum kopi. Maaf, ya kami terlalu asik hingga tidak dengar kau menelfon, ini orangnya masih ke toilet sebentar, katanya istrinya juga telfon," kilah Aditya.


"Ya sudah, cepatlah pulang, ya? Hati-hati." Novita pun mematikan panggilannya.


Lalu Aditya, ia bernapas lega. Lalu membangunkan Helena dan membantu memasangkan kembali pakaiaanya.


"Aku akan mengantarmu pulang, di mana rumah, mu?"


"Tidak jauh dari sini. Aku saja tadi berjalan kaki, kok," jawab gadis itu.


"Kita bahas lagi besok sepulang kerja, aku tunggu di cafe dekat rumah sakit, bagaimana?"


"Baiklah, cepatlah pulang! Istrimu sudah menunggumu di rumah." Helena bersandar di kursi dan memejamkan mata.


Sesaat kemudian Aditya baru saja tersadar, ia menepuk jidatnya sendiri dan berkata dengan cemas, "Helen, tadi aku menumpahkan banyak dalam dirimu, bagaimana kalau kau sampai hamil, nanti?"


Jangankan takut, atau minimal terkejut. Wanita itu justru malah tersenyum dan tenang-tenang saja.


"Baru tiga hari yang lalu aku selesai datang bulan. Jadi, aman aku tidak sedang dalam masa subur. Jadi, kau tidak perlu cemas pak dokter."


"Ok, ya sudah kita pulang sekarang," ucap Aditya lalu keluar dari mobil dan masuk ke depan, sementara Helen di belakang dia masih memejamkan mata sambil memberi instruksi arah ke rumahnya.


Rupanya gadis itu sudah hafal dengan mata terpejam saja dia tahu kemana arah mobil ini dan terakir yang membuat Aditya kagum atau apa, dia berkata, "sepuluh meter lagi, rumah kiri jalan berwana pink itu rumahku."


Benar saja, memang setlah sepuluh meter dari ada rumah bercat pink di kiri jalan dan itu rumah Helena


Dengan sempoyongan Helena pun keluar dan mengintip sebentar di jendela depan tempat kemudi sambil mengucapkan selamat malam pada Aditya.


"Kau tidak apa-apa pulang dalam kondisi seperti ini?" Tanya Aditya, kawatir.


"Memangnya kenapa? Tidak apa-apa, aku akan segera tidur nanti."


"Orang tuamu... " Belum sempat pria itu melanjutkan kalimatnya, Helena sudah lebih dulu memotongnya.


"Mereka ada di luar kota, dan sangat jarang pulang."

__ADS_1


"Ok, baiklah. Kau hati-hati selamat malam."


Aditya pun melajukan kendaraanya dengan cepat dengan suasana hati yang dapat dikatakan gembira. ya, kali ini moodnya sedang baik, entah karna telah mendapat bantuan untuk mendapatkan Quen atau, karena telah bermain dengan wanita lain seperti yang ada dalam imajinasinya selama ini.


__ADS_2