
Diaz keluar dari mobilnya, memastikan jalan ini benar-benar buntu seperti dugaannya atau tidak. Begitu ia sudah ada di luar, ia lebih leluasa mendengar apapun yang di sekitar situ. Sayup-sayup ia mendengar jeritan wanita meminta tolong.
“Queen, itu kah kamu?” Diaz mengamati daerah sekitar, berusaha mencari di mana sembunyinya Aditya itu.
🍀🍀🍀
“Dit, lepaskan aku, mau kau bawa kemana aku?” tanya Queen, sambil terus berusaha memberontak. Sementara Aditya sedikitpun tidak menggubrisnya. Pria itu terus menyeretnya sampai masuk ke pinggiran hutan.
Queen matanya terbelalak kaget saat mendapati papan peringatan bertuliskan ‘’YOU ENTERED A DANGEROUS AREA’’
“Dit, apakah kau sudah gila? Kita sudah hampir memasuki hutan, ini berbahaya, Dit.”
“Apa, hah? Aku tidak takut apapun, lebih baik jika kau mati daripada dimiliki pria lain, jika aku tidak bisa memilikimu, maka jangan harap pria manapun bisa memilikimu!” bentak Aditya, bahkan ia semakin kencang dan keras menyeret wanita itu.
“TOLOOOONG!!! Siapapun yang mendengarku, tolonglah aku!” teriak Quen sambil memukuli tangan pria yang menggenggamnya dengan kuat.
“Hahaha teriak saja, Queen. Terus teriak saja sampai pita suaramu terputus, tidak aka nada yang menolongmu. Bahkan kekasihmu tadi pun juga pasti sudah mati.’’
Aditya kian berlaku kasar pada Queen tsaat ia mengetahui kalua wanita itu masih Nampak mencintai Diaz meski sudah diprovokasi, sedikitpun tak ada kemarahan apalagi kebncian di mata wanita itu pada kekasihnya.
Setelah lama berjalan dan cukup jauh, kira-kira sekitar hampir setengah jam-an, mereka tiba di sebuah bangunan kosong seperti Gedung yang sengaja dibangun di tengah hutan. Kali ini Queen diam tidak memberontak, ia melihat apa yang ingin Aditya lakukan. Ternyata pria itu mengeluarkan kunci dari dalam saku celana jeansnya. Lalu membuka pintu bangunan itu.
Queen menendang tulang kering pria itu lalu berlari kencang berusaha kabur.
Aditya meringis kesakitan sambil memgangi betisnya yang baru saja ditendang keras oleh Queen. Tak mau wanita itu lolos, dengan keadaan kaki pincang pun Aditya mengejarnya. Ia yakin kalua Queen tidak akan bisa berlari dengan cepat, karena saat berada di mobil, ia sempat mengikat tangannya ke belakang.
Dugaan Aditya sedikitpun tidak meleset, ternyata benar kalau Queen tidak bisa lari jauh darinya. Baru beberapa menit saja mengejar, Aditya sudah menemukan Queen kembali. Dengan keras pria itu menarik rambut Queen hingga wanita itu terjatuh.
“Kau berusaha lari? Berani sekali kau, hah?” bentak Adit, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Queen.
Sedangkan Queen yang merasa jijik dengan wajah itu. Ia hanya bisa memalingkan muka dan menutup matanya erat-erat. “Apa yang ingin kau lakukan padaku, Dit? Jika kau memang ingin aku mati, cepat bunuh saja aku!” teriak wanita itu sambil menangis.
“Tidak, aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kau mati seperti mereka, tetaplah diam dan jadi Queenku. Percayalah, Queen tidak ada yang mencintaimu lebih dariku.” Kembali Aditya menyeret Queen ke tempat rahasianya itu.
Tiba di sana Queen mencium aroma amis dan bau busuk, terlebih tempat itu juga Nampak lembab dan juga gelap. Ia mengamati ruangan itu dan melihat ke sekitaran. Lalu, dengan keras Aditya melempar tubuh Queen ke ke atas lantai sampai tubuhnya jatuh tersungkur.
Quuen merasa ada yang tidak beres dengan Aditya, tatapan pria itu dalam sekejab saja sudah dapat berubah dengan cepat. Yang mulanya biasa saja, lalu berubah murka, seolah ingin mencabik-cabik dirinya. Namun kali ini tatapan itu terlihat buas yang diiringi dengan nafsu.
Semakin lama pria itu melangkah semakin dekat sambil tangnnya melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
Queen merasa ngeri, ia mundur perlahan, sambil ngesot dalam keadaan kedua tangan masih terikat. “Dit, kau mau apa?” Tubuh wanita itu terasa bergetar karena takut.
“Apa? Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang sudah lama ingin kulakukan padamu, tenang saja, aku tidak akan main kasar selagi kau tidak memberontak. Bersikaplah baik padaku, kau tahu bukan tidak akan sakit karena kau juga sudah pernah melakukannya dengan Alex.”
“Gak, mau…. Tolooong!” teriak Queen sekuat tenaga, saat pria itu sudah sangat dekat dan mulai menggerayangi kakinya. Sedangkan dia sudah tak mampu mundur lagi, karena ia sudah menempel di dinding itu.
“Hahaha… sudah kuperingatkan padamu, Sayang. Tidak usah kau berteriak, itu akan membuatmu sia-sia saja, ini tengah hutan. Dan kau tahu di sana ada pintu yang jika kau membuka pintu itu, kau akan melihat Lorong Panjang dan tembus dengan rumahku, hahaha.”
Saat Aditya dalam posisi berlutut dan terbahak penuh kemenangan, Queen menendang keras ************ pria itu. Ia tidak mau hal buruk terjadi padanya. Seketika itu juga, Aditya langsung roboh kesakitan yang sangat luar biasa, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan tendangan pada tulang keringnya barusaja.
🍀🍀🍀
Diaz berjalan dengan kondisi badan sudah oleng karena kehabisan banyak darah. Jika dikata tidak kuat, dia seebenarnya juga sudah sangat lemah. Tapi, ia berusaha keras demi menyelamatkan Queen. Dengan modal pendengarannya, akhirnya Diaz pun sampai pada sebuah bangunan tua yang menyerupai sarang wallet yang belum jadi, karena tidak ditingkat. Diaz yakin kalua Aditya membawa Queen masuk ke dalam tempat itu. Terlebih pintunya terbuka lebar.
Entah karena Aditya yang teledor, atau ia terlalu percaya diri taka da yang bisa menemukan dirinya di tempat persembunyiannya itu, sebab, mobilnya sudah ia masukan ke dalam sebuah gua, dan menutupinya dengan tanaman rumput yang merambat.
Diaz berjalan berhati-hati saat melihat Aditnya berguling-guling di atas lantai sambil kedua tangannya memegangi selankangannya. Matanya terpejam keras dan bibirnya meringis mengekspresikan kesakitan yang luar biasa di pusat tubuhnya karena tendangan Queen.
Queen terkejut, terharu, becampur senag ketika melihat Diaz muncul. Tapi, pria itu memberi isyarat dengan meletakan telunjuknya di depan mulut pada Queen yang duduk bersandar pada pojokan dinding. Diaz meraih apapun yang ada untuk memukul Aditya dibagian tengkuk sampai laki-laki itu tak sadarkan diri.
Begitu Diaz berhasil memukul tengkuk Aditya sampai pingsan, pria itu pun juga ikut roboh di sebelah Adit. Queen berteriak memanggil nama kekasihnya itu sambil menangis, dengan susah payah ia mendekati Diaz yang lemah dan penuh darah. Namun juga tak bisa berbuat apa-apa, karena kedua tangannya terikat ke belakang. Untuk berdiri saja dia susah.
__ADS_1
“Diaz, kamu… Kamu…. “ Wanita itu tak dapat mekanjutkan kalimatnya karena menangis tersedu-sedu.
Dengan mata meredup Diaz tersenyum menatap Quuen sambil tangannya memegangi pipi wanita itu. “Aku baik-baik saja, jangan nangis, ya?” Sekuat tenaga Diaz berusaha bangkit melepaskan ikatan tangan Queen dan buru-buru mengajaknya pergi.
Belum jauh mereka pergi dari tempat itu, hujan pun turun sangat deras. Keduanya bersembunyi di bawah batu besar yang hampir menyerupai gua dengan luas sekitar dua meter.
“Diaz, lukamu sangat parah, kenapa kau masih nekat menolongku?’’ Queen terisak sambil memgangi kepala Diaz, mencoba meraba dibagian mana yang terluka, sekalian mengecek parah atau tidaknya.
Tidak tega melihat wanita yang ia cintai menangis karenanya, Diaz memegang tangan wanitanya dan menciumi tangannya. “Aku tidak mau ambil resiko wanitaku dalam bahaya,” ucapnya dengan mata terpejam. Quuen memeluk Diaz sebentar, lalu melpaskan pelukannya, bukan karena ia sadar siapa Diaz, melainkan ada hal lain yang ia ingat. Ia berjalan di sudut gua sedikit membunkuk karena tempatnya sangat rendah dan mulai melepaskan pakaiannya.
“Queen, apa yang kau lakukan?” tanya Diaz saat tak sengaja melihat wanita itu membuka pakaiannya.
Nmanya juga laki-laki normal, melihat yang seperti itu juga pasti ada terlenanya sampai bengong.
“Kau, kenapa menghadap ke arah sini? Aku sudah berusaha membelakangimu,” ucap Queen dengan malu-malu.
“Oh, maafkan aku.” Diaz pun memalingkan wajahnya dari Queen di belakanngya, wajanya terasa memanas karena malu. Tak lama kemudian ia mendengar seperti kain robek, sebenarnya pria itu penasaran dengan apa yang tengah dilakukan kekasihnya itu, tapi ia berusaha sebisa mungkin agar tidak menoleh ke belakang.
Sekitar lima menit, Queen kembali dengan kain Panjang ditangannya. “Memang ini bukan yang terbaik, maaf juga jika bau, kan dari kemarin aku gak ganti,” ucap Queen dengan malu-malu sambil melilitkan kain itu pada kepala Diaz agar pendarahannya berhenti.
“Makasih, ya?” ucap Diaz sambil memnatap wajah Queen di remang-remang cahaya karena waktu sudaha mulai sore dan gelap.
“Aku yang seharunya berterimakasih padamu, kau menolongku,” ucap Queen sambbil memegang tangan Diaz yang menyentuh pundak dan pipinya.
Entah keberanian dari mana, Diaz tiba-tiba saja bangkit dan mencium pipi Queen cukup lama, dan meletakkan wajahnya di pundak wanita itu sambil memejamkan mata.
“Diaz, apakah kau tertidur?” tanya Queen saat mendengar napas Diaz yang mulai teratur. Tak ada jawaban dari pria itu. Queen pun bergeser bersandar pada batu, sementara kepala Diaz, sudah berpindah di pangkuannya. Keduanya pun kini sama-sama tertidur karena Lelah, terlebih Diaz. Dari jam dua dini hari sudah berada di jalan dan terus menyusuri jalan demi bisa menemukan dirinya.
🍁🍁🍁
Andrean melihat Al yang tengah tidur pulas. Pria tua itu tersenyum tipis dan bergumam dalam hati, “Istirahatlah dulu, sebentar lagi kau akan membutuhkan banyak tenaga. Entah, itu menyelamatkan Queen, atau tidak terima Diaz dulu yang lebih awal menemukan adikmu itu? ‘
Andrean pun melajukan kursi rodanya menuju halaman belakang saat ponsel di saku kemejanya berdering. “Halo, bagaimana kondisi mereka?’’
“…..”
“…..”
“apa? Kenapa kalian diam saja? Bawa tim medis ke lokasi, stok darah juga. Bawa bebrapa kantong jangan sampai dia tak terselamatkan.”
“….”
“golongan darahnya A+. Percepat saja rencana kita, telfon dia sekarang!
Ketika Al masih pulas tertidur dengan posisi terlalu minggir di tepi ranjag, tiba-tiba saja ponsel yang sengaja dia atur dengan volume tinggi dan diletakan tepat di bawah telinganya berdering. Ia saking kagetnya bahkan sampai jatuh dari tempat tidurnya.
Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba ke atas Kasur mencari benda pipih yang berisik itu.
“Halo, apakah sudah ada tanda-tanda di mana keberadaan Queen?’’ tanya Al dengan nada tegas, namun ia juga masih mengucek matanya yang masih terasa lengket.
“….”
“Apa? Kenaba bisa sampai di hutan? Ok, aku akan segera ke sana akan ku urus psychopath itu.’’
Al pun bergegas ke kamarnya untuk menyiapkan diri. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan tak lupa memakai pelindung anti peluru untuk jaga-jaga jika lawan menembak, bahkan di pinggangnya ia juga menyisipkan sebuah pistol yang sudah terisi peluru penuh, tak lupa di bagian empat mata jarinya ia juga memasan kerakel. Ia sudah tak sabar ingin memukul dan menghajar Aditya habis-habisan.
Ketika semua sudah siap, pintu kamarnya terbuka, Nayla masuk dengan nampan berisi makanan. “Mas, kamu mau ke mana? Makanlah dulu.”
Al hanya melihat sekilas ke arah Nayla, dan berlalu tanpa sepatah katapun. Wanita itu berusaha mengejar dan menghentikan suaminya agar tetap di rumah, ia kawatir jika dia pergi untuk mencari Queen, sebab tanpa sengaja ia tadi juga mendengar obrolan kakek mertuanya yang Nampak marah-marah. Sudah dipastikan kalua Al hendak mencari dan membawa pulang adiknya.
“Mas, ini sudah malam dan hujan, kau mau ke mana? Tinggalah di rumah jangan ke mana-mana,” pinta Nayla sambil memegangi lengan Al dengan cukup kencang.
__ADS_1
Al yang merasa risih, ia tak kalah keras dan kasar pula menghempaskan tangan Nayla dari lengannya dan berkata dengan keras, penuh emosi, “Ini semua terjadi gara-gara kelancanganmu, sekali lagi kau ikut campur dengan urusanku, aku kurobek mulutmu! Kau tahu, bagaimana rasanya adikku akibat ulahmu, dia di sekap di tengah hutan malam-malam dan saat keadaan hujan seperti ini.” Tak puas dengan apa yang ia katakana dan lakukan barusan, Al mendorong keras tubuh wanita itu hingga jatuh tersungkur. Lalu ia pun mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkan halaman.
Nayla menangis bukan hanya karena perlakuan Al terhadap dirinya. Melainkan ia juga takut kalau saja Aditya sudah berkata kalua dirinya dan Jevinlah dalang di balik semua ini. Ia bingung harus bagaimana?
🍀🍀🍀
Sekitar tiga puluh menit Aditya sudah sadar, ia merasa berat di bagian tengkuk akibat pukulan benda tumpul, dan rasa nyeri masih terasa sakit di selangkangannya. Ia murka saat melihat sekeliling Queen sudah tidak ada. Dengan segera ia mencari keluar, ia yakin, wanita itu dan siapapun yang menolongnya tidak akan bisa keluar dari sini dengan mudah, karena banyak jalan yang sengaja ia buat membingungnkan untuk mengelabuhi korban-korban sebelumnya yang berusaha kabur, dan akhirnya, mereka pun tertangkap dan hidupnya berakhir tragis di tangan Aditya.
Ternyata dugaan Adit yang sudah menguasai tempat ini tidaklah salah, sudah lama, sejak keduanya berusaha keluar mencari bantuan hanya berputar-putar di tempat yang sama saja.
“Diaz, kamu merasa gak, kalua kita terus melewati jalan yang sama?” ucap Queen, mulai putus asa.
“Iya, Queen, kita coba saja terus,” ucap diaz, sambil menahan rasa sakitnya di kepala. Sebenarnya ia pun juga sudah tak tahan dan seperti mau roboh saja. Tapi, karena belum adanya bantuan yang dapat mengamankan Queen, Diaz terus berusaha bertahan.
“Hahaha, sudah kuduga, kalian berusaha kabur, ya? Jangan mimpi!” Aditya menyeringai sambil membawa pisau dua mata di tangannya.
“Diaz, larilah, jangan sampai kau terluka lagi, kamu pergi cari bantuan saja, Diaz,” ucap Queen dengan suara rendah.
“Tidak, kita lari Bersama.” Diaz kian mengeratkan genggaman tangannya.
“Oh, dokter Diaz, rupanya kau cukup kuat ya, dengan luka parah di kepalamu bisa sampai bertahan selama ini,” ucap Aditya sambil memainkan dua mata pisaunya.
Queen membaca gestur tubuh Aditya, ia yang dulu pernah ikut seni bela diri, dan juga mendapat bimbingan dari mamanya, bisa dengan mudah membaca serangan yang akan Aditya lakukan, memang ini perlu sdikit pengorbanan. Tapi, jika tidak, pria gila itu bisa diam-diam menikam Diaz yang sudah lemah.
Tanpa Aditya duga, Queen dengan cepat mendorongan tangan Adit, sehingga mata pisau yang menghadap mengenai dadanya, dan karena da dua, satunya lagi mengenai tangan Queen.
“Diaz, ayo lari!”
Kedua pasangan itu pun berlari dan dari belakan Aditya mengejarnya. Meski dengan susah payah, mereka pun berhasil keluar dari tempat jebakan Aditya dan di sana sudah ada pasukan bersenjata. Tapi, bukan polisi, melainkan pasukan Al. Queen hafal dengan bebrapa wajah yang ada di situ.
“Diaz, kita selamat, itu orang-orang kakakku,” ucap Queen senang.
Queen menoleh kea rah Diaz, yang tiba-tiba saja roboh tak sadarkan diri. Wanita itu menangis sambil mengguncang tubuh Diaz dan beerteriak pada mereka yang tidak cekatan. “Hey, kalian apakah diperintah hanya untuk diam? Cepat tolong dia, dia sudah kehabisan banyak darah.”
“Baik, Nona. Cepat siapkan tim medis.”
Semua orang sibuk memberikan perawatan pada Diaz yang memerlukan bebrapa jahitan dan tranfusi darah dengan cepat. Sampai-sampai luka di tangan Queen yang juga cukup serius terabaikan. Tidak ada yang tahu, karena Queen juga lupa dan tak merasakan sakit pada tangannya.
Ketika Diaz sudah menerima perawatan, Al pun tiba di tempat.
“Bos, anda sudah tiba?’’ sapa mereka bersamaan.
Al begitu terkejut saat melihat ada kantong darah di gantung, ia khawatir kalau itu adalah Queen.
“Siapa yang terluka?”
“Tuan Diaz, Bos, kepalanya mengalami luka yang cukup parah, dan ini kantong darah yang kedua.”
“Di mana, nona Queen, apakah dia baik-baik saja?’ tanya Al karena ia tidak mendapati adiknya di sekitar situ.
“Dia tidak apa-apa, Bos, hanya tangannya saja yang sedikit tergores,” jawab salah satu tim medis yang tadi memperban lukanya.
“Di mana dia sekarang?”
“Itu, Nona, Queen.’’ Dengan tenang salah satu dari anak buah Al menujuk ke arah di mana sebelumnya Queen duduk menunggu Diaz menerima perawatan.
“Di mana?” bentak Al saat tak mendapati siapapun di sana selain bungkus roti dan softdring sisa Queen tadi.
Mereka pun semuanya terkejut, bagaimana bisa-bisa Queen hilang.
"Tolong!"
__ADS_1
"Itu pasti suara Queen. Kalian semua cepat lari berpencar, dan tim medis,cepat bawa Diaz ke rumah sakit," perintah Al lalu bergegas ikut mencari adiknya .