Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 174


__ADS_3

Cukup lama Andrean menunggu panggilannya di angkat,. Tapi, Hanifah tak kunjung mengangkatnya.


Sampai di panggilan yang kedua, barulah gadis itu mengangkat panggilannya.


"Halli, Kakek. Ada apa?" jawab gadis itu dengan suara seperti orang baru menangis.


"Kau lagi apa,Han?"


"Tidak ada, Kek. Apakah Kakek perlu Hnifah temani? Aku akan segera pergi ke sana."


Hati Andrean terasa kian bergetar saat mendengar kalimat dari Hanifah yang menunjukkan betapa pedulinya gadis itu kepadanya. Sekalipun bukan lah cucu kandung, rasanya tidak adil jika ia tidak turut membantunya dalam urusan asmara, Biarlah Diaz bersama Hanifah, gadis itu sebenranya baik, hanya saja salah pergaulan dan kursngnya pengawasan dari kedua orngtuanya. Papanya seorang pelayaran, sedangkan mamanya wanita pembisnis dan mempercayakan semua urusan anak pada pembantu saja.


Inilah mungkin salah satu alasan Hanifah begitu hormat dan sangat sayang sama aku layaknya cucu kandungku. Persis Al dan Queen dulu saat keduanya belum sama-sama sibuk dalam dunia bisnis dan karier masing-masing, pikir Andrean.


Jika kau tidak sibuk, kemarilah, Nak,'' jawab Andrean dengan lembut dan penuh kasih sayng.


''Oh, iya, Kek Hanifah akan segera kesana sekarang.''


Gadis itu pun mematikan telfon dari Andrean. dan mungkin juga segera bersiap datang ke tempatnya. Andrean bahkan sangat hafal bagaimana sikap gadis itu, lincah dan ceria di luarnya, seolah dia sangat kuat dan tak terkalahkan. Padahal yang sebenarnya dia sangatlah rapuh, dan tak jarang diam-diam menitikan air mata.


*****


Usai acara, Aditya pun segera keluar dari area gedung pertemuan. Pria itu sengaja tidak menghindari Alex agar ia tahu, kalau hari ini dia ada jadwal pergi bersama anak dan juga istrinya.


Agar tidak mengundang kecurigaan terhadap kakak iparnya, Alex terus membuntutinya sampai di depan gerbang rumahnya.


Pada saat Aditya tiba dan berhenti di depan rumahnya, pada saat itu pula Alex meneruskan laju kendaraannya. Aditya menyeringai ketika mendapati Alex yang langsung pergi begitu saja, dia menertawai Alex, yang dia kira pria itu tengah kecewa karena tidak mendapatkan yang dia inginkan.


"Alex, Alex.... Sayang sekali hari ini aku sudah buat janji setelah acara akan ajak kakak dan keponakan tercintamu untuk jalan-jalan, jadi, kau tidak akan dapat memuaskan rasa penasaranmu itu," gumam Aditya, seorang diri.


Tanpa sadar Adit menunggu di depan gerbang, Tapi, istrinya tak kunjung datang untuk membukakan pintu. "Kemaana dia?" Aditya mengerutkan keningnya, lalu memncet clacson beberapa kali. Namun, masih tidak ada respon. Adit pun meraaih ponselnya di atas dasboard dan menelfon istrinya. Tetap tidakĀ  pria ada jawaban.


Merasa ada yang tidak beres, pria itu pun turun dari mobil untuk memastikan keadan di dalam rumah. Karena dia sudah mulai tidak enak dengan firasatnya. Pikirannya pun kian menebak-nebak membayangjan yang bukan-bukan terkait keselamatan anak istrinya saat mendapati pintu pagar tdak terkunci.


"Novi... Axel, kalian tidak apa-apa, kan? Kalian berdua baik-baik saja di dalam, kan?''


Aditya pun mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Membiarkan mobilnya di luar dan pagar terbuka lebar.


''Novita, Sayang... Axel... Kalian di mana, Sayang?" teriak Aditya. Tapi sayang tidak ada jawaban selain ru,ah yang nampak sepi.


Satu demi satu seluruh ruangan dibukannya, berharap ia menemukan anak dan istrinya. Tapi, sekali lagi sangat disayangkan. Tidak ada satupun yang terlihat.


Dengan tangan bergetar, Adit mencoba menghubungi nomor istrinya, lagi. Nadanya tersambung. Bahkan suara nada deringnya ada di di sini, tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Perlahan pria itu berjalan mencari sumber suara itu yang memang biasa digunakan sebagai nada dering oleh Novita. Aditya terkejut ketika mendapati ponsel istrinya tergeletak di ruang tamu. Lalu, kemana dia? kalau pun pergi, kenapa tidak pamit lebih dulu dan ponsel juga ditinnggalkan. Sungguh tidak seperti Novita yang sebenarnya?


Aditya panik, Tapi, ia masih berusaha rilex dan menenangkan diri. Berusaha tenang menunggu anak dan istrinya kembali. Ia berusaha yakin kalau mereka pergi tidak jauh daan tidak lama lagi kembali. Meskipun kenyataannya tidak. Dia panik, gundah dan juga tidak tenang. Tapi, tidak ada cara lain yang dapat ia lakukan selain menunggu. Sebab, untuk telfon pun juga hp nya tertinggal.


****


Begitu sudah jauh dari Adit si psycopath itu, barulah Alex menyalakan ponselnya, begitu ada banyak panggilan tak terjawab, dan pesan dari nomor yang tak di kenal.Pria itu mengerutkan keningnya, Berfikir keras, kira-kira siapa?


Alex pun memutuskan untuk membuka pesan dari nomor itu demi menjawab rasa penasarannya. Baru satu pesan saja, Alex sudah tahu kalau nonor itu adalah miliknya yang baru.


<"Alex, terimakasih sudah melakukan yang terbaik untauk kakak. Entaah apa yang kau korban kan demi kakak dan juga Axel. Al, kakaknya Queen, sampai sebaik ini. Membiarkan kakak menaiki privat jetnya, dan juga diberi ponsel baru yang sudah lengkap dengan nomor-nomor orang terdekatku. Apapun itu, semoga tuhan membalas ketulusanmu.">


Membca pesan yang ini, Alex tertawa, Ya dia menertawai dirinya yang bisa dengan mudahnya menyia-nyiakan permata. Dan baru sadar kalau permata itu sangatlah berharga setelah tak ada lgi dalam genggamannya.

__ADS_1


"Membahas apa yang ku korbankan untuk ditukardengan keselamatanmu, ya Kak? hehehe, kau tidak perlu tahu deh. Aku tidak mau kau sedih dan menjadi merasa bersalah nantinya," gumam Alex seorang diri.


Maaf, kak. Aku baru sempat menyalakana ponselku. Sebab, tadi aku masih mengawasi kak Adit. Kau hati-hatilah. Kabari aku setelah tiba di Australia," balas Alex.


*******


Ketika Hanifah tiba di kediaman kakek Andrean, beliau seolah sudah mnyambutnya. Gadis itu tidak tahu, apa kira-kira yang akan kakeknya bahas, dari cara berbicara di telfon tadi seolah ada hal penting yang ingin disampaikannya.


''Kakek, apakah kau menungguku?" sapa gadi itu dengan ceria.


"Kau sudah tiba rpanya? Kemarilah, Nak. karena tidak ada orang di rumah, hari ini kita tidak perlu pergi ke mana-mana. Kau mau minum apa?" tawar Andrean.


''Biar nanti aku ambil sendiri saja Kek. mereka semua pergi bersama-sama, ya?"


Memang, Hanifah nampak tegar. Bahkan nada bicaranya pun seolah dia ceria. Tapi, matanya tidak bisa berbohong. Mata itu seolah telah menceritakan semuanya kepada Andrean.


"Hanifah, kau ini sudah kakek anggap seperti cucu kakek sendiri. Lakukan apapun yang kiranya membuatmu bahagia, kau tak seharusnya mengalah membiarkan dirimu sakit sendiri demi dkebahagiaan orang lain."


Mendengar kalimat itu, Tubuh Hanifah terasa bergetar. Sekalipun kalimat yang diucapkan oleh sang kakek terasa ambigu, tapi entah kenapa, Hanifah kok merasa yang dibahas adalah mengenai bagaimana perasaannya terhadaap Diaz.


Lalu, apa yang kakek Andrean maksud dengan membiarkan dirinya sakit demi kebahgiaan orang lain itu? Apakah kakek inin aku merebut Diaz dari Queen. Jika saja Quen adalah orang lain, bukan keponakan sepupu dari papanya, mungkin sudah sejak dulu ia lakukan hal itu.


"Maksut Kakek, apa, ya?" tanya Hanifah, meyakinkan dugaannya.


'Kau mencintai Diaz, kan? Kenapa hanya diam saja? Kejar cintamu. Sekali-kali bersikaplah egois, lakukan apapun yang kiranya Diaz tak ada pilihan selain meninggalkan Queen dan memilihmu."


Hanifah terkejut, tubuhnya kian hebat bergetar saat kakek Andrean berkata dengan terang-terangan mengenai apa yang tadi ia katakan.


"kakek, kau bercandanya berlebihan," jawab Hnifah sambil tertawa. Padahal, jauh di dalam batinnya tengah tergoncaang.


''Hanifah, kau juga cucuku, jika Queen bahagia, maka kaupun juga harus bahagia. tidak ada yang boleh mebuat cucuku bersedih dan menangis, pokoknya. Kau juga baru saja menangi, Kan? Tenang, di sini kakek akan membantumu untuk mendapatkan apa yang kau mau."


"Benar, tapi, dalam kebagiaan mereka ada dukamu. Menurutlah. Kau jugaberhak mendapatkan yang terbaik, biar Queen jadi urusan kakek saja. kai fokus terhadap tujuan hidupmu. Mulai dsari sekarng, kau harus berjanji menuruti apapun yang kakek perintahkan padamu, Oke?"


Hanifah bukannya tersenyum bahagia, Tapi ia justru malah menangis tersedu-sedu. Walaupun dia terlihat nakal dan arogan, dan tato ada di mana-mana, tapi menikung teman apalagi saudara, bukanlah typenya.


Andrean juga tahu, tangisan Hanifah bukan karean aterharu dia sudah membantunya. Melainkan, ia akan berbuat jahat dan menyakiti hati sesama wanita dengan merebut kekasihnya. Apa lagi yang lebih sakit dari penghianatan bagi seorang wanita? Terlwbih jika prianya berpaling pada saudarinya sendiri.


"Sungguh, Kek. jangan. DIaz sudah sangat menyukai Queen sejak saat pertama kali mereka bertmu. Dan diaz pula yang mendukung dirinya saat masalah menimpa Alex. Ini adalah saatnya mereka untuk hidup bersama dan bahagia, jangan dipisahkan, Kek.


"Kakek sudah memutuskan, Hanifah. Sudah ada laki-laki yang dapat menjaga Queen dengan baik. Biarkan seiring berjalannya waktu mereka bersatu. Dan kakek melihat Diaz lah laki-laki yang kau butuhkan.


******


Tiba di dufan dan membeli tiket, Al tidak mood bermain atau menaiki wahana apapun yang ada di sana. Dia lebih banyak diam dan tak banyak bicara seperti orang sariawan saja.


"Mas, naik roller coaster, yuk!" ajak Nayla.


''Kalian saja. aku akan menunggu di sini," jawab Al, singkat sambil membuang muka dari tatapan Nayla. dia merasa benar-benar jengah menatap wanita muka dua it. dan, kalau bukan demi menutupi kbusukan dirinya di depan sang kakek, Al juga akan lebih baik tetap di rumah mengawasi Queen dan Diaz.


"Kamu tidak mau, Mas? Tidak apa-apa, mas di sini sendirian menunggukundan Bilqis?" tanya Nayla sekali lagi.


"Tidak perlu berlagak peduli padaku, nikmati saja apa yang ingin kau lakukan di sini. Telfon aku jika sudah. Aku akan pergi ke suatu tempat dulu," jawab Al, ketus.


Naya hanya dapat diam menatap punggung Al yang kian jauh dari pandangan sampai tak nampak tertutup oleh banyaknya para pengunjung.


"Ma, ayo kita naik berdua saja!' seri Bilqis, sambil menarik lengan mamanya. Membuat lamunan wanita itu terbuyarkan.

__ADS_1


'Baru saja kau peduli dan membuatku bahagia, Mas. Tapi, dengan mudah pula kau menghancurkan kebahagiaan itu' ucap Nayla, dalam hati.


"Mama sedih karen papa tidak mau bermain bersama kita, ya? Sudahlah Ma. Sudah baik papa mau ajak kita keluar bareng. mungkin papa capek, mama harus ngertiin papa, ya?''


Nayla tersenyum mendengarkan nasehat dari putri kecilnya itu yang seolah sudah seperti orang dewasa saja. tpi, nyatanya apa yang dikatakan Bilqis juga tidaklah salah. Meskipun masih tetap cuek, juga sudah bagus kan Al mau mengajaknya kelua. Karena biasanya jika dia tidak siibuk dengan urusan kantor yang diajak keluar kalau bukan Queen, ya Vico dan Juna. Seolah, salah satu dxari mereka lah yang istrinya.


***


Al berjalan menjauh dari tempat di mana Nayla. ia menuju ke colombus cafe memsan minuman dan makanan ringan di sana. iseng-iseng sambil menunggu pesanannya datang Al membuka ponselnya. ada pemberitahuan di IG kalau ada beberapa orang tengah live. Dan salah satunya adalah Queen.


Entah dorongan apa yang membuat Al penasaran ingin melihatnya. Mulanya ia berfikir kalau Queen tengah live di rumah. Tapi, ternyata dia salah. Adiknya tengah go out dan punya acara sendiri dengan Diaz. di sana, ia melihat bagaimana rekaman dalam video itu Queen dan kekasihnya itu jalan bergandengan tangan. dan bahkan sesekali di depan kamera, Queen menyandarkan kepalanya di pundak Diaz.


Melihat siaran langsung adiknya itu membuat Al kian dongkol saja. Tanpa basa basi dia pun menelfon nomor adiknya. Tapi, sampai beberapa kali tidak ada jawaban, bahkan dalam tayangan live nya Queen masih nampak tertawa bahagia dan berlarian kesana kemari.


"Ck, sialan kenapa sih tidak di angkat?'' gerutu Al seorang diri.


Lalu akhirnya Al pun mengirimkan pesan pada Queen.


"Kamu ini gimana sih, bukannya jagain kakek malah asik pergi sendiri!"


Karena tak ada respon, kembali Al menefonnya terus sampai dia sadar kalau itu hanyalah sia-sia saja. Sebab hp Queen ada padanya sejak semalam, Dan dia baru saja ingat.


'Sialan, kenapa aku bisa lupa?' umpat Al dalam hati.


Hay, cowok. Sendirian, saja?''


Al menoleh ke sumber suara itu. ia melihat seorang gadis memakai pakaian mini, jika diperhatikan dengan seksama, gadis ini masih sangat belia, mungkin juga masih duduk di bangku SMA.Tapi, karena pakaiannya terlalu menonjolkan lekuk tubuh dan mini serta mekap yang menurut Al sangat berlebihan, justru malah memberikan kesan seperti tante-tante saja.


Al, enggan menanggapi wanita-wanita seperti itu. ia tahu, apa yang diinginkan gadis seperti itu mendekatinya. jika tidak karena uang juga pasti juga karena tampang.


"Kakak, boleh kenalan? namaku, Sandra. Kaka sendirian saja di sini tidak dengan pacarnya?" tanya gadis itu lagi lalu menarik kursi yang ada di sebelahnya dan meletakkan agar lebih dekat dengannya.


"Jika aku sendirian, apakah kau masih nyamperin aku?" tanya Al dengan nada khasnya yang dingin namun sexy bagi setiap kaum hawa yang mendengarnya.


"Tentu, saja tidak. Justru karena kau sendiri aku datang menghampiri mu."


"Ya sudah, kau tahu kalau aku sendirian saja. Ke apa harus tanya lagi? Maaf aku sedang malas ngobrol sebaiknya kau cari laki-laki lain saja. Aku tidak tertarik denganmu."


Tanpa perasaan setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Al pun pergi meninggalkan wanita itu seorang diri.


Al berhenti melangkah saat ponsel di dalam saku celana berdering. Dengan cepat ia mengambilnya, berharap Queen yang telah menelfonnya. Tapi, sepertinya dia harus kecewa. karena itu adalah Alex.


"Halo, Alex, apakah masih ada masalah?" jawab Al saat mengangkat panggilannya.


"Tidak ada. maaf baru menghubungi mu, Kak. Aku mau ucapkan banyak-banyak terimakasih padamu, berkat pertolongan darimu kakakku kini keamanannya terjamin.


"Oh, memang itu yang seharusnya aku lakukan. Orangtua kami dulu mengajarkan jika mau menolong itu jangan setengah-setengah."


"Terimakasih, banyak Kak Al. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikanmu."


"Sudahlah,kau jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang, kakak dan keponakanmu sudah aman. dan sampaikan pesanku pada kak Novi agar jangan lagi menggunakan alamat email yang lama. karena melalui email, keberadaan seseorang bisa di lacak. Makanya, aku menyiapkan ponsel baru, dan memintanya agar meninggalkan ponsel lama."


"Aku berhatang banyak padamu, Kak," jawab Alex merasa sungkan.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. ya sudah, aku masih ada urusan. Kabari aku jika ada masalah."


"Iya, Kak. baik. sekali lagi terimakasih, Kak Al."

__ADS_1


"Iya, sama-sama." Al pun mematikan ponselnya dan kembali ke Dufan untuk menyusul anak istrinya. dia ingin segera kembali saja. di tempat seramai ini juga masih merasa bete dan sepi.


__ADS_2