
Karena sudah
mendekati jam makan siang, Al mengajak Queen untuk makan siang bersama dulu di rumah.
“Kita punya anak jadi, kek gak punya anak begini, ya?” ujar Queen
memulai pembicaraan sambil menunggu bibi menyiapkan makanan mereka.
“Habis mau gimana lagi, Sayang? Berlyn lebih nyaman tinggal
bersama kakek dan neneknya. Apa perlu kita punya anak lagi saja?”
Queen menatap suaminya sambil tertawa tertahan. “Emang
cita-cita pengen punya anak berapa, sih?”
“Lima. Kan sudah punya dua, jadi, nambah lagi tiga, cowok
semua, dan mereka nanti yang akan jedi penerus perusahaan keluarga.”
“Banyak banget, Al? aku gak mau kalau punya anak
banyak-banya,” cetus Queen. Masih dengan tertawa.
“Kenapa? Kita bisa bayar baby sister untuk bantu rawat
mereka, Sayang.”
“Tapi, mereka tidak bisa bantu ringankan sakitku saat melahirkan, Al.”
Pria itu tertawa, kemudian memegang tangan istrinya dan
bertaka, “Aku bercanda. Kalau memang mau punya Clarissa dan Berlyn saja aku tidak masalah. Tapi, sejujurnya aku juga ingin anak laki-laki yang bisa menjaga kedua kakaknya.”
“Entahlah. Aku belum kepikiran apa-apa.”
Sebenarnya Queen sendiri juga ingin memiliki anak lagi. Tapi, mengingat sikap Al setelah ia melahirkan putrinya yang tiba-tiba berubah cuek dan jadi jarang pulang ke rumah itu dia merasa trauma saja. Dengan
memiliki anak bisu, dia juga takut, kelak anak keduanya nanti juga cacat. Tapi, hal seperti itu, ia tidak mungkin juga mengatakan pada suaminya. Sebagai alasannya, Queen selalu mengatakan masih trauma dengan rasa sakit Ketika ia melahikan bayi kembarnya secara normal.
“Mungkin kita cukup dengan sepasang anak kembar saja
sayang.”
Queen hanya menanggapi dengan senyuman saja. Usai makan
siang, Al mengantar kan Queen ke rumah sakit. Sementara dia sendiri kembali ke kantor.
Sebanrnya dia tadi sudah tiba di kantor. Tapi, begitu mendapat laporan kalau bangunan klinik yang akan ia peruntukkan untuk Queen sudah hampir jadi, dia kembali kerumah setelah menghabiskan sarapannya. Dan mengajak istrinya untuk melihat.
***
Seharian ini Bilqis tidak mendapti Tiara di sekolahan. Dia
akan menunggu jam istirahat ke dua. Mungkin, ia bisa temukan sahabatnya di kantin. Awalnya ia berfikir kalau Tiara sengaja tidak keluar kelas agar bisa menghindari makanan. Sebab, minggu lalu dia mengatakan padanya kalau ia ingin
diet. Timbangannya nganan terus ugal-ugalan.
Tapi, saat jam istirshat kedua pun Bilqis juga masih tidak
mendapati Tiara. Merasa penasaran, ia pun mencoba mencari anak yang satu kelas dengan Tiara untuk ditanyakan keberadaanya.
“Maaf, Tiara masuk sekolah, tidak?” tanya Bilqis pada salah
satu anak yang mengenakan bet, atau identitas kelas.
“Tiara? Masuk kok. Cuma gak tahu. Dia ada di kelas saja
tuh.”
“Terimakasih.”
Setelah mendapatkan informasi keberadaan sahabatnya, gadis
itu pun langsung beranjak menuju kelas Tiara yang berada di paling ujung sana.
Karena dia berada di kelas F. sementara Bilqis, ia berada di kelas favorit. Kelas I.
Ternyata apa yang dikatakan oleh anak tadi benar. Di bangku
paling belakang seorang gadis tengah duduk melamun di bangkunya. Dengan segera Bilqis berjalan menghampiri anak itu.
“Tiara, kamu kenapa?” tanya Bilqis sambil mempercepat
langkahnya mendapati sahabatnya hanya bengong saja.
Tiara diam tidak menjawab pertanyaan Bilqis. Ia justru
menunduk dan malah menangis.
Mendapati sahabatnya menangis, Bilqis pun kian bingung saja.
Ia menggoncang punggungnya sedkikit keras agar gadis itu mau menjawabnya.
Supaya dia juga tahu, apa yang membuatnya bersedih.
“Tiara, aku tanya sama kamu. Jawab, donk!”
“Aduh!” seru Tiara merasa sakit. Saat ia mengguncang
punggung gadis itu.
“Kamu kenapa? Ada apa dengan punggungmu?” tanya Bilqis
panik.
“Aku tidak apa-apa. Aku baru saja terjatuh.”
“Parah, ya?” Bilqis nampak panik. Ia khawatir kalau
sahabatnya jatuh dari motor. Tapi, tadak terlihat ada bagian yang luka, memar
atau sekedar tergores.
“Tidak sama sekali. Aku hanya terpeleset di kamar mandi
saja, kok.” Tiara tersenyum. Tapi, senyuman itu terkesan menyembunyikan
sesuatu. Tapi, apa?”
“Apakah kamu tidak mau makan ke kantin? Kamu sudah sedikit
kurusan setelah satu minggu ngurangi makan dan ngemil,” ucap Bilqis sambil
memperhatikan tubuh Tiara yang memang sedikit menyusut.
“Aku tidak lapar, Bilqis. Kalau kamu mau makan, kamu ke
kantin saja. Aku masih ingin diam di kelas saja,” jawab Tiara. Ia pun
berpura-pura mengambil lembar kerja siswa, membaca rangkuman materinya dan
memberi tanda titik pada salah satu jawaban pilihan yang ada di sana.
Bilqis terus mengamati sesuatu yang tidak beres pada
sahabatnya ini. Dia ini kenapa? Sejak kapan dia mau belajar? Bukankah biasanya dia lebih suka membuka tabloid dewasa dan fashion saja?
“Kalau kamu tidak mau makan tidak masalah. Aku juga akan
tetap di sini. Kalau kamu lapar, mana mungkin aku bisa kenyang,” jawab Bilqis.
Keduanya pun akhirya sama-sama berada dalam kelas
bertemankan bisu. Bilqis masih diam mengamati gerak gerik aneh sahabatnya.
Sedagkan Tiara masih pura-pura mengerjakan soal-soal yang ada di lks-nya.
Padahal, dia sendiri ngasih jawaban ngarang saja. Alias ngawur.
Tentu saja. Beban masalahnya di rumah terasa berat.
Jangankan memikirkan jawaban, guru menerangkan saja dia tidak bisa mendengar.
Karena memng tidak fokus. Tapi, Bilqis tahu itu semua. Apapun yang Tiara lakukan saat ini hanyalah pura-pura dan sekedar untuk mengelabuhinya saja. Agar tidak bertanya masalah pribadinya. Dia masih belum siap bercerita, yang ada bukannya cerita malah nangis lagi nanti.
Mereka terus berdiam diri di dalam kelasnya Tiara hingga bel
tanda masuk kelas sudah berbunyi.
“Tiara, jika kau memang ada masalah, jangan sungkan-sungkan
berbagi denganku. Aku janji, akan bantu kamu jika aku bisa.” Setelah itu,
Bilqis pun berlalu meninggalkan sahabatnya seorang diri. dia masuk ke dalam kelasnya.
Tapi, rupanya bayangan Tiara yang tidak seperti biasa cukup
menyita perhatian Bilqis. Bahkan ia sampai-sampai tidak bisa 100% fokus dengan
pelajaran. Sempat ditegur juga oleh guru yang membawa mata pelajaran tadi.
Pulang sekolah, diam-diam Bilqis menguntit Tiara dari
belakang. Jika Tiara tidak mau bercerita. Maka, ia akan mencari tahu jawaban sendiri
tanpa bertanya pada orang lain, dan dengan cara dia sendiri tentunya.
“Maafkan aku, Tiara jika yang aku lakukan ini sangat tidak
sopan,” gumamnya seorang diri.
Begitu melihat Tiara masuk ke dalam sebuah angkot, Biqis
langsung meminta abang ojek pengkolan untuk mengikuti angkot tersebut.
Beruntung sekali, hari ini dia mengenakan jaket baru yang dibelikan oleh mama
Queen saat di mall kemarin. Jadi, Tiara tidak akan curiga dan mengenali kalau
yang mengikutinya adalah Bilqis. Terlebih, rok seragam birunya juga sudah ia lepas di toilet
sekolah, ia ganti baju mengenakan celana panjang dan kaus oblong, ditambah juga
mengenakan jaket hodie.
Setelah empat kilo meter, angkot itu berhenti. Ternyata yang
turun dari sana adalah Tiara. Hanya Tiara saja tidak ada yang lain, ia kembali
mengamatinya lagi. Gadis itu masuk ke dalam sebuah gang dan berjalan sedikit
tergesa-gesa.
Dengan cepat pula, Bilqis memberi uang limapuluh ribuan pada
abang ojek. Lalu berhambur pergi mengikuti Tiara. Ia tidak mau kalau usahanya
menjadi sia-sia karena kihilangan jejak sahabatnya. Sebab, selama ini Tiara
tidak pernah mau berterus terang. Di mana rumahnya saja Tiara juga tidak tahu.
“Dek, kembaliannya!” teriak abang ojek.
“Untuk abang aja,” jawab Bilqis lalu berlari dan
mengendap-endap setelah Tiara berada dalam pengawasannya.
Di sebuah rumah sederhana dan jauh dari kata bagus, namun masih
layak dan bahkan masih luasan rumahnya di perumahan. Tiara masuk ke dalam rumah itu. Bilqis masih tetap
bertahan pada tempatnya terus mengawasi apa yang terjadi di sana.
Selang beberapa menit, ia mendengar suara teriakan sekaligus tangisan seorang gadis. Jelas sekali, itu adalah suara Tiara.
“Aaaa… ampun, maafkan aku.”
Kawatir hal buruk menimpa sahabatnya, Bilqis segera beranjak
dari tempat peesembunyiannya dan segera mendekati rumah yang tadi dimasukki oleh Tiara.
Tangisan Tiara terdengar kian menyayat hati saja. Dengan
ragu-ragu, Bilqis mengetuk pintu rumah itu.
“Tok… tok tok!”
“Kamu diam! Awas sampai kau tunjukkan air mata buayamu itu
pada orang yang datang.’’ Terdengar suara seorang perempuan dari dalam. Nadanya sangat menekan dan penuh ancaman.
__ADS_1
Jelas, pasti itu ditujukan pada Tiara, siapa lagi? Ia hanya mendengar suara tangisan sahabatnya saja.
Pintu terbuka. Dengan wajah sebab dan bekas air mata yang belum hilang dan rambut juga sudah berantakan. Tiada bediri berhadapan dengan Bilqis. Ia mungkin juga heran bagaimana sahabatnya bisa tau rumahnya.
“Bilqis? Kau kenapa di sini?’ tanya Tiara terkejut.
“Tiara! Siapa yang datang? Cepat suruh pergi jika tidak
berkepintingan!” teriak seorang wanita yang sama dari dalam rumah.
“Tiara, ini ada tugas kelompok, kurasa kau lupa. Jika kamu
tidak ikut, nilaimu bisa berkurang, loh. Dan bahkan bisa-bisa kau terancam
tidak naik kelas!” seru Bilqis dengan suara yang sengaja dilantangkan. Agar wanita yang menindas Tiara bisa dengar. Tapi, ia juga kasih isyarat mata pada sahabatnya.
“E… iya, aku lupa,”
jawab Tiara dengan sedikit terbata-bata.
Seorang wanita paruh baya, sekitar usia tiga puluh tiga
tahun muncul dari dalam rumah. Ia menanyai Tiara dengan ketus.
“Siapa dia? Ada perlu apa ke sini?”
“Dia teman sekolah Tiara, Bu. Ka… “
“Saya Bilqis. Saya kemari berniat untuk menyusul Tiara untuk
belajar kelompok di rumah saya,” jawab Biliqs menyela kata-akata Tiara. Ia merasa kalau sahabatnya sangat takut dengan wanita tersebut. Tapi, dia memanggilnya ibu? Apakah benar dia ibunya? Kok kelihatannya kejam sekali. Padahal saat ia bercerita, tidak menunjukkan kalau ibunya sangat kejam.
“Kenapa harus kelompok belajarnya? Tidak bisakah belajar
sendiri-sendiri? Jika memang harus kelompok, kenapa tidak di sini saja?” jawab wanita itu dengan tatapan yang tidak suka.
“Karena, memang sudah ditugaskan oleh guru untuk belajar
kelompok agar bisa saling berdiskusi dan saling bertukar pikiran. Memang temannsekelompok merekomendasikan d tempat saya karena di tempat saya ada computer
dan juga acces wifi.”
Dengan jawaban Bilqis yang begitu meyakinkan, akhirnya
wanita itu pun mengizinkan Tiara pergi.
Tiara masuk ke dalam mengambil buku dan tas sekolahnyan
tanpa mempersilahakan Bilqius untuk masuk ke dalam. Selang lima menitan, gadis itu keluar dengan wajah sembab dan penuh rasa ketakutan lalu mengajak Bilqis segera meninggalkan tempat tersebut.
Tiba di jalan raya,
Bilqis menawarinya makan dan minum dulu. Tapi, Tiara menolaknya. Bilqis tahu, Tiara tidak butuh makan dan minuman untuk saat ini. Sekalipun perutnya mungkin juga lapar, dan kerongkongannya kering. Tapi, yang lebih ia butuhkan saat ini
ketenagan batin dulu. Dengan cepat Bilqis memesan taxi online yang bisa
mengantarkan dia dan sahabatnya pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, Bilqis membuatkan teh melati hangat untuk
Tiara. Ia ingat dengan mama Queen dan juga nenek Clara. Katanya, aroma teh melati bisa menjadi aroma terapi yang menenangkan pikiran. Jadi, ia sengaja membuatkan itu untuk Tiara agar
pikirannya bisa lenih relax.
“Kamu minum dulu. Kamu bawa baju ganti, apa tidak?” tanya
Bilqis begitu menyadari kalau Tiara masih mengenakan baju segaram.
Gadis itu hanya mengeleng. Sudah lewat sepuluh menit Taira
belum mau berbicara. Mungkin waktu segiu tidaklah lama. Tapi, bagi Bilqis yang
tidak terbiasa dengan sikap Tiara yang begini juga terasa lama dan sangat
membosankan.
“Tiara, kau bilang aku ini sahabatmu, kenapa kau diam saja
saat dalam masalah? Kenapa? Kamu ngomong dong! Apa gunanya aku sebagai sahabat jika hanya ada di saat kau senang saja dan tidak ikut andil dalam kesusahanmu?”
“Aku tidak tahu harus memulai dari mana, Bilqis. Aku
bingung, rasanya ingin sekali aku bunuh diri saja agar aku akhiri semua
penderitaanku ini.”
“Apakah bunuh diri adalah suatu jalan? Kau percaya tidak,
apa hukuman bagi orang yang tidak sabar dengan ujian dan lebih memilih untukvmengakhiri hidupnya?” bilqis menatap penuh iba pada Tiara. Memang dia belum lama kenal dengan Tiara, baru beberapa bulan saja. Tapi, selama ia tahu gadis
ini dan kenal sendiri, Tiara adalah sosok gadis periang.
“Sejak ayahku pergi
meninggal kami, ibuku jadi sakit-sakitan dan juga emosinya labil. Dia tidak jarang melampiaskan emosinya pada aku dan juga kedua adikku. Tapi, yang paling parah ke aku.”
Bilqis mengelus punggung Tiara. Dengan sentuhannya, ia
berharap bisa memberinya kekuatan dari dalam.
“Kau tahu? Selama ini aku bekerja banting tulang menjadi pembantu setengah hari uang lari ke mana? Ke ibuku. Dia gunakan uangku untuk membeli miras. Dia bilang, dengan minum, maka suasana hatinya akan menjadi tenang. Tapi, saat efek miras itu sudah hilang, emosinya juga akan kembali seperti
semula, bahkan lebih buruk.
Aku capek selama ini harus hidup begini, tiada yang bisa
mengerti dan bisa memberiku kekuatan. Pria yang paling aku sayangi dan aku
percaya pun kini juga hilang.”
“Mungkin Tuhan punya rencana lain. Kau tahu, mamaku
sebenarnya adalah seorang janda, Tiara. Dengan papaku Al, dia sudah bercerai. Sebenarnya dia bukan papa kandungku. Papa tiriku menikah dengan mamaku saat aku
berusia satu setengah tahuan. Karena aku tidak pernah tahu rupa ayah kandungku, jadi, setiapkali aku dengar kata ayah, ya dia yang ada dalam benakku.
Mamaku bercerai dengan papa kandungku saat aku masih ada dalam kandungan, kasusnya
juga mungkin lebih parah dari yang dialami oleh ibu kamu. Ayah kandungku menghamili anak orang dan pihak keluarga perempuan minta pertanggung jawaban. Tapi,
wanita itu minta ayah kandungku untuk ninggalin mamaku.”
“Benarkah, Bilqis? Tapi, mamamu hebat. Dia tidak tempramen
Bilqis diam. Untuk mengatakan lagi yang lebih jujur dia
malu. Sebab, di sini yang bersalah bukanlah pihak kedua yang ini menjadi istri papa tirnya saat ini. Melainklan mamanya sendiri.
Bilqis mengangguk pelan untuk meyakinkan Tiara, dia ingin
Tiara bisa menjadi lebih kuat lagi menghadapi kehiduapn yang kejam, dan kadang tak adil ini.
“Memang kamu punya pacar lagi setelah putus dari Ricy teman
kaka Axel?” tanya Bilqis penasaran.
Tiara diam. Tapi, ia memberi jawaban dengan mengelengkan
kepalanya.
“Lalu, siapa pria yang kau cintai?”
“Om Arnold. Dia satu-satunya orang yang paling mengerti aku
selama ini. Tapi, hubunganku diketahui oleh istrinya, karena dia takut istrinya
marah dan minta cerai, ia lebih mempertahankan istrinya dari pada aku.”
Tiba-tiba dalam pikiran Bilqis terlintas seorang pria yang menjemput Tiara beberapa bulan lau. Pria itu juga kelihatannya seusia dengan
papa tirinya.
“memang apa hubungan kau dengannya sampai istrinya marah dan
mengancam untuk bercerai? Jangan bilang kau berpacaran dengan suami orang.”
“ya, aku pacarana sama om Arnold. Aku mencintainya, dan aku
sakit hati karena dia lebih memilih tetap tinggal dengan istri mandulnya dari pada aku," cetus Tiara sambil menangis terisak.
Bilqis tertawa heran. Ia melihat Tiara dengan tatapan tak
percaya. Ia menganggap apa yang Tiara katakana hanya sebuah lelucon saja.
“Kau bercanda. Jangan ngeprank aku,” ucap Bilqis masih tertawa.
“Lalu, kalau aku serius apakah kau akan jijik denganku.
Dengan gadis kecil yang mencintai pria yang bahkan pantas jadi papanya
sendiri.”
“Tidak. Setiap orang memilki kisah hidupnya sendiri. Memang
apa yang kau sukai dari pria dewasa?”
“Dia lebih pengertian dan tidak egois. Dan selain menjadi
pasangan yang bisa memanjakanku, dari pria dewasa aku juga bisa merasakan figure ayah yang membuatku merasa nyaman.”
Bilqis hanya tersenyum. Dia tidak bisa menghakimi sahabatnya
sekalipun apa yang dilakukan adalah salah. Tapi, jika di dukung, sama halnya
dengan ia memasukan sahabatnya sendiri ke dalam jurang.
“Kau semoga kelak bisa menemukan sosok om Arnold pada pria
lajang lain. Jangan istri orang.”
“Kenapa? Apaah menyakitkan dan anak menjadi koban dari
masalah mereka? Ibuku adalah korbannya.”
“Kau mengutuk wanita yang merebut ayahmu, bukan? Lantas,
apakah kau ingin dikutuk oleh para wanita lain dan anak yang telah kau ambil ayahnya? Kau belum tahu, seperti apa balasan yang ayah dan wanita perusak dapatkan, so apakah kau ingin sial juga?”
“Maafkan aku, Bilqis. Tapi, om Arnold adalah cinta
pertamaku.”
“Tapi, bagaimana bisa kau pacarana dengan pria lain dan
bersikap ganjen pada pria lain?” Sepertinya Bilqis masih belum terima saja saat Tiara memaksa minta nomor hp Axel dan berusaha menggodanya.
“Oh, itu? di medsos, aku ingin menunjukkan kalau aku
pacaran dengan anak remaja sebaya denganku. Jelas aku tidak maulah orang lain tau kalau Iki ini mejadi simpanan om-om. Maaf, jika keganjenanku pada kak Axel membuatmu tidak nyaman.”
“Aku tidak mempermasalahkan itu. kukira kau juga sama seperti kami. Ternyata kamu aneh,” ucap Bilqis sambil tertawa.
“Hahaha. Ya tidak aneh. Tapi, aku ya harus menutupi identitasku sebagai pecinta om-om juga, donk!”
“Baiklah, terserah kau saja. Semoga, kau mendapati kehidupan
yang lebih baik dari kehidupanmu saat ini. Lalu, ibumu marah tadi kenapa?”
“Biasa, aku tidak bisa memberinya banyak uang lagi seperti
saat aku masih bersama om Arnold dulu. Menjadi pembantu harian, satu pintu hanya tigaratus ribu perminggu. Tapi, aku bisa melakukannya sampai tiga pintu. Uang Sembilan ratu perminggu akan sangat kurang untuk makan kami jika ibuku
masih menyukai miras,” keluh Tiara.
“Aku salut padamu, kau hebat.” Bilqis memeluk Tiara. Dan
mereka pun sudah bisa kembali normal, meskipun, Tiara tak seceria dulu. Setidaknya, gadis malang itu sudah mau diajak untuk berbagi dan sejenak meletakkan masalahnya. Ia juga sudah mau makan dengan Bilqis.
***
Karena Al juga ada jadwal pergi ke Bandung kurang lebih tiga
hari, malam ini Queen juga mempersiapkan baju untuk suaminya juga.
“Sayang, kamu tiga hari kerja di sana, ya?” tanya Queen pada
Al yang tengah sibuk dengan leptopnya.
“Tidak, aku di sana Cuma satu hari kerja. Tidak usah
menyiapkan baju formal, cukup baju santai saja.”
__ADS_1
Queen memandang suaminya yang sedikitpun tidak mengalihkan
pandangannya pada leptpnya sambil tersenyum.
Ia merasa sangat dicintai saja oleh pria itu. alasan
pekerjaan ke Bandung. Padahal yang paling dia utamakan adalah menjaga dirinya, dan mengawasinya. Al memang tidak lagi seposesif dulu. Tapi, sikapnya yang tidak berlebihan ini membuat Queen merasa di sayangi dan semakin mencintainyabsaja.
Setelah semuanya selesai, barulah Queen menghampiri Al dan
memeluknya dari belakang. Dikalungkannya legannya pada leher pria itu dengan
manja.
“Kerjaan kamu banyak banget, ya? Aku dah ngantuk, nih.”
Al menyentuh salah satu punggung tangan Queen yang ada di
dadanya, lalu mendongak ke belakang dan mengecup pipi wanita itu.
“Tunggu sebentar lagi, ya Sayang.”
“AKu tidak mau menunggu,” ucap Queen dengan nada datar.
“Baiklah.” Al meraih ponselnya. Ia menghubungi Candra dan
minta agar menyelesaikan sesuatu yang baru saja ia kirimkan melalui email.
“Ndra. Itu pr kamu malam ini harus selesai. Itu bahan untuk persentasi kamu juga besok. Ya sudah. Bayiku sedang rewel” ucap Al begitu panggilannya diangkat.
“Baik, Pak. Akan saya kerjakan segera,” sahut pria itu dari
balik telefon.
Al pun mematikan panggilan dan menarik lengan Queen hingga
wanita itu duduk dalam pangkuannya.
“Kamu besok ke rsj Cimahi, bukan?” tanya Al. bahkan pria itu
sudah tahu lebih awal sebelum Queen memberi tahukan padanya.
“bagaimana kau tahu?”
“Aku tanya pada Diaz.”
Queen tertawa dan Al pun menggendongnya, membawanya
istirahat lebih awal dari biasanya.
Keesokan paginya, Queen tidak menuju rumah sakit terlebih dahulu.
Karena dia sudah tahu, ke mana tujuannya. Jadi, dia berangkat sama Al.
“Rute kita gimana ini nanti?” Queen memandang Al yang tengah
memasukkan koper miliknya dan juga milik suaminya ke dalam bagasi mobil.
“Aku antar kamu saja dulu. Aku ketemu sama cliennya siang
kok. Sekitar jam setengah dua.”
“Baiklah. Jadi, kamu mau jadi body guardku hari ini?”
“Iya, Nyonya.”
Queen tertawa terbahak. Saat perjalanan, Gea yang juga ikut
serta bersama Queen ke Bandung, melakukan video call.
“Siapa? Tanya Al sambil melirik ke layar sentuh istrinya.
“Gea. Aku angkat dulu, ya?”
“Halo, nyonya Al Fatih,” ucap Gea begitu wajah ibu dua anak
itu terpapang di layar ponsel Queen.
Queen hanya tertawa sambil menutup wajahnya dengan tangan
kiri, dan mengarahkan ponselnya ke samping, pada Al yang tengah mengemudi.
Al hanya tersenyum saja dan ikut menggooda Gea. “Di mana
suamimu? Kenapa dia tidak ikut denganmu, masa kerja aja terus?”
“O, iya donk. Demi sebongkah berlian dan sesuap nasi.”
“Kalau bininya ditikung orang bisa di tuker berlian, apa? Hahaha.”
“Hey, suamiku tak segila kamu, ya?” keduanya pun sama-sama
tertawa.
Bahkan terlihat sekali, beberapa dokter di belakang dan di
sampingnya Gea nampak penasaran dengan suami Queen.
“Dr.Queen kan cantik, wajar suaminya takut ketikung. Apa suaminya
jelek?” tanya salah satu dokter yang ada di dalam mobil itu.
Ada yang jawab gak tau, ada yang jawab bisa jadi, tapi, dan ada pula yang bilang ganteng banget.
Setelah Gea dan Queen menutup panggilan, mereka yang
penasaran langsung nanya.
“Ge, seperti apa sih suaminya Queen? Katanya dia pengusaha,
ya? Apakah dia om-om tua dan botak?’ Semua yang ada di dalam mobil pun
terkikik. Sebab, selama ini Queen tidak pernah meng-upload foto suaminya di ig. Paling ya foto dia, itu pun jarang dan anaknya. Clarisa dan Berlyn. Yang jelas
bukan saat bersamaan. Yang tidak tahu, ya foto anaknya di pose yang berbeda
saja. Padahal, kembar namun terpisah.
“Nanti kalau beruntung kita bisa ketemu langsung sama
suaminya di depan rumah sakit jiwa Cimahi,” jawab Gea.
“Kamu gak ada fotonya, kah? Kan kamu akrab banget sama mereka
masa gak ada fotonya suami dr.Quen?”
“Ya, aku gak pernah memfotonya, apalagi menyimpannya
diam-diam. Kawatir suamiku ilfeel dong.”
Semuanya pun terbahak.
Ternya Queen dan Al datang lebih dulu dari teman-temannya. Al
pun memutuskan untuk menemani di taman rumah sakit tersebut sambil menunggu rekan-rekannya tiba.
“Bagus ya, kalau rumah sakit jiwa itu, tempatnya luas dan asri. Bawaannya bikin tenang saja,” ucap Al setelah mengamati lingkungan
sekitar.
Qeueen melihat suaminya sambil tertawa tertahan. “kamu mau
di rawat di sini?”
“Ya, tidak, kalau
saja semua rumah sakit umum juga kek gini kan enak. Pasien cepat sembuh,
halaman luas, taman dan pohon-pohon rindang banyak tumbuh di sini.”
“Ya mahal, sayang. Ini saja sudah tanah berapa hektar saja?”
“Hey, kalian datang lebih awal, ya?” sapa Gea begitu turun dari mobil.
Al berbisik pada Queen. Karena mereka sudah datang, aku
pergi dulu mengurus urusanku, oke? Nanti malam kau tidak perlu tidur di sini. Aku jemput kamu, kita buka kamar hotel saja sambil jalan-jalan.”
Queen hanya mengangguk tanda ia menyetujui saran dari Al.
Mereka berlima pun menghampiri Queen dan sempat berkenalan
dengan Al.
“Kalian pasangan yang serasi, ya? Semoga hubungannya
langgeng.”
“Suaminya masih muda, ya? Ganteng lagi.”
Berbagai pujian pada Al terlontar dari para dokter yang usianya
seumuran dengan mama Clara. Sementara yang masih seusia Queen dan Gea hanya
diam saja, walau sesekali mencuri pandang.
Setelah Al pergi, mereka langsung masuk ke tempat pertemuan
untuk di jamu, kebetulan ini juga jam makan siang. Beberapa pelayan rumah
sakit, lalu Lalang menyiapkan makanan, buah dan beberapa sayur serta lauk untuk Queen, gea dan beberap dokter dari beberapa rumah sakit besar dari Jakarta.
Tapi, saat melihat salah satu pelayan, Queen merasa tidak
asing dengan wanita itu. ‘Siapa, ya? Sepertinya aku kenal?’ batin Queen sambil terus mengingat.
Saat makan siang pun Queen juga tidak bisa fokus karena
pikirannya tertuju pada wanita yang mengenakan setelan rok plisket panjang
warna coklat susu dan kaus pendek warna putih. Rambutnya panjang diikat ekor kuda.
Setelah makan, Queen dan gea berkeliling bangsal yang setiap
bangsalnya terdiri dari delapan pasien. Tenpatnya juga luas. Masing-masing bangsal
memilikki ruang tamu untuk keluarga pasien yang berkunjung. Di bagian kiri dan
kanan ruang tamu ada pintu, di mana bagian kiri adalah kamar para pasien dan dibsebelah kanan adalah kamar untuk dokter atau suster yang bertugas di bangsal tersebut. Saat jaga malam tentunya.
Di sini Queen mendapatkan banyak pelajaran baru yang membuat
dirinya jauh lebih bersukur. Karena dalam satu bangsal saja dia menjumpai
delapan orang yang jiwanya sakit karena berbagai tekanan masalah hidup. Bukan dari gen atau bawaan.
Ada yang tidak kuat hidup miskin karena sering dibuly dan
dipermalukan. Inilah salah satu dampak buruk dari bullying. Keliatannya biasa
saja, mengatai orang. Tapi, di balik semua itu, tanpa kita tahu perasaan orang yang di bully itu seperti apa? karena, mental orang itu beda dan tak sama.
Ada juga yang suaminya suka selingkuh dan dia melihat dengan
mata kepalanya sendiri suaminya meniduri
pembantunya. Dan pasien inilah yang berhasil menarik perhatian Queen. Dia ingin mengobrol serta memberi arahan pada dia lebih dulu.
Walaupun dia bukanlah psikoloq, berusaha memberi jalan
terbaik, membuka pikiran dan melapangkan hati pasti bisa, kan? Walaupun mungkin
hasilnya tak semaximal psikolog sebenarnya. Karena, selama ini dia juga suka baca buku yang berkaitan dengan psikologi.
"ibu namanya siapa?" tanya Queen dengan lembut dan ramah kepada pasien wanita yang kira-kira usianya sebaya dengan dirinya. namun, ia telihat lebih tua karena kusam dan tidak terawat.
Dengan tatapan kosong, wanita itu menjawab namanya Rani.
Mendapat respon dari pasien tersebut Queen memulai obrolan obrolan ringan berawal dari berapa bulan dia dirawat di sini dan kenapa dari situlah Rani mulai curhat pada Queen tentang kehidupannya yang cukup menyakitkan.
"Saya tidak kuat dengan kehidupan ini hidup itu sangat tidak adil." ucapnya.
Wanita itu mulai bercerita, sementara Queen memperhatikan sambil mengelus tangan wanita itu yang berada di atas meja.
"Memangnya kenapa, Bu? Coba cerita sama saya siapa tahu kita sama-sama bisa menemukan solusinya yang terbaik buat ibu dan juga suami ibu Apakah ibu sudah ada anak?"
Wanita itu menggeleng
"Status dengan suami sekarang gimana ibu bercerai atau belum?" tanya Queen lirih dengan tujuan agar tidak didengar oleh pasien lain sekalipun semua pasien di sini tidak ada yang waras
"Saya masih sayang sama dia tapi dia sepertinya tidak lagi menyayangi saya. Apalagi saya sudah gila seperti ini. Jelas di akan jijik dan malukarena memiliki istri yang pernah masuk ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
Queen menghela napas. mungkin penjelasannya akan panjang.