
Pukul duabelas tepat, Jevin sudah menghampiri Nayla di
sebuah café depan kantornya. Tanpa menunggu lama, mereka pun pergi meninggalkan
tempat itu menuju ke tempat tujuan awalnya.
“Kenapa kamu tiba-tiba saja menghampiri suamimu? Bukannya
lagi ada masalah?” tanya Jevin saat mereka sudah tiba di kamar hotel yang sudah dibooking sebelumnya.
“Iya, Jev, sebenarnya begitu, tapi aku merasa tadi itu
adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami. Tapi ternyata… Hemb, aku
tidak tahu, apakah aku harus bertahan atau menyerah saja. Bertahan itu sakit dengan sifat mas Al yang berubah begini. Tapi, untuk menyerah juga aku tidak bisa."
“Kenapa sih? Sini cerita sama aku.” Jevin mengangkat dagu
wanita yang ada di depannya, agar memandang ke arahnya.
“tadi pagi aku berantem sama Queen di dapur, tapi saat aku
bertanya kenapa aku tak dihargai dan tak dianggap meskipun aku sudah berusaha menjadi
yang terbaik untuk semuanya, padanya, tiba-tiba saja Bilqis muncul. Kau tahu apa yang Queen katakana dan
didengar oleh Bilqis sebagai jawaban itu?” ucap Nayla dengan tatapan yang menyedihkan memandang ke
dalam mata pria yang ada di depannya.
“Apa, Sayang?”
“Kata dia, karena aku hanyalah gembel dengan satu anak yang
diselamatkan kakaknya, aku tidak lebih berarti dari kucing liar dipinggir jalan
yang dibawa pulang. Jadi aku harus tahu diri, saat itulah Bilqis datang dan
mendengar, rahasia yang kami jaga selama bertahun-tahun akhirnya bocah itu
tahu. Tapi, kenapa pas diwaktu yang tidak tepat, Jev?” Nayla pun memangis di
pelukan pria itu.
“Sudah, kamu tenang, ya? Semua kan berlalu, memang ini pahit
bagi Biqlis, pria yang ia anggap papa kandungnya selama ini adalah papa
tirinya. Dan lagi dia mengetahui dengan cara seperti ini. Lalu , apakah Al juga
tahu akan hal ini?”
“Iya, dia tahu, saat Biqis menangis dan membentakku untuk
berkata benar atau tidak mas Al muncul, Bilqis bertanya padanya. Dan kau tahu
Jev gimana reaksi mas Al? Dia sudah 100% berubah, dengan mudah sekali ia
berkata benar, dan cukup satu kata itu saja, harusnya jika memang dia peduli,
kan bisa bertkata, Walau begitu kenyataannya kan papa tetap sayang kamu, kan?”
“Oh, pasti karena ada Queen di sana, ya? Al jadi tidak
peduli.”
“Ya, memang mas Al terlalu memanjakan adiknya itu, ia tidak
sadar jika sudah menikah harusnya gimana, tetap saja Queen yang jadi prioritas
utamanya bukan aku, Jev.”
“Sudahlah, kau jangan sedih lagi, ya? Sekarang kan sudah ada
aku. Kamu gak perlu sedih lagi, apakah kamu siap bercerai dengan Al dan
menikah denganku?” Jevin menggenggam erat kedua tangan Nayla dan menatap
wajahnya dengan penuh harap.
“Jujur Jev, dari dalam hati aku tuh masih cinta sama mas Al.
Tapi, di sisi lain, aku pun juga takut kehilangan kamu.”
“Ya sudah, kamu tenanglah, jangan nangis lagi, ya? Untuk
urusan Queen serahkan saja padaku, dia harus membayar karena telah mengataimu
tak lebih berharga dari kucing liar, dan karena dia juga Bilqis jadi tahu
rahasia kalian yang selama ini telah kalian tutupi.’’
Nayla tersenyum dalam pelukan Jevin. Ia merasa puas, karena
walau bagaimana pun Jevin masih saja mau bertahan dengannya, pria itu tidak
mengutamakan egonya, ia mau menuruti apapun meskipun ia tidak bercerai dengan
Al, tapi Jevin juga tidak keberatan
menjadi selingkuhannya. Hah... Benar-benar tu orang, bucin kelewatan.
“Udah, gak sedih lagi?” Jevin mendorong tubuh wanita itu
dari memelukannya dan melihat sedikit senyuman di bibirnya.
Wanita itu tidak menjawab, hanya mengelengkan kepalanya
sambil menghapus air mata di pipinya.
Jevin pun meraih kedua pundak wanita itu dan menariknya ke
dalam pelukaannya dan membawanya merebah bersama.
🍀🍀🍀
Al membelokan mobilnya ke sebuah restoran saat melihat jam
tangan di pergelangannya masih menujukan kalau ini baru jam istirahat. Ia malas
makan sebenarnya, tapi kalau pun ia kembali ke kantor juga apa yang ingin ia
lakukan? Ia hanya memainkan makanannya di sendok, di letakan kembali dan diaduk-aduk saja sampai tak keruan. Al malas karena suasana hatinya yang sedang dalam
mood buruk, jika sudah seperti ini ia sebenarnya teringat dengan Martin, tapi
ini masih jam kerja, dan nanti jam dua juga masih ada rapat.
Al meninggalkan tempat itu dan terpaksa kembali ke kantor,
tepat jam satu siang, ia meminta sekertarisnya agar mengumumkan pada peserta rapat untuk
berkumpul segera, kebetulan hanya anggota satu perusahaan saja. Sampai jam satu
lewat lima belas menit Jevin juga belum masuk ke ruang perkumpulan. Dengan nada
tegas, Al meminta Juna untuk menghubungi teman satu ruangannya itu.
“Jun, telfon Jevin, suruh kembali dalam waktu sepuluh menit
atau jika tidak, tidak usah kembali saja seterusnya!”
“Baik, Pak,” jawab Juna dengan formal, lalu mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya.
Belum juga ia menyalakan layar benda pipih itu, pintu
ruangan tersebut di ketuk dari luar. Lalu berdiri seorang pria dengan
penampilan yang sudah rapi. Meskipun ia terlihat tenang, tapi kegugupannya
tidak dapat ia sembunyikan dari gesturnya yang Nampak salah tingkah karena
sudah hampir dua puluh menit ia terlambat.
“Jev, saya sering dengar laporan kamu sering telat bekerja
setelah jam istirahat, kau boleh saja menemui pacarmu ke tempat yang jauh
dengan kantor, tapi yang disiplin! Ini peringatan pertama dan terakhir.”
“Baik, Pak. Maafkan saya!” jawab Jevin sambil menunduk.
Rapat pun di muali, beruntung meskipun Jevin terlambat masuk ke ruang perkumpulan para staf-staf
bagian tertentu, materi yang akan ia persentasikan sudah ia selesaikan terlebih
dahaulu. Jadi, ia masih ada di zona aman. Hnaya saja kali ini ia harus jauh
lebih berhati-hati, karena Al sudah mengatakan sendiri ini adalah peringatan
pertama dan terkhinya. Memang semenjak dia ada main belakang dengan istri si
bos juga lebih banyak terlambatnya saat kembali. Mau hari-hari biasa juga tidak
__ADS_1
bisa jika Al ada di rumah, Kecuali kalau Al ada di luar kota. Namun, kesempatan
itu sudah jarang ada sekarang.
Semua staf yang ikut berkumpul di ruang rapat itu pun
sudah buyar, mereka kembali ke tempat
kerjanya masing-masing. Berbeda dengan Al dan juga Juna, mereka masih ada di
dalam ruangan itu. Al memainkan bulpoin dan mengetuk-ngetuknya ke atas meja. Kemudian pria itu menoleh ke arah temannya dan
berkata, “Kenapa kau masih di sini? Pergilah selesaikan tugasmu!”
“Tugas yang mana, Pak? Semua sudah terselesikan,” jawab Juna
berlagak formal, padahal tujuannya adalah tak lain untuk memanas-manasi Al,
atau jika tidak, ya pasti membulinya.
“Oh, sudah beres, ya sudah, karena mungkin selama seminggu
ini atau bahkan lebih Queen tidak akan bisa masuk, jadi kamu ambil alih saja semua
tugas-tugas dia, ok? Silahkan balik ke tempatmu, dan kukirim semua yang perlu
kau kerjakan lewat email.” Al tertawa lalu pergi meninggalkan Juna lebih dulu.
“hey, Kak, gak bisa gitu dong, katanya kau my brother, ini
Namanya penindasan loh,” ujar Juna sambil berlari mengejar Al yang nampak penuh
amarah.
“Kenapa kau mengikutiku? Pergilah sana!”
“Hahaha, bro jangan gitu, mumpung gak ada orang nih.”
“Mau apa sih? Pergi sana!”
“Oh, iya, katanya kamu yang urus keperluan Queen buat tunangannya, uda sejauh mana? Atau kamu
gak kuat dan kau biarkan saja semuanya jadi berantakan, enak kan nanti keluarga
dr.Diaz kecewaa dan tak direstui kau bisa embat tuh adek. hehehe”
“Kau diamlah, atau aku jahit mulutmu!”
“Aku yang siap jahit hatimu saat terluka, atau kupanggilkan
dr.Queen saja? Hehehe.’
Tiba di ruangannya, Al tampak membuka laci yang ada di bawah
mejanya, tangannya terus mengorek dan mengaduk-aduk seperti tengah mencari
sesuatu, sejurus kemudian ia menemukan benda itu dan meraih kater yang ada di
atas meja. Mengabaikan Juna yang terus berbicara.
Tak lama kemudian Al menghampiri Juna dengan gerakan secepat
kilat pria itu memasanglakban hitam tepat pada mulut Juna sehingga pria itu tak
dapat berbicara lagi.
“Emmbbbb… Emmbb…” Hanya itu yang keluar dari mulut Juna,
sedangkan kedua tangannya juga sudah dipegang erat oleh al ke belakang dan
ia ikat dengana lakban yang sama.
“Sudah kuperingatkan bukan sebelumnya? Aku gak mau dengerin
kamu berbicara, tapi kamu terus saja nyerocos ngalahin emak-emak berdaster yang lagi PMS.”
Kebetulan pintu tidak tertutup, seorang staf yang akan
menemui Al pun jadi melihat adegan yang terkesan kekanak-kanakan itu, diam-diam wanita itu
tertawa tertahan seorang diri ketika melihat betapa lucunya bosnya yang dingin
ini.
“Ehem, permisi, Pak. Selamat siang,” ucap gadis itu di depan
pintu dan di tangannya ia memeluk map berbwarna merah.
Seketika itu juga, Al melepaskan Juna dan memintanya segera
“Hemb… heembb…” Juna mendongakkan wajahnya di depan Al dan
menunjukan kedua tangannya dililit dengan lakban di belakang tubuhnya yang
mengisyaratkan bagaimana dengan tangan dan mulutku ini? Tapi Al sudah tidak mau
tahu, sekalipun ia mengerti Juna akan selalu proposional dalam segala situasi,
jika ada staf lain ia tidak akan menujukan kedekatannya dengan berlebih, Cuma
keakraban mereka berdua itu di rahasiakan. Meskipun sudah menjadi rahasia umum seluruh staf kantor.
“Pergilah, atau kulempar kau keluar jendela!” seru Al.
Akhirnya dengan tampang dimelas-melasin Juna pun keluar ruangan. Dalam hati Al juga tertawa, kalaupun bocah itu ngedumel, juga ga bakal bisa keluar kata-katanya. Hanya dia dan tuhan saja yang tahu.
Sedangkan wanita itu terus saja terkikik dan berfikir betapa
menyenangkan sekali menjadi orang terdekat pak Al, dia ternyata juga bisa
tertawa dan juga humoris.
“Ada perlu apa?”
Gadis itu nampak terkejut, baru beberapa detik saja ekspresi
wajah pria itu juga sudah berubah menjadi serius seperti biasanya, padahal,
sebelumnya ia berfikir untuk mengajaknya ngonrol sedikit mengenai hal pribadi.
Lagi pula,siapa yang tidak tertarik dengan sosok seperti Al? Sekalipun jika seandainya dia
bukan putra CEO yang menggantikan posisi papanya untuk sementara waktu, ia
memiliki paras yang begitu menawan, siapapun juga akan jatuh padanya,
sejatuh-jatuhnya.
“E… Ini, Pak, ada beberapa berkas yang perlu anda ketahui,
eh yang perlu tandatangani maksutnya,” ucap gadis itu begitu ia sadar kalau ia
salah ngomong.
“Letakan saja di situ!”
Dengan tangan sedikit gemetar Gadis itu pun meletakan
berkas-berkas tersebut di atas meja Al, sekilas ia sempatkan melirik ke arah
meja yang berada di sudut ruangan ini, tempat di mana Queen biasanya bekerja.
Lani gadis seusia Queen itu berfikir jika seandainya bisa menjadi Queen,
bekerja satu ruangan dengan bos pasti enak sekali. Tapi dia malah keluar dan memilih bekerja dengan
para staf. Lani pun tak jarang melihat mereka berdua juga bermesraan ketika masih dalam satu ruangan. Dan semua
staf kantor juga tahu, hanya dengan Queen lah bosnya bisa bersikap hangat.
“Lihat apa kamu? Keluar!”
“Ba.. baik, Pak.” Dengan buru-buru gadis itu pun keluar dari
ruangan Al dan mulai bekerja, pikiran yang semula ingin berbasa-basi dengan si
bos dengan harapan bisa dekat bahkan lebih, mendadak musnah, memang Al tidak
seperti papanya, sekalipun ia anaknya dan wajahnya sama, tapi karakter sangat
bertolak belakang, karena sudah jadi rahasia umum kalau Vano dulu adalah play
boy. Dan saat sudah menikah pun juga sempat punya selingkuhan dan hampir menikah
pula dengan selingkuhannya.
🍀🍀🍀
Queen mengankat kedua tangannya ke atas dan mengeliat
meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku setelah beberapa jam bekerja.
Kebetulan dia hanya berada di bagian memeriksa dan memberi resep para pasien
__ADS_1
karena dia adalah dokter umum dan baru setahunan ini di lantik menjadi seorang
dokter.
Ia melihat ponselnya yang berkedip di bawah laci, bibir merah
itu nampak tersenyum manis, seolah sudah dapat menduga, siapa yang
menghubunginya. Dan benar saja ketika ia melihat nama pemanggil yang muncul,
senyumannya kian lebar saja.
“Halo, Diaz.”
“Uda kelar belum? Aku ada di depan rumah sakit nih,” jawab
pria itu dengan santai.
“Ya, ini aku baru saja beres, aku siap-siap dulu ya.” Queen
pun mematikan panggilanya, lalu segera bergegaskeluar rumah sakit.
Tiba di luar rumah sakit belum sampai keluar area, Queen
melihat Al menghampirinya. Pria itu berjalan mendekatinya dengan wajah datar,
dingin tanpa ekspresi, tak seperti biasanyasaja.
“Kau sudah pulang sayang?” di bibirnya mulai membentuk
senyuman tipis, tipis sekali sampai tak terlihat kalau dia tengah tersenyum.
Queen bingun mau menjawab apa, ia tahu kalau kakaknya hendak
menjemputnya. Tapi di belakang Al, Ia juga melihat Diaz telah berjalan
menghampirinya. Queen tidak tahu siapa yang lebih dulu tiba yang dia tahu, Diaz
sudah menelfonnya terlebih dahulu, memang sebelumnya mereka janjian sebelumnya.
Al menoleh ke belakang, melihat Diaz yang berjalan mendekat
dengan pakaian casual, kaus berwarna navy dan setelan celana jeans Panjang.
“Oh, sudah janjian?” ucap Al sambil tersenyum miring lalu
pergi meninggalkan mereka, berjalan menuju ke arah rah mobilnya.
Queen dan Diaz saling berpandangan, wajah mereka sama-sama
datar, saling meredam senyumnya lalu keduanya menolah kea rah Al yang berjalan
menjauhi mereka.
“Ya sudah, Ayok!” ajak Diaz, berusaha tidak mepedulikan Al
dan cuek atas sikapnya yang kian aneh saja.
Al tidak langsung pergi meninggalkan tempat itau, ia melihat
Diaz dan Queen terlebih dulu, kira-kira mereka mau ke mana. Tak lama kemudian
Al melihat Diaz dan Queen berjalan keluar pagar rumah sakit, mereka hendak menyebrang
menuju ke mobil milik pria itu yang terparkir di seberang jalan.
Al mengerutkan kedua alisnya, melihat ke arah spion tengah,
lalu begegas membuka pintu mobil, beruntung dia belum mengenakan sabuk
pengaman, sesampainya di luar ia berlari menghampiri Queen dan menariknya
sampai mereka bertiga sama-sama jatuh ke trotoar, karena posisi pada saat itu mereka
berdua tengah bergandengana tangan. Sedangkan dari arah utara sebuah mobil dari
kiri menabrak ke tiang listrik di mana tempat Queen dan Diaz tadi berdiri di depannya.
Posisi Al jatuh terlentang tertindih tubuh Queen, jadi ia
tidak bisa segera berdiri untuk mengejar mobil yang sepertinya memang sudah
merencanakan hal buruk terhadap adiknya.
Al meringis kesakitan, selain sakit karena tubuhnya
terbentur trotoar, luka jahitannya juga masih belum kering.
Diaz segera bangkit hendak mengejar mobil itu, tapi,
pengemudinya bisa dengan cepat lolos, terlebih keadaan sekitar juga kebetulan
sepi.
Queen langsung menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Al
begitu ia sadar kalau dirinya telah menimpa kakaknya, ia duduk bersimpuh di
sebelah kanan Al sambil menangis, karena merasa bersalh sama kakaknya. “kak,
kamu gak apa-apa, kan? Bagaimana dengan luka di punggungmu itu?’’
AL masih memejamkan matanya, menikmati rasa sakit saat
tubuhnya menghantam trotoar itu, untuk duduk saja, sepertinya juga masih belum
kuat. Perlahan pria itu membuka matanya memandang ke arah Queen yang duduk
menunduk sambil terisak. Mungkin juga dia kawatir dengan kondisi Al. Al
mengankat tangan kanannya perlahan lalau menyentuh pipi Queen sambil tersenyum
dan berkata, ‘’Kakak tidak apa-apa sayang. Bukannya kamu mau jalan sama
Diaz? Pergilah! Hati-hati, ya?”
Sementara Diaz yang hendak kembali untuk menolong Al ia
terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat Al menyentuh pipi Queen, kira-kira hanya
berjarak tiga meteran. Pria itu jadi merasa canggung, ia tidak merasa kalau Al
seperti itu benci dirinya dan inginkan Queen dengan Alex. Melainkan, justru di
mata Diaz sepertinya Al menyukai Queen sebagai kekasih, bukan lagi adik. Tapi,
sejauh ini Diaz tidak tahu kalau mereka sebenarnya bukanlah saudara sedarah,
jadi sah-sah saja dan tak ada masalah andai keduanya menikah.
“Kakak, kita ke rumah sakit, ya? Aku minta tolong satpam
panggilkan perawat, ya?” bujuk Queen sambil terisak.
“Kenapa aku harus ke rumah sakit, kamu sendiri kan seorang
dokter, dan obat-obatan di rumah juga komplit, kan? Aku masih bisa menunggumu
pulang nanti malam,” ucap Al masih tersenyum pada adiknya dan berusaha untuk
berdiri.
Dengan sigap Diaz membantu Al dan meminta Queen untuk
membukakan pintu mobil Al saja. Begitu Queen berada jauh dari mereka berdua, Al
menyeringai menatap Diaz dengan tatapan
merendahkan dan berkata, “Kau ini sebagai kekasihnya bisa apa? Jika bukan
karena aku, adikku sudah celaka. Bahkan kau juga pasti belum tentu bisa berdiri
seperti ini!”
Diaz hanya diam, walau bagaimana pun apa yang di katakana Al
juga tidak salah, sementara yang ada di dekat Queen adalah dirnya, sedangkan Al
justru malah sudah ada di dalam mobil.
“Queen, kamu rawat kak Al saja, ya? Aku juga tiba-tiba ada
keperluan di luar, kita bisa pergi lain kali saja.”
“Iya, Diaz. Terimakasih, ya? Aku minta maaf jika kali ini
gagal,” ucap Queen merasa bersalah. Tapi, meski bagaimana pun ia juga dalam
pilihan yang serba sulit bagaikan simalakama. Queen pun segera berputar arah
berjalan menuju ke tempat kemudi.
Kembali Al berkata pada Diaz, “hemb, tahu diri juga kamu,
__ADS_1
ya?"
Diaz balas menyeringai, lalu pergi meninggalkan mobil itu. Acara makan malam pun akhirnya gagal juga.