Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 198


__ADS_3

Pukul duabelas tepat, Jevin sudah menghampiri Nayla di


sebuah café depan kantornya. Tanpa menunggu lama, mereka pun pergi meninggalkan


tempat itu menuju ke tempat tujuan awalnya.


“Kenapa kamu tiba-tiba saja menghampiri suamimu? Bukannya


lagi ada masalah?” tanya Jevin saat mereka sudah tiba di kamar hotel yang sudah dibooking sebelumnya.


“Iya, Jev, sebenarnya begitu, tapi aku merasa tadi itu


adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami. Tapi ternyata… Hemb, aku


tidak tahu, apakah aku harus bertahan atau menyerah saja. Bertahan itu sakit dengan sifat mas Al yang berubah begini. Tapi, untuk menyerah juga aku tidak bisa."


“Kenapa sih? Sini cerita sama aku.” Jevin mengangkat dagu


wanita yang ada di depannya, agar memandang ke arahnya.


“tadi pagi aku berantem sama Queen di dapur, tapi saat aku


bertanya kenapa aku tak dihargai dan tak dianggap meskipun aku sudah berusaha menjadi


yang terbaik untuk semuanya, padanya, tiba-tiba saja Bilqis muncul. Kau tahu apa yang Queen katakana dan


didengar oleh Bilqis sebagai jawaban itu?” ucap Nayla dengan tatapan yang menyedihkan memandang ke


dalam mata pria yang ada di depannya.


“Apa, Sayang?”


“Kata dia, karena aku hanyalah gembel dengan satu anak yang


diselamatkan kakaknya, aku tidak lebih berarti dari kucing liar dipinggir jalan


yang dibawa pulang. Jadi aku harus tahu diri, saat itulah Bilqis datang dan


mendengar, rahasia yang kami jaga selama bertahun-tahun akhirnya bocah itu


tahu. Tapi, kenapa pas diwaktu yang tidak tepat, Jev?” Nayla pun memangis di


pelukan pria itu.


“Sudah, kamu tenang, ya? Semua kan berlalu, memang ini pahit


bagi Biqlis, pria yang ia anggap papa kandungnya selama ini adalah papa


tirinya. Dan lagi dia mengetahui dengan cara seperti ini. Lalu , apakah Al juga


tahu akan hal ini?”


“Iya, dia tahu, saat Biqis menangis dan membentakku untuk


berkata benar atau tidak mas Al muncul, Bilqis bertanya padanya. Dan kau tahu


Jev gimana reaksi mas Al? Dia sudah 100% berubah, dengan mudah sekali ia


berkata benar, dan cukup satu kata itu saja, harusnya jika memang dia peduli,


kan bisa bertkata, Walau begitu kenyataannya kan papa tetap sayang kamu, kan?”


“Oh, pasti karena ada Queen di sana, ya? Al jadi tidak


peduli.”


“Ya, memang mas Al terlalu memanjakan adiknya itu, ia tidak


sadar jika sudah menikah harusnya gimana, tetap saja Queen yang jadi prioritas


utamanya bukan aku, Jev.”


“Sudahlah, kau jangan sedih lagi, ya? Sekarang kan sudah ada


aku. Kamu gak perlu sedih lagi, apakah kamu siap bercerai dengan Al dan


menikah denganku?” Jevin menggenggam erat kedua tangan Nayla dan menatap


wajahnya dengan penuh harap.


“Jujur Jev, dari dalam hati aku tuh masih cinta sama mas Al.


Tapi, di sisi lain, aku pun juga takut kehilangan kamu.”


“Ya sudah, kamu tenanglah, jangan nangis lagi, ya? Untuk


urusan Queen serahkan saja padaku, dia harus membayar karena telah mengataimu


tak lebih berharga dari kucing liar, dan karena dia juga Bilqis jadi tahu


rahasia kalian yang selama ini telah kalian tutupi.’’


Nayla tersenyum dalam pelukan Jevin. Ia merasa puas, karena


walau bagaimana pun Jevin masih saja mau bertahan dengannya, pria itu tidak


mengutamakan egonya, ia mau menuruti apapun meskipun ia tidak bercerai dengan


Al, tapi  Jevin juga tidak keberatan


menjadi selingkuhannya. Hah... Benar-benar tu orang, bucin kelewatan.


“Udah, gak sedih lagi?” Jevin mendorong tubuh wanita itu


dari memelukannya dan melihat sedikit senyuman di bibirnya.


Wanita itu tidak menjawab, hanya mengelengkan kepalanya


sambil menghapus air mata di pipinya.


Jevin pun meraih kedua pundak wanita itu dan menariknya ke


dalam pelukaannya dan membawanya merebah bersama.


🍀🍀🍀


Al membelokan mobilnya ke sebuah restoran saat melihat jam


tangan di pergelangannya masih menujukan kalau ini baru jam istirahat. Ia malas


makan sebenarnya, tapi kalau pun ia kembali ke kantor juga apa yang ingin ia


lakukan? Ia hanya memainkan makanannya di sendok, di letakan kembali dan diaduk-aduk saja sampai tak keruan. Al malas karena suasana hatinya yang sedang dalam


mood buruk, jika sudah seperti ini ia sebenarnya teringat dengan Martin, tapi


ini masih jam kerja, dan nanti jam dua juga masih ada rapat.


Al meninggalkan tempat itu dan terpaksa kembali ke kantor,


tepat jam satu siang, ia meminta sekertarisnya agar mengumumkan pada peserta rapat untuk


berkumpul segera, kebetulan hanya anggota satu perusahaan saja. Sampai jam satu


lewat lima belas menit Jevin juga belum masuk ke ruang perkumpulan. Dengan nada


tegas, Al meminta Juna untuk menghubungi teman satu ruangannya itu.


“Jun, telfon Jevin, suruh kembali dalam waktu sepuluh menit


atau jika tidak, tidak usah kembali saja seterusnya!”


“Baik, Pak,” jawab Juna dengan formal,  lalu mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya.


Belum juga ia menyalakan layar benda pipih itu, pintu


ruangan tersebut di ketuk dari luar. Lalu berdiri seorang pria dengan


penampilan yang sudah rapi. Meskipun ia terlihat tenang, tapi kegugupannya


tidak dapat ia sembunyikan dari gesturnya yang Nampak salah tingkah karena


sudah hampir dua puluh menit ia terlambat.


“Jev, saya sering dengar laporan kamu sering telat bekerja


setelah jam istirahat, kau boleh saja menemui pacarmu ke tempat yang jauh


dengan kantor, tapi yang disiplin! Ini peringatan pertama dan terakhir.”


“Baik, Pak. Maafkan saya!” jawab Jevin sambil menunduk.


Rapat pun di muali, beruntung meskipun Jevin terlambat  masuk ke ruang perkumpulan para staf-staf


bagian tertentu, materi yang akan ia persentasikan sudah ia selesaikan terlebih


dahaulu. Jadi, ia masih ada di zona aman. Hnaya saja kali ini ia harus jauh


lebih berhati-hati, karena Al sudah mengatakan sendiri ini adalah peringatan


pertama dan terkhinya. Memang semenjak dia ada main belakang dengan istri si


bos juga lebih banyak terlambatnya saat kembali. Mau hari-hari biasa juga tidak

__ADS_1


bisa jika Al ada di rumah, Kecuali kalau Al ada di luar kota. Namun, kesempatan


itu sudah jarang ada sekarang.


Semua staf yang ikut berkumpul di ruang rapat itu pun


sudah  buyar, mereka kembali ke tempat


kerjanya masing-masing. Berbeda dengan Al dan juga Juna, mereka masih ada di


dalam ruangan itu. Al memainkan bulpoin dan mengetuk-ngetuknya ke atas meja.  Kemudian pria itu menoleh ke arah temannya dan


berkata, “Kenapa kau masih di sini? Pergilah selesaikan tugasmu!”


“Tugas yang mana, Pak? Semua sudah terselesikan,” jawab Juna


berlagak formal, padahal tujuannya adalah tak lain untuk memanas-manasi Al,


atau jika tidak, ya pasti membulinya.


“Oh, sudah beres, ya sudah, karena mungkin selama seminggu


ini atau bahkan lebih Queen tidak akan bisa masuk, jadi kamu ambil alih saja semua


tugas-tugas dia, ok? Silahkan balik ke tempatmu, dan kukirim semua yang perlu


kau kerjakan lewat email.” Al tertawa lalu pergi meninggalkan Juna lebih dulu.


“hey, Kak, gak bisa gitu dong, katanya kau my brother, ini


Namanya penindasan loh,” ujar Juna sambil berlari mengejar Al yang nampak penuh


amarah.


“Kenapa kau mengikutiku? Pergilah sana!”


“Hahaha, bro jangan gitu, mumpung  gak ada orang nih.”


“Mau apa sih? Pergi sana!”


“Oh, iya, katanya kamu  yang urus keperluan Queen buat tunangannya, uda sejauh mana? Atau kamu


gak kuat dan kau biarkan saja semuanya jadi berantakan, enak kan nanti keluarga


dr.Diaz kecewaa dan tak direstui kau bisa embat tuh adek. hehehe”


“Kau diamlah, atau aku jahit mulutmu!”


“Aku yang siap jahit hatimu saat terluka, atau kupanggilkan


dr.Queen saja? Hehehe.’


Tiba di ruangannya, Al tampak membuka laci yang ada di bawah


mejanya, tangannya terus mengorek dan mengaduk-aduk seperti tengah mencari


sesuatu, sejurus kemudian ia menemukan benda itu dan meraih kater yang ada di


atas meja. Mengabaikan Juna yang terus berbicara.


Tak lama kemudian Al menghampiri Juna dengan gerakan secepat


kilat pria itu memasanglakban hitam tepat pada mulut Juna sehingga pria itu tak


dapat berbicara lagi.


“Emmbbbb… Emmbb…” Hanya itu yang keluar dari mulut Juna,


sedangkan kedua tangannya juga sudah dipegang erat oleh al ke belakang dan


ia ikat dengana lakban yang sama.


“Sudah kuperingatkan bukan sebelumnya? Aku gak mau dengerin


kamu berbicara, tapi kamu terus saja nyerocos ngalahin emak-emak berdaster yang lagi PMS.”


Kebetulan pintu tidak tertutup, seorang staf yang akan


menemui Al pun jadi melihat adegan yang terkesan  kekanak-kanakan itu, diam-diam wanita itu


tertawa tertahan seorang diri ketika melihat betapa lucunya bosnya yang dingin


ini.


“Ehem, permisi, Pak. Selamat siang,” ucap gadis itu di depan


pintu dan di tangannya ia memeluk map berbwarna merah.


Seketika itu juga, Al melepaskan Juna dan memintanya segera


“Hemb… heembb…” Juna mendongakkan wajahnya di depan Al dan


menunjukan kedua tangannya dililit dengan lakban di belakang tubuhnya yang


mengisyaratkan bagaimana dengan tangan dan mulutku ini? Tapi Al sudah tidak mau


tahu, sekalipun ia mengerti Juna akan selalu proposional dalam segala situasi,


jika ada staf lain ia tidak akan menujukan kedekatannya dengan berlebih, Cuma


keakraban mereka berdua itu di rahasiakan. Meskipun sudah menjadi rahasia umum seluruh staf kantor.


“Pergilah, atau kulempar kau keluar jendela!” seru Al.


Akhirnya dengan tampang dimelas-melasin Juna pun keluar ruangan. Dalam hati Al juga tertawa, kalaupun bocah itu ngedumel, juga ga bakal bisa keluar kata-katanya. Hanya dia dan tuhan saja yang tahu.


Sedangkan wanita itu terus saja terkikik dan berfikir betapa


menyenangkan sekali menjadi orang terdekat pak Al, dia ternyata juga bisa


tertawa dan juga humoris.


“Ada perlu apa?”


Gadis itu nampak terkejut, baru beberapa detik saja ekspresi


wajah pria itu juga sudah berubah menjadi serius seperti biasanya, padahal,


sebelumnya ia berfikir untuk mengajaknya ngonrol sedikit mengenai hal pribadi.


Lagi pula,siapa yang tidak tertarik dengan sosok seperti Al? Sekalipun jika seandainya dia


bukan putra CEO yang menggantikan posisi papanya untuk sementara waktu, ia


memiliki paras yang begitu menawan, siapapun juga akan jatuh padanya,


sejatuh-jatuhnya.


“E… Ini, Pak, ada beberapa berkas yang perlu anda ketahui,


eh yang perlu tandatangani maksutnya,” ucap gadis itu begitu ia sadar kalau ia


salah ngomong.


“Letakan saja di situ!”


Dengan tangan sedikit gemetar Gadis itu pun meletakan


berkas-berkas tersebut di atas meja Al, sekilas ia sempatkan melirik ke arah


meja yang berada di sudut ruangan ini, tempat di mana Queen biasanya bekerja.


Lani gadis seusia Queen itu berfikir jika seandainya bisa menjadi Queen,


bekerja satu ruangan dengan bos pasti enak sekali. Tapi dia malah keluar dan memilih bekerja dengan


para staf. Lani pun tak jarang melihat mereka berdua juga bermesraan ketika masih dalam satu ruangan. Dan semua


staf kantor juga tahu, hanya dengan Queen lah  bosnya bisa bersikap hangat.


“Lihat apa kamu? Keluar!”


“Ba.. baik, Pak.” Dengan buru-buru gadis itu pun keluar dari


ruangan Al dan mulai bekerja, pikiran yang semula ingin berbasa-basi dengan si


bos dengan harapan bisa dekat bahkan lebih, mendadak musnah, memang Al tidak


seperti papanya, sekalipun ia anaknya dan wajahnya sama, tapi karakter sangat


bertolak belakang, karena sudah jadi rahasia umum kalau Vano dulu adalah play


boy. Dan saat sudah menikah pun juga sempat punya selingkuhan dan hampir menikah


pula dengan selingkuhannya.


 🍀🍀🍀


Queen mengankat kedua tangannya ke atas dan mengeliat


meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku setelah beberapa jam bekerja.


Kebetulan dia hanya berada di bagian memeriksa dan memberi resep para pasien

__ADS_1


karena dia adalah dokter umum dan baru setahunan ini di lantik menjadi seorang


dokter.


Ia melihat ponselnya yang berkedip di bawah laci, bibir merah


itu nampak tersenyum manis, seolah sudah dapat menduga, siapa yang


menghubunginya. Dan benar saja ketika ia melihat nama pemanggil yang muncul,


senyumannya kian lebar saja.


“Halo, Diaz.”


“Uda kelar belum? Aku ada di depan rumah sakit nih,” jawab


pria itu dengan santai.


“Ya, ini aku baru saja beres, aku siap-siap dulu ya.” Queen


pun mematikan panggilanya, lalu segera bergegaskeluar rumah sakit.


Tiba di luar rumah sakit belum sampai keluar area, Queen


melihat Al menghampirinya. Pria itu berjalan mendekatinya dengan wajah datar,


dingin tanpa ekspresi, tak seperti biasanyasaja.


“Kau sudah pulang sayang?” di bibirnya mulai membentuk


senyuman tipis, tipis sekali sampai tak terlihat kalau dia tengah tersenyum.


Queen bingun mau menjawab apa, ia tahu kalau kakaknya hendak


menjemputnya. Tapi di belakang Al, Ia juga melihat Diaz telah berjalan


menghampirinya. Queen tidak tahu siapa yang lebih dulu tiba yang dia tahu, Diaz


sudah menelfonnya terlebih dahulu, memang sebelumnya mereka janjian sebelumnya.


Al menoleh ke belakang, melihat Diaz yang berjalan mendekat


dengan pakaian casual, kaus berwarna navy dan setelan celana jeans Panjang.


“Oh, sudah janjian?” ucap Al sambil tersenyum miring lalu


pergi meninggalkan mereka, berjalan menuju ke arah rah mobilnya.


Queen dan Diaz saling berpandangan, wajah mereka sama-sama


datar, saling meredam senyumnya lalu keduanya menolah kea rah Al yang berjalan


menjauhi mereka.


“Ya sudah, Ayok!” ajak Diaz, berusaha tidak mepedulikan Al


dan cuek atas sikapnya yang kian aneh saja.


Al tidak langsung pergi meninggalkan tempat itau, ia melihat


Diaz dan Queen terlebih dulu, kira-kira mereka mau ke mana. Tak lama kemudian


Al melihat Diaz dan Queen berjalan keluar pagar rumah sakit, mereka hendak menyebrang


menuju ke mobil milik pria itu yang terparkir di seberang jalan.


Al mengerutkan kedua alisnya, melihat ke arah spion tengah,


lalu begegas membuka pintu mobil, beruntung dia belum mengenakan sabuk


pengaman, sesampainya di luar ia berlari menghampiri Queen dan menariknya


sampai mereka bertiga sama-sama jatuh ke trotoar, karena posisi pada saat itu mereka


berdua tengah bergandengana tangan. Sedangkan dari arah utara sebuah mobil dari


kiri menabrak ke tiang listrik di mana tempat Queen dan Diaz tadi berdiri di depannya.


Posisi Al jatuh terlentang tertindih tubuh Queen, jadi ia


tidak bisa segera berdiri untuk mengejar mobil yang sepertinya memang sudah


merencanakan hal buruk terhadap adiknya.


Al meringis kesakitan, selain sakit karena tubuhnya


terbentur trotoar, luka jahitannya juga  masih belum kering.


Diaz segera bangkit hendak mengejar mobil itu, tapi,


pengemudinya bisa dengan cepat lolos, terlebih keadaan sekitar juga kebetulan


sepi.


Queen langsung menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Al


begitu ia sadar kalau dirinya telah menimpa kakaknya, ia duduk bersimpuh di


sebelah kanan Al sambil menangis, karena merasa bersalh sama kakaknya. “kak,


kamu gak apa-apa, kan? Bagaimana dengan luka di punggungmu itu?’’


AL masih memejamkan matanya, menikmati rasa sakit saat


tubuhnya menghantam trotoar itu, untuk duduk saja, sepertinya juga masih belum


kuat. Perlahan pria itu membuka matanya memandang ke arah Queen yang duduk


menunduk sambil terisak. Mungkin juga dia kawatir dengan kondisi Al. Al


mengankat tangan kanannya perlahan lalau menyentuh pipi Queen sambil tersenyum


dan berkata, ‘’Kakak tidak apa-apa sayang. Bukannya kamu mau jalan sama


Diaz? Pergilah! Hati-hati, ya?”


Sementara Diaz yang hendak kembali untuk menolong Al ia


terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat Al menyentuh pipi Queen, kira-kira hanya


berjarak tiga meteran. Pria itu jadi merasa canggung, ia tidak merasa kalau Al


seperti itu benci dirinya dan inginkan Queen dengan Alex. Melainkan, justru di


mata Diaz sepertinya Al menyukai Queen sebagai kekasih, bukan lagi adik. Tapi,


sejauh ini Diaz tidak tahu kalau mereka sebenarnya bukanlah saudara sedarah,


jadi sah-sah saja dan tak ada masalah andai keduanya menikah.


“Kakak, kita ke rumah sakit, ya? Aku minta tolong satpam


panggilkan perawat, ya?” bujuk Queen sambil terisak.


“Kenapa aku harus ke rumah sakit, kamu sendiri kan seorang


dokter, dan obat-obatan di rumah juga komplit, kan? Aku masih bisa menunggumu


pulang nanti malam,” ucap Al masih tersenyum pada adiknya dan berusaha untuk


berdiri.


Dengan sigap Diaz membantu Al dan meminta Queen untuk


membukakan pintu mobil Al saja. Begitu Queen berada jauh dari mereka berdua, Al


menyeringai  menatap Diaz dengan tatapan


merendahkan dan berkata, “Kau ini sebagai kekasihnya bisa apa? Jika bukan


karena aku, adikku sudah celaka. Bahkan kau juga pasti belum tentu bisa berdiri


seperti ini!”


Diaz hanya diam, walau bagaimana pun apa yang di katakana Al


juga tidak salah, sementara yang ada di dekat Queen adalah dirnya, sedangkan Al


justru malah sudah ada di dalam mobil.


“Queen, kamu rawat kak Al saja, ya? Aku juga tiba-tiba ada


keperluan di luar, kita bisa pergi lain kali saja.”


“Iya, Diaz. Terimakasih, ya? Aku minta maaf jika kali ini


gagal,” ucap Queen merasa bersalah. Tapi, meski bagaimana pun ia juga dalam


pilihan yang serba sulit bagaikan simalakama. Queen pun segera berputar arah


berjalan menuju ke tempat kemudi.


Kembali Al berkata pada Diaz, “hemb, tahu diri juga kamu,

__ADS_1


ya?"


Diaz balas menyeringai, lalu pergi meninggalkan mobil itu. Acara makan malam pun akhirnya gagal juga.


__ADS_2