Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 15


__ADS_3

Itu putra saya dan istri, pak Erik." Mata Vano menatap mereka berdua yang tengah berjalan ke arah kursi.


"Al, kenalkan dia Pak Erik, sekertaris di kantor kita, dan dia Helena, putrinya," ucap Vano sambil tersenyum.


Al menanggapi hanya tersenyum simpul saja, mengangguk lalu duduk di dekat papanya.


"Helena sepertinya masih sangat muda sekali, ya? Masih sekolah?" tanya Clara ramah.


"A.. I iya, Tante. Kelas dua SMA," jawab Helena terbata-bata, mungkin shock kalau laki-laki yang dia sebar fotonya bersama Quen di pasar malam itu adalah putra pemilik perusahaan di mana papanya bekerja.


Bahkan dengan emot Quen menggandeng cowok kere. Dia merasa malu dan ingin rasanya berlari saja.


"Oh iya, ya? Seumuran sama adiknya Al, dongk. Anak perempuan kami, dua juga kelas dua SMA," jawab Clara.


"Adikkmu di mana, Sayang?" tanya Clara.


"Ngambek kayaknya, Ma." Al menahan tawa saat teringat ekspresi adiknya barusan.


"Lyli. Panggilkan nona Quen, ya?" ucap Vano saat melihat Lyli mengantar minuman untuk tamu.


"Baik, Tuan."


Seketika itu tanpa orang-orang sadari, wajah Helen semakin pucat, hatinya semakin tidak keruan. "Bagaimana bisa? Jangan-jangan, Quen itu..."


Tak lama kemudian turun seorang gadis berkulit putih dengan rambut berwana coklat tua menghampiri mereka.


"Quen, ini Pak Erik dan ini putrinya. Kalian ternyata seumuran, loh," ucap Clara bersemangat.


"Kami satu sekolahan kok, Ma. Pa, ingat kan pas jemput aku kita dah pernah ketemu dengan putri Pak Erik di depan minimarket itu," ucap Quen santai sambil duduk di sebelah Mamanya.


"Papa gak begitu perhatian, Sayangm mereka kan banyak. Maklum Pak Erik, faktoe U," ucap Vano sambil tertawa.


'Astaga... Iya, bahkan aku lupa kalau laki-laki ini adalah papanya Quen,' batin Helen.


Quen tersenyum penuh kemernangan melihat ekspresinkecut hatersnya. Ingin dia mempermalukan balik, tapi dia masih mempertimbangkannya.


"Ma, akunke atas dulu, ya?"


"Mau kemana? Ajak Helen bersamamu, kan kalian satu sekolahan dan saling kenal."


"Tidak perlu, Ma. Kami tidak akrab kan Helen? Dan sekarang kau klarifikasi kalau foto pria di pasar malam bukan pacarku yang katamu apalah itu, kere cuma bisa ajak ke pasar malam, modal tampang doang. Dia Al, kakakku."


Quen pun pergi berjalan meninggalkan mereka, sementara di bawah, suasanya kadi beku dan kaku, bukan hanya Helen, bahkan papanya juga sangat malu dengan perkataan Quen tadi.

__ADS_1


Memperlihatkan kalau sebagai orang  tua dia dan istrinya gagal menjadikan putrinya anak baik.


"Pak Vano, Bu Clara, saya minta maaf atas nama Helen putri saya..."


"Pak, kita di sini sebagai orang tua hanya orang tua, tidak tahu urusan anak-anak kita saat di luar. Biar masalah mereka  ya mereka yang menyelesaikan. Tak ada sangkut pautnya dengan bisnis atau pekerjaan, ia kan, Pa?" ucap Clara.


"Eh, i iya..." ucap Vano terbata-bata.karna seumur-umur Clara tak pernah memanggilnya dengan panggilan papa padanya, walau memanggil sayang. Tapi ya seringan manggil na langsung saja.


"Ya sudah Pak, Bu kami mohon diri dulu, dan buat Pak, Al. Semoga lekas pulih," ucap Pak Erik sambil memberikan Parsel berisi buah-buahan kepada Al.


****


Setelah kepergian kedua tamunya Al merenung di dalam kamarnya membenarkan ucapan adiknya, kalau memang art di rumahnya sering curi-curi pandang terhadapnya.


Bahkan saat memapah kemarin Al juga dapat merasakan kalai dia terjatuh karna dah gemetar karna nervous. Harusnya dia bisa, karena badannya 11 12 sama Quen adiknya.


"Ah, aku akan ke rumah Vico," gumam Al seorang diri.


Vico adalah salah satu orang kepercayaan Al di dunia ini selain orang yang sudah mati.


Tak peduli meski sudah sangat larut ia tetap Saja pergi. Meskipun nanti dia akan menyetir dengan satu tangan.


Jarak dari rumahnya ke ruma Vico harusnya cuma tiga puluh menit. Tapi, karena Al hanya mengemudi dengan 1 tangan, jadi hampir satu jam dia baru sampai.


"Hay, Al. Larut sekali kau kemari? Ayo masuk!" ujar seorang pira berpotongan cepak dengan kacamata putih yang membingkai wajahnya.


"Aku tiba-tiba ingat kamu," jawab Al sambil merebahkan badannya.


"Ada apa lagi, dengan tanganmu?" tanya Vico.


"Habis jatuh dari motor," jawab Al sambil mengelus tangan kirinya yang di gendong.


"Ada apa selarut ini datang? Ada masalah lagi dengan mama tirimu yang super sex..."


"Dian, kau!" Seru Al memotong perkataan Vico sambil melempar buku yang kebetulan ada di atas meja.


Sementara pria berkulit kuning dengan tinggi 180 cm an itu hanya terkekeh melihat perilaku Al.


"Lagian, Bro. Kalau emang suka. Ambil saja, kenapa sih? Hahaha"


"Ambil-ambil palamu," jawan Al dengan wajah masam.


Al terdian sesaat, kembali mengingat awal pertemuannya dengan Clara, saat dengan tulus ia menyelamatkannya di jalan raya hampir tertabrak dan prilaku menyebalkannya saat masih di bawah kendali Della.

__ADS_1


Tapi, sedikitpun wanita itu tidak pernah membencinya, malah dialah orang pertama dalam keluarganya gang berinisiatif mengadopsinya.


Clara orang pertama yang ada saat dia terjatuh, orang pertama yang ada untuk berbagi suka dan duka. Dialah orang yang pertama kali menangis saat ua terluka, orang pertama yang dia ingat saat pertama kali memijakan kaki di tanah Jepang, dan Clara lah orang pertama yang dikagumi Al, tapi tak dapat dia miliku selain ikatan ibu dan anak.


*Flas bac


"Selamat sayang, kau juara satu lagi," ucap seorang wanita berbadan tinggi langsing sambil memeluk Al, tak peduli berapa banyak pasang mata yang mempeehatikan mereka saat itu.


"Ma... Jangan peluk dan cium aku di sini, Al malu," ucap Al saat Vico dan teman-temannya melongo melihatnya dipeluk oleh wanita muda dan cantik.


Bahkan dari seberang terdengar kasak kusuk bisikan dari para gadis fans Al yang selalu ia abaikan mengira bahwa Clara adalah pacarnya.


"Kau lihat, Amrita? Pantas saja dia tidak pernah tertarik dengan gadis seperti kita, seleranya seperti itu, cantik modis bagaikan artis," ucap seoran wanita berseragam putih abu-abu dan mengenakan jaket pink.


"Sudahlah, ayo kita buyar,"


"Kamu mah pulang bareng Mama, Sayang?"


"Mama pulang dulu saja, Al masih ingin bersama teman-tenan," jawab Al.


"Baiklah, bye sayang!" ucap Clara mencium pipi kanan  Al lalu pergi.


"Itu cewek kamu, Bro?" ucap Vico yang tiba-tiba saja datang dari belakang dan merangkul pundak Al.


"Dia mamaku, Vic."


"Jangan bercanda, dia keliata. Banget kalau masih muda, paling satu dua tahun lebih tua dari kita, anak SMA mana?" tanya Vico dengan senyum-senyum nakal.


"Dia itu mama angkat aku, Vic. Saat amu berusia enam tahun dia mengadopsiku, kala itu dia berusia dua puluh tahun."


"Apa? Gila, keliatan kaya ABG, ya?" jawab Vico kagum.


*come back


"Al, melongo saja, nih minum!" Seru Vico mengembalikannya pada kenyataan.


"Malam ini aku mau nginep di sini," ucap Al.


"Boleh banget, brow. Ini rumah juga rumah kamu."


Al tersenyum kecut mendengar jawaban sahabatnya yang satu ini.


"Kita istirahat dulu saja, hampir sejam aku menyetir dengan satu tangan, capek rasanya," jawan Al dan langsung munuju salah satu kamar di ruman Vico.

__ADS_1


__ADS_2