Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 11


__ADS_3

Jeslyn meletakkan cucunya kembali


di box secara perlahan, kemudian ia beranjak mendekat ke arah Al dan juga


Queen. Sementara kakek Andrean ia duduk di sofa ruangan tersebut bersama Clara dan Vano.


“Kalian sudah memikirkan nama untuk dua putri kalian yang


cantik dan lucu itu, apa belum?" tanya Jeslyn perlahan. Lagaknya terlihat


canggung dan sangat kaku. Ia takut dibenci oleh putranya sendiri dan akan


timbul salah paham.


“Rencananya sih Berliana Putri Al Fatih, Mi. Tapi, karena ternyata ada dua, jadi ya harus memikirkan nama lagi untuk yang satunya.” Queen nampak berfikir keras memikirkan nama untuk nama putrinya yang lain.


“Berlyn nama yang bagus, Sayang,” puji Jeslyn.


“Apa, ya Mi? mau Intan kok nama itu pasaran banget.”


“Jerlyn bagus tidak?” usul Jeslyn.


“Bagus, Mi," jawab Queen.


“Amanya Jeslyn, Ibunya Queen, anaknya Belyn sama Jerlyn,


oma, dan opanya papanya gak keikut sama sekali,” timpal Al.


“Kamu jeles, Sayang? Kan nama belakang mereka pakai full nama


kamu,” jawab Queen sambil tertawa.


“Oke, yang satu Clarissa, bagai mana?” usul Jeslyn.  Sementara Clara dan Vano lebih banyak diam dan


sibuk dengan pikiran masing-masing.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sadar kalau Jeslyn


menatapnya dan mulai memberi isyarat. Clara dan Vano saling berpandangan dan mengangguk


lembut. Kemudian keduanya memberi isyarat mata pada wanita paruh baya yang berada di dekat Al dan juga Queen.


“Al, Queen. Boleh mami mengutarakan niat dan maksut mami?”


ucap Jeslyn memulai pembicaraan yang seris.


Mungkin ini bukan moment yang tepat. Tapi, mumpung belum ada


yang tahu kalau bayi mereka kembar, mungkin ini lebih baik.


“Bicara apa, Mami? Ngomong saja,” jawab Queen. Sedangkan Al


hanya membisu saja. Sepertinya ia sudsh ada feeling akan ada sesuatu yang tidak


ia sukai. Hanya saja, itu apa ia belum tahu pasti.


“Tidakah kalian berdua berfikir kalau Tuhan memiliki rencana


lain untuk kedua putri kalian?”


Al dan Queen hanya mengertukan keningnya, ia merasa bingung


dengan apa yang baru saja Jeslyn katakan.


“Begini, Al adalah orang berada, dia hebat dalam segala hal.


Tidakkah kau berfikir akan banyak yang ingin menjatuhkannya? Orang jahat dan


licik itu, melakukan apapun demi dapat mencapai ambisinya. Mami takut, jika


keturunan dari Al yang akan terancam. Siapa tahu, dengan satu dari dua anak di


dalam rahimmu disembunyikan itu adalah sudah rencana Tuhan agar tidak diketahui oleh orang luar.”


Queen menatap Al,


Ia sudah tak lagi memiliki kebencian pada pria di hadapannya. ‘Ini yang aku


khawatirkan dulu, dan ini pula alasan kenapa aku tak mau mendapatkan keturunan darimu. Aku takut kehilangan mereka, aku takut, orang di luar sana mengincar


anak kita yang masih lemah sebagai pelampiasan dendamnya padamu, Al. siapa yang harus kupersalahkan? Kau, karena melakukan hal kotor itu? Kakek Andreas yang menjadikan


kau seperti itu, atau aku harus protes pada papa dan mama yang mengizikan kau pergi?’ batin Queen. Pikirannya pun juga sudah mulai tidak tenang.


Sedangkan Al, dia

__ADS_1


bingung harus berkata apa. Saat Queen hamil saja dia sudah nyaris menghilangkan nyawa Jevin dan membuatnya cacat seumur hidup, meskipun tidak melalui tangannya


sendiri. Tapi, tetap saja, dalang di balik semuanya juga tetap dirinya.


“Jadi, kami harus mengatakan pada public kalau kami hanya memiliki satu anak saja?” ucap Queen tiba-tiba memecah keheningan.


“Iya, Queen. Jika kalian berdua mengizinkan, bolehkan salah satu dari mereka  mami bawa ke Singapura? Anggap saja, mami


melakukan ini untuk menebus kesalahan karena menelantarkan putra mami di panti.”


“Mam,


jangan bicara begitu, saat itu kau memang tak ada pilihan dan ingin


mempertahankan anakmu. Aku kini juga seorang ibu. Memang berat bagiku jika


harus merelakan salah satu dari mereka pergi. Apa lagi, dia jelas bersama


amanya di sana. Untuk melihat bagaimana perkembangan dan kondisinya juga tidak


akan sulit bagi kami di sini.”


“Apakah kau mrngizikan salah satu dari mereka ikut mami, Queen?”


“Untuk kebaikan mereka, tidak apa-apa, kan Al?” ucap Queen sambil memandang ke arah


suaminya dan memegang pundaknya.


“Itu cuma keputusanmu saja, Queen. Bahkan kau juga belum mengajakku bicara terlebih


dahulu. Apakah kau keberatan jika harus mengasuh dua anak sekaligus? Jika iya, tak usah ini yang kau jadikan alasan. Yang mana yang tak kau suskai, biar aku ya g asuh. akan kubawa dia ke kantor bersamaku!” ucap pria itu kesal lalu pergi keluar.


Secara reflek,


Queen yang memang tidak diinfus langsung melompat dari hospitalbad nya dan berlari mengejar Al. Tak peduli dengan kondisinya yang harusnya tidak boleh bergerak sembarangan dan harus serba berhati-hati.


“Queen!”


seru semua orang yang ada di ruangan itu.


“ini salahku, Ra,” ucap Jeslyn hendak mengejarnya. Tapi, dengan cepat Clara


mencegahnya.


“Biarkan saja mereka menyelesaikan urusannya sendiri. Kita jangan ikut campur, Jes,”


“Tapi, Queen baru saja melahirkan, mana boleh seperti itu?”


“Percayalah,


Al sangat mencintai Queen. Dia tidak akan melakukan tindakan bodoh yang akan menyakiti wanita yang dia cintai.”


“Al, tunggu aku!” Queen masih terus berlari tertatih untuk mengejar suaminya.


Al menghentikan langkahnya. Ia sebenarnya sangat marah pada Queen karena


dia ambil keputusan sepihat tanpa melibatkan dia terlebih dahulu. Tapi, saat ia sudah berada jauh dari ruang inap istrinya dan mendengar suara istrinya tidak


jauh dari dia berdiri, ia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Ternyata benar, wanita itu berjalan cepat sambil memegangi bagian perut bawah menuju ke arahnya, sambil meringis menahan rasa sakit.


“Queen! Kenapa kau lakukan ini? Kau tidak boleh banyak bergerak, jalan pun juga harusnya hati-hati. Bukan begini,” ucap Al. bahkan nada bicaranya pun juga telah berubah menjadi lebih lembut, cenderung khawatir.


“Aku takut, tidak bisa mengejarmu dan membiarkan kesalah pahaman ini terjadi terlalu lama.”


Queen menerima uluran tangan suaminya, dan kembali meremas lengan Al sebagai pelampiasan rasa sakitnya yang kian menghebat.


“Kamu kenapa, Sayang? Apakah kau sakit?” tanya Al panik saat merasakan remasan kuat pada lengannya.


“Mungkin karena aku terlalu kencang berlari.”


“Kita kembali ke kamar.” Tanpa banyak bicara, pria itu langsung menggendong Queen dan hendak membawanya pergi kembali ke ruangan rawat inapnya.


“Tidak! Sebelum kita kembali, kita selesaikan masalah kita. Aku minta maaf jika tidak melibatkanmu, kukira tidak apa jika mama kandungmu membawa salah satu dari bayi


kembar kita.”


“Kau percaya dengannya?”


“Bukankah kau bisa menggunakan


anak buahmu untuk mengawasi gerak-geriknya, Al? Dia itu ibu kandungmu, yang


rela gila setengah mati demi keselamatan nyawamu, meletakkan  dirimu di pagar panti. Dia jelas stress dan tak bisa makan sebelum mengetahui secara pasti kau sudah ditemukan apa belum.

__ADS_1


Sepanjang malam pasti juga tak tenang dan memikirkan dirimu. Kau haus, lapar, kedinginan atau bagaimana juga pasti akan sangat kepikiran.


Toh setelah kau selidiki buktinya juga benar, kan apa yang dia katakan? Dia tidak mengada-ada.”


“Baiklah. Apakah ini alasanmu


dulu kenapa tidak mau meiliki anak dariku walaupun kau sudah mencintaiku?”


tanya Al, tiba-tiba saja ia teringat ketika ia menemukan pil KB di salah satu


laci kamarnya.


“Ya, begitulah. Tapi, percayalah,


aku tidak menyalahkanmu untuk itu, dan aku tetap mencintaimu,” ujar Queen.


Al menimpali ucapan istrinya


hanya dengan tertawa kecil saja. Ia memang menyesalkan apa yang sudah ia perbuat selama ini, dan yang dia katakan barusan. Sungguh itu terlalu kasar dan keterlaluan, menuduh istrinya sendiri tak mau rawat dua anaknya sekaligus.


Ia sudah lama berhenti dari dunia permafiaan. Tapi, ia


tetap tak bisa menahan jika ada seseorang yang beranin menindas orang terdekatnya. Apalagi dengan lancang melukai papa dan istrinya. Tidak dikuliti


hidup-hidup sampai nyawanya melayang pun juga bagus.


“Turunkan aku, biarkan aku


berjalan sendiri," teriak Queen saat tiba-tiba Al menggendongnya.


“Diam. Kau ini harusnya tidak


boleh sembarangan bergerak. Ini baru beberapa jam melahirkan malah mau lari qmarathon,” ujar Al, tanpa menghiraukan ocehan Queen yang minta di turunkan.


“habis kau marah dan tiba-tiba


saja berlari, jika aku tidak berlari, bagaimana bisa mengejarmu?”


“Iya, aku yang salah sayang. Maafkan


aku, ya Tuan Putri.” Al terus berjalan sambil bercanda dengan Queen. Tanpa


terasa ia sudah berada di depan pintu kamar inap istrinya saja.


“Apaan, sih.” Queen tersipu malu


sambil mencubit pipi Al. bersamaan dengan itu pula, Al sudah membuka lebar pintu


tersebut. Jadi, saat Queen mencubit pipi Al dan keduanya tertawa. semua orang


yang berada di dalam ruangan tersebut melihatnya.


“Kau lihat saja mereka, kubilang juga apa,” bisik Clara di dekat Jeslyn.


"Iya juga, ya Ra? Mereka mudah marahan. Tapi, juga mudah baikan. Baru berapa jam?"


"Sudah, hampiri saja Al. Jangan menyerah untuk kebaikan cucu kita. Saat ini, peranmu yang dibutuhkan," bisik Clara lagi.


Jeslyn beridri dari duduknya dan berjalan mendekati Al dan juga Queen. Matanya yang keabu-abuan menatap lekat pada pria muda di depannya.


“Al, maafkan mami. Mungkin mami tidak bisa mengerti kalian, dan mami terlalu egois memisahkan


kalian dengan salah satu putri kalian.


“Al sudah membicarakan soal ini berdua dengan Queen mam. Kita setuju. Terimakasih mam


sudah mau menjaga salah satu putri kami,” ujar Al dengan nada yang jauh berbeda pula tentunya.


“Sungguh Al kau izinkan mami membawanya satu dari mereka?”


“Iya, Mam. Queen sudah menjelaskan semua. Tapi, tanya papa dan mama dulu, mereka


keberatan atau tidak?” ucap Al. karena bagimana pun selain mereka orang tua


dari istrinya. Mereka pula yang membesarkan dirinya dan menjadikan dirinya


seperti saat ini. Jadi orang hebat dan terpandang. Jika saja bukan karena


mereka, ia bahkan tidak tahu akan jadi apa. Yang jelas tak akan begini.


“Mami Jeslyn sudah mengutarakannya lebih dulu pada kami, Al. untuk kebaikannya juga kami


rasa tidak masalah. Barusan kakekmu juga sudah kami beri tahu,” jawab Clara.


“Lalu, apa pendapat kakek?”

__ADS_1


biarkan salah satu dari mereka dibawa mami mu. dia kan sudah merasa bersalah karena merasa menelantarkanmu. Ia ingin menebusnya dengan merawat salah satu dari mereka." Andrian akhirnya dengan berat hati pun mengizinkan Jaslyn membawa salah satu dari mereka pada saat itu juga Ke Singapura.


Guna menghindari seseorang tahu, akan rahasia ini. Mereka meminta pihak rumah sakit merahasiakan jika Queen melahirkan anak kembar. Di depan publik mereka mengatakan kalau cucu dari Clara dan Vano hanya satu.


__ADS_2