Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
WILL DIE 14


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, Axel dan Berlyn akhirnya tiba juga di kota pelajar. Kota Jogja.


karena sudah larut, dan tidak memungkinkan untuk pergi ke makam, Axel mengambil inisiativ untuk menyewa dua kamar di hotel yang sama. Tapi, karena mereka tiba terlalu larut, mereka kehabisan kamar. dari beberapa hotel di sekitar sana. Terlebih, ini akhir pekan. Jelas banyak para turis domestik maupun dari mancanegara yang datang ke kota itu dan menyewa hotel untuk bermalam.


Kebetulan hanya ada satu hotel ini saja yang tersisa satu kamar dengan dua tempat tidur di dalamnya.


"Bagaimana, Mas? Di ambil, apa tidak?" tanya pria yang menjadi resepsionis hotel itu. Sementara, di sebelahnya seorang lagi membawa kunci kamar dengan penuh harap.


Axel tersenyum, menunjukkan telapak tangan kanannya ke pria itu, memberi isyarat kalau ia perlu berfikir. "Sebentar, ya Mas. Sepupu saya mau


apa tidak. Jika satu kamar," jawab pria itu dengan santun.lalu, kemudian Axel pun berjongkok dan bertanya pada Berlyn.


"Berlyn, ini bagaimana, cuma ada satu kamar dengan dua tempat tidur. Kita ambil, atau bagaimana?" tanya Axel dengan pelan.


Berlyn hanya mengangguk saja dan mengucek-ngucek kedua matanya. sepertinya gadis itu sudah sangat ngantuk dan tak ingin lagi berputar-putar mencari hotel. Ia sudah menyerah, terlabih ini juga weekend.


Axel hanya menatap gadis di depannya dengan tatapan mata penuh rasa bersalah. terlbih ketika ia mendapati Berlyn menguap.


'Maafin aku, ya? demi ambisiku, aku tak seharunya membuatmu sengsara begini,' batin Axel.


"bagaimana, Mas? mau diambil apa tidak? Saya kawatir nanti ada yang datang lagi dan anda keduluan," ucap resipsionis yang sedari tadi menunggu keputusan dari Axel.


"Baik. Iya, Mas. Kami ambil," jawab Axel.


pria di sebelah resipsionis yang sedari tadi memainkan kunci kamar hotel yang memang hanya tersisa satu itu pun tersenyum.


ia memandang satu temannya di sampingnya dan mengangguk, lalu berjalan menuju kamar hotel dengan nomor 298, dan diikuti oleh Axel dan Berlyn.


Sesampainya di dalam kamar, Axel meminta agar Berlyn menggunakan kamar mandi duluan untuk mencuci muka dan menggosok gigi. karena, ia melihatnya sudah sangat tidak tega. Namun, meskipun begitu ia juga tidak akan membiarkan gadis itu langsung tidur saja, kan?


"kamu hati-hati, ya? bawa sekalian pyamamu. dan segera lah tidur setelahnya," ucap Axel, mengingatkan. Karena ia melihat gadis itu masuk ke dalam toilet hanya membawa pouch berisi toiletis saja.


Berlyn menoleh ke arah Axel, kemudian tersenyum dan berbalik badan, membongkar ranselnya, kemudian ia kembali masuk ke dalam toilet. Tidak menunggu lama, kurang lebih sekitar tujuh menitan saja, Berlyn sudah kembali. ia mengenakan piyama lengan pendek dan bawahan celana panjang sampai mata kaki berwarna pink bermotif bunga sakura.


"Kau sudah, selesai?" tanya Axel. kemudian, Axel pun beranjak masuk kamar mandi. karena ia merasa tidak nyaman, gerah dan sedikit merasa lengket, pria itu pun akhirnya menyalakan shower air hangat untuk mandi. Sebab, jika tidak begitu, ia tidak akan bisa tidur nantinya.


Setelah dia selesai,ia mendapati Berlyn sudah lelap tertidur sambil memeluk guling. Axel tersenyum seorang diri.


Ia berjalan mendekati gadis itu, membetulkan selimmutnya, mengelus dan mencium keningnya. Cukup lama ia diam terpaku memandang wajah cantik Berlyn. Sampai pada akhirnya ia teringat, kalau ia besok pagi harus segera bangun dan pergi ke makam mendiang papa dan nenek tirinya. Karena, ia sudah berjanji sebelumnya, kalau ia akan menuruti ke mana pun Berlyn mau pergi, dan bisa tiba kembali di Jakarta sebelum sore.


***


Apa yang kau lihat, Al? Serius banget, sih?" tanya Queen yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah ia berhasil menidurkan Clarissa.


Bukannya menjawab, Al justru malah terkekeh sambil terus asik melihat ke layar laptopnya. Walau sebelumnya ia sempat menoleh ke arah istrinya ketika dia masih sampai di ambang pintu kamar. Tapi, itu hanya beberapa detik saja. Setelahnya kembali ke leptop.


"kamu lihat apa, sih Al? tanya Queen kesal karena sedari tadi suaminya hanya terkikik dan malah asik sendiri. Dia dia diabaikan. Karena penasaran, Queen dengan segera naik ke atas ranjang dan bersandar di dada suaminya lalu sama-sama melihat laptop yang berada di pangkuan Al.


Melihat tampilan di dalam sana, Queen terkejut juga. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? pikirnya. "Kau yang atur semuanya?" tanya nya sambil melihat ke arah Al dengan sorot mata yang tajam.


"Hahaha, jika bukan, siapa lagi? Tapi ya tetap saja butuh bantuan orang, hehehe," jawab Al sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Biar kutebak. Pasti Vico, kan? Kau ini, ya... memang, apa sih tujuan kamu?"


"Ini tujuan kita. Kita jadi tahu," ucap Al sambil mengecup pipi Queen. kemudian me loug out tayangan yang dia lihat dan mematikan laptopnya. diletakkannya di atas nakas dan kemudian ia berdiap ambil posisi untuk tidur. Karena, ia sendiri sebenarnya juga sudah sangat lelah dan mengatuk karena berberapa


hari ini ia bersama anak dan istrinya menghabiskan banyak waktu untuk jalan-jalan. Tapi, ia bersukur sekali dengan Clarissa yang bisa diajak

__ADS_1


kompromi dalam berbagai keadaan. sebab, anak yang seperti ini tuh, jarang-jarang, loh. Jika saja anak yang lain, pasti juga sudah mengatakan


bagaimana kondisi fisik papanya pada mamanya. Atau, minimal juga keceplosan ketika mendapati papanya mimisan dan dia sangat khawatir.


****


Keesokannya, pagi-pagi sekali, sekitar pukul enam, Axel sudah terjaga. ia mengeliat, meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku dan tegang. Lalu,


dilihatnya Berlyn yang masih pulas memeluk gulingnya. Axel hanya tersenyum saja. ia tak mau mengulur waktu, dengan segera ia mengambil


pakaian gantinya dan bergegas ke toilet untuk mandi.


tidak beberapa lama, Axel keluar. Tapi, Berlyn masih belum terjaga. Sepertinya gadis itu benar-benar capek, sampai-sampai


jam segini saja ia masih belum bangun sama sekali. Padahal, ini sudah menunjukkan pukul 06 lebih Tak ingin terlambat kembali ke Jakarta, akhirnya Axel terpsksa membangungnkan Berlyn dengan lembut.


"Berlyn! Ini sudah siang. bangunlah!" serunya perlahan sambil mengelus pipi mulus bocah itu.


Merasa ada yang membangunkan dan merasakan ada goncangan sedikit di tubuhnya serta pipinya yang dielus-elus, gadis itu pun mengeliat dan mulai membuka mata. mata dan berkedip-kedip. kembali menguceknya karena ia mungkin merasa berat untuk bangun.


"Kau masih mengantuk, ya?" tanya Axel.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Maafin kak Axel, ya? Kita harus segera cek out supaya bisa jalan-jalan," ucap Axel masih dengan rasa bersalah. Tapi, berlagak tegas.


Gadis itu mengelengkan kepalanya dengan lembut. Entah apa yang membawanya, ia tersenyum dan tangannya menyentuh pipi Axel


seolah berkata kalau kak Axel tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf seperti itu.


Sementara Axel yang menunggu Berlyn mandi, ia memainkan ponselnya, mengabari Al dan Queen kalau ia mengajaknya ke Jogja.


Hanya saja ada yang aneh, kenapa mereka terlihat santai dan percaya-percaya saja padanya? Tidakkah mereka takut ia akan mencelakai putri semata wayanganya? Atau memang benar-benar percaya?


Axel tidak tahu saja. Kalau sebenarnya masih ada banyak kamar hotel yang kosong di sini. Dan di beberapa tempat lain. Demi mengawasi gerak-gerik nya, ia rela membayar orang untuk membantunya menjalankan misi serta memang kamera tersembunyi yang terhubung dengannya langsung.


sepuluh menit kemudian Berlyn sudah keluar dari kamar mandi, gadis itu mengenakan sress sepanjang lutut berwarna hitam polkadot dengan lengan panjang dan ikat pinggang putih mutiara. ia terlihat cantik dan sangat elegent.


Axel bahkan sempat terpana saat melihatnya.


"Kau sudah selesai, Berlyn?" tanya nya sambil sedikit tergagap dan salah tingkah. Bagaimanapun ia malu lah, kalau sampai melongo lihat gadis kecil. Walau, hanya usaianya dari segi wajah dia sangat cantik dan anggun, postur tubuh juga termasuk tinggi dibandingqkan dengan anak-anak seusianya.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Keduanya pun bersiap untuk sarapan. Demi menghemat waktu, Axel mengajaknya sarapan di hotel saja. Toh, makanan juga suah siap, walau ini terlalu pagi mungkin, sebab masih belum ada banyak pilihan menunya. Setelah itu,


barulah mereka pergi meninggalkan tempat itu


Usai dari makam, Axel mengajak Berlyn ke Mlioboro saja. Sebenarnya ingin sekali mengajak ke tempat wisata lain yang populer di sini. Tapi,


mereka berdua terkendala oleh waktu yang mepet. Lelah berjalan-jalan, Axel memebelikan es cream cone pada gadis yang menemaninya dan duduk di kursi yang ada di sepanjang jalan malioboro tersebut.


"Berlyn, kak Axel yakin, kamu itu bisa berbicara. Tidakkah kau ingin menyebut nama kakak?" ucap Axel sambil menatap lekat dua bola mata gadis itu.


Mungkin benar, cinta itu benar-benar buta dan gila dan tidak bisa membedakan usia. Dia sebagai pria berusia duapuluh tiga tahun tidak kekurangan wanita cantik dalam hidupnya. Banyak yang menyukainya dan mestinya dari perbandingan usia lebih pantas. Tapi, kenapa harus menjatuhkan cintanya pada bocah kecil yang mungkin saja ia tidak tahu apa itu cinta. Cinta memang tidak bisa disalahkan. kedatangannya tak bisa diundang. kepergiannya juga sering tak pernah diinginkan. tapi, ya memang begitulah cinta. Unik. Datang dan pergi seenak jidat.


Berlyn hanya diam menatap Axel. Bibir mungilnya yang merah merekah terkatub rapat. Tak mau berusaha mengucapkan sepatah katapun.


Membuat Axel jadi salah tingkah saja dengannya. Terlebih dua mata bulatnya juga membalas tatapan matanya. Ingin sekali Axel mengatakan kalau ia

__ADS_1


menyukai Berlyn, dan tak ingin gadis itu dekat dengan siapapun. Tidak hanya Adriel, rasanya jika Berlyn dekat kucing jantan saja ia pun tak rela.


"A...xel. Ayo coba ikutin!" seru Axel pelan.


Tapi, Berlyn tidak meresponnya. ia tersenyum malu-malu sambil menggelengkan kepala.


"Ayolah, Lyn. Mau, ya?" rayu Axel lagi.


Lagi-lagi jawaban yang pria itu dapatkan juga sama. Gadis itu tetap mengeleng malu-malu dan tak mau membuka mulutnya. Malah, ia menunjukkan es krim di tangannya sebagai cara untuk nya menawari atau menghargai Axel sebelum makan.


"Oh, kau haus, ya? Ya sudah. Makanlah es krim kamu," ucap Axel.


Lagi, gadis kecil itu menyodorkan es krim nya pada Axel sambil menunjukkan senyuman terbaiknya. Sepertinya dia tidak meminta izin mau memakannya. Tapi, ia menawari Axel untuk mencicipinya sebelum dia.


"Tidak, Lyn. Kak Axel tidak mau. Kak Axel minum ini saja," jawabnya sambil menunjukkan botol minuman isotonik dan membuka botolnya yang masih tersegel.


Berlyn mengangguk sebagai ucapan terimakasih nya pada Axel yang sudah membelikan es krim dan mengajaknya jalan-jalan. Dia merasa senang.


Axel diam sambil memperhatikan tingkah Berlyn yang imut dan menggemaskan. Tidak berselang lama, ponsel di dalam tas kecil yang dibawa gadis itu berbunyi. Seketika, lamunannya pun terbuyar kan. Dengan sedikit gelagapan ia mencari pengalihan. Takut jika saja ketahuan kalau sudah memperhatikan Berlyn secara diam-diam. Harusnya Axel tidak perlu salah tingkah begitu. Yang dihadapi itu anak kecil yang belum ngerti bahasa mata dan hati. Gadis kecil polos yang tak tahu arti cinta dan cemburu. Sepertinya begitu.


Dengan cepat Berlyn mengeluarkan benda pipih yang tengah berdering nyaring dari dalam tasnya. Seketika, senyumannya mengembang saat sebuah panggilan video masuk.


Di letakkannya ponsel itu pada kursi. Ia berjongkok di dapannya dan melampaikan tangannya.


Axel yang melihat keceriaan Berlyn mengira kalau bukan papa dan mamanya, pasti amanya yang ada di Singapura yang memvideo call nya. Tapi, dugaan itu salah saat ia mendengar suara tak asing dari dalam sana.


"Berlyn! Kau kapan pulang? Cepatlah pulang," Terdengar suara seorang anak laki-laki dari dalam sana. Jelas itu Adriel. Siapa lagi.


Axel membuang muka tak ingin tahu apa yang dibahas oleh dua anak itu. Ia bersikap sok sibuk memainkan ponselnya. Padahal, dia cuma buka-buka galeri karena ga tau mau terkesan kalau dia peduli dan kepo. Padahal, itu cuma modus aja. Dan yang dibuka juga cuma galeri doang. Gak lebih.


"Berlyn, di mana kak Axel? Apakah dia sudah membelikan aku mainan Transformer?" tanya Adriel.


Dengan cekatan Berlyn mengambil ponselnya dan memberikan pada Axel. Memberi isyarat kalau Adriel ingin bicara dengannya.


"Hay, kau lagi apa, Driel?" sapa Axel bersikap sebiasa-biasa nya mungkin.


"Aku sudah selesai latihan basket. Kapan kalian akan pulang?" tanya bocah itu sambil menyeka keringat di wajahnya.


"Sebentar lagi, nunggu Berlyn menghabiskan es krim nya," jawab Axel sam kalaubil tertawa dan melirik pada Berlyn.


Tapi, Berlyn malah mencubit le hannya dan menunjukkan tangannya yang sudah kosong serta sedikit blepotan dengan es krimnya.


Axel sedikit terkejut. Lantas, ia pun bertanya, "Di mana es krim kamu? Sudah habis?"


Gadis itu tertawa tanpa suara sambil mengangguk ceria.


"Oke," ucapnya sambil membuka sling bag di depan dadanya lalu mengeluarkan tisu dan memberikannya pada Berlyn. Kamu bersihkan tanganmu," imbuhnya lagi.


Berlyn menerima benda itu sambil menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.


Axel hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Mungkin saja dia juga lupa kalau sedang video call dengan adik kandungnya.


"Kakak! Apakah kau sudah belikan aku mainan?" tanya Adriel lantang dari dalam layar sentuh di tangan Axel.


"Iya, Sayang. Kau tenang. Saja. Ya sudah. Matikan lah. Kami akan bersiap untuk pulang, oke?" ucap Axel lalu mengakhiri panggilannya.


__ADS_1


__ADS_2