
Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan dan napas lembut Quen yang berhembus menggetarkan tubuhnya.
"Aku juga sangat mencintaimu, berharap hanya maut yang memisahkan kita."
"Aku harap juga begitu."
"Lex, meskipun kesedihanku belum hilang, dan papa mamaku belum sadar, dengan menghabiskan waktu bersamamu, aku bahagia, berjanjilah selamanya akan terus mencintaiku."
"Hanya kau satu-satunya yang aku cintai dari dulu sampai saat ini dan selamanya," ucap Alex sambil menciumi dada dan leher jenjang gadis yang ada di pangkuannya itu.
Quen memeluk erat kepala Alex pada dadanya.
"Bagaimana urusan mu dengan kak Al tadi?" tanya Alex.
"Dia belum memberi jawaban. Tapi, aku yakin kalau aku bakal diterima. By the way, makasih sarannya, ya."
Alex mengangguk dan mata keduanya saling menatap dalam satu sama lain. Alex memperhatikan wajah istrinya ia pun tak tahan dengan bibir tipis dan mereka itu, ia pun melumatnya.
Beberapa detik saja, ciuman keduanya saling memanas lidah mereka bertautan, dan kemeka Queen pun juga sudah tak seperti semuala. Hanya tertinggal satu kancing terbawahnya saja yang masih terpasang, sementara yang lain sudah terlepas.
Alex memandangi tubuh Queen yang nampak sexy dengan balutan bra berwarna hitam yang nampak kontras dengan warna kulitnya.
Sementara kemeja biru muda yang digunakan Queen telah lolos dari pundaknya hanya kedua sisi lengan saja yang mmasih menempel di tangannya.
Alex melepas satu kancing tepat di depan pusar Queen dan meloloskan dia sisi lengannya, lalu melempar asal kemeja itu di atas lantai. Kini Queen hanya mengenakan celana jeans dan bra saja memeluk Alex dengan senyumannya yang menggoda.
Kembali keduanya bercumbu dan entah sejak kapan Alex melepas kaitan bra yang Queen kenakan, tau_tau pria itu sudah menariknya saja dan membiarkan terjun bebas dari ke atas lantai.
Queen juga tak mau kalah ia menarik kaus yang Alex kenakan dan keduanya pun sama-sama bertelanjang dada. Memang ini bukan yang pertama kali Queen memandang dan melihat tubuh indah Alex. Tapi, wanita itu selalu saja mengagumi setiap kali melihat nya.
Matanya memandang setiap inci dada hingga leher sampai ke wajah seolah tiada yang terlewatkan. Diusapnya dada bidan itu dan sesekali digigitnya saat tangan Alex dengan nakal meremas dan memainkan gundukan di dadanya.
"Are you want do now, baby?" ucap Alex dengan suara serak penuh nafsu.
Sementara Queen tidak menjawabnya selain mengalungkan kedua lengannya pada leher Alex.
Mengerti dengan kode yang istrinya berikan, Alex bangkit dari duduknya sambil tetap menggendong Queen dan membawanya ke ranjang lalu merebahkannya.
Alex merasa ragu, sebab, belum ada sebulan istrinya mengalami keguguran. Tapi, di sisi lain dia juga sudah tak dapat menahan gejolak nafsu yang ada pada dirinya.
"Apa kau yakin mau melakukannya sekarang?" tanya Alex yang tengah dilema.
"Kenapa? Apakah kau tidak mau?" tanya Queen sambil melingkarkan kedua kaki jenjangnya pada pinggang Alex.
"Mana mungkin, kamu kan habis keguguran, sayang. Apakah tidak menyakitimu?"
Queen tersenyum manja seraya mengusap dada bidang suaminya yang membuat birahinya kian terpancing sambil berkata, "Tapi, saat malam pertama kali bahkan tidak takut menyakiti ku."
Rupanya Queen lupa kalau yang memperwaninya adalah Al. Bukan Alex, mungkin karena seringnya dengan Alex dan saat malam pertamanya pun ia juga mengeluarkan darah.
"Ok. Aku akan melakukan sekarang, katakan padaku jika kau merasa sakit, I'll do slowly."
Alex pun mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa memalingkan matanya dari wajah Queen yang ada di bawah tubuhnya dan mulai mendorongnya perlahan.
Sesaat ia melihat Queen tampak sedikit meringis bercampur desahan menahan sakit pada bawah tubuhnya membuat Alex menjadi gugup dan sedikit merasa bersalah.
"Apakah kau mau sudahan saja, sayang? Kita bisa melakukannya lain kali," ucap Alex dengan tatapanata berkabut penuh nafsu.
"Memangnya kau bisa menyudahinya, sayang?" Lagi-lagi Queen menggoda Alex yang benar_benar telah konak.
"Maaf, sayang. Aku tidak bisa menyudahinya sebelum permainan kita selesai."
S
__ADS_1
K
I
P
😁😅
Nada dering dari ponsel Queen yang diletakkannya sendiri di atas nakas membangunkan dirinya yang tengah lelap terdidur sejak siang tadi.
"Uuuh... Siapa, sih?" Ucap nya seorang diri. Badannya masih terasa lemas setelah bermain dengan Alex. Bahkan, rasanya saat ini ia tidak mampu untuk melepaskan diri dari pelukan Alex yang memang memiliki tubuh kekar itu.
Queen mendongak melihat ke arah suaminya yang pulas tertidur. Antara kasian dan tidak tega jika membangunkannya, Quen pun menyerah, ia kembali ambil posisi nyaman di lengan dan memeluk dada pria itu. Kembali memejamkan mata. Terlebih nada dering itu sudah tak lagi berbunyi.
Rupanya Queen salah. Ponselnya kembali berbunyi. Yang ada di dalam hatinya saat itu hanyalah rasa kesal saja. Ia tidak berfikir itu panggilan penting atau tidak.
Karena merasa berisik, Alex pun terbangun. Dengan suara yang tak jelas ia berkata sambil mengeluarkan tubuhnya sehingga Queen bisa lepas dari pelukannya dan menggambil gawainya, "Sayang. Telfonnya kok gak di angkat?"
"Oh, iya. Sebentar, ya?" ucap Queen sambil tersenyum. Tapi, dalam hati ia ngedumel, 'Bagaimana bisa aku meraihnya sementara lenganmu sangat erat memeluk tubuhku.'
"Halo, kak. Ada apa?'' jawab Quen setelah mengangkat panggilan dari Al.
"Hmmb... Queen. Kemana saja, kau? Bahkan ini panggilan ku yang kesepuluh baru kau mengangkatnya." Kesal Al, mengomel dari seberang sana.
"Maaf, Kak. Aku ketiduran, lagian ada apa sih, siang-siang gini telfon?" ucap Queen sambil menguap.
"Siang apanya? Coba kau lihat jam. Ini sudah pukul empat sore, Queen. Kau terlalu lama tidur rupanya."
"Hah, jam empat, ya? Kirain masih jam dua siang. Soalnya tiba di rumah pukul dua belas, tadi."
Al hanya mendesah kesal. Ia berfikir kalau mungkin adiknya kelelahan, sebab tanpa dia tahu diam-diam sudah seminggu ini dia ikut membantunya dalam urusan pekerjaannya. Diam-diam Al jadi merasa bersalah sendiri pada adiknya.
"Memang ada apa, Kak kau menelfonku sebanyak itu? Penting, atau rindu?"
"Kau serius mau bantu kakak urus perusahaan? Kalau iya, ke kantor besok dan mulailah bekerja. Temui HRD kau jadi asisten pribadiku saja agar tahu apa yang aku kerjakan dan kita satu ruangan saja, bagaimana?'
"Ya, begitu juga baik. Ok. Besok pagi aku tidak ada praktik aku akan ke kantor, tapi, siang pukul sepuluh aku harus praktik sampai pukul setengah tiga. Gak apa-apa kan aku ninggalin kantor? Sepulang dari rumah sakit aku akan segera ke kantor."
"Prioritaskan pendidikan mu dulu, sayang. Soal ini dengan kau sudah mau membantu kakak saja, kakak sudah merasa senang dan sangat terbantu sekali. Jika kau capek, tidak kembali juga tidak apa-apa.
"Tenang saja, pak. Aku akan belajar konsisten dan bertanggung jawab. Ini juga atas saran dari suamiku," jawab Queen.
"Baiklah kau segera saja bangun dan mandilah jangan tidur terus!" Seru Al lalu mematikan telfonnya.
Al mengetuk-ngetuk meja kerjanya berusaha menghilangkan rasa bosan. Terlalu banyak hal yang terjadi, tapi, pekerjaan di tiga perusahaan orang tuanya tidak mengizinkan ia untuk tetap larut dalam kesedihan berlama-lama. Ia harus bisa bangkit agar, sang kakek tidak semakin down. Dan agar saat papa dan mamanya sadar nanti tidak kecewa dengannya.
Karena semua beres, dan masih enggan untuk pulang, Al teringat dengan CCTV yang ingin dia lihat sepulang dari rumah sakit pasca kecelakaan dulu. Tapi, gagal. Sebab ambulance yang mengantarkan jenazah kakek dan neneknya tiba duluan. Jadi, ia pun memutuskan melihat CCTV rumah. Karena dia janggal jika kecelakaan terjadi karena rem blong.
Al pun mulai menyalakan laptopnya membuka rekaman CCTV yang juga ia sambungkan ke dalam laptop miliknya agar dapat memantaunya sewaktu-waktu dan di mana pun ia berada.
Saat muncul CCTV di layar, Al memutar ulang mulai saat ia sebelum berangkat ke Jepang dan memutarnya terus agark cepat. Tepat malam hari, kira-kira pukul sebelas malam, ia mendapati rumah begitu sepi dan hening. Nampak mobil Alex masuk. Lalu, pak makmur mengunci pagar dan beliau pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Detik demi detik berjalan tak ada yang aneh, tapi, di menit ke tiga puluh setelah pak Makmur masuk ke dalam kamar, ada seorang penyusup, ia berjalan pelan-pelan. Awalnya Alengira itu adalah maling dan menebaknya gagal mencuri. Tapi, dugaan nya salah. Ia, ia mendekati ke arah mobil Alphard hitam yang baru saja diservicenya sebelum ia berangkat ke Jepang pagi harinya.
Al memperbesar, melihat apa yang dilakukan orang dengan jubah hitam itu. Ia menerobos ke arah depan bawah mobil lalu kembali dengan mengantongi tang. Al bisa menebaknya langsung. Pasti yang merusak rem mobil itu adalah orang itu.
Begitu misinya selesai, orang itu buru-buru berlari dan melompat ke arah pagar. Kini, Al mengganti tampilan layar di menit selanjutnya. Dan benar saja, orang itu menjawab rasa penasaran Al ia membuka jubahnya ternyata dia seorang wanita, Al pun memperbesar layar agar jelas dengan wajah wanita itu.
Al benar-benar terkejut dan tak habis pikir kalau wanita itu adalah Lyli.
"Lyli! Berani sekali dia?"
Al benar-benar tak dapat mengontrol emosinya. Rasa sakit dan sedih atas kejadian yang menimpa kedua orang tua dan kakek neneknya seolah kembali mencuat dari hatinya. Ia menggebrak meja dengan keras dan pergi meninggalkan kantor tanpa pesan pada stafnya. Bahkan ia tidak peduli dengan rapat yang akan dia adakan jam enam nanti dengan clientnya dari luar kota.
__ADS_1
Kemarahan Al tidak dapat ditutupi dari raut wajahnya meski pun ia terbiasa memasang raut wajah kaku dan dingin. Tapi, kali ini benar-benar lebih dari biasanya.
Bahkan staf dan karyawan yang berpapasan dengannya saja tidak berani untuk menyapanya. Sebab, ia memang terkenal pemarah cuek dan dingin pada siapapun. Meskipun ganteng...
Al melakukan kendaraannya dengan cepat seperti orang kesetanan. Ia menuju tempat di mana ia biasa berlatih fisik di sana ia langsung melakukan boxing untuk melampiaskan kemarahannya. Tidak puas dengan itu, ia melakukan seni tembak. Tapi, menembaknya pun asal.
Suasana hati Al hari ini benar-benar buruk ia pun bertekad akan membalas apa yang Lyli lakukan terhadap keluarganya. Selain kakek Andreas dan neneknya meninggal, kakek Andrean mengalami lumpuh akibat insiden itu, bahkan papa dan mamanya juga belum sadar dari koma.
Al memerintahkan duapuluh orang bersiap ikut dengannya, sementara dia, mengganti pakaiannya dengan pakaian ala mafia yang sudah lama ia tanggalkan di tempat ini. Tak lupa pisau dua mata dan pistolnjuga ia selipkan di pinggangnya.
"Kalian ikut aku, bawa senjata yang lengkap, cepat!" Perintah Al dengan tegas dan menunjukkan muka garang yang penuh dengan kemarahan.
Sekitar satu jam Al dan rombongannya tiba di sebuah rumah yang sederhana dengan halaman luas dan rindang karena ditumbuhi dua pohon rambutan besar di depannya.
Al pun turun dari mobil sementara duapuluh pengawal pilihannya berbaris dengan rapi di belakangnya berjalan mengikuti. Tanpa kata-kata, Al dengan emosi yang meluap-luap menendang pintu ruang tamu dengan keras hingga pintu itu rusak dan terbuka.
Lyli dan ibunya yang kebetulan mengasuh anak dari Akbar terkejut.
"Nak, Al. Ada apa ini? Kenapa kau menjadi sangat tidak sopan? Apakah begini sifat aslimu setelah papa mama angkatmu tak bisa mengawasi mu lagi?" ucap ibunda Lyli dengan geram.
Al tidak menjawab selain menyeringai, ia duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya mengamati dua orang dan satu bocah di hadapannya.
"Apa? Aturan? Anda berani bahas soal aturan pada saya?" tanya Al pada ibunya Lyli.
Lalu, Al menoleh ke arah Lyli yang menyembunyikan ketakutannya itu.
Gadis itu menunduduk dan memainkan kukunya sesekali meremas rok yang dikenakannya hingga meninggal kan sedikit bekas kusut untuk menetralisir rasa panik dan takut yang telah berkecamuk menjadi satu.
Al melirik ke arah duapuluh orang dibelakang nya sambil menjentikkan jarinya. Mereka pun paham apa yang harus dilakukan. Mereka mengikat ibu dan anak tapi, membiarkan bocah berusia sebelas tahun itu bebas.
Al berjalan mendekati bocah itu yang dia duga dia putra Akbar kakak kandung Lyli.
Al berjongkok di depan bocah itu sambil menanyainya.
"Nak, di mana papa dan mamamu?"
"Papa masih melakukan sholat, sebentar lagi keluar, om apa yang om lakukan pada nenek dan tanteku?" Tanya bocah itu ketakutan sambil menangis.
"Kau tidak perlu taku. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mu, Nak. Papamu sholat di mana?"
Bocah itu nampak mengedarkan pandangan ke arah ruangan belakang. Lalu menunjuk ke belakang sambil berkata dengan terbata-bata, "I... Itu, om papa. Mamaku masih ada kegiatan di luar.
"Baiklah, Nak. Sekali lagi om tegaskan. Kau tidak perlu terlibat dalam urusan ini. Kau pergilah menusul mamamu dan jangan kembali sebelum besok pagi, ok. Dan jangan berani-berani kalian lapor polisi. Sebab, kami kemari juga menghukum orang yang bersalah. OK? kau pergilah sekarang, Nak!"
Tanpa ragu-ragu bocah sebelas tahun itu pun berlari keluar entah kemana, Al tidak mau tahu dan tak ingin mental bocah itu terganggu karena melihat adegan yang tidak seharunya ia lihat.
Begitu bocah itu keluar, Al menoleh ke arah Akbar dan melambaikan tangannya pada pria seusianya itu dan berkata, "Hay, bro! Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?"
Akbar merasa kedatangan Al kali ini tidak baik, seperti akan membuat masalah bahkan, lebih buruk dari seorang perampok. Tapi, pria itu berusaha tetap tenang dan seolah menyambut tamu yang datang dengan baik-baik.
"Assalamualaikum, Al. Ada apa kau kemari malam-malam begini dan membawa banyak orang?" Sapa Akbar. Yang juga menahan emosinya.
Mendengar ucapan salam dari Akbar Al hanya menyeringai tak menjawabnya malah menatap tajam pada Akbar yang masih lengkap mengenakan peci sarung dan baju Koko.
***jangan tegang deh... lihat keseriusan muka pak dosen Alex yang mengoreksi hasil ulangan muritnya saja, ya?
__ADS_1