
“Bu, anda mencintai suami anda, tapi apa yang Ibu dapatkan
selama ini? Penghianatan dan rasa sakit, bukan? Dengan begitu apakah anda bahagia? Tadi, ibu dengar anda takut kalau dia malu dan tidak mau lagi dengan anda karena anda pernah depresi dan gila sampai masuk ke dalam rumah sakit ini.
Coba, anda pikir, anda sehat waras dan cantik saja dia selingkuh, apalagi
seperti ini.“
Wanita itu diam, menunduk dan tampak berfikir.
“Saya perhatikan and aitu sebenarnya tidak gila, Bu. Tapi,
anda itu hanya stress. Stress bukan berarti gila. Anda terlalu banyak beban
masalah yang tidak seharusnya anda pikirkan saja. Coba, selama di sini dari
pada memikirkan suami selingkuh apa tidak dan selingkuh dengan siapa saja,
kenapa dan bagaimana berfikir membuka hati dan pikiran. Belajar move on. Pria
yang suka selingkuh itu susah sembuh jika dia tidak dapat hidayah atau
kesadaran. Anda masih muda dan cantik, bisa cari yang lebih baik darinya. Apa yang anda beratkan darinya? Jika anak dari pernikahan saja tidak ada.”
“Saya mandul. Di mana ada orang yang mau menerima wanita
mandul seperti saya, dok? Saya takut menjadi janda. Karena janda itun sangat buruk di mata masyarat,’ jawab wanita itu sambil menangis.
Mendapati wanita itu seperti itu, Queen kian yakin, kalau
wanita itu sudah benar-benar sehat. Justru malah ia tidak yakin sama sekali kalau wanita di depannya pernah mengalami gila. Malah yang ada dia curiga,
suaminya melakukan sesuatu agar bisa memasukkan istrinya ke dalam rumah sakit jiwa agar dia bebas
menikmati hidup bersenang-senang dengan wanita manapun yang diinginkannya.
“Itu pendapat anda? Ya sudah, jika anda bisa memilih, saya
ada dua pilihan dan hanya anda yang bisa menjawab dan melakukannya.
1. Berstatus istri. Tapi, hati tidak tenang dan
hidup tidak bahagia dihantui oleh berbagai hal mengerikan seputar
perselingkuhan.
2. Anda tidak bersuami. Tapi, anda bahagia,
membangun usaha sendiri, mandiri dan siap jadi janda terhormat. Jika sudah
demikian, tidak sembarang lelaki yang akan berani mendekati anda.”
“Anda benar. Saya tidak usah memikirkan suami seperti itu,
satu wanita perusak saya usir, suami pasti akan cari wanita lagi. Saya tidak
punya anak dan seluruh harta yang saya milikki adalah milik saya.” Wanita itu menghapus air matanya dan terlihat mulai membaik.
Meski tidak dengan delapan orang Queen berbicara dengan
pasien di sini, setidaknya, ia bisa melakukan yang terbaik yang ia bisa. Ia sudah melakukannya dengan maximal. Sampai tanpa terasa waktu sudah sore saja.
Queen kembali masuk ke dalam ruangan para dokter. Di sana ia
bersama gea ngobrol seputar pengalaman yang baru di dapatnya selama masuk ke
masing-masing bangsal. Sungguh ironis dan sangat mencengangkan sekali.
Saat Queen tengah asik berbincang dengan Gea dan teman
dokter lain serta mendengarkan penjelasan dari seorang psikolog kebetulan dia
dari Jakarta. Seorang wanita yang membuatnya de javu kembali muncul membawakan
es untuk para dokter. Masih dengan pakaian da style yang sama, wanita itu
meletakkan es tersebut di sederet meja yang ada di depan Queen. Sayang sekali, di bagian deretannya adalah pelayan lain.
Saat Queen amati, ia tidak seperti pelayan lain yang mau
mempersilahkan dan sedikit menjawab pertanyaan yang tamu dokter lontarkan
padanya. Tapi, dia… dia hanya tersenyum, mengeleng dan mengangguk saja. Kenapa?
Apakah dia bisu? Tiba-tiba saja dia merindukan putrinya Berlyn. Sedang apa dia di sana bersama papa dan mamanya?
Usai seminar, rencanaya Queen ingin menghubungi putrinya
yang malang itu. tapi, ia mengurungkannya. Ia berfikir menghubunginya nanti saja.
Saat ia sudah bersama suaminya.
“Serius, nih gak mau bareng-bareng di sini?” goda Gea pada
Queen saat ia hendak meninggalkan area rumah sakit jiwa.
“Aku harus gimana, dong? Suamiku sudah perjalanan nmenuju ke
sini, nih!” seru Queen sambil tertawa.
“Cie… kalian ini kek sepasang pengantin baru saja, ya walau
__ADS_1
udah lama menikah. Eh, by the way, loe tiap malam ML, gak sih, sama Al?”
Queen langsung melotot mendengar pertanyaan dari Gea. Ia
tidak menyangka kalau temannya yang tidak vulgar sama sekai bisa mempertanyakan soal ini padanya.
“kamu ini tanya apa, sih, Ge? Tidak sopan sekali,” ucap
Queen dengan wajah yang mulai memerah karena malu.
“Aku penasaran banget soalnya. Abis, kalau lihat kalian
kelihatannya hot banget. Dan si Al sendiri kelihatannya wow gitu, napsunya gede.“ Gea cengar-cengir tidak jelas sambil melihat Queen yang menahan rasa malu.
“Sayang, apakah ita bisa pergi sekarang?”
Dua wanita itu pun menoleh pada suara pria itu. ternyata Al
sduah berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Al? sejak kapan kau tiba di sini?” tanya Queen.
“Ya sejak aku memanggilmu.”
“Ehem… gua dikacangin, nih?” ucap Gea sambil melihat dia
pasang sejoli di depannya itu.
“Kamu mau ikut sama kami? Sekalian jalan-jalan,” tawar Al.
“Oh, terimakasih atas tawarannya. Saya takut, kehadiran saya
nanti akan menganggu kalian,” ucap Gea berlagak formal.
“Mana mungkin kami terganggu? Tentu saja tidak. Ayo kalau
mau ikut?”
“tidak. Aku tidak memiliki pasangan di sini,” ucap Gea mendadak ketus.
Al dan Queen seketika tertawa. Dan mereka berdua pun pamit untuk pergi. Harusnya malam ini masih ada kegiatan. Tapi, masih nanti
jam setengah tujuh malam. Dan kegiatan itu akan berakhir jam Sembilan malam.
Karena Queen tidak membawa toiletis dan pakaian ganti ke rumah sakit ini. Jadi, ia memutuskan untuk pergi dulu ke hotel yang sudah di pesan Al dan nanti usai magrib ia akan kembali ke rumah sakit. Ribet memang. Tapi, ada kesenangan tersendiri yang tidak bisa
dijel;askan. Namun bisa di rasakan dan dilihatb oleh yang melihatnya.
Saat di mobil, Queen
menceritakan tentang salah satu pelayan rumah sakit jiwa tadi yang telkah berhasil mencuri perhatiannya pada Al. menanggapi itu, Al hanya bisa meminta agar istrinya terus berusaha mengingat kembali sambil menyebutkan teman-teman di masa sekolahnya.
akrab Cuma sekedar tahu dan tidak kenal akrab?”
“Bukan. Aku merasa kayak dekat, Al. tapi, aku masih belum
bisa mengingatnya sama sekali,” keluh Queen di dalam mobil.
“Teman SMP, SD mungkin, coba diingat-ingat kagi. Seperti
ciri-ciri yang kau lihat tadi.” Bahkan, sedikitpyn Al tidak menyerah untuk itu.
“Dia cnderung mengingatkanku pada Berlyn, Al.”
Seketika Al memandang istrinya dan berkata, “Apa kamu sedang
merindukan Clarissa? Berlin dan Clarissa itu kembar sayang.”
“Tidak. Wanita itu hanya diam tersenyum, memgeleng dan
mengangguk saja. Sepertinya dia bisu, Al. sementara aku sendiri merasa kalau tidak memiliki teman yang bisu sama sekali. Makanya aku langsung teringat Berlyn. Aku akan menelfonnya.”
Dengan cekatan, Queen mengeluarkan benda pipih yang berada
di dalam tas kerjanya dan langsung melakukan panggilan video pada mamanya.
Meskipun jam segini mamanya sibuk menyiapkan makan malam.
Tapi, setidaknya sudah ada Anja yang siap melakukan semuanya.
Usai melakukan video call dan bertukar kabar dengan papa
mama, kakek serta putrinya, Queen mematikan panggilan. Karena mereka telah sampai di hotel di mana dia dan suaminya akan menginap selama tiga hari di Bandung.
Usai mandi dan akan
makan malam, Queen memperhatikan rambut Al yang sudah lama tidak dipotong.
Rambutnya sudah mulai panjang. Tapi, melihat bagian pinggirnya, sepertinya
sangat tipis. Karena penasaran, wanita itu berjalan mendekat dan mencoba menyentuh, serta menyisir rambutnya dengan jemari lentikya.
“Kenapa Cuma bagian pinggir saja yang ditipiskan? Mau kamu
iket bagian atasnya, ya?” tanya Queen sambil lekat meatap rambut hitam Al.
“Pengennya begitu. Kemapa? Apakah kamu tidak suka?” tanya Al
sambil menatap wajah wanita di depannya.
Queen tersenyum, tangan yang semula membelai rambut sudah
__ADS_1
turun sampai pipi. “Kalau aku pribadi sih, sebenarnya suka cowok rambut pendek dan rapi. Tapi, jika memang kamu mau coba rambut yang seperti itu ya terserah. Gak apa-apa. Mencoba juga tidak ada salahnya, kan? Nanti kalau bosen, ya pasti balik ke pendek lagi.”
“Terima kasih, Sayang.” Al meraih tangan Queen dan
menciuminya beberapa kali. Lalu mencium bibir wanita itu.
Awalnya Queen hanya diam saja. Tapi, saat sepasang tangan
kekar suaminya itu mulai meraba dan bergerilya di seluruh lekuk tubuhnya ia
dengan cepat menahan dan menggenggamnya erat.
“Aku lapar, sayang. Aku butuh makan!” bisiknya di dekat telinga Al dengan nada penuh penekanan.
Al hanya tertawa dan kemudian mengajak istrinyan yang sudah
harum, cantik dan rapi makan di retoran hotel tersebut, sebelum akhirnya dia kan kembali ke rumah sakit sampai nanti malam.
Hari pertama dan kedua semuanya lancar dan berjalan sesuai
keinginan. tanpa terasa, ini sudah hari terakhir Queen di Bandung. Siang ini,
sambil menunggu jam istirahat sekalian menunggu suaminya datang, Queen duduk di
tenpat yang memang dibuat dari semen di bawah pohon akasia.
Tempat itu biasa pasien gunanakan untuk bersantai menikmati
harinya di rumah sakit jiwa ini dan, juga terkadang untuk duduk dan
mengobrolnya para keluarga pasien yang tengah berkunjung.
Queen suka dengan penerapan rumah sakit ini. Semua yang ada di sini sangat transparan antara pihak perawat, dokter dan keluarga pasien. Pihak rumah sakit tidak melarang keluarga membesuknya setiap hari, paling lama maximal satu minggu sekali.
Semua itu diterapkan agar pasien yang dirawat merasa kalau
keluarga di rumah perhatian dan peduli, agar keberadaannya di rumah kembali
dinantikan. Hal itu memicu dan membantu untuk penyembuhan jiwa psien yang bermasalah. Karena Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang merasa
tidak berguna dan kehadirannya dalam keluarga mereka tidak lagi diingginkan.
Tak mau hidup dalam rasa penasaran, Queen emanfaatkan waktu
terakhirnya di sini untuk mencari informas tetang pelayan wanita yang sudah tiga hari ini benar-benar membuatnya susah tidur.
Kebetulan sekali, ia melihat wanita itu melintas membawakan
baju, atau pakaian bersih para pasien yang sepertinya baru saja di cuci.
“Mbak! Kemarilah!” teriak Quee setelah wanita itu keluar
dari salah satu bangsal dengan keranjang baju kosong ditangannya.
Merasa ada yang memanggil, wanita itu berhenti di depan
pintu bangsal. Queen pun segera beranjak dan setengah berlari. Kebetulan, ia
mebawa dua cup jus buah yang rencananya satu cup akan diaberikan pada Al. jadi,
ia bisa memberikan pada pelayan wanita yang sejak ia datang tak pernah melihatnya
berbicara satu kali pun itu.
“Apakah anda ada waktu? Bisa temani saya ngobrol?” ucap
Queen sambil menyodorkan jus yang ada di tangan kanannya.
Entah sejak kapan. Tanpa Queen sadari seorang perawat jaga yang
semula berada di dalam ruangan sudah berdiri di belakangnya seraya berbisik.
“Sejak empat tahun silam dia titemukan di jalan, dan membawanya ke sini, dia selalu diam dan tidak pernah satu kalipun bicara.”
Queen menoleh ke samping. Mulanya, ia ingin bertaya, apakah
dia bisu. Tapi, rasanya tidak mungkin. Pendengarannya masih sangat bagus dan ok. Bukannya kalau orang bisu itu pasti dia juga seorang tuna rungu? Sedangkan wanita di depanya sama seklai tidak mengenakan alat pendengar
“Queen? Kamu Queen, kan?”
Tidak hanya Queen. Bahkan perawatan yang berad di dekat Queen dan beberapa perawat yang berada di sanan nampak terkejut saat wanita itu dapat berbicara.
Sementara Queen hanya mengerutkan dahi dan memandang pada
wanita itu lebih tajam lagi di balik kaca mata putih yang membingkai wajahnya,
seraya mengingat lagi wajah, serta suara yang tidak asing.
‘Siapa wanita ini? Bagaimana bisa dia mengenaliku?’ batinnya. Kemudian Queen mellirik pada papan
nama di dadanya. Bahkan ia sendiri lupa memakain pada jas putihnya.
“Kamu kenal aku? Kamu siapa?” tanya Queen. Rupanya dia
benar-benar tidak ingat dengan wanita itu. dia terus memperhatikan dan menatap tajam. Sementara di kepalanya terus bekerja keras mengingat orang-orang yang
pernah ada dalam kehidupannya.
Keknya say Adah bosen dengan nama2 ini. pengen lanjut ke anak2 mereja saja.
Tentang sikembae Clarisa, Berlyn. Axel, Adreil Bilqis Tiara. tapi, sabar ya biar alir dan plot jug anymabung. makasih buat kalian yang selalu setia baca like vote dan meninggalkan komen positif di kolom komentar. I love you kalian semua 🥰🥰🥰
__ADS_1