Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 191


__ADS_3

Nayla menatap Queen dengan pandangan dan sorot mata penuh


dengan kebencian. Queen tidak mau terfokus dengan alasan Nayla membencinya


karena membuat Al jadi berurusan dengan polisi. Tapi, ia fokus dengan apa yang


tadi kakek Andrean katakana di bawah.


“Yang membuat kaka Al berurusan dengan polisi kelihatannya


aku, karena dia terilbat saat menolongku. Tapi, akar masalah dan penyebabnya


adalah kau sendiri yang menyeret suamimu ke penjara!” seru Queen dengan marah.


“Bagaimana mungkin? Kurasa kau sudah tidak waras jika


berfikir demikian.”


“Oh, ya? Aku yang tidak waras atau pikiranmu saja yang


terlalu dangkal? Coba, aku tanya. Apa maksut dan tujuanmu meminta diam-diam


orang yang diperintahkan kakakku untuk mengawasiku kau suruh mereka agar


menghentikan pekerjaannya itu? Apa agar jika ada yang menculikku mereka tidak


tahu? Agar aku hilang? Kurasa dalang di balik semua ini adalah kau. Kau bekerja sama dengan Aditya. Berani


sekali kau melakukan itu pada adik suamimu?”


“Heh, mungkin  jika


kau tidak ada, aku bisa kembali jadi prioritas utama mas Al,” jawab Nayla,


tanpa penyangkalan sedikitpun atas apa yang dikatakan Queen.


“Kau cemburu sama aku? Ingat, kami ini baersaudara,


pikiranmu saja yang terlalu buruk.”


“Ya, tapi kalian saudara angkat saja, kan?”


“Queen diam sesaat tidak berbicara apapun. Ia menyiapkan


sesuatu, lalu kemudian ia melangkah mendekati Nayla dan kembali menanyakan hal


yang baru saja ia tanyakan.


“Kau bekerja sama dengan Aditya, Kau suruh orang menculikku


dan Aditya berlaku sepolah-olah dia akan menyelamatkanku tapi, sebenarnya yang


kau mau adalah sebaliknya, benar?”


“Hehm, ternyata kau bisa tahu hanya sedikit kalimat dari


kakek, ya? Ya aku benci sama kamu, karena kamu mas Al lebih meprioritaskan


dirimu, dia jadi tidak peduli denganku meski sekeras apapun aku berusaha juga


percuma, karena di matanya hanya kau saja yang Nampak, sementara aku tidak.”


“Kau jangan terlalu memikirkan ini, harusnya jika cerdas,


kau bisa berfikir akar masalahnya adalah dirimu sendiri, jika saja aku tetap


dalam pengawasan mereka, aku akan dengan cepat ditemukan, Diaz juga kakak


tidak akana jadi korban dan seharusnya yang menerima tamparan di sini adalah


kamu bukan aku,” kawab Queen.


Tanpa mengulur waktu ia langsung menampar keras pipi kiri


Nayla, bahkan tamparannya lebih keras dari yang ia rasakan. “ini unttuk


kesalahanmu,” ucapnya sambil menampar pipi kiri dan kanan sebanyak lima kali.


“PLAK!”


“itu kukembalikan tamparanmu barusan.”


“PLAK!”


“Lalu ini anggap saja aku lakukan untuk kekasihku, Diaz.”


“PLAK!”


“Ini, untuk kak Al yang kini ada di kantor polisi.”


“PLAK!”


“Ini untuk kelancanganmu.”


“PLAK!” terakir tamparan yang sangat keras sampai hidung Nayla berdarah, bahkan


tangan Queen pun juga sebenarnya sampai panas saat menampar sekeras itu.


“Itu, karena kau telah berani menantangku, anggap saja mulai


saat ini kita bertarung, dan perlu kau ingat, jika saja kau bukan istri dari


kakakku aku pasti sudah membuatmu busuk di penjara, tapi aku tidak akan


melakukan itu selama kak Al masih suamimu.”


“Beraninya kau Queen?” ucap Nayla sambil menyeka darah di


hidungnya dan memegangi kedua pipinya yang sakit.


“Kenapa tidak? Apakah kau mau dipenjara?”


“Hahaha, kau mau memenjarakanku? Yang ada aku akan melaporkan balik dirimu atas


Kasus kekerasan dan penganiayaan.”


“Benarkah? Lalu bagaimana dengan bukti ini?” Queen pun


mengeluarkan ponselnya daan memutar hasil rekaman yang baru ia dapatkan dari


suara Nayla  sampai ia menamparinya.


Bahkan suara tamparan itu juga masuk dalam rekaman itu.”


Nayla benar-benar mati kutu di buatnya, ia tidak berkutik


dan tidak bisa melakukan apapun.


“Jika kau punya malu, keluar dari kamarku. Dan, ya, harusnya


sebelum cari masalah kau ini harusnya berfikir. Kurasa kau selama ini juga


tidak buta siapa kakakku, kan? Dan aku ini adalah adiknya. So, sedikit banyak


juga aka nada kesamaan sifat dan karatkter lah dengan kak Al. karena kami hidup


dan tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama dididik pun juga dengan


orang tua dan kasih sayang yang sama.”


Tanpa berfikir Panjang Nayla pun pergi meninggalkan Queen.


Queen diam sesaat, ia tidak menyangka kalau Nayla bisa


berubah seperti itu. Tak mau membuang waktu, wanita itu pun menelfon Diaz, dan


menanyakan kebenarnayya ia ada di Bandung atau tidak, karena bagaimana pun Diaz


juga bisa dijadikan saksi yang kuat atas kasus ini untuk membuktikan kalau


Aditya dulu lah yang melakukan pnyerangan.


“Halo, Diaz, kamu di mana sekarang?’’ tanya Queen begitu


pria itu mengangkat panggilannya.


“Queen, kau sudah kembali? Bagaimana kondisimu?” tanya Diaz


Nampak kawatir.


“Aku baik-baik saja, Diaz. Tapi kak Al…”

__ADS_1


“Kenapa dengan dia?”


“Polisi membawanya dengan tuduhan pembunuhan terhadaap Aditya.”


“Innalillahi… Jadi Aditya mati, Queen?” tanya Diaz. Walau


pun ia juga sangat marah dengan apa yang pria itu coba lakukan pada wanitanya.


Tapi, saat mendengar berita kematian dosen sekaligus seniornya itu juga ada


rasa kehilangan di hatinya. Bagaimana pun Aditya adalah sosok yang dikenal


publik sebagai dokter baik, cedas dan berprestasi. Tapi, jiwa psycopatnya


sangatlah disayangkan.


“iya… Ia, Diaz. Kak Al tanpa sengaja menembak kepalanya,


tapi ia reflek melindungiku, dia akan melukaiku, itu pun kakakku saja sudah


kena tusukannya cukup dalam dan lebar.” Queen yang semula sudah mulai tenang


kini ia kembali menangis lagi saat mengingat kenytaan kalau kakakknya kini ada


di kangtor polisi.


Sedangkan Diaz juga merasa aneh dengan peristiwa ini.


Pemberitaan tidak viral tapi kok bisa polosi ikut campur. Apakah salah satu


keluarga Adit ada yang tidak terima dan melaporkannya secara diam-diam? Pikir Diaz.


“Queen, kamu tenang, ya? Aku akan bantu kamu membuktikan


kalau kak Al tidak salah,” uca Diaz, berusaha menenagkan wanitanya.


🍀🍀🍀


Mendengar kabar duka kematian mantan suami cukup membuat


Novita bersedih, meskipun dengan begitu, artinya ia juga sudah terbebas dari


bahaya yang mengancamnya setiap waktu. Ia tetap menangis saat ibu mertuanya


mengabarinya lewat telfon.


“Novi, sudah jangan sedih. Mungkin ini juga sudah takdirnya,


kau jika ingin kembali ke Indo, kembalilah, Nak!Tempati rumah itu lagi, itu


juga akan jadi milik Axel nantinya,” ucap Livia berusaha menenangkan Novi.


“Iya, Ma. Novi ingin pulang ke Indo saja. Apakah Mama ada


niatan menetap lagi di Jakarta?” tanya Novita sambil sesenggukan.


“Belum tahu, Nov. Kami di sini akan menunggu sampai empat


puluh harinya Adityua dulu, barulah kami akan putuskan, ke Bandung , atau


kembali menempati rumah kami yang ada di Jakarta.”


“Mama, ada apa? Siapa yang telfon?”


Novita menyeka air matanya, dengan cepat ia menoleh ke


belakang. “Axel, Sayang. Kau sudah bangun, Nak?”


Bocah itu masih mematung di tempatnya, entah sudah berapa


lama dia ada di sana, ada yang ia dengar apa tidak dari percakapan ibunya


melalui telfon tadi.


“Halo, Nov. Apakah itu Axel?” tanya wanita itu dari seberang


saat ia menangkap suara anak kecil dari balik telefon.


“Iya, Ma. Dia sudah bangun. Novi akan mempersiapkan


perjalanan ke Indo hari ini dan akan menghubungi kalian lagi setelah kami siap,


Ma.” Wanita itu pun mematikan panggilannya. Dilettakannya gawainya di atas


berjongkok di depan Axel, sehingga untuk melihat putranya ia pun harus mendongak.


Keduanya saling tatap tanpa sepatah katapun sehingga


mengundang sunyi dan sepi.


“Papa meminggal ya, Ma?” ucap bocah itu membuka percakapan,


Dari suaranya, jelas sebenarnya ia rapuh, namun bocah itu tetap berpura-pura


tegar seolah ia sudah menerima kenyataan dan tak terbebani.


Seketika itu juga tangis Novita pun pecah, wanita itu


menangis sambil meraih putranya dan memeluknya erat. “Kau mendengar percakapan


kami, tadi Nak? Axel yang kuat, ya?”


“Axel akan kuat dan tidak akan menjadi lemah, Ma. Tenang


saja. Axel kan anak pertama, Axel akan bantu mama jaga calon adikku sampai dia


lahir ke dunia nanti.”


Jawaban yang keluar dari bocah itu sungguh seperti ucapan


orang dewasa saja. Novita terasa kian tercabik-cabik saja hatinya mendengar


jawaban itu. Sungguh yang orang katakana tentang Axel, dia dewasa sebelum


waktunya.


***Flasback


Beberapa hari terakhir Novita merasa pusing mual bahkan


dalam seminggu ini ia sempat dua kali pingsan. Bersama dengan Axel, ia pun


bergi ke dokter, ia memang akhir-akhir ini terlalu sibuk dan banyak


begadang  demi menyiapkan makanan


pelanggan agar paginya datang tepat waktu, jadi ia berfikir terlalu Lelah atu


mungkin juga darah rendah.


Tapi, siapa sangka, kenyataannya tidak demikin. Dokter


memang menyarankan untuk beristirahat yang cukup. Dia juga memang sedang darah


rendah tapi ada alasan lain yang membuat dirinya drop.


“You are too tired, don’t  force your self to work hard. Get some rest take care of your fetus’s


condition. Where is your huband not participacing? Is he your son?” (Anda terlalu


Lelah, jangan memaksakan diri untuk bekerja keras. Beristirahatlah, jaga


kondisi janinmu. Di mana suamimu kok tidak ikut? Oh apakah dia putramu?) ucap


Dokter tiu saat pandangannya tertuju pada Axelyang ikut masuk ke ruang priksa.


Novita shock dan hampir tak mempercayai keterangan dokter


itu. Ia berfikir jika dokter itu salah, sebab malam sebelum ia melakukan


hubungan badan yang terakhir kalinya dengan mantan suami ia sudah mmenimun obat


anti hamil.


“Yes, he is my son"(ya, dua adalah putraku,” jawab Novita


sambil melirik kea rah Axel yang duduk tenag namun memperhatikan mereka berdua


yang tengah berbicara dalam bahasa ingris itu.


“Doctor, aren’t you misdiagnosed? How could I be prignad? Before

__ADS_1


I had sex I was taking anti-pregnancy drugs," ( Dokter apakah kau tidak salah


diagnosa? Mana mungkin saya hamil? Sebelum saya melakukan hubungan badan, saya


sudah minum obat anti hamil,),’’ tanya Novita dengan mimik wajah yang


sungguh-sungguh tidak percaya.


“My be the medicine you take doesn’t work Women fertility levels


are different, let alone anti-prignancy drugs,which are injek and spiral


sometimes they still concede. If you are not sure, you can try the test your


self at home,"( mungkin obatnya tidak mempan, sebab tingkat kesuburan itu


beda-beda, jangankan obat anti hamil, yang melakukan kb suntik, atau


spriral saja masih ada yang kebobolan, jika anda kurang yakin, silahkan cek


sendiri di rumah,” jawab dokter itu, sambil menuliskan resep untuk dia tebus di


apotek,


Novita tidak mau berdebat lagi, usia kandungan juga sudah


satu bulan lebih, hanya saja yang ia sesalkan kenapa, ia harus hamil? Kenapa


tidak mau menurut dengan ibu mertuanya yang memintanya untuk suntik kb? Hanya


satu kali saja tak akan membuat tubuh indahnya juga jadi melar, kan? Dan kenapa


ketika ia mengetahui jika ia mengandung anak Aditya saat surat cerai sudah jadi


dan beberapa hari yang lalu sudah ia dan Aditya terima?


***Comeback.


“Terimakasih ya sayang? Tetaplah jadi anaknya mama yang baik,”


ucap Novita berkali-kali menciumi putranya.


“Tentu saja, aku juga akan jadi kakak yang baik untuk adikku


nanti, Ma. Karena papa sudah tidak bisa menjaganya, maka akulah yangakan menjaga


dan melindungi dia dengan baik.”


Lagi-lagi  Novita


terharu dengan perkatakan Axel.


“sayang, kau betah tinggal di sini, apa ingin kembali ke


Indonesia? Kau juga bisa kembali ke sekolahanmu yang lama di sana.”


“Aku mau kembali ke Indonesia saja, Ma. Di sana aku bisa


bermain dengan teman-teman lamaku, dan bahkan aku juga bisa setiap saat olah


raga bersama om Alex,” jawab bocah itu dengan binar mata yang cerah, namun kesedihan


atas kehilangan sang ayah masih saja tak bisa ia sembunyikan. Sebab, selama ini


Aditya sangat menyayangi putranya dan menjaganya dengan baik. Bahkan di


sela-sela kesibukannya, pria itu masih saja ada cukup waktu menemani sang


jagoan, entah menamani bermain, belajar, atau sekedar bercengrama sambil


menunggu senja.


🍀🍀🍀🍀


Seolah tidak sabar menunggu esok, dalam kondisi masih lemah,


Queen ingin segera mengumpulkan bukti-bukti kalau memang kakaknya tidak


bersalah sepenuhnya.


Malam itu juga, Queen meminta izin pada kakeknya untuk pergi


ke rumah Adita untuk mngecek rekaman cct rumahnya, Dengan ia akan melakukan


pelecehan terhadap dirinya dan menyerang Diaz, sudah dapat dibuktikan kalau dia


adalah psychopath. Tidak hanya itu, Queen juga curiga dengan bangunan di tengah


hutan itu yang katanya terhubung dengan rumahnya. Ia yakin ada sesuatu di sana,


terlebih ia juga mendengar suara teriakan wanita. Sepertinya ada dua orang yang


masih di skap di sana.


“Kamu ma ke mana, Queen mala-malam begini, ingat lah


kondisimu juga masih lemah.”


“Aku harus pergi ke tempat Aditya, Kek,” jawab Queen.


“Semalam ini? Untuk apa? Tunggu, biar kakek hubungi Vico.


Kau tidak boleh pergi sendirian malam-malam begini.”


Queen merasa tak sabar dan tak ingin mengulur waktu lagi, Ia


pun  tetap memaksa pergi dan berpesan pada


kakek agar Vico menyusulnya ke tempat Aditya saja.


Namanya Queen jika sudah jadi kemauannya, siapapun juga akan


sulit mencegahnya. Wanita muda itu tetap pergi mengemudikan mobil sendiri. Ia tak


ingin kakaknya terlalu lama menunggu dirinya mengumpulkan bukti bahwa ia tidak


bersalah. Ia ingin kakaknya kembali pulang, dengan begitu saat urusan beres, ia bisa pergi ke Bandung untuk menemui Diaz.


Tiba di sana, Queen sedikit terkejut saat melihat kondisi


rumah Aditya ramai dengan keluarganya. Queen tidak kenal siapapun selain kedua


orang tua Aditya saja. Mereka pasti akan marah dan naik darah saat melihatnya. Bagaimana pun, Queen merasa kalau mereka pasti akan menyalahkan dirinya. karena dia Aditya terbunuh, terlebih kakaknya yang membunuhnya.


“Gawat, benar kata kakek, aku tidak boleh sendiri, aku harus


membawa orang yang kuat bersamaku. Mereka pasti tidak akan percaya begitu saja


kalau yang dilakukan kakakku hanyalah reflek melindungi diri. Jika percaya dan


sudah terima, mengapa harus melapor pada polisi?’’


Setelah sepuluh menit berfikir, akirnya Queen punya ide. Dengan


cepat ia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan menghunbungi nomor Vico


sambil memutar balik mobilnya.


“Halo, Kak Vico, kamu ada di mana?”


“Aku perjalanan ke rumah Aditya, kamu masih di sana?”


“Tidak, aku harus ke kantor polisi sekarang juga, Kak.”


“Kenapa harus berurusan dengan polisi, sih Queen. Kamu bisa


gunakan anak buah kakakmu untuk memaksa mereka agar mengizinkan melihat dan


mengambil,bukti cctv itu.”


“Kak, masalahnya ini sudah dengan hukum, kakakku ada di


kantor polisi, Aku bisa saja meminta seluruh anak buah kakakku untuk


membebaskan dengan cara mafia yang biasa kalian pakai di Jepang, tapi, apa kesan


masarakat terhadap kakakku nanti? Di sini dia putra pemilik dua perusahaan


ternama, bukan ketua mafia.


Kau mau ikuti intruksiku atau tidak, jika tidak lebih baik

__ADS_1


pulang saja sana!” ucap Queen dengan jengkel. Lali begitu saja mematikan telfonnya setelah puas memaki Vico.


__ADS_2