
Nayla menatap Queen dengan pandangan dan sorot mata penuh
dengan kebencian. Queen tidak mau terfokus dengan alasan Nayla membencinya
karena membuat Al jadi berurusan dengan polisi. Tapi, ia fokus dengan apa yang
tadi kakek Andrean katakana di bawah.
“Yang membuat kaka Al berurusan dengan polisi kelihatannya
aku, karena dia terilbat saat menolongku. Tapi, akar masalah dan penyebabnya
adalah kau sendiri yang menyeret suamimu ke penjara!” seru Queen dengan marah.
“Bagaimana mungkin? Kurasa kau sudah tidak waras jika
berfikir demikian.”
“Oh, ya? Aku yang tidak waras atau pikiranmu saja yang
terlalu dangkal? Coba, aku tanya. Apa maksut dan tujuanmu meminta diam-diam
orang yang diperintahkan kakakku untuk mengawasiku kau suruh mereka agar
menghentikan pekerjaannya itu? Apa agar jika ada yang menculikku mereka tidak
tahu? Agar aku hilang? Kurasa dalang di balik semua ini adalah kau. Kau bekerja sama dengan Aditya. Berani
sekali kau melakukan itu pada adik suamimu?”
“Heh, mungkin jika
kau tidak ada, aku bisa kembali jadi prioritas utama mas Al,” jawab Nayla,
tanpa penyangkalan sedikitpun atas apa yang dikatakan Queen.
“Kau cemburu sama aku? Ingat, kami ini baersaudara,
pikiranmu saja yang terlalu buruk.”
“Ya, tapi kalian saudara angkat saja, kan?”
“Queen diam sesaat tidak berbicara apapun. Ia menyiapkan
sesuatu, lalu kemudian ia melangkah mendekati Nayla dan kembali menanyakan hal
yang baru saja ia tanyakan.
“Kau bekerja sama dengan Aditya, Kau suruh orang menculikku
dan Aditya berlaku sepolah-olah dia akan menyelamatkanku tapi, sebenarnya yang
kau mau adalah sebaliknya, benar?”
“Hehm, ternyata kau bisa tahu hanya sedikit kalimat dari
kakek, ya? Ya aku benci sama kamu, karena kamu mas Al lebih meprioritaskan
dirimu, dia jadi tidak peduli denganku meski sekeras apapun aku berusaha juga
percuma, karena di matanya hanya kau saja yang Nampak, sementara aku tidak.”
“Kau jangan terlalu memikirkan ini, harusnya jika cerdas,
kau bisa berfikir akar masalahnya adalah dirimu sendiri, jika saja aku tetap
dalam pengawasan mereka, aku akan dengan cepat ditemukan, Diaz juga kakak
tidak akana jadi korban dan seharusnya yang menerima tamparan di sini adalah
kamu bukan aku,” kawab Queen.
Tanpa mengulur waktu ia langsung menampar keras pipi kiri
Nayla, bahkan tamparannya lebih keras dari yang ia rasakan. “ini unttuk
kesalahanmu,” ucapnya sambil menampar pipi kiri dan kanan sebanyak lima kali.
“PLAK!”
“itu kukembalikan tamparanmu barusan.”
“PLAK!”
“Lalu ini anggap saja aku lakukan untuk kekasihku, Diaz.”
“PLAK!”
“Ini, untuk kak Al yang kini ada di kantor polisi.”
“PLAK!”
“Ini untuk kelancanganmu.”
“PLAK!” terakir tamparan yang sangat keras sampai hidung Nayla berdarah, bahkan
tangan Queen pun juga sebenarnya sampai panas saat menampar sekeras itu.
“Itu, karena kau telah berani menantangku, anggap saja mulai
saat ini kita bertarung, dan perlu kau ingat, jika saja kau bukan istri dari
kakakku aku pasti sudah membuatmu busuk di penjara, tapi aku tidak akan
melakukan itu selama kak Al masih suamimu.”
“Beraninya kau Queen?” ucap Nayla sambil menyeka darah di
hidungnya dan memegangi kedua pipinya yang sakit.
“Kenapa tidak? Apakah kau mau dipenjara?”
“Hahaha, kau mau memenjarakanku? Yang ada aku akan melaporkan balik dirimu atas
Kasus kekerasan dan penganiayaan.”
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan bukti ini?” Queen pun
mengeluarkan ponselnya daan memutar hasil rekaman yang baru ia dapatkan dari
suara Nayla sampai ia menamparinya.
Bahkan suara tamparan itu juga masuk dalam rekaman itu.”
Nayla benar-benar mati kutu di buatnya, ia tidak berkutik
dan tidak bisa melakukan apapun.
“Jika kau punya malu, keluar dari kamarku. Dan, ya, harusnya
sebelum cari masalah kau ini harusnya berfikir. Kurasa kau selama ini juga
tidak buta siapa kakakku, kan? Dan aku ini adalah adiknya. So, sedikit banyak
juga aka nada kesamaan sifat dan karatkter lah dengan kak Al. karena kami hidup
dan tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama dididik pun juga dengan
orang tua dan kasih sayang yang sama.”
Tanpa berfikir Panjang Nayla pun pergi meninggalkan Queen.
Queen diam sesaat, ia tidak menyangka kalau Nayla bisa
berubah seperti itu. Tak mau membuang waktu, wanita itu pun menelfon Diaz, dan
menanyakan kebenarnayya ia ada di Bandung atau tidak, karena bagaimana pun Diaz
juga bisa dijadikan saksi yang kuat atas kasus ini untuk membuktikan kalau
Aditya dulu lah yang melakukan pnyerangan.
“Halo, Diaz, kamu di mana sekarang?’’ tanya Queen begitu
pria itu mengangkat panggilannya.
“Queen, kau sudah kembali? Bagaimana kondisimu?” tanya Diaz
Nampak kawatir.
“Aku baik-baik saja, Diaz. Tapi kak Al…”
__ADS_1
“Kenapa dengan dia?”
“Polisi membawanya dengan tuduhan pembunuhan terhadaap Aditya.”
“Innalillahi… Jadi Aditya mati, Queen?” tanya Diaz. Walau
pun ia juga sangat marah dengan apa yang pria itu coba lakukan pada wanitanya.
Tapi, saat mendengar berita kematian dosen sekaligus seniornya itu juga ada
rasa kehilangan di hatinya. Bagaimana pun Aditya adalah sosok yang dikenal
publik sebagai dokter baik, cedas dan berprestasi. Tapi, jiwa psycopatnya
sangatlah disayangkan.
“iya… Ia, Diaz. Kak Al tanpa sengaja menembak kepalanya,
tapi ia reflek melindungiku, dia akan melukaiku, itu pun kakakku saja sudah
kena tusukannya cukup dalam dan lebar.” Queen yang semula sudah mulai tenang
kini ia kembali menangis lagi saat mengingat kenytaan kalau kakakknya kini ada
di kangtor polisi.
Sedangkan Diaz juga merasa aneh dengan peristiwa ini.
Pemberitaan tidak viral tapi kok bisa polosi ikut campur. Apakah salah satu
keluarga Adit ada yang tidak terima dan melaporkannya secara diam-diam? Pikir Diaz.
“Queen, kamu tenang, ya? Aku akan bantu kamu membuktikan
kalau kak Al tidak salah,” uca Diaz, berusaha menenagkan wanitanya.
🍀🍀🍀
Mendengar kabar duka kematian mantan suami cukup membuat
Novita bersedih, meskipun dengan begitu, artinya ia juga sudah terbebas dari
bahaya yang mengancamnya setiap waktu. Ia tetap menangis saat ibu mertuanya
mengabarinya lewat telfon.
“Novi, sudah jangan sedih. Mungkin ini juga sudah takdirnya,
kau jika ingin kembali ke Indo, kembalilah, Nak!Tempati rumah itu lagi, itu
juga akan jadi milik Axel nantinya,” ucap Livia berusaha menenangkan Novi.
“Iya, Ma. Novi ingin pulang ke Indo saja. Apakah Mama ada
niatan menetap lagi di Jakarta?” tanya Novita sambil sesenggukan.
“Belum tahu, Nov. Kami di sini akan menunggu sampai empat
puluh harinya Adityua dulu, barulah kami akan putuskan, ke Bandung , atau
kembali menempati rumah kami yang ada di Jakarta.”
“Mama, ada apa? Siapa yang telfon?”
Novita menyeka air matanya, dengan cepat ia menoleh ke
belakang. “Axel, Sayang. Kau sudah bangun, Nak?”
Bocah itu masih mematung di tempatnya, entah sudah berapa
lama dia ada di sana, ada yang ia dengar apa tidak dari percakapan ibunya
melalui telfon tadi.
“Halo, Nov. Apakah itu Axel?” tanya wanita itu dari seberang
saat ia menangkap suara anak kecil dari balik telefon.
“Iya, Ma. Dia sudah bangun. Novi akan mempersiapkan
perjalanan ke Indo hari ini dan akan menghubungi kalian lagi setelah kami siap,
Ma.” Wanita itu pun mematikan panggilannya. Dilettakannya gawainya di atas
berjongkok di depan Axel, sehingga untuk melihat putranya ia pun harus mendongak.
Keduanya saling tatap tanpa sepatah katapun sehingga
mengundang sunyi dan sepi.
“Papa meminggal ya, Ma?” ucap bocah itu membuka percakapan,
Dari suaranya, jelas sebenarnya ia rapuh, namun bocah itu tetap berpura-pura
tegar seolah ia sudah menerima kenyataan dan tak terbebani.
Seketika itu juga tangis Novita pun pecah, wanita itu
menangis sambil meraih putranya dan memeluknya erat. “Kau mendengar percakapan
kami, tadi Nak? Axel yang kuat, ya?”
“Axel akan kuat dan tidak akan menjadi lemah, Ma. Tenang
saja. Axel kan anak pertama, Axel akan bantu mama jaga calon adikku sampai dia
lahir ke dunia nanti.”
Jawaban yang keluar dari bocah itu sungguh seperti ucapan
orang dewasa saja. Novita terasa kian tercabik-cabik saja hatinya mendengar
jawaban itu. Sungguh yang orang katakana tentang Axel, dia dewasa sebelum
waktunya.
***Flasback
Beberapa hari terakhir Novita merasa pusing mual bahkan
dalam seminggu ini ia sempat dua kali pingsan. Bersama dengan Axel, ia pun
bergi ke dokter, ia memang akhir-akhir ini terlalu sibuk dan banyak
begadang demi menyiapkan makanan
pelanggan agar paginya datang tepat waktu, jadi ia berfikir terlalu Lelah atu
mungkin juga darah rendah.
Tapi, siapa sangka, kenyataannya tidak demikin. Dokter
memang menyarankan untuk beristirahat yang cukup. Dia juga memang sedang darah
rendah tapi ada alasan lain yang membuat dirinya drop.
“You are too tired, don’t force your self to work hard. Get some rest take care of your fetus’s
condition. Where is your huband not participacing? Is he your son?” (Anda terlalu
Lelah, jangan memaksakan diri untuk bekerja keras. Beristirahatlah, jaga
kondisi janinmu. Di mana suamimu kok tidak ikut? Oh apakah dia putramu?) ucap
Dokter tiu saat pandangannya tertuju pada Axelyang ikut masuk ke ruang priksa.
Novita shock dan hampir tak mempercayai keterangan dokter
itu. Ia berfikir jika dokter itu salah, sebab malam sebelum ia melakukan
hubungan badan yang terakhir kalinya dengan mantan suami ia sudah mmenimun obat
anti hamil.
“Yes, he is my son"(ya, dua adalah putraku,” jawab Novita
sambil melirik kea rah Axel yang duduk tenag namun memperhatikan mereka berdua
yang tengah berbicara dalam bahasa ingris itu.
“Doctor, aren’t you misdiagnosed? How could I be prignad? Before
__ADS_1
I had sex I was taking anti-pregnancy drugs," ( Dokter apakah kau tidak salah
diagnosa? Mana mungkin saya hamil? Sebelum saya melakukan hubungan badan, saya
sudah minum obat anti hamil,),’’ tanya Novita dengan mimik wajah yang
sungguh-sungguh tidak percaya.
“My be the medicine you take doesn’t work Women fertility levels
are different, let alone anti-prignancy drugs,which are injek and spiral
sometimes they still concede. If you are not sure, you can try the test your
self at home,"( mungkin obatnya tidak mempan, sebab tingkat kesuburan itu
beda-beda, jangankan obat anti hamil, yang melakukan kb suntik, atau
spriral saja masih ada yang kebobolan, jika anda kurang yakin, silahkan cek
sendiri di rumah,” jawab dokter itu, sambil menuliskan resep untuk dia tebus di
apotek,
Novita tidak mau berdebat lagi, usia kandungan juga sudah
satu bulan lebih, hanya saja yang ia sesalkan kenapa, ia harus hamil? Kenapa
tidak mau menurut dengan ibu mertuanya yang memintanya untuk suntik kb? Hanya
satu kali saja tak akan membuat tubuh indahnya juga jadi melar, kan? Dan kenapa
ketika ia mengetahui jika ia mengandung anak Aditya saat surat cerai sudah jadi
dan beberapa hari yang lalu sudah ia dan Aditya terima?
***Comeback.
“Terimakasih ya sayang? Tetaplah jadi anaknya mama yang baik,”
ucap Novita berkali-kali menciumi putranya.
“Tentu saja, aku juga akan jadi kakak yang baik untuk adikku
nanti, Ma. Karena papa sudah tidak bisa menjaganya, maka akulah yangakan menjaga
dan melindungi dia dengan baik.”
Lagi-lagi Novita
terharu dengan perkatakan Axel.
“sayang, kau betah tinggal di sini, apa ingin kembali ke
Indonesia? Kau juga bisa kembali ke sekolahanmu yang lama di sana.”
“Aku mau kembali ke Indonesia saja, Ma. Di sana aku bisa
bermain dengan teman-teman lamaku, dan bahkan aku juga bisa setiap saat olah
raga bersama om Alex,” jawab bocah itu dengan binar mata yang cerah, namun kesedihan
atas kehilangan sang ayah masih saja tak bisa ia sembunyikan. Sebab, selama ini
Aditya sangat menyayangi putranya dan menjaganya dengan baik. Bahkan di
sela-sela kesibukannya, pria itu masih saja ada cukup waktu menemani sang
jagoan, entah menamani bermain, belajar, atau sekedar bercengrama sambil
menunggu senja.
🍀🍀🍀🍀
Seolah tidak sabar menunggu esok, dalam kondisi masih lemah,
Queen ingin segera mengumpulkan bukti-bukti kalau memang kakaknya tidak
bersalah sepenuhnya.
Malam itu juga, Queen meminta izin pada kakeknya untuk pergi
ke rumah Adita untuk mngecek rekaman cct rumahnya, Dengan ia akan melakukan
pelecehan terhadap dirinya dan menyerang Diaz, sudah dapat dibuktikan kalau dia
adalah psychopath. Tidak hanya itu, Queen juga curiga dengan bangunan di tengah
hutan itu yang katanya terhubung dengan rumahnya. Ia yakin ada sesuatu di sana,
terlebih ia juga mendengar suara teriakan wanita. Sepertinya ada dua orang yang
masih di skap di sana.
“Kamu ma ke mana, Queen mala-malam begini, ingat lah
kondisimu juga masih lemah.”
“Aku harus pergi ke tempat Aditya, Kek,” jawab Queen.
“Semalam ini? Untuk apa? Tunggu, biar kakek hubungi Vico.
Kau tidak boleh pergi sendirian malam-malam begini.”
Queen merasa tak sabar dan tak ingin mengulur waktu lagi, Ia
pun tetap memaksa pergi dan berpesan pada
kakek agar Vico menyusulnya ke tempat Aditya saja.
Namanya Queen jika sudah jadi kemauannya, siapapun juga akan
sulit mencegahnya. Wanita muda itu tetap pergi mengemudikan mobil sendiri. Ia tak
ingin kakaknya terlalu lama menunggu dirinya mengumpulkan bukti bahwa ia tidak
bersalah. Ia ingin kakaknya kembali pulang, dengan begitu saat urusan beres, ia bisa pergi ke Bandung untuk menemui Diaz.
Tiba di sana, Queen sedikit terkejut saat melihat kondisi
rumah Aditya ramai dengan keluarganya. Queen tidak kenal siapapun selain kedua
orang tua Aditya saja. Mereka pasti akan marah dan naik darah saat melihatnya. Bagaimana pun, Queen merasa kalau mereka pasti akan menyalahkan dirinya. karena dia Aditya terbunuh, terlebih kakaknya yang membunuhnya.
“Gawat, benar kata kakek, aku tidak boleh sendiri, aku harus
membawa orang yang kuat bersamaku. Mereka pasti tidak akan percaya begitu saja
kalau yang dilakukan kakakku hanyalah reflek melindungi diri. Jika percaya dan
sudah terima, mengapa harus melapor pada polisi?’’
Setelah sepuluh menit berfikir, akirnya Queen punya ide. Dengan
cepat ia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan menghunbungi nomor Vico
sambil memutar balik mobilnya.
“Halo, Kak Vico, kamu ada di mana?”
“Aku perjalanan ke rumah Aditya, kamu masih di sana?”
“Tidak, aku harus ke kantor polisi sekarang juga, Kak.”
“Kenapa harus berurusan dengan polisi, sih Queen. Kamu bisa
gunakan anak buah kakakmu untuk memaksa mereka agar mengizinkan melihat dan
mengambil,bukti cctv itu.”
“Kak, masalahnya ini sudah dengan hukum, kakakku ada di
kantor polisi, Aku bisa saja meminta seluruh anak buah kakakku untuk
membebaskan dengan cara mafia yang biasa kalian pakai di Jepang, tapi, apa kesan
masarakat terhadap kakakku nanti? Di sini dia putra pemilik dua perusahaan
ternama, bukan ketua mafia.
Kau mau ikuti intruksiku atau tidak, jika tidak lebih baik
__ADS_1
pulang saja sana!” ucap Queen dengan jengkel. Lali begitu saja mematikan telfonnya setelah puas memaki Vico.