
Tiga bulan sudah berlalu. Sudah
tujuh kali dengan cara sembunyi-sembunyi Lyli memberi pelayanan pribadi pada
dokter mesum di rsj tempat ia bekerja sebagai pelayan untuk menembus hutang.
Tanpa di sangka, si tua bangka itu pun benar-benar menepati janjinya. Ia
membebaskan Lyli dari tempat yang baginya mirip penjara ini. Sekalipun dia bisa
bebas makan dan menikmati hidup di sini, tapi, Sebagian besar juga orang gila penghuninya.
Yang ada dia juga akan ketularan edan seperti para pasien, karena terlalu
teropsesi untuk mendapatkan Al kembali. Dia tidak terima Al bisa bahagia dengan
wanita lain. Baginya, jika ia tidak bisa memiliki maka tak ada satu pun wanita
yang boleh memilikinya. Sekalipun itu Nayla yang dia kira adalah istrinya dan
juga Queen, yang dulu, berstatus adik angkat yang kini malah jadi selingkuhan.
“Kamu tanda tangan di sini!” seru
dokter Darto sambil melemparkan sebuah berkas di hadapan Lyli.
“Apa ini, Dok?” Lyli meraih berkas
itu, membuka tiap lembarannya dan mulai membaca satu demi satu tulisan yang tertera di sana.
“Hahaha. Itu adalah perjanjian
hitam di atas putih. Baca dulu, resapi. Jangan sampai kau lupakan itu, karena
aku tidak menyukai pelanggaran sekecil apapun,” ucap pria itu, sambil tertawa dengan penuh arogan.
Lyli melotot membaca isi surat
tersebut. Memang tidak ada yang ambigu di dalam setiap kalimat yang ada di
sana. Tapi, jika di pikir-pikir itu sangat menguntungkan si tua itu. bagaimana
tidak? Dia seperti di beli sebagai budak sex nya saja. Sebab di sana tertulis
selama masih hidup, atau selama pak Darto belum bosan, Lyli atau Bunga akan
tetap menjadi simpanannya dan tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain
tanpa terkecuali. Dia harus patuh terhadap perintahnya dan tak boleh menolak.
“Kenapa, Bunga? Aku tidak memaksamu
untuk bersedia. Cuma, aku jamin aku bisa bantu membalaskan dendammu pada dokter
cantik itu. tapi, jika tidak ya sudah bekerjalah seumur hidupmu di sini. Sampai
kau mati juga belum tentu bisa lunas.” Pria itu melangkah hendak meninggalkan
Lyli pergi untuk membiarkan berfikir dan mempertimbangkan. Tapi, beberapa
Langkah kemudian ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dan
berkata, “Jangan pernah berfikir untuk bisa melaporkanku cabul terhadapmu. Kita
mau sama mau, karena setiap aku menyetubuhimu juga aku selalu memberimu uang,
bukan? Itu lebih dari cukup jika hanya untuk membayar orang yang sepeeti dirimu.”
Lyli menggembrak meja setelah
membanting berkas tersebut. Ia merasa kesal. “Kenapa aku dari dulu selalu sial, sih? Lalu, kenapa yang beruntung selalu si ****** Queen itu?” umpat Lyli seorang diri.
akhirnya dengan kesal dan pertimbangan yang matang ia menandatangi surat
perjanjian itu, tak peduli jika harus jadi budak sex oleh pria tua itu seumur
hidup. Yang penting dia bisa balas dendam cukup baginya.
Setelah menandatangani itu, ia
beranjak mencari dokter tua itu untuk menyerahkan surat tersebut ke padanya kembali.
“Hahaha. Sudah kuduga itu, Bunga.
Kau tak ada pilihan. Tenang. Di sana juga sudah tertera bukan kalau aku akan
bantu kamu membalskan dendam pada pelaku yang melecehkan mu beramai-ramai.”
Lyli tidak menunjukkan ekspresi
senang sedikitpun, ia melipat kedua tangan di depan dadanya dan membuang muka
menghindari tatapan mata si cabul yang berada di depannya itu.
“Kemarilah!” ucap pria itu sambil membuka tas kerjanya.
“Kau tetap tenang di sini. Kita
main cantik saja, kau tak ingin dikata jual diri demi menebus hutang-hutang mu di sini, bukan?”
Lyli hanya diam tidak menjawab.
Melihat sisi lembut pria tua di depannya itu, hatinyan terasa tersentuh. Tapi,
dengan cepat ia segera menepis perasaan itu. dia tidak mau iba. Bagaimana pun,
pria tua dihadapannya ini tetap lah lawannya. Ia mau bekerja sama juga demi
tujuannya.
“Nanti akan ada seorang yang akan
datang mengaku sebgai keluargamu. Dia kemari untuk menebus utang-utangmu dan
membawamu pergi dari sini. Dan kau cukup patuh padanya, apapun yang kau butuhkan
minta padanya. Jangan pernah berfikir untuk kabur, megerti?”
“Baik, Pak. Saya mengerti,” jawab
Lyli lirih. Tiba-tiba saja dia teringat ayah ibu dan jga satu-satunya kakak
yang baru bertemu tapi, mereka tewas dibunuh secara sadis oleh anak buah Al di
depan mata kepalanya sendiri.
Setelah seorang wanita datang mengaku sebagai
tante dari Lyli ke rumah sakit, ia pun membawa gadis itu pergi setelah melunasi
utangnya sebayak empat ratus tiga puluh enam juta.
“Kamu, ya yang Namanya Bunga?”
tanya wanita itu dengan datar. Pandangan matanya penuh dengan intimidasi dan
mata yang menyorot tajam membuat nyali Lyli menjadi menciut.
“Iya, saya,” jawabnhya lirih.
“Bikin perjanjian dengan pak Darto
jangan berfikir untuk lari dan mengingkarinya. Atau, kau akan mati dengan
tragis,’' ucap wanita itu.
“Saya menegerti,” jawab Lyli sambil
menatap kosong ke depan. Ia tak ada keberanian memandang gadis dengan rambut
panjang lurus diikat tinggi, mengenakan lengan panjang pres body serba hitam,
membuat aura ketegasannya kian memancar kuat. ‘Siapa wanita ini sebenarnya? Apakah
dia juga seorang budak sek? Sepertinya bukan.
Sekitar satu jam menempuh
perjalanan, mobil yang ia naiki berhenti di sebuah rumah megah berpagar besi
tinggi. Sehingga kemewahan yang ada di dalamnya tidak nampak selain atap bagian
atas dan teras atas yang dihiasi oleh batu alam membuat suasana rumah itu terlihat wah walau tak berkulauan.
“Mulai sekarang kau tinggal di
__ADS_1
sini. Apapun yang kau butuhkan katakana padaku. Aku akan mendapatkannya
untukmu,'’ ucap wanita itu lagi setelah memasuki ruangan.
“Baik,” jawab Lyli lagi. Ia
megedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Megah besar dan
luas namun sepi. Hanya ada beberapa pembantu saja yang tengah bekerja.
“Di sini adalah kamarmu. Di dalam
kemari sudah ada beberapa baju. Jika perlu bantuan, minta pada pembantu.”
Wanita yang belum Lyli ketahui siapa Namanya membuka sebuah pintu di dalamnya
ada sebuah kamar tidur dengan kasur ukuran queen size warna coklat plitur dan
kombinasi emas, membuat kasur itu terlihat sangat mewah namun elegant.
‘Gila. Si tua itu ternyata kaya
juga, ya?’ batin Lyli. Tidak hanya tinggal di tempat mewah dan segala fasilitas
yang ada. Makan pun juga mewah. Dia tidak menduga kalau akan hidup seenak ini
di bawah tangan si tua itu. memang sebelumnya ia sudah pernah tinggal di rumah
semewah ini. Tapi, sebagai pembantu. Bukan majikan. Sekalipun di sini ia
hanyalah seorang simpanan, setidaknya dia perlakukan bagaikan seorang ratu.
Bukan babu.
***
“Aduh. Kok sampai berdarah gini,
sih?” ucap Queen lalu buru-buru mengambil tisu yang ada di hadapannya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Clara
panik melihat mulut putrinya berdarah.
“Ini, Ma. Pas makan tiba-tiba
kegigit. Parah banget ini kayaknya,” jawab Queen sambi membersihkan darah pada bubir bawahnya.
“Hati-hati, sana ke kamar mandi
kumurlah. Banyak konsumsi minuman penyegar, buah dan sayur biar tidak sampai
sariawan, Queen,” timpal Vano.
“Iya, Pa.” Queen pun berlari ke kamar mandi. Memang dia tadi
makan daging lumayan alot dan bersemangat. Jadi, saat tergigit pun juga pasti
sakit dan parah. Setelah kumur-kumur dan pendarahan berhenti, Queen mengambil minuman
penyegar yang bisa mencegah sariawan dan panas dalam di dalam lemari es. Setelahnya
dia kembali ke meja makan bersama papa, mama dan juga putrinya.
“Al kapan katanya kembali dari Jepang, Queen?” tanya Clara
setelah melihat putrinya kembali dari belakang.
“Nanti malam juga sudah tiba, Ma. Cuma mengurus beberapa hal dan menghadiri pertemuan
saja kok.”
“Satu bulan terakhir ini dia memang sering pulang pergi ke
Jepang. Apakah dia juga akan seperti dulu lagi? Bakal jarang pulang ke Indo?” timpal Vano. Meski ia terlihat tenang. Tapi, kecemasan terlihat jelas dari raut wajah serta sorot matanya. Queen sendiri tahu, sekalipun Al bukan anak kandung mereka, dan sekarang telah jadi menantu, rasa sayangnya setara dengan rasa sayangnya pada Queen.
“Sepertinya tidak Pa. kan sekarang apapun bisa dengan system
online. Ini hanya karena ada tamu besar saja. Jadi, Al mau tidak mau harus
menemuinya sendiri katanya.
“Ya sudah lah. Lanjutkan makan dulu.”
“Assalamualaikum,” suara dari luar.
urung. Ia merasa itu adalah suara suaminya. Tapi, bukankah dia bilang
nanti malam baru akan datang? Ini masih siang. Seketika wanita itu menoleh dan melihat ke
belakang ternyata benar. Suaminya sudah berdiri sambil tersenyum meski wajahnya lelah.
“Aal, bukankah kau bilang baru nanti malam akan sampai?”
ucap Queen yang langsung saja berdiri menghampiri suaminya. Ia langsung memeluk
pria itu menumpahkan kerinduannya. Padahal, baru tiga hari saja mereka tidak
bertemu. Bagaimana kalau sampai satu bulan, atau satu tahun?
“Kalian lagi makan siang, ya? aku Cuma kasih surpieses aja
kok,” jawab Al sambil mengelus itrinya sambil tersenyum tipis.
“Kamu pasti lelah, makan bareng, yuk!”
“Aku kenyang sayang.”
“Minum lah saja dulu, ya?”
Al hanya tersenyum dan mengacak rambut wanita yang lebih
rendah darinya, mungkin kira-kira Queen itu sebahunya saja. Dia memang paling tidak bisa menolak permintaan istrinya. Jadi, tetap ia turuti saja, meskipun sebenarnya ia hanya ingin rebahan saja karena lelah.
“Berlyn, makan apa sayang?” sapa Al ketika menghampiri putrinya.
Setelah cukup lama bercengkrama dengan papa mama dan juga Berlyn, Al pun
memutuskan untuk istirahat sejenak. Siang ini dia tidur bersama Berlyn
putrinya, karena kebetulan hari ini Queen jga tengah praktik siang. Jadi, saat
semuanya tidur dia berangkat. Awalnya Al bersedia untuk mengantarkan dirinya ke
rumah sakit. Tapi, wanita itu menolak karena berfikir kalau suaminya baru saja
tiba dan pasti juga masih sangat lelah.
Kembali Queen melihat mobil Zahara di jalan. Kali ini dia tidak
menggunakan mobil miliknya yang biasa ia pakai. Tapi, ia memamakai milik
papanya sekalian mengisinya bbm. Jadi, sekalipun ia mengikuti, sepertinya
wanita gila itu juga tidak tahu kalau yang ada di dalam mobil itu adalah Queen.
Kali ini Zahara tidak
lagi masuk ke tempat terpencil yang sempat membuatnya terjebak dan menimbulkan
kesalah pahaman antara dia dan juga Alex.
Al memang percaya dengannya. Tapi, Alex yang berhasil
diprivokasi oleh wanita ular itu pun menganggap Queen mengada-ngada kalau
Zahara ke sana. Toh buktinya Alex tidak melihat sama sekali mobil istrinya. Bukti terkuat lagi, semua jalan buntu. Mau lewat mana memang Zahara jika benar ada di depan Queen? Mengenai
foto, dia juga percaya dengan Zahara, Queen sudah merencanakan sesuatu untuk
merusak hubungan mereka. Dengan mengada-ada dan menyewa fotografer untuk
menimbulkan fitnah yang menguntungkan baginya. Bahkan, sampai saat ini
hubungannya dengan Alex mantan suaminya itu juga masih memanas saja. Queen sendiri
juga enggan menjelaskan berulang-ulang. Sayang sekali, kala itu dia tidak
merekam atau memfoto mobil Zahara. Dia juga tidak menyangka kalau wanita itu
bisa selicik itu. sebab, selama ini yang dia ketahui tetang Zahara adalah
aktifis muda yang baik dan kalem.
Tiba di sebuah gang sempit Zahara turun dari mobil dan
__ADS_1
dengan segera masuk sambil buru-buru dan setengah berlari. Tak mau kehilangan
jejaknya untuk yang kedua kali, Queen pun juga bergerak cepat. Ia tak peduli
dengan waktu praktinya. Bahkan, ia sendiri juga tidak sempat meminta izin untuk
tidak masuk. Yang ada dalam kepalanya hanyalah mengungkap apa sebenarnya yang
sudah Zahara sembunyikan selama ini.
Dengan Langkah mengendap-endap, Queen terus membuntuti
wanita itu sampai akhirnya ia masuk ke sebuah bangunan tua dan kosong.
‘Apa yang dia lakukan di sini?’ batin Queen dan terus
mengamati. Kemudian ia terkejut kala melihat pemandangan di depannya. Ia sampai
menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hampir saja ia tidak mempercayai itu.
tapi, nyatanya ia melihanya dengan mata kepalanya sendiri.
“Aku mulai bosan memeliharamu di sini. Tapi, aku harus
bersabar demi janin yang ada dalam perutmu itu, jadi ya terpaksa aku harus rela
mengorbankan sedikit waktuku agar kau tetap hidup,” ucap Zahara pada wanita
yang dipasung itu dengan sombong dan penuh keangkuhan.
“Zara, kau jangan lupakan karma. Jika kau tak yakin karma,
apa yang kau taman itulah yang akan kau petik nantinya,’ ucap wanita yang dipasung itu dengan
lemah.
‘Zara? Siapa dia? Apakah mereka kembar? Itu, Zahara bukan yang
dipasung.’ Batin Queen, kemudian ia dengan segera mengambil ponsel dari dalam
tasnya dan memfotonya, kemudian mengirimkan pada Alex dan juga Al, suaminya,
beruntung di sana ada tempat dan lokasinya. Jadi, mereka bisa memperkkirakan,
toh dia jga selalu mengaktifkan gps telefonnya. Setelah gambar itu terkirim,
Queen tetap bertahan dalam posisinya sambil menunggu suaminya datang. Ia juga
tidak lupa mengirim share lock pada mereka berdua agar melihat sendiri apa
sebenarnya yang terjadi, saat sudah tiba nanti. Terutama Alex yang menganggap dirinya merekayasa dan
penuh siasat.
“Aaaah!” Tanpa sadar Queen tiba-tiba menjerit kala seekor
tikus berjalan cepat dan menabrak kakinya. Rapat-rapat ia menutup mulutnya
kembali dengan kedua tangan. Tapi sayang. Wanita yang bernama Zara itu
sepertinya menyadari kalau ada mata-mata di tempatnya menyekap Zahara yang asli.
“Siapa di sana?” teriak wanita itu penuh dengan amarah.
‘Celaka! Bagaimana ini? Aku tidak mungkin bisa lari juga,
kan? Lalu, bagaimana dengan Zahara yang asli? Kasian dia. Sekalipun wanita itu
tidak akan membunuhnya, tidak mungkin dia tidak memindahkannya,’ pikir Queen
dengan cepat. Akhirnya, demi bisa menyelamatkan wanita yang yang sebenarnya, ia
pun tetap berada di tempatnya.
Zahra berjalan cepat dan melihat di balik tumpukan papan ada
seorang wanita mengenakan pakaian rapi. Tapi, ada hal yang tidak dia duga,
wanita itu langsung berdiri dan mendorong tumbukkan papan hingga merobohi
tubuhnya.
“Hey, sialan kau! Berani kau, ya?” teriak wanita itu marah.
“Siapa kau sebenarnya? Aku sudah mengira, kalau Zahara tidak
seperti itu, dia gadis baik, lain denganmu, kau seperti iblis!” teriak Queen.
Tidak terima dengan apa yang Queen umpatkan padanya, wanita
itu hendak menampar Queen. Tapi, dengan cepat Queen menangkis dan memegang erat pergelangan
tangannya dan malah balik menampari berulangkali pipi kiri dan kanan wanita itu hingga
lebam.
“Siapa kau sebenarnya, kau sangat kelewatan, aku tahu, kau
mau menghancurkan hubunganku dengan semua orang. Bahkan, kau juga merayu
suamiku, kan? Menghasut kalau aku dan Alex selingkuh dan kau ingin mengajknya
selingkuh juga? ingat, pria yang setiap malam menidurimu bukanlah milikkmu, kau
merebut dari pemilik aslinya, dengan pura-pura menjadi dirinya,” ucap Queen tak kalah kesal.
“Ya, aku benci kau dan juga Zahara. Siapapun yang berani
menyaingiku, dia akan kubuat menderita,” teriak wanita itu sambil menendang keras
kaki Queen tepat mengenai tulang keringnya. Sehingga ia pun roboh karena kesakitan.
Melihat lawannya tak berdaya, wanita yang sebenarnya adalah
Zara itu tertawa puas, lalu menyeret tubuh Queen tanpa belas kasihan dan
menginkat kedua tangan dan kakinya bersama Zahara.
Sebenarnya Queen sempat melawan. Tapi, wanita licik itu terus menyerang di area vital Queen. Bahkan yang terakhir ia sempat menendang area ulu hati dan belakang kepala Queen, sehingga wanita itu menjadi tak berdaya.
“Kau pantas di sini menjadi mangsa tikus dan serangga liar. Aku
mau kau mati saja, karena, tak ada satu pun yang bisa aku manfaatkan darimu,”
ucap wanita itu.
Queen hanya diam, menatap tajam pada wanita itu sedangkan
Zahara yang asli hanya menangis dan terus memohon agar melepaskan Queen.
“Zara, lepaskan dia. Kau boleh mengambil anak dan juga suamiku,
bunuhlah aku jika perlu agar kau puas. Tapi, aku mohon lepaskan dia, ya? kita
ini saudara, anggap saja ini permintaan terakhir dari kakakmu, ya?”
“Diam!” bentak Zara sambil menampar keras Zahara yang tubuhnya sudah lemah.
Queen yang melihat itu terkejut.
“Kau jangan beraninya pada yang lemah saja, dasar pengecut!”
ucap Queen.
“Baik, karena kau belum lemah, aku bermain denganmu saja. Lagi
pula, dia juga sedang hamil, bukan?”
Tiba-tiba saja Zara mengeluarkan sebilah pisau dari balik
bajunya. Mungkin juga dia sengaja meyelipkan pada pinggannya, dengan keras ia
menusuk paha Queen hingga dua wanita itu bertariak. Queen kesakitan, sementara
Zahara tidak mampu melihat hal setragis itu di depannya.
“Zara. Yang kau lakukan ini salah. Dia tidak meiliki hubungan denganmu. Atas apa permasalahanmu dia tidak tahu, kenapa kau harus
melibatkan dia?” ucap Zahara sambil terisak. Untuk mendekati Queen saja dia sampai ngesot. Tak mampu berdiri.
“Siapa bilang? Dia berani ikut campur dengan urusanku. Sudah
dua kali dia menguntitku, maka orang seperti ini harus mati!” seru Zahra sambil
mengayunkan pisau di tangannya yang berlumuran darah dengan keras ke arah Queen yang tengah merintih kesakitan
__ADS_1
karena luka pada pahanya cukup dalam dan lebar.
"Zahra, jangan!" teriak Zahara histeris.