Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 35


__ADS_3

Seharian Clara menghabiskan waktu di duduk di taman kompleks perumahan lama di mana ia tinggal dan dibesarkan oleh ibunya.



Sampai waktu menunjukan pukul 14.30, Clara memutuskan untuk pergi, tapi entah mau kemana dia tidak mempunyai tujuan pasti.



Tiba di sebuah tikungan mobil CRV berhenti di depannya, seorang wanita paruh baya turun dari sana berjalan menghampiri Clara.



"Kamu dari mana kok di sini, Ra?"



"Habis dari rumah teman, Ma. Mama dari mana?"



"Mama baru saja jenguk keponakan teman juga, lagi sakit. Ayo bareng sekalian maen ke rumah mama, yuk!" seru Amanda ramah.



Tanpa pikir panjang Clara pun menuruti kemauan ibu kandung suaminya itu.



Di dalam mobil Clara hanya diam, dia memperhatikan wanita di sebelahnya, kalau di lihat-lihat usianya sudah 48 tahunan.


Sementara Andrean sekarang masih berusia 40 tahun.



Meski Amanda masih terlihat muda seperti usia 35-40 tahunan, tapi tetap saja usianya segitu.



"Jadi, papa dulu nikah dengan wanita yang 8 tahun lebih tua darinya, ya?" batin Clara.



"Ra, kok diam saja? Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Amanda membuyarkan lamunan Clara.



"Oh, iya Ma. Tidak apa-apa." Clara pun salting.



"Bagai mana kabar Vano? Apakah dia baik-baik saja?"



"Iya dia baik-baik saja kok, Ma. Cuma akhir-akhir ini dia sibuk."



"Iya, dia nurun ke papanya... Pekerja keras. Andrean pun juga pekerja keras."



"Kan emang Andrean papa Vano,kok kalimatnya ambigu, ya?" batim Clara lagi.



*******



"Sel, tadi pagi aku lihat dia masuk ke mobil kamu,kalian pergi berdua bagaimana bisa kau tidak tahu di mana Clara?" ucap Vano merasa tidak puas dengan jawaban Selly.



"Iya, Kak. Habis itu kita ke kampus terus pas pulangnya Clara uda ga sama aku, nomor dia juga tidak bisa di hubungi."



Selly menjadi serba salah, di sisi lain dia benar benar tidak tahu di mana Clara, sementara saat ini melihat Vano dia juga tidak tega.



"Kak, masuk aja dulu, yuk!"



"Aku coba tanyakan lagi pada Reza. Aku akan kesana," ucap Vano sambil berjalan menuju mobilnya.



Selly hanya memandangi Vano tanpa dapat melakukan apapun, di cobanya lagi menghubungi Clara tapi nomornya masih saja tidak aktif.



Sejak ia datang dirumah Amanda Clara merasa nyaman berada di kamar Vano dulu, meski tal lagi dipakai dan berisi semua barang-barangnya, tempat ini tetap bersih dan terawat.



Seharian ini Vano benar-benar tidak folus dengan pekerjaannya, bahkan hanya sekitar 3 jam saja dia berada di kantor selebihnya dia terus mendatangi rumah sahabat Clara.




"Ra, di mana sih kamu sayang? Pulang lah. Kujawab apa nanti jika papa dan mama nanyain kamu?" gumamnya sabil memandangi foto Clara yang ada di ponselnya.



Di tempat lain, Clara mulai dekat dengan Amanda. Di rumah itu, Amanda banyak menunjukan mainan dan benda-benda yang dulu di sukai oleh Vano. Bahkan Ayunan dan kreta dorong Vano pun, Amanda masih menyimpannya dengan rapi.



Clara mengamati sebuah Album kecil, diraihnya itu lalu duduk di tepi tempat tidur, di mana kamar itu dulu katanya adalah lamar Vano.



Diamatinya dan di buka satu demi satu isi album itu, ternyata adalah foto-foto Vano saat masih kecil. Ia tersenyum seorang diri.



"Clara, apakah kau tidak ingin menhubungi Vano, sayang? Biar dia menjemputmu.


," sapa Amanda yang kini sudah berada di ambang pintu.



Clara menoleh lalu meletakan album foto di tangannya.



"Tidak, Ma. Habis ini Clara akan pulang sendiri saja, Vano pasti sangat sibuk."




"Kamu jadi istri sangat pengertian, beruntung Vano punya kamu." Amanda kini sudah duduk di samping Clara.



Clara masih diam, enggan memberi jawaban.



"Mama titip Vano sama kamu, ya Ra."



"Iya, Ma. Ya udah ini sudah jam 8 malam, Clara pulang dulu ya ma."


__ADS_1


"Mama antar kamu, ya."



"Tidak perlu, Clara uda pesan taxi online kok."



"Ya sudah, kamu hati-hati, ya. Lain ki ajak Vano nginap di sini."



"Iya, Ma. Insyaallah," Clara pun meraih tas di sampingnya lalu pulanh me rumah.




Seharian Vano mencari Clara tak juga ketemu, dia seperti hampir gila saja, pekerjaan dibiarkan berantakan begitu saja, bahkan dia nampak prustasi di dalam mobilnya.



"Kucari kemana lagi kamu, Ra? Bagaimana caraku bicara sama papa dan mama?"



Dengan langkah berat akhirnya Vano masuk ke dalam rumah, ternyata benar dugaannya. Andrean langsung menyambutnya dengan sebuah pertanyaan mengenai Clara.



"Clara mana, Van?"



"Engggg enggg anu, Pa e... Tadi sama Sely," jawabnya gagap.



Andrean menangkap gelagat aneh pada putranya, Vano memang tidak pandai berbohong atau menutupi sesuatu,  hanya saja Andrean diam, tidak mau Mengintimidasi, wajar ada perselihihan atau masalah dalam suatu hubungan.



Usai makan malam Clara baru tiba di rumah, dia mencium kedua pipi Vivian dan melihat malas kepada Vano.



Namun Vano  bergeming, dia tak ingin masalahnya dengan Clara diketahui Vivian, dia langsung meraih pinggang Clara dan mengajaknya ke kamar karena Clara bilang kalau dia sudah makan di luar.



"Clara kemana, Vin?"



"Uda pulang, Mas. Sekarang dia ada di kamar, bersama Vano,"



"Apakah dia ada masalah sama Vano?"



"Masalah? Sepertinya mereka baik-baik saja, memang kenapa, Mas?"



"Tidak biasa saja dia pulang larut tanpa suaminya."



"Mungkin ada urusan lain, Mas. Dari pagi kata Vano dia bersa Selly."



Sesampai di kamar Clara melepaskan tangan Vano dari pinggangnya, dia menjauhi Vano, meletakan tasnya lalu bergegas mandi.




Clara diam tak menjawab, dia mengeringkan rambutnya dengan handuk.



"Ra, please. Percaya sama aku, aku ga pernah mengkhianti kamu, Ra."



Clara menoleh, menatap tajam pada Vano, "Lalu minggu lalu saat kau bilang pulang malam akan lembur kemana? Bahkan kamu pulang pagi delam keadaan buruk!"



"Ra, dengarkan aku dulu."



"Apa yang mau kau jelaskan lagi padaku? Ini?" Dengan emosi Clara mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkan pada Vano.



Vano terkejut melihat foto-foto malam itu bersama Raisha. Dia memungutnya dan berusaha menahan Clara dengan pelukannya.



"Percayalah padaku, Ra. Aku tidak melakukan apa-apa. Malam itu aku..."



Dengan sekuat tenaga Clara melepaskan diri dari pelukan Vano.



"Cukup, Van. Semua sudah jelas. Aku salah menilai kamu selama ini, dan bodohnya aku kenapa harus percaya dengan play boy sepertimu?"



Mata Clara mulai berlinang.



"Sudahlah, bagaimanapun dia sudah hamil. Sebagai pria sejati kamu harus bisa mempertanggung jawabkannya, bukan?"



Vano mengepalkan kedua tangannya,tak percaya dengan ucapan Clara.



"Kamu lebih percaya dia dari pada aku?"



"Apa foto ini kurang untuk dia membuktikannya dia juga bawa hasil tes kehamilannya padaku tadi."



Clara terdiam sesaat menahan air matanya untuk keluar.



"Jangan sampai anak itu menanggung aib orang tuanya, kasihan jika dia terlahir tanpa ayah, pergilah padanya, Van. Tak perlu kau hiraukan aku."



Clara pun tak mampu menahan air matanya lalu ia pun pergi keluar rumah lagi.



Vivian yang tengah ngobrol bersama Andrean di ruang tengah dikejutkan dengan suara bantingan pintu, terlebih dengan cepat Clara menuruni tangga dan buru-buru berlari keluar.


__ADS_1


Vivian berusaha mengekar Clara sementara Andrean menuju kamar Vano.



"Ada apa ini, Van?"



"Tidak apa-apa, Pa. Cuma salah paham saja," jawab Vano panik.



"Apa yang kau sembunyikan itu?" ucap Andrean sambil mencoba merebut benda yang Vano sembunyakan di balik tubuhnya.



Andrean nampak Shock dengan apa yang dilihatnya, tanpa sepatah kata pun dia menampar kedua pipi Vano.



Bersamaan dengan itu Vivian juga tiba di sana.



"Ada apa ini, Mas?" Matanya terbelalak kaget melihat Vano di tampar sampai hidungnya berdarah.



Dengan penuh emosi Andrean melangkah pergi meninggalkan kamar Vano.



"Tanyakan saja padanya."



*****




Malam itu Lusi merasa haus, dia mengambil softdring dari dalam kulkas dan meneguknya sampai setengah botol.



Dia meraih ponselnya yang berdering, lalu mengangkatnya, dia berbicara dengan nada lembut dan manja kepada sang kekasih.



Merupakan rutinitas tiap malam bagi Reza sebelum tidur selalu menelfon kekasihnya, sesekali juga VC. Tapi karena malam ini dia terlalu lelah, dia hanya menelfon sebentar sekedsar memberi ucapan selamat malam sebagai tanda sayangnya.



'Tiiiin toooonggg....'



"Sayang, sepertinya ada tamu, ya uda, ya. Besok kita sambung lagi, goot night," ucap Lusi, lalu berjalan menuju pintu utama.



Lusi tercengang melihat siapa yang datang, Clra dengan penampilan sangat berantakan, rambut acak-acakan serta memakai setelan pyama berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan mata merah.



"Clara?"



"I can stay here tonight?" ucap Clara, lirih.



"Ya, silahkan masuk!" ucap lusi bengong dengan mulut sedikit ternganga.



Tanpa di suruh Clara duduk di kursi ruang tamu Lusi, dia menyandarkan badannya, pada sandaran kursi, dia terlihat letih dan rapuh, seperti bukan Clara saja.



"Kamu minum dulu, pasti kamu kedinginan," ucap Lusi sambil menyodorkan secangkir cocolate hangat.



"Terimakasih," ucap Clara.



Lusi bingung bagaimana menghadapi Clara dalam kondisi seperti ini,dari raut wajahnya, sudah bisa di tebak kalau dia ada masalah dalam rumah tangganya.



"Ra, jika kamu ada masalah, ceritalah sama aku, siapa tahu aku bisa membantumu, atau kamu istirahat saja, dulu!" ucap Lusi.



Kembali ponsel Lusi berdering sebuah pesan masuk dari Reza, mengabarkan kalau Vano baru saja dari rumahnya mencari Clara.



"Kamu ada masalah sama sumimu?"



Clara mengangguk perlahan, sekuat hati dia menahan agar buliran hangat itu tak lagi jatuh membasahi pipinya.



"Dia baru saja mencarimu di rumah Reza, mungkin juga sudah datang ke rumah Eren dan Sely lebih dulu."



"Katakan pada Reza, jangan beritahu keberadaanku," ucap Clara, tak lama kemudian Reza menelfon Lusi.



"Halo, Za,"



" .... "



"Uda, kamu ga perlu panik, Clara baik-baik saja, dia ada di rumahku. Tapi jangan beri tahu Vano, ya."



" .... "



"Aku juga belum tau, Za."



" .... "



"Apa? Jangan sekarang, Za. Ini uda malam, lebih baik besok pagi saja kamu kesini, biar Clara istirahat dulu," ucap Lusi lalu mematikan telfonnya.



Dia merasa iba dan tidak tega melihat Clara, dia menebak-nebak yang terjadi pada sahabat SMA pacarnya, 'Tidak mungkin masalah biasa jika sampai dia seperti ini, aku cukup mengenalnya,' batin Lusi.



__ADS_1



__ADS_2