Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEION 2 OART 92


__ADS_3

Al kembali menarik napas dalam-dalam dan memandang ke arah Nayla.


"Kamu mau tau alasannya kenapa, ya?" tanya nya.


"Iya, kenapa, Mas?" jawab Nayla penasaran.


"Dulu, sebelum Lyli lahir, ibunya pernah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan tanda lahir di leher. Saat aku berkunjung kerumahnya, ibunya tanpa sengaja meluhat tanda lahir di leher kananku ini."


"Tapi, hanya kebetulan sama, kan? Dan nyatanya dia bukanlah adikmu?" Potong Nayla menebak-nebak.


"Ya kalau benar, aku tidak akan bertemu momy Jeslyn, donk." Al pun terkekeh.


"Iya, juga, lalu itu ceritanya bagaimana?" tanya Nayla penasaran.


"Perlahan berjalannlah ke pintu dan buka dengan cepat!" Perintah Al.


"Kenapa, Mas?" tanya Nayla dengan wajah bingung.


"Nanti kau akan tahu jawabannya. Baru aku kasuh tau kenapa aku bisa batal dengan dia," ucap Al meyakinkan.


Tanpa banyak bertanya lagi wanita itu menuruti perintah suaminya. Ia berjalan ke arah pintu pelan-pelan bahkan sampai haru berjinjit.


Begitu tiba ganggang pintu ada di jangkauannya ia menarik dengan cepat dan kencang dan...


"Brugh!"


Lyli yang tengah asik menguping tak dapat mengelak lagi. Ia jatuh tersungkur masuk ke dalam kamar tepat dibawah kaki Nayla. Menyadari itu Nayla benar-benar marah pada pembantu mertuanya itu.


"Heh, kau di bayar untuk menguping atau bekerja oleh mertuaku, hah?" bentak Nayla.


Al yang melihat hal itu hanya menyeringai saja.


Lyli merasa malu dan takut menjadi satu ia tertunduk dan sedikit melirik ke arah Al berharap pembelaan dari pria itu tapi, Nihil.


"Kak, selama ini aku diamkan kamu malah semakin melunjak saja. Kurasa kau tahu banyak tentang rahasia keluarga ini. Dan apakah kau tahu, orang yang tahu lebih banyak akan urusan orang lain itu lebih cepat mati?" ucap Al dengan nada datar.


Jelas hal itu membuat Lyli tak berkutik. Badannya seolah kaku. Seperti apapun Al dia belum pernah melihat sendiri pria itu marah. Hanya sosok yang tampan baik dan sabar dengan muka serius itu saja yang Lyli ketahui.


Jangankan Lyli. Entah kenapa, Nayla tiba-tiba saja juga merasa gemetar mendengar kalimat yang terucap dari bibir Al. Padahal jelas-jelas kalimat itu tidak ditujukan kepadanya. Melainkan kepada Lyli.


"Bagun, kau duduk sini!" ucap Nayla lalu mengunci kamar agar Lyli tidak bisa kabur agar dengan leluasa bisa mengintrogasi wanita itu.


"Apa maksutmu bilang padaku seolah olah yang tunangannya mas Al dulu adalah Quen bukan kamu? Kau tahu titik kelemahan suamiku siapa agar aku benci pada Quen dan mas Al menceraikan ku, kan? Lihat! Betapa menyedihkan sekali kau gagal move on sampai melakukan hal serendah itu."


Lyli hanya diam tak bisa menjawab. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, 'Dasar bodoh. Begitu saja sudah ke tahuan!"


"Tidakkah kau tau kalau kau ini sudah melampaui batas?" terus terusan Nayla mencecar banyak petanyaan pada Lyli.


"Nay, biarkan saja dia. Kita pergi aja," ucap Al.


           🍁 🍁 🍁 🍁


Setelah memberi sumbangan di beberapa panti asuhan. Terakir yang mereka kunjungi adalah panti asuhan kasih sayang bunda yang dipimpin umi Fatiya. Panti di mana Al di temukan dulu.


Tiba-tiba Quen merasa pusing dan sedikit mual. Mungkin efek kecapekan. Tidak awalnya umi Fatiya dan Zahara tidak tahu kalau Quen tengah hamil.


"Kau kenapa? Masuk angin? Ke daalam yuk, aku buatin teh hangat buat kamu," ajak Zahara kepada Quen.


"Tidak perlu repot-repot. Sepertinya aku cuma perlu sedikit istirahat dan meluruskan kaki saja, Za " jawab Quen sambil tersenyum.


"Benar kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Iya benar. Kau temani aku di sini, ya?"


"Ok, Zahara pun duduk di sebelah Quen yang tengah berbaring di sofa.


Awalnya mereka mengobrol ringan seputar pendidikan dan karir. Sekarang Zahara ikut mengisi acara kajian agama dan cramah di beberapa tempat. Bahkan, terkadang ia juga di panggil untuk mengisi di sebuah universitas dan organisasi.


Tapi, obrolan itu semakin lama semakin melantur kemana mana. Terlebih saat melihat bayangan Bilqis melintas yang tengah bermain dengan anak-anak panti.


"Oh, iya. Di mana kak Al? Apakah benar dia akan tetap menetap di Indonesia?" tanya gadis bermata lebar itu.


"Iya, katanya kasian mama dan nenek kalau harus ke Jepang. Jadi, dia yang ngalah dua minggu sekali atau pas ada kepentingan mendesak pulang pergi ke Jepang," jawab Quen.


"Jadi, dia saat ini ada di rumah? Kenapa tidak ikut?"


"Dia tadi belum bangun pas kita berangkat, kata mama dia pulang pagi. Dan yang jelas pasti dia masih sangat mengantuk."


Zahara mengangguk paham. Quen dapat menangkap sorot mata itu, tapi, apa daya kakaknya lebih memilih Nayla dibandingkan dia.


"Za, kapan kamu mo nikah?"


"Hah? Nikah ma siapa? Calon belum ada," jawab gadis itu malu-malu.


"Ya sama laki-laki yang sama sepertimu, hahaha kakakku jahat, dia buruk dan mafia. Tak pantas dengan gadis debaik kamu. Dan lagi, dia jg dah nikah sama janda hahaha."


"Jahat apaan sih kakaknya sendiri di kata jahat," jawan Zahara.


Quen diam tak menjawab. Yang di katakan barusan memang benar. Tapi, dari cara penyampaiannya seolah dia tengah bercanda. Membaikan Zahara dan menjelekan Al.


Saat Clara tengah asik ngobrol dengan umi panti lainnya termasuk umi Fatiya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Di ambilnya benda pipih yang tengah berdering itu daro dalam tasnya.


Begitu dia melihat nama itu dia bergumam, 'sudah bangun dia rupanya.'


"Hallo , sayang. Ada apa?" jawab Clara.


"Mama, apakah kau masih lama?" tanya Al.


"Tidak, apakah terjadi sesuati di rumah?"


"Bisa di bilang begitu. Kalau sudah, cepetan pulang ya, Ma." Al pun mengakhiri panggilannya.


Lyli kali ini entah ke mana. Yang jelas dia menghindari untuk bertemu dengan Al dan istrinya. Jadi, Nayla lah yang memasak untuk makan Al kali ini seorsng diri. Bukan hal rumit dan berat bagi wanita itu. Justru dia sangat menikmati hal ini.


Dari meja makan Al berteriak memanggil Nayla yang tak juga menyelesaikan tugasnya di dapur.


"Nay, kamu masak apa sih buat aku? Sudah lapar banget, nih. Masa belum selesai?"


"Iya, iya... Ini kamu makanlah!" ucap wanita itu memberikan seporsi nasi goreng spesial. Sebab, topingnya di sana ada sayur, seafood, ayam telur dan juga daging sapi.


Al tertawa melihat hasil masakan Nayla, "Kau tau aku suka ini pasti dari mama, kan? Karena cuma mama yang paling mengerti aku."


"Apa? Cuma mama katamu? Lalu aku tidak?"


"Tentu sana, kau suka marah dan cemburu tak jelas. Kalau kau mengertintak seharusnya begitu, kan?"


Nayla hanya mendesah kesal mendengar jawaban dari Al.


"Ok, baiklah tuan muda. Silahkan dinikmati. Aku berjanji padamu akan banyak-banyak belajar dari mama mertuaku."


Al mengepalkan tangannya dan menaruh di depan mulut, ia terkekeh melihat tingkah Nayla.


Satu jam kemudian, Clara Vano dan semuanua sudah pulang. Tapi, Quen dan Alex tidak ikut. Mereka sudah kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah. Clara langsung menyapa putranya. Tiba-tiba saja dia merasa kawatir. Sebab, tidak pernah dia menelfon saat ia pergi dan menanyakan kepulangannya.


"Sayang, kau baik-baik saja, kan?" tanya Clara begitu melihat putranya yang tengah bersantai. Terlebih, Naula tidak bersama dengannya.


"Mah, Al mau bicara, penting!" ucap Al serius.


"Apa, Al? Kau bisakah sedikit mengurangi ekspresi seriusmu itu? Santai lah dingin."


"Tapi ini serius, Ma. Soal Nayla yanh posesif itu."


Clara menghentikan aktifitasnya ia memperhatikan putranya seksama. "Apakah kau tahu sesuatu?"


"Ya, ternyata selama ini biang keladinya adalah Lyli, Ma. Apa dipecat saja, ya? Dia bilang sama Nayla seolah-olah dulu tuh Al yang mau tunangan sama Quen. Pantas saja dia kek gitu."


"Bagaimana kau bisa tahu, Al? Jangan asal nuduh dulu. Donk."


"Gak, Ma. Sebenarnya kemarin siang aku brantem sama Nay, dia sampai aku tampar dan kukeluarkan dari mobil q ke bar sama Martin."


Clara mendengus kesal. Antara marah dan rasa sayang yang menjadi satu pada putranya. Al, kau ini laki-laki. Dengan kau memperlakukan buruk istrimu, artinya kau rela jika mama dan saudara perempuanmu di perlakukan demikian oleh suaminya. Kau terima jika itu terjadi pada papa dan Alex? Atau, jika nanti kau punya anak perempuan darah dagingmu sendiri apa kau tidak marah?" ucap Clara.


"Ya, maaf, Ma. Al ngaku salah. Habis kemarin Nayla juga keterlaluan. Masa nuduh anak yg dikandung Quen anakku bukan anak Alex. Dia pikir kami ini apa coba?"


"Sama aja kalau gitu, terus gimana bisa ketauan kalau dia diprovokator Lyli."


Al pun menceritakan awal mula terjadi pertrngankaran sampai menangkap basah Lyli yang tengah menguping. Ketika di introgasi gadis itu pun hanya bungkam tidak membantahnya.


Clara tak mampu menahan tawanya ketika Al mengatakan Nayla membuka pintu kamar, sementara Lyli yang fokus menguping pun jatuh tersungkur. Dalam pikirannya saat itu teringat adegan dalam film Dono Kasino Indro.


"Hahaha."


"Mah, aku ini serius. Kok ketawa, sih. Ngakak lagi," protes Al kesal.


"Kamu pernah lihat Dono Kasino Indro, Al? Saat mereka nguping orang di dalam lalu pintunya dibuka... Atau saat seseorang dengan gaya sok nya menenndang pintu uda dibuka dari dalam dia jatuh hahaha."


"Sudah, Ma jangan tertawa terus," ucap Al semakin kesal.


"Ok baiklah. Biar nanti mama berembuk dengan papa kakek dan nenek, ya ucap Clara.


   🍁 🍁 🍁 🍁


"Kau capek?" tanya Alex kepada Quen yang nampak memegangi pinggangnya.


"Ya, lumayan. Pinggangku sakit, rasanya kaya patah!" Seru Quen menatap dengan tatapan manja.


Alex menatap Quen dengan tatapan yang lembut. Bibirnya memang tak menjelaskan apapun. Tapi, mata itu, menunjukan seberapa dalam cintabya untuk wanita di depannya wanita yang tengah mengandung buah cinta merek.


Tanpa sepatah kata pun lagi, Alex sedikit bejongkok dan mengankat tubuh yang masih ramping itu dan membawanya ke dalam rumah.


"Alex, apa yang kau turu kan? Cepat turunkan aku!" Sontak hal itu membuat Quen kaget dan berteriak.


"Sudah, jangan banyak bergerak. Atau... " Alex diam menggantungkan kalimatnya.


"Atau apa?" tanya Quen penasaran.


"Atau kita akan jatuh bersamaan di sini. Kau ini berat, sayang." gumam Alex.


"Badanku kan kecil, Lex. Kau bohong, ah." protes wanita itu sambil memanyukan bibirnya.


"Dibilangin berat kok ga percaya, sih?"


"Aku kecil, Lex. Masa iya uda gendut aja."

__ADS_1


"Biar kecil dalam rahimmu ada anak kita, Quen. Kan sama aja aku lagi gendong dua orang yang aku cintai sekaligus." Kelekar Alex sambil terkekeh.


"Dasar!" Quen memukul dada bidang Alex gemas lalu mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


__ADS_2