
Keluarga Al masih berada di panti asuhan sampai malam tiba, mereka semua berencana pulang setelah makan malam bersama-sama.
Semua berkumpul di sebuah ruangan duduk bersila di atas karpet. Quen duduk di antara Zahara dan Al. Awalnya memang Zahara ingin duduk tepat di sebelah pria itu, tapi, lataran dia tidak terbiasa dekat lelaki dewasa, dia merasa risih dan tidak nyaman sekalipun ingin. Jadi, ia sengaja dudul di sebelah Quen saja.
"Ini, aku ambil sayur kesukaanmu agak banyakan, mau?" Tawar Al sambil menyodorkan suapan dengan tangannya.
Dengan sigap Quen membuka mulut menerima suapan dari tanga Al dan menjailinya.
"Aduh! Quen, jangan gigit jariku!" Seru Al sambil mengibas-kibaskan tangan kanannya. Sementara gadis berbut pirang itu tetap memasang eksprwsi datar seolah tidak ada apa-apa. Padhal dia yang melakukannya.
Zahara tersenyum simpul melihat kedekatan keduanya. Sungguh saudara yang sempurna. Wajar saja kalau Quen dulu tidak pernah menyangka kalau Al adalah kakak angkat, wajar dia sangat syock mengetahui kebenaran ini.
Usai keluarga Al pulang. Di malam hari saat Zahara tengah bersantai dengan uminya, ia sangat ingin menanyakan sesuatu pada uminya dan mulai membuka obrolan.
"Umi, benar ya dulu bayinya mas Al Umi yang nemuin di pagar panti ini?"
"Iya, Zahara, kenapa tiba-tiba nanyain soal itu?" tanya umi Zahara balik dengan nada lembut yang sudah jadi ciri khasnya.
"Tidak, kata Tante Clara mas Al dulu kesayangan Umi, kenapa kok boleh diadopsi orang? Jika tidak kan, dia jadi kakak Zahara." Zahara menunduk. Tiba tiba ia merasa malu dengan pertanyaannya sendiri.
"Kau ini kenapa, Za?"
"Maaf, Umi. Lihat Quen sepertinya bahagia, bahkan terlihat sekali kalai dia sangat membanggakan kakaknya.
"Itu wajar, Zahara. Quen seperti itu marena sudah biasa, dari dia awal melihat dan tahu kakak itu adalah Al, dan Al seperti itu karena orangtua angkatnya memperlakukannya dengan baik."
Zahara mengangguk diam tanda ia mengerti.
"Kau suka sama Al ya? Dia jomblo, loh." Goda Umi Fatiya sambil tersenyum memandangi wajah putrinya yang bersemu merah karena malu.
🌸 🌸 🌸 🌸
Terlalu pagi memang, sekitar pukul tujuh Al sudah berada di cafe milik Reza. Berawal dari sering mengantar Clara, lalu mengobrol dengan Reza, prja itu tertarik dengan pekerjaan yang Reza tekuni sejak lulus SMA ini. Dengan sedikit ilmu barista yang ia dapatkan ketika di Jepang dulu, ia turut membantu jika cafe ramai pengunjung.
Seperti saat ini, Al sibuk meracik beberapa jenis kopi pesanan para pelanggan, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan.
Seorang gadis berhijab dengan wajah yang anggun dan natural.
"Zahara, bagaimana?" ucap salah seorang temannya.
Gadis itu tergagap, kaget.
"Eh, i... Iya, ada apa? Bagaimana, tadi?"
"Kau ini memperhatikan apa, sih?" seorang temannya mencoba melihat ke arah Zahara melihat. Terlihat Al yang sedang sibuk membuat kopi, tangannya sangat lincah dan cepat. Hanya beberapa mwnit saja mampu menyajikan lima cangkir kopi entah, sejenis atau tidak.
"Baristanya ganteng banget, ya? Kaya bule," ucap seorang teman Zahara sambil teraenyum.
"Apa, sih? Aku tidak melihat ke arahnya," jawab Zahara. Mulai salah tingkah.
Saat semua pesanan sudah beres, Al sedikit bersantai, duduk sejenak sesekali matanya tertuju pada kerumunan gadis berhijab, ia kenal dengan salah satunya.
Karena masih ragu, Al berusaha memperhatikan dari dekat. Ia duduk di kursi meja sebelah mereka sambil menikmati secangkir cafe latte.
__ADS_1
"Mas, Al!"
Al menoleh kebelakang, dugaannya benar, gadis itu memang Zahara. Ia menunjukan senyuman khasnya dan menyapa Zahara.
"Tumben di sinu, Za, ngapain?"
"Ini, Mas. Lagi ngerjain tugas bareng, Mas Al kerja di sini?" tanya Zahara dengan mimik ragu-ragu, dan tak yakin.
"Iya, daripada di rumah nganggur," jawan Al sekenanya. "Ya sudah, lanjutkan saja tugas kalian, sepertinya ada pembeli baru datang." Al pun pergi dari tempat itu.
Sedangkan selama diskusi Zahara tidak bisa terfokus, seringkali ia mencuri pandang ke arah Al, saat pria itu tersenyun pada pembeli, entah kanapa, sangat memikat hati.
Ada rasa tak wajar di dalam dada Zahara, semecam gemuruh yang tak tau apa artinya. Zahara memegangi dadanya, berulangkali beristigfar dalam hati sambil matanya terpejam.
"Sampai di sini saja tugas kita, ya? Ketua kelompok kita tidak fokus, nih!" ucap salah satu dari mereka. Lalu buyar.
Sedangkan Zahara masih ingin tetap di sana berharap Al kembaki menghampirinya. Dengan pura-pura menyibukan diri dengan laptopnya, gadis itu tetap duduk di tempat. Sudah hampir sepuluh menit, pengunjung mulai sepi. Tapi, ya g ditungguinya tidak kunjung menghanpirinya. Dilirknya lagi tempat barista, tapi, bukan Al yang ada di sana melainkan pria dewasa berbadan agak kecilan dadi Al dengan kumis tipis yang juga keren untuk pria seumurannya.
Zahara mengedarkan seluruh pandangannya ke seluruh penjuru cafe, tapi, orang yang dicarinya tidam ditemukannya. Akhirnya dia pun pulang dengan perasaan sedikit kecewa.
Mulai sejak saat itu, Zahara jadi sering ke cafe milik reza, hanya untuk melihat Al. Kadang dia datang bersama temannya kadang pula juga sendiri.
Bersamaan ketika Zahara di cafe sendiri, bersamaan itu pula Quen dan Aditya juga mampir. Dia pun tidak menyangka kalau kakaknya berada di sana. Yang dia tahu, Al sudah jarang ada di rumah sampai malam.
"Mau makan apa, Quen?" Tawar Aditya seraya menyodorkan daftar menu.
"Aku mau stik dan jus jeruk saja deh, Pak." Kembali gadis itu menyodorkan daftar menu pada Aditya, saat ia memandang sekitat tatapan matanya terpaku di suatu tempat.
"Kak Al?" batinnya.
"Bentar ya, Pak." Quen menggeser kursinya kebelakang berdiri dan berjalan ke arah barista.
"Sudah berapa bulan kau bekerja di sini?" sapa Quen dengan suara khasnya yang keras.
"Kamu ada di sini? Ngapain?" tanya Al heran.
"Mau nglaundry, Kak." Quen tertawa terpingkal-pingkal.
"mau kesini kalau tidak makan ya ngopi, kak. Kakak ngapain di sini?" tanya Quen balik.
"Ya dari pada bengong di rumah saja, kau sendiri?
"Tidak, aku bersama temanku."
Al memandang ke arah Aditya, ia merasa kurang yakin kalau Quen bersama pria itu.
"Ya sudah, selamat bekerja," ucap Quen, kembali ke tempat duduknya.
Tanpa terasa sudah satu bulan lebih Al bekerja di tempat Reza. Keduanya juga bahkam sangat dekat. Dari kedekatan itu Al tahu, kalau Reza dulu adalah sabat Clara. Dari caranya menceritakan Al ada feeling kalau Reza pernah suka pada mamanya.
"Memangnya, kau mau brapa lama bekerja di sini, Al?" tanya Reza sambil memberikan amplop gajinya minggu ini.
"Selama ada di Indonesia, Om. Karena dalam waktu ini aku harus kembali ke Jepang," jawan pra itu.
__ADS_1
Reza mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Pulang dulu ya, Om, Makasih." Al menyambar amplop putih itu dan menunjukan pada Reza sebelum memasukan ke dalam kantong kemejanya.
Al berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari pintu cafe Reza. Ia memaninkan kunci mobilnya. Dalam keheningan malam ia mendengar suara teriakan laki-laki yang diiringi suara tangis anak kecil dan perempuan. Al berusaha mencari sumber suara itu, ternyata tidak jauh darinya telihat sepasang insan tengah bertengkar. Berkali-kali sang lelaki memukuli wanita di depannya yang tetap mempertahankan bayi dalam dekapannya.
Meresa tidak tahan melihat wanita diperlakukan dengan kasar, Al menghampiri dan menagkap tangan lelaki itu dari belakang.
"Hey, Bro! Ini urusan rumah tangga gue jangan ikut campu," bentak lelami itu dengan amarah yang semakin memuncak.
Dengan santai dan kalem Al menjawab, "Iya, gue tahu, jika kau dan istrimu bertengkar di dal rumah tidak mungkin aku akan masuk dan ikut campur. Tapi, lihat apa yang kau lakukan? Kau bahkan menampati istrimu di depan umum begini? Tidakkah kau malu, Bro? Jika kah tidak tahu malu ingatlah bagaimana dulu kau berusaha mati-matian demi dia."
"Bacot, kau!" Seru lelaku itu seraya melayangkan tinju kepada Al. Namun dengan gesit Al menghindarinya. Melihat Al yang sudah lima tahun terlatih di Jepang, tentu saja lelaki di depannya bukanlah tandingannya..
Tak mau mengundang perhatian banyak orang, Al meukul pertu dan wajah orang itu beberapa kali agar mundur. Setelah lelaki itu pergi, Al mengampiri wanita yang berjongkok masih menangis memeluk anaknya itu.
"Kau tinggal di mana?"
Al mengumpat dalam hatinya mengatai betapa bodohnya dia. Jelas saja wanita itu tidak akan berani lagi pulang ke rumah setelah apa yang terjadi.
"Maaf, maksutku apakah kau ada sanak saudara di sini? Biar ku antarkan kau ke sana."
"Tidak, tidak ada. Aku juga tidak tahu kami berdua harus kemana," jawab wanita itu dengan lirih.
Al merasa tidak tega melihat orang di depannya ini, ia pun bermaksut membawanya pulang, tapi. Pasti akan menimbulkan pertanyaan bagi orang rumah, dan yang ada akan lebar masalahnya jika suami wanita ini berulah dan mengetahui identitasnya.
Akhirnya Al pun punya ide. Dia mengajal wanita itu mencari kos-kosan. Sekitar setengah jam berkeliling. Akhirnya Al menemukan tempat tinggal yang sesuai. Baik lingkungannya juga harganya. Sengaja dia tidak mencarikan yang elit semacam kostel agar jati dirinya tidak memcolok.
Al menyandakan punggungnya di dinding dalam kos yang baru di sewanya sambil memejamkan matanya sebentar lalu ia baru sadar kalau ia belum sempat berkenalan dengan wanita itu.
"Oh, iya. Siapa namamu? Namaku Al."
"Aku, Nayla. Mas, sebenarnya lelaki itu adalah mantan suamiku, dia tidak terima saat aku menolaknya rujuk," ucap Nayla menjelaskan.
Al tidak mau mengorek lebih dalam masalah wanita di hadapannya ini, ia menatap wajah itu yang mungkin sangat cantik jika terawat, kulitnya putih alami, matanya yang lebar alis tipis serta bulu matanya yang lentik.
Sejurus kemudian Al mengalihkan padangan pada balita yang sudah pulas di atas kasur.
"Umur brapa anakmu?siapa namany"
"Dia baru berusia satu setengah tahun, namanya Bilqis," ucap Nayla sambil tersenyum simpul menoleh le arah Bilqis.
"Lebih baik kau cepat istirahat, besok pagi aku akan ke sini, kau ada ponsel tidak?"
Wanita itu mengeleng lembut. Baiklah, aku sudah mengorderkan makanan untukmu, aku pulang setelah makannya datang," ucap Al.
Dan benar saja, tak lama kemudian datang driver ojol yang membawa seporai makanan beberapa roti dan susu formula untuk usia satu sampai tiga tahun.
Al pergi setelah memberikan orderannya kepada Naila dan ia pun berpesan agar Naila tidak keluar dulu sebelum dia memastikan aman kawatir mantan suaminya masih mengawasi daerah sekitar sini.
"Mas, Al. Tidakah ini berlebihan? Aku bagaimana kalau aku tidak bisa menggantinya?" ucap Naila begitu memeriksa isinya.
"Kalau kau sudah benar-benar aman kubantu cari pekerjaan dan kau bisa menyicilnya," ucap Al tidak peduli lalu pergi.
__ADS_1
Naila menatap punggung Al sampai lenyap dari pandangan. Dia kembali masuk menutup pintu dan menguncinya. Ternyata Al membeli dua porsi makanan yang satu berisi sayur dan ikan dori goreng.
Nayla menangis haru, tak percaya jika dia bertemu dengan orang sebaik Al.