
Usai mematikan panggilan dari om Vico, Axel berdiri di depan jendela, dan melihat pemandangan Ibukota yang sudah gelap, namun penuh dengan germerlip lampu kota, dari beberapa rumah dan apartemen, juga tempat fasilitas umum lain jufa tentunya.
"Tok... took... toook!"
Axel menoleh ke belakang. Dia melihat pintu yang terututup rapat saat mendengar ketukan dari luar. Ia lupa, untuk apa ia ke dalam kamar ini tadi. Bahkan, sampai saat ini dia juga belum mandi. Padahal, itu adalah tujuan utamanya.
"Siapa? Masuklah, pintu tidak ku kunci," jawab Axel.
Pintu pun terbuka sedikit lebar, dari ambang pintu, seorang gadis muda berdiri mengenakan setelan celana jeans tiga perempat dan kaus oblong warna putih lengan pendek.
"Berlyn? Ada apa?" tanya Axel. Tiba-tiba saja pria itu sedikit gugup dengan kedatangan gadis belia itu.
Gadis itu mendekat, memperhatikan mukanya yang sedikit kusam dan berminyak. Gadis itu mengisyaratkan kalau makan malam sudah siap.
"Oh, iya, kak Axel lupa. KakĀ Axel belum mandi, Lyn. Tunggu kakak di bawah saja, ya?"
Gadis itu hanya tersenyum kemudian berbalik arah dan hendak keluar. Tapi, baru beberapa langkah meninggalkan Axel, sambil setengah berlari pria itu memanggil nama gadis tersebut.
"Belyn!"
Dengan gerakan spontan, Berlyn berhenti dan memutar badan ke belakang. Sehingga, ia menabrak telak dada bidang Axel.
"Emh... maaf," ucap Axel sambil memegangi kening Berlyn yang seharusnya tidak kenapa-napa. Krena, Berlyn hanya berbenturan dengan dadanya, bukan dengan dinding. Jika sampai benjol, emang sekeras apa, sih dadanya?
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Axel panik.
Gadis itu tertawa sambil mengelengkan kepalanya. Kemudian dia langsung beranjak tanpa bertanya untuk apa Axel memanggilnya tadi. Karena, ia juga sudah bisa menebaknya.
Usai makan malam, Axel memutuskan untuk berpamitan. Awalnya dia memang ingin pulang. Tapi, ia berubah pikiran ketika om Vico mengirimi pesan, kalau ia melihat salah satu dari pria itu. Baiknya lagi, Vico telah berhasil menagkapnya dan menyekapnya di sebuah tempat yang aman.
"Bilqis, ayo ikut aku," ucap Axel begitu meletakkan sendok dan garpunya.
"Ke mana, Kak?" tanya gadis itu bingung. Karena, sejauh ini dia belum pernah di ajak oleh Axel. Lantas, kenapa dia jadi berubah mau mengajaknya pergi? Apakah dia menunjukkan kepeduliannya setelah apa yang menimpa dirinya? Namun Bilqis untuk berfikir Axel mulai iba yang menjadikan rasa sayang dia tidak berani. Bilqis hanya berfikir mungkin Axel seperti itu hanya memberi dukungan mental saja biar tidak prustasi. Jika cinta... Dia sudah barang bekas yang tak berguna. Mana mungkin?
"Sebentar saja. Ikutlah denganku," ucap Axel lagi. Kemudian, pria itu berdiri dan meminta izin pada tante Nayla, sebgai ibu kandung Bilqis dan juga papa Al, tak lupa juga mama Queen. meskipun tidak ada hubungan darah antara Bilqis dan mama Queen, Axel sangat menghargai wanita itu, sama seperti ia menghargai mendiang mamanya.
Karena tiga orang dewasa itu sudah mengizinkan, Axel beranjak memegang pergelanganĀ Bilqis dan membawanya keluar.
Sementara Berlyn yang berada di satu meja, ia hanya terpaku melihat Axel yang memang sangat terlihat sekali perubahannya. Berlyn tersenyum simpul. Kemudian, ia juga meletakkan sendok dan garpunya kemudian pergi meninggalkan meja makan.
'Kak Axel kenapa, ya? Apakah dia mulai membuka hatinya untuk kak. Bilqis? Bisa saja itu terjadi pada pria, baru akan mencintai seorang wanita saat melihat keceriaannya hilang. Awalnya mendekati dengan niat dan tujuan mengembalikan senyum dan cerianya. Tapi, pada akhirnya menjadi cinta. Eh, kenapa aku berfikir begini, ya? Aku tidak sedang cemburu, kan?' batin Bilqis sambil berjalan.
Gadis itu kini berada di kamarnya, Dilihatnya kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Ia melihat beberapa angka yang ia silang, artinya, itu adalah hari yang sudah ia lalui, dan ada lima angka yang masih berlum ternoda tinta hitam dari angka yang dia lingkkar dengan tinta emas. Artinya, lima hari lagi, adalah ulang tahunnya.
"Ak... aaaak... Huh..."
Gadis itu menghentakkan kakinya. Kemudian berjalan menuju ranjangnya dan duduk di bagian tepi. Ia membatin, 'kenapa susah banget, sih menyebutkan namanya? Aku harus bisa. Namanya harus menjadi kata pertama yang kuucap sebelum aku siap untuk berbicara,'
__ADS_1
Tanpa terasa, tiga puluh menit sudah berlalu, ia mulai bisa menyebutkan namanya. Tapi, tak ingin memberitahukannya dulu pada orangnya. Biarkan nanti saja, saat ia memberikan potonan kue itu, dia akan mengucapkan. Saat ini yang perlu dia lakukan hanyalah berlatih, dan terus berlatih tanpa sepengetahuan orang. Agar, saat ia mengucapkan sebuah kalimat yang sudah dia rangkai, tidak sampai terbata-bata.
"Pink!" Sebuah pesan chat masuk. Gadis itu tersenyum, sudah bisa ditebak. Kalau bukan kembarannya, pasti juga Adriel. Karena dia kesepian, meunggu kakaknya tak juga kunjung pulang.
"Hey, sudah tidur apa, belum?" Isi pesan tersebut. Ternyata benar, Clarissa lah yang mengirim pesan itu.
Berlyn melangkah ke arah pintu, mengunci pintu kamarnya kemudian. Ia melakukan panggilan video pada saudari kembarnya.
Dari layar sentuhnya, terpampang jelas wajah gadis yang sama dengannya. Ia seperti tengah hendak berfoto selfie saja. Padahal video call.
"Hay, kukira kau sudah tidur,'' sapa Clarissa sambil tersenyum.
Dia kelihatan imut, pas seperti usianya. Biasanya, ia selalu kelihatan dewasa dengan balutan mekap yang sedikit tebal. Karena di usia itu, gadis itu sudah mengemban tanggung jawab pada sebuah perusahaan milik papa mereka yang ada di Jepang.
Berlyn tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sudah sejauh mana kau berlatih?"
Berlyn membuat isyarat, kalau itu adalah rahasianya dengan Tuhan.
"Bahkan padaku main kau sudah main rahasia-rahasiaan," timpal Clarissa.
Tapi, tetap saja, Berlyn keukeuh pada pendiriannya. Kemudian ia memberi isyarat kalau dirinya sudah mulai ngantuk.
"Oke, baiklah kalau kau sudah ngantuk, tidurlah. Selamat istirahat.
Berlyn pun mematikan panggilannya. Lalu memaksa untuk tidur lebih awal. Karena memang tidak ada PR yang perlu di kerjakan. Ia hanya ingin berangkat pagi, jika ingat. Tapi, keungkinnan yang pasti, ia akan berlatih terus agar saat menyebut nama sosok spesial itu bisa dengan lancar. Dia ingin membuktikan, kalau cinta bisa merubah segalanya, karena, ia tahu, kalau pria itu juga mencintainya.
"Kau mau mengajakku ke mana, sih Kak?" tanya Bilqis. Tanpa berani menatap Axel yang tengah mengemudikan mobilnya.
"Kau tenang saja, nanti jua kau akan tahu," jawab Axel singkat.
Mengingat seperti apa karakter Axel, Bilqis memilih diam. Dia bukan dirinya yang dulu. Kebrutalan yang dilakukan tiga orang yang tak memiliki jiwa kemanusiaan itu telah merubah segalanya.
Perjalanan selama kurang lebih tiga puluh lima menit benar-benar terasa sunyi dan sepi. Tidak ada obrolan dari mereka, selain pertanyaan dari Bilqis yang sudah dijawab Axel dengan singkat tadi. Sampai pada akhirnya mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam gerbang yang cukup tinggi. Sepertinya isi di dalamnya sangat privacy. Bilqis tidak tahu, tempat apa ini. Bahkan, ia tidak tahu, jalannya. Karena, tadi sebelum mobil berjalan Axel telah menutup matanya dengan dasi miliknya yang kebetukan berada di dalam mobil. Baru membukanya ketika mereka sudah tiba di dalam.
Vico sengaja membiarkan Axel tahu. Karena, Al sudah mengizinkannya. Ketika Aditya meninggal dulu, Axel juga sudah cukup dewasa, dia berusia 12 tahun. Jelas, tahu lah siapa Al sedikit banyaknya.
"Kau mengajakku ke mana? Tempat apa ini, Kak?" tanya Bilqis takut. Tapi, ketakutannya hanya sementara saja. Saat ia tersadar kalau pria yang menemaninya adalah Axel. Bukan yang kemarin merenggut sesuatu yang dia jaga selama ini. Selain caranya yang brutal, dia juga tidak kenal sama sekali dengan mereka. Bahkan, jika dilihat-lihat, mereka jauh lebih tua dari papa Al.
"Kau jangan takut. Nanti kau tahu, seberapa besar rasa peduliku padamu." Axel menatap Biliqs yang tiba-tiba saja berani mengangkat wajahnya dan menatapnya. "Peduli sebagai saudara," ucapnya kemudian. Seperti tak rela kalau ada kesalahpahaman lagi. Sebab, untuk menjelaskan ia tidak akan berani. Takut menggores hatinya dan kembali membuat Bilqis down. Jadi, buru-buru dia jelaskan kalimatnya yang ambigu itu.
"Iya," jawab gadis itu lalu berjalan mengimbangi langkah Axel beriringan.
Bilqis menatap wajah Axel yang nampak tegas dari samping. Matanya yang selalu menyorot tajam ditambah dengan bulu mata yang tebal serta lentik dan alis mata yang lurus dan memanjang, benar-benar pria ini sangat sempurna dan nyaris tak ditemui kecacatannya sama sekali. Sekalipun dia sangat dingin dan kaku, tapi, tetap saja, dia adalah dewanya para wanita.
'Jika pun kau akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan tiga orang kemarin, asal itu kau sendiri, aku akan melayanimu dengan suka rela. Tapi, apakah mungkin kau pria seperti itu? Tidak, kan? Lalu, kenapa kau mengajakku di tempat seperti ini?' batin Bilqis.
__ADS_1
Baru beberapa meter melewati lorong yang panjang, dua orang pria dengan postur tubuh tinggi besar serta tegap menganakan pakaian rapi dan kaca mata hitam menghadang mereka.
Bilqis sempat terkejut. Secara spontan gadis itu lansung berdiri di belakan Axel dan berpegangan erat pada lengan kanan Axel. "Siapa, mereka Kak?" tanyanya sambil mengintip dari samping tubuh Axel.
"Kau tenang saja. Tidak perlu takut," ucap Axel berusaha menenangkkan Bilqis.
"Silahkan lewat sini, Tuan Axel," ucap salah satu dari mereka sambil menunjukkan jalan.
"Kita mau kemana, Kak? Siapa orang yang akan kita temui?" tanya Bilqis ketakutan.
"Kamu tenang, ya? Jangan takut ada kak Axel di sini yang akan jaga kamu, oke?" ucap Axel meyakinkan sambil memegang tangan Bilqis yang menggenggan erat lengan atasnya.
Tiba di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang temaram, mereka berdua melihat soerang pria berpawakan besar, pendek duduk di kursi dalam keadaan kaki, tangannya terikat ke belakang. Namun, karena mulutnya tidak ditutup dengan lakban atau penyumpal lainnya, ia pun terus berteriak minta dilepaskan.
"Hey, lepaskan aku! Kalian tidak tahu, ya siapa aku?" teriaknya tidak terima. Ia berusaha keras mengatakan pada orang-orang yang mengikatnya, kalau dia adalah seorang yang tidak bisa dengan mudah diusik dan diganggu oleh orang lain.
Tapi, di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh ramping dengan rambut dipotong cepak berdiri di sebelahnya dengan kaki sebelahnya dinaikan ke atas kursi yang diduduki lelaki itu sambil menaikkan dagunya dan berkata dengan nada meledek, "Ya, aku tahu itu. Kau termasuk seorang konglomerat. Tapi, jika dibandingkan dengan bos kami, kau hanyalah sebutir debu saja. Makanya, dengan mudak aku bisa menangkap dan menyekapmu di sini, kan? Hehehe."
"Bilqis, apa kau mengenali lelaki yang diikat itu?" tanya Axel pada Bilqis yang masih memeluk erat lengannya.
Seketika, lampu pun dinyalakan. Semua wajah yang berada di situ terlihat dengan jelas.
Melihat salah satu orang yang telah melecehkannya di kamar hotel itu, Bilqis kembali syock dan ketakutan. Rasa trauma dan takutnya yang belum hilang langsung muncul dipermukaan. Secara reflek hadis itu menangis berlari bersembunyi di belakang tubuh Axel memeluk punggung pria itu dengan erat. "Kak, kenapa aku harus menemui pria itu lagi? Aku takut."
"Sudah jangan takut. Apakah dia yang nelecehkanmu saat itu?" tangan Axel sambil memegang tangan Bilqis yang saling bertemu di bawah dadanya, ketika kedua lengannya melingakri di sana.
"Iya, Kak, benar. Aku takut sekali."
"Sudah jangan takut. Apa yang kau takutkan. Tidakkah kau lihat kalau dia terikat bahkan tak bisa membebaskan diri? Aku akan beri dia pelajaran. Katakan cukup jika kau sudah puas!" ucap Axel sambil melepaskan pelukan Bilqis.
"Hehehe, kau tahu tidak, kalau dia itu adalah putri dari boss kami? Dan dia itu putranya. Berani kau cari masalah dengannya, sama halnya dengan gali kuburan sendiri," bisik Vico pada pria itu, yang sejak tadi sudah berdiri di dekatnya sambil mengejek.
Seketika, pria itu melotot sambil menatap Bilqis. Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Vico. Tapi, memang nyatanya begitu. Ia berharap ini hanya mimpi. Namun, nyatanya bukan. Dia juga merasakan sakit saat Al mulai meninju wajah, menenang pertu bahkan *********** tanpa ampun. Memang, lelaku tua itu tidak tahu siapa boss mereka. Tapi, jika dilihat dari cara kerja anak buahnya, markas dan pakaian mereka semua, ia yakin kalau bos mereka bukanlah orang biasa. Benar jika pria yang di sampingnya tadi mengatakan jika dibandingkan bossnya, ia hanyalah sebutir debu. Tidak ada apa-apanya.
Sementara Bilqis yang tak pernah melihat kekerasan secara langsung, dan di film pun juga tak sebrutal ini hanya diam mematung dan syock. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria yang kemarin tertawa menunggangi dan memukulinya dengan ikat pinggang kini berteriak histeris kesakitan dan meminta tolong.
"Kenapa kau memalingkan mukamu, Bilqis? Lihatlah bagaimana aku memperlakukan dirinya! Apakah kau masih menganggap aku sebagai kakak pedulinya hanya pada kata-kata saja?" teriak Axel sambil terus menghajar ptia tua itu tanpa ampun.
Bilqis kembali memandangnya. Tapi, mulutnya masih bungkam. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, meskipun sebenarnya mulutnya ingin berkata stop!
'Kak Axel, kau benar-benar idaman. Aku yakin, cepat atau lambat, jika sudah tiba masanya, Berlyn pun juga akan jatuh cinta padamu sejatuh-jatuhnya. Karena, cinta itu buta, dan tak kenal status, kasta juayusia,' batin gadis itu sambil menatap sayu pria yang dihajar Axel.
dalam waktu beberapa menit saja, terlihat sangat jelas sekali bagaimana perubahan wajah pria itu. Jika sebelumnya masih utuh, sekarang sudah bonyok, benjol dan biru di mana-mana.
"Sudah, Kak. Cukup!" teriak Bilqis.
Axel menyudahi tinjuannya, kemudian ia menoleh ke arah Bilqis dan bertanya, "Kenapa? Apakah begini saja kau sudah puas?"
__ADS_1
"Sudah. Tidak ada balasan yang pantas dia terima selain karma. Di pukul sampai ia mati pun, tak akan bisa kembalikan keperawananku. Lepaskan saja dia, Kak."
"Oke, jika itu maumu. Tapi, aku akan memberi dia bonus." Seketika Axel memberi satu tinjuannya dengan keras tepat pada tengah-tengah wajahnya sampai kursinya terpelanting jatuh ke belakang, saking kerasnya, lelaki tua itu pun pingsan.