Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Jangan(Salahkan)Cinta #2


__ADS_3

Bersama Andreas, Vano menikmati secangkir kopi di balkon rumahnya.



Sementara Clara, di taman belakang rumah ia tengah asik bermain bersama kedua anaknya. Mengajari Quen yang sudah berusia tiga belas bulan berjalan.



Vano sesekali memperhatikan mereka dari atas sambil senyum-senyum sendiri.



"Sudah beberapa tahun sejak Ayah kembali, Ayah belum juga memberi penjelasan apa-apa kepadamu, Van," ucap Andreaas mulai membuka pembicaraan.



Vano memalingkan pandangan dari keluarga kecilnya, ia memandang ke arah sang ayah dengan tatapan serius.



"Memang selama ini, Ayah di mana? Dan kenapa tidak kunjung kembali?"



"Panjang ceritanya, Nak. Apakah kau mau dengar yang sebenar-benarnya? Dan berjanji tetap menerimaku sebagai ayahmu setelah mengetahui ini?" tanya Andreas dengan raut wajah yang sulit dideskripsikan.



"Kenapa tidak? Setidaknya aku percaya, bukan karena wanita Ayah tidak kembali, kan? Kalau pun iya, tidak jadi masalah." jawan Vano sambil menghisab sebatang rokok di tangannya.



"Saat itu, saat pesawat yang ayah terbangkan mulai memasuku Negara Jepang, tiba-tiba cuaca gelap, kami kehilangan konek. Serta pesawat juga oleng dan terdampar di lautan."



"Setelah itu, Ayah tidak mengingat apa-apa, tahu-tahu Ayah dudah berada di dalam kapal pesiar yang newah, dan seorang pria dewasa duduk di sebelahku, melihat aku sadar dia sangat senang, ia memeluku sambil menitikan air matanya, aku bingung, karena tidak kenal dengannya. Dia adalah orang jepang."



****



"Maaf, saya ada di mana? Siapa kau? Dan kenapa menangis?" tanya Andreas.



"Nak, tenang lah! Kami menemukanmu di lautan teraping dengan memeluk sebuah benda. Kau adalah pilot pesawat dari Indonesia yang kecelakaan tiga hari lalu, kan?"



Andreas tertegun kaget, artinya sudah tiga hari ia tak sadarkan diri.



"Nak, kami memiliki putra seusiamu, dia juga seorang pilot dulunya, namun ia meninggal dalam kecelakaan beberapa waktu silam, melihatmu mengingatkanku akan dirinya," ucap pria itu seraya menghapus air matanya.



Andreas terdiam sesaat ia berusaha mengingat sesuatu tapi tak dapat mengingat apapun, selain pesawat yang ia kemudiakan oleng, itu saja.



"Aaaaah!" Andreas mengerang sambil memegangi kepalanya.



"Kau kenapa, Nak? Apakah sakit? Sebentar-sebentar. Biar kupanggilkan dokter di kapal ini." Dengan panik pria itu berlari keluar berteriak memanggil dokter.


__ADS_1


Beberapa saat kemudian dokter yang memeriksa Andreas keluar, ia mengatakan kalau sakit kepala yabg dialami Andreas adalah akibat dari memaksa mengingat sesuatu yang telah hilang dari ingatannya. Ini bersikap sementara kelak juga akan dapat normal kembali.



Dengan tergesa-gesa pria yang menyelamatkan Andreas tadi langsung masuk ke dalam ruangan Andras.



"Nak, namaku adalah Yuan Lee, jika kau tidak keratan panggilah aku Ayah, dan kau akan menggunakan identitas sebagai putraku selama kau belum mengingat segalanya," ucap pria itu.



"Baiklah, tapi jika aku sudah mengingat segalanya akankah anda mengizinkan aku pulang?" ucap Andreas.



"Tentu, tentu saja, Nak. Sekarang namamu adalah Mitsuki Li."



Seiring berjalannya waktu ingatan Andreas kembali sedikit demi sedikit. Dan yang pertama ia ingat adalah Vano, ia ingat jika ia memiliki seorang putra tampan persis dirinya berusia dua tahun. Tapi ia belum ingat akan pernikahan juga nama anaknya, hanya saja, bayangan wajah Vano kecil sering bermain-main di benaknya.



"Jadi, sebelumnya kau sudah berkeluarga, Mitsuki?" tanya Yuan.



"Iya, Ayah. Tapi aku belum ingat semuanya, hanya saja bayangan wajah anak dalam mimpiku semalam dia putraku, dia sangat mirip denganku."



"Kamu yanv rajin tetapi, semangat untuk mengingat segalanya, di dunia ini hanya kau yang ku miliki, kelak kita akan jemput keluargamu di Indonesia ajak kemari. Agar aku bisa lihat cucuku," ucap Yuan bersungguh-sungguh.



Andreas memeluk haru pada ayah angkatnya, ia merasa ini semua adalah sebuah mimpi.




Tapi, ternyata ia sudah terlambat. Istri yang dicintainya tengah berkencan dengan pria lain, namun bukan Andreas. Melainkan pria lain.



Dengan perasaan hancur, Andreas pun pergi. Tapi, ia dibingungkan dengan seorang anak berusia sekitar delapan tahun yang dipanggil oleh Amanda memanggil Andrean sang adik dengan panggilan Ayah.



Dari situlah Andreas memiliki keinginan untuk menyelidiki yang sebenar-benarnya. Bersamaan dengan itu, ia mendapatkan warisan seluruh perusahaan kapal Jet yang didirikan oemh Yuan Li. Semua aset perusahaan dialihkan pada Mitsuki Li/Andras.



Dan sejak itu, ia tahu, ayah angkatnya adalah geng mafia terbesar di Jepang. Bahkan Andreas pun juga menjadi penerus ketua selanjutnya Yuan Li.



Atas kebaikan hati Yuan Li, Andreas bertekat tidak akan kembali ke Indo sebelum Yuan Li meninggal, demi menjaga perasaannya, karena dia tahu, ayah angkatnya sangat takut kehilangan Mitsuki Li.


Bagi Yuan Li, Mitsuki adalah satu-satunya harta yang berharga.



Terlebih Andreas tahu, bahwa Amanda menikahi dirinya dan menerima lamaran Andreas demi Vano hanyalah karena harta. Dan pria yang benar ia cintai adalah kekasihnya sejak SMA itu yang kini jadi suaminya setelah bercerai dengan Amanda.



******


__ADS_1


"Ayah adalah mafia, Van. Apakah kau masih mau menerima dan mengakuiku sebagai ayahmu?" tanya Andreas.



Vano berdiri menghampiri sang ayah lalu memeluknya erat sambil berkata, "Walau langit runtuh dan dunia hancur sekalipun, itu tetap tidak akan merubah kau ayah kandungku, dan Papa yang mebesarkanku. Tapi, tetap saja tanpamu tiada aku, Ayah."



"Terimakasih, Vano. Terimakasih, anakku." Andreas menangis bercampur haru dan bahagia.



"Quen ikut papa dan kakek, ya. Mama antar kakak Al les dulu," ucap Clara tiba-tiba muncul sambil menggendong Quen yang baru saja dimandikan.



"Sini, cucu kakek yang paling cantik, ikuk kakek, ya!" Seru Andreas sambil mengambil Quen dari gendongan menantunya.



Sementara Clara pergi mengantar Al.



"Lihat putrimu, Van. Dua begitu mirip dirimu, tapi tingkahnya seperti mamanya, ya. Super aktif." Andreas pun tertawa.



"Tapi, Ayah tidak akan menjadikan dia ketua Mafia berikutnya, kan?" ucap Vano, bercanda.



"Mungkin Al saja. Tapi, tenang. Kau tidak perlu risau, kelompol yang ayah pimpin bersih, mereka hanya semata-mata melindungi rahasia perusahaan saja. Semakin besar perusahaan semakin besar pula saingan yang ingin menumbangkan."



"Ya, Vano ngerti, kok Yah."



"Mungkin nanti Quen kalau sudah besar bisa di ikutkan latihan bela diri, Van. Kan mamanya juga juara terus, kan?"



"Bagaimana Ayah bisa tahu?" tanya Vano kaget.



"Ayah kalau menyelidiki kalian tidak setengah-setengah, seperti apa masa lalu Clara juga kamu, sumua ayah tahu."



Vano membuang muka dari Andreas, mungkin ia merasa malu jika dulu ia adalah play boy.



"Kau beruntung, memilig istri yang tepat. Dia adalah wanita yang setua. Bersabarlah dengannya, memang dia manja dan sedikit kekanak-kanakan, itu karena dia sangat mencintaimu."



"Iya, Ayah. Vano ngerti, Kok," ucap Vano sambil menraih rokok dan korek di atas meja dan menyalakannya.



"Van, tidak kah kau lihat ada bayi di sini? Buang dulu rokokmu atau kau pergu sana!" Seru Andreas bersungut-sungut.




__ADS_1



__ADS_2