Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
PART 14


__ADS_3

Queen segera melompat dari tempat tidurnya saat menyadari kalau ini sudah siang. Ia juga baru ingat


kalau ini adalah hari minggu dan kemarin juga sudah berencana akan pergi ke tempat papa dan mamanya bersama anak suami dan juga kakeknya.


Kakek Andrean sebenarnya tinggal bersama papa dan mamanya di


sana. Tapi, semenjak Berlyn berusia dua tahun, ia jadi lebih sering tinggal di


sini. Karena, kalau pun tinggalnya bersama kedua anaknya, pikirannya juga terus pada cicitnya.


Katanya tidak bisa tenang, sebab, kedua cucunya sama-sama bekerja.


“Al, ini sudah jam tujuh, kita kesiangan!” seru Queen sambil


meraiah handuk dan bergegas ke kamar mandi.


Sementara Al sendiri yang melihat tingkah istrinya hanya


tertawa seorang diri. “Cuma kesiangan saja, tidak masalah. Lain kali, kalau


tidak ada acara pergi, kubuat kau sampai tidak bisa berdiri,” gumamnya seorang diri. Lalu, menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Tak sampai sepuluh menit, Queen sudah keluar dari kamar


mandi, dengan hanya berlilitan handuk saja. “Al, ini sudah siang, kenapa kau


masih saja santai begitu? Jadi ke tempat mama gak, sih?” ucap Queen sambil menarik selimut yang suaminya pakai.


Bukannya bangun. Al justru malah menarik lengan istrinya dan


membawanya ke dalam dekapannya.


“Kita ke sana nanti sore saja. Sekarang, kita di sini saja


dulu, dan jalan-jalan nanti ke pantai, gimana?” usul Al.


“terus gimana ke rumah mamanya? Batal? Aku kemarin sudah


terlanjur ngomong sama kakek dan juga Berlyn, lo.” Queen membuang muka dan membelakangi Al karena merasa kesal.


Al hanya tersenyum seorang diri. bahkan, untuk membujuk


Queen pun juga tidak. Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Diraihnya benda pipih itu yang tergeletak di atas nakas. Kemudian mengangkat panggilan


sambil mengeratkan pelukannya pada Queen dari belakang wanita itu.


“Hey, Sayang.” Al mendekatkan wajahnya di depan layar sentuhnya.


Sedangkan Queen sedikitpun tidak penasaran dan malah hendak beranjak. Tapi urung, ketika ia mendengar suara dari dalam ponsel suaminya terdengar tidak asing.


“Eh, siapa ya?” tanya Queen pada Al.


Al tersenyum sambil memberi isyarat agar Queen kembali dalam


dekapannya. Setelahnya, barulah Al kembali berbicara dengan cara sedikit


menjauhkan layar sentuhnya, sehingga tubuh telanjangnya, dan queen yang hanya mengenakan handuk di


depannya pun kelihatan.


“Kami masih ada di sini,” ucap Al sambil tertawa.


Sedangkan Queen yang menyadai yang video call adalah papa


dan mamanya langsung menutup wajahnya dan menghindari kamera.


“Al, kau ini apaan, sih?” ucapnya sambil memukuli lengan kokoh


suaminya.


Sedangkan Al hanya tertawa saja.


“Bikin cucu lagi buat mama dan papa yang banyak, ya? Berlyn


di sini baik-baik saja, kok,” ucap Clara dari seberang sana.


“Ma, Al saja yang dari tadi males-malesan, aku sudah mandi,”


jawab Queen tidak terima sambil melihat ke layar ponsel yang masih dipegang oleh Al.


Sedangakan dari sana, terlihat papanya berdiri di belakang mamanya yang tengah memangku Berlyn. Jelas hal itu membuat Queen kian terkejut saja.


“Loh, kok sudah sampai sana duluan? Kapan berangkat?”


“Berlyn kemari bersama kakekmu, Al bilang kalau dia akan


datang kemari nanti sore untuk menjemput Berlyn. Ya sudah, kalian, silahkan dilanjut lagi. Maaf jika mama mengganggu. Daaa.” Panggilan videopun dimatikan.


Queen menoleh ke belakang melihat seperti apa ekspresi


suaminya. “Kamu sengaja?”


“Hahaha.” Al terus tertawa sambil menutupi wajahnya dengan


kedua tangannya. Karena Queen terus menghujami dengan bantal berkali-kali.


“Awas, handukmu mlorot nanti! Kamu minta lagi, apa?” ucap Al


di tengah-tengah keseruannya.


“Gak, siapa yang mau, dasar! Kau yang tadi menarikku,” ucap


Queen sambil memegangi ujung handuk yang ia selipkan di tengah-tengah dadanya.


Sementara Al yang masih dalam posisi berbaring, menatapnya dengan tatapan penuh


nafsu.


“Bibi ke pasar, kakek sama Berlyn di rumah papa dan mama.


Terus kita mau ngapai kalau tidak mau pacaran lagi? Yuk, kan dulu kita belum


banyak menikmati masa pernikahan kita, sayang.”


Mendengar kalimat itu, Queen


tersipu malu, wajahnya pun sampai memerah.


“Katanya mau mantai,” jawabnya, lirih.


“Ya, kita ke pantai, kalau lelah buka hotel dan main lagi,


tujuan utama kita tetap ke tempat tidur, kan mau bikinin cucu mama dan papa yang banyak.”


“Dasar mesum.” Queen meraih bantal di dekat Al dan


memukulkannya pada pria di dekatnya itu.


Sedangkan Al hanya tertawa terbahak saja. Ia sangat


menikmati moment yang sudah lama sangat ia rindukan.


Setelahnya, mereka pergi ke pantai berdua seperti pasangan yang


baru dimabuk cinta, atau pengantin baru.


“Capek, tidak?” tanya Al pada Queen penuh perhatian saat


keduanya sudah cukup lama berjalan menyusuri bibir pantai.


“Kalau lelah kenapa? Kau mau memijati aku, kan nanti?” jawab


Queen sambil menunjukkan senyuman terbaiknya kepada Al yang sedari tadi, sejak turun dari mobil, ia tidak melepaskan gandengan tangannya.


“Aku akan menggendongmu.”


“Yang bener?”


“Ayok!” seru Al sambil berjongkok di depan Queen.


Tanpa ragu-ragu Queen langsung memeluk punggung pria yang


berjongkok di depannya. Al pun berdiri dan berjalan sambil menggdong Queen.


Sesekali ia juga berlari dan tertawa bersama menikmati semilir angina pantai yang berhembus.


Apakah kau menyukai ini?” tanya Al saat cukup puas berlari


dan bermain air dan juga pasir pantai.


“ya, sangat memuaskan. Aku suka, dan lain kali tidak


keberatan diajak kemari lagi berdua,” jawab Queen.


Sebenarnya wanita itu ingin menjawab bertiga bersama putri


mereka. Tapi, ia tahu, Al inginkan waktu berdua saja saat liburan setelah


sepekan lelah bekerja.


"Oke, Minggu depan kita kemari," jawab Al.


“Baik. Tapi, bukankah minggu depan kita akan terbang ke


Singapura?” Mata Queen menatap ke arah Al. Tapi, tangannya merba sendok kecil


dan mengaduk-aduk minuman kelapa langsung dari buahnya, sambil menunggu pesanan


mereka datang.


“Waktu kita kan Panjang, sayang. Kalau pun minggu depan kita


ke Singapura, kan setelahnya juga bisa, kan?”


Queen hanya tersenyum saja. Tapi, pikirannya kemana-mana.


Ingin menelfon mamanya untuk menanyakan bagaimana keadaan putrinya juga, ponsel


sengaja Al taruh di dalam mobil. Untuk mengabadikan moment mereka berdua, Al


sudah menyiapkan kamera digital dari rumah.


“Kamu kok murung terus, sih, Sayang?” tanya Al setelah


beberapa detik memperhatikan istrinya.


“Aku kepikiran Berlyn saja. Jam segini harusnya dia sudah


tidur siang,” jawab Queen dengan jujur.


“Kan dia juga bersama papa dan mama. Kamu gak perlu lah


terlalu khawatirin dia. Mereka juga akan menjaganya dengan sangat baik.” ucap Al mulai terlihat kesal.


“Tidak, aku Cuma terbiasa mengucapkan selamat tidur meskipun


tidur siangnya. Cuma itu saja,” jawab Queen sambil menunjukka kembali senyuman terbaiknya.


Tapi, Al masih saja diam dan memasang muka datar.


“Setelah makan siang, kita segera kembali saja ke tempat


mama,” ucapnya.


“Gak perlu buru-buru. Kan, kita sudah bilang akan ke sana


nanti sore. Ini baru jam duabelas. Kita istirahat di hotel saja, yuk!” ajak


Queen sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Al.


“Terus gimana bisa kita jalan? Sedangkan kamu pikirannya


tidak berada di sini bersamaku.”


“Maafkan, aku.” Dengan cepat Queen memegang punggung tangan Al.


Kali ini Queen tertawa geli mendapati Al yang sekarang. Dia


benar-benar gila perhatian seperti balita dua tahun saja. Bukan hanya pada pekerjaan. Dengan anaknya sendiri saja, bahkan ia cemburu.


“Ya sudah, lain kali kita pergi bertiga saja, ya?” ucap Al


dengan suara dan tatapan yang sudah mulai melembut.


“Baiklah, kapan-kapan saja, ya? Sekarang kita menikmati saja


kebersamaan kita,” jawab Queen.


Pesanan mereka pun tiba, mereka menikmati makanan sambil


sesekali saling suap-suapan bagian masing-masing.


Setelahnya, mereka menuju ke hotel yang memang sudah


tersedia di sekitar pantai tersebut untuk para pengunjung. Walaupun letaknya


lumayan jauh dari pantai. Tapi, lumayan juga, angina pantai masih bisa dinikmati dari sana.


****


Seorang gadis berusia duabelas tahun turun dari mobil warna


hitam. Sepertinya itu adalah taxi online yang ia pesan. Setelah memberi uang


tips pada driver, gadis itu berjalan menyebrang jalan menuju rumah yang sedikit masuk, jauh dari jalan raya. Jalan raya ini pun juga tidak terlalu ramai, karena tidak dilalui oleh kendaraan umum selain ojek dan taxi online saja jika bukan kendaraan pribadi warganya.


Dengan langkah perlahan dan sedikit merapikan rambutnya,


gadis itu mengetuk pintu pagar dengan sedikit keras, sambil berjinjit mengintip ke dalam.


Sementara di dalam rumah itu, seorang remaja pria yang asik dengan

__ADS_1


game nya sengaja membiarkan dulu anak kecil yang ada di pagar rumahnya. Ia


masih melanjutkan gamenya, dan berlagak tidak tahu kalau yang ditunggu sudah


datang.


Karena sudah cukup lama berdiri di depan pagar, gadis kecil


berusia duableas tahunan itu mengambil ponselnya di dalam tas dan menghubungi


empunya rumah.


Setelah lama panggilan tersambung, barulah pemilik nomor itu


mengangkatnya.


“Halo, Kak. Aku sudah berada di pagar depan rumahmu. Kau di


mana? Kenapa tidak segera membukanya?” ucapnya sampai tak bernapas, setelah panggilan terjawab


“Oh, sudah tiba, ya? Tunggu dulu, aku tidak tahu,” jawab


pria itu dengan cuek. Kemudian mematikan panggilannya dan berjalan keluar dengan langkah yang sama sekli tidak terburu-buru.


Masih dengan langkah santai pula, ia berjalan dari depan


pintu rumah menuju pagar.


“Duh, panas banget di sini, kak? Kok lama banget, ngapain


saja sih, kak?” keluh Bilqis pada Axel.


“Aku juga mengerjakan tugas sekolahan, tadi,” jawab Axel


dengan nada dingin dan jutek.


Tapi, memang dasarnya saja Biqis yang keras kepala. Jadi,


dengan segala kecuekan sikap Axel kepadanya, tidaklah menurunkan tekatnya untuk


bisa mendekati pria ini.


‘Ih, dasar cowo freezer. Kalau saja tidak ganteng, aku juga


gak bakalan mau deket-deket kamu kek gini, harga diriku tauk, yang dipertaruhkan. Jika saja mamaku tahu, pasti aku juga sudah dijewer karena genit,’ batin Bilqis, merasa gemas dengan


Axel. Bahkan, saat melihat punggungnya yang kebar dari belakang, gadis itu


ingin sekali memeluknya. Tapi, apa daya, dia adalah wanita dan masih menyisakan


rasa malu untuk wajahnya. Sebab, mamanya tak pernah mengajari demikian.


Semenjak berpisah dengan papa tirinya, mama Bilqis atau Nayla, ta pernah dekat dengan


lelaki manapun.


“Dududk sini, keluarkan pr kamu!” ucap Axel saat tiba di


teras.


“Loh, di sini, kak? Hehehe,” ucap Bilqis sambil nyengir


kagak jelas.


“Lah, emang mau di mana kalau tidak di sini?” tanya Axel,


datar.


“Hehehe. Ya, kirain aja di ajak bejar di kamar kak Axel, gitu.” Tanpa rasa malu, Bilqis malah bicara asal jeplak saja. Membuat Axel kian


kesal saja.


Axel mendengus kesal dan berkata dengan nada sedikit tinggi


sebagai luapan emosinya yang tertahan, “Kamu mau ngerjain pr apa mau tidur, sih?”


“Kan ini pr ku biologi, Kak. Tentang reproduksi manusia,


siapa tahu saja, nanti mau praktek,” jawab Bilqis sambil cengengesan membuat


wajah Axel memerah. Entah, ia merasa marah atau malu dengan ucapan Bilqis yang


ia rasa sangat vulgar untuk dikatakan pada lawan jenis.


Jangankan dengan lawan jenis. Dengan teman sesama prianya


saja Axel tidak pernah menjadikan pelajaran satu ni sebagai obrolan atau


candaan. Namanya materi, ya dipelajari dengan benar dan serius.


“Masih mau belajar, tidak?” Axel menatap Bilqis yang masih


saja celometan dengan tatapan dingin dan muka datar. Bahkan, senyuman atau tawa


tertahan sedikitpun tidak ada, benar-benar wajah yang datar sedatar batu nisan saja. Memiliki kesan horor walaupun itu bukanlah setan.


“Iya, kak. Bilqis masih mau belajar. Kan gak bisa, makanya


kemari minta diajari. Tapi, jika kaka ingin praktek juga tidak apa-apa.” Bilqis


terus cengengesan kaya orang kesurupan saja. Sampai-sampai saat tangannya menyentuh lengan Axel, pria itu bergidik sendiri.


“Aku heran sama kamu, siapa sih yang kamu turun begitu?


Mamamu pendiam, kenapa kamu gak waras gitu?”


“Nikahi aku, Kak kalau dewasa nanti, kelak aku juga akan


waras dengan sendirinya, hehehe.”


“Keluarkan pr kamu, cepat!”


Tanpa membantah dan mengeluarkan kalimat candaanya pun


Bilqis dengan patuh mengeluarkan pr nya. Ia membuka halaman mana saja yang


menjadi tugasnya. Sebenarnya gadis itu bisa dengan mudah mengerjakan sendiri


tanpa bantuan dari Axel. Karena dia termasuk siswi yang cerdas di sekolahnya.


Tapi, ia melakukan ini hanya krena suka dengan Axel dan suka saja jika menggoda


remaja ini. Ada kebanggaan tersendiri di hatinya saat bisa ngobrol dan


menunjukkan kedekatannya dengan pria blasteran dan cerdas yang telah populer di beberapa sekolahan SMP dan SMA. Termasuk SMP nya.


“Ini pr kamu?” tanya Axel, terkejut setelah membuka halaman


yang dibukakan Bilqis untuk dia lihat. Bukan tentang reproduksi. Melainkan


tentang hewan.


“Iya, Kak. Kenapa? Kecewa, ya? Hehehe.”


“Ya, sengaja bilang gitu, kalau saja kak Axel bisa ajari aku


tentang bab yang aku katakana tadi, ya tidak apa-apa, lo. Dengan senang hati malah.”


“Aku gak ada waktu, aku terangkan sedikit, setelahnya kau


kerjakan semua soalmu dengan cepat. Karena setengah jam lagi, aku harus segera menemui om ku di gym.” Jawab Axel dengan datar.


Bukannya segera menjawab soal-soal dan menanyakan mana yang


sukar, Bilqis malah diam manyun sambil memikirkan sesuatu. Mungkin juga cara


mengulur waktu, bagaimana kiranya Axel bisa menunda ke gym dan terus


bersamanya. Mengajari mengerjakan pr yang sebenarnya sama sekali tidak lah sulit baginya.


Lima belas menit berlalu. Tidak satupun soal dari duapuluh


pertanyaan yang Bilqis isi. Ia malah membolak-balik buku paket dan LKS berlagak


mencari materi. Menegtahui kalau itu hanya akal-akalan Bilqis saja, dan menganggap


kalau sebenarnya Bilqis tidak ada pr sama sekali, tanpa berkata sepatah kata pun Axel masuk ke dalam rumahnya.


“Kak Axel, kau mau ke mana?” tanya gadis berusia duabelas


tahun itu.


“Menyiapkan perlengkapanku. Limabelas menit lagi aku harus


segera berangkat.” Axel pun masuk tanpa pedulikan Bilqis.


Sementara Bilqis yang lagi-lagi dikacangin hanya


membanting-bantingkan bulpoin di tangannya ke atas meja.


‘Oh, mama. Doakan usaha putrimu mendapatkan mantu bule


untukmu sukses, ya ma? Biar kelak di masa depan kau memiliki cucu yang tampan


dan cantik,’ batin Bilqis sambil memandang foto Nayla di layar ponselnya.


Ya, dia memang sangat konyol. Sikapnya berubah 180 derajat


jika sedang bersama dengan Axel. Padahal sebenarnya dia tipe gadis yang pendiam


dan tenang layaknya gadis berprestasi lain. Namun, Axel, mampu merubah


segalanya hanya dalam sekejab saja.


Sekitar lima menit, Axel keluar. Pria itu mengenakan celana


jeans Panjang dan jemper berwarna abu-abu serta mencangklong ransel di pundak


kanannya.


“Yah, aku ditinggal beneran, nih?” ucap Bilqis dengan


pandagan dan wajah yang memelas.


“Aku sudah bilang, kan sama kamu? Aku hanya memiliki waktu


setengah jam. Dari tadi sudah aku katakana kalau jam sekian aku harus


berangkat. Kenapa kau malah mengulur waktu untuk datang?”


“Kau juga lama membiarkan aku menunggu di luar pagar. Kau


tidak langsung membukakannya untukku,” jawab Bilqis denga raut wajah seolah dia terdzolimi saja. Padahal, dia menunggu juga cuma lima menitan saja.


“Berapa lama, sih kau berdiri di pagar sana?” tanya Axel kesal.


“Ya lama sekali, kau sampai membiarkan aku kepanasan dan


kakiku pegal.”


“Ya sudah, masih ada waktu duapuluh menit, cepat kerjakan.


Aku orang selalu on time dan tidak suka terlambat,” ucap Axel.


Dengan kesal, Bilqis pun langsung mengerjakan soal-soalnya


dengan cepat, sedangkan Axel, ia mengeluarkan ponselnya untuk bermain game, dan


tidak sedikitpun melirik ke arah Bilqis.


Lima belas menit kemudian, gadis itu sudah berhasil


mengerjakan duapuluh soalnya tersebut dan memberikannya kepada Axel untuk


dikoreksi, tanpa sepatah katapun.


Axel melirik ke arah Bilqis saat sebuah buku tulis


disodorkan di depannya menutupi layar gamenya. Tanpa berkata-kata, walaupun ia


kesal karena gadis itu ia kalah dalam permainan, ia langsung mengoreksinya, dan


hanya ada satu kesalahan pada soal paling mudah, dan Axel yakin, itu memang disengaja.


“Ini soal nomor lima belas, Cara bunglon melindungi dari


musuh dengan cara merubah warna kulit sesuai dengan tempat, kan mimikri. Kenapa


malah autotomi?”


“Hah, masa, Kak? Coba cek lagi, barangkali ada yang salah,”


jawab gadis itu dengah raut wajah yang pura-pura terkejut.


“Kamu harus bisa membedakan bunglon dan cicak itu berbeda.


Cari di materi kamu, semuanya benar aku akan segera berangkat.” Axel pun


langsung bergegas ke garasi mengeluarkan sepeda motor sportnya dan mengabaikan


Bilqis yang bahkan masih berada di teras rumahnya.


Merasa dikacangin, gadis itu segera memasukkan buku-bukunya


ke dalam tas dan segera mengikuti Axel yang masih berada di dalam garasi.


Saat Bilqis tiba, Axel sudah mengenakan helm teropongnya.


“Kak, aku bareng kamu, ya pulangnya?”


Axel diam tidak menjawab.

__ADS_1


“Pliis… ya? Oke, aku tidak akan minta antar kamu, bawa aku


ke tempat gym, aku tidak akan nakal dan berulah. Setelahnya baru kau


mengantarku pulang, bagaimana?”


“Kenapa kau tidak langsung pulang saja?”


“Aku mau naik apa? Quota-ku habis. Tadi pesen taxi online


menggunakan wifi di rumah.”


“Ya sudah, ambil salah satu helm di sana, dan cepatlah


naik.”


Bilqis tersenyum dengan penuh kemenangan lalu beranjak


mengambil helm berwanra merah dan menggunakannya. Tanpa diminta, gadis itu pun


berpegangan erat pada pinggang Axel untuk berjaga-jaga kalau saja pria itu


nanti ngebut, dia tidak kawatir tubuh kecilnya terpelanting dari motor ninja


empat tag tersebut.


“Aku tidak suka naik dengan kecepatan tinggi. Jangan terlalu


erat memegangiku,” ucap Axel sambil sedikit menggerakkan tubuhnya karena merasa risih.


“Aku tidak pernah naik motor, apalagi ini sangat tinggi. Jadi,


aku merasa takut nanti jatuh saja kita,” jawab Bilqis. Penuh alibi.


“Tidak akan jatuh. Aku sudah sejak smp kelas dua maniki


motor ini dan tidak pernah ada masalah sedikitpun. Jika kau takut, turun saja. Pulang


sendiri naik becak.’’


Dengan cemberut Bilqis menggeser posisi duduknya sedikit


mundur. Karena Axel tidak mau dipeluk, gadis kecil itu pun akhirnya hanya


berpegangan pada jaket jemper yang dikenakan remaja laki-laki itu.


Awalnya Bilqis diam saja dan tidak bawel sama sekali. Tapi,


begitu ia menyadari kalau yang dilewati Axel bukan jalan menuju ke GYM ,


melainkan jalan menuju ke rumahnya. Ia masih diam dan meyakinkan diri. setelah


beberapa meter dan semakin yakin ini jalan menuju rumahnya. Barulah ia mulai


protes dan berontak ingin ikut ke GYM bersama Axel.


“Loh, Kak. Katanya ma uke GYM. Kenapa ini malah ke rumahku?


Mau ketemu sama calon mama mertua, ya? Hehehe,” teriak Bilqis. Agar suaranya


dapat didengar oleh Axel yang tengah memboncengnya.


“Ya, aku antar kamu pulang dulu, setelahnya aku akan pergi.”


“Loh, tidak mampir dulu? Ngeteh atau ngopi dulu gitu sambil


ngobrol dan PDKT sama calon mama mertua?”


Axel diam tidak menjawab. Sebab, kalau diladenin juga nanti


akan semakin Panjang urusannya. Besokpun tidak jamin kelar.


Setiba di depan rumah Bilqis. Axel menghentikan motornya dan


meminta agar gadis itu segera turun.


“Cepat turun, aku sudah telat ini.”


“Kalau aku tidak mau bagaimana?”


Tidak menjawab apapun, Axel memarkirkan motornya lalu turun,


dan membiarkan Bilqis tetap berada di atasnya.


Setelahnya, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan


menelfon seseorang.


“Halo, Feb. kau bisa jemput aku di perumahan Green inside?”


“ …. “


“Iya, nih. Motorku bermasalah. Cepet, ya aku tungguin.” Lalu


pria itu pun mematikan ponselnya dan melihat ke arah Bilqis sekilas dan kembali


bermain game di layar sentuhnya.


Merasa usahanya sia-sia. Bilqis pun berusaha turun dari


motor, ia melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Axel.


“Ini helmnya. Terimakasih sudah mau mengantarkanku. Padahal aku mau ikut Kakak ke GYM. Tapi, kalau kakak tidak mau, ya sudah. Tidak apa-apa,”


ucap gadis itu dengan lagak sedih.


“Lagian kenapa sih kamu mau ikut ke sana? Di sana tidak ada


anak gadis susiamu.”


“Aku ingin tahu, apa saja kegiatan Kak Axel selain olahraga.


Apakah kakak sudah punya pacar, jadi gak mau bawa aku bersamamu?”


“Heh, kau ini masih anak kecil. Masih kelas satu smp pula. Kenapa


bahas soal pacaran, sih? Tidak baik seperti itu.” Axel mengusap kening gadis kecil yang


kira-kira tingginya sepundaknya.


Sementara Bilqis yang baru pertama kalinya di sentuh oleh


pria yang disukainya hanya diam dan terpaku menatap wajah itu. Bibirnya pun bahkan tak bisa berkata-kata.


“Ya sudah, kak Axel ke GYM dulu, ya? Belajar yang giat dan


jadilah anak baik,” imbuhnya lagi dan kembali menaiki motor sportnya lalu pergi


meninggalkan Bilqis yang masih bengong.


Di jalan Axel tertawa seorang diri. karena berhasil melabuhi


gadis kecil berusia duabelas tahun itu. Padahal, ia tidak menelfon siapa-siapa. Sebab,


jika tidak seperti itu, Bilqis terus saja ngotot ikut ke GYM. Yang ada dia


dikira baby sister lagi sama kawan-kawannya. Lain lagi jika Adriel yang dibawa.


Dia tidak sepenuhnya bertangggung jawab. Karena di sana pasti adiknya akan selalu nempel pada om mereka.


Sedangkan Bilqis sendiri, ia masih terpaku di tempatnya tak


kunjung masuk sampai salah satu tetangganya menegurnya.


“Bilqis! Bengong saja, awas nanti kesambet, loh.”


“Eh, tidak kok, Ko. Aku harus segera masuk,’ ucap gadis itu lalu


bergegas membuka pagar dan setengah berlari menuju ke dalam rumahnya.


Sesampai di dalam kamarnya, Bilqis mengekspresikan


perasaannya yang bahagia tak terkira dielus ujung kepalanya oleh Axel. Ia tertawa


seorang diri sambil melompat-lompat di atas kasur.


“Ya Tuhaaaaaan! Ini untuk pertama kalinya kepalaku disentuh


sama kak Axel, dih begini saja aku bahagia, bagaimana kalau dia menciumku dan memelukku nanti setelah dewasa….”


Sampai beberapa menit ia merasa lelah dan haus. Gadis itu


menghentikan aktifitasnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.


“Lelah juga. Setelah melompat-lompat begitu. Habis, seneng


banget, sih. Apa itu artinya kak Axel sudah mulai bisa mengerti dengan


perasaanku, ya? Apa jangan-jangan dia sudah suka aku, ya?’’ gumamnya seorangndiri sambil duduk di meja makan dan menggenggam gelas yang isinya tinggal setengahnya.


 ***


Di rumah kakek dan neneknya Berlyn merasa sangat betah. Apalagi


di sana neneknya memiliki hobi berkebun. Selain menanam bunga, ia juga menanam sayuran hidroponik. Berlyn bisa belajar


banyak hal di sana seputar berkebun atau tanam menanam.


“Neee… neee…” gadis kecil berusia lima tahunan itu tersenyum


sambil menunjuk pada tanaman kangkung yang hijau dan segar yang Clara tanam di


wadah gelas Aqua.


Clara menoleh ke arah cucunya dan tersenyum lalu memeluk dan


mencium pipinya.


“Ini Namanya sayur kangkung. Berlyn mau?” tanya Clara dengan


lantang.


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk beberapa kali lalu


meminta izin untuk memotongnya sendiri dengan menunjukka gunting sayur padanneneknya.


“Oh, Berlyn mau mengambilnya sendiri? Boleh. Sini, biar nenek


ajarin caranya, begini, ya? Tidak dipotong. Tapi, dicabut." Dengan telaten dan sabar Clara memberi contoh pada


cucunya bagaimana cara  memanen sayuran.


Berhasil mencabut beberapa pot sayuran, sesuai yang diajarkan neneknya,


gadis kecil itu tersenyum kegirangan sambil bertepuk tangan. Memamerkan barisan


giginya yang rapi putih dan kecil-kecil.


"Nah, nanti ini kita potong lagi, bagian bawahnya, yang ada akarnya kita bisa tanam lagi, Sayang. dan yang atas ini, kita masak."


Berlyn tersenyum sambil menaikkan dua jempolnya pada Clara.


“Itu, ada yang warna merah, bulat Namanya tomat. Berlyn mau?


Itu bisa dimasak, atau dibikin jus. Jika Berlyn mau dimakan langsung, rasanya


juga manis sayang. Kau mau mencoba?”


Berlyn menoleh ke tempat di mana neneknya menujuk ke suatu


arah. Sekitar tiga meter, gadis itu melihat buah tomat yang sudah merah dan


besar-besar di sana. Tanpa intruksi lagi, bocah itu pun berlari dan memetiknya satu


biji lalu menujukkan pada neneknya.


“Mam… mam…” ucap bocah itu, terbata-bata.


“Berlyn mau makan ini? Di cuci dulu, ya?” Calara mengajak


cucu kecilnya menujumkran air dan mencuci buah tomat tersebut. Setelahnya,


barulah ia memberikannya untuk Berlyn.


Awalnya wajah Berlyn memberi reaksi aneh. Tapi, ia terus menggigitnya


dan berusaha menghabiskan. Meskipun ia memiliki kekurangan. Ia selalu berusaha


keras untuk tidak membuat orang yang disayang dan menyanginya tidak kecewa karena ulahnya.


Tapi, lama kelamaan, setelah buah tomat itu habis setengahnya,


Berlyn malah nampak menyukainya. Sehingga satu biji tomat berukuran besar ia dapat menghabiskannya.


“wah, habis, ya? Hebat sekali cucu nenek. Kandungan vitamin


yang ada di buah tomat itu bagus untuk kulit, Sayang.” Clara menyentuh kulit


lengan cucunya sambil berusaha memberi isyarat, selain berbicara.


Sementara gadis itu, memperhatikan dengan seksama apa yang


disampaikan sang nenek.


“Jika Berlyn setiap hari mengkonsumsi satu biji buah tomat,


wajah akan bersih dan berseri karena banyak mengandung vitamin C.”


Lagi-lagi Bilqis hanya tersenyum. Kali ini ia menyentuh kedua pipinya dan mencium pipi oma-nya.


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk, lalu mencium pipi

__ADS_1


Clara. Berarti ia mengerti apa yang sudah neneknya sampaikan.


__ADS_2