
Sesampainya di rumah, Queen meminta agar Bilqis membersihkan tubuhnya dulu dan berganti dengan pakaian yang bersih. Setelahnya ia meminta agar Gadis itu untuk makan. Dia yakin, kalau dari kemarin pasti Bilqis belum makan apa-apa, selain makan siang bersama Axel dan putrinya.
"Bagaimana perasaanmu, sekarang? apakah kau merasa lebih baik minumlah ini dulu lalu beristirahat lah tidak perlu tergesa-gesa menceritakan pada kami kami selalu ada untukmu," ucap Queen dengan lembut seraya memberikan segelas air putih yang sudah dicampur dengan obat penenang agar Bilqis bisa melupakan masalahnya sejenak, dan beristirahat atau tidur.
Dengan tatapan mata kosong , gadis itu meraih gelas dari tangan Queen dan meminum sampai habis isinya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sampai beberapa menit akhirnya ia pun lelap tertidur.
Setelah memastikan Bilqis benar-benar tertidur pulas, Queen meninggalkan gadis itu di kamar sendiri. Sampai di depan kamar ia dapati Nayla dan Al di sana sudah menunggunya.
"Bagaimana kondisinya? Apakah dia sudah mengatakan sesuatu padamu?" tanya Nayla.
"Belum, kak. Kita jangan terlalu tergesa-gesa menekan dia untuk bercerita. Semua butuh waktu, dan proses. Jadi, tidak bisa buru-buru," jawab Queen
"Dia sekarang, tidur?" tanya Nayla lagi sambil mengintip ke dalam kamar.
Queen hanya mengangguk. Kemudian ia melangkah ke dapur meletakkan bekas piring dan gelas yang digunakan Bilqis.
__ADS_1
Bilqis memang sudah ditemukan. Tapi, Axel sengaja tidak mengabari pada adiknya kalau Bilqis sudah dibawa pulang ke rumah Mama Queen ia sengaja agar adiknya tidak datang dan mengganggu kebersamaannya bersama Berlyn.
Kini Ax berada di atas loteng bersama Berlyn. Sengaja mereka pergi dari jangkauan orang tua. Karena, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, dan membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan hari ulang tahun Berlyn yang tinggal menunggu hari saja.
"Sebentar lagi ulang tahunmu. Kau minta hadiah apa dari Kak Axel?" tanya pria itu.
Bilqis hanya memandang pria itu sambil tersenyum lembut dan menggelengkan sesuatu lalu meletakkan telunjuknya pada dada bidang Axel. Mengisyaratkan kalau ia berkata apapun yang akan kau berikan padaku aku yakin itu adalah yang terbaik, dan aku akan selalu menerimanya dengan senang hati."
"Oh, jadi begitu. Kamu tahu kalau kakak selalu memberikanmu yang terbaik selama ini?"
"Oke, sebelum hari ulang tahunmu, bisa kak Axel meminta sesuatu padamu?" ucap Axel setengah merayu dan sedikit memaksa. Namun, tidak menghilangkan senyuman di wajahnya.
Berlin mendekatkan wajahnya sambil menaikkan alisnya pada Axel, yang mengisyaratkan kalau ia bertanya apa.
"Coba, aku ingin mendengar kau menyebut namaku. Mari, lak Axel ajari, kakak yakin, kau pasti bisa. Kakak tidak akan bosan mengajarimu. Kakak ingin, saat kau memberikan potongan kue untukku di hari ulang tahunmu nanti, kau menyebutkan nama ku," ucap Axel, sambil memandang lekat pada sepasang mata hitam gadis di depannya.
__ADS_1
Berlin tertawa ia menjauhkan wajahnya dari wajah Axel. Ia meeasa grogi dan salah tingkah. Namun, berusaha menutupi. Sambil menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan, gadis itu mengisyaratkan kalau ia tidak menyetujui permintaan Axel. Ia memberi isyarat entah pria itu bisa menerima atau tidak, hanya seorang yang spesial lah yang bisa ku sebutkan namanya. Karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktuku untuk mempelajari sesuatu yang kurang berguna.
Namun, sepertinya Axel tidak mengerti isyarat itu. ia tetap bersikeukeuh merayu dan meminta agar Bilqis mengucapkan namanya.
"Ayolah, Berlin. Aku tahu, kalau kau bisa. Kau bisa berkata, ya serta memanggil memanggil Papa dan Mama, pasti kau bisa kan, menyebut nama ku? Axel... ayo Berlyn, ucapkan!" rayu pria itu terus memohon tanpa henti
Berlin tidak menimpali apa-apa selain tertawa dan melambaikan kedua tangannya di depan Axel. Mengisyaratkan kalau ia tidak mau.
"Berlin! Kau di mana, Sayang?" panggil mamanya dari bawah. seketika gadis itu menoleh dan buru-buru turun ke bawah menghampiri mamanya yang telah memanggil, dan mengabaikan Axel.
Sementara pria itu hanya tertawa. Menertawai dirinya sendiri dan juga Berlyn yang amat sangat pemalu.
"Baiklah, jika kau tidak mau sekarang. Tapi, aku berharap di hari ulang tahunmu nanti, kau menyebutkan nama ku, Berlin."
Buat para pembaca, mohon maaf joka hanya up sedikit dikarenakan saya ada kesibukan mendadak, di tambah kondisi fisik juga kurang sehat. insyaallah besok jika tidak ada halangan akan saya up lebih banyak. sekali lagi saya minta maaf jika mengecewakan. terimakasih banyak susah mau mendukung dan membaca karya saya 🙏🙏🙏
__ADS_1