
Queen mengendarai mobilnya dengan cepat, suasana jalanan yang
sepi dan terhindar dari macet membuat mereka akan lebih cepat sampai di rumah,
Queen melirik kakaknya yang terilhat nampak kesakitan. Karena tidak tega,
tangan kirinya menyentuh lengan kanan kakaknya sementara tangannya yang lain
sibuk dengan setir mobil.
“Tahan sebentar dulu, ya kak? Sebentar lagi kita kan sampai
kok,” ucap Queen menenangkan Al. Tapi dia sendiri sebenarnya juga takut dan
khawatir kalau saja jahitannya sampai rusak dan perlu di jahit ulang, pasti itu
akan sangat lebih menyakitkan.
Tiba di rumah, dengan perlahan Queen memapah tubuh Al
membawanya masuk dan mendudukan dia di ruang tamu.
“Ada apa dengan den Al, Non?” tanya bibi panik,
“Bi, tolong ambilkan kotak p3k ya, ini tadi ada mobil yang
mau nabrak aku di jalan, Bi. Kakak nyelamitin aku tapi, justru dia malah
mengrobankan dirinya.”
Bik Yul pun segera berlari mengambil P3K yang terletak di
ruang keluarga sementara Queen melepas kancing kemeja Al satu persatu.
Al yang semula memejamkan mata karena menahan rasa sakit pun
membuka matanya, melihat wajah Queen yang begitu dekat dengan wajahnya tanpa
berkedip. Al mengelus punggung tangan sampai lengan kiri Queen dengan tangan
kanannya.
“Di buka dulu kemejanya ya kak, biar bisa aku lihat lukanya
kek gimana, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan luka jahitnya,” ucap Queen
panik sambil meneruskan aktifitasnya.
Begitu bajunya sudah tertanggalkan, bibi pun sudah kembali
dengaan kotak p3k di tangannya. Bi, boleh minta tolong lagi?”
“Iya Non, minta tolong apa?”
“ambilkan air hangat di baskom sama waslap ya, bi.”
“Baik, Non.” Wanita paruh baya itu pun segera ke dapur merebus air untuk Al sekitar lima menit saja bibi sudah selesai, dan membawanya
kepada Queen.
“Kak, tengkurep dulu coba, biar likanya aku bersihkan,
lihat, darahnya merembes ini.’
“Tengukerep di pangkuan kamu saja ya?”
“IYa sudah, tidak apa-apa, sini!” Queen membenarkan posisi
duduknya sambil menepuk kedua pahanya sebagai isyarat agar Al ke pangkuannya.
Entah saking paniknya mungkin atau apa, bahkan ia tidak sadar kalau ia sebenarnya cuma
dimodusin saja sama kakaknya.
Al pun telungkup di atas paha Queen sambil tangannya
dilingkarkan pada pinggang wanita itu sampai selesai memeriksa luka-lukanya,
sebenarnya tidak apa-apa, jahitannya juga tidak koyak, hanya saja karena
terbentur dengan keras, wajar saja jika sakit, sekalian dibersihkan dan diberi
salep oleh Queen, tidak menunggu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima
belas menit saja juga seudah selesai.
“Uda beres, Kak. Cepetan mandi, gih!”
“Uh, bawaannya jadi ngantutk gini,”jawab Al masih bergeming
pada posisinya.
“Jangan manja deh, ayo udah, aku tuh juga capek Kak!” seru
Queen, berusaha membujuk Al, seperti membujuk bocah tiga tahun saja.
Al pun memutar tubuhnya berbah terlentang tiduran di paha Queen sambil menikmati wajah
yang menunduk melihatnya sambil tersenyum tipis. Hanya saja Queen tidak sadar,
betapa memikatnya senyuman pria yang ada di pangkuannya itu.
“Uda deh jangan gitu, untung kamu kakakku kalau bukan…”
“Kalau bukan kenapa?”
“Pasti sudah kulempar kau sampai jatuh,” jawab Queen sambil
cemberut, justru hal itu membuat Al jadi kian gemas dan ingin menggodanya
terus.
“Ya sudah, kalau gitu bantu aku berdiri.” Al berusaha duduk
sambil bertumpu pada pundak Queen, lalu meraih kemejanya yang ada di sebelah
kiri wanita itu. Tanpa memakainya ia pun berjalan ke atas tangga menuju kamarnya untuk
mandi dan berganti pakaian.
Meskipun tidurnya tidak di kamarnya sendiri, Al masih
meletakkan semua barang-barangnya di dalam kamar itu. Bertemu Nayla masih setiap
hari, hanya saja ia benar-benar hambar dengan wanita itu.
Queen mengembuskan napas lega, kemudian membereskan P3K dan
baksom bekas air untuk membersihkan luka kakaknya.
“Rumah kok sepi banget, Bi? Pada kemana kakek dan kak Nayla?”
“Mereka ada urusan di luar katanya, Non, kurang tahu kemana,
mungkin juga persiapan untuk hari Kamis,
Non.”
Queen hanya tersenyum, ia menghampiri wanita paruh baya itu
setelah selesai mencuci tangannya. “Mau masak apa, Bi? Biar saya bantuin.”
“Uda, Non, pasti Non Queen juga capek baru pulang, kan?
Biarkan ini sudah jadi tugas saya, Non.”
“Tidak apa-apa, Bi. Dulu saat sebelum mama kecelakaan dia
selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami, pekerjaan dibagi, bibi
ikut masak sedangkan aku bagian cuci piring dan kak Nay bagian beres-beres.
Jadi pekerjaan cepat selesai, dan almarhum nenek dia suka bunga, bersama kakek
mereka mebersihkan taman, dan kakek bagian kolam. Jadi kita di sini sebenarnya
__ADS_1
ga ada yang bergantung pada pembantu, Bi.”
“Kalian ini orang baik, kenapa harus tertimpa masalah
sebesar ini, sih. Bibi itu rasanya sedih banget, baru beberapa jam saja kenal
sama mamannya non Queen udah merasa kalau dia itu orang baik, semoga segera
sadar ya Non.”
Queen hanya tersenyum saja sambil tangannya sibuk memotongi
sayur setelah ia cuci.
Sedangkan Al yang sudah mandi dan berganti pakaian santai,
celana pendek sebatas lutut dan kaus pendek berwana putih, duduk di meja makan menunggu hidangan selesai
sambil memainkan gadgetnya.
“Katanya capek, bukannya istirahat malah ikutan masak,”
timpal Al tanpa mengalihkan padangannya dari gadget yang ada di tangannya.
“Ya harus belajar rajin, dong Kak. Kelak jika aku sudah
menikah juga harus mengurus suami juga, kan?” jawab Queen sekenanya sambil
terus melakukan aktifitas memasaknya.
Al tidak menjawab, ia jengah dan merasa muak jika harus
membahas soal pernikahan adiknya, jangan kan pernikahan, soal tuangan saja
sudah mebuatnya naik darah.
Bersamaan dengan semua masakan selesai di masak kakek
Andrean, Nayla dan Bilqis pun sudah tiba, mereka langsung menuju ke ruang
tengah, membawa pernak Pernik hiasan yang perlu di pasang di taman belakang
cukup banyak, bakkan kakek Andrean sampai harus mengajak salah satu orangnya Al
untuk membantunya, Krena ia juga masih pura-pura tidak bisa berjalan.
“Dari mana, Kek?” tanya Al sambil meletakkan benda pipih
itu.
“Ini bersama Nayla kakek membeli ini, di mana adikmu?”
“Dia ada di atas masih mandi, baru saja masak,” jawab Al
datar, sedikitpun tidak antusias sama sekali.
“Loh, katanya mau makan malam sama Diaz di rumah
kontrakkannya, apakah tidak jadi?”
“Tanyakan saja sama dia, aku sudah lapar dan ingin makan
duluan,” jawab Al, lalu kembali ke meja makan, sebab seharian dia juga belum
makan apapun selain sepotong roti saat sarapan tadi pagi.
Andrean hanya tersenyum melihat tingkah Al yang kian aneh. Pria
tua itu hanya membatin, ‘mau sampai kapan kau akan bertahan dalam kebohongan
seperti ini, cucuku? Yakin mau nahan sakit hati seumur hidup?’
Usai mandi dan mengeringkan rambut, Queen pun segera turun ke
bawah, ia melihat ada banyak barang di ruaang tengah. Tapi, tak ada siapapun
selain bik Yul dan juga kakaknya yang sibuk mengangkuti barang-barang tersebut
ke tempat penyimpanan.
“Kakek sama Nayla yang beli untuk acra tunanganmu besok.” Al
tidak mengalihkan pandangannya dari benda-benda itu, Ia terus saja sibuk
memilah-milah bersama bibi.
Queen duduk di atas single sofa ruang tengah melihat dua
orang yang sama-sama sibuk itu.
“Katanya kakak yang atur semuanya?”
“Kakakmu biar jadi mc saja, Queen,” sahut kakek Andrean dari
belakang.
“Oh, begitu, ya? Terus untuk makanan,kita ketering apa,
gimana?”
“Gak perlu ketering, aku ada kenalan koki. satu orang koki
juga bisa, kan? Pembantunya saja dibanyakin, tenang saja kau nerima beres
sudah,” jawab Al dengan nada datar.
“Makasih,
ya kak. Kau memang kakakku yang paling baik sedunia.’ Queen beranjak dari sofa,
ikut berjongkok sambil memeluk Al dari samping dan mencium pipi kakaknya.
Al, yang sudah mulai tumbuh benih-benih cinta pada wanita
yang menciumnya ada sedikit aneh dengan sikapnya, wajanya memerah dan suhu
tubuhnya pun juga memanas.
“Queen, biasa saja,” ucap Al, sambil sedikit mendorong tubuh
adiknya, tiba-tiba ia merasaa malu saat dicium Queen di depan kakeknya, padahal
sebelum ia memiliki rasa terhadapnya kalau hanya cium pipi kiri kanan juga
wajar-wajar saja, berpelukan saat ia tiba dari luar kota atau luar negri
dengan Queen dan juga yang lain seperti udah jadi budaya dalam keluarga yang
penuh cinta dan kasih sayan ini.
“Aku kan bersikap normal… memang ada yang aneh?” ucap Queen
sedikit lirih sambil memandang Al tanpa melepasakan pelukannya.
“Kamu itu uda gede jangan anak kaya anak kecil.”
“Kakak juga udah tua malah, Cuma dibersihin luka saja… “
“Baiklah, mari kkita mulai bersikap dewasa saja,” ucap Al
memotong kalimat Queen.
“Aku laper banget nih, makan dulu, yuk!” ajak Queen, lalau
berdiri menghampiri kakek Andrean dan mendorong kursi roda sang kakek menuju ke
meja makan.
“Kalian makan saja, aku sudah,” jawab Al lalu pamitan pada
kakeknya kalau ia akan keluar sebentar.
🍀🍀🍀
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa ini Sudah hari
__ADS_1
Rabu, artinya besok adalah acara tunangan Queen dengan Diaz, bahkan baju untuk
acara saja juga Queen belum mendapatkannya karena terlalu sibuk. Jadi,
mumpung ia pulang praktik dan kebetulan
pulang sore, Queen memghubungi Hanifah.
Mereka berdua pun pergi bersama menggunakan mobil Hanifah.
Gadis itu menjemput saudaranya di rumah sakit.
“Kita pergi ke mana? Ke anyelir boutique milik madam Erlyn?”
tanya Hanifah, sambil mengemudikan mobil.
“Ya terserah, kemarin aku liatin di IG dia ada kebaya baru
tuh, bagus-bagus lagi.’
“ya sudah, kita kesana saja, ya? Kita gak punya cukup banyak
waktu, semua udah mepet. Mana aku belum ngerjain tugas lagi.”
“Seharian kamu ngapain?” tanya Queen sambil memandang ke
arah saudaranya yang hanya nyengir saja.
“Biasa, aku tuh orang sibuk, bintang endorse, kan?” jawab
Hnaifah sambil terkikik.
“ya ya yaaaaa…. Tapi kamu tetap utamakan Pendidikan kamu
dong, kamu sekarang masih muda dan cantik job berdatangan, jika kau tetap royal
tidak belajar dalam segala har dari sekarang, tua lu bisa apa?”
“Iya, tuan putri... Idih kamu ini tua belum saatnya deh,
omongannya persis banget sama kek kakek Andrean.”
“Eh, aku masih muda, ya? Usia juga Cuma selisih tiga tahun
doang sama kamu, kata mama tua itu takdir, dan dewasa adalah pilihan, banyak
yang usianya sudah tua. Tapi, pola pikir masih saja gak dewasa, pun
sebaliknya.”
Queen membuang muka, ia tiba-tiba saja merasa sedih teringat
papa dan mamanya yang masih saja tergeletak tak sadarkan diri di ruang ICU. Ia
sendiri seorang dokter tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi perawatan
wajah untuk mereka secara rutin pagi, siang dan sore hari.
Hanifah memegang pundak saudarinya, meskipun saat ini
hatinya terasa hancur, ia masih bisa mengerti, perasaan Queen jauh lebih sakit
darinya, karena dari kecil ia memang selalu dekat dengan kedua orang tua, kakak
dan juga kakek neneknya, sedangkan dia, baru merasakan dipedulikan saja juga
oleh kakek Andrean. Tapi, tetap saja si kakek berada di dalam pihak cucu
kandungnya, tetap mengatur acara pertunangan Queen dan Diaz dengan semaksimal
mungkin.
“Sabar, ya? Ini adalah musibah, dan kita semua tak
menginginkan semua ini, kau masih punya kakak, kakek dan juga Diaz yang sayang
dan peduli sama kamu, percayalah, mereka semua satu rasa denganmu, ikut bahagia
jika kau sedih dan ikut bersedih jika kau terluka.”
Queen menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Hanifa,
"Dan aku juga punya kamu, yang selalu ada di saat aku menangis,” jawab Queen.
Tanpa terasa, mereka pun sudah sampai di boutique milik
Erwin teman banci yang dulu sekelas denga mamanya Hanifah dan Queen.
Di sana keduanya sama-sama memilih kebaya denga warna yang
sama namun model yang berbeda. Keduanya terlihat sangat cantik, anggun, luwes
dan elegan dengan balutan kebaya berwarna pastel tersebut meskipun rambu
Hanifah tergerai begitu saja, sedangkan rambut Queen diikat membentuk gelungan
asal. Akhirnya mereka pun pulang setelah
mendapatkan kebaya yang diinginkannya.
Hanifah hanya mengantarkan Queen pulang kerumahnya dan
menolak untuk mampir dengana alasan tugas dari kampusnya menumpuk.
Begitu mobil Hanifah sudah tak nampak lagi dari pandangan,
wanita itupun masuk ke dalam rumahnya. Di dalam sana, suasana sudah berubah
banyak orang yang menata ruangan memindah kursi juga perabot lain sebagian juga
ada yang di dapur menyiapkan bumbu-bumbu untuk menu acara besok.
‘Helo, ini Cuma tunangan bukan? Kenapa sepertinya lebih mewah
dari pertunaganku dengan A… Aditya, ya? Iya Adit, bukan Alex,’ batin wanita itu.
Ia pun berjalan menapaki anak tangga hendak menuju kamar, meletakkan tas dan
juga kebaya yang akan ia kenakan besok, usai mandi dan berganti pakaian ia
mencari Al ke seluruh penjuru ruangan bahkan sampai halaman rumah, samping juga
belakang Al tidak ada. Lalu, kemana dia? Queen berdiri menatap kosong kea rah orang-orang
yang memasang tamplak putih pada meja
yang besar dan Panjang, sepertinya acaranya bakal sangat ramai, padahal juga Cuma
tunangan.
“Queen kenapa kau berdiri di situ?”
Wanita itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia
melihat kakek Andrean tengah duduk di atas kursi rodanya. “Kakak ke mana Kek?
Apakah di kantor ada rapat?” Wanita itu berjalan menghampiri kakeknya.
“Kakek juga tidak tahu, kamu tidak mencoba menghubunginya? Soalnya
dia juga tidak ke kantor tadi pagi kata Juna.”
“Tidak ke kantor, Kek? Lalu ke mana dia?
“Entahlah, Setidaknya dia sudah bertanggung jawab atas apa
yang kakek perintahkan padanya, ini adalah suruhan kakakmu, kau beristirahatlah
dulu, besok praktek pagi, kan? Acaranya malam, setelah Magrib.”
“Baik, Kek.” Wanita itu pun segera masuk ke dalam kamarnya,
menyiapkan keperluan untuk besok.
“Haaaah.. pasti besok akan sangat melelahlkan, telfon Diaz
__ADS_1
dulu lah.. baru bobok cantic.