Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 199


__ADS_3

Queen mengendarai mobilnya dengan cepat, suasana jalanan yang


sepi dan terhindar dari macet membuat mereka akan lebih cepat sampai di rumah,


Queen melirik kakaknya yang terilhat nampak kesakitan. Karena tidak tega,


tangan kirinya menyentuh lengan kanan kakaknya sementara tangannya yang lain


sibuk dengan setir mobil.


“Tahan sebentar dulu, ya kak? Sebentar lagi kita kan sampai


kok,” ucap Queen menenangkan Al. Tapi dia sendiri sebenarnya juga takut dan


khawatir kalau saja jahitannya sampai rusak dan perlu di jahit ulang, pasti itu


akan sangat lebih menyakitkan.


Tiba di rumah, dengan perlahan Queen memapah tubuh Al


membawanya masuk dan mendudukan dia di ruang tamu.


“Ada apa dengan den Al, Non?” tanya bibi panik,


“Bi, tolong ambilkan kotak p3k ya, ini tadi ada mobil yang


mau nabrak aku di jalan, Bi. Kakak nyelamitin aku tapi, justru dia malah


mengrobankan dirinya.”


Bik Yul pun segera berlari mengambil P3K yang terletak di


ruang keluarga sementara Queen melepas kancing kemeja Al satu persatu.


Al yang semula memejamkan mata karena menahan rasa sakit pun


membuka matanya, melihat wajah Queen yang begitu dekat dengan wajahnya tanpa


berkedip. Al mengelus punggung tangan sampai lengan kiri Queen dengan tangan


kanannya.


“Di buka dulu kemejanya ya kak, biar bisa aku lihat lukanya


kek gimana, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan luka jahitnya,” ucap Queen


panik sambil meneruskan aktifitasnya.


Begitu bajunya sudah tertanggalkan, bibi pun sudah kembali


dengaan kotak p3k di tangannya. Bi, boleh minta tolong lagi?”


“Iya Non, minta tolong apa?”


“ambilkan air hangat di baskom sama waslap ya, bi.”


“Baik, Non.” Wanita paruh baya itu pun segera ke dapur  merebus air  untuk Al sekitar lima menit saja bibi sudah selesai, dan membawanya


kepada Queen.


“Kak, tengkurep dulu coba, biar likanya aku bersihkan,


lihat, darahnya merembes ini.’


“Tengukerep di pangkuan kamu saja ya?”


“IYa sudah, tidak apa-apa, sini!” Queen membenarkan posisi


duduknya sambil menepuk kedua pahanya sebagai isyarat agar Al ke pangkuannya.


Entah saking paniknya mungkin atau apa, bahkan ia tidak sadar kalau ia sebenarnya cuma


dimodusin saja sama kakaknya.


Al pun telungkup di atas paha Queen sambil tangannya


dilingkarkan pada pinggang wanita itu sampai selesai memeriksa luka-lukanya,


sebenarnya tidak apa-apa, jahitannya juga tidak koyak, hanya saja karena


terbentur dengan keras, wajar saja jika sakit, sekalian dibersihkan dan diberi


salep oleh Queen, tidak menunggu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima


belas menit saja juga seudah selesai.


“Uda beres, Kak. Cepetan mandi, gih!”


“Uh, bawaannya jadi ngantutk gini,”jawab Al masih bergeming


pada posisinya.


“Jangan manja deh, ayo udah, aku tuh juga capek Kak!” seru


Queen, berusaha membujuk Al, seperti membujuk bocah tiga tahun saja.


Al pun memutar tubuhnya berbah terlentang  tiduran di paha Queen sambil menikmati wajah


yang menunduk melihatnya sambil tersenyum tipis. Hanya saja Queen tidak sadar,


betapa memikatnya senyuman pria yang ada di pangkuannya itu.


“Uda deh jangan gitu, untung kamu kakakku kalau bukan…”


“Kalau bukan kenapa?”


“Pasti sudah kulempar kau sampai jatuh,” jawab Queen sambil


cemberut, justru hal itu membuat Al jadi kian gemas dan ingin menggodanya


terus.


“Ya sudah, kalau gitu bantu aku berdiri.” Al berusaha duduk


sambil bertumpu pada pundak Queen, lalu meraih kemejanya yang ada di sebelah


kiri wanita itu. Tanpa memakainya ia pun berjalan ke atas tangga menuju kamarnya untuk


mandi dan berganti pakaian.


Meskipun tidurnya tidak di kamarnya sendiri, Al masih


meletakkan semua barang-barangnya di dalam kamar itu. Bertemu Nayla masih setiap


hari, hanya saja ia benar-benar hambar dengan wanita itu.


Queen mengembuskan napas lega, kemudian membereskan P3K dan


baksom bekas air untuk membersihkan luka kakaknya.


“Rumah kok sepi banget, Bi? Pada kemana kakek dan kak Nayla?”


“Mereka ada urusan di luar katanya, Non, kurang tahu kemana,


mungkin juga persiapan  untuk hari Kamis,


Non.”


Queen hanya tersenyum, ia menghampiri wanita paruh baya itu


setelah selesai mencuci tangannya. “Mau masak apa, Bi? Biar saya bantuin.”


“Uda, Non, pasti Non Queen juga capek baru pulang, kan?


Biarkan ini sudah jadi tugas saya, Non.”


“Tidak apa-apa, Bi. Dulu saat sebelum mama kecelakaan dia


selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami, pekerjaan dibagi, bibi


ikut masak sedangkan aku bagian cuci piring dan kak Nay bagian beres-beres.


Jadi pekerjaan cepat selesai, dan almarhum nenek dia suka bunga, bersama kakek


mereka mebersihkan taman, dan kakek bagian kolam. Jadi kita di sini sebenarnya

__ADS_1


ga ada yang bergantung pada pembantu, Bi.”


“Kalian ini orang baik, kenapa harus tertimpa masalah


sebesar ini, sih. Bibi itu rasanya sedih banget, baru beberapa jam saja kenal


sama mamannya non Queen udah merasa kalau dia itu orang baik, semoga segera


sadar ya Non.”


Queen hanya tersenyum saja sambil tangannya sibuk memotongi


sayur setelah ia cuci.


Sedangkan Al yang sudah mandi dan berganti pakaian santai,


celana pendek sebatas lutut dan kaus pendek berwana putih, duduk di meja makan menunggu hidangan selesai


sambil memainkan gadgetnya.


“Katanya capek, bukannya istirahat malah ikutan masak,”


timpal Al tanpa mengalihkan padangannya dari gadget yang ada di tangannya.


“Ya harus belajar rajin, dong Kak. Kelak jika aku sudah


menikah juga harus mengurus suami juga, kan?” jawab Queen sekenanya sambil


terus melakukan aktifitas memasaknya.


Al tidak menjawab, ia jengah dan merasa muak jika harus


membahas soal pernikahan adiknya, jangan kan pernikahan, soal tuangan saja


sudah mebuatnya naik darah.


Bersamaan dengan semua masakan selesai di masak kakek


Andrean, Nayla dan Bilqis pun sudah tiba, mereka langsung menuju ke ruang


tengah, membawa pernak Pernik hiasan yang perlu di pasang di taman belakang


cukup banyak, bakkan kakek Andrean sampai harus mengajak salah satu orangnya Al


untuk membantunya, Krena ia juga masih pura-pura tidak bisa berjalan.


“Dari mana, Kek?” tanya Al sambil meletakkan benda pipih


itu.


“Ini bersama Nayla kakek membeli ini, di mana adikmu?”


“Dia ada di atas masih mandi, baru saja masak,” jawab Al


datar, sedikitpun tidak antusias sama sekali.


“Loh, katanya mau makan malam sama Diaz di rumah


kontrakkannya, apakah tidak jadi?”


“Tanyakan saja sama dia, aku sudah lapar dan ingin makan


duluan,” jawab Al, lalu kembali ke meja makan, sebab seharian dia juga belum


makan apapun selain sepotong roti saat sarapan tadi pagi.


Andrean hanya tersenyum melihat tingkah Al yang kian aneh. Pria


tua itu hanya membatin, ‘mau sampai kapan kau akan bertahan dalam kebohongan


seperti ini, cucuku? Yakin mau nahan sakit hati seumur hidup?’


Usai mandi dan mengeringkan rambut, Queen pun segera turun ke


bawah, ia melihat ada banyak barang di ruaang tengah. Tapi, tak ada siapapun


selain bik Yul dan juga kakaknya yang sibuk mengangkuti barang-barang tersebut


ke tempat penyimpanan.


“Kakek sama Nayla yang beli untuk acra tunanganmu besok.” Al


tidak mengalihkan pandangannya dari benda-benda itu, Ia terus saja sibuk


memilah-milah bersama bibi.


Queen duduk di atas single sofa ruang tengah melihat dua


orang yang sama-sama sibuk itu.


“Katanya kakak yang atur semuanya?”


“Kakakmu biar jadi mc saja, Queen,” sahut kakek Andrean dari


belakang.


“Oh, begitu, ya? Terus untuk makanan,kita ketering apa,


gimana?”


“Gak perlu ketering, aku ada kenalan koki. satu orang koki


juga bisa, kan? Pembantunya saja dibanyakin, tenang saja kau nerima beres


sudah,” jawab Al dengan nada datar.


   “Makasih,


ya kak. Kau memang kakakku yang paling baik sedunia.’ Queen beranjak dari sofa,


ikut berjongkok sambil memeluk Al dari samping dan mencium pipi kakaknya.


Al, yang sudah mulai tumbuh benih-benih cinta pada wanita


yang menciumnya ada sedikit aneh dengan sikapnya, wajanya memerah dan suhu


tubuhnya pun juga memanas.


“Queen, biasa saja,” ucap Al, sambil sedikit mendorong tubuh


adiknya, tiba-tiba ia merasaa malu saat dicium Queen di depan kakeknya, padahal


sebelum ia memiliki rasa terhadapnya kalau hanya cium pipi kiri kanan juga


wajar-wajar saja, berpelukan saat ia tiba dari luar kota atau luar negri


dengan Queen dan juga yang lain seperti udah jadi budaya dalam keluarga yang


penuh cinta dan kasih sayan ini.


“Aku kan bersikap normal… memang ada yang aneh?” ucap Queen


sedikit lirih sambil memandang Al tanpa melepasakan pelukannya.


“Kamu itu uda gede jangan anak kaya anak kecil.”


“Kakak juga udah tua malah, Cuma dibersihin luka saja… “


“Baiklah, mari kkita mulai bersikap dewasa saja,” ucap Al


memotong kalimat Queen.


“Aku laper banget nih, makan dulu, yuk!” ajak Queen, lalau


berdiri menghampiri kakek Andrean dan mendorong kursi roda sang kakek menuju ke


meja makan.


“Kalian makan saja, aku sudah,” jawab Al lalu pamitan pada


kakeknya kalau ia akan keluar sebentar.


🍀🍀🍀


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa ini Sudah hari

__ADS_1


Rabu, artinya besok adalah acara tunangan Queen dengan Diaz, bahkan baju untuk


acara saja juga Queen belum mendapatkannya karena terlalu sibuk. Jadi,


mumpung  ia pulang praktik dan kebetulan


pulang sore, Queen memghubungi Hanifah.


Mereka berdua pun pergi bersama menggunakan mobil Hanifah.


Gadis itu menjemput saudaranya di rumah sakit.


“Kita pergi ke mana? Ke anyelir boutique milik madam Erlyn?”


tanya Hanifah, sambil mengemudikan mobil.


“Ya terserah, kemarin aku liatin di IG dia ada kebaya baru


tuh, bagus-bagus lagi.’


“ya sudah, kita kesana saja, ya? Kita gak punya cukup banyak


waktu, semua udah mepet. Mana aku belum ngerjain tugas lagi.”


“Seharian kamu ngapain?” tanya Queen sambil memandang ke


arah saudaranya yang hanya nyengir saja.


“Biasa, aku tuh orang sibuk, bintang endorse, kan?” jawab


Hnaifah sambil terkikik.


“ya ya yaaaaa…. Tapi kamu tetap utamakan Pendidikan kamu


dong, kamu sekarang masih muda dan cantik job berdatangan, jika kau tetap royal


tidak belajar dalam segala har dari sekarang, tua lu bisa apa?”


“Iya, tuan putri... Idih kamu ini tua belum saatnya deh,


omongannya persis banget sama kek kakek Andrean.”


“Eh, aku masih muda, ya? Usia juga Cuma selisih tiga tahun


doang sama kamu, kata mama tua itu takdir, dan dewasa adalah pilihan, banyak


yang usianya sudah tua. Tapi, pola pikir masih saja gak dewasa, pun


sebaliknya.”


Queen membuang muka, ia tiba-tiba saja merasa sedih teringat


papa dan mamanya yang masih saja tergeletak tak sadarkan diri di ruang ICU. Ia


sendiri seorang dokter tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi perawatan


wajah untuk mereka secara rutin pagi, siang dan sore hari.


Hanifah memegang pundak saudarinya, meskipun saat ini


hatinya terasa hancur, ia masih bisa mengerti, perasaan Queen jauh lebih sakit


darinya, karena dari kecil ia memang selalu dekat dengan kedua orang tua, kakak


dan juga kakek neneknya, sedangkan dia, baru merasakan dipedulikan saja juga


oleh kakek Andrean. Tapi, tetap saja si kakek berada di dalam pihak cucu


kandungnya, tetap mengatur acara pertunangan Queen dan Diaz dengan semaksimal


mungkin.


“Sabar, ya? Ini adalah musibah, dan kita semua tak


menginginkan semua ini, kau masih punya kakak, kakek dan juga Diaz yang sayang


dan peduli sama kamu, percayalah, mereka semua satu rasa denganmu, ikut bahagia


jika kau sedih dan ikut bersedih jika kau terluka.”


Queen menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Hanifa,


"Dan aku juga punya kamu, yang selalu ada di saat aku menangis,” jawab Queen.


Tanpa terasa, mereka pun sudah sampai di boutique milik


Erwin teman banci yang dulu sekelas denga  mamanya Hanifah dan Queen.


Di sana keduanya sama-sama memilih kebaya denga warna yang


sama namun model yang berbeda. Keduanya terlihat sangat cantik, anggun, luwes


dan elegan dengan balutan kebaya berwarna pastel tersebut meskipun rambu


Hanifah tergerai begitu saja, sedangkan rambut Queen diikat membentuk gelungan


asal. Akhirnya mereka pun  pulang setelah


mendapatkan kebaya yang diinginkannya.


Hanifah hanya mengantarkan Queen pulang kerumahnya dan


menolak untuk mampir dengana alasan tugas dari kampusnya menumpuk.


Begitu mobil Hanifah sudah tak nampak lagi dari pandangan,


wanita itupun masuk ke dalam rumahnya. Di dalam sana, suasana sudah berubah


banyak orang yang menata ruangan memindah kursi juga perabot lain sebagian juga


ada yang di dapur menyiapkan bumbu-bumbu untuk menu acara besok.


‘Helo, ini Cuma tunangan bukan? Kenapa sepertinya lebih mewah


dari pertunaganku dengan A… Aditya, ya? Iya Adit, bukan Alex,’ batin wanita itu.


Ia pun berjalan menapaki anak tangga hendak menuju kamar, meletakkan tas dan


juga kebaya yang akan ia kenakan besok, usai mandi dan berganti pakaian ia


mencari Al ke seluruh penjuru ruangan bahkan sampai halaman rumah, samping juga


belakang Al tidak ada. Lalu, kemana dia? Queen berdiri menatap kosong kea rah orang-orang


yang memasang tamplak putih  pada meja


yang besar dan Panjang, sepertinya acaranya bakal sangat ramai, padahal juga Cuma


tunangan.


“Queen kenapa kau berdiri di situ?”


Wanita itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia


melihat kakek Andrean tengah duduk di atas kursi rodanya. “Kakak ke mana Kek?


Apakah di kantor ada rapat?” Wanita itu berjalan menghampiri kakeknya.


“Kakek juga tidak tahu, kamu tidak mencoba menghubunginya? Soalnya


dia juga tidak ke kantor tadi pagi kata Juna.”


“Tidak ke kantor, Kek? Lalu ke mana dia?


“Entahlah, Setidaknya dia sudah bertanggung jawab atas apa


yang kakek perintahkan padanya, ini adalah suruhan kakakmu, kau beristirahatlah


dulu, besok praktek pagi, kan? Acaranya malam, setelah Magrib.”


“Baik, Kek.” Wanita itu pun segera masuk ke dalam kamarnya,


menyiapkan keperluan untuk besok.


“Haaaah.. pasti besok akan sangat melelahlkan, telfon Diaz

__ADS_1


dulu lah.. baru bobok cantic.


__ADS_2