Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 10


__ADS_3

"Quen, kamu tidak belajar? Bukannya tiga hari lagi ujian smester?" sapa Al saat mendapati adiknya membaca novel.


"Tadi sudah, kak. Ini lagi ngrefresh pikiran saja, kok." jawan Quen, lalu kembali menatap bacaannya.


Al duduk di sebelah adiknya sambil mengintip bacaan yang di baca sang adik.


"Kamu benar-benar menyukai Sains, ya?" tanya Al, seraya bersandar di sofa.


"Demen banget, kak. Pokoknya yang berkaitan dengan IPA. Mau Sains, Biologi Quen suka."


"Nanti kuliah mau ambil jurusan apa?"


"Psikologi kayae, kak. Atau jadi dokter kejiwaan, kan keren." Quen nyengir sambil melirik sang kakak.


Karena gemas Al mencubit hidung adiknya, "Kamu tata emosi dengan baik, dulu. Jangan labil."


"Emang kapan, sih, Quen labil, kak?"


"Ya gak pernah sih," jawan Al sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kak, Haruka itu siapa?"


"Dia? Bukan siapa-siapa. Kakak tidak suka gadis manja sepertinya aja, akan repot."


"Kak, kakak selama ini ga punya pacar, ya?" tanya Quen dengan tatapan penuh selidik.


Al menjawab dengan mengelengkan kepalanya, "Kenapa tanya gitu?"


"Ya gak papa, sih kak. Tapi, nanti kalau kakak dah punya pacar lalu menikah pasti akan sibuk dengan keluarga kakak, donk. Quen jadi sendiri ga punya kakak lagi," jawan Quen dengan wajah memelas.


"Kenapa kau berfikir begitu? Aku ini kakakmu, selamanya tidak akan berubah." Al mengelus kepala adiknya dengan lembut.


Quen hanya diam, ia kembali teringat dengan mimpinya semalam kalau ada seorang wanita yang membawa kakaknya pergi darinya, meninggalkan dia sendiri di tempat asing yang sama sekali ia tak pernah menjamahnya.


"Kamu kenapa, sih, Quen?" tanya Al dengan lembut.


"Aku gapapa, Kak."


"Ya udah, jalan-jalan sebentar, yuk!" ajak Al.

__ADS_1


"Ke mana, Kak?"


"Kamu mau ke mana? Ke Mall aja apa gak, bosen? Bagaimana kalau naik motor ke pasar malam, saja?"


"Iya, boleh. Ayuk, kak." Dengan antusias, Quen melompat menurunkan kakinya yang dilipat di atas sofa. Sambil menggandeng kedua tangan, Al.


"Taruh dulu bukunya di tempat, sekalian ambil jaket dan ganti dengan celana panjang," tegur Al, sambil sedikit melirik ke arah paha Quen.


"Ok, baiklah." Quen pun langsung berlari ke kamarnya.


****


Sesampai di Pasar Malam Quen berjalan sambil terus memeluk lengan kiri Al.


Mereka berjalan kemanapun mengikuti keinginan mata mereka semua wahana sudah di coba, tampa sadar waktu sudah hampir menunjukan jam sepuluh malam.


"Quen, kita pulang, yuk!" ajak Al setelah mendapat pesan dari papanya.


"Kita baru saja sampai, kak."


"Quen, Sayang. Papa chat nih barusan, nanyain kita di mana," jawab Al panik.


"Belikan aku itu dulu." Quen menunjuk pada gantungan gula kapuk berwarna merah yang tidak jauh darinya.


Ternyata benar, terdapat banyak panggilan dan pesan dari Vano yang menanyakan keberadaan mereka.


Begitu Al tiba, Dengan senang seperti anak kecil Quen merebut gula kapuk dari tangan Al. Sambil memeluk kakanya dan menggenggam gula kapuk, Quen mengambil foto mereka lalu mengirimkannya pada Vano.


"Ayo, pulang!" Ajak Al lagi.


"Aku pengen makan ini dulu."


"Quen, ini sudah malam, kan bisa di makan di rumah," bujuk Al.


"Ok, baiklah."


Setiba mereka di rumah rupanya Lyli belum tidur, ia masih mengamati halaman depan melalui jendela kamarnya.


"Mereka adik kakak yang saling menyangi. Tapi, andai kelak tuan Al mendapatkan pasangan hidup, apakah nona Quen bisa trima kakaknya lebih menggunakan waktunya dengan kekasihnya?" gumam Lyli seorang diri ketika menyadari kalau Quen lebih san sangat manja pada kakaknya.

__ADS_1


"Cepatlah tidur agar besok tidak telat, ya," perintah Al pada Quen.


Sementara dia langsung ke ruang baca, dan ternyata benar Vano masih menunggunya di sana.


"Papa, maaf jika sudah lama menunggu," ucap Al saat mendapati papanya berada di sana.


"Apakah Quen sudah ke kamarnya?"


"Sudah, Pa." Al pun duduk di sebelah papanya dan turut mengamati yang tengah papanya kerjakan.


"Jadi gini, besok di Bandung ada klien yang ingin bertemu, bagaimana kalau kamu saja yang ke sana, kau juga belum ada rencana ke Jepang dalam waktu dekat ini, kan?"


"Oh, iya, Pa. Tidak apa-apa. Biar Al pelajari dulu materinya, ketemunya kan masih lusa dan siang hari, Al bisa berangkat sorenya, kan?"


"Iya, berankat sore juga tidak apa-apa. Ya sudah, semua sudah Papa kirim ke email kamu, istirahatlah dulu!" Seru Vano sambil bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.


Al masih diam di tempat. Ia mbuka file-file pribadinya dan membuka media foto. Dipandanginya satu demi satu foto yang tersimpan di memorynya.


Pandangannya berhenti pada sebuah foto keluarga, lima tahun silam, saat ulang tahun pernikahan papa dan maamnya.


Ia memperhatikan masing-masih wajah dari foto itu, dan tersenyum saat melihat Quen yang masih sangat imut dan cubby mengenakan kebaya samaan dengannya, dan sekarang, dia sudah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik.


Tapi, pandangan Al sebenarnya lebih terfokus pada papa dan mamanya, sih. Sosok yang memberi kehidupan baru hingga ia kini bisa seperti ini tentunya.


Al menghela napas panjang dan bersandar pada kursinya sampai tanpa sadar ia telah tertidur di sana.


*****


"Kakak mau ke mana?" tanya Quen sepulang saat melihat Al menata pakaian ke dalam tas.


"Mau ke Bandung, ada yang perlu di kerjakan." Sementara Al masih tampak mondar mandir menyiapkan pakaian dan toiletis yang perlu di bawa.


"Mau berangkat kapan, Kak?"


"Habis ini, sebentar saja kok."


"Oh, kok mendadak, kak? Rencana berapa hari di sana?"


"Iya, papa bilangnya juga dadakan. Paling lusa juga uda balik, kamu baik-baik di rumah, belajar yang serius, ya?" ucap Al sambil mengelus ujung kepala adiknya.

__ADS_1


"Iya, ya uda, Quen ganti baju dulu kak."


Al hanya mengangguk dan tersenyum saja.


__ADS_2