
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan ukul tiga sore hari.
Bilqis pun juga sedah berkali-kali menerima pesan chat dari mamanya agar segera pulang sejak pukul satu tadi. Tapi, gadis itu masih saja memilikki alasan untuk
menundanya. Tapi, kali ini karena sudah pukul tiga sore. Biqlis pun berpamitan pada Novita. Sedangkan Axel, pria remaja itu masih saja kaku dan membatu di tempatnya.
“Tante, karena ini sudah sore, Bilqis izin pamit pulang
dulu, ya? Mama sdah dari tadi chat saya agar segera pulang.
“Oh, iya. Sudah sore, ya? Tidak terasa kalau ini sudah sore. Pulang di antar Axel, ya?” ucap Novita antusias.
Axel hanya diam dan terus fokus dengan permainan gameo
inlinenya, dan pura tidak mendengar apa yang mamanya katakan. Padahal dalam hatinya, ia sagat dongkol.
“Dia datang saja tidak dijemput. Kenapa pulang mesti
diantar?” ucap Axel, kesal.
“Sayang, kali ini saja. Selanjutnya terserah,” bujuk Novita
dengan lembut pada putranya.
Sebenarnya, Novita sendiri tak ingin memaksa kehendak putranya yang merasa risih dengan Bilqis. Tapi, ia merasa tidak enak saja. Ia kasihan dengan Bilqis yang sudah berusaha keras menyenangkan dan memenangkan hati putranya. Dia sendiri kalau cuek, juga sungkan dengan Nayla.
“Ya sudah. Tunggu!” Axel pun beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama kemudian, ia kembali sudah mengenakan jaket, dan sudah membawa kontak
motor di tangannya.
“Tante, Bilqis pamit dulu, ya?” ucap gadis itu dan mencium
punggung tangan Novita. Dan beranjak menuju ke Axel, yang sudah berada di atas
motor sportnya.
Seperti biasa, Axel tak pernah ada ramah-ramahnya pada gadis
itu. Sesampainya di rumah Bilqis, ia juga langsung pergi. Tidak mau mampir.
Bilqis hanya melambaikan tangannya sambil berteriak,
“Hati-hati, kak Axel!”
Tapi, hasilnya juga sama saja. Pria itu tidak pernah menganggap, menolah saja juga tidak. Namun, tetap saja gadis itu selalu nampak ceria. Hatinya seolah tidak pernah mati. Masih dengan ekspresi ceria karena
seharian berada di rumah Axel dan mama dari pria itu menerimanya dengan baik, ia pun masuk ke dalam rumah.
Saat ia hendak masuk ke dalam, ia melihat spasang spatu
wanita. Tapi, spatu siapa? Sepertinya ada tamu.
“Assalamualikum, Ma.”
“Waalaikumssalam. Eh, Bilqis. Akhirnya kamu datang. Ini
Tiara sudah sejak tadi lo di sini,” ucap Nayla.
“Loh, Mama kok gak ngomong kalau ada Tiara di sini. Bilqis
kan bisa pulang cepet,” ucap gadis remaja itu, merasa tidak nyaman saja dengan temannya. Akhir-akhir ini Tiara memang cukup dekat dengannya. Mungkin karena ada maunya, mendekati Axel. Apa lagi.
“Dia juga baru saja datang. Katanya ada pr dan minta diajari
sama kamu,” ucap Nayla.
“Ya sudah, Ra. Kita ke kamarku saja, yuk!” ajak Bilqis dengan sangat ramah dan terbuka.
__ADS_1
Mereka pun belajar bersama. Setelahnya, Tiara banyak
nanya-nanya apa saja yang ia lakukan seharian di rumah Axel.
“Eh, kata mama kamu kamu tadi di rumah kak Axel, ya? Gimana
mamanya? Baik?”
“Iya baik dong. Kalau kaka Axel emang orangnya dari dulu
begitu, datar,” jawab Bilqis.
Tiara hanya mengangguk saja. Ia sebenarnya ingin sekali ikut
datang ke rumah pria itu. Tapi, tidak mungkin juga sendiri, kan? Ya, kalau
Bilqis. Dia keluarganya memang memiliki hubungan baik dengan keluarga Axel.
“Bil, kalau ada waktu, kapan-kapan gitu kita belajar di sana
bareng, yuk!” usul Tiara.
“Ke sana, ya? Kapan memangnya? Ini sudah smester dua, pasti
kaak Axel akan sangat sibuk. Aku saja sungkan untuk minta diajari terus.”
“Ya, lain kali saja, kalau memang ada kesempatan.”
“Baiklah.”
“Bilqis, Tiara! Ayo makan malam dulu!” seru Nayla dari luar.
“Baik, Ma!” jawab Bilqis dan mengajak temannya untuk keluar. Karena kebetulan PR Tiara juga sudah selesai.
Sebenarnya tugasnya sangat mudah. Awalnya Bilqis mengira
kalau Tiara hanya pura-pura tidak bisa saja. Sekedar cari-cari alasan agar bisa ngobrol dan kepoin Axel. Tapi, ternyata bocah ini memang benar-benar gak
menerangkan di depan kelas? Kenapa dia tidak bertanya pada guru saat ia masih merasa kalau belum paham?
“Ayo, kita makan malam dulu. Mamaku sudah masakin, loh!”
ajak Bilqis segera mengalihkan topik pembicaraan.
Usai makan malam,
dan karena sudah malam, Tiara pun izin pulang pada Nayla dan juga Bilqis.
“Karena ini sudah malam, Tiara pamit pulang dulu, Tante.
Makasih atas makan malamnya, enak sekali masakan Tante. Aku pulang dulu, ya
Bilqis. Makasih sudah bantu aku ngerjain PR,” ucap Bilqis, ia pun beranjak.
Sementara Bilqis dan mamanya mengantarkan Tiara sampai depan pintu gerbang.
Rupanya di depan rumanhya sudah ada sebuah mobil Pajero sport warna putih berhenti di sana, lalu muncul seorang pria paruh baya, kira-kira dia
seumuran dengan papa Al melempar senyuman pada Tiara.
“Apakah dia yang menjemput mu, Tiara?” tanya Nayla, meyakinkan.
“Iya, Tante, itu omnya Tiara. Permisi Tante, Tiara pamit
dulu." Ucapnya bersalaman dengan Nayla dan berpelukan pada Bilqis lalu
berhambur menuku pada mobil berwarna putih tersebut.
Bilqis sempat melihat sepintas, saat masuk mobil, Tiara sempat mencondongkan tubuhnya ke arah pria paruh baya itu dan menciumnya. Awalnya Bilqis merasa aneh. Tapi, ia terus saja berusaha positif thinking. Namun, tetap saja terganggu pikirannya.
__ADS_1
'Yang benar saja dia omnya. Masa sama om mencium bibir? Sedekat-dekatnya hubungan mereka. Mana mungkin? Pada papa kandung saja kayanya tidak pantas,' batin Bilqis.
Setelah tamunya pulang, Bilqs masuk, membantu mamanya
membereskan sisa-sisa makan malam barusan. Setelahnya, mereka sempatkan untuk
mengobrol sebentar, menceritakan seputar kejadian ajaib yang ia alami saat di rumah Axe. Termasuk saat Axel tersedak dan ia malah memukul keras punggungnya. Benar-benar konyol.
“Ya sudah, ini sudah setengah Sembilan. Kamu, tidur sana,
gih. Besok hari Senin, lo. Ucap Nayla.
****
"Sayang, kau katanya praktik pagi. Ayo, bangun gih. Kita barengan saja, ya satu mobil. Aku antar kamu ke rumah sakit," ucap Al sambil menata rambutnya di depan cermin.
Queen tidak langsung menjawab. Ia hanya mengeliat, kemudian melihat ke arah suaminya yang sudah berpakaian rapih dan siap berangkat.
"Kamu kok sudah rapi saja, Al?" Lagi-lagi Queen menguap dan mengucek kedua matanya.
"Iya, dong. Kan habis liburan."
Dengan sangat dipaksakan, Queen beranjak menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia sudah keluar dan segera berganti pakaian. Suaminya juga sudah tidak ada di kamar. Mungkin ia sudah berada di meja makan.
Setelah merias diri, Queen keluar. Ternyata benar. Suaminya sudah berada di sana. Tapi, ia tidak memakan sarapannya. Melainkan, ia membaca koran harian langganan mereka.
"Al, nanti kamu ga perlu jemput aku. Aku akan ke tempat kak Nay ngasih oleh-oleh untuknya dan Bilqis, gimana?"
"Boleh saja. Tapi, jangan malem-malem pulangnya. Kan nanti Berlyn mau kembali." Pria itu meraih secangkir kopi yang sudah disediakan untuknya oleh bibi dan menyeruputnya. Matanya tidak teralihkan dari kertas koran di tangannya.
"Dia menunda untuk pulang, Al. Katanya kasian sama Miki, Miko dan Chiko," jawab Queen. Wanita itu terus memperhatikan mimik atau reaksi suaminya.
Mendengar tiga nama itu, Al seketika meletakkan koran itu, dan memandang istrinya.
"Siapa mereka, Sayang?"
"Kau pikir mereka siapa? Tentu saja peliharaan putrimu," jawab Queen sambil tertawa begitu melihat ekspresi lucu suaminya.
"Piaraan? Apa?" Terlihat sekali kalau Al benar-benar tidak tahu mengenai ini.
"Memang, mama apa papa ga cerita gitu sama kamu?"
Al hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Miki dan Miko itu, adalah sepasang kelinci miliknya. Dan Chiko adalah kucingnya."
"Satu saja kucingnya? Tambah satu lagi dong. Beri nama Vico," timpal, Al.
Queen tertawa. Dan mencubit lengan Al. Karena Vico adalah nama sahabatnya dari sejak janin mungking.
"Iya, dia cuma mau satu saja. Itupun sering dia ajak tidur di atas kasurnya. Kalau pas ada mama aja. Berlagak taruh di atas karpet. Kalau mama sudah keluar... Kurasa kau tahu, lah."
"Kita tanya saja. Kalau memang masih betah, kita sesekali pulang ke sana menginap kan tidak masalah, Sayang. Bagaimana nanti aku jemput kamu dari rumah Nayla?"
"Boleh, deh."
Mereka berdua pun menyelesaikan sarapannya. Kemudian, berangkat bekerja. Sepanjang perjalanan Queen mulai mempertimbangkan usul dari suaminya untuk membuka praktek di rumah saja.
"Kok diam saja. Kenapa?"
"Gak apa-apa. Rasanya kek gimana gitu, setelah ambil cuti selama satu minggu."
"Semoga harimu menyenangkan." Al mengecup punggung tangan Queen. Sementara sebelah tangannya memegang setir.
"Nanti aku jemput kamu di depan gerbang perumahan saja ya?"
"Kenapa tidak masuk? Aku tidak masalah kok, kalau kamu ketemu sama mantan istri. Gak bakal CLBK, kan?"
"Dasar kau ini. pokoknya aku tunggu di depan pos satpam saja. kamu jalan sebentar juga tidak masalah, kan?"
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu." Queen bersiap mencangklong tasnya. karena sekitar lima puluh meter lagi ia sudah tiba di tempat kerjanya.