
Setiba di rumah, Axel mendapati mobil omnya terparkir di
halaman rumahnya. Tapi, dari dalam ia juga mendengar suara tantenya. Dia memang
hafal banget dengan suara istri yangkedua omnya ini. Kalem, pelan dan lembut.
Enak di dengarnya. Kedua secara sadar maksutnya.
“Axel, kau sudah pulang, Nak? Dari mana kau tadi?” sapa
Zahara pada keponakannya.
“dari rumah teman, Tante. Apakah om dan tante sudah lama di
sini?” tanya Axel balik setelah mencium tangan Zahara.
“Oh, soalnya mama kamu bilang ke GYM. Sedangkan om tadi bilang
kamu sama sekali tidak ke sana.”
Axel meletakkan tasnya asal dan duduk di atas sofa. Lalu ia
menjelaskan kejadiannya. “Memang tadi awalnya ada rencana begitu. Tapi,
tiba-tiba di jalan teman ngajak battle main game, Tante,” jawab Axel bohong. Ia tidak mau menunjukkan rasa jengahnya pada Bilqis. Yang ada mereka nanti malah dijomblangin saja. Orang tua mah selalu begitu.
“Oh, benar begitu, Axel? Apakah tadi tidak ada yang datang
kemari?” ucap Zahara sambil tertawa geli melihat keponakannya yang tampan melebihi suaminya. Tapi, sedikit pun bukanlah fake boy.
“Aku lelah dan belum mandi, mama di mana, Tante? Axel mandi
dulu, ya?” pria remaja itu pun kembali meraih tasnya dan beranjak pergi
meninggalkan Zahara seorang diri.
Sedangkan Zahara hanya terkikik dan tertawa geli saja. ’Nurun siapa dia bisa sampai segitu dinginnya pada cewek? Yang bisa memenangkan
hatinya, pasti dia adalah wanita hebat,’ gumamnya seorang diri.
Karena menunggu suaminya dan Adriel yang tak kunjung datang,
Zahara memutuskan pergi ke dapur menemani Novita memasak. Toh, yang ditunggu juga sudah tiba dan bersembunyi sekarang.
“Apakah Axel sudah datang, Ra?’ tanya Novita tanpa
memalingkan pandangannya dari memptpngi sayuran.
“Iya, Kak. Dia baru saja tiba, dan sekarang dia pamit mau
mandi katanya,” jawab wanita itu sambil terkikik.
Novita tersenyum tertahan dan melirik saudari iparnya. Dia paling
hafal hafal dengan kebiasaan Zahara yang suka menggodai Axel. Karena sifatnya jauh berbeda dengan omnya dulu yang terkenal suka gonta-ganti pacar. Mungkin jika saja Alex setia, sampai detik ini juga akan ada kemungkinan masih tetap
bersama Queen. Tapi, Namanya takdir, siapa juga yang tahu? Zahara juga cantik dan baik, dari segi agama dia juga termasuk wanita sholehah, dan penyayang dengan anak kecil, karena ibunya juga ketua Yayasan panti asuhan. Tapi, sayang,
sampai detik ini, sudah empat tahun dia dan adiknya menikah masih juga belum dikaruniai seorang anak.
“Kau pasti menggodanya, ya?”
“Iya, dia langsung saja berdiri dan pergi. Padahal baru saja
duduk, Kak. Lucu, ya? Nurun siapa sih dia?”
Novita hanya menaikkan kedua pundaknya. Dia sendiri tidak
tahu nurun siapa putranya itu. Mau menclaim seperti dirinya, dia dan mendiang Aditya dulu
pacaran juga sejak kelas tiga SMP. Mau bilang kaya omnya? Jelas big no.
“Panggil tante dan mamamu, tunjukan pada mereka, apa yang kau
dapatkan!” Dari luar sana terdengar
suara seorang pria yang baru saja datang dari luar.
“Tante, Mama… kalaian di mana?” Kemudian menyusul suara
seorang bocah berusia enam tahunan seraya berlari membawa tas kresek berwarna putih yang berisi penuh dengan makanan ringan.
“Adriel, kau sudah datang?” sambut Zahara dan juga Novita bersamaan.
Bocah berusia enam tahun itu membuka isi tas kresek di
tangannya. Ternyata isinya roti, biscuit susu uht dan juga sereal. Sepertinya
Alex baru saja membawanya jalan-jalan ke mini market.
“Wah, banyak banget, Driel? Kau memborong seluruh isi mini
market?” tanya Novita setelah tahu isi dari kantong kresek tersebut.
“Kalau memborong, mana mungkin Cuma segini, Ma? Ya tentu
saja tidak, ini bahkan tidak ada 0,5 persen dari seluruh barang yang ada di
mini market tersebut," jawab bocah itu dengan polos. Tapi, kata-katanya
menunjukkan kalau ia sangat cerdas, tidak seperti anak usia enam tahun pada umumnya.
“Hey, bocah, kau pinter sekali, siapa yang mengajarimu berhitung?” tanya Zahara dengan gemas.
“Kakakku kan pinter matematika. Aku sering melihatnya saat
mengerjakan tugas.”
“Ih, kamu, gemesin banget, sih?” Zahara mencubit pipi gembul
bocah itu dengan gemas.
Setelahnya, Alex,
Zahara, Novita Adriel dan juga Axel makan malam bersama. Saat makan malam semua
masih berjalan noral. Tapi, setelahnya keadaan menjadi seperti menjadi sedikit canggung dan tidak enak.
Kala itu Axel sudah mengajak adiknya masuk ke kamar untuk belajar.
Dia setiap hari walau hanya tigapuluh menit selalu menyempatkan diri untuk
mengajari adiknya, atau bahkan juga membantu mengerjakan pr. Dia sendiri juga tak jarang memberinya soal latihan kepada sang adik. Karena motonya, jika aku bisa menjadi anak yang cerdas. Maka, aku harus bisa menularkan ilmuku kepada
adikku. Jika bisa, adikku harus lebih hebat dariku.
Kecanggugn antara Zahara, Alex dan Novita terjadi saat
mereka memiliki niat untuk mengasuh Adriel. Sedangkan Novita sendiri memiliki anak seperti tidak ikut memeliki wewenang dan juga hak. Karena sedari kecil yang paling banyak direpotkan dalam mengurus Adriel adalah mama mertuanya, Livia. Bukanlah dirinya.
“Kak, aku tidak mengadopsinya. Aku dan Zahara hanya ingin
mengasuhnya untuk dijadikan pancingan agar kami juga bisa segera mendapatkan momongan,’ ucap Alex memohon.
“Lex, bukannya kakak keberatan atau tidak setuju. Tapi, apa
yang akan kakak katakana pada mama Livia nanti jika dia sudah kembali? Sedangkan
kembalinya kapan aku juga tidak tahu.”
Alex menghembuskan napas Panjang. Dia sendiri juga tahu dan
paham betul bagaimana posisi kakaknya saat ini. Tapi, bagaimana lagi? Alex tidak ada pilihan.
“Kan umik memiliki panti asuhan yang bisa di katakana besar.
Kenapa kalaian tidak mengadopsi salah satu bayi dari sana saja? Biasanya pancingan itu anaknya diadopsi dan dimasukan di kk sebagai anggota keluarga,” usul Novita.
Memang apa yang diusulkan oleh wanita itu benar. Tapi, Alex
tengah trauma dengan kejadiannya dulu. Ia teringat bagaimana kehidupan Queen. Yang tanpa ia ketahui Al ternyata adalah kakak angkat saja, lama-lama mereka
jadi cinta. Bahkan, Al yang terkenal sedikit memiliki jiwa saiko rela
mengahncurkan hubungan Queen dengan Diaz. Dan menggunaka segala cara untuk bisa
mendapatkan hati wanita itu.
“Ya. Tapi, itu bukan solusi juga, lah kak. Aku takut, kejadian yang menimpa mantan istriku kembali ke anakku,” jawab Alex. tanpa
sadar ian berkata begitu di depan Zahara, seketika itu juga Zahara langsung terlihat kisut.
“Baiklah, anggap saja kaka setuju kalian merawat Adriel
untuk sementara waktu. Tapi, kakak juga perlu membicarakan ini dengan mama mertua kak dulu, dong. Bagaimana pun juga, itu tidak akan bisa menutup
kenyataan kalau beliau adalah neneknya. Dan beliau pula yang selama ini paling sibuk merawat keponakannmu, Lex."
“Baik. Kami akan menunggu kabar baik dari kakak. Segera
beritahu kami jabawabannya nanti. Jika boleh, aku juga bisa izin kepada beliau secara langung,” ucap Alex. akhirnya, mereka pun menemukan titik terangnya. Karena sudah malam pula, Alex dan Zhara berpamitan.
Novita memanggil kedua putranya. Mereka bertiga mengantarkan
Alex dan istrinya sampai pintu gerbang, dan menguncinya lalu kembali ke dalam.
Sekitar jam sepuluh malam, saat Adriel sudat tidur, Axel
mendapati mamanya duduk seorang diri di sofa yang ada di ruang menonton
telvisi. Mamanya sepertinya nambak berfikir keras, terlihat sekali dari garis
dahi dan wajahnya yang tegang. Tapi, apa yang dipikirkannya?
Axel yang keluar dari kamar Adriel dan hendak masuk ke
kamarnya sendiri pun akhirnya urung. Ia menghampiri mamanya, kemudian duduk di sebelah Novi.
“Mama belum tidur?”
“Axel, ini sudah larut, Sayang, kau kenapa di sini?” tanya
Novita kaget dan menurunksn tangannya yang sebelumnya mengurut lembut kedua
pelipisnya.
“Mama juga kenapa belum tidur? Kok kelihatan galau, mikirin
om Candra, ya?” Dengan muka datar, kali ini Axel menggoda mamanya balik. Karena ia tadi pasti sudah menceritakan tentang Bilqis ke tantenya.
Novita terkejut mendengar ucapan anaknya yang super duper cuek itu
kok bisa seperti itu. Kenapa dengannya?
“Axel?” Wanita itu memelototi putranya. Selain dia malu
dituduh memikirkan pria brondong itu, ia sebenarnya juga sama sekali tidak
sedang memikirkannya.
“Habis jam segini Mamam belum tidur, ngapain, coba?” ucap
pria remaja itu, masih dengan tampangnya yang datar.
“Karena kau sudah dewasa dan mungkin juga cukup umur, sini
mama kasih tahu, supaya kau tidak asal menuduh mama saja.”
Axel diam sambil memandang wajah mamanya. Tapi,
tangannya meraih remot tv dan mengecilkan volumenya.
“Barusan itu, om Alex dan tante Zahara minta agar Adriel
mereka asuh sementara. Siapa tahu, dengan mengasuh adikmu, tante Zahara bisa segera hamil. Orang dulu menyebutnya sebagai pancingan.”
“Kalau sekali-kali tinggal tidak masalah. Yang Axel
khawatirkan kalau tinggal di sana dalam jangka waktu lama, sampai menunggu tante Zahara benar-bnar hamil dan memiliki anaknya sendiri kan kita tidak ada yang tahu. Adriel sudah merasa disayang sama om dan tantenya, terus pas mereka
sudah punya anak merasa tak lagi diinginkan lagi. Itu tidak baik juga untuk pertumbuhan psikisnya juga.”
Novita diam memikirkan kata-kata putranya. Memang ada
benarnya juga. Dan jika anak yang merasa terbuang, pasti dihatina akan penuh dengan kebencian dan juga dendam, lebih parahnya lagi ia akan mati rasa. Padahal niat om dan tantenya mngembalikan pada mamanya karena sesuai perjanjian. Tentunya juga dengan mengasuh bayi itu sangat sibuk.
Novita tersenyum dan memeluk putranya yang sudah mulai
__ADS_1
dewasa. “Terimakasih, ya sayang? Ya sudah, karena mama sudah menemukan jawaban
darimu, mama bisa tenang sekarang. Ayo, kita tidur,” ajaknya.
Axel ematikan televisi, kemudian masuk ke dalam kamarnya
sendiri.
Sedangkan Zahara di sepanjang perjalanan sampai tiba di
rumah hanya diam saja, hanya berkata sepatah dua patah saja saat Alex bertanya. Sungguh tidak seperti dirinya yang biasanya. Ada apa dengannya? Pikir Alex.
“Sayang, boleh aku minta tolong dibuatkan kopi? Aku mau
mengoreksi hasil ulangan murid-muridku,” ucap Alex sambil memperhatikan raut
wajah istrinya yang sedikit berbeda.
“Ya,’' jawab wanita itu singkat, lalu beranjak ke dapur. Tak
lama kemudian, ia kembali dengan membawa secangkir kopi panas tanpa memberikan pendamping. Biasanya Zahara kalau suaminya mau mengoreksi hasil ulangan, ia
tidak pernah lupa memberikan cemilan, entah itu biscuit gandum, oat dan apapun
yang kiranya tidak membikin melar tubuh suaminya yang memang sejak awal ia
kenal sangat menjaga penampilannya, dan asupan makan pula tentunya.
Alex diam, ia masih tidak tahu, apa kesalahannya. Ia hanya
melihat ada yang tidak biasa dengan Zahara. Tapi, karena tugas banyak, ia
abaikan dulu, dia harus segera mengerjakan ini dan segera menyelesaikannya dalam waktu seminggu.
Karena bayangan Zahara yang terus mengganggu, baru saja
mengoreksi milik duapuluah siswanya, ia memutuskan untuk menyudahinya saja. Mungkin bisa besok pagi, setelah subuh, lagipula besok dia tidak ada jadwal ke kampus.
Saat ia masuk ke dalam kamar, ia tahu kalau Zahara masih
belum tidur. Meremnya hanya pura-pura. Tanpa banyak bicara, Alex langsung memeluk wanita itu dari belakang dan meleteakkan kepalanya diatas leher Zahara
yang tidur miring membelakanginya.
“Sayang, kamu belum tidur, kan?”
Zahara diam tak menjawab. Sementara Alex, masih
mepertahankan letak posisi kepalanya.
Lama-lama Zahara merasa berat juga menyangga jepala Alex, ia
mendorong kepala pria itu, dengan jengkel pun berkata, “Kau jangan begini.”
“Kamu kenapa, sih? Kalau aku ada salah, aku minta maaf, ya?”
ucapnya dengan lirih dan lembut.
“Apa yang perlu dimaafin? Kurasa kamu tidak salah,” jawab
Zahara ketus, tanpa mau mengalihkan pandangannya pada pria itu.
“Ada apa, sih sayang kok tiba-tiba ngambeg? Ngomong dong
sama aku. Kalau kamu diam, mana mungkin aku tahu?” cuap Alex dengan lebut.
“Apa yang mau dibahas. Kita tidak akan memiliki anak selama
di hatimu masih ada nama wanita lain. Aku Cuma istri diatas kertas saja, namaku hanya tertulis di buku nikah saja, Lex. Tapi, tidak di hati kamu,” ucap Zahara sambil menangis, dan duduk di tepi ranjang.
Alex kian bingung saja. Istrinya ini kenapa? Kenapa tiba-tiba
berkata demikian? Memangnya siapa yang ada dihatinya kalau bukan dia? Alex juga bingung.
Ia tidak mau banyak bicara, ia juga ikut duduk di sebelah
Zahara dan mengelus kepalanya, kemudian, ia menyandarkan kepala Zahara yang menggunakan hijab instan berbahan spandek itu pada dada bidangya.
Tapi, dengan tegas wanita itu menolaknya, ia malah mendorong
tubuh Alex, dan terus menangis.
“Zahara, kamu ini kenapa sih? Jangan bikin aku bingung gini,
dong. Kalau aku ada salah sama kamu, kamu ngomong, kalau kamu diam, aku juga tidak tahu,” keluh Alex, mulai menyerah.
“Tidak, kau tidak salah sama aku, kok Lex.” Wanita itu mneyeka air matanya dengan kasar.
“Lalu, kenapa kau berubah seperti ini tiba-tiba?” Alex masih
meredam emosinya, sebisa mungkin ia tidak akan berkata dengan nada tinggi pada Zahara istrinya.
“Besok aku ingin ke panti saja untuk menenangkan dulu
pikiranmu, dan juga, jadikan itu kesempatan untuk menikmati sisa-sisa perasaanmu pada mantan istrimu,” jawab Zahara lirih, namun masih bisa di dengar oleh Alex.
Alex menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan
kasar, kemudian menjambak rambut bagian depannya sendiri.
“Aku dan dia sudah tak ada hubungan apapun. Lagi pula,
setelah aku bercerai dengannya, dan mendapatkan kembali kesadaranku aku juga tak mengejarnya lagi. Kubiarkan dia bersama Diaz. Tapi, malah hubungan mereka
dihancurkan oleh Al, dan dengan paksa pula Al menikahinya.”
“Apakah kau benar-benar sudah terima itu?” tanya Zahara
dengan suara yang lebih rendah.
“Tentu saja, jika kau bertanya soal itu, kalau posisiku ada
di Diaz, dong harusnya,” jawab Alex dengan santai.
“Maafkan aku, aku sudah salah paham sama kamu, Lex.” Zahara
beranjak dan memeluk pria yang duduk di sampingnya itu.
Alex mengelus punggung Zahara, dalam hati ia membatin,
Memang dalam hati Alex masih belum bisa terima kalau Queen
akhirnya bersama dengan Al. bukan berate dia tidak bisa move dari cinta masa SMA nya itu. Tapi, ya kenapa harus dengan Al? sekalipun dia nyatanya adalah kakak angkat yang tak memiliki hubungan darah, tetap saja, Alex baru tahu juga saat mereka menikah dari Diaz. Sebelumnya sama sekali ia tidak tahu menahu soal itu.
Mengenai kenapa dia tidak mengejarnya lagi, itu sudah jadi perjanjian antara dia dan Al demi keselamatan kakak dan keponakannya dari Aditya dulu. Jadi, mau tidak mau, dia harus merelakan Queen dengan yang lain, bukan rela dan ikhlas dari dirinya sendiri.z
*****
Pagi itu, sebelum ia berangkat kerja, Queen menyiapkan
keperluan sekolah Berlyn putrinya. Karena mamanya sudah menelfon kalau mereka
kini sudah berada di dalam perjalanan.
Sedangkan Al sendiri, ia masih bermalas-malasan di atas
kasur sambil memainkan gadgetnya sambil sesekali memperhatikan istrinya yang sibuk mondar-mandir ke sana ke mari sambil berbicara melalui telfon menggunakan hadset.
“Berlyn sudah sarapan apa belum, Ma? Kalau belum, biar
sekalian Queen siapkan,” ucap wanita itu sambil membaca Jadwal pelajaran
putrinya dan menata bukunya satu persatu ke dalam tas.
“ … “
“Oh, ya sudah. Terus ini gimana nanti, aku Cuma nyiapin
pakaian ganti dan seragamnya selama satu minggu saja, ya Ma?”
“ … “
“Oke, baiklah, Ya sudah, sekalian sarapan bareng saja Ma. Al
juga belum mandi ini,” ucap Queen sambil melirik ke arah suaminya yang tengah asik dengan gamenya.
Seketika, Al langsung meletakkan gadgetnya dan beranjak
menghampiri istrnya yang juga sudah mematikan panggilannya.
“Kamu kok bilang aku belum mandi sih, Sayang? Apa kau memberi
kode pada mereka kalau semlam kita bekerja keras?” ucap Al sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Ih, kau apaan, sih? Kukira mereka tahu, kalau kau memang
sudah tidak berniat memiliki anak lagi.”
“kenapa kau berfikir demikian?”
“Mereka tidak pernah membahasnya lagi. Mereka mungkin lima
menit lagi juga sudah sampai, kamu cuci muka saja, gih. Kita sarapan bareng,” ucap Queen.
Al dan Queen berangkat bekerja masih jam tujuh lewat
tigapuluh menit. Sedangkan ini juga baru jam setengah enam. Berlyn, papa dan mamanya sudah tiba, mereka juga sudah duduk di meja makan. Tapi, Queen masih sibuk mondar-mandir dengan keperluan putrinya untuk seminggu di rumah neneknya.
“Queen, kalau tidak sempat, papa dan mama nantikan juga
jemput Berlyn lagi. Tidak apa-apa, lah pas pulangnya saja. Berlyn jam enam
harus sudah berangkat ke sekolah. Ayo, kita sarapan dulu!” ujar Clara pada putrinya.
“Iya, Ma. Ini ambil susu formula sama vitamin saja, sudah
semuanya kelar,” ucap Queen dan meletakkan ke dalam tas ransel warna pink milik putrinya.
Semalam Al dan Queen pulang kemalaman, jadi, ia sudah capek dan segera tidur. Jadi, baru sempat menyiapkan keperluan putrinya pagi hari.
“terus minggu depan ini bagaimana? Kalian ke bandara
berangkat dari sini, apa dari sana?” tanya Vano.
Bahkan, Al dan Queen sempat melupakan rencananya untuk
menjengkuk Clarissa kembaran Berlyan di Singapura.
“Eh, iya, ya? Kok bisa lupa begini, sih Al?” Queen tertawa
sambil memandang suaminya yang juga memasang ekspresi masam.
“Ya sudah, sudah jam
enam. Ayo Berlin, kita berangkat ke sekolah, berpamitanlah sama papa dan mamamu,” ujar Vano pada cucunya.
Mendengar itu, gadis kecil itu langsung membersihkan
muulutnya dengan tisu dari sisa susu yang baru saja diminumnya. Kemudian ia turun dan bersalaman dan mencium kedua pipi papa dan juga mamanya, lalu
melambaikan tangan dan pergi sambil mengandeng tangan kakek dan neneknya.
Sementara Al dan Queen mereka kembali bersiap untuk bekerja.
Dan ini kali pertama pula bagi mereka setelah memiliki anak tidak disibukkan
dengan urusan anak. Al yang biasanya tiap hari sebelum ke kantor mengantarkan putrinya dulu kini langsung ke kantor.
Di jam-jam saat putrinya pulang biasanya ia meninggalkan pekerjaan untuk menjemputnya kini juga tidak.
Barulah setelah dia menjalani semua ini seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bukannya
fokus bekerja, ia malah justru tidak tenang.
Al melihat jam yang berdiri di meja kerjanya. Ia manghitung
jarum merah yang terus berputar membawa jarum Panjang berpindah.
“lima belas menit lagi jam istirahat, ajak Queen makan siang bareng diluar saja, deh,” gumamnya seorang diri.
Karena sudah tidak ada yang dikerjakan, Al menghubungi nomor
mamanya untuk menanyakan keadaan putri kecilnya.
“Hallo, Al. ada apa?” sahut wanita itu dari seberang.
“Berlyn ngapain, Ma?” tanya Al.
__ADS_1
“Oh, dia sudah tidur, baru saja, dia memang sengaja tidur
cepat sejak jam sebelah tadi, karena kakek dan buyutnya mau mengajaknya
memancing ikan.”
Al hanya mengangguk. Kalaupun putrinya belum tidur, ia akan
beralih ke panggilan video. Tapi,
karena sudah tidur… ya sudahlah.
“Ya sudah, Ma. Apakah nanti mama juga akan ikut?”
“Sepertinya tidak. Kalau mama ikut, siapa yang akn mengurusi
kebun? Itu tomat, sawi dan beberapa sayur lainnya juga waktunya manen, sayang kalau dibiarkan nanti malah
berjatuhan, ya sama bagi-bagi ke tetangga sebelah, kan lumayan, Al. bisa bikinnorang seneng dengan cara yang sederhana,” timpal Clara.
“iya, Ma. Benar. Semoga kalian selalu sehat ya, Ma?” Tanpa
terasa, Al sudah mengobrol cukup lama dengan mamanya, ia pun mematikan telfon karena sudah jam duabelas tepat. Kini, ia berganti menghubingi Queen untuk makan di luar. Tapi, Queen menolak, ia
menggunakan jam istirahatnya yang tidak sampai satu jam untuk makan di rumah saja. Berdua dengan suaminya.
“Tumben ngajak makan siang di rumah kamu, Sayang, kenapa?”
“Karena aku nanti minta jemput kamu, pas pulangnya,” jawab
Queen sambil tersenyum penuh arti.
“Tumben, biasanya ku juga jemput kamu, kan sayang.”
“Temani aku ke salon.” Queen melirik Al yang duduk di depannya sambil menahan tawa.
Mendengar kalimat temani aku ke salon, seketika wajah Al
yang semulanya cerah jadi berubah. Mau bilang iya, dia paling males. Mau bilang tidak, jelas, Queen akan ngambeg nanti.
“kenapa diam? Gea dan Shinta dulu saat pacarana sama
suaminya juga gitu. Kamu gak mau, ya?” Queen menunduk, mulai memakan makanannya
dengan paksa. Sepertinya ia sudah tak berselera saja.
“Ya, kan kita sudah menikah, Sayang. Kau kan sudah biasa ke salon-salon sendiri dengan teman-temanmu.”
“Ya sudah, kalau gitu jemput Berlyn sekarang saja. Pulang
kerja kita ke rumah papa dan mama dan ajak putri kita pulang.” Dugaan Al
ternyata benar, Queen dongkol.
“Kamu kok gitu, sih? Kasian mereka, lah. Tadi Berlyn mama
sama papa juga sudah kelihatan seneng banget gitu.”
Queen diam, tidak menjawab.
“Tadi aku nelfon mama, mereka sudah ada rencana ajak Berlyn
mincing juga, loh. Masak gagal, sih?” ucap Al juga nampak sedih.
“Katanya kamu bilang kemarin kita mau pacarana lagi kalau putri
kita bersama papa dan mama. Lalu, kenapa sekarang kamu jadi protes saat aku minta kamu temani ke salon?” jawab Queen.
Al hanya menghela napas panjang. Memang benar apa yang papa
dan kakek Andreannya bilang dulu. Sehebat apapun kita sebagai pria, sekalipun boss mafia, ia tidak akan pernah memang kalau menghadapi makhluk Tuhan yang bernama istri. Saat ini dia juga sudah merasakannya. Tapi, dia sudah lama berhenti
dari dunia hitam itu. Sekalipun bisnis pesawat jet masih ia jalankan, ia
benar-benar menjalankan dengan jalur yang legal. Bersaing dengan musuh juga dengan sehat, selagi musuh tidak curang.
“Baiklah, kau pulang jam berapa?’’ tanya Al. pria itu rupanyansudah benar-benar menyerah.
“Kamu mau anterin aku?” tanya Queen dengan mata berbinar.
“Iya, pacarku yang paling cantik, aku akan antar kamu,” jawab Al sambil tersenyum menatap ke arahya.
Queen melompat dan menghampiri Al yang duduk di depannya, ia
memeluk pundak pria itu dari belakang, dan menyelipkan wajanya di antara leher
dan juga wajah Al.
“Aku nanti pulang jam setengah empat sore. Jemput aku, ya?”
Al memegang tangan Queen dan menciumnya. “Baik, apakah aku
akan dihukum jika seandainya nanti aku terlambat?”
“Tentu saja,” jawab Queen. Sambil menempelkan pipinya pada
pipi Al dari belakang, membuat pria itu kian gemas saja dengan tingkah
manjanya.
“Ini sudah hampir setengah satu, aku harus segera kembali ke
rumah sakit, Al.”
“Ya sudah, aku akan mngantarkanmu.”
Setelah mengantar Queen kembali ke rumah sakit, Al kembali ke kantor dengan raut wajah yang
kurang senang. Ia yakin, nanti nanti dia akan sangat lama menunggu Queen di
salon. Namanya laki-laki suruh menunggu. Walaupun hanya setengah jam, pasti terasa seperti setengah abad.
Sedangkan Queen merasa puas karena sudah berhasil membuatnya
kesal. Karena ini sudah sore, pergi, mungkin cukuplah ke salon saja.
Selanjutnya, ia akan mengerjainnya lagi nanti di lain hari.
“Doc.Queen. sepertinya kau sedang bahagia?” sapa Gea, yang
kebetulan dia dan Diaz masih bekerja di rumah sakit yang sama.
“Ya begitulah, oke. Aku mau memeriksa pasien rawat inap
dulu,” ucap Queen bersemangat.
Sedangkan Gea hanya melihat sahabatnya itu sambil
geleng-geleng kepala saja, dan membatin, ‘Kau nikmati saja mumoung anaksudah
mulai besar dan masih satu.’
****
Suatu sore, seorang pria tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Sepertinya ia baru saja dari bangun tidur. Terlihat dari suaranya saat berbicara, dan sesekali mengucek-ucek matanya.
“Jadi, aku dan Zahara hanya boleh mengajaknya sesekali saja,
gak boleh setiap hari, gitu, ya?” ucapnya, lalu menutupi mulutnya yang tengah menguap.
“Ya, begitu. Maaf, bukannya kakak tidak mau membantu kalian
atau tidak mepercayai kalian. Aku takut, kalau Adriel sudah terbiasa mendaptkan perhatian kusus dari kalian, dan jika kalian sudah memiliki anak sendiri ia merasa tersisih. Aku takut dia benci pada saudara sepupunya.
Jika ia dewasa nanti, dan tahu istilah pancingan, dia hanya akan membencimu dan menganggap kau
dan Zahara tidak benar-benar tulus padanya.”
“Iya, kakak Benar. Lalu, kapan aku bisa mengajkanya kemari?”
“Terserah, bagaimana kalau nanti malam?” usul Novita.
“Apakah kakak sudah bicara sama tante Livia?”
“Bahkan Axel juga sudah tahu ini, kau tenang saja.”
“Baiklah, kak.”
Panggilan dimatikan. Alex mencari Zahara yang mungkin sedang
berada di taman merapikan tanaman.
“Sayang, kau ada di mana?” teriak Alex.
“Ada apa, Lex? Aku baru saja mengganti air aquarium,” ucap
Zahara pelan. Memang sudah jadi ciri khas wanita itu, bicaranya pelan dan lemah lembut.
Awalnya Alex ingin segera mengatakan kabar gembira itu.
Tapi, karena melihat Zahara yang kelihatannya kurang fit, ia pun urung.
“Kamu jangan capek-capek, Ra. Lihat, kau pucat, perlu ke dokter?”
“Apa, sih? Kamu lebai begini saja masa iya ma uke dokter?”
ucap Zahara.
Tapi, tiba-tiba saja pandangan wanita itu menjadi kabur, dan
kian putih, lalu tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.
Beruntung tempatnya berdiri tidak jauh dari tempat Alex.
dengan sigap pria itu langsung menangkap Zahara dan membaringkannya diatas
sofa. Ia berusaha memberi pertolongan pertama, menyadarkan istrinya. Tapi, Zahara tak juga kunjung sadar, membawanya ke dokter atau ke rumah sakit tidak
mungkin. Tak memiliki pilihan lain, dan dia benar-benar panik, entah bagaimana ceritanya, ia malah justru menghubungi Queen.
Queen yang kebetukan sudah bersama Al, dan baru saja keluar
dari area rumah sakit, menerima panggilan dari Alex. mulanya wanita itu sedikit ragu-ragu untuk mengangkatnya. Ia takut kalau Al marah karena cemburu. Tapi,
karena Al mengangguk dan meyakinkan dirinya untuk mengangkat panggilan itu,
wanita itupun mengangkatnya, setelahnya bilang, kalau Zahara tiba-tiba pingsan.
Dengan cepat Al melajukan mobilnya menuju ke kediaman Alex, dan melupakan tujuan utamanya.
Sedangkan Alex sibuk mondar-mandir sendiri, bibi sedang
tidak ada, ia katanya pergi ke mini market terdekat untuk membeli minyak goreng dan gula, sedangkan Zahara juga tak kunjung sadar. Akhirnya, Alex memberikan
napas buatan. Toh, kalau pun ada yang lihat dan menyangka ini ciuman juga suda strinya sedniri.
Baru sekali saja, Zahara seperti sudah tersedak saja, ia terbangun sambil memgangi kepalanya, ia masih inga tapa yang terjadi sebelumnya.
“Aku pingsan, ya Lex?” tanyanya.
“Iya, sudah kubilang, kau jangan terlalu capek.”
“Aku pusing banget tadi, dan asam lambungku juga sepertinya
kambuh. Soalnya sama kak Novi aku kemarin makan banyak pedas dan manga muda
yang asem banget,” ucap Zahara.
“Kamu sudah tau maag parah gitu, kenapa diterusin saja, sih?
Kalau sudah sakit begini, aku Cuma bantu rawat kamu dan kasian doang,
selebihnya yang merasakan tidak enaknya juga kamu sendiri.”
“Iya, maafkan aku.” Zahara tersenyum dan menerima segelas
air putih hangat dari suaminya dan mulai menyesapnya hingga sisa setengah gelas saja.
Dari halaman, tersengar suara mobil masuk, tak lama
kemudian, meyusul suara bel berbunyi. Alex yakin yang datang adalah Queen.
“Siapa yang datang, Lex?”
“Mungkin dia dokter yang memeriksamu,” ucapnya lalu pergi ke
depan untuk membukakan pintu.
__ADS_1