Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 16


__ADS_3

Setiba di rumah, Axel mendapati mobil omnya terparkir di


halaman rumahnya. Tapi, dari dalam ia juga mendengar suara tantenya. Dia memang


hafal banget dengan suara istri yangkedua omnya ini. Kalem, pelan dan lembut.


Enak di dengarnya. Kedua secara sadar maksutnya.


“Axel, kau sudah pulang, Nak? Dari mana kau tadi?” sapa


Zahara pada keponakannya.


“dari rumah teman, Tante. Apakah om dan tante sudah lama di


sini?” tanya Axel balik setelah mencium tangan Zahara.


“Oh, soalnya mama kamu bilang ke GYM. Sedangkan om tadi bilang


kamu sama sekali tidak ke sana.”


Axel meletakkan tasnya asal dan duduk di atas sofa. Lalu ia


menjelaskan kejadiannya. “Memang tadi awalnya ada rencana begitu. Tapi,


tiba-tiba di jalan teman ngajak battle main game, Tante,” jawab Axel bohong. Ia tidak mau menunjukkan rasa jengahnya pada Bilqis. Yang ada mereka nanti malah dijomblangin saja. Orang tua mah selalu begitu.


“Oh, benar begitu, Axel? Apakah tadi tidak ada yang datang


kemari?” ucap Zahara sambil tertawa geli melihat keponakannya yang tampan melebihi suaminya. Tapi, sedikit pun bukanlah fake boy.


“Aku lelah dan belum mandi, mama di mana, Tante? Axel mandi


dulu, ya?” pria remaja itu pun kembali meraih tasnya dan beranjak pergi


meninggalkan Zahara seorang diri.


Sedangkan Zahara hanya terkikik dan tertawa geli saja. ’Nurun siapa dia bisa sampai segitu dinginnya pada cewek? Yang bisa memenangkan


hatinya, pasti dia adalah wanita hebat,’ gumamnya seorang diri.


Karena menunggu suaminya dan Adriel yang tak kunjung datang,


Zahara memutuskan pergi ke dapur menemani Novita memasak. Toh, yang ditunggu juga sudah tiba dan bersembunyi sekarang.


“Apakah Axel sudah datang, Ra?’ tanya Novita tanpa


memalingkan pandangannya dari memptpngi sayuran.


“Iya, Kak. Dia baru saja tiba, dan sekarang dia pamit mau


mandi katanya,” jawab wanita itu sambil terkikik.


Novita tersenyum tertahan dan melirik saudari iparnya. Dia paling


hafal hafal dengan kebiasaan Zahara yang suka menggodai Axel. Karena sifatnya jauh berbeda dengan omnya dulu yang terkenal suka gonta-ganti pacar. Mungkin jika saja Alex setia, sampai detik ini juga akan ada kemungkinan masih tetap


bersama Queen. Tapi, Namanya takdir, siapa juga yang tahu? Zahara juga cantik dan baik, dari segi agama dia juga termasuk wanita sholehah, dan penyayang dengan anak kecil, karena ibunya juga ketua Yayasan panti asuhan. Tapi, sayang,


sampai detik ini, sudah empat tahun dia dan adiknya menikah masih juga belum dikaruniai seorang anak.


“Kau pasti menggodanya, ya?”


“Iya, dia langsung saja berdiri dan pergi. Padahal baru saja


duduk, Kak. Lucu, ya? Nurun siapa sih dia?”


Novita hanya menaikkan kedua pundaknya. Dia sendiri tidak


tahu nurun siapa putranya itu. Mau menclaim seperti dirinya, dia dan mendiang Aditya dulu


pacaran juga sejak kelas tiga SMP. Mau bilang kaya omnya? Jelas big no.


“Panggil tante dan mamamu, tunjukan pada mereka, apa yang kau


dapatkan!”  Dari luar sana terdengar


suara seorang pria yang baru saja datang dari luar.


“Tante, Mama… kalaian di mana?” Kemudian menyusul suara


seorang bocah berusia enam tahunan seraya berlari membawa tas kresek berwarna putih yang berisi penuh dengan makanan ringan.


“Adriel, kau sudah datang?” sambut Zahara dan juga Novita bersamaan.


Bocah berusia enam tahun itu membuka isi tas kresek di


tangannya. Ternyata isinya roti, biscuit susu uht dan juga sereal. Sepertinya


Alex baru saja membawanya jalan-jalan ke mini market.


“Wah, banyak banget, Driel? Kau memborong seluruh isi mini


market?” tanya Novita setelah tahu isi dari kantong kresek tersebut.


“Kalau memborong, mana mungkin Cuma segini, Ma? Ya tentu


saja tidak, ini bahkan tidak ada 0,5 persen dari seluruh barang yang ada di


mini market tersebut," jawab bocah itu dengan polos. Tapi, kata-katanya


menunjukkan kalau ia sangat cerdas, tidak seperti anak usia enam tahun pada umumnya.


“Hey, bocah, kau pinter sekali, siapa yang mengajarimu berhitung?” tanya Zahara dengan gemas.


“Kakakku kan pinter matematika. Aku sering melihatnya saat


mengerjakan tugas.”


“Ih, kamu, gemesin banget, sih?” Zahara mencubit pipi gembul


bocah itu dengan gemas.


Setelahnya, Alex,


Zahara, Novita Adriel dan juga Axel makan malam bersama. Saat makan malam semua


masih berjalan noral. Tapi, setelahnya keadaan menjadi seperti menjadi sedikit canggung dan tidak enak.


Kala itu Axel sudah mengajak adiknya masuk ke kamar untuk belajar.


Dia setiap hari walau hanya tigapuluh menit selalu menyempatkan diri untuk


mengajari adiknya, atau bahkan juga membantu mengerjakan pr. Dia sendiri juga tak jarang memberinya soal latihan kepada sang adik. Karena motonya, jika aku bisa menjadi anak yang cerdas. Maka, aku harus bisa menularkan ilmuku kepada


adikku. Jika bisa, adikku harus lebih hebat dariku.


Kecanggugn antara Zahara, Alex dan Novita terjadi saat


mereka memiliki niat untuk mengasuh Adriel. Sedangkan Novita sendiri memiliki anak seperti tidak ikut memeliki wewenang dan juga hak. Karena sedari kecil yang paling banyak direpotkan dalam mengurus Adriel adalah mama mertuanya, Livia. Bukanlah dirinya.


“Kak, aku tidak mengadopsinya. Aku dan Zahara hanya ingin


mengasuhnya untuk dijadikan pancingan agar kami juga bisa segera mendapatkan momongan,’ ucap Alex memohon.


“Lex, bukannya kakak keberatan atau tidak setuju. Tapi, apa


yang akan kakak katakana pada mama Livia nanti jika dia sudah kembali? Sedangkan


kembalinya kapan aku juga tidak tahu.”


Alex menghembuskan napas Panjang. Dia sendiri juga tahu dan


paham betul bagaimana posisi kakaknya saat ini. Tapi, bagaimana lagi? Alex tidak ada pilihan.


“Kan umik memiliki panti asuhan yang bisa di katakana besar.


Kenapa kalaian tidak mengadopsi salah satu bayi dari sana saja? Biasanya pancingan itu anaknya diadopsi dan dimasukan di kk sebagai anggota keluarga,” usul Novita.


Memang apa yang diusulkan oleh wanita itu benar. Tapi, Alex


tengah trauma dengan kejadiannya dulu. Ia teringat bagaimana kehidupan Queen. Yang tanpa ia ketahui Al ternyata adalah kakak angkat saja, lama-lama mereka


jadi cinta. Bahkan, Al yang terkenal sedikit memiliki jiwa saiko rela


mengahncurkan hubungan Queen dengan Diaz. Dan menggunaka segala cara untuk bisa


mendapatkan hati wanita itu.


“Ya. Tapi, itu bukan solusi juga, lah kak. Aku takut, kejadian yang menimpa mantan istriku kembali ke anakku,” jawab Alex. tanpa


sadar ian berkata begitu di depan Zahara, seketika itu juga Zahara langsung terlihat kisut.


“Baiklah, anggap saja kaka setuju kalian merawat Adriel


untuk sementara waktu. Tapi, kakak juga perlu membicarakan ini dengan mama mertua kak dulu, dong. Bagaimana pun juga, itu tidak akan bisa menutup


kenyataan kalau beliau adalah neneknya. Dan beliau pula yang selama ini paling sibuk merawat keponakannmu, Lex."


“Baik. Kami akan menunggu kabar baik dari kakak. Segera


beritahu kami jabawabannya nanti. Jika boleh, aku juga bisa izin kepada beliau secara langung,” ucap Alex. akhirnya, mereka pun menemukan titik terangnya. Karena sudah malam pula, Alex dan Zhara berpamitan.


Novita memanggil kedua putranya. Mereka bertiga mengantarkan


Alex dan istrinya sampai pintu gerbang, dan menguncinya lalu kembali ke dalam.


Sekitar jam sepuluh malam, saat Adriel sudat tidur, Axel


mendapati mamanya duduk seorang diri di sofa yang ada di ruang menonton


telvisi. Mamanya sepertinya nambak berfikir keras, terlihat sekali dari garis


dahi dan wajahnya yang tegang. Tapi, apa yang dipikirkannya?


Axel yang keluar dari kamar Adriel dan hendak masuk ke


kamarnya sendiri pun akhirnya urung. Ia menghampiri mamanya, kemudian duduk di sebelah Novi.


“Mama belum tidur?”


“Axel, ini sudah larut, Sayang, kau kenapa di sini?” tanya


Novita kaget dan menurunksn tangannya yang sebelumnya mengurut lembut kedua


pelipisnya.


“Mama juga kenapa belum tidur? Kok kelihatan galau, mikirin


om Candra, ya?” Dengan muka datar, kali ini Axel menggoda mamanya balik. Karena ia tadi pasti sudah menceritakan tentang Bilqis ke tantenya.


Novita terkejut mendengar ucapan anaknya yang super duper cuek itu


kok bisa seperti itu. Kenapa dengannya?


“Axel?” Wanita itu memelototi putranya. Selain dia malu


dituduh memikirkan pria brondong itu, ia sebenarnya juga sama sekali tidak


sedang memikirkannya.


“Habis jam segini Mamam belum tidur, ngapain, coba?” ucap


pria remaja itu, masih dengan tampangnya yang datar.


“Karena kau sudah dewasa dan mungkin juga cukup umur, sini


mama kasih tahu, supaya kau tidak asal menuduh mama saja.”


Axel diam sambil memandang wajah mamanya. Tapi,


tangannya meraih remot tv dan mengecilkan volumenya.


“Barusan itu, om Alex dan tante Zahara minta agar Adriel


mereka asuh sementara. Siapa tahu, dengan mengasuh adikmu, tante Zahara bisa segera hamil. Orang dulu menyebutnya sebagai pancingan.”


“Kalau sekali-kali tinggal tidak masalah. Yang Axel


khawatirkan kalau tinggal di sana dalam jangka waktu lama, sampai menunggu tante Zahara benar-bnar hamil dan memiliki anaknya sendiri kan kita tidak ada yang tahu. Adriel sudah merasa disayang sama om dan tantenya, terus pas mereka


sudah punya anak merasa tak lagi diinginkan lagi. Itu tidak baik juga untuk pertumbuhan psikisnya juga.”


Novita diam memikirkan kata-kata putranya. Memang ada


benarnya juga. Dan jika anak yang merasa terbuang, pasti dihatina akan penuh dengan kebencian dan juga dendam, lebih parahnya lagi ia akan mati rasa. Padahal niat om dan tantenya mngembalikan pada mamanya karena sesuai perjanjian. Tentunya juga dengan mengasuh bayi itu sangat sibuk.


Novita tersenyum dan memeluk putranya yang sudah mulai

__ADS_1


dewasa. “Terimakasih, ya sayang? Ya sudah, karena mama sudah menemukan jawaban


darimu, mama bisa tenang sekarang. Ayo, kita tidur,” ajaknya.


Axel ematikan televisi, kemudian masuk ke dalam kamarnya


sendiri.


Sedangkan Zahara di sepanjang perjalanan sampai tiba di


rumah hanya diam saja, hanya berkata sepatah dua patah saja saat Alex bertanya. Sungguh tidak seperti dirinya yang biasanya. Ada apa dengannya? Pikir Alex.


“Sayang, boleh aku minta tolong dibuatkan kopi? Aku mau


mengoreksi hasil ulangan murid-muridku,” ucap Alex sambil memperhatikan raut


wajah istrinya yang sedikit berbeda.


“Ya,’' jawab wanita itu singkat, lalu beranjak ke dapur. Tak


lama kemudian, ia kembali dengan membawa secangkir kopi panas tanpa memberikan pendamping. Biasanya Zahara kalau suaminya mau mengoreksi hasil ulangan, ia


tidak pernah lupa memberikan cemilan, entah itu biscuit gandum, oat dan apapun


yang kiranya tidak membikin melar tubuh suaminya yang memang sejak awal ia


kenal sangat menjaga penampilannya, dan asupan makan pula tentunya.


Alex diam, ia masih tidak tahu, apa kesalahannya. Ia hanya


melihat ada yang tidak biasa dengan Zahara. Tapi, karena tugas banyak, ia


abaikan dulu, dia harus segera mengerjakan ini dan segera menyelesaikannya dalam waktu seminggu.


Karena bayangan Zahara yang terus mengganggu, baru saja


mengoreksi milik duapuluah siswanya, ia memutuskan untuk menyudahinya saja. Mungkin bisa besok pagi, setelah subuh, lagipula besok dia tidak ada jadwal ke kampus.


Saat ia masuk ke dalam kamar, ia tahu kalau Zahara masih


belum tidur. Meremnya hanya pura-pura. Tanpa banyak bicara, Alex langsung memeluk wanita itu dari belakang dan meleteakkan kepalanya diatas leher Zahara


yang tidur miring membelakanginya.


“Sayang, kamu belum tidur, kan?”


Zahara diam tak menjawab. Sementara Alex, masih


mepertahankan letak posisi kepalanya.


Lama-lama Zahara merasa berat juga menyangga jepala Alex, ia


mendorong kepala pria itu, dengan jengkel pun berkata, “Kau jangan begini.”


“Kamu kenapa, sih? Kalau aku ada salah, aku minta maaf, ya?”


ucapnya dengan lirih dan lembut.


“Apa yang perlu dimaafin? Kurasa kamu tidak salah,” jawab


Zahara ketus, tanpa mau mengalihkan pandangannya pada pria itu.


“Ada apa, sih sayang kok tiba-tiba ngambeg? Ngomong dong


sama aku. Kalau kamu diam, mana mungkin aku tahu?” cuap Alex dengan lebut.


“Apa yang mau dibahas. Kita tidak akan memiliki anak selama


di hatimu masih ada nama wanita lain. Aku Cuma istri diatas kertas saja, namaku hanya tertulis di buku nikah saja, Lex. Tapi, tidak di hati kamu,” ucap Zahara sambil menangis, dan duduk di tepi ranjang.


Alex kian bingung saja. Istrinya ini kenapa? Kenapa tiba-tiba


berkata demikian? Memangnya siapa yang ada dihatinya kalau bukan dia? Alex juga bingung.


Ia tidak mau banyak bicara, ia juga ikut duduk di sebelah


Zahara dan mengelus kepalanya, kemudian, ia menyandarkan kepala Zahara yang menggunakan hijab instan berbahan spandek itu pada dada bidangya.


Tapi, dengan tegas wanita itu menolaknya, ia malah mendorong


tubuh Alex, dan terus menangis.


“Zahara, kamu ini kenapa sih? Jangan bikin aku bingung gini,


dong. Kalau aku ada salah sama kamu, kamu ngomong, kalau kamu diam, aku juga tidak tahu,” keluh Alex, mulai menyerah.


“Tidak, kau tidak salah sama aku, kok Lex.” Wanita itu mneyeka air matanya dengan kasar.


“Lalu, kenapa kau berubah seperti ini tiba-tiba?” Alex masih


meredam emosinya, sebisa mungkin ia tidak akan berkata dengan nada tinggi pada Zahara istrinya.


“Besok aku ingin ke panti saja untuk menenangkan dulu


pikiranmu, dan juga, jadikan itu kesempatan untuk menikmati sisa-sisa perasaanmu pada mantan istrimu,” jawab Zahara lirih, namun masih bisa di dengar oleh Alex.


Alex menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan


kasar, kemudian menjambak rambut bagian depannya sendiri.


“Aku dan dia sudah tak ada hubungan apapun. Lagi pula,


setelah aku bercerai dengannya, dan mendapatkan kembali kesadaranku aku juga tak mengejarnya lagi. Kubiarkan dia bersama Diaz. Tapi, malah hubungan mereka


dihancurkan oleh Al, dan dengan paksa pula Al menikahinya.”


“Apakah kau benar-benar sudah terima itu?” tanya Zahara


dengan suara yang lebih rendah.


“Tentu saja, jika kau bertanya soal itu, kalau posisiku ada


di Diaz, dong harusnya,” jawab Alex dengan santai.


“Maafkan aku, aku sudah salah paham sama kamu, Lex.” Zahara


beranjak dan memeluk pria yang duduk di sampingnya itu.


Alex mengelus punggung Zahara, dalam hati ia membatin,


Memang dalam hati Alex masih belum bisa terima kalau Queen


akhirnya bersama dengan Al. bukan berate dia tidak bisa move dari cinta masa SMA nya itu. Tapi, ya kenapa harus dengan Al? sekalipun dia nyatanya adalah kakak angkat yang tak memiliki hubungan darah, tetap saja, Alex baru tahu juga saat mereka menikah dari Diaz. Sebelumnya sama sekali ia tidak tahu menahu soal itu.


Mengenai kenapa dia tidak mengejarnya lagi, itu sudah jadi perjanjian antara dia dan Al demi keselamatan kakak dan keponakannya dari Aditya dulu. Jadi, mau tidak mau, dia harus merelakan Queen dengan yang lain, bukan rela dan ikhlas dari dirinya sendiri.z


*****


Pagi itu, sebelum ia berangkat kerja, Queen menyiapkan


keperluan sekolah Berlyn putrinya. Karena mamanya sudah menelfon kalau mereka


kini sudah berada di dalam perjalanan.


Sedangkan Al sendiri, ia masih bermalas-malasan di atas


kasur sambil memainkan gadgetnya sambil sesekali memperhatikan istrinya yang sibuk mondar-mandir ke sana ke mari sambil berbicara melalui telfon menggunakan hadset.


“Berlyn sudah sarapan apa belum, Ma? Kalau belum, biar


sekalian Queen siapkan,” ucap wanita itu sambil membaca Jadwal pelajaran


putrinya dan menata bukunya satu persatu ke dalam tas.


“ … “


“Oh, ya sudah. Terus ini gimana nanti, aku Cuma nyiapin


pakaian ganti dan seragamnya selama satu minggu saja, ya Ma?”


“ … “


“Oke, baiklah, Ya sudah, sekalian sarapan bareng saja Ma. Al


juga belum mandi ini,” ucap Queen sambil melirik ke arah suaminya yang tengah asik dengan gamenya.


Seketika, Al langsung meletakkan gadgetnya dan beranjak


menghampiri istrnya yang juga sudah mematikan panggilannya.


“Kamu kok bilang aku belum mandi sih, Sayang? Apa kau memberi


kode pada mereka kalau semlam kita bekerja keras?” ucap Al sambil memeluk istrinya dari belakang.


“Ih, kau apaan, sih? Kukira mereka tahu, kalau kau memang


sudah tidak berniat memiliki anak lagi.”


“kenapa kau berfikir demikian?”


“Mereka tidak pernah membahasnya lagi. Mereka mungkin lima


menit lagi juga sudah sampai,  kamu cuci muka saja, gih. Kita sarapan bareng,” ucap Queen.


Al dan Queen berangkat bekerja masih jam tujuh lewat


tigapuluh menit. Sedangkan ini juga baru jam setengah enam. Berlyn, papa dan mamanya sudah tiba, mereka juga sudah duduk di meja makan. Tapi, Queen masih sibuk mondar-mandir dengan keperluan putrinya  untuk seminggu di rumah neneknya.


“Queen, kalau tidak sempat, papa dan mama nantikan juga


jemput Berlyn lagi. Tidak apa-apa, lah pas pulangnya saja. Berlyn jam enam


harus sudah berangkat ke sekolah. Ayo, kita sarapan dulu!” ujar Clara pada putrinya.


“Iya, Ma. Ini ambil susu formula sama vitamin saja, sudah


semuanya kelar,” ucap Queen dan meletakkan ke dalam tas ransel warna pink milik putrinya.


Semalam Al dan Queen pulang kemalaman, jadi, ia sudah capek dan segera tidur. Jadi, baru sempat menyiapkan keperluan putrinya pagi hari.


“terus minggu depan ini bagaimana? Kalian ke bandara


berangkat dari sini, apa dari sana?” tanya Vano.


Bahkan, Al dan Queen sempat melupakan rencananya untuk


menjengkuk Clarissa kembaran Berlyan di Singapura.


“Eh, iya, ya? Kok bisa lupa begini, sih Al?” Queen tertawa


sambil memandang suaminya yang juga memasang ekspresi masam.


 “Ya sudah, sudah jam


enam. Ayo Berlin, kita berangkat ke sekolah, berpamitanlah sama papa dan mamamu,” ujar Vano pada cucunya.


Mendengar itu, gadis kecil itu langsung membersihkan


muulutnya dengan tisu dari sisa susu yang baru saja diminumnya. Kemudian ia turun dan bersalaman dan mencium kedua pipi papa dan juga mamanya, lalu


melambaikan tangan dan pergi sambil mengandeng tangan kakek dan neneknya.


Sementara Al dan Queen mereka kembali bersiap untuk bekerja.


Dan ini kali pertama pula bagi mereka setelah memiliki anak tidak disibukkan


dengan urusan anak. Al yang biasanya tiap hari sebelum ke kantor mengantarkan putrinya dulu kini langsung ke kantor.


Di jam-jam saat putrinya pulang biasanya ia meninggalkan pekerjaan untuk menjemputnya kini juga tidak.


Barulah setelah dia menjalani semua ini seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bukannya


fokus bekerja, ia malah justru tidak tenang.


Al melihat jam yang berdiri di meja kerjanya. Ia manghitung


jarum merah yang terus berputar membawa jarum Panjang berpindah.


“lima belas menit lagi jam istirahat, ajak Queen makan siang bareng diluar saja, deh,” gumamnya seorang diri.


Karena sudah tidak ada yang dikerjakan, Al menghubungi nomor


mamanya untuk menanyakan keadaan putri kecilnya.


“Hallo, Al. ada apa?” sahut wanita itu dari seberang.


“Berlyn ngapain, Ma?” tanya Al.

__ADS_1


“Oh, dia sudah tidur, baru saja, dia memang sengaja tidur


cepat sejak jam sebelah tadi, karena kakek dan buyutnya mau mengajaknya


memancing ikan.”


Al hanya mengangguk. Kalaupun putrinya belum tidur, ia akan


beralih ke panggilan video. Tapi,


karena sudah tidur… ya sudahlah.


“Ya sudah, Ma. Apakah nanti mama juga akan ikut?”


“Sepertinya tidak. Kalau mama ikut, siapa yang akn mengurusi


kebun? Itu tomat, sawi dan beberapa sayur lainnya juga waktunya manen, sayang kalau dibiarkan nanti malah


berjatuhan, ya sama bagi-bagi ke tetangga sebelah, kan lumayan, Al. bisa bikinnorang seneng dengan cara yang sederhana,” timpal Clara.


“iya, Ma. Benar. Semoga kalian selalu sehat ya, Ma?” Tanpa


terasa, Al sudah mengobrol cukup lama dengan  mamanya, ia pun mematikan telfon karena sudah jam duabelas tepat. Kini, ia berganti menghubingi Queen untuk makan di luar. Tapi, Queen menolak, ia


menggunakan jam istirahatnya yang tidak sampai satu jam untuk makan di rumah saja. Berdua dengan suaminya.


“Tumben ngajak makan siang di rumah kamu, Sayang, kenapa?”


“Karena aku nanti minta jemput kamu, pas pulangnya,” jawab


Queen sambil tersenyum penuh arti.


“Tumben, biasanya ku juga jemput kamu, kan sayang.”


“Temani aku ke salon.” Queen melirik Al yang duduk di depannya sambil menahan tawa.


Mendengar kalimat temani aku ke salon, seketika wajah Al


yang semulanya cerah jadi berubah. Mau bilang iya, dia paling males. Mau bilang tidak, jelas, Queen akan ngambeg nanti.


“kenapa diam? Gea dan Shinta dulu saat pacarana sama


suaminya juga gitu. Kamu gak mau, ya?” Queen menunduk, mulai memakan makanannya


dengan paksa. Sepertinya ia sudah tak berselera saja.


“Ya, kan kita sudah menikah, Sayang. Kau kan sudah biasa ke salon-salon sendiri dengan teman-temanmu.”


“Ya sudah, kalau gitu jemput Berlyn sekarang saja. Pulang


kerja kita ke rumah papa dan mama dan ajak putri kita pulang.” Dugaan Al


ternyata benar, Queen dongkol.


“Kamu kok gitu, sih? Kasian mereka, lah. Tadi Berlyn mama


sama papa juga sudah kelihatan seneng banget gitu.”


Queen diam, tidak menjawab.


“Tadi aku nelfon mama, mereka sudah ada rencana ajak Berlyn


mincing juga, loh. Masak gagal, sih?” ucap Al juga nampak sedih.


“Katanya kamu bilang kemarin kita mau pacarana lagi kalau putri


kita bersama papa dan mama. Lalu, kenapa sekarang kamu jadi protes saat aku minta kamu temani ke salon?” jawab Queen.


Al hanya menghela napas panjang. Memang benar apa yang papa


dan kakek Andreannya bilang dulu. Sehebat apapun kita sebagai pria, sekalipun boss mafia, ia tidak akan pernah memang kalau menghadapi makhluk Tuhan yang bernama istri. Saat ini dia juga sudah merasakannya. Tapi, dia sudah lama berhenti


dari dunia hitam itu. Sekalipun bisnis pesawat jet masih ia jalankan, ia


benar-benar menjalankan dengan jalur yang legal. Bersaing dengan musuh juga dengan sehat, selagi musuh tidak curang.


“Baiklah, kau pulang jam berapa?’’ tanya Al. pria itu rupanyansudah benar-benar menyerah.


“Kamu mau anterin aku?” tanya Queen dengan mata berbinar.


“Iya, pacarku yang paling cantik, aku akan antar kamu,” jawab Al sambil tersenyum menatap ke arahya.


Queen melompat dan menghampiri Al yang duduk di depannya, ia


memeluk pundak pria itu dari belakang, dan menyelipkan wajanya di antara leher


dan juga wajah Al.


“Aku nanti pulang jam setengah empat sore. Jemput aku, ya?”


Al memegang tangan Queen dan menciumnya. “Baik, apakah aku


akan dihukum jika seandainya nanti aku terlambat?”


“Tentu saja,” jawab Queen. Sambil menempelkan pipinya pada


pipi Al dari belakang, membuat pria itu kian gemas saja dengan tingkah


manjanya.


“Ini sudah hampir setengah satu, aku harus segera kembali ke


rumah sakit, Al.”


“Ya sudah, aku akan mngantarkanmu.”


Setelah mengantar Queen kembali ke rumah sakit, Al kembali ke kantor dengan raut wajah yang


kurang senang. Ia yakin, nanti nanti dia akan sangat lama menunggu Queen di


salon. Namanya laki-laki suruh menunggu. Walaupun hanya setengah jam, pasti terasa seperti setengah abad.


Sedangkan Queen merasa puas karena sudah berhasil membuatnya


kesal. Karena ini sudah sore, pergi, mungkin cukuplah ke salon saja.


Selanjutnya, ia akan mengerjainnya lagi nanti di lain hari.


“Doc.Queen. sepertinya kau sedang bahagia?” sapa Gea, yang


kebetulan dia dan Diaz masih bekerja di rumah sakit yang sama.


“Ya begitulah, oke. Aku mau memeriksa pasien rawat inap


dulu,” ucap Queen bersemangat.


Sedangkan Gea hanya melihat sahabatnya itu sambil


geleng-geleng kepala saja, dan membatin, ‘Kau nikmati saja mumoung anaksudah


mulai besar dan masih satu.’


****


Suatu sore, seorang pria tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Sepertinya ia baru saja dari bangun tidur. Terlihat dari suaranya saat berbicara, dan sesekali mengucek-ucek matanya.


“Jadi, aku dan Zahara hanya boleh mengajaknya sesekali saja,


gak boleh setiap hari, gitu, ya?” ucapnya, lalu menutupi mulutnya yang tengah menguap.


“Ya, begitu. Maaf, bukannya kakak tidak mau membantu kalian


atau tidak mepercayai kalian. Aku takut, kalau Adriel sudah terbiasa mendaptkan perhatian kusus dari kalian, dan jika kalian sudah memiliki anak sendiri ia merasa tersisih. Aku takut dia benci pada saudara sepupunya.


Jika ia dewasa nanti, dan tahu istilah pancingan, dia hanya akan membencimu dan menganggap kau


dan Zahara tidak benar-benar tulus padanya.”


“Iya, kakak Benar. Lalu, kapan aku bisa mengajkanya kemari?”


“Terserah, bagaimana kalau nanti malam?” usul Novita.


“Apakah kakak sudah bicara sama tante Livia?”


“Bahkan Axel juga sudah tahu ini, kau tenang saja.”


“Baiklah, kak.”


Panggilan dimatikan. Alex mencari Zahara yang mungkin sedang


berada di taman merapikan tanaman.


“Sayang, kau ada di mana?” teriak Alex.


“Ada apa, Lex? Aku baru saja mengganti air aquarium,” ucap


Zahara pelan. Memang sudah jadi ciri khas wanita itu, bicaranya pelan dan lemah lembut.


Awalnya Alex ingin segera mengatakan kabar gembira itu.


Tapi, karena melihat Zahara yang kelihatannya kurang fit, ia pun urung.


“Kamu jangan capek-capek, Ra. Lihat, kau pucat, perlu ke dokter?”


“Apa, sih? Kamu lebai begini saja masa iya ma uke dokter?”


ucap Zahara.


Tapi, tiba-tiba saja pandangan wanita itu menjadi kabur, dan


kian putih, lalu tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.


Beruntung tempatnya berdiri tidak jauh dari tempat Alex.


dengan sigap pria itu langsung menangkap Zahara dan membaringkannya diatas


sofa. Ia berusaha memberi pertolongan pertama, menyadarkan istrinya. Tapi, Zahara tak juga kunjung sadar, membawanya ke dokter atau ke rumah sakit tidak


mungkin. Tak memiliki pilihan lain, dan dia benar-benar panik, entah bagaimana ceritanya, ia malah justru menghubungi Queen.


Queen yang kebetukan sudah bersama Al, dan baru saja keluar


dari area rumah sakit, menerima panggilan dari Alex. mulanya wanita itu sedikit ragu-ragu untuk mengangkatnya. Ia takut kalau Al marah karena cemburu. Tapi,


karena Al mengangguk dan meyakinkan dirinya untuk mengangkat panggilan itu,


wanita itupun mengangkatnya, setelahnya bilang, kalau Zahara tiba-tiba pingsan.


Dengan cepat Al melajukan mobilnya menuju ke kediaman Alex, dan melupakan tujuan utamanya.


Sedangkan Alex sibuk mondar-mandir sendiri, bibi sedang


tidak ada, ia katanya pergi ke mini market terdekat untuk membeli minyak goreng dan gula, sedangkan Zahara juga tak kunjung sadar. Akhirnya, Alex memberikan


napas buatan. Toh, kalau pun ada yang lihat dan menyangka ini ciuman juga suda strinya sedniri.


Baru sekali saja, Zahara seperti sudah tersedak saja, ia terbangun sambil memgangi kepalanya, ia masih inga tapa yang terjadi sebelumnya.


“Aku pingsan, ya Lex?” tanyanya.


“Iya, sudah kubilang, kau jangan terlalu capek.”


“Aku pusing banget tadi, dan asam lambungku juga sepertinya


kambuh. Soalnya sama kak Novi aku kemarin makan banyak pedas dan manga muda


yang asem banget,” ucap Zahara.


“Kamu sudah tau maag parah gitu, kenapa diterusin saja, sih?


Kalau sudah sakit begini, aku Cuma bantu rawat kamu dan kasian doang,


selebihnya yang merasakan tidak enaknya juga kamu sendiri.”


“Iya, maafkan aku.” Zahara tersenyum dan menerima segelas


air putih hangat dari suaminya dan mulai menyesapnya hingga sisa setengah gelas saja.


Dari halaman, tersengar suara mobil masuk, tak lama


kemudian, meyusul suara bel berbunyi. Alex yakin yang datang adalah Queen.


“Siapa yang datang, Lex?”


“Mungkin dia dokter yang memeriksamu,” ucapnya lalu pergi ke


depan untuk membukakan pintu.

__ADS_1


__ADS_2