Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 224


__ADS_3

Vano dan bik Yul kini sudah kemabali di kamarnya. Vano juga


sudah kembali berbaring di hospital badnya. Selang beberapa menit, Andrean pun


tiba.


“Bagaimana perasaanmu, Nak? Apakah kau merasa sudah


baik-baik saja?”


“Queen bilang, tidak lama lagi Vano sudah bisa kembali, Pa.


Itu bagus, kan? Papa bisa membawaku ke makan papa Andreas dan juga mama.”


Andrean tersenyum sambil mengelus kening putranya. Meskipun putranya


kini sudah bukan lagi anak-anak, bahkan ia sudah memiliki anak gadis, dan


seorang cucu jika saja Queen tidak mengalami keguguran. Tetap saja naluri orang


tua, akan tetap menganggap anak itu ya adalah anak-anak.


“Papa akan mengajakmu kemanapun kamu mau, Nak.”


Suara pintu di ketuk dari luar. Awalnya mereka mengira yang


datang adalah ddokter yang bertugas memantau kesehatan Vano. Tapi, ternyata


bukan. Melainkan seorang pria dengan wanita yang perutnya mulai membuncit, sepertinya


wanita itu tengah hamil.


“Alex, Novita? Kemarilah, Nak.” Andrean menyambut dua anak


muda bersaudara itu, tanpa canggung-canggung, pria tua itu langsung memeluk


erat Alex.


“Kakek, apa kabar?”


“Seperti yang kau lihat, Nak! Kakek baik-baik saja dan


sehat, ini berkat terapi yang kau berikan dengan Diaz dulu, kakek sudah bisa


berjalan bahkan lari-lari.”


Novita meletakkan parsel buah-buahan di atas nakas kemudian


duduk di kursi dekat hospitalbad tempat Vano duduk bersandar. “Om, nampak sudah


sangat sekali, semoga bisa lekas kembali, ya? Lalu, bagaimana kabar tante Clara?”


“Tante masih belum sadar, Nov. Doakan ya semoga dia segera


sadar dan bisa berkumpul diantara kita lagi.”


Alex mendekati Vano bersalaman dan mencium punggung tangan


pria paruh baya itu dengan rasa canggung dan takt ahu harus bicara apa.


Bagaimana tidak? Dulu, yang ia tahu dia adalah menantunya, sampai pada akhirya


sebuah kecelakaan besar nyaris membuat nyawanya melayang, hampir dua tahun


lamanya barulah ia sadar dan tahu-tahu anaknya sudah jadi janda saja.


“Alex, kemarilah, Nak. Kamu apa kabar? Terimakasih, ya sudah


menjaga Queen dengan baik. Maaf jika saat-saat kalian dalam masa sulit papa


tidak ada di antara kalian. Mungkin sampai di situ saja jodoh kamu sama Queen.


Tapi, papa minta kamu jangan pernah putus hubungan dengan kami, ya?”


Alex hanya tersenyum kaku, ia tidak menyangka kalau papa


mertuanya sudah mengetahui hal itu. Bahkan, informasi yang didapatkan mengenai


Queen juga lebig cepat dari Alex. Maungkin yang Alex tahu saat ini Queen gagal


tunangan dengan Diaz. Tapi, kenyataanya, Queen sudag menjadi istri dari Al.


Cukup lama keduanya ngobrol dan saling bertukar kabar dan


menceritakan kesibukan masing-masing, selain Vano tentunya. Tiba-tiba saja


semua dibikin terkejut oleh pertanyaan kakek Andrean kepada Alex. “Gimana kabar


kamu sama Zahara, Lex? Kalau memang sudah sama-sama cocok, kenapa masih


menunda? Apa perlu, kakek yang melamarkan pada umik fathiya?’’

__ADS_1


Alex hanya senyum-senyum sendiri karena malu, sedangkan Novita


menatap aneh pada adik satu-satunya itu. Ia tidak menyangka kalau adiknya


diam-diam sudah dekat dengan wanita lain.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam.


Akhirnya mereka pun pamit untuk pulang. Kini di rumah sakit hanya ada Bibi dan


juga kakek Andrean yang menemani Vano.


“Bi, kalau lelah tidur saja di sana, tidak apa-apa,” ucap


Andrean yang melihat Bik Yul nampak mulai terkantuk-kantuk di sofa.


“Lalu anda, Tuan?” Wanita itu nampak canggung dan merasa


tidak enak hati jiika harus tidur duluan.


“tidak apa-apa, saya sudah terbiasa tidur sambil duduk. Besok


kan bibi kerja,” jawab Andrean.


Akjhirnya dengan rasa tidak nyaman pun wanita paruh baya itu


pun pamit untuk tidur duluan karena sudah tidak tahan dengan rasa ngantuk. Berdiam


diri hanya membuatnya lelah tanpa mendapatkan apapun.


Sebenarnya, tanpa bibi juga Vano tidak apa-apa, terlebih ada


papa Andrean yang ia kenal sejak kecil sebagai sosok ayah yang mengasuhnya.


Jadi, secara emosional ia jauh lebih dekat dengan Andrean daripada mendiang


Andreas.


“Pa, kenapa bibi tidak di minta pulang saja, biar dia tidur


di rumah, kan kasian,’ tanya Vano.


“Biarkan saja, yang Nayla tahu, Bibi di sini bersama Al


merawatmu.”


“Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Vano, ia


***123


Usai memastikan Bilqis benar-benar terlelap. Nayla


menghubungi Jevin dan memintanya agar ia datang lewat pintu belakang. Dia


sengaja, tidak membuat dua orang suruhan suaminya tidak terlelap agar tidak


begitu mencolok, andai besok Bilqis bangunnya kesiangan.


“Kamu di mana, Jev?”


“Aku sudah ada di pintu pagar belakang rumah kamu, Nay.


Cepat kamu bukakkan pintunya, di sini banyak nyamuk,” jawab seorang pria dari


seberang  telefon.


“Iya, iya, sebentar, kamu yang sabar, ya?” Nayla pun segera


mematikan ponselnya dan berlari menuju halaman belakang. Sesampainya di sana ia


segera membuka pintu halaman belakang.Di sana sudah berdiri seorang pria dengan


tubuh tinggi ramping dengan pakaian lenganpanjang, dan pakaian serba hitam.


“Kamu lama banget, sih?” protes pria itu.


“Ya, aku nidurin anakku dulu, lah Jev. Lagi pula, di sini


ada orangnya mas Al. Aku harus hati-hati.” Nayla pun berjalan menggandeng tangan


Jevin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Jevin melihat sekeliling rumah yang ditempati Nayla, ia


terlihat sangat kagum melihat bangunan yang besar, megah, serta mewah bak


istana ini. “Wow, Nay… Setiap hari kamu tinggal di sini? Kau sudah seperti Ratu


saja,” ucap Jevin.


“Ya, harusnya begitu. Tapi, kau tahu kan, papa mertuaku

__ADS_1


sudah sadar. Selama masih ada kakek, mama , papa dam juga Queen, itu mustahil,


Jev.


Jevin pun memeluk Nayla dari belakang, dan berbisik pelan, “Apakah


benar-benar tidak ada orang di rumah?”


“Tidak, bibi juga ikut ke rumah sakit. Mungkin mereka besok


juga akan kembali saat mas Al akan pergi ngantor.”


“Lalu, adik kesayangan suamimu itu, apa kira-kira nanti


tidak akan pulang?”


“Kurasa tidak akan, semenjak pertunangannya batal, ia hanya


satu kali kemari mengambil barang-barangnya saja. Kurasa dia masih marah dengan


semua orang.”


“Baiklah, tidak ada gunanya, kan membahas itu. Sekarang aku


tanya sama kamu, di mana kamarmu?” Jevin tiba-tiba saja menggendong tubuh Nayla


dan mulai berjalan menapakki anak tangga saat Nayla menjawab, kalau kamarnya


ada di lantai atas.


Di sana, Nayla dan Jevin bermain sepuasnya, menganggap


temoat yang ia gunakan untuk bercinta adalah milik mereka berdua, sampai tepat


pukul 00.00 WIB, keduanya sama-sama kelelahan. Jevin berbaring sambil mengelus ujung


kepala Nayla yang bersadar pada dadanya. Setelah melihat kemewahan rumah yang dimiliki


bosnya, rupanya timbul niat jahat di otak Jevin. Ia yang dulunya mau berkorban


demi Nayla, kini ia justru ingin memanfaatkan wanita itu. Entahlah, mungkin dia


juga sudah bosan dengan wanita yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu.


“Sayang, kamu tinggal di rumah semegah ini, apakah kamu juga


bahagia dalam segi materi?”


“Kalau aku hanya cukup bahagia dengan materi, Jev. Aku tidak


akan merasa kesepian dan jatuh cinta padamu. Mas Al sangat dingin padaku, bahkan


sudah sangat lama sekali, dia tak pernah memberiku nafkah batin.”


“Oh, jadi artinya aku ikut andil dalam mempertahankan rumah


tanggamu, dong?”


“Ya, tentu saja. Aku sayang banget sama kamu, kelak jika


sudah masanya, aku yakin, kita akan bahagia, Jev.”


“ya, kurasa juga begitu. Tapi, apa kau yakin bisa bahagia


sama aku? Aku hanya karyawan biasa hanya dengan gaji sepuluh juta sebulan. Mana


mungkin bisa? Bahkan aku juga harus menanggung biaya pengobatan ibuku setiap


dua minggu sekali. Maaf, jika selama ini aku tidak pernah memberimu sesuatu,


Sayang.’


Nayla terdiam ia tidak menjawab. Hanya pelukan eratnya saja


yang telah memberikan isyarat pada pria itu.


“Padahal, karyawan lain sepertiku yang gajinya saja bahkan


lebih kecil dariku mereka sudah memiliki mobil pribadi, sementara aku… Cuma Avanza,


itupun milik perusahaan.”


“MEmang kamu pengen mobil apa?”


“Apa, Nay? Pria kere sepertiku ingin ya sebatas ingin saja,


kemudian melupakan harapan dan keinginannya jika kembali sadar dalam kehidupan


nyatanya. Aku bukan orang kaya, dan menanggung ibu yang sakit-sakitan.”


“sudahlah, ayo kita segera tidur, besok sebelum jam lima kau

__ADS_1


sudah pergi dari sini agar semuanya aman, ok.”


__ADS_2