
Vano dan bik Yul kini sudah kemabali di kamarnya. Vano juga
sudah kembali berbaring di hospital badnya. Selang beberapa menit, Andrean pun
tiba.
“Bagaimana perasaanmu, Nak? Apakah kau merasa sudah
baik-baik saja?”
“Queen bilang, tidak lama lagi Vano sudah bisa kembali, Pa.
Itu bagus, kan? Papa bisa membawaku ke makan papa Andreas dan juga mama.”
Andrean tersenyum sambil mengelus kening putranya. Meskipun putranya
kini sudah bukan lagi anak-anak, bahkan ia sudah memiliki anak gadis, dan
seorang cucu jika saja Queen tidak mengalami keguguran. Tetap saja naluri orang
tua, akan tetap menganggap anak itu ya adalah anak-anak.
“Papa akan mengajakmu kemanapun kamu mau, Nak.”
Suara pintu di ketuk dari luar. Awalnya mereka mengira yang
datang adalah ddokter yang bertugas memantau kesehatan Vano. Tapi, ternyata
bukan. Melainkan seorang pria dengan wanita yang perutnya mulai membuncit, sepertinya
wanita itu tengah hamil.
“Alex, Novita? Kemarilah, Nak.” Andrean menyambut dua anak
muda bersaudara itu, tanpa canggung-canggung, pria tua itu langsung memeluk
erat Alex.
“Kakek, apa kabar?”
“Seperti yang kau lihat, Nak! Kakek baik-baik saja dan
sehat, ini berkat terapi yang kau berikan dengan Diaz dulu, kakek sudah bisa
berjalan bahkan lari-lari.”
Novita meletakkan parsel buah-buahan di atas nakas kemudian
duduk di kursi dekat hospitalbad tempat Vano duduk bersandar. “Om, nampak sudah
sangat sekali, semoga bisa lekas kembali, ya? Lalu, bagaimana kabar tante Clara?”
“Tante masih belum sadar, Nov. Doakan ya semoga dia segera
sadar dan bisa berkumpul diantara kita lagi.”
Alex mendekati Vano bersalaman dan mencium punggung tangan
pria paruh baya itu dengan rasa canggung dan takt ahu harus bicara apa.
Bagaimana tidak? Dulu, yang ia tahu dia adalah menantunya, sampai pada akhirya
sebuah kecelakaan besar nyaris membuat nyawanya melayang, hampir dua tahun
lamanya barulah ia sadar dan tahu-tahu anaknya sudah jadi janda saja.
“Alex, kemarilah, Nak. Kamu apa kabar? Terimakasih, ya sudah
menjaga Queen dengan baik. Maaf jika saat-saat kalian dalam masa sulit papa
tidak ada di antara kalian. Mungkin sampai di situ saja jodoh kamu sama Queen.
Tapi, papa minta kamu jangan pernah putus hubungan dengan kami, ya?”
Alex hanya tersenyum kaku, ia tidak menyangka kalau papa
mertuanya sudah mengetahui hal itu. Bahkan, informasi yang didapatkan mengenai
Queen juga lebig cepat dari Alex. Maungkin yang Alex tahu saat ini Queen gagal
tunangan dengan Diaz. Tapi, kenyataanya, Queen sudag menjadi istri dari Al.
Cukup lama keduanya ngobrol dan saling bertukar kabar dan
menceritakan kesibukan masing-masing, selain Vano tentunya. Tiba-tiba saja
semua dibikin terkejut oleh pertanyaan kakek Andrean kepada Alex. “Gimana kabar
kamu sama Zahara, Lex? Kalau memang sudah sama-sama cocok, kenapa masih
menunda? Apa perlu, kakek yang melamarkan pada umik fathiya?’’
__ADS_1
Alex hanya senyum-senyum sendiri karena malu, sedangkan Novita
menatap aneh pada adik satu-satunya itu. Ia tidak menyangka kalau adiknya
diam-diam sudah dekat dengan wanita lain.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam.
Akhirnya mereka pun pamit untuk pulang. Kini di rumah sakit hanya ada Bibi dan
juga kakek Andrean yang menemani Vano.
“Bi, kalau lelah tidur saja di sana, tidak apa-apa,” ucap
Andrean yang melihat Bik Yul nampak mulai terkantuk-kantuk di sofa.
“Lalu anda, Tuan?” Wanita itu nampak canggung dan merasa
tidak enak hati jiika harus tidur duluan.
“tidak apa-apa, saya sudah terbiasa tidur sambil duduk. Besok
kan bibi kerja,” jawab Andrean.
Akjhirnya dengan rasa tidak nyaman pun wanita paruh baya itu
pun pamit untuk tidur duluan karena sudah tidak tahan dengan rasa ngantuk. Berdiam
diri hanya membuatnya lelah tanpa mendapatkan apapun.
Sebenarnya, tanpa bibi juga Vano tidak apa-apa, terlebih ada
papa Andrean yang ia kenal sejak kecil sebagai sosok ayah yang mengasuhnya.
Jadi, secara emosional ia jauh lebih dekat dengan Andrean daripada mendiang
Andreas.
“Pa, kenapa bibi tidak di minta pulang saja, biar dia tidur
di rumah, kan kasian,’ tanya Vano.
“Biarkan saja, yang Nayla tahu, Bibi di sini bersama Al
merawatmu.”
“Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Vano, ia
***123
Usai memastikan Bilqis benar-benar terlelap. Nayla
menghubungi Jevin dan memintanya agar ia datang lewat pintu belakang. Dia
sengaja, tidak membuat dua orang suruhan suaminya tidak terlelap agar tidak
begitu mencolok, andai besok Bilqis bangunnya kesiangan.
“Kamu di mana, Jev?”
“Aku sudah ada di pintu pagar belakang rumah kamu, Nay.
Cepat kamu bukakkan pintunya, di sini banyak nyamuk,” jawab seorang pria dari
seberang telefon.
“Iya, iya, sebentar, kamu yang sabar, ya?” Nayla pun segera
mematikan ponselnya dan berlari menuju halaman belakang. Sesampainya di sana ia
segera membuka pintu halaman belakang.Di sana sudah berdiri seorang pria dengan
tubuh tinggi ramping dengan pakaian lenganpanjang, dan pakaian serba hitam.
“Kamu lama banget, sih?” protes pria itu.
“Ya, aku nidurin anakku dulu, lah Jev. Lagi pula, di sini
ada orangnya mas Al. Aku harus hati-hati.” Nayla pun berjalan menggandeng tangan
Jevin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Jevin melihat sekeliling rumah yang ditempati Nayla, ia
terlihat sangat kagum melihat bangunan yang besar, megah, serta mewah bak
istana ini. “Wow, Nay… Setiap hari kamu tinggal di sini? Kau sudah seperti Ratu
saja,” ucap Jevin.
“Ya, harusnya begitu. Tapi, kau tahu kan, papa mertuaku
__ADS_1
sudah sadar. Selama masih ada kakek, mama , papa dam juga Queen, itu mustahil,
Jev.
Jevin pun memeluk Nayla dari belakang, dan berbisik pelan, “Apakah
benar-benar tidak ada orang di rumah?”
“Tidak, bibi juga ikut ke rumah sakit. Mungkin mereka besok
juga akan kembali saat mas Al akan pergi ngantor.”
“Lalu, adik kesayangan suamimu itu, apa kira-kira nanti
tidak akan pulang?”
“Kurasa tidak akan, semenjak pertunangannya batal, ia hanya
satu kali kemari mengambil barang-barangnya saja. Kurasa dia masih marah dengan
semua orang.”
“Baiklah, tidak ada gunanya, kan membahas itu. Sekarang aku
tanya sama kamu, di mana kamarmu?” Jevin tiba-tiba saja menggendong tubuh Nayla
dan mulai berjalan menapakki anak tangga saat Nayla menjawab, kalau kamarnya
ada di lantai atas.
Di sana, Nayla dan Jevin bermain sepuasnya, menganggap
temoat yang ia gunakan untuk bercinta adalah milik mereka berdua, sampai tepat
pukul 00.00 WIB, keduanya sama-sama kelelahan. Jevin berbaring sambil mengelus ujung
kepala Nayla yang bersadar pada dadanya. Setelah melihat kemewahan rumah yang dimiliki
bosnya, rupanya timbul niat jahat di otak Jevin. Ia yang dulunya mau berkorban
demi Nayla, kini ia justru ingin memanfaatkan wanita itu. Entahlah, mungkin dia
juga sudah bosan dengan wanita yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu.
“Sayang, kamu tinggal di rumah semegah ini, apakah kamu juga
bahagia dalam segi materi?”
“Kalau aku hanya cukup bahagia dengan materi, Jev. Aku tidak
akan merasa kesepian dan jatuh cinta padamu. Mas Al sangat dingin padaku, bahkan
sudah sangat lama sekali, dia tak pernah memberiku nafkah batin.”
“Oh, jadi artinya aku ikut andil dalam mempertahankan rumah
tanggamu, dong?”
“Ya, tentu saja. Aku sayang banget sama kamu, kelak jika
sudah masanya, aku yakin, kita akan bahagia, Jev.”
“ya, kurasa juga begitu. Tapi, apa kau yakin bisa bahagia
sama aku? Aku hanya karyawan biasa hanya dengan gaji sepuluh juta sebulan. Mana
mungkin bisa? Bahkan aku juga harus menanggung biaya pengobatan ibuku setiap
dua minggu sekali. Maaf, jika selama ini aku tidak pernah memberimu sesuatu,
Sayang.’
Nayla terdiam ia tidak menjawab. Hanya pelukan eratnya saja
yang telah memberikan isyarat pada pria itu.
“Padahal, karyawan lain sepertiku yang gajinya saja bahkan
lebih kecil dariku mereka sudah memiliki mobil pribadi, sementara aku… Cuma Avanza,
itupun milik perusahaan.”
“MEmang kamu pengen mobil apa?”
“Apa, Nay? Pria kere sepertiku ingin ya sebatas ingin saja,
kemudian melupakan harapan dan keinginannya jika kembali sadar dalam kehidupan
nyatanya. Aku bukan orang kaya, dan menanggung ibu yang sakit-sakitan.”
“sudahlah, ayo kita segera tidur, besok sebelum jam lima kau
__ADS_1
sudah pergi dari sini agar semuanya aman, ok.”