
'Duh, canggung banget,' batin Axel sambil menunggu panggilannya dijawab.
"Benar, kau sudah menelfon-nya, Kak?" Tanya Adriel sambil menarik ujung kaus kakaknya dari bawah.
"Ini sudah telfon, Adriel. Tapi, belum diangkat," ucap Axel. Tapi, begitu panggilannya diangkat, remaja itu justru tergagap. Mungkin malu.
"Halo, ada apa Xel?" jawab seorang wanita dari seberang sana.
"I... iya, Tante. Ha... halo. Em... anu, begini, Te," jawabnya dengan gusar dan tidak bisa diam.
"Ada apa Xel? Kamu tarik napas dulu, lalu bicara!"
Axel menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan dari mulut secara cepat.
"Berlyn pulang jam berapa, Te?"
"Ini hari Senin, ya? Dia pulang jan setengah sepuluh, Xel. Ada apa?" tanya Queen.
"Semalam nenek menunda kembaki ke Jogja. Adriel maksa minta ingin bermain ke rumah Berlyn katanya."
"Mungkin jam sepuluhan kalian bisa kemari. Mainlah ke sini! Jangan sungkan-sungkan."
"Bagaimana kalau aku dan Adriel yang menjemputnya ke sekolahan saja, Tante?" usul Axel.
"Apakah itu tidak merepotkan mu, Xel?"
"Tidak sama sekali. Ini permintaan Adriel."
"Baiklah. Tidak masalah. Kalian jemput saja dia. Tante tunggu kalian di rumah, oke?"
"Baik, Tante." Panggilan pun dimatikan. Axel meminta adiknya segera bersiap dan pukul sembilan dia dan Adriel berangkat.
Seorang gadis kecil tersenyum dan berlari menuju arah Axel dan Adriel. Tak sepatah katapun diucapkan olehnya.
"Hay, Berlyn apakah kau terkejut dengan kedatangan kami di sekolah mu?" tanya Adriel sambil tertawa.
Gadis kecil itu tersenyum sambil mengangguk pelan. Anggun sekali.
Axel memandang pemandangan di depannya sampai terlena melihat keakraban antara Berlyn dan adiknya.
"Aku baru akan kembali ke Jogja nanti sore. Makanya, kuhabiskan waktu sehariku bersamamu."
Gadis itu mengangguk lagi dan tersenyum menunjukkan deretan gigi susu yang rapi sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap pada Adriel. Mungkin itu ungkapan rasa terimakasihnya.
"Ayo kita pulang. Mamamu menunggu kita." Adriel berjalan menarik lengan Berlyn dan mengajaknya masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Sementara Axel... Dia duduk mengemudi seorang diri.
'Bocah ini, memperlakukan aku seperti sopir mereka?' umpat Axel dalam hati. Tapi, ya sudahlah. Mungkin jika Adriel duduk di depan kasian juga Berlyn. Jika Berlyn yang berada di depan. Bagaimana mereka bisa nyaman ngobrol?
Sesampai di kediaman Berlyn rupanya mamanya gadis kecil itu sudah menyiapkan makanan ringan untuk mereka.
"Kalian sudah kembali? Cepat cuci tangan. Mama buatkan kalian sesuatu, dan Berlyn, sekalian kamu ganti baju ya, Sayang," ucap Queen.
Setelah dua anak kecil dan Axel sudah berkumpul di ruang tengah, Queen mengeluarkan puding putih transparan yang toping di dalamnya kelapa muda dan leci.
"Wah, mamamu membuatkan kita puding, Berlyn," ucap Adriel senang sekali. Mereka pun makan dengan lahap. Setelahnya, Berlyn bermain dengan Adriel. Sementara Axel dia duduk mengawasi dua anak kecil itu dari kejauhan.
"Kamu tidak kuliah, Xel?" sapa Queen tiba-tiba saja. Entah sajak kapan dia datang. Sepertinya Axel tidak menyadari. Jadi, dia lumayan kaget ketika tiba-tiba Queen duduk di sebelahnya.
"Nanti sore Tante. Setelah Adriel kembali mama dan papa kembali ke Jogja."
"Kamu di rumah sendirian selama ini?"
"Tidak. Axel sering tinggal di rumah on Alex. Sebagai ngisi waktu luang sering juga ke gym nya. Kalau dulu, masih ada Adriel ya menemani dia belajar sambil bermain. Sekarang dia ikut mama dan papa."
Queen memperhatikan mimik wajah remaja di sampingnya dengan seksama. Di hatinya ada rasa sakit dan sedihnya kehilangan saat ia mengatakan kalau adiknya kini ke Jogja. Dalam penilaian Queen secara pribadi, Axel adalah sosok yang sayang pada adiknya dan menyukai anak-anak. Tidak hanya pada Adriel. Dia perhatikan perlakuannya pada putrinya juga sama.
Queen tersenyum kemudian menepuk pundak Axel dan berkata, "Yang sabar ya, tiap Minggu kan kamu selalu ke Jogja. Pasti dapat bertemu adikmu dan di hari-hari biasa kau bisa datang kemari bermain bersama Berlin. Dia pasti menyukaimu. Tapi, dia memiliki keterbatasan, dia tidak bisa berbicara." ucapku ini sambil tersenyum tulus.
__ADS_1
"Terimakasih, Tante. Pasti jika ada waktu luang saya akan datang kemari. Dengan senang hati menemani Berlyn bermain sambil belajar," timpal Axel. Senang.
Queen lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian mengedarkan pandangannya pada Adriel dan Berlyn yang asik bermain play doh dan pasir sintetis. Sejak setengah jam berlalu, sekalipun keduanya tidak nampak bertengkar. Saling mengerti dan mengalah satu sama lain.
"Adriel sangat cocok ya, sama Berlyn? Pasti dia sering kangen saat di Jogja."
"Iya, benar Tante."
"Kalau dia tinggal di Jakarta gimana? Tante tidak keberatan lo jaga dia. Biar Berlyn juga ada temannya. Kan tante sekarang lebih banyak waktu di rumah."
"Tante Zahara juga berfikir demikian. Mungkin tidak apa-apa Adriel di sini bersamaku. Biar mama juga tidak terlalu capek ngurus dia. Di usianya yang segitu dia harus banyak istirahat. Jika tidak, aku kawatir hal buruk terjadi padanya dan janin dalam kandungannya," ucap Axel panjang lebar.
Queen diam sesaat ia membatin, 'Oh, jadi dia sudah tahu kalau mamanya hamil. Dia tidak membenci itu. Ia hanya khawatir hal buruk terjadi pada dua nyawa itu saja rupanya.'
"Kita kan punya tuhan, Xel. Serahkan saja padanya. Kau tahu? Sebenarnya mama kamu tidak ingin lagi memiliki anak."
"Apa karena papa terus meminta anak kandung dari mama?"
Queen mengeleng kan kepalanya pelan sambil tersenyum. "Tidak juga. Papamu memang menginginkannya. Tapi, dia tidak memaksa harus punya anak kandung tidak. Karena, dia berfikir mereka sudah memiliki kau dan Adriel. Selama papamu baik pada kalian, pasti kalian juga akan baik padanya. Akan anggap dia sebagai ayah kandung seperti dia memperlakukan kalian seperti darah dagingnya sendiri."
Axel diam meresapi apa yang Queen katakan. Tapi, dia tidak puas dengan jawaban itu.
"Mamamu itu tetap KB ijeksi atau suntik. Tapi, karena Allah inginkan dia memiliki anak lagi, ya tetap saja itu terjadi. Bukankah apapun bisa saja Allah lakukan dengan mudah selama beliau mau?"
"Tante benar. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana bisa Tante tahu kalau mama kb suntik?"
"Dia curhat sama tante kemarin. Dia juga takut kamu sedih, takut tiba-tiba saja papa Candra berubah sikap pada kalian setelah kelahiran anak kandung mereka. Dan yang paling ditakutkan adalah kau malu di usiamu yang sudah bisa dikatakan dewasa malah memiliki adik bayi."
Axel tertawa miring mendengar pernyataan itu. Ternyata, mamanya sudah memikirkan banyak hal tentang dirinya. 'Memang mama yang terbaik. Sikapku kemarin itu, pasti sangat menyakitinya. Aku akan segera meminta maaf nanti saat tiba di rumah,' batin Axel.
Mungkin lelah bermain, Berlyn mengajak Adriel merapikan kembali mainan mereka dan menyimpannya. Kini, dua bocah itu bermain di ruang tengah. Sementara Queen dan Axel masih duduk di di tempat yang sama. Tidak berpindah. Mengobrol seputar kuliah dan kegiatan Axel, serta tentang bidang kesehatan yang Queen geluti selama ini.
Rupanya Berlyn mengajak ngobrol Adriel melalui sebuah tulisan. Mungkin karena beberapa bahasa isyarat yang gadis kecil itu berikan banyak yang tidak dipahami oleh Adriel. Jadi, cara ini yang dia gunakan.
"Driel. Kenapa kamu harus pindah jauh ke Jogja? Jika kau di sini kan enak kota bisa sering main bersama seperti dulu. Jika bukan aku dan kak Bilqis yang ke tempatmu, kau dan tante mu yang ke sini," tulis Berlyn dan ditujukkan pada bocah laki-laki di depannya.
Adriel membaca itu, kemudian mengambil kertas gambar tersebut dan menulis di bagian kirinya. Agak kebawah. Diberi gelembung lagi, persis seperti pesan chat.
"Ya, baiknya kau katakan itu. Aku juga tidak keberatan berbagi mama dan papa denganmu jika kau kangen mereka."
"Oke. Nanti aku akan coba katakan."
"Ya, semoga berhasil." Emod tertawa.
Pukul 11.30 tepat ponsel Axel berdering. Sebuah panggilan dari mamanya masuk. Mungkin juga meminta agar mereka segera pulang.
"Mama. Aku angkat telfon dulu, Tante," ujar remaja itu sambil menunjukkan layar ponselnya pada Queen.
Queen menjawab dengan anggukan.
"Halo, Ma."
"Xel. Ajak adikmu pulang. Biar dia bisa istirahat dulu," sahut Novita dari seberang.
"Iya, habis ini, Ma. Mereka masih makan."
"Oh, kalian makan siang di sana? Merepotkan sekali," timpal Novita.
Axel yang tidak tahu harus jawab apa langsung memberikan ponselnya pada Queen.
"Assalamualaikum, Kak. Buru-buru banget, sih?" Ucap Queen.
"Waalaikum ssalam. Maaf ya Queen kalau Adriel merepotkan mu," jawab Novita dengan sungkan dan rasa tidak enak hati.
"Siapa yang direpotkan? B aja, Kak."
"Harusnya biarkan saja dia pulang bersama Axel. Kan kamu jadi sibuk."
__ADS_1
"Tidak juga. Tiap hari juga masak. Apa bedanya dengan ada Adriel atau tidak? Sama saja kok."
"Mereka tidak berantem, Queen? Biasanya anak seusia itu suka berkelahi kalau kumpul lama-lama," tanya Novita. Kawatir.
"Sama sekali tidak. Tanya aja sama Axel."
"Fiuuh... Syukurlah!"
"Mereka malah bikin pesan chat di atas kertas," timpal Axel. Kebetulan.
"Apa?" tanya Novi tidak paham dengan ucapan putra sulungnya.
kemudian Queen menjelaskan pada Novita, "Begini, Kak Adriel sama Berlyn ngobrol pakai tulisan. Tapi, tulisan itu berbentuk seperti pesan chat."
"Hahaha. Oh, ya. Memang apa yang mereka obrol kan? tanya Novita penasaran
"Banyak. Tapi, intinya Berlin meminta Adriel untuk tetap tinggal di sini. Bahkan dia juga menawarkan mau berbagi mama dan papanya jika Adriel merindukanmu sama kak Candra," jawab Queen sambil tertawa. Lalu, Novita pun juga ikut tertawa
"Ah, anak kecil zaman sekarang ada-ada saja ya. Tapi, lucu sih. Bagus juga, biasanya kebanyakan anak seusia mereka itu berantem jika sudah berkumpul lama-lama. Tapi, mereka nggak dari awal kenal sampai sekarang tidak pernah, ya mereka berantem?" jawab Novita.
"Iya, Kak benar. Keduanya sangat akrab. By the way, kapan sih, kalian mau ke Jogja? Kelihatannya buru-buru banget?" tanya Queen penasaran.
"Rencana sore nanti sekitar pukul 2.30. Mangkanya aku minta Axel segera membawa adiknya pulang, agar dia bisa beristirahat dulu di rumah. Biar tidak capek di jalan, meskipun di mobil bisa berbaring, kan rasanya beda sama dia tidur di rumah," jelas Novita
"Kalau sama-sama cuma buat tidur kenapa nggak tidur di sini saja kak kamarnya Berlin ada dua tempat tidur tidak apa-apa biar Axel yang nemenin mereka," usul Queen
Mulanya Novita diam. Ia berfikir antara takut merepotkan Queen dan membiarkan agar Adri lebih puas dulu bermain dengan Berlin. Tapi, pada akhirnya ia pun berbicara, "Aku terlalu banyak merepotkan mu, Queen."
Memang repotnya di mana, Kak? Mereka cuma tidur. aku tidak perlu menjaga dan mengejarnya sambil lari-lari. Dari tadi, bermain juga anteng di rumah saja bermain pasir sintetis lalu keduanya ngobrol itu," ucap Queen
"Coba, katakan sama Axel jika memang Adriel mau pulang, tidur di rumah biarkan dia pulang saja. Tapi, jika memang dia tidak mau ya sudah tidak apa-apa kalau bisa jam 2 dia sudah ada di rumah," jawab Novita akhirnya ia pun menyerah
"Iya, Kak. Aku sampaikan. Ya sudah, kau juga beristirahatlah, biar tidak capek-capek bumil," timpal Queen lalu mematikan telepon.
Selesai makan siang, Queen dan Axel menanyai Adriel. Ia memilih.
"Driel, mama minta kamu kembali sekarang," ucap Axel pada adiknya.
Adriel diam. Ia memasang raut wajah keberatan.
"Driel... ayo!" ajak Axel sekali lagi.
"Memangnya jam berapa, sih berangkat ke Jogja?" Kembali bocah itu merengek.
Sementara Queen sengaja diam sambil senyum-senyum sendiri melihat adegan di hadapannya.
"Kan, sudah seharian di sini."
"Ini baru pukul berapa? Katanya kembali ke Jogja sore?" jawab Adriel.
"Mama minta kamu istirahat dulu," jawab Axel.
"Kenapa? Bukannnya bisa, tidur di mobil?"
"Tidak."
"Kenapa? Harusnya bisa," ucap Adriel terus kekeh dengan jawabannya.
Barulah saat itu Queen maju dan membujuk Adriel.
"Jika kamu tidak mau kembali sekarang, tidur siang di sini sama Berlyn. Bagaimana?" tawar Queen.
"Terimakasih, Tante." Kemudian bocah laki-laki itu melihat ke arah sang kakak dan berkata, "Tante Queen meminta aku tidur di sini. Tolong katakan pada mama, Kak."
"Ya," jawab Axel singkat dan dingin.
"Ya sudah, kalian siap-siap untuk tidur. Axel, temani mereka, ya? Tante bantu bibi bereskan meja makan dulu," ucap Queen. ia tahu, jika dua bocah itu tidak ditemani, mereka tidak akan tidur siang. Yang ada malah bermain apapun yang bisa dimainkan.
__ADS_1
"Baik, Tante."
Queen hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka. Kemudian, ia kembali menghubungi Novi, mengatakan kalau Adriel sudah berada di kamar bersama Axel dan Berlyn. Tak lupa, Queen juga memfoto obrolan dua bocah itu dan mengirimkan nya padanya. Membuat Novi dan Candra tersenyum dibuatnya.