
So as long as I live I love you
Will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Ponsel Clara berdering, dilihatnya layar hpnya, ternyata Eren yang menelfonnya.
"Halo, Ren. Ada, apa?"
"Kamu di mana, Ra? Pleace tolong aku!"
"Aku ada di rumah, minta tolong apa, Ren?"
"Kamu ke klinik aku sekarang bisa, tidak? Please Ra, darurat banget,"
"Ada apa sih, Ren? Kamu jelasin biar aku tau dulu, soalnya laki aku sakit, nih,"
"Ada Perampok, Ra,"
'Tuuuut... Tuuuut.... Tuuuut....'
Panggilan Eren terputus, Clara sempat panik sesaat, dipandangnya wajah Vano yang tertidur dengan pulas.
"Aku tinggal sebentar dulu ya, Sayang," ucap Clara mengusap wajah Vano.
Clara langsung bergegas pergi sambil mengirim pesan kepada Reza memberitahukan tentang perampokan yang terjadi di klikik Eren.
Sesampai di sana, Polisi sudah datang lebih dulu, memang jarak rumah Clara agak berjauhan dari klinik kecantikan milik Eren, tapi entah karena panik mungkin, dia tidak berfikir menghubungi polisi.
Tiga orang perampok berhasil di amankan, tidak ada korban jiwa, hanya saja Eren sedikit mengalami luka goresan pada lengannya, karena sempat kepergok menelfon.
"Ren, maafin aku ya," ucap Clara merasa bersalah.
"Kamu yang menyelamatkanku, Ra."
"Sini, biar aku obatin."
Eren sediki meringis menahan sakit sayatan pisau dari salah satu tersangka, untung tidak parah, hinga tidak perlu dijahit.
"Oh iya, Ra. Katanya Vano tadi sakit, dia sakit apa?"
"Demam saja kok, Ren. Tidak apa-apa."
"Terimakasih banyak ya, Ra. Ya uda kamu pulang saja, tadi kamu naik apa?"
"Aku? Numpang orang lewat, aku minta di antar kesini. Panik, sih."
"Biar diantar pulang Reza, ya?"
"Tidak usah, aku bisa naik taxi, kok. Reza biar di sini saja temanin kamu dulu."
"Za, tolong antar Clara, ya. Aku tidak apa-apa kok," ucap Eren.
"Ya uda, ayuk, Ra aku antar!"seru Reza.
Akhirnya Clarapun pulangĀ diantar oleh Reza, di dalam mobil, handphone Clara sempat jatuh, dia bermaksut mengambilnya sendiri, bersamaan dengan Reza yang juga membungkuk meraba jog mobil.
Beberapa detik kemudian tangan mereka bertemu dalam sentuhan, keduanya kaget dan saling memandang. Terlebih kepala mereka juga sempat berbenturan, menambah suasana jadi salting saja.
__ADS_1
Mereka nampak canggung, bukan karena suka atau apa, mungkin mereka sama-sama teringat akan masalalunya yang bertingkah kaya anak pacaran, padahal hanya teman. Dan nyatanya sekarang Clara sudah menikah dengan pria yang dia cintai.
"Za, ingat! Dia sahabatmu, kekasihmu adalah Lusi," begitulah roh baik Reza mengingatkan dirinya ketika mulai terhanyut dalam ingatan masalalu bercumbu bersama Clara di dalam mobil atau sebuah hotel, meski hanya sebatas bercumbu, tapi kan terjadi kontak fisik.
"Maaf, Ra," ucap Reza canggung.
"Gapapa, kan ga sengaja."
"Nomor kamu lama banget ga aktif?"
"Iya, waktu itu aku liburan sambil urus sesuatu, saking sibuknya, sampai melupakan ponsel," kilah Clara.
Sekitar 10 menit perjalanan mereka sudah sampai, Clara langsung turun dari mobil, "Ayo mampir dulu, Za!"
"Lain kali saja, ya. Caffe lagi rame pengunjung,"
"Ok. Makasih, Ya."
Clara langsung menuju lantai atas, diletakan asal tas tangannya lalu menghampiri Vano yang masih tertidur.
"Mbak, ini buburnya sudah siap,"
"Oh, iya bi, trimakasih ya," ucapnya sambil menerima nampan dari tangan Bi Narti.
Clara mengelus pipi Vano dengan lembut sesekali menciumnya, dan berulang-ulang memanggil namanya.
Begitulah cara Clara membangunkan suaminya, penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.
"Van, ayo bangun, makan dulu aku suapin,ya."
Mata Vano sedikit terbuka, digenggamnya erat-erat tangan Clara,
"Ayo makan dulu, aku suapin!"
Clara membantu Vano duduk dan bersandar, dengan telaten dia menyupinya lalu memberikan obat.
"Kamu istirahat saja, ya."
Vano tidak menjawab, dia hanya mengelengkan kepala manja sambil terus menggenggam erat tangan Clara.
Clara tersenyum, menepuk kedua pahanya, mengisyaratkan supaya Vano tidur di pangkuannya saja
Dengan sangat manja Vano tiduran di pangkuan Clara, sambil terus memegangi lengan Clara. Benar-benar sepertu balita 2 tahun yang takut di tinggal ibunya ketika sudah tidur.
Raisha mencari-cari Vano, berkali-kali dia bertanya kepada setiap staf apakah melihat keberadaan bosnya itu, tapi rupanya Vano hari ini dia tidak masuk kerja lagi.
Sudah 3 hari Vano berada di rumah, meski badannya sudah enakkan, dia masih saja bermanja-manja pada Clara. Namun dia masih belum siap dan berani menceritakan apa yang sebenarnya, hanya rasa bersalah dan takut kehilangan saja terus menghantui tiada henti.
"Raisha, saya minta hasil laporan bulan ini, kenapa kamu malah memberikan laporan bulan lalu?" ucap wanita paruh baya emosi sambil meletakan berkas dari Raisha ke atas meja.
"Maaf, Bu," ucap Raisha, takut dan tertunduk.
"Beberapa hari ini saya lihat kamu kerja selalu tidak bener, kamu serius apa tidak, sih? Banyak loh, di luaran sana yang siap menggantikan posisi kamu," kesal Vivian kepada Raisha.
Raisha keluar dari ruangan Vivian dengan sangat kesal, dia emosi pada dirinya sendiri, "Yah, kena omel calon mama mertua deh, gapapa. Nanti kalau aku sudah menikah sama Vano, dan memberinya cucu, dia juga sayang sama aku," gumamnya seorang diri.
Malam itu Clara menyetrika kemeja untuk kerja suaminya untuk besok, dari belakang Vano memeluknya dengan sangat manja.
"Sayang, aku masih nyetrika, nih,"
Vano masih tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
"Sebentar saja."
Vano malah mencium leher Clara, dan sesekali menggigit daun telinganya dari belakang, secara refleks Clara mendesah kecil.
Clara mencabut kabel setrika dan meletakan setrika di pinggir meja, lalu membalikan tubuhnya menghadap ke arah Vano. dengan cekatan Vano menggendong Clara dan membawanya ke ranjang. Perlahan Vano membaringkan tubuh Clara di sana, dia merangkak menaiki tubuh wanita pujaannya dan membutuhkan beberapa menit untuk melepas semua pakaian Clara sambil menciumi setiap inci lekuk tubuh Clara.
Keduanya saling bercumbu beradu bibir. Lidah mereka saling bertautan, peluh membasahi tubuh keduanya, temperatur kamar terasa semakin panas, seolah ac yang sudah on tidak berfungsi kedinginannya terkalahkan oleh panasnya nafsu mereka yang berefek pada suhu ruangan.
Dengan gerakan cepat Vano melepas jeans dan kaus yang ia kenakan. Perlahan-lahan mendesak memasuki tubuh Clara. Kuku-kuku Clara menancap pada lengan dan punggung Vano, bibirnya sedikit terbuka sesekali mengeluarkan desahan, membuat gairah Vano semakin tersulut. Serta gerakan yang semula berjalan lambat menjadi semakin cepat dan tergesa-gesa.
Vano mengecup bibir Clara ketika dia mulai mendapatkan pelepasannya bersama. Tubuh keduanya terasa lunglai, Vano merobohkan diri disamping Clara dan memeluk erat istrinya menikmati kebersamaan.
Tidak seperti biasanya, Vano tiba di kantor 15 menit lebih awal, bukan karena dia rajin, tapi karena Clara ada kepentingan di runah selly pagi ini. Jadi, dia mengantar sekaligus berangkat ke kantor.
Vano sangat terkejut ketika mendapati seseorang langsung memeluknya saat dia mulai memasuki ruangan, "Raisha, apa yang kau lakukan?"
"Pak, kemana saja selama ini? Aku telfon-telfon tidak aktif, kamu tidak tau bagaima aku hampir mati merindukanmu?"
"Lepaskan aku, Sha!"
"Vano!"
Keduanya menoleh, ke arah pintu, berdiri Clara di sana dengan box bewarna biru di tangannya, dia tak percaya melihat apa yang ada di depan matanya.
Clara menjatuhkan box berisi sarapan untuk suaminya, lalu berlari meninggalkan mereka.
"Lepaskan aku, Sha, gara-gara kamu, dia bisa salah faham," geram Vano.
"Pak, apa kau lupa kalau tubuhku sudah kau nikmati malam itu?"
"Tidak, itu tidak mungkin, kau pasti menjebakku, kan?" bentak Vano lalu berlari mengejar Clara.
"Clara! Clara!"
Menolehpun Clara tidak sudi, dia tetap berlari meninggalkan Vano. Sampai di tepi jalan dengan cepat ia masuk ke dalam mobil Selly dan memintanya untuk cepat jalan.
Vano mengumpat kesal dalam hati, dia memaki dirinya sendiri.
"SIALAN!" umpatnya sambil menendang batu yang ada di bawah kakinya.
Tanpa Vano sadari, batu itu melayang dan menjatuhi kepala pak satpam yang bertugas di kantornya.
"Aduh!" seru satpam itu sambil meringis memegangi kepalanya.
"Pak, maaf pak, saya tidak sengaja," ucap Vano, kikuk.
"Sepertinya bu Clara tadi kesini, Pak?"
"Iya pak, dia sudah pergi."
Satpam itu seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ragu-ragu, akhirnya tidak jadi.
Vano pun juga sudah kembali ke ruangannya.
Berkali-kali Vano menghubungi nomor Clara tapi nomornya tidak aktif, ingin menelfon sahabat-sahabatnya dia tidak memiliki satupun nomor mereka.
20 menit sebelum jam istirahat, Vano pergi meninggalkan kantor, dia mencoba mencari Clara di cafe milik reza, tapi tidak ada, di cobanya ke rumah Sely, karena tadi keluar bersamanya tetap tidak ada.
Pencarian keseluruh tempat keempat sahabatnya tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan dari pagi Clara juga belum pulang kerumah kata bi Narti.
"Calra di mana sih kamu, sayang," gumam Vano frustasi sambil menjambaki rambutnya sendiri.
__ADS_1