Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 7


__ADS_3

Sudah seminggu ini Quen melihat Lyli tidak seperti biasa, ia terlihat jauh lebih semangat dalam bekerja, memperhatikan penampilannya dan juga sering senyum-senyum melihat ke layar sentuhnya itu.


Merasa bosan karena tidak ada yang dilakukan, Quen menghampiri kakaknya di taman belakang.


Dilihatnya Al yang tengah asik berteduh di bawah pohon akasia dengan serius duduk bersila di atas rumput hijau memandang pada laptopnya.


"Ngapain, kak?" sapa Quen, saat berdiri di dekatnya.


"Oh, kamu, Quen? Ini, kakak mengecek laporan dari karyawan di Jepang, kau sedang apa?" jawab Al, lalu kembali memandang ke arah monitornya.


"Aku bosen banget, kak. Kakak gak ingin ajak aku kemana gitu?" Gadis itu pun ikut duduk sambil menyilangkan kakinya di sebelah sang kakak.


"Mau kemana, sih? Sebentar, ya? Kakak masih agak sibuk, ini."


Quen menghembuskan napasnya kasar dan memutar kedua bola matanya. Dengan tatapan bingung ia melihat sang kakak yang tetap serius.


Merasa dicuekin Quen memiliki ide curang yang biasa ia lihat saat mamanya jengkel pada papanya kalau terus-terusan bekerja.


Memang serupa tapi beda, kalau mamanya sudah duduk dipangkuan sang papa sambil berhadapan, kalau Quen, gak mungkin begitu, kan?


Ia merebahkan kepalanya di atas paha Al, sambil membuka buku panduan yang sengaja Al bawa.


"Quen, apa yang kau lakukan?" Al jadi salah tingkah, wajahnya mendadak memucat.


"Tinggalkan laptopmu, bermainlah denganku."


"Kamu mau main, apa?"


"Jalan-jalan, yuk. Bosan aku."


"Kakak masih sibuk, sayang," jawab Al dengan gemas sambil mencubit hidung adiknya.


"Ah, ya sudahlah. Hidup saja terus dengan pekerjaanmu, itu." Quen nampak kecewa wajahnya cemberut lalu pergi meninggalkan Al.


"Gak bapak gak anak mereka sama-sama gila kerja, ah kedua kakekku juga, ya udah turunan itu," omel Quen sepanjang jalan.


"QUEEEN! AKU SUNGGUH CINTA PADAMU, JANGAN KAU PUTUSKAN AKU QUEEN!"


Quen menghentikan langkahnya, mencoba mendengarkan kembali suara yang ia dengar barusan.


"Siapa, sih?" batinnya, karena penasaran ia pun mencoba ke depan, melihat siapa yang berteriak-teriak di depan pagar.


Minggu ini kebetulan pak satpam rumahnya tengah libur, sementara Pak Makmur, ia mengantar neneknya ke sebuah acara.


Semakin dekat ia mengenali pemilik suara itu.


Ya, suara itu adalah Alex, mungkin ini salah satu usahanya untuk mengajaknya balikan, karena semua nomor dan kontak medsosnya sudah Quen blokir.


Perlahan Quen membuka pagar, tanpa Alex sadari, tiba-tiba sebuah air menyiram wajahnya, tidak cukup dengan itu, ember tempat air itu dipukulkan ke kepalanya.


"Kau ini kenapa, sih? Sudah gila, ya?"


Alex diam sesaat memandang gadis di depannya yang membwa ember kosong dengan tatapan penuh emosi dan kesal.


"Akhirnya kau keluar, Quen, kukira rumahmu kosong," ucap Alex sambil mengelapi wajahnya dengan tangannya.


"Kau mau apa ke sini? Pergilah. Kita sudah tidak ada urusan lagi!" Seru Quen sambil mencoba menutup pagar.

__ADS_1


"Quen, dengerin aku dulu. Maaf. Aku menyesal. Iya aku tahu aku salah, beri aku kesempatan." Tiba-tiba Alex memeluk gadis itu dan menciumnya.


Sekuat tenaga Quen mendorong tubuh Alex, "Kau ini gila, ya? Ini tempat umum. Kalau ada yang lihat, bagaimana?"


"Iya, Quen. Aku memang sudah gila, dan kau lah yang membuatku tergila-gila. Quen kembalilah padaku. Pliis beri aku satu kesempatan lagi." Pria itu pun berjongkok memohon kepada wanitanya agar mau meneruskan hubungannya.


"Mohon palamu, hah?" Sekali lagi, Quen memukul kepala Alex dan menutup pagarnya.


Dengan kesal ia berjalan masuk ke dalam rumah.


"Apakah dia sudah pergi, Non?" tanya Lyli tiba-tiba.


"Dia, siapa? Jadi kau tahu kalau ada orang gila di depan? Kenapa kak Lyli tidak mengusirnya?"


"Sudah, Non. Tapi dia tetap bersikeras, katanya tidak akan berhenti berteriak dan pergi sebelum Non Quen keluar menemui," jawab Lyli sedikit takut dengan Quen yang terlihat emosi.


"Lain kalu kalau dia berulah pukul saja, dia!" Quen pun naik ke atas kamarnya.


Al menghela napas lega, pekerjaannya pun selesai lebih cepat. Dengan segera ia membereskan laptop dan buku-bukunya.


Ia mengingat Quen tadi yang ngambeg padanya, dan berniat mengajaknya untuk jalan-jalan.


Setelah meletakan semua peralatan kerjanya di ruang baca, Al bertanya pada Lyli yang tengah melamun sambil melihat ke arah gadgetnya.


"Kak, Lyli. Apakah melihat Nona Quen?" tanyanya dingin, namun sopan.


"Ah, anu, tadi nona ada di lantai atas mungkin di kamarnya, Tuan." jawab gadis sembilan tahun itu, grogi.


"Terimakasih." Al pun dengan cepat menaiki tangga.


Al melihat kamar Quen sudah tidak berbentuk, semuanya berantakan. Banyak pecahan beling berserakan di sana sini, ia sempat berfikir dan menyalahkan dirinya sendiri, andai ia tidak mengabaikan adiknya, ia tidak akan sekesal ini.


Dengan cepat Al memeluk adiknya dari belakang. Berusaha menenangkan.


Tanpa Al sangaka, Quen yang ia kenal sebagai sosok yang kuat ia menangis.


"Maafin kakak, ya Quen. Kakak janji gak akan abaikan kamu lagi," ucapnya sambil terus memeluk Quen.


Quen yang dasarnya berhati lemah, ketika ada yang perhatian serta peduli dengannya ia malah merasa semakin rapuh, ia menangis sejadi-jadinya.


"Kakak, aku benci pria itu. Tapi kenapa aku seperti sakit saat kehilangannya, kuhancurkan semua barang-barangku yang bersangkutan dengannya," ucap Quen sambil terisak.


Al menautkan kedua alisnya dan melepas pelukannya lalu membalikan badan adiknya agar berhadapan dengannya.


"Jadi kau lakukan ini bukan karena kesal sama, kakak?"


Quen menggelengkan kepalanya sambil menyeka air matanya.


"Ya sudah, kita minta tolong kak Lyli saja buat beresin ini, kita ke Vila papa saja, ya?" tawar Al kepada Quen.


Quen tidak berkata apa-apa, ia hanya menganggukan kepalanya saja.


Perlahan Al menggandeng adiknya turun, tak lupa ia berpesan pada Lyli agar membersihkan dan merapikan kamar Quen.


"Kak, nanti kalau Tuan dan Nyonya mencari kita, katakan saja kami pergi Danau dekat Vila papa dan mama, ya," ucap Al.


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan."

__ADS_1


Lyli pun menaiki tangga membawa sapu dan cikrak plastik.


"Hah, kenapa kamar nona Quen bisa seperti ini?" Lyli nampak Shock melihat banyak benda-benda mahal milik cucu majikannya hancur dan berserakan di mana-mana.


"Hah, akhirnya selesai juga." Lyli menghela napas lega sambil mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan kanannya.


"Hah, orang kaya mah bebas melalukan apa saja. Menghancurkan apapun tanpa berfikir, jika perlu, beli lagi," gumam gadis itu seorang diri.


****


"Sudah berapa lama kamu pacaran sama, dia?" tanya Al sambil menikmati sebatang rokok yang ia sematkan di antara telunjuk dan jari tengahnya.


"Enam bulan jalan, Kak." Dengan tatapan kosong Quen menjawab pertanyaan kakaknya.


"Cinta pertama?" Mata  Al memandang lekat wajah Quen yang tanpa ekspresi.


"Yaah, bisa dibilang gitu." Quen mengirup napas panjang dan melepaskannya perlahan, meluruskan kakinya, kedua tangannya menyetuh lutut.


"Apa kau benar-benar cinta dan ingin selamanya bersama Alex?"


"Maunya sih, gitu kak. Tapi belum apa-apa dia dah brani main belakang, mana kami satu sekolahan lagi."


"Mama pernah bilang jika pria sudah tak setia, selagi belum ada pernikahan jangan ragu tinggalkan, sebab, jika sudah menikah ia akan lebih rawan berselingkuh," imbuh Quen.


Mendengar jawaban adiknya, Al kembali mengingat bayangan masa lalu, di mana ia dijadikan alat dan senjata oleh seorang wanita untuk merebut papa angkatnya dari mama angkatnya. Hanya saja, Vano type orang setia.


"Ucapan mama tidak ada yang salah, Quen."


"Maka dari itu, Kak. Quen berusaha menjauhi dia terus, ternyata sulit juga."


"Sudahlah, jangan dipikirkan, usiamu terlalu muda untuk memikirkan asmara, kau belajar yang serius, raih preatasi gapai cita-cita." Al menepuk pundak adiknya dengan tangan kirinya, sementara tangan satunya lagi masih memegan rokok yang tinggal setengah batang.


Quen menatap sang kakak, pantas saja ia menasehari seperti itu, selama ini ia tidak pernah melihat kakaknya dekat atau memperlakulan wanita secara spesial. Dia tidak tertarik sama wanita atau memang...


"Kak, apakah kamu tidak bisa menilai wanita cantik itu seperti apa?" tanya Quen tanpa mengalihkan pandangan dari kakaknya.


"Kenapa kau tanya demikian?" Al memandang Quen sambil tersenyum. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran adiknya saat ini.


"Tidak apa-apa. Selama ini kakak tidak pernah punya pacar, apakah wanita itu tidak menarik?"


"Apa kau memikir kakakmu ini gay, hah?"


"Tidak... Tidak... Bukan begitu." Quen mengalihkan pandangannya dari Al.


"Makanya, kamu sebagai wanita yang sudah remaja, jangan memakai pakaian yang memancing saat bersama dengan kakak, ya? Kalau kakak ga bisa tahan, habis kamu!" Seru Al berlagak serius sambil menahan tawa.


"Memang kakak mau lakuin sama adek sendiri?" jawan Quen sekenanya.


Al mendesah kesal, kenapa obrolannya jadi begini, sih?"


"Oh, iya. Bersamaan kamu libur smester awal nanti kakak akan pergi ke Jepang, kamu, ikut?" tanya Al mengalihkan pembicaraan.


"Apakah lama?"


"Tidak, tiga haru cukup. Tapi jika kau ikut, kita bisa lebih lama lagi tinggal di sana."


"Baiklah, aku ikut dengan kakak saja nanti." Gadis itu pun memdapatkan kembali keceriaannya.

__ADS_1


__ADS_2