Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 141


__ADS_3

"Pasien udah sepi, makan tutup aja dulu kita makan siang, terus kembali ke rumah sakit. Queen kamu yang bikin laporan ya?" ucap salah satu teman seprofesi dengan Queen.


"Iya, Kak, nanti biar aku yang kerjakan." Queen tersenyum pada wanita yang kira-kira usianya sudah duapuluh sembilan tahun itu.


"Kamu mau makan siang apa?" tanya wanita itu lagi.


"Oh, tidak usah uda..." Belum sempat Queen melanjutkan kalimatnya. Seorang teman yang kelihatannya sedikit rese menyahut lebih duluan.


"Itu ada cogan di depan pacarnya Quen sudah menunggu."


"Heh, bukan dia itu kakakku,"


"Kakak ketemu gede, ya? Hahaha."


Seluruh ruangan pun jadi ramai oleh gelak tawa mereka yang Mentawai Queen. Karena dianggap malu-malu mengakui kalau pria itu pacar dia.


Quen manyun sambil meneteskan laptop dan berkas-berkas ditata rapi dimasukan ke dalam map lalu keluar menghampiri Al.


Ia bahkan tak sadar kalau teman-temannya semua pada gnintip dari jendela.


Seperti biasa, Al selalu memeluk dan cium pipi kiri dan kanan pada adiknya lalu merangkul pinggang Quen berjalan beriringan.


"Lihat, udah ganteng, macho so sweet lagi pacarnya Quen, ya?"


***


"Kita mau makan apa, Kak?" tanya Queen saat keluar dari area klinik.


"Terserah, kamu mau makan apa?"


"Emmmb, nasi Padang aja, deh," ucap Queen sambil terkikik.


"Ngapain tertawa?" tanya Al sambil melihat aneh ke arah Queen.


"Gak apa-apa. Tadi lihat ada bule makan nasi Padang kayaknya enak, jadi aku kepengen. Kakak mau nraktir aku?" ucap Queen sambil bergelandut manja di lengan kiri kakaknya.


Keduanya pun masuk ke sebuah rumah makan kusus masakan Padang.


Queen mengetuk-ngetuk meja dengan jari kanannya , sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dagu.


Al memperhatikan adiknya yang lebih banyak diam daripada cerewet. Iseng-iseng ia pun menggodanya.


"Kenapa wajahnya galau gitu? Kangen sama Diaz, ya?" Godanya sambil terkekeh.


"Apaan sih kamu, Kak? Siapa juga yang kangen sama dia?" jawab Quen.


"Ya kamu, lah. Masa kakak, homo nanti, hahaha."


"Gak, lah. Aku kangen sama papa dan mama. Kapan mereka akan sadar dan kembali hadir ditengah-tengah kita dari aku mulai sekolah profesi sampai kini resmi menjadi dokter. Lama sekali, Kak. Udah hampir satu setengah tahun mereka masih saja terbaring tak berdaya, berjuang di antara hidup dan mati."


Quen masih menunjukkan ekspresi yang sama. Ia tahu, Al paling tidak bisa melihat dirinya sedih. Jadi,  berusaha mungkin ia memasang wajah datar. Tak mau kelihatan sedih di depan sang kakak apalagi menitikan air mata.


Al hanya membisu memperhatikan adiknya dan membatin, "aku ingin mereka juga cepat sadar. Tapi, jangan sekarang. Minimal kau nikah dulu sama Diaz. Masa iya, baru sadar papa dan mama dah harus lihat putrinya janda. Dan putranya proses cerai karena istrinya selingkuh. Bukannya sembuh malah penyakitan nanti."


"Kamu sabar ya sang. Mungkin ini bukan waktu yang tepat," ucap Al sambil memegangi punggung tangan Quen.


"Memangnya selama ini aku kurang sabar?"


"Tidak." Al tersenyum lembut memperhatikan Quen. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin sekali memeluknya. Tapi, tidak di tempat umum juga, kan?


Bersamaan dengan itu pelayan datang membawakan pesanan mereka. Belum juga sempat Al menyentuh makanannya, ponselnya sudah berdering.


"Siapa, Kak?" tanya Queen sambil melirik ke arah benda pipih itu.


"Juna," jawab Al singkat.


Selebihnya Queen sudah tak mau tahu lagi, paling yang mereka bahas juga masalah kantor. Dia fokus dengan makan siangnya karena perut juga sudah mulai keroncongan. Pagi tadi ia tidak sempat sarapan selain selembar roti tawar dan air mineral. Serius roti tawar tanpa seleai, atau apapun jadi, benar-benar tawar.

__ADS_1


"Halo, Jun ada apa?"


"...."


"Oh, itu? Ya aku tadi tahu di mall dekat kantor."


"..."


"Jangan! Biarkan saja, cukup di awasi dan selebihnya tetap bersikap normal padanya di kantor."


Al mematikan ponselnya. Meletakan kembali pada smartphone itu pada saku celananya.


Sebelum ia memasukan satu suapan pada mulutnya, ia memperhatikan Queen yang tidak seperti biasanya, ia nampak sangat lahap. Tapi, Al berfikir aneh, sebeb tidak biasanya wanita itu suka makanan pedas berlemak apalagi pakai santan. Kalaupun pedas ya tumis yang ada potongan cabenya.


"Dia tidak sedang ngidam, kan?" Batin Al.


Al tersenyum seorang diri. Lalu berfikir. Jika melihat sikap Alex yang demikian sepertinya tidak mungkin ia meniduri Quen. Jika wanita masih ditiduri mana mungkin ngotot minta cerai?


"Hus, sudahlah Al. Kau berpikir terlalu jauh. Fokus istrimu sendiri tidak setia,"  begitulah seruan jiwa Al. Entah hasutan baik atau buruk yang jelas ia sadar Nayla tak butuh apapun selain kasih sayang. Dan mungkin dia menemukan hal itu pada diri Jevin. So biarkan mereka bahagia saja. Al masih enggan membahas. Masih ingin. Tahu seberapa pandai wanita itu menutupinya.


"Kak, makan jangan sambil bengong. Nanti aku abisin, loh!" ujar Queen yang berhasil membuyarkan lamunan pria itu.


"Kamu ini doyan apa laper, sih, Queen? Rakus banget. Yang bener aja satu mangkuk sambal ijo hampir habis cuma di kamu?" tanya Al terheran-heran.


"Doyan, ya laper. Tadi pagi aku cuma sempat sarapan satu lembar roti tawar tanpa dioles apapun, dan bekerja keras setelahnya," jawab Queen sambil menguyah makanan.


Al tersenyum melihat adiknya yang seperti ini.


"Dasar, kamu dari dulu tetap aja seperti itu, gak ada berubahnya."


"Ngegemesin kaya baby, ya? Padahal juga dah tua hampir janda pula, hahaha."


Al hanya geleng-geleng kepala saja mendapati jawaban konyol dari Queen. Benar saja kalau dia tidak berubah tetap sama seperti dulu cantik dan menggemaskan.


"Apa, cantik? Dia tidak lebih cantik dari Clara," batin Al segera menyahut.


Usai makan siang bersama kakaknya Queen kembali diantarkan ke klinik.


Sudah membuat adiknya digoda teman seprofesinya tadi rasanya seperti tidak puas saja Al. Ia masih ingin memancing teman-teman agar mengira mereka adalah sepasang kekasih.


Kamu hati-hati kalau kerja. Nanti pualng jam berapa, Sayang?" ucap Al sambil memegang kedua sisi lengan atas Quen dan menatap ke arah matanya.


Quen tidak sadar dengan perlakuan kakaknya yang nanti akan menimbulkan kehebohan di dalam. Sebab, dia sudah biasa dimanja seperti ini olehnya dan kedua orangtunya.


"Habis bikin laporan aku pulang kok kak," jawab Quen singkat.


"Perlu kakak jemput dan antar ke apartemen?"


"Tidak usah, nanti kakak akan kuwalahan. Tadi kak Juna juga sampai telfon gitu di jam istirahat, kan?"


Al tersenyum tipis lalu mengecup kening dan kedua pipi Queen sambil berbisik, "kamu hati-hati, ya kalau kerja. Telfon kakak saat sudah tiba di apartemen nanti."


Wanita itu cuma Menganguk dan tersenyum saja. Lalu kembali masuk ke dalam ruangan para petugas kesehatan.


Di dalam semua teman habis-habisan menggodanya tapi, ia tak mau ambil pusing. Ia hanya mengatakan satu kali saja kalau pria itu adalah kakaknya.


Dengan cepat ia membuka laptop menyusun laporan untuk disetorkan. Sementara para seniornya terus menggoda yang mau jadi iparnya dia lah, kakak kakakan lah dan apapun Queen tetap fokus pada monitornya.


Satu jam kemudian Queen sudah menyelesaikan tugasnya. Ia segera kembali ke apartemen agar dapat membantu kakaknya mengerjakan tugas kantor. Hanya saja, ia ingin mampir ke minimarket dahulu, memberi sayur, buah ikan dan bahan makanan lainnya.


Saat ia berbelanja memilih bahan makanan apa saja yang mau dibeli,  ponsel dari dalam tasnya berdering.


Bibir wanita itu melengkung kenatas membentuk senyuman saat melihat sebuah panggilan video dari kontak bernama pangeran kodok.


"Hay, pangeran!" seru Quen sambil menutup mulutnya dengan jari tangannya saat mengangkat panggilan itu.


Sementara pria itu hanya tersenyum memandangi wajah Quen dari layar sentuhnya.

__ADS_1


"Belum rampung, kerjanya?" tanya Queen saat melihat pria itu masih mengenakan jas putih serta stetoskop di lehernya dan pemandangan kotak-kotak tempat berkas dan obat di belakangnya.


"Iya, Nih. Masih kurang tiga jam lagi," jawabnya sambil tersenyum. "kamu belanja?" imbuhnya.


"Iya, nih. Belanja untuk isi kulkas biar gak kosong. Kalau lagi pengen makan dan malas keluar kan enak tinggal bikin aja," jawab Quen samhil mendorong troli dan mengambili bahan-bahan yang dibutuhkan.


"Bagaimana tempat kerja kamu, nyaman?" tanya Diaz dengan penuh perhatian.


"Iyaa, nyaman sekali. Aku awalnya bakal nyangka kalau akan dikirim ke pelosok desa seperti para dokter baru yang lain, tapi gak nyangka banget bisa ditaruh di rumah sakit di mana papa dan mamaku di rawat. Kamu gimana di sana?"


"Di sini, ya? Enak. Selain di kampung halaman, banyak cewek-cewek cantik yang cuma flu ringan aja periksa ke sini saat aku yang jaga," ucap Diaz sambil terkekeh.


Sementara Queen yang mendengar ucapan Diaz langsung hilang kendali dirinya. Dengan wajah jutek dan nada penuh emosi dia berkata, "Ya udah kamu lanjut aja dasar ganjen!" Ia pun langsung mematikan panggilannya, lalu dengan cepat pergi ke kasir untuk membayar.


Diaz tersenyum puas dengan tingkah Queen yang seperti itu. Ia semakin yakin kalau wanita yang dicintainya sejak pertama kali jumpa itu pun memiliki perasaan yang sama.


Ia pun makin mantap menunggu Queen resmi menjadi janda untuk menyatakan cintanya. Sekarang ia tidak berani, sebab takut adanya kemungkinan yang bisa saja terjadi, yaitu rujuk dengan Alex.


Setiba di rumah Quen hanya mengabari Al melalui pesan chat saja. Suasana hatinya sangat buruk, ia malas berbicara dengan siapapun. Usai mandi dan rambutnya pun masih dibungkus dengan handuk, terdengar suara bel pintu berbunyi. Mulanya ia mengira yang datang adalah Al. Jadi, ia santai saja meski hanya mengenakan hot pant dan tangtop pres bodi.


Ia membuka pintu itu. Tapi, pria yang berdiri di depan situ bukan Al. Melainkan Aditya.


"Kak Adit, ada apa kemari?" tanya Queen agak gelagapan sebab, paha dan belahan dadanya terumbar bebas menjadi suguhan Adit yang baru saja sampai.


"Cuma mau jenguk kamu saja, kamu apa kabar?"


"Oh, baik kak. Di mana kak Novi dan Axel kok tidak iku?"


"Mereka awalnya ku ajak, tapi, Axel akan mengikuti lomba cerdas cermat. Jadi, ia harus banyak-banyak belajar. Quen, tidakkah kau mempersiapkan aku masuk?" Protes Aditya.


"Oh, maaf lupa. Masuk Kak, duduklah, kamu mau minum apa?" tawar Queen. Tapi, wanita itu tidak bergegas ke dapur. melainkan ke kamar dengan maksud mengambil daster atau apa minimal pakaiannya sedikit tertutup.


Sekalipun Quen tidak menyangka kalau Aditya bakal menyusul dirinya ke dalam kamar.


Dengan mata terbelalak dan terkejut wanita itu bertanya setengah membentak pada pria yang diam-diam berani masuk ke dalam kamarnya tanpa diminta.


"Kak Adit, kenapa kau masuk kemari? Ini kamar pribadiku."


Queen kian mundur sambil meletakan daster ditangannya di depan dada untuk menutup bagian depan yang terekspose.


"Kenapa ditutupi, Sayang? Lagian tadi aku juga sudah melihatnya," ucap Adit sambil sambil terus melangkah mendekati Queen seperti harimau kelaparan yang tengah membidik mangsanya.


"Kak, ini di dalam kamar, tolong keluarlah!" Seru Quen lagi.


Tapi, Aditya tak mau mendengarkan. Dengan berari ia malah mendekap Quen dari depan. Dengan tenaganya yang jauh lebih kuat dari Queen, ia melempar wanita itu ke atas ranjang dan. mulai menindihnya.


"Aditya, brengsek kau, lepaskan aku!" Tariak Queen sambil terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


Tapi, Aditya yang sudah kalap dan dipenuhi napsu sudah tak ingat apapun dia terlalu dibutakan oleh cinta.


Tak peduli Queen yang di bawah tubuhnya menangis dan berteriak keras minta tolong.


"Diiiit, lepaskan aku, kenapa kau jadi seperti ini? Pergilah aku mohon jangan lakukan ini," ucap Queen sambil menangis saat tenaganya sudah mulai habis.


"Apa sayang? Stop kamu bilang? Sudah berapa tahun aku menantikan kesempatan ini, dan saat aku mendapatkannya kau minta aku, stop? Aku tidak bisa sayang. Malam-malam aku selalu membayangkan agar bisa menyetubuhi dirimu. Dan inilah kesempatanku."


"Brengsek kau, gila, lepaskan aku, dasar baningan!" Umpat Queen dengan keras sambil beruraian air mata.


"Sayang, jika kau tidak bisa tenang dan terus kasar seperti ini jangan salahkan aku jika aku melakukannya dengan kasar. Tenang jangan berontak agar aku bisa melakukan dengan penuh kelembutan," ucap Adiitya sudah mulai kuwalahan.


"Tidak! Aku tidak mau, lepaskan aku dan pergilah!"


Queen berhasil meloloskan satu tangannya dan meninju tepar pada hidung pria itu.


Nampaknya Aditya merasa kesakitan. Ia pun emosi menampar Queen yang ada di bawah tubuhnya dan menarik paksa hot pant yang dikenakan wanita itu.


"Siapapun tolong aku! Dit, plis jangan lakukan ini aku mohon lepaskan aku!' seru Quen sambil menangis. Bahkan suaranya pun sudah mulai serak.

__ADS_1


tapi, sedikitpun Aditya tidak memiliki rasa iba, ia sudah kalah oleh hawa nafsunya. dan buta oleh cinta yang mungkin bisa berujung sengsara, atau malah bisa mendapatkan apa yang ia harapkan setelah Alex dan Queen sudah resmi bercerai nanti.


__ADS_2