
"Hanifah!" Teriak Eren geram lalu menarikt tangan anaknya membawa ke lamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Aw, aduh. Ma... Sakit tau." Keluhย gadis itu sambil memegangi pergelangannya yang memerah.
"Kau bertingkah seperti itu kepada Alex apakah pantas? Apa kau sengaja mengajak perang Quen, hah?" ucap Eren sambil melotot.
"Salah ya kalau aku cuma berusaha akran sama sepupuku? Lagian sama kak Nayla aku juga sudah akrab, kan Ma?" jawan Hanifah ngeles.
"Akrab boleh, tapi apakah pantas seorang gadis membelai perut pria yang sudah menikah lalu berkata kau boleh datang padaku jika sudah bosen dengan dia, apa maksutmu? Jelaskan! Kalau sampai papamu tahu ini dia bisa marah besar padamu, kau mengerti?"
Hanifah terkejut melihat mamanya nail pitam. Bukan soal kemarahannya, tapi, apa yang dia lakukan diketahui olehnya. Padahal dia sudah merasa situasi benar-benar hanya ada dia dan Alex, tadi.
"Ba... Bagaimana Mama bisa, tahu?" tanya Hanifah sedikit tergagap. Wajahnya pun kuga nampak memucat karena ketakutan.
"Kau tidak perlu bagaimana mama bisa tau, apa maksutmu melakukan itu, hah?" kali ini Eren benar-benarurka pada putrinya karena Hanifah sendiri juga sangat keterlaluan. Kalau samapai Quen tahu, juga tidak akan baik, kan?
"Kau mau jadi pelakor, ya? Mau merusak rumah tangga saudarimu sendiri? Quen itu keponakan papamu. Kau jangan bertingkah aneh-aneh lagi, deh."
"Maaf, Ma, semua itu cuma ga lebih dari sekedar iseng saja, kok. Kalau Alex gak mau ya gapap. Kalau maj brarti emang cantikan aku, cuma sekedar ingin tahu saja, level brapa aku..."
Eren merasa amarahnya benar-benar meluap tanpa berfikir panjang ia menampar pipi Hanifah dengan kencang.
Gadis itu hanya diam tidak melawan ataupun marah. Karena bagaimana pun dia salah.
"Jika kau sudah menikah, lalu suamimu dibegitukan sama Quen apakah kau terima? Kau sudah dewasa Hanifah, kau bisa berfikir.ย Kau punya otak, kan? Berfikirlah seribu kali sebelum melakukan sesuatu. Tepatkan posisimu pada orang yang ingin kau sakiti bagaimana?"
Hanifah menunduk sambil memegangi pipinya yang merah, bahkan tamparan Eren ini sangat parah. Tidak hanya merah, tapi sudah bengkak, dalam itukan menit juga bakal membiru.
"Kau segeralah tidur." Eren pun keluar sambil menangis. Sebab ini kali pertama memukul anaknya. Tapi, jila tidak di pukul juga keterlaluan.
Eren berlari menuju kamar, kebetulan suaminya masih ngobrol dengan Vano di teras belakang, entah apa yang mereka berdua obrolkan.
Ternyata Vano tidak hanya berdua, di sana ada papa Andreas dan papa Andrean juga madam Erwin. Mereka berlima tengah bermain kartu. Sedangkan Clara berada di kamar Vivian. Jam seginu dia biasanya memijat kaki mamanya beberapa menit, sedikitnya setengah jam kadang juga tak jarang sampai Vivian terlelap. Sedangkan Jeslyn dia sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Win, kamu ternyata ahli juga ya main kartunya, masa iya belum kalah sama sekali," ucap Vano sambil tertawa.
"Kebencongan yang tak dapat diremehkan!" Seru Erwin.
"Aduh, gan... Aku permios dulu, ini mau pupu.. Eh pipis dari pada ngompol di sini kan, ye gak seru." langsung saja pria jadi-jadian itu betlari kencang menuju dalam lewat pintu belakang.
Usai membuang hajat, Erwin mendengar suara aneh dari halaman samping. Karena merasa curiga ia berusaha ngintip dan ternyata Vano junior alias Al bersama istrinya lagi tengkar. "Eh, masalah opose mereka kok ribut-ribut begenong..." gumamnya seorang diri.
"Nay, akh tuh heran ya sama kamu, Kalua memang Quen suka sama aku, mana mungkin dia membirakan aku menikah denganmu? Bahkan dia yang memintaku agar segera menikah," ucap Al. Nampak oleh Erwin dia benar-benar kesal.
"Buktinya, Hanifah mendekatimu dia juga marah, kan tidak suka?" ucap Nayla dengan suara tinggi.
"Ya, memang. Dia tidak suka Hanifah mendekatiku sebagai adik. Tapi, jika Hanifah bilang cinta aku dan ingin jadi istriku, Quen tidak akan pernah keberatan, apakah perlu dibuktikan? Lagi pula kau menuduhku suka pada adik sendiri atas dasar apa? Karena aku cuma anak angkat keluarga ini? Jika memang aku mencintai Quen kemarin saat ia membatalkan pernikahannua dengan Dokter Aditya, bukan Alex yang berjabat dengan penghulu mengucab ijab di depan saksi, tapi, aku Nay. Akan aku nikahi dia!"cetus Al. Rupanya pria itu benar-benar emosi dengan tuduhan Nayla yang tak berdasar.
Erwin merasa geram melihat Nayla yang terkesan memberi jarak antara kakak beradik yang benar-benar baik dari orok itu pun tak bisa menahan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Ia keluar dan menghampiri Nayla ikut marah pada wanita itu.
"Hahaha, luci, lucinta deh kalian. Sory, madam menguping tidak sengaja. Eh, Al kau ini ganteng tapi kok kaya salah pilih bini, sih? Ini mah mak lampir kalau minta kau jauhin adek sendiri, duh tau gitu nikah ma madam aja, madam akan sayang sama Quen kaya adek sendiri. Lah ini, ular muka dua di depan Quen baiknya gak ketulungan di belakang busuk, cuih. Kasian Quen kalau tahu punya ipar lampir begenong, daaahhh..." Erwin pun berlari sambil melambaikan tangan dengan ekspresi jiji, berlari berjinjit-jinjit layaknya bencong.
Al menyeringai sambil menatap Nayla. "Semua juga menyalahkan mu. Kan? Mungkin benar kata om Erwin. Aku salah pilih istri. Aku salah pilih kamu, Nay. Apa perlu aku menyatakan cinta dan meminta pada Hanifah agar mau jadi istri keduaku biar kau lihat sifat asli Quen? Aku benar-benar kasian dengan adikku yang malang dia menyayangimu tapi kau membencinya, Nay!" seri Al lalu pergi minggalkan wanita itu seorang diri.
__ADS_1
Nayla segera berlari mengejar Al tapi terlambat kali ini kekecewaan Al benar-benar ada di puncak.
Sempat Nayla memegang tangan Al tapi, dikibaskannya oleh pria itu. Al naik ke lantai atas hendak mengambil laptopnya. Dia tidak akan tidur sekamar dengan Nayla malam ini tapi, saat melintasi kamar Quen, pintunya dibuka dan dan seorang wanita keluar sedikit tergesa-gesa pula, hingga keduanya bertabrakan.
"Kakak, aduh! Sakit tau," ucap Quen sambil memegangi jidatnya.
"Kau kenapa malam-malam keluar? Mau kemana?" ucap Al sedikit merendah.
Tapi, Quen sangat jely dan peka. Dia tahu kakaknya tengah emosi, terlihat dari wajahnya yang nampak merah padam, keringat dingin dan suara napas yang tak beraturan. Tapi, pada siapa dia marah? Apakah sama Nayla? Sudah bebrapa kali Quen melihat keduanya terjadi percekcokan. Tapi, ia tidak tahu apa yang dipermasalahkannya.
"Kakak kenapa? Marahan lagi sama kak, Nay?"
Al tidak menjawab, dia hanya membuang muka dari Quen. Sebab gadis itu tengah memberikan tatapan yang menyelidik.
Quen menghela napas panjang, kebetulan dia melihat sekelibat Lyli yang baru saja menutup gorden ruang tamu. "Kak Lyli, tolong ambilkan satu botol air putih kemari, ya?" ucap Quen sambil melempar senyuman pada gadis ART muda itu.
Tanpa berkata Quen menarik tangan Al diajak duduk di kursi panjang yang ada di balkon. "Tarik napaass, tahan... Keluarkan! Giamana? Sudah lega?" tanyanya dengan senyumanya yang manis dan nampak menenangkan siapapun yang melihatnya itu.
Kebetulan, Lyli juga tiba untuk memberikan air putih yang diminta Quen barusan.
Setelah Lyli pergi, Quen membuka tutup botol itu dan meminta Al untuk meminumnya beberapa tegug. "Minumlah!" perintahnya.
Al mematuhi meraih air itu dan meneguknya beberapa kali.
Quen melihat air muka Al sudah mulai membaik.
"Kak, maaf. Bukannya aku mau ikut campur, sebenarnya ada masalah apa antara kau dan kak Nayla? Kalian terlalu sering bertengkar, loh." ucap Quen ragu-ragu.
"Ada, dia di kamar. Kakak tidur di kamarku saja sama dia, mungkin kakak perlu teman ngobrol, yuk aku antar!" Seru Quen.
"Lalu kamu?"
"Aku akan tidur di tempat Hanifah, lah! Gak papa. Jangan sungkan begitu, ayo!"
Di dalam kamar, Alex tengah membuka sebuah aplikasi yang menawarkan penjualan tiket pesawat, kereta api juga hotel.
"Kak, Al," ucap Alex buru-buru memutar posisi, dia agak kesusahan karna tidak duduk di kursi putar, hanya kursi stul tanpa sandaran.
"Sibuk banget?" sapa Al.
"Tidak juga, ini lihat-lihat harga tiket buat ke tempat mama bulan depan, ucap Alex.
"Pakai pesawat kakak saja, Alex. Bukannya kau pergi bersama kakakmu juga ke sana?" ucap Al.
"Jangan gitu, Kak. Aku nikahin adikmu cuma dengan modal cincin perak, masa iya pesawat ke New York cari gratisan pada kakak ipar. Kutaruh mana mukaku, ini kak?" bisik Alex malu-malu.
"Ya pada tempatnya lah, Lex. Kau malam ini tidur dengan kakakku yang baik, gak boleh nakal, ya? Aku akan temani Hanifah!" Ucap Quen lalu keluar sambil menguncir asal rambutnya.
Kedua pria itu saling tatap, Al menghela napas panjang, sementara Alex tersenyum kecut.
"Apakah hubungan mereka baik?" tanya Alex kepada kakak iparnya.
"Ya, sebenarnya begitu dari awal, hanya saja saat ada aku selalu bertengkar. Hanifah dia ingin memiliki seorang kakak seperti Quen. Dan Quen dari dulu tidak pernah mau berbagi kakak ya kakak dia saja. Hanifah gak boleh anggap aku seperti kakak sendiri cukup sepupu saja."
__ADS_1
Keduanya pun tertawa.
"Tunggu, tapi kalau suami Quen juga tidak akan dianggap suami sendiri, kan? Cewek itu lumayan horor."
"Kenapa?"
"Tidak. Mungkin sebaiknya aku jaga jarak saja biar tidak salah paham."
Al tidak menjawab tapi ia sudah paham arah pembicaraan Alex. Hanya saja Alex tidak mau terbuka, memang Hanifah tidak akan sampai melakukan dengan fatal, tapi benar kata Alex hal seperti ini tidak bisa di biarkan terus menerus. Sebab bisa memicu kelasalah pahaman. Candaan Hanifah juga sebenarnya tidaklah pantas. Beruntung Quen mencintai pria yang tepat, jika saja tidak ....
"Ini sudah malam, tidur, yuk!" Ajak Al pada Alex sambil bergegas ke kasur.
"Kak, kenapa kau tidak sekamar dengan istrimu, apakah kau akan membuat perpisahan sebelum kembali ke Jepang?"
"Aku belum tahu kapan kembali, tapi, aku ya memang harus segera kembali walau laporan bisa lewat emai, kalau ada Clien agak repot."
"Temui Clien dan kembalilah kemari," canda Alex, seolah jaraknya hanya dari rumahnya ke kampus ataunke tempat gym aja.
๐ ๐ ๐
Quen menyalakan lampu kamar, ia melihat Hanifah menelungkupkan badannya di atas kasur, dia tahu kalau Hanifah belum tidur. Tapi kenapa gadis jelmaan itu kok tidak memberikannya sambutan sedikit pun?"
"Hanifah, aku akan tidur denganmu malam ini, kenapa kau diam saja?" Quen duduk bersila di atas kasur sebelah Hanifah yang masih diam dan telungkup menyembunyikan wajahnya. Mungkin agar Quen mengira kalau dia sudah tidur.
"Kau kenapa diam saja? Duduklah atau minimal berbaring! Aku tahu kau hanya pura pura tidur saja." Quen menarik paksa tubuh Hanifah membuatnya terlentang.
Hanifah pun akhirnya terlentang dan Quen dapat melihat dengan jelas pipi kirinya bengkak dan memerah.
"Ya ampun, Hanifah. Pipi kamu kenapa?" tanya Quen terkejut.
"Akj tadi jatoh saat berkari, tersandung bukuku sendiri, Quen," jawab Hanifah bohong.
Quen yang ahli bela diri jelas tahu dan bisa membedakan ini lebam karena jatuh atau tamparan, karena ada bekas seperti jari di sana. Mungkin Hanifah merahasiakan siapa yang menamparnya dan tak ingin kesalahannya di kathui olehnya.
"Kau tunggu di sini. Aku ambil es batu dulu buat kompres pipi kamu, ya?" Dengan segera Quen beranjak menuju dapur mengambil wadah berisi pecahan es batu dan memasukannya pada kain waslap dan membawanya ke kamar Hanifah kembali.
"Kenapa kau baik banget sama aku? Bukannya kau takut kakak dan suamimu ku ambil?" ucap Hanifah melemparkan candaan.
"Karena kau saudariku. Tapi, jika sampai kau berani ambil mereka beneran awas saja, kupatahkan lehermu!" ucap Quen dan keduanya sama-sama tertawa.
"Kalau dipikir-pikir kita sudah sama-sama dewasa ya, Quen? Kenapa ya, kita masih saja sering berantem."
"Kau sering menggodaku, jiwa amarahku langsung bergejolak begitu saja saat dengar ada seseadik yang inginkan kakakku, hahaha."
"Habis mulutmu pedas banget. Baru saja kau mengancam untuk mematahkan leherku, kan?"
"Ancaman yang bisa jadi nyata, Han. Jangan main-main sama aku."
"Ok, aku minta maaf deh, aku ga akam godain sepupu dan iparku lagi kalau gitu. Ini aku jatoh karena kualat."
"Ya sudah, sini yang tenang. Kau kualat karena aku, jadi biarkan aku merawatmau."
Keduanya pun kembali ceria seolah tidak ada masalah, dari dulu juga begitu, semoga setelah dewasa ini besok saat bertemu dengan Al juga Alex, tidak ada salah satu dari mereka yang mulai menggoda satu sama lain sampai selamanya.
__ADS_1