Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 190


__ADS_3

Queen masih merangkul ke tubuh Al sampai helicopter yang


akan mengevakuai mereka dan mayat Aditya datang.


“Coba periksa dia, apakah masih hidup?” tanya Al pada anak


buahnya yang baru saja turun ke dasar jurang.


“Tidak mungkin hidup, Bos. Peluru tepat mengenai kepalanya,”


jawab pria itu.


“Oh, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, aku tidak


melihatnya, aku hanya reflek melindungi diri dan adikku saja dari tikamannya."


“ya sudah, biar ini kami yang urus, Bos. Kalian ke rumah


sakit saja dulu. Sebentar lagi akan ada satu helicopter lagi kemari.”


Al hanya menjawab dengan anggukan saja pada anak buahnya.


“Kamu bisa duduk tidak?” tanya Al dengan lembut, kini dia


sudah duduk di sebelah Queen yang masih terbaring sambil menutup wajahnya


dengan kedua tangannya. Ia tak ada keberanian melihat ke arah Aditya saat


mendengar salah satu orangnya Al berkata jika tembakan kakaknya tepat mengenai kepalanya.


“Bisa, tapi aku takut, kak,” jawab Queen. Masih dengan posisi yang sama.


“Takut apa? Ayo kakak bantu kamu!” Al pun menguatkan diri


menggendong Queen yang banyak terdapat luka di tubuhnya yang juga bisa di kata


cukup parah. Karena selain jurangnya dalam, seperti yang di katakana anak


buahnya Al tadi, di sana banyak ranting-ranting dari tanaman berduri dan tak sedikit


pula batuan cadas dan runcing.


“Jangan menggendongku, aku malu!”


“Malu sama siapa? Tidak apa-apa, ayo cepat  biar lukanya cepat diatasi.”


“Kak, kita langsung ke rumah saja, minta kakek manggil


dokter, aku tidak mau masuk rumah sakit manapun,” ucap Queen manja dan sedikit merengek.


Al menatap adiknya cukup lama sambil tersenyum tipis.


“Memangnya kenapa?”


“Aku malu lah, seorang dokter masa dirawat di rumah sakit.


Terlebih di tempat aku bekerja.”


“Kenapa malu? Diaz aja tidak.”


“Oh, iya, Kak. Bagaimana keadaan dia sekarang? Dia sudah


sadar belum? Baiklah tidak apa-apa ke rumah sakit juga, aku mau dirawat satu


ruangan sama dia,” ucap Queen mulai panik dan tak bisa tenang.


Al dalam hati meruntuk dan menyesali perkataannya, ‘Sial,


kenapa aku harus bahas bocah itu? Mungkin kalau akan lebi baik jika Queen tadi


lupa ingatan saja. Itu akan sangat bagus untuknya.’


“Baik terserah kamu saja,” jawab Al dengan raut wajah yang


tidak senang.


“Kakak emang yang gterbaik,” ucap Queen sambil memeluk dan


mencium pipi Al.


Tanpa sadar Al memberi isyarat mata pada orang yang mengemudikan  helikopternya.


“Di rujuk ke rumah sakit mana, Diaz kemarin?”


“Kemarin langsung di rujuk ke rumah sakit Medika sehat.


Tapi, karena kondisi dr,Diaz sudah membaik, ia sudah pulang ke Bandung, bersama


ibu dan adik perempuannya, Bos.’’


“Oh, sudah pulang, ya? Diaz sudah ada di rumahnya, kamu mau dirawat di rumahnya juga?’’ goda Al sambil terkekeh.


“Ya sudah, cepat minta kakek panggil dokter saja,” ucap


Queen sambil melihat pemandangan di bawah sana.


🍀🍀🍀🍀


Walau pun terdapat banyak luka di tubuh Queen, tapi tidak separah


luka tusukan yang ada di punggung Al.


Queen bahkan masih bisa menemani sang kakak yang tengaah mendapat


pelayanan medis. Lukanya cukup dalam dan lebar, sehingga banyak mendapatkan


jahitan. Al yang memang dasarnya cerdik dan pandai memanfaatkan apapun, ia


berlagak kesakitan yang luar biasa, berteriak-teriak saja terus dan baru diam


saat ia telungkup di pangkuan Queen.


“Tenang dulu, ya? Dokter masih menjahit luka kakak, jangan


banyak bergerak,” ucapnya lirih sambil mengelus lembut belakang kepalanya Al.


Sedangkan Adrean yang melihat mereka dari luar hanya


tersenyum saja sambil geleng-gelleng kepala dan membatin, ‘Clara, Vano.


Lihatlah mereka, fotokopi kalian, begitu nyata membuatku mengingatkan bagaimana


kisah cinta kalian dulu. Namun cinta kalian tidaklah serumit mereka, ini yang


satu sudah ada rasa cinta terhadap adiknya tapi masih menganggap kasih sayang


kakak terhadap adik. Sementara adiknya masih mencintai pria lain. Kalian akan


sadar kapan? Sekarang, bantu keduanya memahami, bantu papa atur Diaz dengan


Hanifah? Atau nanti nerima jadi saja?’


“Kakek, apakah ,mas Al baik-baik saja?” tanya Nayla yang


baru saja tiba mengantar Bilqis.


“Seprtinya tidak, mereka di dalam sedang mendapat


perawatan.” Andrean pun pergi meninggalkan Nayla, ia berpesan pada bik Yul agar


segera menyiapkan makanan untuk kedua cucunya, sebab dari kemarin jelas mereka


belum ada yang makan apapun.


Di dalam kamarnya Andrean mengambil foto mendiang sang


istri. Beberapa kali pria itu mengelus gambar pada foto itu dan tersenyum di


bibirnya, namun mengalir buliran bening di kedua matanya.

__ADS_1


“Sayang, seandainya saja kau dan kakak masih hidup dan ada


di antara kita di sini, lihatlah anak yang dibesarkan oleh putra putri kita,


sepertinya dialah jodoh untuk cucu kita. Hanya saja urusannya sangat rumit,


perlu bantuanku, jika dulu kita susah payah memisahkan Clara dan Vano, sekarang malah kebalikannya.


Aku harus berjuang keras menyatukan Al dan Queen.”


Sedangkan di kamar tamu, Al sudah selesai dengan lukanya,


dokter pun juga berpesan agar lukanya tidak terkana air dulu.


Al melirik Nayla yang memasang wajah khawaitir terhadapnya,


namun sedikitpun tak peduli dengan kondisi Queen.


“Kamu dengar? Aku gak boleh kena air dulu lukanya, gimana


dong caranya mandi?” tanya Al saat mereka sudah duduk di depan meja makan.


“Ya, kalau mau mandi, mandi saja, Kak. Nyiramnya jangan


sampai pundak, kenakan bawahnya  yang


terluka, kak,” jawab Queen enteng.


“Ya mana bisa, Sayang? Ini kan dibelakang, mana bisa lihat


aku?” ucap Al tanpa memperdulikan Nayla.


“Gampang, minta tlong kak Nay saja yang mandiin kaka, beres,


kan?” Rupanya perut yang sudah kelaparn itu mampu membuat Queen melupakan


segalanya. Apapun yang dibicarakan Al sedikitpun ia tidak menggubrisnya.


Terlebih bik Yul menyiapkan menu makanan dari ikan gabus untuk mereka. Selain


Queen sendiri suka dengan ikan jenis ini, Andrean sengaja meminta bik Yul


membeli dan langsung memasaknya karena ikan ini bagus untuk proses penyembuhan


luka agar cepat kering dan sembuh.


Stelah usai makan, barulah wanita itu teringat dengan


Aditya, ia merasa takut jika saja kakaknya dipenjara karena bagaimana pun Al lah


yang membunuh Aditya pada saat itu. Tak mau menunjukan kesedihannya di depan Al.


Queen  pun segera bergegas naik ke


kamarnya.


Diam-diam Queen menangis seorang sendiri di depan jendela, Ia


tak lagi ingat dengan kekawatirannya kepada Diaz selain kakaknya. Memang, Diaz


juga berkorban banyak demi dirinya, tapi Al…


“Kamu mau ke kamar, Mas? Aku bantu,” tawar Nayla.


“Tidak usah, aku masih bisa berjalan sendiri, kamu bantu bibik


saja bereskan meja,” ujar Al lalu segera bergegas menyusul Queen di lantai atas.


Dari ambang pintu kamar adiknya ia melihat kalau Queen


berdiri membelakangi pintu, pundaknya berguncang, sedangkan tangannya


sesekali  mengusap air matanya yang


mungkin tengah mengalir deras.


Perlahan Al melangkah mendekati adiknya dan menyentuh


Queen langsung berbalik arah menghadap Al dan memeluk tubuh


pria itu dengan erat, serta menumpahkan semua air matanya dalam pelukan


kakaknya.


“Aku takut, Kak. Aku taku kau dipenjara, lalu aku di sini


sama siapa?” ucap Queen sambil terisak.


“Memang kenapa? Kan masih ada kakek, Hanifah dan juga Diaz,


Sayang jika kakak dipenjara nanti,” jawab Al sambil membalas pelukan adiknya.


“Tapi, kakakku kan kamu, bukan mereka.”


“Apakah kakak lebih penting dari mereka? Diaz misalnya.”


“Ya, sekalipun kau bukan kakak kandungku. Tapi kita sudah


tumbuh bersama, dan terlambat bagiku mengetahui kenyataannya, yang kutahu, kita


saudara, aku adikmu dan kamu kakakku yang terbaik.”


“Jika ada kakak apakah tidak butuh Diaz? Bisakah kita hidup


bersama tanpa dia?”


Queen segera melepaskan pelukannya, ia menjawab pertanyaan


konyol kakaknya sambil dengan sedikit tertawa. “Kau ini aneh. Kau tidak bisa


dibandingkan dengan apapun, seperti halnya aku dan kak kak Nayla.”


“Kenapa bawa-bwa dia?”


“Ya anggap saja kita saudara kandung saja, oke. Seandainya


ada bentrok mantara aku dan istrimu, bisakah kau memilih salah satu untuk kau


bela? Jika kau membelaku kau kehilangan belahan jiwamu, jelas istrimu memilih


pergi. Jika kau membela istrimu, tidakkah dalam saudara tidak mengenal talak?


Gak ada istilah mantan saudara, mantan adik dan apapun. Yang ada mantan istri,


suami dan pacar. Tapi, beneran aku takut jika nanti polisi menahanmu kak.”


“Percayalah itu tidak akan terjadi.” Al mengelus belakang


kepala dan mengecup kening Queen.


“Maaf, Den ada polisi yang mencari Den Al,” ucap bik Yul


dari depan pintu kamar Queen yang sedikit terbuka.


“Baik, bi… Sebentar lagi saya akan turun setelah ini.”


“Tuh, kan Kak… Gimana dong?” ucap Queen mulai  panik dan takut.


“Tidak apa-apa, jangan takut, ya selama kita tidak bersalah,


kenapa harus takut? Iya, kan?”


“Tapi kamu membunuh, Kak, Bagaimana… “


Queen langsung diam tidak banyak bicara lagi, saat dengan


gentle Al mengecub bibir itu. Ia diam dan terpaku memandang pria di depannya


dengan tatapan yang susah di jelakan. Sementara Al ia balik menatap mata wanita

__ADS_1


di depannya sambil tersenyum.


“Baiklah, kau diam di sini saja, istirahatlah, jangan lupa


minum obat jika sampai malam kakak belum juga kembali, Ok.”


Al pun keluar kamar Queen dan meninggalkan adiknya di dalam


kamar sendirian dengan gentle tanpa menujukan kesombongannya Al pun menemui dua


orang polisi yang tengah membawa surat penangkapan untuk dirinya, sedangkan di


bawah sana sudah ada kakek Andrean, Bilqis, Nayla dan juga bik Yul yang


menangis karena merasa sedih.


“Anda mencari saya pak?” tanya Al lirih saat pria itu sudah


tiba di ruang tamu.


“Anda yang bernama saudara Al Fatih? Kami dari kepolisan


sudah mendapatkan izin untuk menagkap anda atas kasus pembunuhan terhadap


saudara Aditya.’ Ucap seorang polissi sambil menujukan surat bukti.


Al mengangguk pelan dan berkata lirih, “Iya, Pak.” Seraya


mengulurkan kedua tangannya bersiap untuk di borgol.


Sedangkan dari atas, Queen melihat sang kakak sambil tak


henti-hentinya menangis.


Queen sadar, ia tidak bisa menghentikan para polisi itu,


kalaupun dimintai jadi saksi, dia juga melihatnya sendiri kalau kakanya


menembak kepala Aditya. Entah tadi saking panik atau sedihnya dia,


sampai-sampai ia tak dapat berfikir jernih. Tapi, setidaknya ia juga tahu kalau


kakaknya hanya melindungi dir. ‘Benar, kak Al tidak salah polisi tidak bisa


menahannya.’


Dengan cepat Queen berlari mengejar polisi itu sebelun


mereka meninggalkan tempat itu.


“Tunggu dulu, Pak, kau tidak bisa membawa kakakku, dia tidak


bersalah, dia tidak sengaja melakukan pembunuhan, itu terjadi karena reflek,


korban menyerang kita lebih dulu.”


“Maaf, anda siapa?”


“Saya korban yang disekap Aditya, dan kakak saya datang untuk


menyelamatkan saya.”


Terlihat dua orang polisi itu saling berbisik dan


menganggukkan kepala. Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Mungkin anda bisa


dijadikan saksi untuk dimintai keterangan, Namun apakah ada bukti yang bisa


memperkuat jika saudara Al tidak bersalah?’’


“Beri saya waktu dua atau tiga hari. Saya akan datang


dengan bukti-bukti,” ucap Queen dengan yakin dan percaya diri. Ia tidak hanya


sekedar mengandalkan kekayaan keluarganya yang akan dapat membayar pengacara


terbaik atas kasus ini. Tapi, ia ingat Diaz juga bisa dijadikan saksi. Terlebih


Aditya adalah orang yang terkenal sangat teliti, ia memiliki cctv di setiap


sudut rumahnya. Tapi, satu hal yang membuat Queen berfikir, siapa orang yang


telah melaporkan hal inimkepada poliisi? Keluarga Aditya kah?


Dengan langkah gontai Queen pun kembali masuk ke dalam


rumah. Di benaknya ia masih teringat bagaimana tatapan Al yang Nampak menaruh


harapan penuh terhadap dirniya. Ia sekali lagi menoleh ke halaman sebelum


akirnya masuk ke dalam ruamah. Ia sadar kalau halaman itu sudah kosong. Al


sudah pergi bersama mobil polisi tadi. Ia masuk ke dalam rumah sambil mengusap


air matanya. Di sana ia langsung bersujud menangis di pangkuan kakeknya ia


mengadukan semua yang jadi ketakutan dan penyesalannya.


“Quuen, jika kau memang tidak ingin mas Al masuk penjara,


kenapa kau tidak bilang saja pada polisi jika kau saja yang membunuhnya? Dengan


begitu mas Al akan aman.”


“Aku diajarkan untuk tidak perlu melakukan hal bodoh seperti


itu, membuat pengakuan palsu untuk menolong seseorang apalagi mencari


keuntungan sendiri,” jawab Queen. Ia merasa memiliki kekuatan saat tengah


bersama kakeknya. Sebab, sekalem apapun kakaknya yang ini, ia selalu


mengajarkan untuk jadi pribadi yang kuat dan tidak lemah. Harus seperti mama Clara. Hal


itu yang selalu Queen ingat sampai sekarang.


“Kau hanya cari alasan saja Queen,” jawab Nayla sambil


mengusap air matanya.


Andrean yang sudah muak dan menilai tangisan Nayla hanyalah


takut akan posisinya jika Al tidak lagi di sini pun ikut angkat bicara. “Nay,


kau harusnya sadar, jika kau tidak ikut campur urusan Al, dan tidak dengan


diam-diam meminta orang suruhan Al berhenti untuk mengawasi dan mengikuti Queen


di manapun ia berada, hal ini tidak akan terjadi. Tidak ada gunanaya juga saling


menyalahkan, sekarang pikirkan solusinya agar Al bisa kembali dan tidak


terbukti salah.”


“Nayla pun langsung diam serinbu Bahasa dengan jawaban kakek


mertuanya yang bagaikan tamparan keras di wajahnya.


“Queen, kau istirahatlah dulu, pikirkan apa yang ingin kau


lakukan setelahnya,” ucap Andrean sambil menepuk pundak cucunya.


Dengan patuh Queen pun naik ke atas, ia sadar kalau ia


terasa sangat Lelah, bagaimana pun ia memang perlu istirahat agar dapat


berfikir dengan jernih.


Baru saja Qeen masuk ke dalam kamarnya, Nayla ikut masuk ke dalam kamar tanpa permisi dan langsung begitu saja menarik pundak Queen dari belakan hingga wanita itu menghadap ke arahnya dan menamparnya dengan keras.

__ADS_1


"Kak, kenapa kau tiba-tiba menamparku? Kau sadar apa yang kau lakukan tidak? tanya Queen sambil terbelalak kaget. Selama ini Al saja tidak pernah berkata kasar atau membentak dirinya dalam keadaan apapun, tapi ini berani sekali istri dari kakaknya menamparnya tanpa alasan.


__ADS_2