
Queen masih merangkul ke tubuh Al sampai helicopter yang
akan mengevakuai mereka dan mayat Aditya datang.
“Coba periksa dia, apakah masih hidup?” tanya Al pada anak
buahnya yang baru saja turun ke dasar jurang.
“Tidak mungkin hidup, Bos. Peluru tepat mengenai kepalanya,”
jawab pria itu.
“Oh, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, aku tidak
melihatnya, aku hanya reflek melindungi diri dan adikku saja dari tikamannya."
“ya sudah, biar ini kami yang urus, Bos. Kalian ke rumah
sakit saja dulu. Sebentar lagi akan ada satu helicopter lagi kemari.”
Al hanya menjawab dengan anggukan saja pada anak buahnya.
“Kamu bisa duduk tidak?” tanya Al dengan lembut, kini dia
sudah duduk di sebelah Queen yang masih terbaring sambil menutup wajahnya
dengan kedua tangannya. Ia tak ada keberanian melihat ke arah Aditya saat
mendengar salah satu orangnya Al berkata jika tembakan kakaknya tepat mengenai kepalanya.
“Bisa, tapi aku takut, kak,” jawab Queen. Masih dengan posisi yang sama.
“Takut apa? Ayo kakak bantu kamu!” Al pun menguatkan diri
menggendong Queen yang banyak terdapat luka di tubuhnya yang juga bisa di kata
cukup parah. Karena selain jurangnya dalam, seperti yang di katakana anak
buahnya Al tadi, di sana banyak ranting-ranting dari tanaman berduri dan tak sedikit
pula batuan cadas dan runcing.
“Jangan menggendongku, aku malu!”
“Malu sama siapa? Tidak apa-apa, ayo cepat biar lukanya cepat diatasi.”
“Kak, kita langsung ke rumah saja, minta kakek manggil
dokter, aku tidak mau masuk rumah sakit manapun,” ucap Queen manja dan sedikit merengek.
Al menatap adiknya cukup lama sambil tersenyum tipis.
“Memangnya kenapa?”
“Aku malu lah, seorang dokter masa dirawat di rumah sakit.
Terlebih di tempat aku bekerja.”
“Kenapa malu? Diaz aja tidak.”
“Oh, iya, Kak. Bagaimana keadaan dia sekarang? Dia sudah
sadar belum? Baiklah tidak apa-apa ke rumah sakit juga, aku mau dirawat satu
ruangan sama dia,” ucap Queen mulai panik dan tak bisa tenang.
Al dalam hati meruntuk dan menyesali perkataannya, ‘Sial,
kenapa aku harus bahas bocah itu? Mungkin kalau akan lebi baik jika Queen tadi
lupa ingatan saja. Itu akan sangat bagus untuknya.’
“Baik terserah kamu saja,” jawab Al dengan raut wajah yang
tidak senang.
“Kakak emang yang gterbaik,” ucap Queen sambil memeluk dan
mencium pipi Al.
Tanpa sadar Al memberi isyarat mata pada orang yang mengemudikan helikopternya.
“Di rujuk ke rumah sakit mana, Diaz kemarin?”
“Kemarin langsung di rujuk ke rumah sakit Medika sehat.
Tapi, karena kondisi dr,Diaz sudah membaik, ia sudah pulang ke Bandung, bersama
ibu dan adik perempuannya, Bos.’’
“Oh, sudah pulang, ya? Diaz sudah ada di rumahnya, kamu mau dirawat di rumahnya juga?’’ goda Al sambil terkekeh.
“Ya sudah, cepat minta kakek panggil dokter saja,” ucap
Queen sambil melihat pemandangan di bawah sana.
🍀🍀🍀🍀
Walau pun terdapat banyak luka di tubuh Queen, tapi tidak separah
luka tusukan yang ada di punggung Al.
Queen bahkan masih bisa menemani sang kakak yang tengaah mendapat
pelayanan medis. Lukanya cukup dalam dan lebar, sehingga banyak mendapatkan
jahitan. Al yang memang dasarnya cerdik dan pandai memanfaatkan apapun, ia
berlagak kesakitan yang luar biasa, berteriak-teriak saja terus dan baru diam
saat ia telungkup di pangkuan Queen.
“Tenang dulu, ya? Dokter masih menjahit luka kakak, jangan
banyak bergerak,” ucapnya lirih sambil mengelus lembut belakang kepalanya Al.
Sedangkan Adrean yang melihat mereka dari luar hanya
tersenyum saja sambil geleng-gelleng kepala dan membatin, ‘Clara, Vano.
Lihatlah mereka, fotokopi kalian, begitu nyata membuatku mengingatkan bagaimana
kisah cinta kalian dulu. Namun cinta kalian tidaklah serumit mereka, ini yang
satu sudah ada rasa cinta terhadap adiknya tapi masih menganggap kasih sayang
kakak terhadap adik. Sementara adiknya masih mencintai pria lain. Kalian akan
sadar kapan? Sekarang, bantu keduanya memahami, bantu papa atur Diaz dengan
Hanifah? Atau nanti nerima jadi saja?’
“Kakek, apakah ,mas Al baik-baik saja?” tanya Nayla yang
baru saja tiba mengantar Bilqis.
“Seprtinya tidak, mereka di dalam sedang mendapat
perawatan.” Andrean pun pergi meninggalkan Nayla, ia berpesan pada bik Yul agar
segera menyiapkan makanan untuk kedua cucunya, sebab dari kemarin jelas mereka
belum ada yang makan apapun.
Di dalam kamarnya Andrean mengambil foto mendiang sang
istri. Beberapa kali pria itu mengelus gambar pada foto itu dan tersenyum di
bibirnya, namun mengalir buliran bening di kedua matanya.
__ADS_1
“Sayang, seandainya saja kau dan kakak masih hidup dan ada
di antara kita di sini, lihatlah anak yang dibesarkan oleh putra putri kita,
sepertinya dialah jodoh untuk cucu kita. Hanya saja urusannya sangat rumit,
perlu bantuanku, jika dulu kita susah payah memisahkan Clara dan Vano, sekarang malah kebalikannya.
Aku harus berjuang keras menyatukan Al dan Queen.”
Sedangkan di kamar tamu, Al sudah selesai dengan lukanya,
dokter pun juga berpesan agar lukanya tidak terkana air dulu.
Al melirik Nayla yang memasang wajah khawaitir terhadapnya,
namun sedikitpun tak peduli dengan kondisi Queen.
“Kamu dengar? Aku gak boleh kena air dulu lukanya, gimana
dong caranya mandi?” tanya Al saat mereka sudah duduk di depan meja makan.
“Ya, kalau mau mandi, mandi saja, Kak. Nyiramnya jangan
sampai pundak, kenakan bawahnya yang
terluka, kak,” jawab Queen enteng.
“Ya mana bisa, Sayang? Ini kan dibelakang, mana bisa lihat
aku?” ucap Al tanpa memperdulikan Nayla.
“Gampang, minta tlong kak Nay saja yang mandiin kaka, beres,
kan?” Rupanya perut yang sudah kelaparn itu mampu membuat Queen melupakan
segalanya. Apapun yang dibicarakan Al sedikitpun ia tidak menggubrisnya.
Terlebih bik Yul menyiapkan menu makanan dari ikan gabus untuk mereka. Selain
Queen sendiri suka dengan ikan jenis ini, Andrean sengaja meminta bik Yul
membeli dan langsung memasaknya karena ikan ini bagus untuk proses penyembuhan
luka agar cepat kering dan sembuh.
Stelah usai makan, barulah wanita itu teringat dengan
Aditya, ia merasa takut jika saja kakaknya dipenjara karena bagaimana pun Al lah
yang membunuh Aditya pada saat itu. Tak mau menunjukan kesedihannya di depan Al.
Queen pun segera bergegas naik ke
kamarnya.
Diam-diam Queen menangis seorang sendiri di depan jendela, Ia
tak lagi ingat dengan kekawatirannya kepada Diaz selain kakaknya. Memang, Diaz
juga berkorban banyak demi dirinya, tapi Al…
“Kamu mau ke kamar, Mas? Aku bantu,” tawar Nayla.
“Tidak usah, aku masih bisa berjalan sendiri, kamu bantu bibik
saja bereskan meja,” ujar Al lalu segera bergegas menyusul Queen di lantai atas.
Dari ambang pintu kamar adiknya ia melihat kalau Queen
berdiri membelakangi pintu, pundaknya berguncang, sedangkan tangannya
sesekali mengusap air matanya yang
mungkin tengah mengalir deras.
Perlahan Al melangkah mendekati adiknya dan menyentuh
Queen langsung berbalik arah menghadap Al dan memeluk tubuh
pria itu dengan erat, serta menumpahkan semua air matanya dalam pelukan
kakaknya.
“Aku takut, Kak. Aku taku kau dipenjara, lalu aku di sini
sama siapa?” ucap Queen sambil terisak.
“Memang kenapa? Kan masih ada kakek, Hanifah dan juga Diaz,
Sayang jika kakak dipenjara nanti,” jawab Al sambil membalas pelukan adiknya.
“Tapi, kakakku kan kamu, bukan mereka.”
“Apakah kakak lebih penting dari mereka? Diaz misalnya.”
“Ya, sekalipun kau bukan kakak kandungku. Tapi kita sudah
tumbuh bersama, dan terlambat bagiku mengetahui kenyataannya, yang kutahu, kita
saudara, aku adikmu dan kamu kakakku yang terbaik.”
“Jika ada kakak apakah tidak butuh Diaz? Bisakah kita hidup
bersama tanpa dia?”
Queen segera melepaskan pelukannya, ia menjawab pertanyaan
konyol kakaknya sambil dengan sedikit tertawa. “Kau ini aneh. Kau tidak bisa
dibandingkan dengan apapun, seperti halnya aku dan kak kak Nayla.”
“Kenapa bawa-bwa dia?”
“Ya anggap saja kita saudara kandung saja, oke. Seandainya
ada bentrok mantara aku dan istrimu, bisakah kau memilih salah satu untuk kau
bela? Jika kau membelaku kau kehilangan belahan jiwamu, jelas istrimu memilih
pergi. Jika kau membela istrimu, tidakkah dalam saudara tidak mengenal talak?
Gak ada istilah mantan saudara, mantan adik dan apapun. Yang ada mantan istri,
suami dan pacar. Tapi, beneran aku takut jika nanti polisi menahanmu kak.”
“Percayalah itu tidak akan terjadi.” Al mengelus belakang
kepala dan mengecup kening Queen.
“Maaf, Den ada polisi yang mencari Den Al,” ucap bik Yul
dari depan pintu kamar Queen yang sedikit terbuka.
“Baik, bi… Sebentar lagi saya akan turun setelah ini.”
“Tuh, kan Kak… Gimana dong?” ucap Queen mulai panik dan takut.
“Tidak apa-apa, jangan takut, ya selama kita tidak bersalah,
kenapa harus takut? Iya, kan?”
“Tapi kamu membunuh, Kak, Bagaimana… “
Queen langsung diam tidak banyak bicara lagi, saat dengan
gentle Al mengecub bibir itu. Ia diam dan terpaku memandang pria di depannya
dengan tatapan yang susah di jelakan. Sementara Al ia balik menatap mata wanita
__ADS_1
di depannya sambil tersenyum.
“Baiklah, kau diam di sini saja, istirahatlah, jangan lupa
minum obat jika sampai malam kakak belum juga kembali, Ok.”
Al pun keluar kamar Queen dan meninggalkan adiknya di dalam
kamar sendirian dengan gentle tanpa menujukan kesombongannya Al pun menemui dua
orang polisi yang tengah membawa surat penangkapan untuk dirinya, sedangkan di
bawah sana sudah ada kakek Andrean, Bilqis, Nayla dan juga bik Yul yang
menangis karena merasa sedih.
“Anda mencari saya pak?” tanya Al lirih saat pria itu sudah
tiba di ruang tamu.
“Anda yang bernama saudara Al Fatih? Kami dari kepolisan
sudah mendapatkan izin untuk menagkap anda atas kasus pembunuhan terhadap
saudara Aditya.’ Ucap seorang polissi sambil menujukan surat bukti.
Al mengangguk pelan dan berkata lirih, “Iya, Pak.” Seraya
mengulurkan kedua tangannya bersiap untuk di borgol.
Sedangkan dari atas, Queen melihat sang kakak sambil tak
henti-hentinya menangis.
Queen sadar, ia tidak bisa menghentikan para polisi itu,
kalaupun dimintai jadi saksi, dia juga melihatnya sendiri kalau kakanya
menembak kepala Aditya. Entah tadi saking panik atau sedihnya dia,
sampai-sampai ia tak dapat berfikir jernih. Tapi, setidaknya ia juga tahu kalau
kakaknya hanya melindungi dir. ‘Benar, kak Al tidak salah polisi tidak bisa
menahannya.’
Dengan cepat Queen berlari mengejar polisi itu sebelun
mereka meninggalkan tempat itu.
“Tunggu dulu, Pak, kau tidak bisa membawa kakakku, dia tidak
bersalah, dia tidak sengaja melakukan pembunuhan, itu terjadi karena reflek,
korban menyerang kita lebih dulu.”
“Maaf, anda siapa?”
“Saya korban yang disekap Aditya, dan kakak saya datang untuk
menyelamatkan saya.”
Terlihat dua orang polisi itu saling berbisik dan
menganggukkan kepala. Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Mungkin anda bisa
dijadikan saksi untuk dimintai keterangan, Namun apakah ada bukti yang bisa
memperkuat jika saudara Al tidak bersalah?’’
“Beri saya waktu dua atau tiga hari. Saya akan datang
dengan bukti-bukti,” ucap Queen dengan yakin dan percaya diri. Ia tidak hanya
sekedar mengandalkan kekayaan keluarganya yang akan dapat membayar pengacara
terbaik atas kasus ini. Tapi, ia ingat Diaz juga bisa dijadikan saksi. Terlebih
Aditya adalah orang yang terkenal sangat teliti, ia memiliki cctv di setiap
sudut rumahnya. Tapi, satu hal yang membuat Queen berfikir, siapa orang yang
telah melaporkan hal inimkepada poliisi? Keluarga Aditya kah?
Dengan langkah gontai Queen pun kembali masuk ke dalam
rumah. Di benaknya ia masih teringat bagaimana tatapan Al yang Nampak menaruh
harapan penuh terhadap dirniya. Ia sekali lagi menoleh ke halaman sebelum
akirnya masuk ke dalam ruamah. Ia sadar kalau halaman itu sudah kosong. Al
sudah pergi bersama mobil polisi tadi. Ia masuk ke dalam rumah sambil mengusap
air matanya. Di sana ia langsung bersujud menangis di pangkuan kakeknya ia
mengadukan semua yang jadi ketakutan dan penyesalannya.
“Quuen, jika kau memang tidak ingin mas Al masuk penjara,
kenapa kau tidak bilang saja pada polisi jika kau saja yang membunuhnya? Dengan
begitu mas Al akan aman.”
“Aku diajarkan untuk tidak perlu melakukan hal bodoh seperti
itu, membuat pengakuan palsu untuk menolong seseorang apalagi mencari
keuntungan sendiri,” jawab Queen. Ia merasa memiliki kekuatan saat tengah
bersama kakeknya. Sebab, sekalem apapun kakaknya yang ini, ia selalu
mengajarkan untuk jadi pribadi yang kuat dan tidak lemah. Harus seperti mama Clara. Hal
itu yang selalu Queen ingat sampai sekarang.
“Kau hanya cari alasan saja Queen,” jawab Nayla sambil
mengusap air matanya.
Andrean yang sudah muak dan menilai tangisan Nayla hanyalah
takut akan posisinya jika Al tidak lagi di sini pun ikut angkat bicara. “Nay,
kau harusnya sadar, jika kau tidak ikut campur urusan Al, dan tidak dengan
diam-diam meminta orang suruhan Al berhenti untuk mengawasi dan mengikuti Queen
di manapun ia berada, hal ini tidak akan terjadi. Tidak ada gunanaya juga saling
menyalahkan, sekarang pikirkan solusinya agar Al bisa kembali dan tidak
terbukti salah.”
“Nayla pun langsung diam serinbu Bahasa dengan jawaban kakek
mertuanya yang bagaikan tamparan keras di wajahnya.
“Queen, kau istirahatlah dulu, pikirkan apa yang ingin kau
lakukan setelahnya,” ucap Andrean sambil menepuk pundak cucunya.
Dengan patuh Queen pun naik ke atas, ia sadar kalau ia
terasa sangat Lelah, bagaimana pun ia memang perlu istirahat agar dapat
berfikir dengan jernih.
Baru saja Qeen masuk ke dalam kamarnya, Nayla ikut masuk ke dalam kamar tanpa permisi dan langsung begitu saja menarik pundak Queen dari belakan hingga wanita itu menghadap ke arahnya dan menamparnya dengan keras.
__ADS_1
"Kak, kenapa kau tiba-tiba menamparku? Kau sadar apa yang kau lakukan tidak? tanya Queen sambil terbelalak kaget. Selama ini Al saja tidak pernah berkata kasar atau membentak dirinya dalam keadaan apapun, tapi ini berani sekali istri dari kakaknya menamparnya tanpa alasan.