
“Kau melupakanku, Queen? Aku adalah salah satu korban dari
arogan dan kegilaan kakakmu. Aku tidak menyangka, keluarga baik-baik seperti kedua orang tuamu bisa memlihara seorang psikopath dan memberinya hak yang
setara sepertimu,” ucap wanita itu sambil tertawa sinis.
“Bunga! Kau bahkan bisa bicara lancar. Lalu, kenapa selama
ini kau selalu diam?” tanya salah satu dokter yang kebetulan berada bersama dengan beberapa perawat di bangsal yang Queen kunjungi.
Queen kian bingung. Kembali ia mengingat-ingat nama bunga.
Sepertinya dia tidak memiliki teman degan nama bunga. Mawar dan Melati saja juga tidak ada. Apalagi lebah dan kumbang. Yang ada Vico. Istrinya shinta, dia adalah ulat bulu bagi suaminya.
“Bunga? Bunga siapa, ya?” tanya Queen lagi. Pikiran di
otaknya sudah benar-benar mentok. Dia tak bisa mengingat siapapun selain beberapa teman terdekatnya.
“Bunga? Sampai mati kau tak bisa mengingatku. Itu hanya nama yang mereka berikan padaku saja karena
aku ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.”
“Baik, kau mengenalku dan juga keluargaku. Siapa kau
sebenarnya. Dan apa yang kakakku lakukan padamu?”
Wanita itu melihat keadaan sekitar, dan menarik dengan
lembut lengan Queen dan membawanya duduk di bawah pohon akasia yang tumbuh di
halaman denpan bangsal tersebut.
“Kau ingat dengan pembantu yang pernah dipecat oleh kakekmu
Andreas? Pembantu itu pernah mencintai orang yang salah. Ya itu kakakmu.”
“Lily. Kau Lily? Ya ampun aku baru ingat? Kau apa kabar, Ly? Dan bagaimana kau bisa bekerja di sini?”
Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada, dan tertawa sinis. Lebih tepatnya menyeringai sambil membuang pandannya ke samping.
“Jika kau tanya bagaimana kabarku saat ini. Ya seperti yang
kau lihat. Tapi, jika tujuh tahun silam, sama sekali tidak.”
“Maksutmu, apa? Bisa gak bicara jangan ambigu gitu?” Queen kembali mengerntitkan dahinya.
“Ya, Queen, aku diberi nama bunga oleh pihak rumah sakit ini
karena aku ditemukan dalam kondisi gila, pakaian compang-camping tak karuan. Karena, aku jadi bahan mainan oleh
lelaki ******** itu! kakak angkatmu ********!” cetus Lyli. Benar-benar marah.
“Apa yang sudah Al lakukan padamu? Kenapa kau sebut dia
sebagai ********? Sepertinya setelah kau tidak bekerja lagi di tempat
keluargaku, kita juga sudah tak ada masalah lagi. Dan kau juga tahu kalau Al menikah dengan Nayla kala itu.”
“Al menyinmpan dendam padaku."
"Dendam? Dendam apa? Kurasa kau masih belum waras. Kau ini masih gila Lyli!"
"Hehm. Kakakmu yang tidak waras. Sudah jelas dia menikah dengan Nayla tapi, masih tidak terima aku menjalin hubungan dengan pria lain. Kau tahu, dia datang ke rumahku
menyandra ibu, ayah dan juga Akbar kakakku. Kami dibawa ke sebuah tempat pembataian, disiksa dan dicambuk olehnya dan juga beberapa anak buahnya. Di depan mataku, dia menyiksa seluruh keluargaku dan membunuhnya setlah beberapa bulan mengurung kami. Aku stress, gila dan benar-benar shok melihat bagaimana
mereka dikuliti dan dibunuh secara sadis di depan mata kepalaku sendiri. Dan aku… kau tahu, apa yang Al lakukan padaku?"
Queen benar-benar shoc mendengar penjelasan itu. Apakah diam-diam Al masih menyukai Lyli? Apakah dia sulit melepaskan wanita yang pernah bertahta di hatinya? Lalu, bagaimana dengan Nayla? Apakah dia diam-diam juga menemui Nayla dan masih melakukan hubungan layaknya suami istri? Rupanya ucapan Lyli sukses meracuni pikiran Queen.
"Setelah keluargaku habis, dia memperkosaku. Merenggut keperawanan ku hingga berbulan-bulan aku dijadikan budak sex olehnya. Mungkin, tanpa kutahu dia juga sudah membunuh kekasihku. Setelah dia puas dan bosan, dia melemparkan ku pada anak buahnya. Apakah seperti itu tindakan seorang manusia? Apalagi dia hidup di dalam keluarga terhormat dan berpendidikan. Bahkan, setelah aku gila dan tak menarik lagi, dg teganya dia membuangku. Tak di sangka, kita berjumpa lagi, Queen.
“Kau bohong! Kau mengarang cerita saja Lyli!” cetus Queen.
Ia benar-benar shock dengan apa yang Lyli katakana.
“Jika kau tidak percaya. Temui kakak kesayanganmu itu. Dan
tanyakan padanya. Apa yang sudah dia lakukan pada Lyli dan juga keluarganya, cepat! Selama ini aku terlalu trauma dan belum bisa berdamai dengan masa
laluku, sehingga untuk bicara saja susah. Jadi, aku terima meskipun aku danggap
bisu. Namun, tak kusangka, setelah melihatmu, aku bisa berbicara selancar ini.”
Queen sudah tak dapat lagi mendengar celotehan dari Lyli.
Bahkan pandangannya pun mulai kabur, ia juga merasa mual, peredaran darahnya seketika berhenti, dadanya juga sesak. Kian lama, ia pun ambruk dan tak sadarkan diri.
“Tolong! Ada yang pingsan!” teriak Lily. Semua perawat yang
ada pun langsung bergegas menghampiri mereka dan menggotong tubuh Queen
membawanya ke ruang perawatan.
Sementara Lyli hanya diam dan tersenyum sinis dan bergumam
seorang diri, “Coba, biar kulihat apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana
reaksi keluarga itu setelah tahu kalau anak yang dipelihara seorang psychopath.
Aku berani jamin, setelah ini giliran kau yang jadi pasien di sini, Queen. Kau mengagumi Al sebagai sosok yang baik dan terpelajar seperti papamu, bukan?”
Mendengar sahabatnya tiba-tiba jatuh pingsan, Gea langsung
berlari menuju tempat di mana Queen di rawat. Di sana beberapa perawat sudah
berusaha melakukan pertolongan pertama agar Queen sadar.
“Alkohol, mana alkohol? Taruh pada kapas dan letakkan di
depan hidungnya agar dia segera bangun,” ucap Gea panik. Bagaimana tidak? Sebelumnya Queen terlihat baik-baik saja. Mengapa mendadak bisa pingsan? Ia cuma berharap, semoga tidak ada konspirasi di balik semua ini.
“Tenang. Dia pasti baik-baik saja,” ucap salah satu dokter
menenangkan Gea.
“Kenapa dia tiba-tiba bisa jatuh pingsan seperti ini? Apa
yang terjadi?” tanya Gea.
Perlahan Queen mulai sadar. Ia berusaha mengolah pikirannya
agar tenang dan berfikir, apa yang harus ia lakukan. Sementara di sebelahanya, ada Gea dan seorang dokter yang terlihat berdebat.
“Ge, tolong telfon Al. minta dia segera ke sini,” ucap Queen
perlahan sambil memegangi kepalanya.
“Queen, kau sudah sadar?” Dengan segera Gea langsung
mendekati hospitalbad tempat sahabatnya berbaring.
“Ya, aku tidak apa-apa. Aku mau bertemu dengan Al. ada hal
yang harus aku bicarakan.”
Melihat Queen seperti emosional, Gea dengan segra menelfon Al.
Begitu Gea sudah menelfon Al, barulah Gea kembali mendekati
Queen. “Dia masih ada hal yang dikerjakan. Setelahnya ia akan ke sini,” ucap Gea lirih.
“Baiklah. Aku akan kembali bekerja.” Dengan tatapan kosong
nampun penuh emisional, Queen turun dari tempatnya dan kembali menuju Bangsal.
Meski dalam kondisi kacau, setidaknya ia masih bisa bersikap professional dan
masih bisa melakukan tugasnya denga sangat maximal.
Setlah jam kerja berakhir, Al bahkan belum juga muncul.
Karena ini hari terakhir mereka melakukan kunjungan, Sekalian Queen juga ikut acara perpisahan.
Queen menunggu Al di depan café yang letaknya tidak jauh
dari rumah sakit jiwa tersebut. Sementara Gea dan rombongan lain sudah pergi meninggalkan rsj tersebut.
Sudah lewat setengah jam Queen menunggu suaminya. Tapi, pria
itu tak juga segera muncul.
“Ck. Kemana sih, dia? Apa yang di urus coba?” runtuknya
seorang diri. saking kalutnya pikirannya, ia bahkan sampai tidak sadar kalau ada
sepasang mata yang terus mengawasinya sejak ia keluar dari area rumah sakit.
Saat Queen sudah mulai jenuh, dan ia memutuskan untuk
memilih naik taksi saja, Al muncul.
“Sayang. Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Tak peduli
kalau ini adalah tempat umum, Al langsung memberi pelukan ringan dan mencium kening Queen dan kembali mengajaknya duduk.
Wanita itu masih diam dan enggan memandang ke arah suaminya
sedikitpun.
Sedangkan di kursi lain, yang letaknya tidak jauh dari
tempat mereka seorang wanita yang mengenakan hodie dan menutup wajahnya dengan
__ADS_1
masker memperhatikan gerak gerik mereka berdua dengan tatapan mata yang penuh
kebencian.
“Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa pelukan dan
ciuman itu sangat berbeda dengan tujuh tahun silam. Kenapa mesra sekali? Apakah mereka diam-diam berselingkuh dari pasangan masing-masing?” tanya Lyli seorang
diri.
“Sayang, kau kenapa, sih? Kamu sakit?” tanya Al dengan
tatapan mata yang lembut, dan penuh kasih sayang.
Karena Queen hanya diam dan tak mau bicara, pria itu
memegang dagu wanitanya dan mengarahkan padanya agar pandangan mereka dapat
bertemu satu sama lain.
“Ck! Kamu apaan, sih? Jangan gitu!” Queen menampik tangan Al
dan kembali memalingkan muka.
“Mungkin kau lelah. ya sudah, kalau gitu kita kembali ke hotel saja, ya?”
Mendengar kalimat Al, Lyli terkejut. Bahkan ia sampai ternganga, "Apa, hotel? Mereka berdua menginap di hotel? Oh, jadi ini alasan dia kenapa tidak mau tinggal di RSJ bersama yang lain? Dia menginap di hotel dengan kakak angkatnya sendiri?
Tanpa menjawab, Queen langsung beranjak dan meninggalkan
tempat itu. dengan cepat Al memanggil pelayan dan meninggalkan yang lima puluh
ribuan untuk membayar minuman Queen. Jelas, itu tidak kurang. Bahkan masih ada kembaliannya. Tapi, pria itu tidak peduli. Dia hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan istrinya. Kenapa mendadak berubah begitu.
Al berlari mengimbangi Langkah Queen dan memeluk pinggangnya
berjalan menuju mobil. Hal itu membuat Lyli yang menyamar untuk mencari tahu apa yang akan terjadi dari pasangan yang dulu adalah kakak beradik angkat, membuatnya kesal.
"Kenapa semua harus dimiliki wanita terkutuk itu? Bahkan Al sendiri berselingkuh dari Nayla ke dia, kenapa tidak dengan wanita lain saja?"
Dengan cepat Lyli mengikuti mengikuti laju mobil yang dikendarai Al dan Queen dengan naik motor. Kebetulan ada beberapa ojol yang mangkal di dekat situ menunggu orderan. Untuk membuka aplikasi rasanya dia juga tidak akan sempat.
"Mas, ikuti mobil itu, tenang saja. Akan saya bayar lebih nanti."
Selama di mobil Queen masih saja diam meskipun Al sudah
berusaha keras mengajaknya ngobrol. Tiba di hotel Queen langsung mandi dan mengenakan handuk berbentuk kimono. Rambutnya basahnya dibiarkan tergerai begitu saja, dan ujungnya masih meneteskan air sisa dari keramasnya.
“Kamu kenapa sih, sayang?” tanya Al lagi. Ia sudah membawa
handuk yang akan ia pakai untuk mandi, digunakannya untuk mengerungkan rambut
basah istrinya.
“Kamu mandi saja sana. Ada yang mau aku bicarakan sama
kamu,” ucap Queen datar sambil menampik lagi kedua tangan Al.
“Baiklah!” Al tersenyum tipis. Lalu, dia membungkukkan badannya hendak
mencium Queen. Tapi, dengan cepat wanita itu menghindar. Al kembali tertawa canggung. Ia berfikir istrinya tidak mau dicium karena dirinya belum mandi, dan memang kusam sih setelah aktifitas di luar seharian. Apalagi ada pertemuan mendadak dengan salah satu koleganya.
Usai mandi, Al mendapati Queen sudah berganti pakaian rapi.
Wanita itu mengenakan setelan celana jeans panjang dan atasan rajut lengan
panjang. Wajahnya polos tanpa polesan mekap sedikitpun. Bahkan rambutnyan juga masih tergerai tak disisir seperti saat ia hendak masuk ke dalam kamar mandi tadi.
Tak mau memancing amarah istrinya, Al juga langsung mengambil celana pendek dan atasan kaus polos berwarna putih. Lalau mendekati Queen dan memijat pundaknya sambil membuka percakapan.
“Kamu mau bicara apa, Sayang? Apakah perlu di luar saja
sambil makan malam?”
“Aku tidak lapar.”
Seketika suasa pun menjadi hening. Al juga membisu. Ia
merasa heran saja dan berfikir, apakah Queen marah karena ia telat datang?
Apakah dia dongkol hatinya dan tidak terima karena dia terkesan lebih
mengutamakan koleganya daripada dia yang istrinya sendiri? Ibu dari
anak-anaknya.
Al menghela napas dan duduk di samping istrinya. Ia bersiap
mendengarkan apa yang ingin wanutanya katakana dan menjawab jika memang ada
yang akan ditanyakan.
Dengan suara bergetar, dan tak mau memandang Al Queen mulai
membuka percakapan. “Kamu jawab dengan jujur sejujur-jurnya. Selain dengan aku dan Nayla. Kau pernah dengan siapa melakukan hubungan badan?”
sekali jika tiba-tiba ia bertanya demikian.
“Kamu ngomong apa sih, Sayang? Tentu saja hanya dengan
kalian berdua saja. Dengan Nayla pun juga saat kami sudah menikah. Sebelum menikah sama sekali tidak pernah,” jawab Al mencoba menjelaskan. Ia penasaran. Kenapa tiba-tiba istrinya bisa menanyakan hal seperti ini. Apakah ini yang membuatnya diam?
“Kamu yakin? Coba kau ingat-ingat lagi. Selain aku dan kak Nay, wanita mana saja yang pernah ada di hidupmu.”
Al berdiri di deoan Queen dan memegangi kedua tangan wanita
itu dan berkata, “Memang, sebelum menikah aku pernah melakukan hubungan badan
dengan wanita. Bahkan itu yang pertama pula bagi kami. Tapi, itu bukan kemauanku, kau tahu siapa dia? Itu kau, Queen.
Dan aku juga ingat, saat aku masih berstatus sebagai suami, aku memperkosamu karena aku merasa cemburu kau mau bertunangan dengan Diaz. Tapi, selebihnya tidak ada wanita lain yang pernah aku sentuh. Ada apa? Kita bicarakan semuanya dengan baik agar ketemu titik permasalahannya.”
“Dengan Lyli, apa yang sudah kau lakukan padanya?” jawab
Queen. Seketika tangisaanya meledak.
Dia tak peduli dengan julukan Al psychopath dan apa yang
sudah dilakukan dengan keluarganya. Satu hal yang ia yakini dari pria yang kini sudah menjadi suaminya, ayah dari anak-anaknya. Al tidak akan berlaku kejam jika orang itu tdak
melakukan kesalahan yang fatal.
“Sayang. Orang pertama yang melakukan hubungan badan deganku
itu kamu. Saat itu, bukankah sudah lama sekali hubungan antara aku dan Lyli selesai? Kamu tidak percaya sama aku? Lalu, aku harus membuktikannya dengan apa agar kau percaya?”
“Tujuh tahun silam, apa yang kau lakukan terhadap Lyli dan
keluarganya? Benar tidak kau menyiksa mereka selama dua tahun, membunuh ibu, kakak dan ayahnya dengan sadis di depan matanya? Lalu, dia kau nikmati tubuhnya
bersama kawan dan anak buahmu? ******an kau, Al. bahkan sebuas-buasnya
binatang, tidak ada yang sepertimu. Kau ib*** kau ***an.” Queen menjambaki rambut dengan kedua tangannya. Ia tak mampu membayangkan bagaimana Al bercinta dengan Lyli. Meskipun, mungkin saat itu dia masih menjadi istrinya Alex. Tapi, ia sulit menerima hal itu. Dengan Nayla saja, terkadang ia masih ada rasa cemburunya.
Dengan cepat Al
langsung memeluk Queen dan berusaha menenangkannya. Di raihnya segelas air putih yang ada di atas nakas meja hotel. Queen menerimanya. Tapi, tidak untuk
dimimun. Melainkan dia malah membanting gelas itu.
“Kau pergi! Jangan dekat-dekat dan sentuh aku!” Queen
mendorong kuat tubuh Al dan melangkah mundur perlahan. Dia melihat Al seperti
sangat jijik. Ia tak bisa membayangkan seperti apa liar dan buasnya pria di depannya saat memepermainkan wanita dan menikmatinya beramai-ramai.
“Sayang. Apa yang kau ucapkan itu tidak semua benar. Ya, aku
memang membunuh keluarga Lyli di depan mata kepalanya sendiri. Tapi, aku tidak menikmati tubuh wanita itu. kau tahu dari mana? Siapa yang mengatakan ininpadamu?”
“Kau melakukan itu dengan Lyli, bukan?” tanya Queen lagi dengan mata sembab dan suara yang mulai
lirih.
“Tidak. Itu tidak benar. Kamu percaya sama aku, ya?” ucap Al
lebih pelan lagi.
“Ya. Tapi, aku masih gak mau lihat kamu di sini. Cepat
kemasi barangmu dan pergi!”
Mendengar ucapan itu, Al merasa lemas. Ia merasa usahanya
untuk meyakinkan istrinya tidak berhasil sama sekali. Tapi, mau gimana lagi? Jika tidak dituruti juga dia akan semakin mengamuk. Namun, kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Karena, nyatanya dia juga tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu dengan Lyli.
“Baiklah. Kau tetap tinggal di sini. Aku yang akan pergi!”
“Kamu mau ke mana, Sayang? Baiklah, jika kau tidak mau
melihat, ku. Aku akan pergi.”
“Jika kau mau pergi, pergi saja. Tapi, jangan ikuti aku!”
cetus Queen lalu mengemasi barangnya dan pergi meninggalkan kamar hotel
tersebut.
Al pun juga langsung mengemasi barangnya. Dia mengikuti
Queen dari belakang. Ke mana perginya dia dalam keadaan emosi seperti ini.
Kawatir hal buruk akan menimpanya, ia pun kembali mengejarnya di tengah jalan.
__ADS_1
“Queen. Ayo kita pulang bareng. Jika nanti setelahnya kamu
gak mau lihat aku, tidak apa-apa. Kamu mau kuantar ke mana? Ke rumah mama apa ke rumah saja? Aku akan tidur di kantor.”
“Aku bisa pulang sendiri. Kau jangan pedulikan aku.” Wanita
itu menarik tangannya yang digenggam oleh Al. Lalu mulai berjalan sambil menyeret kopernya.
“Queen. Ini Bandung. Kau mau ke mana? Aku adalah suamimu dan
aku bertanggung jawab atas dirimu. Aku mohon, kembali sama aku, ya?”
Al merasa kalau orang-orang yang lalu di jalan pada
memperhatikannya. Dia jadi serba salah. Ngomong lirih, Queen tidak akan dengarbkarena selain bising suara kendaraan yang lalu lalang. jaraknya antara kaduanya sekitar tiga
meteran. Lumayan jauh. Jika bicara keras, masalah mereka akan diketahui oleh publik. Tidak lucu lah. Tapi, dia tidak bisa terus-terusan begini.
Sementara Queen terus menyeret kopernya, dan mempercepat
langkahnya di trotoar.
“Sayang. Aku mengaku salah, aku khilaf. Tolong ampuni aku.
Aku sudah jujur, dan sebelumnya juga sudah aku peringatkan, bukan? Jangan suka memberikan baju bekasmu pada mbak Inem. Lebih baik, belikan saja dia yang baru.
Aku tadi mengira dia itu kamu. Makanya saat masak aku main peluk saja dari belakang!” teriak Al.
Seketika Queen menghentikan langkahnya. Ia berfikir. Mbak
inem? Siapa dia? Kenapa suaminya menjadi aneh dan mendadak gak waras begini? Ia
menoleh dengan cepat dan menatap tajam pada Al.
“Kamu bicara apa?” masih dengan tatapan tajam, Queen
memelototi suaminya.
“Aku mengatakan yang sejujurnya, Sayang. Kamu gak apa-apa
memberikan bajumu pada mbak Inem. Tapi, kalau make pas dia liburan saja. Jangan
pas dirumah biar aku gak salah peluk lagi,” ucap Al, mengulang kalimatnya.
Queen yang sebenarnya masih kesal pun jadi geli-geli takut
mendapti Al yang begini. ‘Perasaan tu gelas kubanting di atas lantai tidak di
kepalanya. Kenapa kok konslet gini, ya?’ batin Queen.
Melihat Queen berhenti, Al memanfaatkan kesempatan itu. ia
segera mendekat dan meraih tangan Queen, kembali melontarkan kalimat konyolnya.
“Aku sudah berkali-kali minta maaf padamu, Sayang. Kenapa kau
masih belum juga memaafkanku? Sebelumnya kau juga tahu, bukan? Aku memilikibmasalah dengan penglihatanku.”
Sebenarnya Queen ingin marah dan menghardik Al. tapi, ia merasa
kalau orang-orang di sekitar pada melihat ke arah mereka. Ia terpaksa harus menahannya.
“Kau ini kenapa? Apa yang kau bicarakan?” bisik Queen lirih
sambil melotot pada Al.
“Kamu mau, kan maafin aku sayang?” ucap Al lagi, lantang.
Tiba-tiba pasangan yang sudah berusia lanjut menghampiri Al
dan Queen. Wanita tua itu berkata. “Nak, kau jangan terlalu keras. Lihat,
suamimu sudah meminta maaf. Maafkanlah dia. Kami rasa, kalian ini adalah pasanganh serasai. Kau cantik, dan dia juga sangat tampan. Dia juga setia.”
Queen bengong, sampai melongo. Dia bingung apa yang harus ia
katakana pada nenek-nenek tersebut.
“Iya, dan peringatan buat kamu. Cari pembantu itu jangan
yang muda. Kalau punya pembantu muda itu. Tau sendiri, kan, sekarang ini musim pelakor.
Kalaupun memberikannya baju, suruh pakai pas dia pulang kampung saja. Benar saran suamimu, belikan saja yang baru agar tidak salah sasaran,” timpal sang kakek lagi.
Queen hanya tersenyum canggung dan mengucapkan terimakasih pada
mereka dengan harapan dua pasangan yang usianya sudah lanjut itu segera pergi, agar Queen bisa menyelesaikan masalah pribadinya. Tapi, sepertinya mereka akan
terus mengawasi Queen sampai ia mau kembali bersama Al.
“Sayang, kita pulang bersama, ya? Ini Cuma salah paham saja.
Aku janji, akan selalu memakai kacamata yang kau berikan untuk membantu penglihatanku, oke? Jangan pergi lagi, ya? Kasian anak-anak di rumah.”
Lyli yang awalnya merasa senang melihat pasangan itu bertengkar, ia merasa jengkel mendapati mereka sudah kembali akur. Dalam hati ia mengumpat, 'Sejak kapan Al bisa jadi sangat gombal dan lebay dalam merayu wanita? Lihat saja, bahkan si ****** itu bisa membuat sosok Al yang dingin pun jadi luluh padanya,'
Melihat jam yang sudah hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Mau tidak mau Lyli harus segera kembali ke rumah sakit untuk menyiapkan makan malam para pasien.
Akhirnya Queen pun menyerah dan ikut pergi bersama Al.
sesampai di dalam mobil dia memukul dan mencakari Al tanpa ampun sebagai ungkapan
rasa kesalnya. Lagi pula, siapa yang tidak kesal jika seperti itu keadaannya.
Awalnya Al hanya diam, ia menerima apa yang dilakukan
istrinya padanya. Dia juga mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Setelah merasa semua ini cukup, barulah ia memegang kedua
lengan Queen dan menatapnya lekat.
“Sudah, mukulnya? Aku beri tahu kamu. Yang meniduri Lyli
hanya anak buahku saja. Dan sekarang mereka juga tidak aku urus lagi. Iya, mungkin benar ini adalah karmaku memiliki anak bisu karena tindakanku pada Lyli. Tapi, aku berani bersumpah, aku tidak melakukan hal serendah itu. aku merasa kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu saat itu. tapi, aku ragu dengan
perasaanku. Terlebih, kau juga masih istrinya Alex. Sekarang, apakah kau percaya?”
Queen menatap wajah suaminya yang banyak terdapat luka cakar
dari runcingnya kuku-kuku miliknya. Bahkan, saking dalamnya, luka itu memerah dan ada darah di permukaannya. Tak hanya muka, bahkan juga leher. Entah menyesal
atau apa, melihat itu dia tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
“Lalu, apa alasanmu melakukan itu padanya? Kenapa kau
membunuh keluarganya dengan sadis? Membuat orang trauma sampai tak bisa bicara dalam waktu lama
saja dibalas dengan bisunya Berlyn. Kamu berfikir, gak kalau keluarga kita bisa saja dibantai habis oleh orang lain?’’
“Maafkan aku. Aku stress dan hilang kendali saat itu. aku
ingin dia juga merasakan apa yang aku rasakan.”
“Apa?”
“Kulihat dari rekaman cctv rumah, dia yang membuat rem mobil
yang dikendarai papa mama blong. Sehingga di persimpangan jalan mobil mereka mengalami kecelakaan. Kita kehilangan kakek dan nenek kita, bahkan nyawa papa
dan mama pun juga nyaris melayang. Dan karena kejadian itu, kau merasa terpukul dan mengalami stress berat hingga kau mengalami keguguran. Aku menerima kakek dan nenek pergi. Tapi, hatiku serasa dicabik-cabik saat melihatmu bersedih karena itu, aku tidak bisa. Terlebih, tak lama setelah itu kau kehilangan calon anakmu.”
Queen kembali menangis. Ia tidak menyangka kalau wanita yang
dia kenal baik, tenang dan pendiam bisa berlaku sekeji itu. mendengar itu pun dia juga merasa emosi dan tidak terima. Ingin rasanya ia kembali ke rumah sakit jiwa tempat di mana Lyli bekerja tadi. Tapi, jika itu terjadi, ia marah dan melabraknya, sama saja menggalikan lubang untuk suaminya sendiri.
Mungkin Lyli selama ini dendam dengan apa yang Al lakukan terhadap
keluarganya. Tapi, ia tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa. Untuk melapor
pada polisi pun ia tidak memiliki bukti yang kuat. Jika dia datang melabrak,
bukti sudah ada di kata-kata Queen yang dia lontarkan tadi.
“Dia masih menyukaimu, dan tidak terima kau menikahi Nayla. Mungkin
juga dia tahu apa hubugan kita selama ini.”
“Kenapa kau berasumsi begitu, hemh?”
“Dia bilang, setelah kau puas, kau berikan pada anak buahmu
untuk digilir.”
Al tertawa lebar, ia tahu, kalau Queen marah hanya karena
cemburu saja. Ia pun memeluk istrinya dan berkata, “Masih mau di sini, apa
pulang ke Jakarta?”
“Terserah kamu.”
“Honymoon yuk!”
“Kita pulang saja deh!" ucap Queen, dan melepaskan pelukannya dari Al.
“Oke. Tapi, kau harus siap-siap. Sampai rumah, akan kuhajar kau!”
“Coba saja, kulihat sampai mana kemampuanmu, bukankah kau
sudah lelah?”
“Kau menantang ku, Sayang? Baik, kita buktikan saja nanti di
__ADS_1
rumah. Akan kubuat kau tidak bisa bangun besok!”
"Kalau masih tidur sampai bangun, namanya ngelindur," cetus Queen. Dan semuanya pun tertawa.