Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 79


__ADS_3

Mama rita dan papa Nicolas sudah selesai melakukan vido call dengan kedua besannya, Clara dan Vano. Ia mengembalikan tab milik Al dan mulai berbincang-bincang. Wanita paruh baya itu, juga menatap kagum pada Al. Muda, cerdas dan sangat berkharismatik.


Sejurus kemudian tatapan matanya beralih ke arah Quen. Wajah mama Clara masih terbesit jelas di benaknya.


"Kok, mama merasa Quen dan Al itu dublikat orang tuanya, ya?" ucap mama Rita.


"Mungkin masa muda om Vano dan tante Clara seperti Al dan Quen, ya?" timpal Novita yang sudah pernah bertemu langsung dengan mereka, hanya saja bagi Novita Al terkesan serius dan susah bercanda. Beda dengan papanya, dia jauh lebih rilex dan santai.


Mungkin beda tanggung jawab ya, Vano sudah terbiasa dan usianya juga sudah tidak muda lagi, terlebih Al kini turut terjun membantunya dalam perusahaan garemen dan kontruksi yang diurusnya. Sementara Al, masih ada bisnis perjualan pesawat Jet di Jepang yang ia tangani sendiri tanpa bantuan siapapun.


Jadi wajar kalau pancaran wajahnya selalj saja serius tegang dan tak ada santai-santainya. Kecuali saat menjaga anak gadisnya, Quen. Dia memperlakukan adiknya melebihi seorang anak.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, WO yang merias Quen sudah datang.


Quen ke kamarnya untuk dirias. Sedangkan Al dan Vico diajak makan siang lebih dulu bersama Aditya, dan kedua mertua Quen. Alex juga tengah sibuk menyiapkan diri, walau tak akan selama dan serumit pengantin wanita. Dia juga ingin terlihat ganteng di depan para tamu undangan. Terlebih di depan mantan.


Ya, mantan. Mantan play boy satu ini tidak hanya menebar mantan di Indonesia, tapi juga di New York, Ingris dan Canada. Di mana pun ia berkunjung. Nakal memang. Tapi, sekarang seluruh hati dan cintanya hanya di labuhkab pada Quen seorang.


Pukul satu lewat sepuluh Quen sudah siap dengan gaun serta riasannya, ia nampak cantik dan benar-benar sepertu seorang ratu di negeri dongen. Pastu siapapun yang akan melihatnya akan terpana, paduan gaun, mekap, tatamam rambut semuanya sungguh menunjang hingga menjadi sosok yang nampak benar-benar sempurna.


Mama Rita menghampiri Alex yang sudah rapih dengan teksudonya. Ia mengelus putranya dan berkata, "Kau tidak gugup karena ini hanyalah resepsi atau unduh mantu saja, bersiap-siaplah, tunggu Quen di luar, ya?"


Cukup lama Al menunggu adiknya, hungga tanta terasa salah satu asisten WO keluar dan memberitahukan kalau pengantin wanita sudah siap.


Dengan langkah pasti, Al berjalan menuju kamar di mana Quen di rias.


Kemarin aku juga hadir dalam pernikahanmu, Sayang. Tapi, tetaplah papa yang jadi wali, dan menggandeng tanganmu ke pelaminan. Dan beliau pula yang menikahkanmu. Kali ini berbeda, meski aku tidak menikahkanmu, tapi, aku hadir jadi walimu, aku yang akan menggandeng tanganmu untuk mengantarkanmu ke tempat mertua.


Batin Al terasa semuanya berkecamuk menjadi satu.


Al mengehntikan langkahnya di depan Quen dengan gaun mewah dan sangat lebar berwarna putih agak pink, dengan riasan flawles elegan serta tataan rambut yang cantik ditambah dengan mahkota yang manis di atas kepalanya, sunggu membuatnya nampak sempurna.


Wanita itu tersenyum manis pada kakaknya, tanpa terasa Al menitikan air mata haru karena bahagia, dengan segera diusapnya dan menghampiri Quen adiknya.


"Rasanya baru kemarin kakak melihatmu masih bayi, lalu merangkak, belajar berdiri dan sering jatuh saat melangkah, kini kau sudah besar dan jadi pengantin, Sayang." Al langsung memeluk Quen. Keduanya sama-sama bahagia.


Hanya saja kali ini, Quen berusaha untuk tidak menitikan air mata, ia tak mau riasannya sampai luntur seperti pernikahannya dulu.


"Terimakasih kak, kau selalu jadi kakakku yang terbaik, tetaplah begini selamanya," ucap Quen.


"Iya, aku cuma kakakmu saja," bisik Al, dengan cepat menhapus air matanya lagi dan melepaskan pelukannya.


"Kau jangan membuatku menangis, aku tidak mau air mata mengacaukan riasanku seperti kemarin," ucap Quen sambil memukul lengan Al.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo keluar sama kakak." Al berkacak pinggang untuk menggandeng Quen dalam upacara penerimaan menantu sekaligus resepsi.


Semua tamu memandang Quen dan Al dengan tatapan kagum. Tiada satupun yang tidaj memuji kekompakan kakak beradik itu, keduanya terlihat sangat akur dan rukun.


"Kakak beradik yang sangat cute!"


"Pasti kedua orang tua mereka bangga memiliki sepasang anak yang cantik dan tampan. Lihat! Bahkan mereka terlihat dekat juga akur."


Suara dari para tamu saling bersahutan. Setelah penyerahan dan ucapan permintaan maaf dari Al untuk kedua orang tuanya yang tidak bisa hadir, acara berlanjut dengan penutupan doa, selebihnya tinggal acara resepsi saja.


Quen merasa bosan sejak suang berada di atas pelaminan. Dia bermaksut turun untuk menghampiri kakaknya.


"Alex, aku ke tempat kakak dulu, ya? Aku kawatir tidak punya banyak waktu ngobrol bersamanya," ucap Quen kepada suaminya yang nampak begitu menikmati suasana.


"Iya, bisa tidak jalannya? Hati-hati, ya?" ucap Alex penuh perhatian.


Dan dibalas anggukan oleh Quen.


Dengan gaunnya yang panjang dan lebar membuat Quen susah untk duduk bersama sederet kursi tamu, beruntung ekor gaun hanya pasangan dan bisa di lepas, jadi hanya mengenakan gaun yang tidak lebar, dan duduk bersama Al juga Vico.


"Kak, bisakah menunggu dua minggu di sini dan kembali bersama ke Indonesia?" ucap Quen memulai percakapan.


Al diam sejenak, ia sebenarnya berat mengatakan hal yang sejujurnya, tapi, tidak mungkin menunda dan meminta Vico menggantikan dirinya, karena Vico hanyalah sahabat bukan staf atau asisten pribadi di kantornya.


Tapi, rupanya hasilnya sama saja, seberapa halus sebuah penolakan akan tetap berujung kekekcewaan, walau kadarnya mungkin tak sama.


"Gitu ya, kak? Ya sudah, tidak apa-apa," jawab Quen nampak sedikit murung.


Al sebenarnya juga sedih melihat adiknya seperti ini, tapi, apa boleh di kata. Kali ini benar-benar penting dan tak bisa di tunda.


"Kau kan juga nanti akan jarang berjumpa dengan mertuamu, manfaatkanlah momen ini, ok? Kalau ada kakak, mereka nanti juga akan canggung, tidak apa-apa, ya?" bujuk Al sekali lagi.


"Iya, kata kakak benar, aku harus menikmati dulu kebersamaanku dengan mereka," ucap Quen sambil tersenyum.


"Kau kembalilah ke pelaminan bersama Alex. Kasian tuh mempelai prianya sendiri," sahut Vico yang sedari tadi melihar drama hubungan antara kakak beradik yang hangat.


Quen pun beranjak meninggalkan tempatnya dan di sana menenmani Alex tanpa memakai ekor gaun yang lebar san panjang itu lagi.


Vico menggeser duduknya setelah Quen pergi ia berbisik pada sahabatnya, "Al, mungkin kau terlalu dingin pada istrimu, dan kau malah begitu hangat pada Quen. Bagaimana pun Nayla kan tahu hubunganmu dengan Quen halah sebatas saudara angkat wajar saja dia cemburu, Al."


Al diam sejenak, bahkan ia hampir lupa kapan Quen bertingkah manja seperti barusan. Dan di sini, cukup mengalihkan dunia Al untuk tidak begitu banyak memikirkan Nayla terus menerus.


Sesaat ia jadi berfikir. Apa jangan-janagan Quen tahu permasalahan dia dan Nayla sehingga dia harus menjaga jarak dengannya? Di Jepang dulu saat sebelum menikah gadis itu selalu protes dan marah-marah apabila sehari saja tak ada kabar, tapi sejak pernikahannya, sehari, dua hari, seminggu bahkan sebulan tak ada kabar dia tidak pernah menghubungi duluan. Hanya saja saat sudah saling telfon barulah dia mengomel.

__ADS_1


Al memandsng ke arah Quen yang tengah berfoto dengan Alex dengan gaun yang sudah tanpa ekor lagi, ia terlihat nampak bahagia, dan Alex, pria itu sungguh benar-benar manyangi Quen tanpa dibuat-buat semuanya nampak alami.


"hello, excuse me sir, may I sit here?"("Halo, permisi Tuan, bolehkah saya duduk di sini?") Seorang wanita


muda berdiri di sebelah Al dan suskses membuyakan lamunannya.


"Have a sit," (Silahkan duduk,") jawab Al datar dan dingin.


Wanita itu pun duduk sambil menyilangkan kakinya mencondongkan tubuhnya menghadap Al. Dan mulai mengajak pria di sebelahnya itu ngobrol.


"Want to ask?"(Mau minum?") tawar wanita itu sambil menunjukan gelas berisi anggur.


"Sorry, I don't drink alcoholic drinks,"(Maaf, aku tidak minum minuman berakohol,") Segera Al menepis gelas yang di sodorkan wanita di sebelahnya. Wanita itu hanya tersenyum sambil terus mengamati wajah Al yang terlihat sangat serius.


"I heard you are the bride's brother, huh?ย  What is your name if I may know?" ("Aku dengar kau kakak dari mempelai wanita, ya? Boleh ku tahu siapa namamu?") Rupanya wanit Itu tidak menyerah, dan terus dengan gencar berusaha merayu dak mendekati Al.


+


Al dengan muka serius. cocok banget ya jadi ketua mafia๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


"Yes, iam Al," (Ya, aku Al,) jawab pria itu lagi-lagi sangat dingin tapi, bagi wanita di sebelahnya terdengar sexy dan menantang untuk di menantang.


"My name is Sheery,"(Namaky Sheery) ucap wanita itu sambil menyodorkan tangannya. Cukup lama tangan itu mengambang di udara tak kunjung mendapat balasan dari Al.


"Apakah kau anti menyentuh wanita?" wanita itu melirik Vico yang hanya diam berlagak tidak tahu apa yang terjadi pada Al. Karena, itu sudah jadi hal yang wajar di mana pun Al berada, pasti sudah akan jadi kerumunan para wanita layaknya gula selalu di datangi semut.


"Apakh dia kekasih mu?" tanya Sheery.


Al berkerut kening, dalam hati dia sangat marah karna dikira gay.


Tanpa banyak bicara ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan berkata pada wnita itu.


"Ini adalah aku, anak dan juga istrku, akh bukan gay," ucap Al sambil menunjukan foto walpaper pada layar sentuhnya.


Sheery tersenyum kecut, lalu berkata, "pria tampan, kaya serta mapan sepertimu kenapa harus setia pada satu wanita? Bukannya istrimu ada di indonesia? Bukankah pria di manapun sama, asal memiliki harta tahta dan kedudukan mereka seperti wifi, selalu mencari koneksi terdekat jika jauhbdan terputus dengan koneksinya di rumah?"


"Aku tidak seperti yang kembanyakan. Kau pergilah! Jangan rayu laki-laki yang sudah beristri, ibumu tidak mengajari demikian, kan?" ucap Al tanpa menatap ke arah wanita itu.


Dengan ekspresi kesal, wanita itu pun berdiri dan pergi meninggalkan Al.


Sementara Al menghela napas lega. Ia paling risih dengan wanita seperti itu dari dulu sampai sekarang.


Baginya wanita seperti itu hanyalah menginginkan uangnya saja, sekalipun dia memiliki wajah tampan, tetap saja mereka lebih memprioritaskan harta dan kedudukan. Dia bisa saja menghambur-hamburkan uang untuk memanjakan mereka tapi, karena ia lama hidup di panti asuhan, sedikit pun Al tidak memiliki keinginan untuk hidup royal dan gerfoya-foya. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah merayakan keberhasilan dengan berpesta bersama anak-anak panti dan kaum anak jalanan.

__ADS_1


__ADS_2