Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 part 2


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu tak terasa kini kedua putra dan putri Vano Clara sudah tumbuh Dewasa. Al sekarang sudah duduk di bangku akhir SMA, usianya sudah menginjak remaja, tujuh belas tahun. Sementara Quen dia berusia sebelas tahun, dan masih kelas enam sekolah dasar.



Nampak dari luar pusat perbelanjaan Al tengah mengandeng tangan adiknya, mereka baru saja membeli beberapa buku bacaan dan juga makanan ringan.



Begitu mendekati kompleks perumahan, Al berjalan terlalu cepat, sementara Quen tertinggal jauh di belakang kakaknya.



"Kak, tunggu aku!" Serunya sambil berjongkok mengatur napas.



Al menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Melihat adiknya nampak ngos-ngosan, Al berjalan mendekat.



"Ayo!" Al berjongkok di depan Quen.



Dengan Antusias Quen berdiri dan memeluk pundak kakaknya.



Al pun berdiri dan mulai berjalan sambil mengendong Quen yang kelelahan.



"Aaal!"



Al menoleh ke belakang melihat siapa yang tengah memanggilnya.



"Risma, kenapa kau di sini?" tanya  datar.



"Aku tadi melihatmu berbelanja di sana, dan aku mengikuti kalian. Jadro kamu tinggal di sekitar sini, ya? Tidkah kau mempersilahkanku mampir?" jawab gadis itu lugu.



"Baiklah," jawan Al tanpa Akspresi. Dengan penuh keterpaksaan Al mengajak Risma untuk mampir ke rumahnya.



Ini adalah kali pertama ia membawa teman wanita ke rumahnya. Tapi, jika saja ia tidak meminta untuk diajak mampir, Al juga tidak akan mengajaknya.



Tiba di rumah mereka sudah di sambut dengan Clara, kebetulan ia mengenakan kaos oblong di padu dengan hot pents yang memamerkan kemulusan pahanya.



Risma nampak kaget saat melihat Clara di sana, Clara yang selalu terlihat muda dan berpenampilan layaknya ABG sering digosipkan adalah pacar Al saat melihat mereka berdua di luar sekolahan.



Serta katanya Clara lah yang membuat Al tidak pernah tertarik dengan anak gadis di sekolahnya.



Mungkin wajar, karena usia Clara saat ini baru tiga puluh satu tahun, saat mengadosi Al usianya baru dua puluh satu tahun. Dan Al sudah menginjak tujuh tahun.



"Kalian sudah pulang, Sayang?" tanya Clara begitu melihat Al dan Quen tiba di rumah.



Melihat mamanya Quen merosot dari gendongan kakaknya laku turun, dan menghampiri mamanya untuk memperlihatkan apa saja yang sudah mereka beli tadi.



"Sayang, kamu jangan terlalu manjaan Quen, donk!" Seru Clara, penuh perhatian.



"Ah, dia memanggil Al dengan sebutan sayang," batin Risma.



"Loh, ada tamu, ya? Ayo silahkan masuk! Kamu pasti temannya Al, bukan?" sapa Clara ramah kepada Risma begitu melihatnya.



"Sayang, kau membawa teman wanita kerumah, kok diam saja? Ayo persilahkan masuk dan kenalkan pada mama."



Dengan malas Al duduk di sofa, ia masih diam saja tidak mengajak bicara Risma yang duduk di sebelahnya.



"Kau benar-benar tidak bisa mencintai wanita lain kah, Al?" tanya Risma ragu-ragu.



"Apa maksut, kamu?"



"Barusan itu.... "



"Mamaku, kenapa?"


__ADS_1


"Oh, Maaf. Dia terlihat seumuran dengan kita, ya?" Risma tersenyum canggung berusaha mencairkan sasana.



Al mendesah kesal, "Aku gak memikirkan apapun selain pendidikanku, bukan karna aku menyukai Mamaku."



"Bukan begitu, Al. Kami gak ada yang menyangka kalau dia adalah mama kamu, loh."



"Kalian ngobrolin, apa? Ayo minum dulu, pasti haus, ya?" sapa Clara yang keluar tiba-tiba dengan membawa dua gelas es jeruk dan cemilan untuk Al dan temannya.



"Makasih, tante. Kenapa harus repot-repot?" ucap Risma sambil tersenyum.



'Hah, tante? Apakah pantas dia kupanggil tante? Harusnya kakak,' batin Risma.



"Cuma air saja, Sayang... Tidak akan merepotkan sama sekali, siapa namanya?"



"Risma, tante."



"Teman sekolah Al, ya?"



"Iya, kami teman sekelas."



'Bagaimana Al yang sebeku ini memiliki mama yang cantik dan hangat serta ramah?' Risma menghembuskan napasnya cepat.



"Kalian ngobrol saja dulu, ya. Tante mau nemenin adeknya Al dulu ngerjain PR." Clara pun beranjak ke lantai atas.



Sementara Al dan Risma keduanya hanya diam saja. Risma bingung mau bicara apa jika berdua saja dengan Al melihat kepribadian pria di depannya kaku dan selalu serius.



Selama dua tahun lebih Risma mengenal Al, tidak pernah sekalipun gadis itu melihat pria di sebelahnya tertawa apalagi dekat dengan orang laik terlebih para gadis. Kecuali mamanya yang sampai kini heboh dikira kekasih Al.



Banyak gadis-gadis cantik di sekolahnya juga sekolahan lain yang berlomba-lomba mencari perhatian dari si gunung es ini. Tapi tidak satu pun yang berhasil.



Tanpa terasa empat puluh menit berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun terucap dari keduanya.




"Heem," jawab Al dingin.



"Di mana, tante?"



"Sebentar." Al pun berdiri berjalan menuju tangga untuk memanggil Clara.



Sementara Risma juga berdiri di depan kursinya sambil mengamati tubuh tegap Al yang semakin jauh dari pandangannya.



Tak lama kemudi bersama mama dan adiknya Al turun.



"Kok buru-buru pulang? Sering-sering main ke sini, ya?" ucap Clara ketika sudah di depan Risma.



"Iya, tante. Ini juga sudah sore," jawab Risma sopan.



"Kakak, kamu teman gadis pertama kak Al yang datang kemari, apakah kamu pacarnya kakakku?" tanya Quen dengan polos.



Sementara Clara langsung tertawa mendengar celotehan putri kecilnya.



"Tahu apa kamu tentang pacaran?" tanya Al sewot.



Sementara Risma ia tersenyum canggung, raut wajahnya memerah, sepertinya ia menahan malu.



"Ya kemanapun berdua-dua seperti papa dan mama, kak." jawab Quen tidak mau kalah.



"Anak kecil jangan omong pacaran, tidak boleh nanti ga naik kelas," ucap Al dengan ekspresi dingin.

__ADS_1



"Baik lah." Quen pun menunduk mendengar ucapan sang kakak.



Bersamaan dengan Risma di depan pintu, saat itu juga masuk sebuah mobil Ferrari merah ke dalam halaman rukah itu.



"Ma, papa sudah pulang, apakah nanti kita akan jalan-jalan? Kan malam Minggu," ucap Quen sambil mendongak melihat Clara.



"Ada tamu, ya?" sapa Vano saat melihat Risma di depan pintu.



"Iya, Pa. Ini temannya si kakak tadi main ke sini," jawab Clara.



Belum habis rasa kagum risma melihat Vano yang gagah dan tampan serta terlihat muda, ia di suguhkan pemandangan yang tidak pernah ia temui di rumah.



Vano begitu tiba memberi sedikit peluka dan kecupan di kening Clara. Lalu Clara mencium tangan Vano dan diikuti oleh Al dan Quen.



Sementara kedua orang tuanya jika sudah pulang ya pulang aja, ga ada ucapan salam apalagi saling berslaman seperti ini.



Tidak mau terlena dengan pemandangan di depannya, Risma segera memohon diri, "Om, Tante, kalau gitu saya pulang dulu."



"Iya hati-hati. Sering-sering main ke sini, ya?" ucap Vano.



Risma pun tersenyum mengangguk pada Al dan sempat menyentuk pipi Quen, "Kakak pulang dulu, ya Adek, Quen. Lain kali kakak bawain kue kalau ke sini, ya?"



"Baik kakak," jawab Quen ramah.



Sepanjang ia berjalan menyusuri kompleks perumahan Al, Risma masih terus terbayang dengan keluarga Al yang sangat hangat dan ramah.



'Bagaimana bisa Al hidup di tengah-tengah keluarganya yang harmonis tapi tetap saja ia bersikap dingin dan kaku?'



*********


Waktu pun berjalan begitu cepat, Al kini sudah lulus SMA begitupun dengan Quen. Ia berhasil masuk di sekolah favorit dan masuk di kelas unggulan berkat nilainya yang bagus.



Atas permintaan Andreas sejak awal, Al kini melanjutkan studynya di Jepang bersamanya. Selain kuliah di sana, Al juga di kenalkan dengan rekan-rekan Andreas yang berada di Jepang untuk menyiapkan Al sebagai pewaris utama perusahaannya di sana.



Bahkan tidak hanya itu, Al juga di latih berbagai seni bela diri untuk melindungi dirinya sendiri. Meskipun ada banyak body guard nomor satu yang bersama sang kakek, Andreas tidak mengajarkan hidup penuh ketergantungan, apalagi mengenai keselamatan fisik.



Di bandara Soekarno Hatta, Clara menangis sambil terus memeluk Al, rasa berat dan tak tela terus menyelimuti hatinya, begitupun juga dengan Vivian yang sama-sama sudah terlanjuar sayang.



Al, Vano dan Andreas mereka memang sangat mirip hingga membuat keluarga besar itu melupakan kenyataan kalau Al hanyalah anak angkat.



Terlebih selama Ini Al tidak pernah membuat masalah dan bisa menempatkan diri.



"Kakak, kalau sudah lulus kuliahnya cepat kembali, ya" ucap Quen yang nampak sedih.



"Iya, Quen minta apa nanti kalau kakak sudah kembali?" jawab Al sambil mengusap kepala adiknya.



"Bawakan aku bunga sakura ya, kak."



"Baiklah!"



Al dan Andreas pun memasuki kabin. Sementara Vano, Clara, Quen, Andreas dan Vivian kembali kerumah.



Selama setahun berlalu, Clara masih banyak murung. Kawatir dengan kondisi mental Clara, Vivian pun meminta Clara dan Vano untuk tinggal bersama kembali.



Sejak dua tahun kemudian Vivian mencari pembantu baru untuk di rumahnya di karenakan bi Narsih sudah berhenti kerja karena faktor usia.



Bersamaan dengan itu, mereka manenukan seorang gadis muda yang lumayan manis untuk menggantikan tugas-tugas bi Narti usianya sekitar tujuh belas tahunan.


__ADS_1


Usia gadis itu memang sangat muda, tapi, soal pekerjaan tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.



__ADS_2