
Tiga hari setelah kembali ke Jogja, kali ini Adriel sering
meminjam ponsel mamanya untuk sekedar chat pada Berlyn. Ia menanyakan kabar dan
bagaimana hari-hari Berlyn selama di sekolah dan di rumah.
“Berlyn. Mamamu serius tidak, hari Minggu akan ikut serta
kak Axek datang ke mari?” tulis Adriel pada pesan chatnya pada Berlyn.
“Aku tidak tahu. Tapi, sejauh ini mamaku tidak pernah ingkar
dengan janjinya sendiri,” balas Berlyn.
“Coba tanyakan padanya,” tulis Adriel lagi. Terkesan
memaksa.
“Kamu ini, kangen sama aku, apa mamaku, sih? Kan kamu juga
punya mama di sana,” tulis Berlyn dengan kesal.
“Jika aku katakan ingin main sama kamu bareng kak Axel dan
kak Bilqis, apakah bisa kalian pergi bertiga saja?”
“Tidak tahu,” tulis Berlyn sebagai balasan.
“PINK!” kembali sebuah pesan masuk dari Adriel. Tapi, belum
sempat Berlyn membukanya sebuah panggilan video dari kembarannya masuk.
“Hy… Berlyn. Tidak kangen dengan ama, kah kamu?” sapa bocah
yang bagaikan cermin baginya jika tengah berhadapan begitu.
Berlin hanya diam dan tersenyum. Ambil posisi siap,
menghadap pada layar sentuhnya.
“Aku tahu kamu kangen. Tapi, aku kangen kita kumpul bersama.
Gimana, dong, Lin?” tanya Clarissa.
Sebagai jawaban, Berlyn hanya mengangkat kedua tangan dan
bahunya.
“Minggu depan ajak papa dan mama ke sini, lah,” ucap
Clarissa memohon.
Sementara Berlyn, mengajcungkan terlunjuknya sambil
menggiyangkannya ke kanan dan ke kiri dengan mata terpejam.
“Why?” Clarissa memajukan wajahnya pada layar ponselnya.
Terlihat sekali, di layar sentuh Berlyn hanya dipenuhi oleh wajah kembarannya
saja, yang justru dengan posisi itu terlihat sangat jelek.
Berlyn memberikan isyarat, kalau hari minggu mama aka nada
acara di Jogja. Hanya itu saja yang Berlyn sampaikan. Dia tidak menjelaskan ap
aitu acara tersebut. Sebab, kalau sampai kembarannya tahu, ia bersama pap
mamanya menemui Adriel demi sebuah janji yang tak sengaja terucap Ketika
membujuknya, pasti Clarissa akan ngamuk nanti.
“Kamu mau, main ke Singapura sendiri? Aku jemput kamu,”
tawar Clarissa sambil tertawa terbahak.
Berlyn tidak mengeleng dan juga tidak mengangguk. Ia malah
melotot dilebar-lebarkan pada kembarannya. Dengan arti lain, “Kau jangan
macam-macam. Kau pikir papa akan senang jika mengetahui perbuatanmu ini? Tentu
dia akan marah. Apalagi mama.”
“Hahaha, Alin. Kau jadi anak terlalu patuh, bandel itu
menyenangkan, loh,” ucapnya sambil terus terpingkal-pingkal. Alin adalah nama
kesayangan Clarissa pada Berlyn. Memang orang Singapura kebayakan begitu.
Manggil Boy, pada anak laki-laki saja juga a-boy, pun juga oada girl pada anak
perempuan, A girls. Pasti mengawali dengan huruf A.
Berlyn hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah
kembarannya. Untung saja kembar, jika tidak, ia juga ragu memiliki saudara
macam dia. Dia berani berkata demikian segitu lantangnya, pasti ama sedang
keluar. Jika saja ada, pasti centong saktinya sudah mendarat bebas mengenai
punggungnya. Tapi, meski demikian, Clarissa masih saja tidak ada
kapok-kapoknya. Setiap hari berulah saja terus.
“Di mana, Mama? Aku ingin, sekali-sekali kita bertukar
tempat seperti kemarin dengan sadar. Aku ingin tinggal sama papa dan mama tanpa
berpura-pura jadi kamu, Alin.”
Berlyn mengacungkan jempolnya, yang berarti, itu bisa
diatur. Tapi, dengan catatatan. Jika bertemu dengan orang asing, Clarissa tetap
berpura-pura menjadi dirinya yang bisu.
“Kau bicaralah sama mama. Aku takut, jika aku yang usul,
mereka tidak akan menyetujuinya,” ucap Clarissa lagi dengan wajah memelas dan
memohon.
Berlyn mengangguk pelan.
“Berlyn! Kau di mana? Kakak bawakan kamu blacforest, nih!”
teriak seorang gadis remaja dari luar.
Menyadari yang datang Biliqs, dengan segera Berlyn memberi
__ADS_1
isyarat. Clarissa pun juga tahu itu. sebab, selama sebulan di sana, ia cukup
tahu dan mengenal, siapa saja orang-orang yang dekat dengan saudarinya. Tapi,
tidak dengan Adriel. Yang ia lihat hanya Axel yang sesekali datang bersama
Bilqis.
Setelah mematikan panggilan, dengan buru-buru Berlyn
menghapus log panggilan. Agar, jika tidak sengaja Bilqis iseng memainkan
ponselnya dan melihat log panggilan tidak penasaran dengan nomor ponsel tanpa
nama, namun menggunakan foto profil dirinya. Padahal bukan. Tapi, memang
kembar.
“Akak!” sapa Berlyn dengan berat dan penuh perjuangan sambil
melemparkan senyumnya dan tangannya dilambaikan pada Bilqis yang baru saja tiba
dengan satu kotak berisi kue di tangannya.
Gadis itu menoleh kea rah sumber suara yang terdengar sangat
berat itu. ia tersenyum dan menghampiri seorang bocah berambut panjang sampai
pinggang, lebat dan lurus memakai poni. Yang tengah tersenyum dan melambai
padanya.
“Kau di sini rupanya? Katanya kalau kaka ke sini kau minta
bawakan blackforest. Ayo, makan dulu!” ajak Bilqis sambil menuntun Berlyn,
memperlakukan seperti adik kandungnya sendiri. Walau nyatanya, setetespun,
tidak ada hubungan darah antara dirinya dan Berlyn.
Siang ini bi Yul tengan meyetrika pakaian. Sementara Queen
berada di klinik. Jadi, Bilqis menyiapkan kua yang dibawanya sendiri. Sedangkan
Berlyn, dia meminta agar menunggunya di meja makan saja.
Tidak lama kemudian Bilqis kembali dengan membawa dua buah
piring kecil, dua garpu dan pisau di tangannya.
“Berlyn, kakak suka kamu yang begini. Kau kembali menurut. Maaf,
ya, jika kemarin kak Bilqis juga sedikit cerewet sama kamu,” ucap Bilqis sambil
memotong kua yang dia bawa.
Berlyn sedikit ningung dengan kata-kata Bilqis. Sudah ada
hampir tiga mingguan dia kembali dari Negara Spin tersebut. Selama itu, Bilqis
juta tidak terlihat kesal padanya. Semua normal-normal saja. Lagi, selama ini
dia juga tidak merasa berubah sekalipun. Dari sikap dan prilaku juga selalu
patuh. Apakah Clarissa sedikit berulah? Pikirnya.
Berlyn memasang wajah seolah tak mengerti memperhatikan Bilqis
dengan serius hingga memiringkan kepalanya ke samping. Membuat Bilqis yang
“Kamu pasti lupa. Kaka juga baru sempat minta maaf. Karena,
bagaimana pun, kak Bilqis juga tidak maul ah terlihat galaknya oleh papa dan
mama,” ucap Bilqis lagi sambil tertawa.
Sedangkan Berlyn, kian penasaran saja. Memang, sudah membuat
kesal seperti apa, sih kembarannya?
“Kemarin itu, kak Bilqis merasa kau aneh. Setiap kali kaka
minta kamu melakukan ini, kau malah mengerjakan kebalikannya. Jika kakak
melarang begitu, kau malah dengan semangat mengerjakannya. Kakak jadi
uring-uringan. Maaf, ya?”
Berlin melihat ketulusan di wajah gadis di depannya. Ia juga
ikut tertawa sambil menutup mulutnya dan memberi isyarat yang seolah
mengatakan, “Kau tidak salah. Aku lah yang semestinya meminta maaf.” Saat itu
juga, ia terigat dengan rekaman video yang Clarissa buat untuknya saat mereka
hendak bertukar ke tempat masing-masing. Bocah sinting itu mengatakan kalau dia
tidak lagi terlalu mengkhawatirkan dirinya, karena aku memiliki kak Biliqis
yang baik, temannya juga baik. Pasti yang dia maksut adalah kak Axel.
****
Sedangkan di Jogja, di sebuah rumah besar, Adriel merasa
kesal dan nyaris membanting ponsel milik mamanya. Beruntung, Novi dan Candra
sudah sepakat tidak akan memberikan ponsel pribadi pada putra kecilnya ini. Selain
belum waktunya, khawatir nanti akan disalah gunakan. Toh selama ini Novita juga
selalu stan by di rumah. Lain dengan Berlyn yang sudah tak memiliki nenek dan
kakek yang menjaganya. Queen dan Al juga sama-sama seorang yang memiliki karir
yang bagus. Satu-satunya cara agar bisa tetap berkomunikasi dengan putrinya, ya
memberi hp sendiri padanya. Tapi, Berlyn sendiri juga sudah bisa membagi waktu.
Kapan ia harus bermain dan belajar juga tidur siang. meskipun usianya baru enam
tahun, tapi pola hidupnya sudah sangat disiplin. Sungguh berbeda sekali dengan
anak-anak seusianya.
“Uuuuh! Kemana, sih dia? Chat tidak dibalas, ditelfon sibuk.
Sekalinya bisa tidak diangkat!” umpat Adriel seorang diri, melampiaskan kekesalannya.
“Driel, kenapa?” tanya Novita, saat ia muncul dari belakang
__ADS_1
membawakan segelas susu untuk putranya.
“Berlyn, Ma. Di chat tidak jawab. Tak telfon nomornya sibuk
terus,” jawab Adriel dengan wajah yang bersungut-sungut.
“Mungkin mama atau papanya menelfonnya. Kamu lucu, deh. Masih
kecil suka posesif gitu,” ujar Novi sambil duduk di hadapan putranya. Kemudian,
ia menyodorkan segelas susu yang dibawanya. Serta memeberi isarat agar putranya
segera meminumnya sampai habis.
“Ap aitu posesif, Ma?” tanya Adriel, penasaran.
“Em… apa, ya?” Novita nampak tengah berfikir. Dia bukan
tidak tahu, kalau arti posesif itu sebenarnya adalah rasa cemburu yang
berlebihan. Tapi, karena ia berbicara dengan anak yang masih di bawah umur, dia
juga harus menggunakan kalimat penyampaian yang mudah dipahami oleh anak seusianya.
“Posesif itu, semacam rasa ingin selalu menjadi yang nomor satu dan terpenting.
Misalnya kau, benci dan tidak suka jika Berlyn mengabaikanmu seperti ini,”
jelas Novita panjang lebar.
“Habis gimana? Aku tidak punya teman sebaik dia, Ma.” Adriel
mengusap bekas susu di mulutnya menggunakan punggung tangannya. Kemudian diletakkannya
gelas yang sudah kosong di atas meja. Tepat di depan mamanya.
“Ya, mama tahu itu. tapi, apakah kau tahu, kalau itu hanya
akan membuat Berlyn merasa bosan dan malas denganmu. Akhirnya, apa? Dia
mengabaikanmu, bahkan selalu menghindarimu di berbagai kesempatan. Kau lihat
sendiri bagtaimana kakakmu pada kak Bilqis, bukan?”
Adriel diam sesaat. Ia mungkin mencoba mengingat-ingat apa
yang terjadi dengan kakaknya dan juga kak Bilqis. Satu-satunya teman wanita
yang paling sering datang ke rumahnya untuk mencari kakanya dengan alasan yang
sama. Mengerjakan PR. Padahal, sebenarnya dia juga sudah bisa, dan bahkan juga sebenarya
tidak ada PR sama sekali.
“Jadi, aku harus bagaimana, Ma?”
“Ya, yang elegan saja. Lihat saja kakakmu terus, dengan
teman wanita mana dia merasa nyaman. Amati wanita itu, dan tiru sikapnya. Kau juga
harus bersikap yang biasa, membuat ia senang bermain denganmu.”
“Terimakasih susunya, Mama. Aku ngantuk, akan tidur dulu.” Tanpa
menjawab nasehatnya tiba-tiba saja bocah itu ngeloyong pergi begitu saja.
Novita yang melihat sikap Adriel yang berbanding terbalik
dengan Adriel hanya bisa mengelengkan kepalanya saja sambil menghela napas
panjang. Tersenyum seorang diri. kemudian, diraihnya benda pipih di depannya
dan mencoba melihat obrolan yang seperti apa, sih yang dibicarakan antara
Adriel dan Berlyn itu?
Setelah melihat, isinya memang biasa saja. Ini obrolan wajar untuk anak-anak seusia mereka. Tapi, ada hak yang menarik perhatiannya. Ya itu emosi dalam setiap kalimat yang ditulis oleh putranya. Memang, selama ini dia tidak bisa berteman dengan banyak orang. Temannya hanya kakaknya, Bilqis dan Berlyn. Dia senang jika memiliki teman yang seusianya.
"Kau lihatin apa, Sayang senyum-senyum sendiri begitu?" sapa Candra. Yang setiap siang selalu menyempatkan diri untuk pulang. Makan siang di rumah dan melihat keadaan istrinya.
"Kamu sudah pulang, Ndra. Ini, aku lihat chatnya Adriel sama Berlyn. Lucu, ih buat anak seusia mereka," jawab Novi sambil menunjukkan ponselnya pada Candra.
Candra meraih benda pipih tersebut dan membacanya mulai dari atas. Lalu, pria itu pun juga ikut tertawa.
"Kayaknya kita sama Queen dan Al bakal jadi besan nih, besok," ucapnya sambil terpingkal.
"Kamu, apaan, sih? Wajar kan anak-anak. Besok dewasanya ginana juga tidak tahu," timpal Novita.
"Siapa tahu saja. Berlyn anaknya baik, dia juga cantik, kan? Kamu ga mau punya mantu dia?"
"Adriel baru berusia tujuh tahun. Kapan dia akan menikah yang jelas sudah lama. Kenapa kau malah memikirkan bocah kemarin sore, kalau Axel saja sudah dewasa?"
"Iya, ya? Terus gimana, dong? Serius nih kita besanan sama Nayla?" tanya Candra dengan lagak sok serius.
"Emang Axel dan Bilqis pacaran? Axel tidak pernah menunjukkan rasa sukanya pada Bilqis. Memang tidak benci. Tapi, untuk perasaan cinta itu enol."
"Iya juga, sih. Lagian Axel juga masih kuliah semester awal, kan?"
"Itu kamu tahu. Gitu kok sibuk sama Adriel yang baru kelas satu SD? Ya sudah, ayo makan siang dulu. Mama sudah masakin buat kamu," ajak Novita.
"Masak apa memangnya, dia?"
"Gulai dan sate kambing," jawab Novita.
"Wah, enak banget, itu," ucap Candra. Seketika ia mempercepat langkahnya. Karena tak sabar ingin segera menyantap makanan kesukaannya.
Usai makan siang, Candra pamit pada istri dan mamanya untuk kembali bekerja.
Sementara mama Dian, mengupayakan buah delima dan mengambil isinya memasukkan ke dalam mangkuk. Kemudian menghampiri Novita yang tengah beristirahat di kamarnya.
"Tok... tok... tok!"
Dengan perlahan Novita turun dari ranjang dan membukakan pintu. Di depan, berdiri mama mertuanya dengan sesuatu di tangannya.
"Mama! Masuk, Ma," ucap Novita sambil melebarkan pintu kamarnya.
"Mama bawain kamu buah delima. Tadi, nemu di pasar dan mama beli buat kamu, ini bagus lo buat ibu hamil. Kita duduk di halaman belakang, yuk!" ajak wanita itu.
"Baik, Ma." Novita dengan senang hati langsung mengekor berjalan di belakang mertuanya.
Sesampai di halaman belakang, mama Dian memberikan buah delima tersebut.
"Gimana rasanya? Enak?" tanya mama Dian dengan perhatian.
"Iya, manis banget. Terimakasih, ya Ma," ucap Novita sambil menikmati delima dengan mengambil satu persatu buah tersebut.
"Kamu tahu tidak, buah delima ini adalah salah satu buah yang sangat dianjurkan nabi kita untuk dikonsumsi oleh ibu hamil lo, Nov," ucap mama Dian. Memulai obrolan.
"Tidak, Ma. Benarkah? Kok bisa?"
"Iya, bisa mempercantik anak yang ada dalam kandungan. Semoga saja lahir cowok atau cewek, dia jadi anak yang cantik dan ganteng serta perilaku yang baik, ya Nov."
__ADS_1
"Aamiin. Terimakasih, Ma."
"Ya sudah. Kamu makan saja dulu ini. Setelah itu segeralah istirahat. Mama masih ada hal yang perlu di kerjakan. Jaga diri baik-baik, ya Sayang." Wanita itu pun kemudian pergi ke dapur. Mengecek bahan-bahan? Makanan yang sudah habis, ia mau keluar bertemu dengan teman-temannya. Sekalian belanja bahan-bahan makanan yang sudah habis dan persediaannya menipis.