
Sekitar jam sepuluh pagi, Alex mengurus administrasi sementata Al membantu Quen berkemas.
Mereka berdua terpaksa menuruti kemauan Quen. Dia tidak mau lagi tinggal di sini dengan alasan aku baik-baik saja. Aku ini calon dokter masa iya obname. Cepat bawa aku pulang.
Al dan Alex ga ada yang tahan mendengar celotehan Quen.
"Sudah, ayok menuju ke mobil." Alex pun tiba dan ia berjalan menggandeng Quen. Sementara di belakang Al menbawa tas berisi baju kotor Quen yang kemarin.
Saat ia keluar, Quen melihat segerombol perawat magang yang saling berbisik dan menatap ke arahnya. Quen sudah biasa dengan hal seperti ini jika berjalan dengan Alex maupun sang kakak.
Quen menoleh ke belakang dengan sengaja ia melihat ke arah kerumunan para perawat itu lalu melemparkan senyuman. Membuat mereka semua kelabakan. Jelas saja mereka sudah berfikir kalau orang yang dibicarakan menyadari.
Tiba di mobil Al dan Alex duduk di depan, sementara Quen dia ada di jog belakang.
"Kita mau kemana, kak?" tanya nya pada Al karena dia yang menyupir.
"Kita pulang ke rumah saja, ya? Di sana ada momy, Jeslyn tante erem dan juga Hanifah."
"Ke tempat kakek saja."
Al dan Alex mengambil napas dalam dan saling menoleh. Alex mengankat bahunya. Tanda dia menyerahkan segala keputusannya kepada Al.
"Quen. Kakak tidak melarang. Tapi kondisimu saat ini.... "
"Ayo kit cari makan dulu. Aku mau makan bebek bakar. Aku akan banyak makan nasi nanti," rengek Quen sambil memeluk sandaran kursi Al.
"Ya sudah, makan yang banyak, nanti kita ke sana."
"Mamasih, Kak." Gadis itu pun tersenyum senang. Begitu sang kakak menyetujuinya.
Al dan Alex mengamati Quen yang tengah makan. Dia tidak lahap, malah terkesan memaksakan dan dibuat-buat seolah dia tidak ada beban. Dalam titik seperti ini, sebenarnya dalam titik terburuk. Bahkan hal yang Alex takutkan Quen menjadi gila karena tidak sanggup dengan beban yang dia pikul.
Dan benar saja. Saat ia memasukan suapan yang ke empat. Air mata itu kembali jatuh. Tapi. Gadis itu tertap tersenyum dan berkata, "Sambalnya terlalu pedas. Kau pesan yang level berapa ini?"
Alex tahu Quen hanya mencari alasan untuk tidak menunjukan kesedihannya. Bahkan, dia masih sempat mengingatkan suaminya kalau hari ini jam dua dia ada tugas mengajar.
"Alex, jam dua nanti kau ke kampus, kan?"
"Aku bisa izin dulu, Sayang."
"Jangan aku kau jadikan alasan. Jadilah dosen yang baik dan profesional dalam menangani masalah. Kapan urusan kampus dan rumah jangan dicampur adukan. Besok aku juga ada praktik. Aku akan tetap masuk," ucap Quen.
Sementara Al dia hanya diam membisu saja. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang tipis dan kemerahan itu.
Alex tersenyum tipis, sangat tipis bahkan hampir saja tidak terlihat lalu memberi sedikit anggukan.
"Kakak tidam sibuk, kah? Titip Quen dulu, ya?" ucap Alex kepada saudara iparnya.
"Iya, kan ada Nayla dan Hani pula," jawab Al.
"Hani? Hanifah?" sahut Quen. Dengan ekspresi muka bingung.
"Hanifah itu cocok untuk nama cewek alim berhijab. La Hanifah ini. perempuan bertato perokok dan mabuk. Ya hani aja lah," jawab Al.
"Mesra banget manggilnya. Jangan-jangan serius ini mau beristri dua."
"Stt jangan gitu, kak Nay marah nanti," bisik Al.
Usai makan tiga orang itu pun langsung menuju rumah sakit di mana papa mama dan kakeknya dinrawat. Berhubung i ICU tidak boleh masuk, mereka ke tempat Andrean di rawat.
Di sana Andrean tapak diam memandangi jendela. Dengan suara sedikit lantang Quen menyapa sang kakek. Sementara dua pria itu berdiri di belakangnya seperti bodyguard.
__ADS_1
"Kakek!"
Andrean dan Nayla pun menoleh melihat ke arah gadis itu. Wajahnya pucat bibirnya pun nampak putih bagaikan salju, ia tersenyum tapi, matanya tidak bisa menyembunyikan segalanya.
Meski ia memakai pakaian longgar, sebagai sesama wanita Nayla menyadari kalau perut Quen lebih kecil. Tak ada lagi janin di dalamnya. Tapi, ia ragu. Rasanya tidal mungkin dia bisa tersenyum kembali atas apa yang sudah menimpanya.
Nayla hanya mendekati suaminya tidak berani menanyakan soal kandungan Quen. Sebab, melihat wajah Alex, ia nampak benar-benar terpukul.
Begitu pun Andrean, dia tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum sambil mengelus kepala cucunya. Memang, ia belum sepenuhnya dapat berdamai dengan hatinya. Tapo setidaknya dengan melihat Quen, kesedihannya sedikit terobati.
Tanpa sengaja Andrean melihat ke arah tangan Quen. Ada bekas infusan di sana.
"Kau sakit, Nak?"
"Tidak. Seperti yang kakek Lihat. Aku sedang dalam keadaan baik dan sehat. Aku dengar kakek besok sudah bisa pulang, ya?"
"Lalu ini apa?" ucap Andrean memegang tangan kiri Quen.
"Cuma kecapekan saja, Kek."
"Kamu jangan terlalu stres. Semua sudah suratan takdir. Yang dibutuhkan kakek dan nenek di sana hanyakah doa dan keihlasan kita. Begutupun papa dan mamamu. Kita berdoa dan meminta saja yang banyak pada allah agar mereka diangkat sakitnya dan disembuhkan sepertu sedia kala."
Mendengar nasehat itu, air mata Quen kembali jatuh tangisannya pun pecah. Susah payah dia memasang wajah baik-baik saja. Membohongo hati kalau dia tidak apa-apa. Tapi, nayatanya kebohongan itu tidaklah bertahan lama.
"Kek, aku keguguran." Quen kembali tertunduk dan sesenggukan. Di samping sang kakek.
"Alex, yang sabar, ya?" ucap Nayla, ikut sedih.
🍁 🍁 🍁 🍁
Hari pertama Quen kembali ke rumah sakit medika sehat sebagai koas. Memang tidak ada senyuman dam keceriaan lagi di wajahnya. Tapi, sebisa mungkin dia tetap fokus dengan praktik dan materi baru yang dia dapat dari dosen atau dokter pembimbingnya.
Gea dan Diaz sudah menunggunya di ruangan para koas. Begitu Quen masuk, dua orang itu seolang saling berlomba siapa yang lebih dulu tiba di hadapan gadis itu.
Gea tidak melanjutkan kalinatnya saat melihat ke arah perut Quen yang kembali ramping seperti saat gadis dulu.
"Terimakasih, ya? Ia bayiku lebih memilih tinggal bersama kakek dan nenek buyutnya di sana."
Quen pun langsung meletakan tasnya ke dalam loker, dan duduk bersimpuh di atas lantai mengecek ulang tugas yang dikerjakan di rumah sebelum mengumpulkannya.
Diaz berjalan dan duduk di sebelah Quen dan berkata, "Maaf jika kemarin aku tidak ikut bersama mereka. Aku tidak tahu. Aku juga kaget saat tahu dari Gea barusan. Tidak menyangka kalau berita kecelakaan yang kulihat di kampung kemarin adalah orang tua kamu."
Diaz tampak ikut lemas soelah ikut merasakan kesedihan yang Quen rasakan. Rasanya baru kemarin dia melihat betapa dia dan suaminya bahagia menunggu antrian di depan ruang USG. Tidak hanya itu, gadis itu sering mengajak ngobrol dan mengelus bayinya saat istirahat atau waktu luang. Kelihatan sekali kalau dia sangat menantikan kedatangan bayi itu. Tapi tuhan berkata lain.
Quen meletakan tugasnya di atas lantai. Dengan tatapan mata kosong kembali dia berceloteh, "Diaz, kau tahu, padahal pagi sebelum papaku beraangkat ke bandara aku masih sempat memeluknya dan berkata dia terlalu sibuk dengan perkerjaannya. Dia berjanji setelah tiba dari Prancis dia akan sering menemaniku di rumah dan kemana saja saat Alex sibuk di gym atau di kampus. Bahkan dia juga berjanji selama tidak di luar kota dia akan menjemputku. Aku tahu, dia akan bangun dan menepati janjinya itu, iya, kan Diaz?"
Air mata Quen kembali mengalir dan dia mengusapnya dengan kasar.
Dalam hati dia berkata, jangan menangis, Quen. Cukup. Lima belas menit lagi saatnya bekerja!
"Ya, kau percaya kan, mukjizat itu ada?"
"Apa itu mukjizat?" tanya Quen, mendongak ke arah Diaz.
"Mukjizat adalah keajaiban. Sesuatu yang terjadi atas kehendak allah yang kadang tidak nalar di akal manusia. Kau dengar kisah para nabi? Nabi Ibrahim saat dilemparkan pada kobaran api beliau tidak terbakar. Malah api itu mati. Serta nabi Musa yang dapat membelah lautan."
Quen mengusap air matanya kembali dan menatap wajah Diaz penuh perhatian. "Aku pernah dengar dan baca cerita seperti itu, tapi dulu saat di bangku SD. Dan kau masih meningatnya? Jadi, selama aku tidak bosan meminta dalam doa atas kesembuhan papa mamaku allah akan kabulkan?"
"Insyaallah," ucap Diaz mengangguk dan tersenyum lebar.
"Jangan putus asa, ya?" Tanpa sadar pria itu menepuk punggung Quen membuatnya bergetar dan jantunya berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Aku pergi ke poli umum dulu," pamit Diaz.
Saat di koridor menuju poli umum, dia tidak habis pikir. Selama ini dia tidak pernah menyentuh wanita yang bukan muhrim, kenapa dia malah menyentuh Quen?
Dengan keras Diaz berusaha mengusir bayangan Quen kawatir nanti salah memberikan obat. Bisa-busa dia gagal menjadi dokter, lagi.
"Quen, aku turut berduka cita atas musibah yang telah menimpamu."
"Terimakasih, Pak." Quen sebenarnya malas dengan Aditya, tapi, dia harus bersikap propesional pula. mana di rumah mana tempat kerja. lagi pula di sini ada beberapa koas dan dokter pembimbing lain. jadi, dia tidak akan berani berbuat kurang ajar kepadanya.
"Kamu juga yang kuat dan tabah ya atas kepergian calon bayimu. aku juga turut sedih. bagaimana pun dia juga keponakanku."
Quen tersenyum dan memohon izin untuk menyerahlan hasil laporannya kepada dr.Lusi.
sepanjang perjalanan tidada hentinya gadis itu mengumpat dalam hati prihal Aditya yang sudah tidak lagi waras itu.
"Sialan, pake bilang kepobakan pula di depan banyak orang. sebisa mungkin dia selama ini menutupi hubungannya dengan dr.Aditya Mahendra. tapi, malah dengan lantang dia mengatakan di hadapan banyak orang. semoga aja gak ada yang tahu kalau dia dan aku pernah ada sesuatu, atau... akau akan sangat malu sekali," gumam Quen dalam hati.
🍁 🍁 🍁 🍁
Alex meraih handuk kecil yang ia kaitkan pada pintu loker. lalu, dia mengambil gawainya untuk menelfon Quen. sambil menunggu panggilannya rerhubung, tangan kanannya meraih botol air mineral dan meneguknya.
"Selamat siang Tuan Putri. Bagaimana harimu di tempat praktik?" goda Alex.
"Lumayan, lebih baik dari pada hanya diam di rumah saja. Tadi, teman-teman ngucapin bela sungkawa padaku. dan ternyata kemarin paa aku di rumah sakit mereka pada ke sana, Yank, untuk takziah."
"Oh, ya? aku juga tidak tahu, sih. jadi tidak bilang apa-apa ke kamu."
"Ya, aku paham. kau setia menemaniku kemarin. kau sudah makan?"
"Ya, sudah. tinggal nunggu temen aja buat fitnes bareng di sini. kau tidak ingin maen ke sini. banyak lo, emak-emak muda yang ikut erobik," ucap Alex sambil terkekeh.
Quen menangkap apa yang ada dalam benak suaminya. wanita yang ikut senam gak akan jauh-jauh dengan baju sexy dan presbody. hampir seperti orang berenang, lah.
"Enak, ya tiap hari cuci mata dengan yang bohay-bohay," jawab Quen.
"Tidak... mereka sudah pada melar, bagusan juga body kamu, aku suka. makanya kesini, lah biar tahu."
"Gak mau, aku nanti kurus kalau di sana!" jawab Quen berlagak sewot.
"Ya tidak, lah!"
"Kan makan hati terus," jawan Quen singkat.
"Kamu makan aku saja."
"Dasar! ya sudah ya Lex. aku ke kantin dulu." Quen pun nematikan panggilannya.
Sementara Alex masih sempat tersenyum sendiri setelah panggilan berakhir. dipandanginya beberapa foto dirinya dan Quen lalu, ia menyimpan ponselnya ke dalam loker.
"Pak, ada seorang wanita yang mencari anda. katanya perlu instruktur fitnes tapi, minta anda sendiri yang menanganinya," ucap salah satu orang yang juga dipekerjakan Alex di sini sebahai instruktor.
"siapa?" tanya Alex. eneg duluan jika menekui wanita yang seperti ini.
"Saya tidak kenal, Pak. silahkan saja anda temui dulu," pinta pria yang yang berkebangsaan Indonesia tulen itu.
Alex menghembuskan napas dengan kasar, Ia pun berjalan meninggalkan loker menuju di mana tamu wanita itu menunggunya.
di sebuah sofa, Alex melihar seroang wanita duduk membelakanginya. rambut hitamnya diikat ekor kuda bahkan, ia nampak sudah siap jika dilihat dari pakaiannya. ia memakai pakaian senam bermodel tangtop yang memamerkan sebagian perut serta lekuk tubuh sengan bawahan leging sebawah lutut.
"Permisi, apakah anda mencari saya?" sapa Alex.
__ADS_1
mendengar suara sapaan Alex Wanita itu pun menoleh kebelakang menunjukan wajanya pada pria yang baru saja menyapanya itu.