Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 109


__ADS_3

Kamu serius mau naik motor sama aku?" Mata Diaz terbelalak kaget, tak percaya.


"Ya, iyalah, kau kira aku bercanda dan pura-pura mau? kalau tidak, aku tidak akan mengikutimu berjalan sampai sini."


Diaz memasang eksprsi kecut, dalam hati dia mengumpat, 'Yang basa basi itu aku, Quen. kenapa kau mau aku antar? tidakkah kau malu, atau gengsi? tidakkah kau takut masuk anggin?'


"Tapi aku cuma ada satu helmet, bagaimana?" ucap Diaz berusaha mencari alasan.


"Memangnya kenapa? kalau kau mau aku yang pake, kamu duduk dibelakang. A yg nyetir."


"Ya sudah, Ayo! Ini kamu pakai jaketku saja!" akhirnya pria itu pun kehilangan kata-kata.


Tanpa ragu, Quen pun menyambar jaket yang Diaz berikan lalu memakainya.


"Quen, kau ini sudah bersuami, aku tidak enak dengan suamimu. Apa yang mereka pikirkan nanti tentang aku?"


"Kenapa? Apa yang mau dipikirkan? Kita berbuat mesum? Pelukan dan ciuman di jalan? Ini motor akan kelihatan, beda dengan mobil, ada apa-apa di dalan yang di luar tidak tahu."


Bahkan baru kali ini Diaz menemui wanita yang susah dikalahkan dalam perdebatan. Benar, Quen bukanlah orang yang lemah, dia wanita yang tegar dan kuat. Dan air mata itu, karna dia sudah tidak mampu lagi menahan semua beban hatinya. Sebab, yang dia dengar dari Gea gadis itu tidak pernah sengsara dan selalh mendapatkan kasih sayang dari kakek nenek, papa, mama dan juga kakaknya.


Ya, hal itu terlihat bagaimana Al memandang dan memperlalukannya. Pria itu juga tampak selalu kalah dan mengalah jika berurusan dengan wanita ini.


"Quen, apakah kau tidak apa-apa?"


Tanya Diaz lagi saat merasakan gadis yang diboncengnya menempel pada punggungnya. Jelas, pria itu tidak terbiasa dan merasa sedikit tisak nyaman.


"Tidak, memang kenapa? Kau tidak suka aku menempel begini, ya? Maaf. Aku terbiasa saat dengan kakakku dulu. Dulu sebelum dia menikah, kami sering jalan-jalan naik motor, entah kemana pun itu. Kadang dia antar jemput aku sekolah ya pake motor, Diaz."


"Di depan ada dua jalan, kita luru, apa belok kiri?" ucap Diaz mengalihkan pembicaraan.


"Lurus, kira-kira limaratus meter, ada pagar berwarna putih dan kuning emas kiri jalan itu rumahku."


Diaz tidak memjawab, dia hanya mengikuti intruksi yang Quen berikan saja. Sekitar limamenit tiba di depan ya g Quen maksut, pria itu dengan ragu-ragu menghentikan motornya.


Quen pun turun, berdiri di sebelah Diaz yang masih di atas motor. "Ayo mampir dulu, pasti Gea masih ada di dalam. Kami belum menemukan sopir baru untuk menggantikan almarhum pak makmur, jadi, aku harus membukanya sendiri," ucap Quen sambil menggeser pagar.


Diaz melirik ke dalam pagar, terpampang halaman yang sangat luas dengan tatanan taman yang indah serta rumah yang begitu megah.


"Ini sudah sore, lain kali saja, ya? Aku harus bekerja malam ini," ucap Diaz lalu ia pun berpamitan pada Quen dam melajukan kendaraannya.


Quen memandang punggung Diaz sampai tak nampak dari pandangan matanya. Dengan lemas ia pun masuk ke dalam rumah. Di dalam, nampak orang-orang yang ada di rumah sakit tadi, juga Om Hans dan Hanifah. Tapi, tante Eren tidak ada.


"Di mana tante?" tanya Quen entah di tujukan pada siapa. Hanya Hanifah yang menjawab pertanyaannya.


"Mama ada di dalam kamar, dia menemani kakek."


Quen pun berjalan menuju kamar kakeknya di dalam ada Nayla dan Eren yang nampak sibuk. Membereskan barang-barang.


Tanpa sepatah kata pun, Quen duduk di sebelah kakeknya. Ia sedih melihat keadaan sang kakek, tapi, ia sudah tak lagi dapat menangis.


Sudah duapuluh menit gadis itu di dalam, tapi, tidak sepatah kata pun terucap darinya.


Memang Quen berubah drastis. sejak kecelakaan itu dia lebih banyak diam. Padahal sebelumnya dia bawel manja dan selalu ada aja yang dia ceritakan kepada kakek nenek, mama papa dan juga kakaknya. Tapi kali ini, andai dia ingin bicara dia hanya akan bilanh tentang hatinya yang sakit. Tapi, dia tahu, orang yang mendengarnya akan bosan jadi, dia pun diam.


🍁 🍁 🍁 🍁


"Papa, lihat kertas ini, di situ ada namaku sebagai peserta lomba cerdas cermat tingkat kabupaten, loh," ucap bocah berambut cokelat itu dengan rasa bangga.


Sendangkan Aditya yang kelelahan dari pulang kerja, wajahnya yang kusut berubah sembringah dalam beberapa detik saja.


"Mana? Coba papa lihat."

__ADS_1


"Wah, anak papa benar-benar hebat," ucap Aditya dengan penuh rasa bangga.


"Ini minggu depan, Pah. Apakah papa bisa ikut hadir? Cuma satu tahun sekali saja, pa." rengek bocah itu membuat Aditya teringat akan seseorang yang paling manja padanya setelah putranya.


Aditya pun tersenyum kecil bukan karena rengekan putranya. Tapi, karena dia teringat Quen.


"Baiklah, papa akan ikut. Sekarang kau belajaralah!" serunya. Lalu, pria itu pun berjalan ke dapur saat hidungnya mencium aroma masakan favoritnya.


Adit melihat wanita di dapur tengah sibuk memotongi sayur sambil sesekali mengadik sesuatu yang ada di atas kompor. Dia mengedip dan mengucek matanya beberapa kali.


"Apakah mataku sedang sakit? Atau saraf di otak yang berhubungan dengan mataku telah rusak? Wanita itu Quen? Hah, mana mungkin, dia Novi, pasti Novi," gerutunya dalam hati.


Mulanya Aditya ingin pergi. Tapi urung, dia malah mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Adit, kau sudah pulang, sayang? Bagaimana aku tidak mendengarnya?" ucap Novita sambil tangannya sibuk meneruskan mencuci piring.


"Kau terlalu sibuk, bagaimana bisa dengar?" ucap Adit setengah berbisik di telinga istrinya. Sementara kedua tangannya bergerilya di area pinggang dan bawah tubuhnya.


"Dithh... Aku masih masak, nih," lenguh Novita.


"Ya, aku tahu... Lanjutkan saja aktifitasmu. Aku juga memiliki aktifitasku sendiri." goda Adit sambil mencium dan sesekali menjilati leher jenjang Novita.


"Aktifitasmu menggangguku." Dengan cekatan Novita meraih pematik kompor dan mematikannya ia memutar badannya dan berhadapan dengan Aditya, merespon apa yang suaminya lakukam kepadanya.


"Nov.... Maafkan aku selama ini," bisik Adit sambil memegangi kedua pipi Novita dan mulai melumat bibirnya.


Saat keduanya sama-sama terhanyut dalam permainan masing-masing, tiba-tiba...


"Novita! Tidak sopan sekali kau melakukan ini di dapur. Apakah tidak ada kamar? Lalu, bagaimana kalau Axel melihatnya?"


Dengan cepat dan buru-buru Adit dan Novita memjaga jarak, jantungnya berdetak lebih cepat karna benar-benar terkejut oleh teriakan mama Rita.


"Kapan kau datang? Lihat, pintu terbuka lebar dipanggili kalian bahkan tidak dengar. Kalau ada maling, tau-tau rumahmu sudah kosong baru kalian sadar dan bertetiak maling."


Aditya pun jadi makin kikuk. Tak tahu harus bagaimana. tapi, dengan cepat ia mengesampingkan rasa malunya. Meski bagaimana pun mereka juga sudah pasangan suami istrinya.


"Momy, duduklah! Apakah Momy bersama papy?" tanya Aditya sambil menarikkan kursi untuk mertuanya.


"Tidak, papi masih berada di rumah Alex. Di mana Axel? Momy kangen sama dia."


"Dia belajar di dalam kamarnya, Ma," sahut Novita.


Mama Rita hendak beranjak. Tapi, beberapa langkah kemudian ia menghentikan langkahnya dan meliat tajam ke arah anak dan memantunya.


"Mama rasa kalian masih dalam suasana honeymoon. Bagaimana kalau Axel ikut mama ke New York saja?"


"Oh, tidak perlu, Ma. Kita bisa kan Sayang jaga dia? Lagi pula, Axel lebih sering bersama neneknya di jalan Merdeka, kok," jawab Novita dengan agak gugup.


"Lalu, bagaimana kalian bisa seceroboh ini melakukan di dapur, kalau sampai dia lihat, bagaimana kalian menjelaskannya?" ucap Rika bersungut-sungut.


Novita dan Adit pun bernapas lega begitu melihat mama Rika masuk ke dalam kamar putra mereka.


Keduanya saling pandang lalu sama-sama tertawa.


"Kau mandilah dulu, Sayang. Aku lanjutin menata makaman dulu di meja makan, nanti kita makan bareng-bareng, ya?" ucap Novita sambil tersemyum.


Aditya mendekatkan wajahnya dan mengecup kening istrinya dan berbisik, "Iya, sayang."


🍁 🍁 🍁 🍁


Al mendorong kursi roda Andrean keluar menuju halaman depan untuk berjemur. Ia berhenti tepat di bawah tempat yang paling banyak menerima sinar.

__ADS_1


Ia memijati kedua pundak kakeknya dengan pelan dan penuh kasih sayang.


"Al, kakek tahu, kau pasti sangat sibuk sekarang. Semua perusahaan kamu yang menghandlenya sendiri. Jika kau kewalahan, serahkan sebagian untk kakek. Atau, di garemen kakek yang pegang agar kamu juga ada waktu untuk keluarga," tutur Andrean.


"Kakek fokus aja dengan kesehatan kakek agar segera pulih. Al masih mampu menghendle semuanya."


Andrean tersenyum denga pandangan masih lurus ke depan.


"Al, Kakek tahu kau sangat sibuk dan waktu untuk keluarga kecilmu banyak tersita sekarang kakek minta maaf. Tapi, memang tak dapat dipungkiri. Kakek merasa kesepiam sekali dengan kondisi ini. Kakel sebenarnya butuh sosok teman untuk menemani kakek ngobrol dan mengalihkan rasa sedih setelah insiden itu yang sukses merenggut nyawa kakak dan istri kakek. Juga membuat anak-anak kakek terbaring koma hingga saat ini. Andai kakek punya pandangan untuk teman, apakah kau juga akan menurutinya?"


"Katakan saja, Kek. Kakek mau siapa?" ucap Al tegas.


"Kakek ingin teman seperti Diaz. Anak itu berhasil mencuri perhatian kakek, Al."


"Diaz? Maksut kakek Diaz temannya Quen itu?"


"Iya, entah kenapa kakek merasa suka dan senang pada ank itu. Apa karna dia temannta Quen, atau memang anak kedokteran? Bahkan kakek tidak tahu, Al."


"Al akan bawa dia kemari untuk temani kakek," ucap Al hendak beranjak.


"Al, biar kakek saja yang memintanya dengan cara kakek sendiri. Asal kau sudah seruju," cegah Andrean. Dan Al pun terpaksa mengikuti kemauan sang kakek.


Al pun kembali menemani sang kakek, menuruti kemaruannya berkeliling area komplek perumahan.


"Kenapa kakek mau dia yang menemani? Bukannya kalau perawat enakan perempuan?" ucap Al memulai percakapan.


"Di rumah sudah tidak ada laki-laki Al. Kalau kamu pergi, jika ada apa-apa, bagaimana dengan paea wanita di rumah? Kakek sudah tidak bisa berbuat banyak sekarang," jawab Andrean, merasa bersalah.


Al dalam hati membenarkan maksut sang kakek. Bahkan dari awal, kenapa dia tidak kepikiran akan hal itu, ya? Umpatnya dalam hati.


"Kek, sudah jam tujuh, kita kembali, ya? Al harus bekerja," ucap Al, seraya membalikan arah kursi roda, menuju rumah.


"Iya, kau bekerjalah dengan baik. Jangan terlalu dipaksakan jika memang kau tak sanggup menghendlenya sendiri. Kakek bersedia, Al." pesan Andrean.


Sementara saat ia masuk me dalam rumah nampak semuanya tengah sibuk. Al baru turun dsri tangga sambil menggandeng Bilqis yang sudah rapih berseragam. Sementara Quen menyiapkan sarapan di banti oleh bik Yul.


Melihat pemandangan itu. Tiba-tiba hati Andrean sangat trenyuh. Biasa ya yang sibuk di dapur Clara dan Quen. Sekarang malah dia tidak berdaya dalam tidur panjangnya dan hanya tuhan yang tahu kapan ia akan sadar.


Quen melihat ke arah sang kakek dan melemparinya sebuah senyuman tanpa sepatah kata pun. Membuat hati Andrean bergetar. Dengan penampilan acak dan hilang sifatnya kekanakan beberapa hari ini membuat Quen sangat miril dengan Clara.


Andrean tertunduk. Menyembunyikan kesedihannya, dan bergumam dalam hati, "Bukannya dari awal Quen memang sudah sangat mirib dengan Clara. Hanya saja, Quen dan Clara jalan hidupnya berbeda.


Clara dari kecil hidup sendiri dengan mamanya yang seorang jamda, sehingga membuatnya dewasa belum waktunya, sementara Quen, hidup dengan kemewahan dan memiliki kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua, tiga kakek nenek, dan juga seorang kakak angkat yang baik dan sayangnya sudah melebihi kakak kandung saja. Jadi, wajar jika hal itu membuatnya manja dan memiliri rasa bergantung lebih besar daripada Clara.


Karena terlalu larut dalam bayangannya masa lalu saat bersama mendiang sang istri Clara dan juga Vano, membuat Andream tak sadark sejak kapan Quen sudah berjongkok di depannya.


"Kakek, nanti Alex kemari, dia akan menerapi syaraf kaki kakek agar bisa segera pulih dan bisa berjalan. Kebetulan kami hari ini kosong," ucap Quen menunjukan senyumannya yang lembut.


Andrean tersenyum tak mampu berkata apa-apa selain hanya mengelus kepala cucunya itu. Dia memang tidak berkata apapun. Tapi hatinya sangat bergemuruh antara senang dan sedih. Dalam hati ia berkata, 'Clara, cepatlah sadar dari tidur panjangmu! Lihalah putri kecilmu! Dia sudah terlihat sangat dewasa dan kalem sekang, persis dirimu yang saat ini. Dan Al, entahlah Vano junior mian sibuk, Van. Sadarlah Nak. Temani dan bantu tia handle perusahaan kita. Kasian dia.'


"Kakek, kok diam? Ok. Aku nanti juga akan minta Diaz kemari. Kakek suka sama dia, kan?" tanya Quen demhan lembut membuat Andrean tersenyum bangga karena merasa dimengerti oleh kedua cucunya.


"Kakek merasa beruntung memiliki dua cucu seperti kalian, Nak. Meskipun kalian sudah sama-sama memiliki keluarga. Tapi, kalian tetap saja memprioritaskan kakekmu yang lumpuh dan tak bisa apa-apa lagi ini."


"Sudah kewajiban kami, kek. Ayo kek kita sarapan." Quen pun mendorong kursi roda Andrean ke meja makan.


Bahkan gadis itu juga mengambilkan makanan apa yang ingin kakeknya makan, dan hendak menyuapinya.


"Quen, yang lumpuh itu kaki kakek, tangan masih berfungsi dengan baik, jangan terlalu kau manja kakekmu ini!" Seru Andrean sambil tersenyum lebar.


"Tidak apa-apa, dulu kakek kan yang sering suapin Quen dan kak, Al? Lalu, apa salahnya sekarang kamu yang menyuapi kakek?" jawab Quen. Tapi, Andrean bersikeras makam sendiri. Di suapi baginya hanya akan menambah kesedihan. Membuatnya teringat akan mendiang sang istri.

__ADS_1


__ADS_2