
“Aku bilang pada Nayla kemarin aku pergi ke Bandung, kau
ikut pulang bersamaku, atau, kau pulang saja lebih dulu.”
“Aku akan ke rumah lebih dulu saja. Kau, jika memang ada hal
yang perlu kau kerjakan, kerjakan saja. Cepat kembali setelahnya.”
“Baiklah. Jadi, sekarang aku mengantarkanmu ke apartemen
dulu?”
Queen henya menjawab dengan anggukan dan senyuman pada Al
yang tengah mengemudikan mobil.
Queen mencuri pandang pada Al. Melihatnya ketika tengah
serius dan dari samping… ‘Hemb… pria memang lebih terlihat tampan jika dia
terlihat tengah serius. Dari sisi manapun.’ Mata Queen menikmati setiap inci
wajah Al, bahkan, mulai dari alis yang tebal, bulu mata lentik, hidung mancung,
rahang kokoh sampai dada bidang Al, bahkan sepasang lengan yang kekar, tak
luput dari pandangan wanita itu.
‘Dia sebagai pria memang mendekati sempurna, dan sangat
sempurna bagi mereka yang tidak tahu sisi liar dan ******** yang ia milikki,
wajar saja, banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan dirinya. Tapi, aku.
Tanpa melakukan apapun bahkan, mendapatkan apa yang kebanyakana wanita luar
dambakan dari dirinya. Ya Tuhan… Kenapa aku memujinya? Apakah aku mulai jatuh
cinta pada ******** ini? Aku tak mungkin, kan memiliki anak dari pria macam
ini?’
Queen segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan ketika
ponsel Al yang berada di dashboard mobil berdering. Dengan cepat Al meraih dan
mengangkat panggilan itu.
“Ada apa, Vic?”
“Tidak ada masalah… Kau di mana, Bro?”
“Aku di perjalanan, akan menuju ke paratmen Queen. Apakah
liburanmu menyenangkan? Kenapa tidak sampai satu minggu?”
“Oke, cukup. Aku akan mematikan ponselnya.”
“apa maunya bocah gila itu,” gerutu Al seorang diri dan
melempar kembali layar sentuhnya ke atas dashboard.
Usai menghubungi Al, Vico meminta sopir untuk menuju ke
apartemen tempat Queen tinggal. Akan menyampaikan kabar baik yang memang ingin
dia sampaikan secara langsung.
Sampai di depan pintu, Bahkan Vico tidak mengabari Al
kembali, ia yakin sahabatnya masih ada di dalam. Jadi, ia begitu saja membuka
pintu yang hanya tertutup dan tidak terkunci.
“Surpriese!” Teriak Vico sambil membuka pintu.
“Menyingkir dari atas tubuhku!” seru Queen seketika itu
juga. Ia mendorong tubuh Al, dan buru-buru menutup bagian depan tubunya dengan
baju yang bahkan hampir seluruh kancingnya terbuka.
Vico yang datang dengan maksut memberi kejutan, ia justru
dibuat kejutan oleh pasangan yang baru menikah dengan terpaksa itu. ‘Ah, ini
Queen yang sudah mulai jatuh cinta pada Al, atau informasi yang kudapat dari si
brengksek Juna itu salah? Mana mungkin jika dia tidak cinta mau saja
diperlakukan seperti itu, Dan barusan juga tidak seperti adegan pemerkosaan,
kan?’ pikir Vico sambil nyengir saat mendapati tatapan membunuh dari Al yang
terjatuh di atas lanbtai akibat dorngan keras dari Queen. Sementara Queen
sendiri ia sudah berlari ke dalam kamarnya. Mungkin saja malu.
“Tidak bisakah kau sopan dan menggunakan etika saat masuk ke
rumah orang?” ucap Al dengan nada datar dan dingin.
“Aku tidak tahu, kalau kau sedang mengadakan ritual dengannya.
Katanya dia membencimu,” jawab Vico dengan raut muka malu, merasa bersalah jadi
satu.
Queen menguping pembicaraan dua pria yang ada di ruang tamu
tersebut. Jarak kamar dan ruang tamu yang tidak begitu jauh membuat ia bisa
menangkap dengan jelas isi pembicaraan mereka.
“Susah payah aku bisa merayunya, tapi kau malah menghancurkannya.
Kau pikir jika dia sudah mau tinggal kembali di rumah aku bisa bebas apa
melakukan ini? Kapan dia jatuh cintanya sama aku?”
“Om Vano belum tahu?”
“Cuma kakek Andrean yang mengetahui rahasia ini.”
Vico tampat mengangguk-angguk. Tak lama kemudian Queen
keluar masih dengan baju yang sama, namun ia menyeret kopernya.
“Kalian lanjutklan dulu, aku akan kembali ke rumah,” ucap
Queen tanpa memandang satu pria yang ada di sana. Kemudian ia pun keluar meninggalkan
apartemen.
‘Dengan begini, dia tidak bisa berbuat seenaknya padaku di
rumah itu. Toh, dia masih takut ketahuan Nayla, kan?’
Tanpa terasa sudah hampir tiga bulan lamanya Queen kembali
tinggal di rumah itu. Bahkan, rencananya Vano akan kembali terjun ke perusahaan
dalam waktu dekat ini.
Sementara Nayla, tidak hanya memberikan sejumblah uang saja
pada Jevin. Melainkan, ia mulai berani mengambil uang dari Al untuk membelikan
mobil pada Jevin. Entah dia sadar atau tidak, kalau kali ini Jevin sudah memoroti
dirinya. Jika dulu, pria itu hanya meprioritaskan bertemu dan chek in ke hotel,
sekarang Jevin justru lebih jarang bertemu, kecuali jika ada permintaan besar
di atas sepuluh lima puluh juta.
“Suka sama mbilnya tidak, Jev?” tanya Nayla setelah memberi
kejutan berupa mobil ruhs warna hitam.
“Ya, aku suka sekali, termakasih sayang. Walau pun tidak
sebagaus ferarry dan Lamborghini, setidaknya ini adalah milikku sendiri, kan?”
ucap Jevin sambil memeluk Nayla.
__ADS_1
“Ya sudah, kau sekarang tidak perlu menggunakan mobil
perusaan. Pakai saja ini.”
“Iya, terimakasih, Sayang. Aku jadi makin cinta saja sama
kamu.”
“Jev, mas Al kian cuek saja sama aku. Bahkan, aku curiga dia
ada main belakang di belakangku,” ucap Nayla sambil menyandarkan kepalanya di
pundak Jevin.
“Tenang, kan kamu ada aku. Kelak, seandainya dia benar-benar
berpaling darimu, dan meningglakanmu, aku akan menikahimu. Aku juga akan menerima
Bilqis seperti anakku sendiri. Akan menjadi ayah yang jauh lebih baik daripada
Al.”
“Makasih, Jev.” Nayla pun memeluk tubuh pria itu.
Di tengah-tengah kesunyian di dalam mobil, sebuah panggilan
masuk ke dalam ponsel Jevin. Pria itu mengintip sekilas, dari saku kemejanya.
Nampak olehnya foto seorang gadis muda berusia kira-kira duapuluh tahunan. Jevin
diam, mengabaikan panggilan itu.
Sementara Nayla menarik tubuhnya dari dada pria itu dan
memandang wajahnya. “Siapa yang baru saja menelfonmu?”
Jevin diam tidak menjawab.
“PINK!” Kembali sebuah chat masuk. Tanpa basa-basi, Nayla
meraih ponsel itu, dan membuka pesan tersebut. Rupanya chat baru saja dibersihkan
oleh pemiliknya, taka da pesan lain selain pesan yang baru saja masuk itu. Di
sana tertulis atas nama Lunamemberitahukan pada Jevin begini. “Mas, mama sudah
kuantar pulang, ini aku kembali ke kos-kosan, kapan kamu bisa kirim aku uang?
Untuk semester ini, aku belum bayar, nih!”
“Siapa, Luna?” tanya Nayla, menatap pria di hadapannya
dengan tatapan penuh selidik.
“Ah, itu.. Dia adalah addikku. Iya, dia adikku yang kuliah
yang kapan hari bilang perlu uang buat melunasi daftar ulang itu,” jawab Jevin.
“Memang butuh berapa?’’ tanya Nayla lirih.
“Tidak banyak, Cuma sekitar lima juta saja,” jawab Jevin.
Sebenarnya dia ingin memoroti lebih banyak uang lagi pada Nayla. Tapi, ia masih
memiliki sedikit rasa sungkan, karena ia beru saja dibelikan mobil baru oleh
pacar gelapnya.
“Ini aku ada Cuma empat juta. Kamu ambil, satu juta kamu
nambahin bisa, kan?” Nayla mengeluarkan sejumblah uang ratusan ribu dan
memberikannya pada Jevin. Kemudian ia pergi.
Hari ini Nayla benar-benar merasa kacau. Uang yang sudah
lama ia kumpulkan dari jatah bulanan yang diberikan Al habis dalam sekejap. Tapi,
ia berusaha positive thingking. Toh, Jevin juga bilang akan menkahinya. Tapi,
entah kenapa, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sedikit ragu. Ia
membelikan mobil juga sebenarnya agar pria itu tetap mau bertahan dengannya.
Siang ini Nayla mendapati suasana rumah sangat sepi,
kemasukan apapun.
Wanita itu pun trun menapaki anak tangga, menghampiri bibi
yang baru saja dari kuar dengan nampan di tangannya.
“Rumah sepi banget, Bi? Orang-orang pada kemana?”
“Tuan Vano dan tuan Andrean berada di rumah sakit, Non. Non
Bilqis juga masih tidur.”
“Mas Al, di mana? Apakah dia keluar?”
“Tidak. Tadi ada kok di sini.”
“Oh, ya sudah.” Nayla pun berjalan ke belakang, ia melihat
Queen seluruh tubuhnya basah dengan pakaian renang yang begitu membentu badan
dan terbilang sexy. Wanita itu mengambil sarung bali untuk menutup tubuh bagian
pinggang ke bawah dan rebahan di tempat yang memang sudah disediakan. Nayal
melihat, Queen sepertinya tengah asik memainkan ponselnya.
Kemudian wanita itu berjalan melewati kamar tamu yang sudah lama
ditempati Al, pintunya sedikit terbuka, ia mengintip ke dalam. Terlihat
olehnya, suaminya tengah tidur dengan pulas dengan lengan kanan ditutupkan ke wajahnya.
Nayla membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalam, ia mengamati
dada bidang Al yang naik turun sesuai ritme napasnya yang teratur, serta
dengakuran halus yang keluar dari hidungnya, khas orang tidur.
“Aku merindukan pelukan dari mu, Mas. Kapan kita bisa
kembali seperti dulu, aku ini istrimu, tapi, rasanya aku tak memiliki ha katas tubuhmu,
bahkan yang sering kau peluk dan kau cium diam-diam malah adikmu itu, kenapa?”
lirih Nayla sambil mengelus pelan dada Al. Kemudian dia pun pergi dan tetap
membiarkan pintu kamar sedikit terbuka.
Ia pergi ke dapur, memasak sesuatu sendiri untuk ia makan.
Sementara bibi, ia tengah di kamarnya, entah istirahat, atau menyetrika, dia
tidak tahu. Yang ia tahu, siapapun orangnya tidak boleh minta dimasakin atau
dilayani untuk urusan makan jika sudah kelewat waktu.
Sekitar setengah jam lebih Nayla umprek di dapur dan
menyelesaikan sarapan sekaligus makan siangnya yang terlambat, ia bermaksut
menuju ke kamar Bilqis, menyiapkan mata pelajaran untuk besok hari Senin. Tapi,
ketika ia melintas kamar suaminya, pintu yang tadi terbuka setengah, ini
menjadi tertututp rapat. Nayla cuek saja, ia berfikir mungkin suaminya sudah
bangun dan menutupnya. Tapi, saat ia hendak melangkah terdengar suara aneh yang
lebih mirip suara desahan seorang wanita dari dalam. Itu pun juga sangat jelas.
“Aw… Aduh, sakit, Al. Bisa pelanan dikit, gak?’’ Jelas
sekali, Nayla mendengar suara wanita merintih di dalam sana.
“Queen? Itukah kamu? Apa yang dia lakukan di dalam sana
bersama suamiku?” lirih Nayla.
“Ini sudah pelan banget, Sayang. Kamu diam, jangan bergerak
__ADS_1
terus, biar aku bisa masukin,” ucap Al.
“Ah, tepatin lubangnya, dong!”
Mendengarkan hal itu, Nayla merasa darahnya mendidih saja.
Krena tidak tahan, ia mendobrak pintu kamar Al dan berteriak, “Apa yang sudah
kalian berdua lakukan!”
Al dan Queen langsung menoleh kea rah pintu, di sana berdiri
Nayla dengan wajah yang tak bisa diucapkan kata-kata, begitu ia mendapati Al
berdiri di seblah kanan Queen dan memegangi tellinga Queen.
Karena terkejut, Al menarik keras anting yang sudah masuk ke
lubang tindik Queen.
“Aduh, Al… Kau main Tarik saja, robak gak nih telingaku?”
keluh Queen sambil meringis dan memegangi telinganya.
Al yang melihat Queen benar-benar kesakitan, bahkan kaitan anting
ditangannya juga rusak, ia pun langsung menatap tajam kea rah Nayla dan memarahinya.
“Kau ini kenapa, sih Nay? Apa kau sudah gila? Kau pikir kami
ngapain? Aku memasangkan anting Queen yang terlepas!”
Nayla hanya mematung di tempatnya dan menangis di ambang
pintu dengan kedua tangan menutupi mulutnya. Ia tidak tahu harus bagaimana, ia
sudah salah sangka.
Al melihat ke arah telinga Queen lagi dengan jarak yang
sangat dekat. Kwemudian, ia merangkul pundaknya dan mengajaknya keluar, “Lihat
telingamu, pasti ini sakit banget, ya? Ayok, kakak oleh salep biar ga bengkak.”
Al melewati Nayla begitu saja sambil tetap merangkul Queen
yang masih mengenakan pakaian renang basahnya. Sedangkan Nayla menangis
sesenggukan seorang diri karena diabaikan. Begitu Al dan Qieen sudah berada di
luar, Nayla mengejar mereka dan memegangi kaus belakang Al dan memprotesnya.
“Mas! Kamu gak bisa kek gini sama aku. Kamu Cuma melihat
sisi posesifku saja. Apa kau pernah berfikir sekali saja kenapa? Yang istrimu
itu aku, apa kamu? Kau lebih mesra dengan dia, ingat Mas, dia Cuma adik angkat,
apa selama ini diam-diam kalian berxina di belakangku?”
“Jaga bicaramu, Nay!” bentak Al sekali lagi, Bahkan Queen
yang ada di pelukannya saja sampai terkejut dibuatnya.
“Kamu juga yang jaga sikap dong, Mas! Apa pantas, kau dan
Queen tidur berpelukan sambil berciuman di single sofa?”
Al diam tidak menjawab. Namun, tangannya masih memeluk
Queen.
“Bilqis, Mas yang kasih tahu, pernah kan kalian sepulang
lembur atau pas baru saja jemput Queen dari rumah sakit saat pulang kerja
malam, kalian melakukan itu. Yang istrimu itu siapa? Aku, atau janda gatel ini?”
Mendengar perkataan Nayla, Al benar-benar naik pitam. Ia
meleoaskan Queen dan menampar keras pipi Nayla di depan Queen dan juga Bibi
yang mendengar suara gaduh.
“Sudah kubilang! Jaga ucapan kamu, Nayla. Apa kau sadar
selama ini kita sudah bera tahun menikah? Bahkan kau tidak bisa memberiku
keturunan sekalipun.”
Queen hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat
melihat pertengkaran di atara Nayla dan Al. Dia tidak begitu terkejut, sih.
Sebab, pun juga pernah menerima tamparan keras dari Al. Walaupun masalah
berbeda, intinya sama. Di tampar Al dengan keras sampai pipi merah, dan
bengkak.
“Al, sudah lah, jangan berantem, ya? Kamu urus dulu dia, aku
bisa obati telingaku sendiri, aku akan minta tolong pada bibi,” ucap Queen
sambil mengelus lengan Al untuk meredam emosinya.
Queen pun berjalan menghampiri bibi, sementara Al mengambil
kunci mobil dan keluar entah ke mana. Nayla? Dia hanya menangis seorang diri di
tempatnya.
“Bi, tolong kasihkan obat di telingaku, ya?” ucap Queen.
“Ya ampun, Non… kok sampe berdarah gini? Gak banyak, sih Cuma
dikit. Tapi pasti ini sangat sakit, ya?”
“Sakit banget, Bi. Tadi itu pas habis renang lepas kesangkut
handuk, lalu aku minta masangain kak Al, ya pas dan masuk malah dia kaget
gegara kak Nay teriak sambil nobrak pintu ketarik dah.”
“Ngilu saya litany, Non, ayo sini saya obatin.”
Nayla berlari ke kamarnya. Di sana, ia menangis sepuas-puasnya. Kemudian, ia berusaha menghubungi Jevin dengan maksud ingin bertemu. Tapi, panggilannya lama sekali dan tidak di angkat. Sampai yang ke lima barulah, pria itu mengangkatnya.
"Halo, Nay. Ada apa, sayang? Hoooaaam."
"Jev, kamu di mana? bisa bertemu Sekarang?" jawab Nayla sambil terisak.
"Aku capek, Nay. Gimana kalau besok saja pas jam istirahat kerja? Ini aku baru aja nganterin mamaku ke rumah Abang."
"Baiklah!" Nayla mematikan panggilannya. ia melempar ponselnya dan menjerit meluapkan emosinya.
Usai di kompres alcohol dan dioles salep, kondisi telinganya sudah membaik. Tapi, jadi tidak bisa pakai anting dulu. Kecuali make hanya sebelah kiri saja.
Usai diberi obat, Tiba-tiba saja sebuah nomor tidak dikenal masuk. Dengan ragu-ragu, Quen pun mengangkat panggilan itu.
"halo siapa, ya" jawab Queen pelan sambil menajamkan indera pendengarannya, karena di sana suasanyanya seperti agak bising.
"Queen. Ini beneran Queen, ya?" jawab seorang pria dengan nada suara seperti berteriak, agar tidak kalah dengan bisingnya musik yang ada di sekitar.
"Iya, benar. Anda siapa?"
"Aku Martin. Temannya Al. Kau kemarilah."
Mendengar jawaban dari pria itu, pikiran Queen sudah mulai kemana-mana. Tanpa pikir panjang lagi, Queen langsung mematikan ponselnya dan segera menuju garasi.
Bahkan dia tidak bertanya di mana keberadaannya, Tapi, ia memiliki isnstijf, kalau Al berada di tempatnya Martin tepatnya di Cafenya.
Queen melakukan mobilnya dengan cepat. Sehingga perjalanan yang harusnya ditempuh selama empat puluh menit, ia hanya mampu menempuhnya selama lima belas menit saja. Entah setan apa yang merasukinya.
Sesampainya di sana, Queen sudah di sambut oleh seorang pria dengan tubuh gendut, dan perut buncit. Dia adalah Martin pemilik cafe.
"Di mana suamiku?" tanya Queen. Tanpa sadar ia mengatakan kalau Al adalah suaminya di depan Martin. Padahal, ia sendiri tidak yakin kalau pria gede besar di depannya itu mengetahui akan hal ini.
"Al, maksutnya? itu ada di dalam." Martin juga nampak bengong. bukan karena kaget dengan perniknya. karena dari rumor yang dia dengar dari Juna dan Vico, Queen membenci sahabatnya.
Tanpa banyak pikir lagi, Queen langsung berlari ke dalam melewati pemilik cafe begitu saja. Semua hal buruk tentang Al sudah menari-nari di kepalanya.
"Aaaal!" seru Queen, ketika melihat pria yang mengenakan pakaian yang sama seperti yang Al pakai tadi di rumah duduk di sebuah sofa membelakanginya.
Pria itu pun menoleh ke belakang dan sedikit merasa surprise dengan kedatangan Queen.
__ADS_1
"Queen,bagaimana kau bisa di sini, Sayang?"
Queen berlari menghampiri pria itu dan memeluknya erat tanpa sepatah kata pun.