
Angin malam berhembus pelan membelay ramainya suasana ibu kota. Dari atas balkon seorang gadis berdiri mengamati lampu-lampu kota yang bersebaran bagaikan bintang di bumi.
sebuah tangan tiba-tiba memeluk gadis itu dari belakang, dan disandarkannya wajahnya ke bahunya, menciun leher si gadis menikmati aroma tubuhnya.
Gadis itu memutar badannya dan memeluk pria di hadapannya.
"Permainan sudah usai," ucap pria itu sambil melingkarkan kedua lengannya pada pinggang gadis di depannya.
"Ya, dan cinta kita baru akan dimulai." Mata gadis itu lekat memandang Vano. Dan melingkarkan kedua lengannya ke leher pria yang lebih tinggi darinya.
Cukup lama keduanya saling bertatapan, sampai wajahnya saling mendekati satu sama lain.
"Eh, maaf, Den, itu, anu, eee, Aden sama Neng Clara ditungu tuan dan nyonya di bawah," ucap Bi Narti yang tiba-tiba muncul.
Clara dan Vano saling melepaskan pelukannya, dengan cepat mereka bergeser mengatur jarak, meski Bi Narti mungkin juga telah melihatnya.
Dengan suara serak Vano berkata pada Bibi, "Iya Bi, kami akan segera turun!"
Clara mencium kilat pipi kiri Vano, lalu menggandeng tangan Vano dan turun ke bawah menemui Andrean dan Vivian.
Di ruang tengah Andrean dan Vivian sudah menunggu mereka, begitu melihat kedua anaknya turun mereka mempersilahkan duduk.
"Clara, paspor kamu untuk ke USA sudah jadi, dan minggu depan kamu sudah bisa siap berangkat ke sana," ucap Andrean. Sambil memberikan tiket pesawat dan paspornya.
Clara yang semuala ceria berubah menjadi sedih, setelah apa yang dia lakukan untuk keluarga dia berharap tidak jadi pergi ke USA untuk melanjutkan pendidikannya, tapi dia merasa segalanya telah sia-sia.
"Minggu depan ya Pa?" tanya Clara, lemas tak berkspresi.
"Iya, selamat ya Ra, semoga kamu betah di sana," tambah Vivian bangkit dari duduknya lalu memeluk Clara.
Clara diam, memandang pada Andrean dan Vivian, terakhir dilihatnya Vano, dia juga nampak sedih dan kecewa.
Tapi keduanya tidak bisa berkata apa-apa, meski sudah mendapatkan restu dari Vivian dan Andrean tetap tidak pas bagi Vano dan Clara jika harus berpisah selama kurang lebih 3 tahun.
Clara mengambil paspor dari tangan Andraan, dia amati sesaat, tanpa membuka isinya, lalu membawanya naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Clara menangis sejadi-jadinya dia belum siap untuk berpisah lama dengan Vano, dan sepertinya tidak akan pernah siap sampai kapanpun.
Clara mengambil ponselnya, dibukanya grup WA 4 frien forever
Clara : Friend, aku jadi ke USA. Ortu dah memberikan pasporku barusan, maafin aku, ya, jika aku selalu ngerepotin kalian.
Eren : Loh, kamu kok diem aja Ra? Kalau kamu ga mau ya tolak saja, apa tidak cukup setelah apa yang kamu lakukan, bukannya mereka dah kasih restu tentang hubungan kalian?
Selly : Iya, Ra. jangan-jangan mereka rencanain sesuatu, begitu kamu berangkat Vano dinikahin dengan wanita lain.
Eren : Bener juga Ra, kata Nita.
Reza: Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya, positif thingking saja, Ra
Eren: Ya ga bisa gitu dong, Za....
Tok tok tok...
__ADS_1
"Ra, Clara!" dari luar Vano mengetuk pintu dan memanggilnya.
"Jangan kesini, aku lagi mau sendiri saja!" ucap Clara dari dalam.
"Ra, pleace, jangan kaya gini donk!"
"Lalu mau apa? Sudahlah, pergi sana! Ini sudah malam, aku mau tidur," ucap Clara tanpa beranjak.
Vano masih mematung di depan pintu kamar Clara, Vivian menghampiri Vano, mengajaknya bicara berdua di balkon.
Tiga hari sebelum Clara berangkat ke USA, Andrean meminta Vano mengurus pertemuan di Jogja untuk sebuah tender besar.
Sampai tiba hari di mana Clara berangkat Vano masih saja belum tiba, dengan rasa sedih kecewa dan bercampuraduk Clara berangkat menyeret kopernya.
"Kamu sudah siap, Ra?" tanya Vivian.
Clara tidak menjawab, dia berjalan lemas seperti tak punya tenaga menuju mobil, Andrean sendiri yang menyopir sekalian mengantarkan Clara sampai di Bandara.
Sepenjang perjalan menuju Bandara Soekarno Hatta Clara sangat malas, sepatahpun dia tidak berkata apa-apa, dibuangnya pandangan dengan menolehkan wajahnya ke jendela.
Pukul 7.00 pagi suasana di bandara sudah ramai, pesawat Clara akan terbang 1 jam lagi, dari pengeras suara di umumkan penumpang menuju USA untuk segera bersiap.
Dipeluknya Clara oleh Vivian dan Andrean secara bergantian, "Hati-Hati ya sanyang," ucap Vivian.
"Iya Ma," jawab Clara.
"Jaga dirimu baik-baik di sana!" ucap Andrean, dan dijawab anggukan pelan oleh Clara.
Clara melangkah kakinya dengan sangat berat dan kecewa, tapi entah mau marah pada siapa, sebenarnya Papanya bisa urus sendiri, tapi jika Papanya yang urus, dia takut ga bisa melihat Clara sebelum berangkat, tapi dengan begini Vano tidak bisa bertemu dengan Clara.
Di sebelahnya, seorang pemuda duduk dengan kepala tertutupi hoddie, menatap ke luar jendela.
Tanpa permisi dan cuek Clara duduk begitu saja, di ambilnya handphone dari dalam tasnya diatur mode penerbangan, dengan menggunakan hadset dia memutar pelan musik.
Lima menit kemudian pria di sebelahnya memeluk dirinya."
Clara yang semula matanya terpejam langsung tebuka lebar, tangan kekar di pinggangnya, hembusan napas serta aroma pria itu terasa akrab dan tak asing bagi Clara.
Vano membuka penutup kepalanya dan tertawa kecil kepada Clara, tanpa pikir panjang dan tak peduli dengan penumpang lain, Clara memeluk balik Vano
"Kamu mau ikut denganku, Van?" tanya Clara sambil melepas pelukannya.
"Iya, kemarin aku menang tender besar, dan ini hadiah dari Papa memberi paket liburan selama seminggu kepada kita ke Paris," ucap Vano.
Clara nampak bingung, "Bukannya ke US, ya?"
"Kamu sih, ngelamun aja, coba lihat tiket kamu!"
"Eh, iya, wah! Papa dan mama mengecohku," Ucap Clara, ingin dia menelfon Andrean dan Vivian, tapi pramugari sudah meminta para penumpang untuk mematikan ponselnya. Dan 10 menit kemudian pesawat mulai terbang.
"Kamu tau ketika kamu nangis di kamar setelah nerima paspor itu, mama menemuiku," ucap Vano.
__ADS_1
"Nagapain?" tanya Clara penasaran.
"Ya itu, mama bilang, aku ga boleh sedih, karena seminggu lagi kamu akan ikut Clara, tidak ke US tapi berlibur seminggu di paris, tapi semua direkayasa aja seolah-aku pergi lama, padahal kemarin semua beres, aku diminta menginap di hotel dulu, dan ... Beginilah, semua memang sudah direncanakan."
"Hiiih dasar!" ucap Clara sambil memukul ringan lengan Vano.
Seharian berada di atas udara sangat menyenangkan, meski pemandangannya hanya gundukan-gundukan awan yang membentuk tak beraturan namun indah.
Tiga jam kemudian Clara meminta bertukar kursi, dia ingin duduk di sebelah jendela pesawat.
Sambil mengamati foto shelfie mereka berdua, dia bersandar di jendela pesawat sampai akhirnya tertidur.
Tidak mendengar suara Clara, Vano menoleh, ternyata Clara sudah pulas, mungkin dia sudah bermimpi main-main di atas awan.
Vano hanya mengeleng kepalanya. Diraihnya kepala Clara dan disandarkan pada bahunya. Kini keduanya sama-sama tertidur.
Dengan perasaan lega Andrean dan Vivian keluar dari area Bandara. Hari ini mereka tidak ngantor, mereka juga ingin senang-senang seperti kedua anaknya meski tidak harus ikut keluar Negeri.
"Kamu bisa bayangin bagaimana kira-kira ekpresi Clara duduk bersebalahan dengan Vano?" tanya Andrean membuka pembicaraan.
"Waduh! Berat Mas, aku takut dia jingkrak-jingkrak bikin pesawat oleng," ucap Vivian sambil tertawa.
"Kamu tau tidak, Vin?"
"Apa, Mas?"
"Selama ini aku merasa kagum dengan Clara, selain cantik, sopan dan cerdas di sekolahnya, dia juga benar-benar luar biasa,"
"Siapa dulu mamanya."
"Hahaha, ia, tapi sekarang dia juga putriku, dia anakku, aku dari awal ketemu sudah menyangi dia, beruntung Vano memiliki Clara, tidak seperti ibunya."
"Sudah, jangan terlalu membenci Amanda, Seperti apapun dia tetaplah mamanya Vano. Dan juga bagian dari masalalumu."
"Iya, kamu benar, Vin."
"Loh, kita mau kemana ini, Mas? Bukannya kalau ke kantor atau kerumah masih lurus, kok belok?"
"Anak-anak holyday kita bulan madu, donk, 3 tahun nikah ga bebas sungkan sama anak yang uda remaja."
"Idih, bahasanya loh, kaya pengantin baru saja, bulan madu." Vivian terbahak oleh tingkah jenaka Andrean.
"Gapapa, kaliaja nanti sukses goal, Clara dan Vano punya adik, lumayan, kan?"
Plaaak!!! Vivian memukul Andrean, merasa malu dengan apa yang dikatakan suaminya, "Mas, anak-anak uda pada mau nikah, kalau aku hamil, yang ada dikira orang cucu kita dari mereka, dan bagaimana malunya mereka, adeknya dikira anak."
"Tapi, kan .... " kata-kata Andrean dipotong oleh Vivian.
"Cepat nikahkan mereka dan suruh segera bikin anak, kita asuh cucu kita bersama, ok?"
Andrean pun memilih diam tak bisa menjawab apa yang sudah istrinya katakan.
Kini keduanya pun kembali pada obrolan-obrolan ringan sambil Andrean menyetir mobil.
__ADS_1