
Di dalam kamar Nayla
terus mengomel-ngomel sendiri. Dia sangat
kesal. Bagaimana tidak? Uang lima juta yang harusnya sudah membawa hasil bagus
dan memuaskan malah hilang sia-sia karena kecerobohannya sendiri. Ingin rasanya
marah. Tapi, pada siapa? Kakek Andrean? Kesalahan apa yang dia buat? Sekalipun
benar-benar salah, mana berani dia?
“Aku pasti bisa melakukannya lagi. Akan aku hubungi dia,
harus bisa! Jika perlu aku akan beli sepuluh sampai semuanya bisa dia minum
biar wanita itu tidak bisa punya anak selamanya, dan hanya jadi sampah saja!”
seru Nayla seorang diri sambil menscrol ponselnya mencari sebuah kontak.
“Siapa yang biar tidak bisa memiliki anak, Ma? Apakah
maksutmu tante Queen? Kenapa begitu? Bukankah dia juga istrinya papa sekarang,
Ma? Anak tante Queen kan juga bakal jadi adiknya Bilqis.”
Nayla terkejut saat tiba-tiba putrinya muncul dan berkata
demikian. Artinya, ia sudah mendengar banyak apa yang ia gumamkan.
Dalam hati, wanita itu mengutuk dirinya sendiri. ‘Kebiasaan! Kenapa bergumamnya tidak cukup
di dalam hati saja biar tidak ada yang mendengarmu?’ batinnya.
Nayla pun berjongkok di depan Bilqis dan berkata, ‘’Sayang. Walaupun papa sudah menikahi tante Queen tetap saja anak yang akan dilahirkan olehnya nanti tidak bisa jadi adikmu. Yang ada dia malah akan jadi lawan buat Bilqis.”
Bilqis hanya diam. Kelihatannya ia masih belum paham dan
sama sekali tidak menegrti apapun yang dikatakan oleh mamanya. Karena itu tidak masuk akal.
“Bilqis. Tante Queen itu jahat. Sudah mama bilang
berkali-kali. Dia itu ingin menyingkirkan kita. Makanya dia ingin hamil, sebab,
jika kalau ia benar-benar hamil. Maka ia akan memainta papa untuk menceraikan
mama. Dan kau tidak akan punya papa lagi. Karena pada kenyataannya kau memang
bukan anak kandung papa Al, Nak.”
Bilqis hanya diam. Ia masih tidak begitu mempercayai apa
yang Nayla katakana. Karena pada kenyataannya Queen juga masih tetap baik
padanya walau sudah berkali-kali ia berlaku tidak sopan pada mama mudanya.
“Baiklah. Kuharap Mama juga tidak berlebihan dalam menilai
seseorang. Karena itu tidak baik.” Bocah itu pun naik ke atas ranjang mamanya
dan bersiap untuk tidur siang.
Melihat putri ya tidur di kamarnya, Nayla pun memilih
menghubungi orang tadi dengan cara mengirimkan pesan wa saja. Tapi, sepertinya
Nayla harus kecewa untuk kedua kalinya. Karena balasan yang ia dapatkan tidak
sesuai harapan. Bahkan ia tak membayangkan sama sekali.
“Maaf, Mbak. Kami tidak bisa menjual barang itu dengan
bebas. Anda sudah satu kali membeli, anda sudah tidak ada pembelian yang kedua
dan seterusnya.”
Dengan cepat Nayla menuliskan jawaban, ia mengatakan kalau
dirinya sanggup membayar sepuluh kali lipat dari harga yang dibelinya tadi.
Tapi, pesannya tidak terkirim. Saat ia menelfonnya juga tidak bisa. Rupanya
nomor Nayla sudah diblokir.
Sedangkan Queen, ia sibuk membongkar isi kamarnya mencari
kaset vcd kosong untuk diisi dengan hasil rekaman yang Juna dapatkan. Tapi,
sayang Queen tidak menemukan apapun.
‘Telfon Al saja deh,’ pikirnya. Lalu dengan semangat tinggi ia langsung menghubungi sebuah kontak yang bernama Mukidi itu. Wanita itu rupanya masih belum ingat mengubah nama kontaknya.
“Halo. Ada apa sayang? Apakah kau sudah selesai dengan
urusanmu?” tanya Al dari seberang sana.
“Belum. Tapi, aku butuh bantuanmu,” jawab Queen dengan
manja.
“Oh, ya? Apa itu?” Terdengar tawa kecil dari sela-sala
jawaban Al yang membuat Queen merasa rindu dan ingin terus bersama pria itu.
Entah, sejak kapan rasa nyaman itu muncul. Queen sendiri juga lupa. Yang dia
tahu, tiba-tiba dia benci kalau Al tengah dengan wanita lain. Sekalipun itu Nayla. Istri taunya.
“Apakah kau memiliki vcd kosong? Aku lagi butuh sekarang.
Jika aku keliar, pasti kakek akan marah.”
“Ada sayang, coba kamu cari di dalam box kamar bawah.”
“Oke, baiklah. Trimakasih. Mcuah.” Queen pun langsung
berlari ke bawah menuju kamar Al dan mencari box yang dimaksut suaminya.
Sedangkan Al hanya tertawa seorang diri saja. Lalu melihat
layar ponselnya yang bergambar foto di dan Queen saat mereka masih remaja. Al
baru pulang dari Jepang, sementara Queen masih kelas dua SMA.
“Setelah kita menikah, bahkan kita tidak pernah ambil foto
bersama. Harusnya di mejaku ada foto kita, Sayang. Mau ambil foto pernikahan
juga, kau cemberut. Ketahuan sekali kalau kau terpaksa menikahiku,” gumam Al seorang diri.
Setelah menemukan apa yang dia mau, Queen kembali ke
kamarnya. Ia copy dan memasukan ke dalamnya. Begitu semua beres, ia membungkus
kaset vcd tersebut dan menuliskan alamat rumah dengan nama penerima Nayla,
sedangkan siapa pengirimnya ia mengkosongkannya.
‘Tinggal jalankan rencana saja lah kalau gitu,’ gumamnya
dalam hati. Queen pun menemui Dedi yang kebetulan juga tengah bersantai.
“Ded, aku minta tolong, dong!”
“Apa mbak?” tanya pria itu sambil berdiri.
__ADS_1
“Ini kamu kasihkan pada Nayla. Tapi, jangan bilang dari aku.
Bilang saja dari kurir. Jika di tanya dari siapa? Jawab aja gak tahu. gitu, ya? Nanti aku
kasih kamu uang rokok,” ucap Queen sambil memberikan selembar uang limapuluh ribuan, seraya terbahak.
“Ini yang aku suka dari mbak Queen. Selalu kasih ceperan. By
the way, makasih ya mbak!” jawab pria itu sambil menerima uang dan paketan dari
Queen. Sebenarnya itu cuma gurauan Dedi saja. Tanpa diberi imbalanpun, ia akan
tetap melaksakannya. Karena ia di sini bekerja untuk Al. dan bosnya meminta agar
menjaga siapapun orang tercintanya.
“Nanti saja, kau berikan setelah makan siang. Jangan
sekarang, oke?’’
“Siap komandan!” seru Dedi dan keduanya pun tertawa.
Usai makan siang, Dedi mencari Nayla. Kebetulan ia tengah
berada di ruang keluarga.
“Mbak Nay, permisi. Ada paket,” ucap pria itu sambil
menyerahkan paket dari Queen tadi.
“Apa ini? Dari siapa?” tanya Nayla sambil berusaha
mengingat-ingat. Sebab, ia tidak merasa memesan papaun lewat toko online.
“Saya tidak tahu. Tadi yang antar juga kurir. Isinya apa dia
juga tidak tahu,” jawab Dedi.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Nayla menerimanya dan mulai
membuka. Begitu tahu kalau isinya kaset, ia berniat untuk memutarnya di dalam
kamar. Karena dia juga tidak tahu apa isinya, yang ia khawatirnkan adalah aib
dirinya sendiri dan paling parah ada orang rumah yang melihatnya.
Nayla di kamar tengah sibuk dengan vcd misterius itu,
sedangkan Queen, sibuk melakukan penyadapan pada ponsel Nayla. Mulai dari panggilan seluler, dan juga pesan Wa.
Setelah browsing sana sini dan mengikuti langkah-langkah
tutorialnya, ia pun akhirnya berhasil. Terakhir, Queen pun ketiduran karena
merasa lelah, dan baru terjaga setelah sore.
“Ternyata aku ketiduran,” gumamnya seorang diri. Sambil
meraba ponselnya.
Pertama ia priksa adalah pesan wa dan juga sms hasil dari
penyadapannya. Ia tertawa puas setelah melihat hasilnya. Nayla marah-marah pada
Jevin setelah melihat video kirimannya tadi.
Queen yakin, cepat atau lambat pasti mereka berdua akan
kembali baikan. Dan saat itu pula, Queen akan menangkap basah keduanya. Dengan
begitu, ia sudah ada alasan untuk meminta Al agar menceraikan Nayla.
“Terkadang sabar itu membosankan. Tapi, karena garis akhir
yang kuharapkan, pasti juga akan menyenangkan saja."
Nayla sebagai perempuan sangat murahan dan gampangan. Jika saja itu dirinya, ia sudah tidak mau lagi. Apalagi sudah
ddiporotin sampai ratusan juta begitu.
Queen pun segera mandi dan turun ke bawah. Di sana papanya
sudah datang, sedangkan Al masih belum.
Bersamaan ia turun dari tangga. Ternyata Al pun juga sudah
tiba. Pria itu langsung menunjukkan senyumnya begitu melihat orang pertama yang
dilihatnya saat sampai di rumah adalah Queen.
Wanita itu langsung berlari menghampiri suaminya. Al
memberikan tas kresek berwarna putih di tangan kanannya sementara, tas kerja di
tangan kirinya tetap ia yang membawanya.
“Apa ini, Sayang?” tanya Queen. Untuk pertama kali memanggil
suamninya dengan panggilan itu. Mungkin juga sambil memanas-manasi Nayla yang
kebetulan berada di situ juga.
“Pesanan kamu tadi pagi, Sayang. Makanya. Terlambat pulang,
Mampir ke minimarket dulu soalnya,” jawab Al sambil tersenyum, menunjukkan
deretan giginya yang putih dan rapi.
Queen melihat dua kardus susu dengan rasa coklat, ia pun
tersenyum dan langsung mencium pipi Al sambil mengucapkan rasa trimakasihnya.
“Kamu cepetan mandi deh, setelahnya kita makan bareng.”
Untuk membuat Nayla mendidih, Queen tidak sungkan-sungkan
meminta agar Al memindahkan semua barang-barangnya di dalam kamarnya. Tapi,
tidak saat ada kakek dan papanya. Ia memang sengaja agar Nayla bisa
mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya saat mengetahui hal itu.
“Al, kita kan sudah lama menikah. Kenapa kamu harus punya
kamar sendiri, sih? Mulai sekarang kamu pindahin barang-barang kamu dong! Kita tidur sekamar saja,”
pintanya.
“Iya Sayang. Nanti usai makan malam, kamu bantuin aku, ya?” Al
menunduk, menatap lembut wajah Queen.
“Mas, aku juga istrimu. Kamu tidak bisa begitu donk. Apalagi
aku ini istri pertamamu,” protes Nayla yang sedari tadi mengawasi mereka berdua
yang tengah berada di Balkon.
Al pun menolah, di depan Queen ia tidak mau menunjukkan
kebenciannya terhadap Nayla.
“Ini Cuma barang saja, kan Nay? Kurasa tidak masalah. Aku
akan selalu berlaku adil sama kalian.”
__ADS_1
Mendengar jawaban itu Queen merasa sebel sama Al. Ia mau
jadi prioritas utamanya. Kenapa harus dibagi dua. Ingin sekali dia menendang Al
saat itu juga, yang dulu berkata tak lagi cinta pada Nayla, dan sekarang lagi
malah jawab apa.
“Nay, kamu kan dah lama, dan aku masih baru. Wanita itu sama
halnya dengan baju, yang baru disayang-sayang yang lapuk dibuang-buang.”
“Apa maksud kamu bicara begitu Queen!” bentak Nayla.
“Kurasa kamu tahu sendiri lah. Berapa kali lelakimu
berpaling darimu? Kurasa tak perlu dijelaskan.” Queen pun langsung pergi turun
ke bawah.
Sedangkan Al bingung harus kenapa, bertahan di sini enggan
dengan Nayla. Turun ke bawah… Dia ingin Queen ngambeg sekali lagi. Jadi, ia
bertahan di atas balkon.
“Queen, kenapa cemberut gitu, Sayang?” tanya Vano ketika
melihat raut wajah putrinya sudah berubah.
“Gak ada apa-apa, Pa.
Papa saja yang terlalu khawatir denganku.” Bahkan wajah itu juga tidak
menunjukkan senyuman sedikit pun pada papanya.
Vano hanya diam. Jika dia bertanya pada papanya akan lebih
tahu bagaimana sikap kedua anak-anaknya terakhir ini. Namun, ia sendiri juga
sudah terbiasa dan bisa menebaknya.
Saat makan malam pun Queen juga banyak diam. Tidak mau
berbicara sepatah pun kepada Al dan juga siapa saja yang ada. Lalu setelahnya?
Ia langsung masuk ke kamar. Ia memainkan gawainya. Dan benar saja apa yang dia
tebak ternyata sama sekali tidak meleset. Ia terkejut mendapati obrolan chat
antara Nayla dan Jevin. Mereka berdua sudah sama-sama baikan. Jevin sangat
pandai merayu, bahkan untuk bertemu di sebuah hotel saja, dengan mudahnya, Nayla mau.
“Ngapain mereka? Apakah selama ini Nayla selingkuh
dengannya? Oh, itu tentu. Jika tidak, kenapa harus mengirimi banyak uang? Nayla jadi sugar momy-nya Jevin. Gila. Sampai ke hotel? Apakah mereka sering melakukan?"
“Kreek!”
Queen menoleh, ternyata Al yang baru saja membuka pintu
kamarnya. Saat ini Nayla pasti tengah menemani Bilqis belajar sambil chat
dengan selingkuhannya. Queen sudah tidak sabar menunggu hari esok dan
membongkar segala kebusukkan wanita ****** itu agar Al segera menceraikannya.
“Sayang, apakah kamu masih marah?”
Queen ingin sekali menunjukkan chat itu pada suaminya. Tapi,
ia menahannya. Karena, ia tahu siapa Al. Dia tipe orang yang tidak mudah
percaya dan harus ada bukti nyata. Jika pun menunjukkan bukti sadapan ponsel
Nayla, malah yang ada aku sendiri yang jelek di mata dia. Pikir Queen. Jadi,
Queen pun hanya diam di tempatnya dan meletakkan ponselnya. Beralih pada laptop
yang sudah menyala sejak tadi.
“Kamu kok diam saja, sih? Kan aku sudah bilang. Istri aku
itu ada dua. Aku harus berlaku adil. Tapi, walau begitu, kan tetap kamu yang
paling aku sayang.” Al memeluk tubuh Queen dari belakang.
Queen tidak membalas. Ia justru malah memberontak dengan
berusaha menyingkirkan kedua lengan Al yang melingkar pada tubuhnya.
“Aku minta maaf jika tadi menyinggungmu, ya?”
Lagi-lagi Queen hanya diam. Entah kenapa, ia benar-benar
benci dan sangat tidak bisa melihat suaminya perhatian dengan wanita lain
sekalipun itu istri pertamanya. Saat ini yang dia inginkan, Al hanya peduli dan perhatian dengannya saja.
“Ya sudah, mulai sekarang, aku akan menuruti permintaanmu.
Apapun itu. Tapi, maafkan aku,” rayu Al.
Queen kembali teringat dengan isi pesan tadi. Kalau mereka
berdua akan bertemu di hotrl horison pukul duabelas siang. Jam istirahat. Curang
sekali mereka.
“Kamu mau nurutin apapun yang aku mau, benar?” tanya Queen,
masih dengan raut wajah datar.
“Iya, Sayang. Memangnya kamu mau apa?”
“Besok siang, aku mau kita makan di restoran hotel horison.
Aku gak mau kau menawar. Jangan datang lebih awal, atau pun terlambat. Aku mau kau
tepat waktu!”
Al tertawa kecil, kemudian mencium Queen. “Terimakasih,
Sayang.” Sebenarnya ucapan itu ia ucapkan bukan untuk Queen memaafkan dirinya.
Tapi, karena dia tahu, kalau Queen akan memberikan alasan yang tepat agar ia bisa
melepaskan Nayla.
“Baiklah Sayang. Aku mau nurutin apapun yang kamu mau, jika
dengan cara itu kamu mau memaafkanmu. Sekarang, aku boleh bermalem di sini
tidak?”
“Kalau kau tidak mau tidur di sini, apakah kau mau tidur di
kamarnya Nayla?”
Al mencium dan mencubit hidung Queen. Ketika istrinya tengah
cemburu seperti ini, baginya terlihat lebih cantik dan menggemaskan.
"Ya sudah! Matikan komputermu dan kita tidur sekarang!''
__ADS_1
Tanpa membantah Queen langsung menuruti permintaan Al. Keduanya pun sama-sama merasa lelah. Jadi, malam ini, mereka langsung tidur, untuk menyambut hari esok yang akan lebih baik. harusnya begitu. dan itu harus.