
"Kak, Al. Sudah dari tadi? Di mama Quen kok sendirian?" sapa Alex yang baru saja pulang dari kampus.
"Oh, dia ada di dapur," jawab Al begitu mengetahui si tuan rumah tekah tiba.
"Sebentar kak, kupanggilkan Quen dulu." Pria blasteran Indonesia-Ingris itu pun beranjak menuju dapur.
Tiba di dapur ia melihat wanita yang dicarinya tengah ikut sibuk membanti bibi menyiapkan makan malam.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Alex memeluk tubuh itu dari belakang. Ia berkata setengah berbisik di belakang telinga Quen sambil sedikit menciumi leher dan sedikit memberikan gigitan gititan kecil di sana sehingga membuat gadis itu mengelinjang karena geli.
"Sayang, kau malah sibuk di sini. Kenapa tidak menemani kak Al saja? Kasian dia."
"Alex... Emmhhh, jangan gitu, geli! Ujar Quen sambil tangan kanannya meraih rambut Alex.
Bukannya menghentikan aktifitasnya, melihat Quen yang seperti itu membuat Alex malah semakin gencar menggoda istrinya itu.
Tangan kanannya erat melingkar di pinggang ramping Quen. Sementara tangan kirinya meraba dada gadis itu.
"Alex, hentikan kita di dapur... Ahh..."
Alex tertawa puas berhasil mengerjai istrinya. Ia pun pergi meninggalkan dapur sambil terus terkekeh. Sementara Quen nampak jengkel pada Alex saat mendapati exspresi bibi yang nampak aneh. Jelas saja, dia pasti melihat sesuatu, jika tidak, kenapa harus begitu?
Merasa malu dengan diri sendiri Quen pun ikut keluar. Menunggu makan malam siap bersama kakaknya di ruang tengah.
Β Β Β π π π π
Tidak seperti biasa, Ketika jam praktik telah usai, Aditya segera pulang kerumah. Jika biasanya dia mampir dulu ke tempat praktek pribadinya yang terletak tidak jauh dari kediamannya. Kali ini dia langasung bergegas kembali.
Tiba di rumah juga langsung menghampiri Novita. Entah apa yang ada dalam benak Aditya saat itu.
"Mas, kau sudah pulang?" sapa wanita dengan pawakan tinggi ramping dan berkulit putih itu. Menunjukan senyuman manisnya pada sang suami.
Adit melempas tas kerjanya, lalu melonggarkan dasi dan serta melepas kedua kancing kemeja tertasnya sambil berjalan menghampiri istrinya.
Sementara lengan kemejanya suda terlipat sampai sebatas siku.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Aditya langsung menerkam tubuh Novita hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang dan berhenti saat tubuhnya sudah menempel di tembok.
Tanpa ba bi bu Aditya menciumi leher jenjang wanitanya menjilati dan memberikan sedikit gigitan di sana. Membuat napas wanita itu sedikit berat, serta jemarinta *** rambut basah Aditya dan juga punggungnya.
Novi menarik kepala Adit dari leher dan dadanya dengan seksama wanita itu mengamati wajah sang suami. Peluh sedikit membasahi dahinya, napasnya pun juga nampak memburu dan mata itu, telah berkabut oleh nafsu.
Semua perasaan bercampur aduk berkecamuk jadi satu dalam benak wanita itu, antara senang dan sedih.
Senang karna sejak retaknya rumah tangga mereka hingga kembali rujuk belum pernah Aditya melakukan hal ini lagi, sedih jika kenyataannya ia hanya melakukannya sebagai pelampiasan. Seperti sebelumnya. Bercinta dengan siapa, yang disebut-sebut nama siapa? Hanya saja wanita itu cukup tahu diri. Dia memendam rasa sakitnya tak brani memprotes karna sadar penghianatannya terlalu kejam.
"Dit." Wanita itu memegang kedua sisi pipi suaminya dan melihat dalam ke arah matanya.
Aditya tidak menjawab, diraihnya tangan kanan wanita itu dan memenciumi punggung tangan, lengan, bahu kembali ke leher.
"Apakah Axel sudah kembali?" tanya Aditya, serak.
"Yeah... Dia masih di rumah neneknya," jawab Novita bercampur dengan desahan.
Aditya pun melumat bibir Novita dan mengangkat tubuhnya membawanya ke dalam kamar.
***
Novi berbaring miring mengamati tubuh telanjang suaminya yang sudah tertidur pulas. Dirabanya dada yang tumbuh denganΒ bulu-bulu halus, lalu pipinya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum getir, "Sudah kuduga, kau hanya menjadikan aku pelampiasan nafsumu saja."
Wanita itu menyeka air matanya yang mengalir dari sudut netranya. Sambil bergumam dalam hati, "Memang aku yang salah, tidak bisa menjaga cinta mu dengan baik selama ini. Dan setelah aku sadar, hatimu sudah terbagi. Aku tahu, cinta untukku masih ada. Tapi, kebiasaanmu denhan Quen juga masih erat melekat di benakmu, Dit. Aku akan menunggu sampai bayangan wanita itu hilang dari benakmu. Dan hanya namaku yang terukir di hatimu."
Untuk beberapa saat, Novi pun juga ikut terlelap dalam pelukan Aditya, dan terbangun satu jam kemudian saat mendengar beberapa kali ponselnya berdering.
Di raihnya gawai itu, lalu, dengan segera ia menjawab panggilan dari mertuanya.
"Halo, Mama. Axel mau menginap di rumah nenek saja, barusan bu guru memberi pesan pada nenek kalau sekolah libur. Besok gurunya rapat," jawab suara anak itu begitu panggilan terangkat.
"Baiklah, besok siang, mama dan papa jemput kamu, ya?" jawab Novita.
"Malamnya saja, Ma. Axel masih mau di sini," celoteh anak itu.
"Ya sudah. Nurut sama nenek, ya jangan nakal-nakal."
"Ok, Mama, daaah."
Bahkan anak itu pun langsung saja memutus panggilannya sepihak. Benar-benar mirip dengan watak ayahnya.
Novita mengamati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. Lalu ia kembali memakai pakaiannya dan beranjak turun dari ranjang. Tapi, aktifitasnya terhenti sebab Aditya memegangi lengannya dan membawa ke dalam pelukannya lagi.
"Maafkan aku, bukan maksutku menjadikan kau pelampiasan, aku tahu dan sadar itu kamu. Tapi, entah kenapa banyanyannya selalu muncul saat aku melakukannya padamu," ucap Adit merasa bersalah.
"Aku ada beberapa pertanyakan untukmu, bersediakah kau menjawabnya dengan jujur?" ucap Novita.
"katakan!"
"Apakah kau pernah melakukannya dengan Quen?"
"Tidak, aku dulu sangat menjaganya dengan baik, jadi, aku bertekat akan menjaga kehornatannya sampai kami benar-benar menikah."
Novi mengeratkan pelukannya pada Aditya. Ia berfikir perasaannya kepada Quen hanyalah sebatas opsesi.
Aditya yang mendengar itu, ia hanya tertawa. Memang kau yang paling mengerti aku, Nov. Tidak ada yang lebih baik darimu akan hal itu."
"Apakah Quen tidak bisa mengertimu?" tanyaΒ Novi, yang hanya di balas dengan gelengan kepala oleh Adit.
"Lalu, bagaimana kalian menjalani hubungan selama ini?"
"Dia melakukan apapun untuk kesenanganku semata-mata hanya menjaga perasaan saja."
"Kau hanya dilema saja, aku yakin dan berani jamin. Andai Quen tetap memilih menikah denganmu kala itu, kau juga akan tetus teringat aku drngan alasan aku ibu kandung Axel. Dia juga akan menderita. Kurasa dia sangat cerdas," ucap Novita.
Β Β π π π π
"Sayang, apakah kau sudah siap?" teriak Alex dari luar.
"Iya, sudah," sahut Quen yang berdiri dari ambang pintu kamar dengan balutan gaun dusty pink dan haigheels bermotif bling dengan taburan permata.
Sesaat Alex terpaku dengan penampilan Quen yang elegan simple dan berkelas dengan sebuah kado besar di tangannya.
"Kau pakai hak tinggi tidak apa-apa, ya?" ucap Alex nampak kawatir.
"Pesta hanya bebrapa jam saja, kan Sayang? Dan lagi usia kandunganku juga baru satu bulan. Tidak masalah." Quen melingkarkan lengan kanannya pada lenhan kiri Alex dan bergelandut manja pada pria itu.
"Ok, baiklah, jaga diri baik-baik, kalau perlu jangan lepas genggaman tanganku, karna aku tidak bisa memaafkanndiriku sendiri jika terjadi hal buruk pada kalian." Tegas Alex.
Tiba di lokasi pesta, di sana Quen bertemu dengan beberapa teman masa SMAnya. Sebagian dari mereka tahu, Quen mengambil jurusan apa dan bergerak di bidang apa, salah satunya dalah Sinta dan Bella. Sudah berani memanggil Quen dengan sebutan Bu Dokter.
__ADS_1
Jelas wajah wanita itu nampak malu dan bersemu merah, karena semua mata langsung tertuju padanya. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha menggoda Quen, "Bekarja di rumah sakit mana? Mau sakit terus aku kalau seperti ini."
Quen pun melotot ke arau dua temannya, dan berkata pelan. Jangan bahas itu ah."
Quen melirik Alex yang juga asik mengobrol dengan teman SMA nya dulu di sebuah sudut dekat dengan Tempatnya berdiri.
Tak lama kemudian Helena datang menyapanya yang baru saja tiba, setelah setelah sedikit mengobrol, gadis itu bergantian menyapa Alex dan kawan-kawannya.
Lima menit kemudian acara doa dan potong kue di mulai lalu menyusul acara pesta berupa dansa bagi mereka yang datang dengan pasangannya.
Quen yang merasa kakinya pegal, ia memilih untuk duduk saja di bangku yang sudah di sediakan, terutama bagi para jones pasif. Sekilas ia melihat seklibat Alex mencari-cari seseorang. Ia rasa mungkin dia yang dicari. Siapa lagi?
Benar saja, Alex nampak mencari seseoarang. Pandangannua di edarkan ke seluruh penjuru area pesta. Tapi, Quen masih juga belum dapat ia temukan.
"Mencari siapa?" sapa seorang wanita dari belakang Alex.
Alex menoleh sedikit malas dan menjawab penuh dengan penekanan.
"Istriku."
Wanita itu tersenyum menghampiri Alex dan meraih kedua pergelangan tangannya.
"Ini hari spesialku. Tidakah kau ingin memberiku sesuatu yang spesial?"
"Yang kami bawa sudah spesial. Kau mau apalagi?"
"Alex, aku masih mencintaimu. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama denganku, kan?"
"Helena, maaf. Aku sudah beristri."
"Tidak, aku mau kamu malam ini. Tidakkah kau ingat bagaimana kita melakukannya dulu dan tidakah kau mau mengulanginya sekali lagi malam ini? Aku mohon, plis Lex, satu kali di malam yang spesial utukku anggap saja kado terindah darimu!" Mata wanita itu lekat memandak ke dalam mata Alex.
Alex mengeratkan giginya. Dengan sedikit kasar ia melepaskan pelukan pada Helena.
"Kau ini wanita, jangan terlalu sibuk berlari demi mengejar pria yang kau cintai tapi tidak mencintaimu. Di kepalamu ada mahkota yang tidak kokoh, dan bisa saja jatuh dengan mudah jika kau berlari," ucap Alex.
"Mana peduli aku? Bukannya kau yang sudah merenggut mahkotaku? Kerhormatan dan keprawananku kau yang ambil, Alex. Dan sekarang dengan mudahnya kau mencampakanku lalu menikah dengan gadis lain, di mana hati kamu, Lex? Aku hancur karna kamu, dan berusaha tegar berdiri karna aku satu-satunya harapan kedua orang tuamu. Kau sadarlah!"
"Sadar? Bagai mana aku bisa sadar jika kau sudah memasukan obat dalam minumanku dan betelanjang di depanku? Kau memang yang menciptakaj api itu sendiri. Jika saja kau tidak mengaku hamil, pasti aku tidak akan pernah kehilangan Quen. Tapi, aku bersukur, dengan begitu aku tahu sebesar apa cintanya padaku, jadi, aku tidak akan ragu lagi," ucap Alex lalu pergi.
Sementara Helena jatuh tersungkur di atas rerumputan sambil terisak meratapi nasib nya.
Alex yang sudah cukup lama berputar mencari Quen akhirnya menemukannya ia tengah duduk seorang diri di sudut bangku mengamati orang-orang yang tengah berdansa.
Helena mengamati Alex dari jelas, nampak olehnya pria itu menghampiri Quen dan berjongkok di bawahnya lalu laki-laki itu mengelus pertu wanita itu dan mencuminya beberapa kali. Sementata itu, Quen yang mendapatkan perlakuan suaminya yang begitu ia nampak tersenyum manja sambil mengusap rambut coklat Alex.
Helena menebak-nebak apa yang dilakukan pasanga muda itu, "Apakah Quen telah mengandung anak Alex? Tidak, tidak mungkin kan?" tiba-tiba saja Helena merasa hilang kesadaran dan kendali saat membayangkan bagaimana Quen dan Alex tengah bercinta ia pun malah prustasi dan meminum banyak sekali minuman keras dan tak peduli apapun.
π π π
"Apa lagi yang kita cari, Van? Hidup kita sudah berada di puncak kebhagiaan. Al dan Quen sudah sama-sama berumah tangga. Hubungan Quen dan Nayla juga sudah baik, keslah pahaman di antara keduanya sudah teratasi." Clara mengamati kedua anak dan dan menantunya yang tengah asik mengobrol di taman bawah. Sambil memeluk erat tubuh suaminya.
"Iya, sebentar lima bulan lagi, kita benar-benar resmi menjadi kakek nenek kandung dari putri kita, lihat, perut putri kita, sudah semakin besar saja," sahut Vano.
"Dan badannya juga makin lebar," ucap Clara sambil tertawa.
"Lalu, apa keinginanmu saat ini?" tanya Vano sambil mencium ujung kepala Clara.
"Aku ingin kembali ke Paris, tapi, bersama kedua orang tua kita, Van. Biarkan anak-anak kita di rumah. Bagai mana?" usul Clara.
__ADS_1
"Baiklah, kau mau berangkat kapan? Buar ku urus semua keperluan kita, kita hanya pelu paspos saja, kan?"
"Ya, perusahaan serahkan saka pada Al. Lagian, Quen selian hamil besar dia juga masih dalam masa pendidikan. Nanti kalau dia sudah resmi menjadi dokter, kita rayakan bersama-sama dengan cucu kita."