
Sepanjang perjalanan bibir Al selalu membentuk senyuman
sekalipun itu sangat tipis. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas dia sedang dalam mood yang baik.
Sejurus kemudian pria itu melirik kearah Queen yang masih
saja cemberut dan membuang pandangannya kearah jendela.
“Kita mau sarapan apa, Sayang?”
“Aku gak mau sarapan. Aku mau pulang lalu meneumi Diaz dan
juga Hanifah,” cetus Wanita itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar
jendela.
Al hanya mendesah Panjang, dan berkata, “Kau bisa saja
meminta penjelasan kepada kakek, apa lasannya melanjutkan pertunangan itu dan
mengganti si wanitanya, dan juga pada Hanifaa, kenapa dia mau-maunya.
Jelas-jelas kau sangan mencintai Diaz. Tapi, apakah kau masih ada keberanian
untuk mengakui apa yang kita perbuat semalam padanya untuk mengetahui hati pria
itu benar-benar bisa menerimamu apa adanya atau tidak?”
Queen menatap tajam kepada Al dan berkata, “Aku tidak pernah
menginginkan hal itu. Itu terjadi karena kau memaksaku, itu keinginan sepihak
karena aku tak pernah menginginkannya sedikitpun.”
“Oh, ya Sayang?” Al tersenyum sinis membentuk seringaian,
bagi Queen senyuman itu tidak ada bedanya dengan senyuman seekor iblis.
“Baju kebayaku yang koyak bisa menjadi bukti.”
“Hehehe, kau memang cukup cerdik, aku suka itu. Tapi, apakah
kau sadar kalau semalam kau mendesah dan diakhir permainan kita bahkan kau juga
sempat melenguh Panjang sambil menjambak rambutku? Kurasa kau bisa lah mengerti
bagaimana agar pria menjadi semangat dalam hal itu, karena sebelumnya kau pun
juga pernah menikah.”
Seketika itu juga wajah Quen berubah merah lantaran marah
dan juga malu. Dia sebenarnya sama sekali tidak menikmati adegan malam itu, tapi,
ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara. Al terlalu kasar bermain, tapi
ia malah mengira Queen mendesah karena menikmati.
Sepuluh menit kemudian, Al membelokan mobilnya di sebuah rumah
makan.
“Kenapa kemari? Aku
sudah bilang kan sama kamu? Aku mau pulang bukan makan,” teriak Queen dengan
kencang.
“Sayang, bicaralah dengan normal, aku ini belum tuli. Ya,
aku tahu kau mau pulang, tapi aku lebih tahu jika kau juga butuh sarapan agar
kuat menghadapi cobaan, aku yakin kau sejak semalam juga pasti belum kemasukan
apa-apa, kan?”
“Bukan urusanmu!”
“Atau kau sudah cukup kenyang dan bertenaga setelah… “
“PLAK!”
“Hentikan omonganmu, aku tidak mau mendengar apapun dari
mulutmu yang kotor itu, aku benci sama kamu Al.”
Al memegangi pipinya yang terasa panas setelah mendapat
tamparan keras dari Queen. Tapi, sedikitpun dia sama sekali tidak marah ataupun
tersinggung. Pria itu justru malah tersenyum.
“Sudahlah sayang, ayo kita sarapan, aku tidak mau jika kau
sampai sakit nanti,” ucap Al sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Al sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun tapi
Queen masih beregeming di tempatnya. Pria itu pun mengarahkan tubuhnya mendekat
ke arah wanita itu dan tepat di dekat telinganya ia berkata dengan nada
sensual, “ Kau manja sekali, Sayang? Apakah minta aku gendong untuk masuk?”
__ADS_1
“Pergi, kau!” Queen mendorong tubuh Al, lalu ia segera bergegas melepas
sabuk pengamannya dan turun dari mobil dengan perasaan jengkel.
Tidak berhenti di situ, saat di dalam restoran pun bahkan Queen
juga masih saja berulah membuat Al jengkel dengan caranya yang mogok makan.
Tapi, bukan Al Namanya jika tidak memiliki cara untuk membuat wanita yang dia
cintai tetap makan.
“Sayang, ayolah makan, ini semua yang aku pesan adalah menu
kesukaan kamu.”
“Aku jijik melihatmu, bagaimana aku bisa makan?”
“Oh, sepertinmya kamu memang mau disuapin lewat mulut, ya?
Baiklah, aku akan lakukan itu.” Tangan Pria itu pun meraih makanannya dan mulai menyuapkan ke dalam
mulutnya l;alu mengunyahnya perlahan.
Sementara Queen masih berpaling muka dan sedikit melirik kea
rah Al. ‘Dia tidak mungkin melakukan apa yang baru saja dia katakana, bukan? Pengunjung
rumah makan ini sudah cukup ramai,” batinnya.
Tapi, itu hanya anggapam Queen saja, siapa sangka Al yang berdiri di sampingnya itu menarik
Dgunya membuat poosisinya menjadi mendongak dan memaksa memasukan makanan yang
ada di dalam mulutnya ke dalam mulut wanita itu.
Queen terkejut, ingin berteriak juga tidak bisa, yang ada ia
hanya ingin muntah saja menerima bekas kunyahan Al. Ia berlari ke belakang dan
mengeluarkan semuanya sambil kumur-kumur.
Ketika dia kembali, Al berkata yang lebih mengarah ke ancaman
sebenarnya, “ Kau mau makan sendiri, atau aku akan melakukan hal serupa sampai
ada sesuap nasi masuk ke dalam perutmu, Sayang? Masalahmu terlalu berat nanti
itu, kau butuh banyak tenaga untuk menghadapinnya. Tidak lucu, kan kalau
seorang dokter sampai jatuh pingsan?”
Queen tidak menjawab, ia duduk dan mulai memakan makanannya
dengan sangat terpaksa. Tapi, sayang, Al tidak peduli itu, mau terpaksa atau
itu mengancam dengan ancaman yang sama agar Queen menghabiskan satu porsi nasi ayam
betutu dan sambal terasi yang memang jadi menu kesukaannya.
Usai makan, Al menepati janjinya, menuruti Queen untuk
pulang bertemu kakek Andrean, kebetulan sekali Hanifah, tante Eren dan om Hans
masih belum pergi, mereka ada di sana.
“Kek… Kakek, Hanifah, di mana kalian?” teriak Queen. Amarah
yang ada di hatinya membuat ia melupakan tata krama dan sopan santun yang
diajarkan keluarganya sejak kecil dalam sekejab saja.
Sementara Al terus mengikuti Queen tanpa sepatah katapun di
belakangnya. Pria itu sengaja membiarkan wanitanya meluapkan semua emosi dan
amarahnya.
“Queen, kenapa harus berteriak-teriak seperti itu, sih?’
ucap Nayla, marah, mungkin dia merasa terganggu saat mengajari Bilqis mengulang
kembali pelajarannya dari sekolah.
“Aku tidak ada urusan dengan mu, di mana kakek dan Hanifah?’
Nayla langsung diam, ekspresi wajahnya juga berubah ketika
dia melihat ada Al di belakang Queen, dan menatap tajam kearahnya.
“Kau tidak perlu berteriak seperti itu, mereka ada di belang,”
jawab Nayla dengan suara pelan.
Queen pun segera menuju ke halaman belakang untuk menemui
dua orang itu, sementara Al hanya mengekor dibelakang wanita itu tanpa
sedikitpun memandang kearah Nayla.
“Mas, akum au bicara denganmu!” ucap Nayla, sambil memutar
badan menghadap kearah suaminya.
__ADS_1
“Apa?”
“selama ini kau mena saja sih, Mas? Aku ini masih istrimu,
tapi kenapa kau seolah-olah tak menganggapku ada?”
“Aku malas membahas itu, lain kali saja, masih ada hal yang
perlu aku urusi.”
“Mas, dengarkan aku! Aku hanya perlu kau anggap saja tidak
begini. Bahkan dalam kondisi rumah tangga yang seperti ini kau masih saja bersikap egois seperti itu,” ucap Nayla sambil
menangis.
Jujur saja, semalan dia tidak bisa tidur karena memikirkan
Al. Ia tajut kalau memang ada scandal di antara dia dan adik angkatnya. Namun, kenapa Queen nampak marah-marah
seperti itu dia juga tidak tahu.
“Sudah, Nay. Aku bilang jangan bahas ini dulu, keluargaku
sedang ada masalah besar dan kau malah menambah masalah lagi menjadi kian
keruh, apa maumu?”
“Aku Cuma butuh perhatian kamu mas, aku merasa sebagai istri
sudah takj lagi di anggap selama ini!”
Al menyeringai, “Oh,ya? Kau saja yang tak tau diri.” Al pun
pergi menysul Queen di belakang di sana, dia sudah menangis dan marah
menyalahkan semua yang ada di sana termasuk om dan juga tantenya.
“Kalian semua tega sama aku, ya sudah, kurasa aku sudah tak
lagi dibutuhkan lagi di sini, aku akan pergi.” Queen berjalan mendekati Hanifah
sambil tersenyum, namun matanya masih mengalirkan air matai a berkata, “Hanifah,
yterimakasih sudah jadi poenghianat yahg mengambil pria tak berprinsip seperti
Diaz, kalian berdua pantas bersama karena juga sama-sama seperti itu, selamat,
ya? Semoga bahagia.”
Queen membalikkan tubuhnya lalu berlari sambul menghapus air
mata di kedua pipinya. Sedangkan di sana, mereka berempat sama-sama memasang
raut wajah penuh rasa bersalah.
Mulanya Al hendak mengikuti Queen. Tapi, langkahnya terhenti
karena kakek Andrean memanggil Namanya.
“Al, kemarilah!”
Dengan patuh pria itu pun melangkah, mendekat dan berlutut
di depan kakek Andrean yang tengah duduk di kursi roda miliknya. “Iya, Kek. Ada
apa?” jawabnya.
“Maafkan kakek sudah membuat hati adikmu hancur, kakek
begini karena tidak ada pilihan lain. Mana mungkin kakek mempermalukan Diaz dan
keluargnya yang sudah jauh-jauh datang dengan persiapan yang dapat di kata
rumit itu tahu-tahu di sini acara gagal begitu saja? Jika pun menunggu Queen
kembali juga kalian baru saja tiba. Jika kau marah, marahlah pada kakek, jangan
pada siapapun, jika kau mau melukai, lukai saja kakek. Sekali lagi mafkan kakek
yang membuat kau menjadi ingkar dengan janjimu pada mama dan papa untuk selalu
menjaga dan membuat Queen bahagia.”
Al hanya diam tidak menjawab. Wajahnya menujukan ekspresi
datar, namun jauh di dalam hatinya ia justru berterimakasih pada kakeknya, setidaknya
setelah membuat Diaz dan Hanifah bertunangan, peluang untuk dapat kembali dengan
Queen juga kecil, kan?
“Tidak apa-apa, masih ad acara lain untuk membuatnya bahagia,
Aku tidak menyalahkan Hanifah, justru akum au kau pertahankan saja dia,
cepatlah menikah agar dia bisa luluh karena cintamu. Tapi, apa yang dikatakan
Queen juga benar, setidaknya dengan begitu, seorang yang tak berpendirian tetap
sudah diambil dari dirinya,” jawab Al. Lalu pria itu pun menyusul adiknya ke
kamarnya.
__ADS_1
Di sana Al melihat Queen tengah membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas dan juga koper besar miliknya.
"Perlu kakak bantu, Sayang?"