Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 203


__ADS_3

Sepanjang perjalanan bibir Al selalu membentuk senyuman


sekalipun itu sangat tipis. Entah apa yang ia pikirkan, yang  jelas dia sedang dalam mood yang baik.


Sejurus kemudian pria itu melirik kearah Queen yang masih


saja cemberut dan membuang pandangannya kearah jendela.


“Kita mau sarapan apa, Sayang?”


“Aku gak mau sarapan. Aku mau pulang lalu meneumi Diaz dan


juga Hanifah,” cetus Wanita itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar


jendela.


Al hanya mendesah Panjang, dan berkata, “Kau bisa saja


meminta penjelasan kepada kakek, apa lasannya melanjutkan pertunangan itu dan


mengganti si wanitanya, dan juga pada Hanifaa, kenapa dia mau-maunya.


Jelas-jelas kau sangan mencintai Diaz. Tapi, apakah kau masih ada keberanian


untuk mengakui apa yang kita perbuat semalam padanya untuk mengetahui hati pria


itu benar-benar bisa menerimamu apa adanya atau tidak?”


Queen menatap tajam kepada Al dan berkata, “Aku tidak pernah


menginginkan hal itu. Itu terjadi karena kau memaksaku, itu keinginan sepihak


karena aku tak pernah menginginkannya sedikitpun.”


“Oh, ya Sayang?” Al tersenyum sinis membentuk seringaian,


bagi Queen senyuman itu tidak ada bedanya dengan senyuman seekor iblis.


“Baju kebayaku yang koyak bisa menjadi bukti.”


“Hehehe, kau memang cukup cerdik, aku suka itu. Tapi, apakah


kau sadar kalau semalam kau mendesah dan diakhir permainan kita bahkan kau juga


sempat melenguh Panjang sambil menjambak rambutku? Kurasa kau bisa lah mengerti


bagaimana agar pria menjadi semangat dalam hal itu, karena sebelumnya kau pun


juga pernah menikah.”


Seketika itu juga wajah Quen berubah merah lantaran marah


dan juga malu. Dia sebenarnya sama sekali tidak menikmati adegan malam itu, tapi,


ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara. Al terlalu kasar bermain, tapi


ia malah mengira Queen mendesah karena menikmati.


Sepuluh menit kemudian, Al membelokan mobilnya di sebuah rumah


makan.


“Kenapa kemari?  Aku


sudah bilang kan sama kamu? Aku mau pulang bukan makan,” teriak Queen dengan


kencang.


“Sayang, bicaralah dengan normal, aku ini belum tuli. Ya,


aku tahu kau mau pulang, tapi aku lebih tahu jika kau juga butuh sarapan agar


kuat menghadapi cobaan, aku yakin kau sejak semalam juga pasti belum kemasukan


apa-apa, kan?”


“Bukan urusanmu!”


“Atau kau sudah cukup kenyang dan bertenaga setelah… “


“PLAK!”


“Hentikan omonganmu, aku tidak mau mendengar apapun dari


mulutmu yang kotor itu, aku benci sama kamu Al.”


Al memegangi pipinya yang terasa panas setelah mendapat


tamparan keras dari Queen. Tapi, sedikitpun dia sama sekali tidak marah ataupun


tersinggung. Pria itu justru malah tersenyum.


“Sudahlah sayang, ayo kita sarapan, aku tidak mau jika kau


sampai sakit nanti,” ucap Al sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Al sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun tapi


Queen masih beregeming di tempatnya. Pria itu pun mengarahkan tubuhnya mendekat


ke arah wanita itu dan tepat di dekat telinganya ia berkata dengan nada


sensual, “ Kau manja sekali, Sayang? Apakah minta aku gendong untuk masuk?”

__ADS_1


“Pergi, kau!” Queen mendorong  tubuh Al, lalu ia segera bergegas melepas


sabuk pengamannya dan turun dari mobil dengan perasaan jengkel.


Tidak berhenti di situ, saat di dalam restoran pun bahkan Queen


juga masih saja berulah membuat Al jengkel dengan caranya yang mogok makan.


Tapi, bukan Al Namanya jika tidak memiliki cara untuk membuat wanita yang dia


cintai tetap makan.


“Sayang, ayolah makan, ini semua yang aku pesan adalah menu


kesukaan kamu.”


“Aku jijik melihatmu, bagaimana aku bisa makan?”


“Oh, sepertinmya kamu memang mau disuapin lewat mulut, ya?


Baiklah, aku akan lakukan itu.” Tangan Pria itu pun meraih  makanannya dan mulai menyuapkan ke dalam


mulutnya l;alu mengunyahnya perlahan.


Sementara Queen masih berpaling muka dan sedikit melirik kea


rah Al. ‘Dia tidak mungkin melakukan apa yang baru saja dia katakana, bukan? Pengunjung


rumah makan ini sudah cukup ramai,” batinnya.


Tapi, itu hanya anggapam Queen saja, siapa sangka  Al yang berdiri di sampingnya itu menarik


Dgunya membuat poosisinya menjadi mendongak dan memaksa memasukan makanan yang


ada di dalam mulutnya ke dalam mulut wanita itu.


Queen terkejut, ingin berteriak juga tidak bisa, yang ada ia


hanya ingin muntah saja menerima bekas kunyahan Al. Ia berlari ke belakang dan


mengeluarkan semuanya sambil kumur-kumur.


Ketika dia kembali, Al berkata yang lebih mengarah ke ancaman


sebenarnya, “ Kau mau makan sendiri, atau aku akan melakukan hal serupa sampai


ada sesuap nasi masuk ke dalam perutmu, Sayang? Masalahmu terlalu berat nanti


itu, kau butuh banyak tenaga untuk menghadapinnya. Tidak lucu, kan kalau


seorang dokter sampai jatuh pingsan?”


Queen tidak menjawab, ia duduk dan mulai memakan makanannya


dengan sangat terpaksa. Tapi, sayang, Al tidak peduli itu, mau terpaksa atau


itu mengancam dengan ancaman yang sama agar Queen menghabiskan satu porsi nasi ayam


betutu dan sambal terasi yang memang jadi menu kesukaannya.


Usai makan, Al menepati janjinya, menuruti Queen untuk


pulang bertemu kakek Andrean, kebetulan sekali Hanifah, tante Eren dan om Hans


masih belum pergi, mereka ada di sana.


“Kek… Kakek, Hanifah, di mana kalian?” teriak Queen. Amarah


yang ada di hatinya membuat ia melupakan tata krama dan sopan santun yang


diajarkan keluarganya sejak kecil dalam sekejab saja.


Sementara Al terus mengikuti Queen tanpa sepatah katapun di


belakangnya. Pria itu sengaja membiarkan wanitanya meluapkan semua emosi dan


amarahnya.


“Queen, kenapa harus berteriak-teriak seperti itu, sih?’


ucap Nayla, marah, mungkin dia merasa terganggu saat mengajari Bilqis mengulang


kembali pelajarannya dari sekolah.


“Aku tidak ada urusan dengan mu, di mana kakek dan Hanifah?’


Nayla langsung diam, ekspresi wajahnya juga berubah ketika


dia melihat ada Al di belakang Queen, dan menatap tajam kearahnya.


“Kau tidak perlu berteriak seperti itu, mereka ada di belang,”


jawab Nayla dengan suara pelan.


Queen pun segera menuju ke halaman belakang untuk menemui


dua orang itu, sementara Al hanya mengekor dibelakang wanita itu tanpa


sedikitpun memandang kearah Nayla.


“Mas, akum au bicara denganmu!” ucap Nayla, sambil memutar


badan menghadap kearah suaminya.

__ADS_1


“Apa?”


“selama ini kau mena saja sih, Mas? Aku ini masih istrimu,


tapi kenapa kau seolah-olah tak menganggapku ada?”


“Aku malas membahas itu, lain kali saja, masih ada hal yang


perlu aku urusi.”


“Mas, dengarkan aku! Aku hanya perlu kau anggap saja tidak


begini. Bahkan dalam kondisi rumah tangga yang seperti ini kau masih saja  bersikap egois seperti itu,” ucap Nayla sambil


menangis.


Jujur saja, semalan dia tidak bisa tidur karena memikirkan


Al. Ia tajut kalau memang ada scandal di antara dia dan adik angkatnya.  Namun, kenapa Queen nampak marah-marah


seperti itu dia juga tidak tahu.


“Sudah, Nay. Aku bilang jangan bahas ini dulu, keluargaku


sedang ada masalah besar dan kau malah menambah masalah lagi menjadi kian


keruh, apa maumu?”


“Aku Cuma butuh perhatian kamu mas, aku merasa sebagai istri


sudah takj lagi di anggap selama ini!”


Al menyeringai, “Oh,ya? Kau saja yang tak tau diri.” Al pun


pergi menysul Queen di belakang di sana, dia sudah menangis dan marah


menyalahkan semua yang ada di sana termasuk om dan juga tantenya.


“Kalian semua tega sama aku, ya sudah, kurasa aku sudah tak


lagi dibutuhkan lagi di sini, aku akan pergi.” Queen berjalan mendekati Hanifah


sambil tersenyum, namun matanya masih mengalirkan air matai a berkata, “Hanifah,


yterimakasih sudah jadi poenghianat yahg mengambil pria tak berprinsip seperti


Diaz, kalian berdua pantas bersama karena juga sama-sama seperti itu, selamat,


ya? Semoga bahagia.”


Queen membalikkan tubuhnya lalu berlari sambul menghapus air


mata di kedua pipinya. Sedangkan di sana, mereka berempat sama-sama memasang


raut wajah penuh rasa bersalah.


Mulanya Al hendak mengikuti Queen. Tapi, langkahnya terhenti


karena kakek Andrean memanggil Namanya.


“Al, kemarilah!”


Dengan patuh pria itu pun melangkah, mendekat dan berlutut


di depan kakek Andrean yang tengah duduk di kursi roda miliknya. “Iya, Kek. Ada


apa?” jawabnya.


“Maafkan kakek sudah membuat hati adikmu hancur, kakek


begini karena tidak ada pilihan lain. Mana mungkin kakek mempermalukan Diaz dan


keluargnya yang sudah jauh-jauh datang dengan persiapan yang dapat di kata


rumit itu tahu-tahu di sini acara gagal begitu saja? Jika pun menunggu Queen


kembali juga kalian baru saja tiba. Jika kau marah, marahlah pada kakek, jangan


pada siapapun, jika kau mau melukai, lukai saja kakek. Sekali lagi mafkan kakek


yang membuat kau menjadi ingkar dengan janjimu pada mama dan papa untuk selalu


menjaga dan membuat Queen bahagia.”


Al hanya diam tidak menjawab. Wajahnya menujukan ekspresi


datar, namun jauh di dalam hatinya ia justru berterimakasih pada kakeknya, setidaknya


setelah membuat Diaz dan Hanifah bertunangan, peluang untuk dapat kembali dengan


Queen juga kecil, kan?


“Tidak apa-apa, masih ad acara lain untuk membuatnya bahagia,


Aku tidak menyalahkan Hanifah, justru akum au kau pertahankan saja dia,


cepatlah menikah agar dia bisa luluh karena cintamu. Tapi, apa yang dikatakan


Queen juga benar, setidaknya dengan begitu, seorang yang tak berpendirian tetap


sudah diambil dari dirinya,” jawab Al. Lalu pria itu pun menyusul adiknya ke


kamarnya.

__ADS_1


Di sana Al melihat Queen tengah membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas dan juga koper besar miliknya.


"Perlu kakak bantu, Sayang?"


__ADS_2