
Mereka semua pun
makan dengan diam. Hanya sesekali, Queen bersama Shinta dan papanya saling
menawari dan menaruh lauk pauk pada piring mereka. Untuk papa karena sudah lama
tidak menikmati menu-menu yang dulu jadi favoritnya. Untuk Shinta karena sudah
lama gak berjumpa, dan rindu.
“Pa, ini ada sayur kesukaan papa, coba makan ini!” seru
Queen sambil menyuapkan nasi dan kol merah kepada Vano.
Vano hanya tersenyum dan nururt saja dari tadi. Nasinya
masih tersisa separuh porsi lebih, tapi pertunya sudah terasa kenyang.
“Sayang, kau terus menyuapi papa, bagaimana ini kalau sampai
nasi papa tidak habis?” ucap Vano, sambil mengelus belakang kepala Queen.
“Papa makan yang banyak biar cepat sehat, ya?”
“Papa sudah sehat, Sayang… Asal kamu mau kembali tinggal di
rumah ini menemani papa saat kamu tidak bekerja.”
Queen diam sesaat. Dalam hati ia berfikir, ‘Yang bener saja
aku serumah dengan ******** itu. Bisa-bisa aku jadi budak sexnyam enak saja,’
“Pa, Queen kan juga bantu kakak ke kantor, dan lagi, sebagai
dokter umum, Queen tuh sering dipanggil secara mendadak. Dan jarak apartemen
dengan rumah sakit tempat Queen bekerja kan deket, bisa dijangkau dengan jalan
kaki.”
“Papa kangen sama kamu, Nak.”
“Van, kau harus mengerti posisi putrimu, ya?’’
Queen kian terdiam dan hanya mengamati hidangan yang ada di
depan meja. Kemudian ia melihat Nayla beranjak ke dapur saat Bilqis meminta
kecap manis untuk tambahan makan sup ayam.
Derap kaki terdengar dari ruang depan menuju ruang tamu, ia
hafal dengan suara langkah kaki ini.
“Siapa yang datang, Queen?” bisik Shinta.
Queen yang tengah jengkel rupanya tidak bisa control diri,
dengan enteng dia berkata, “siapa lagi, mungkin ya Mukidi.”
Shinta nampak bengong, baru saja ia hendak bertanya, apakah
dia pasien yang mengalami gangguan jiwa? Malah seorang pria tampan dengan
postur tubuh tinggi mengenakan kemeja warna maroon dan kacamata putih
membingkai wajahnya.
Pria itu memasang ekspresi datar, tenang, dan taka da
sedikitpun senyuman yang menghiasi bibirnya saat menyapa semua orang yang ada
di meja makan.
“Apakah dia pasien temanmu yang sakit?” bisik Shinta pada
Queen.
Queen diam tidak menjawab, karena ada papnya di sebalahnya
dan juga Al kian mendekatinya saja. Dalam hati ia hanya bisa berharap agar
Nayla segera kembali agar ia tidak berbuat apapun, terlebih, saat pandangan
matanya bertemu dengan Diaz, penuh dengan aura permusuhan.
“Sayang, rupanya kau pulang, ya? Kenapa tidak bilang-bilang?
Tahu gitu, kan kita bisa bareng,” ucap Al dan langsung mencium kening dan kedua
pipi Queen di hadapan semua orang, sambil melirik dan menyeringai kea rah Diaz
yang duduk, di depannya.
“Jangan begitu,” lirih Queen sambil mendorong wajah Al
menjauh darinya.
Al hanya tertawa. Sekalipun ia berfikir kalau papanya masih
belum mengetahui tentang apa yang baru saja terjadi antara ia dan Queen
baru-baru ini, toh dari dulu mereka juga setiap dari pulang atau akan pergi
juga selalu begitu, tidak hanya oada saudara, pada papa, mama, kakek dan juga
nenek saat keluarga mereka masih lengkap dulu.
“Katanya habis menemui clien, Al. Apakah beda clien, kok
pulangnya tidak bareng?” tanya Vano.
__ADS_1
“Barengan, sih pa. Cuma Al tidak tabhu, kalau ada teman
Queen yang jemput dia, canti, ya Pa?” ucap Al sambil terkekeh. Namun, matanya
tetap melihat kea rah Queen, bukan ke pada Shinta.
“Itu temannya Queen semasa SMA dulu, Al. Namanya Shinta, dia
sekarang menjadi pramugari kelas internasional. Jadi, jarang di ada di
Indonesia.”
“Shinta, dia adalah Al, anak sulung om. Kalian pasti belum
saling kenal kan, ya? Soalnya pas kalian SMA dulu, dia masih menempuh
Pendidikan di luar negeri, sekaligus belajar menjalankan bisnis yang dijalani
mendiang kakeknya yang di sana,” ucap Vano meperkenalkan.
Shinta hanya tersenyum menunjukkan sikapnya yang malu-malu
tapi mau, ia berbisik lirih pada Queen yang ada di sebelahnya sambil
menyikunya, “Kau, bagaimana bisa diam saja selama ini kalau punya kakak
setampan ini?”
Awalnya Queen ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan
oleh Shinta. Tapi, urung ketika ia menyadari Nayla sudah kembali dari dapur.
“Queen, Shinta masih jomblo, apa sudah punya pacar?” Al
sengaja menggoda istri mudanya, dan mungkin juga berusaha mengelabuhi papanya.
Namun, matanya tak lepas dari wajah Queen yang masih saja menunjukkan sikap
cuek. Padahal, berharapnya Queen marah karena cemburu.
“Hayooo! Kak Al, ngapain nanya-nanya jomblo apa tidak?
Sekarang kak Al jadi nakal, ya? Gak bisa lihat cewek bening dikit,” timpal
Hanifah, bermaksut membantu sandiwara Al. Rupanya dia juga tidak menyadari
kalau di belakangnya ada Nayla.
“Kali aja jomblo, kan… “ belum sempat Al menyelesaikan
kalimatnya, Nayla sudah lebih dulu memotongnya.
“Mas, kau berkata seperti itu di depan istrimu sendiri
apakah itu pantas?”
Queen langsung menutup mulutnya, ia tertawa tertahan. Dalam hati
ia meledek kakanya, yang bisa dianggap tengah apes.
menyenangkan kini menjadi ricuh, Queen berlari kebelakang tak mampu menahan
tawanya. Sebab, ia sadar Al bersikap demikian hanya semata-mata mebuatnya
cemburu saja. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Ia ketahuan istrinya dan
mungkin juga mereka bertengkar.
“Queen!” Wanita itu menoleh ke sumber suara yang
memanggilnya.
Ia mengambil beberapa langkah ke belakang untuk mundur
sedikit mengambil jarak dengan pria yang ada di depannya. “Ada apa kau kemari?”
“Kenapa kau menghindariku sekarang?”
“Kau sudah jadi tunangannya Hanifah, dan aku sendiri juga
sudah menjadi istri kak Al. Kau tahu itu, kan?”
“Iya, kau memang sudah jadi istrinya. Tapi, istri di atas
kertas, kau masih mencintaiku, kan Queen?”
“Tidak! Aku tidak mencintai pria lain selain suamiku,
terlebih dia sudah bertunangan.” Queen memalingkan muka, kemudaian akhirnya, ia
pun berbalik badan membelakangi Diaz.
“Oh, ya benarkah begitu? Coba buktikan kalau kau memang
mencintai Al. Bahkan aku melihat di matamu yang terpancar hanyalah kebencian
padanya saja. Lain halnya dengan diriku, kau tak berani menatpku karena kau
masih mencintaiku, kan Queen?”
“Diaz, kau terlalu percaya diri. Sekarang pergilah! Aku
tidak mau nanti timbul masalah baru, papaku baru saja sadar.”
“Baik, aku hargai permintaanmu, Sekarang coba, kemari
menghadap kepadaku, buktikan dengan menatap mataku, Queen.”
“Diaz, harus berapa kali? Sekarang kau pergilah!”
“Buktikan dulu padaku, jika kau benar tidak mencintaiku!
__ADS_1
Baru aku akan pergi,” ucap Diaz, tetap bersikukuh.
Queen mulai menitikkan air mata saat Diaz terus memaksanya
untuk menatap wajahnya. Tapi, ia sungguh tidak mampu, memang apa yang dia
ucapkan juga tidak sesuai dengan isi hatinya. Kenyataannya, Diaz lah yang
benar.
“Aku janji sama kamu, Pasti akan aku tepati, Tatap mata aku,
jika memang tidak ada cinta lagi di hatimu untukku, maka aku akan pergi.”
“Lalu, jika sebaliknya yang kau lihat, kau mau apa? Kenyataannya
benar, kan aku sudah jadi istri kak Al. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi,
Diaz,” jawab Queen sambil terisak. Ia benci jika harus menangis bukan di waktu
yang tepat.
“Aku gak peduli, akan aku tinggalkan Hanifa, aku akan
merenut,mu kembali dari Al. Apapun resikonya.”
“Kau tidak tahu siapa dia, Diaz. Kau tidak usah berurusan
dengan dia. Itu tidak akan baik untukmu.”
“Aku heran sama kamu, kamu menolak aku perjuangkan itu karena
apa, Queen? Kau khawatir padaku, atau memang bena, diam-diam kau menyukainya?”
“Sudahlah! Sia-sia berdebat denganku, tak akan memberi hasil
yang baik. Kenyataannya dia adalah suamiku, aku akan tetap mepertahankannya.
Aku tidak mau dianggap piala bergilir oleh orang-orang, sekarang, kau pergilah!”
“Diaz!” Seorang gadis berlari dan memeluk dari belakang pria
yang dipunggunggi oeleh Queen.
“Di, kau ingat, aku adalah tunanganmu, jaga hati dan
perasaanku, Queen saja sudah berusaha menerima kak Al, kenapa kau tidak mau
mencoba membuka hatimu untukku? Jelas sekali, buka dia sudah menolakmu? Jangan
kau pikir aku tidak tahu apa-apa.”
Diaz dia tidak menjawab selain mengepalkan kedua tangannya
dengan erat. Ingin marah tapi, tidak bisa. Akhirnya, ia pun hanya menahannya
dan tetap bertahan dalam posisinya. Namun, pertahanan itu runtuh ketika ia
melihat Queen berlari meninggalkan ia dan Hanifah, masuk ke dalam rumah.
“Hentikan Hanifah. Kau memang tunanganku. Tapi, di hatiku
sedikipun masih belum bisa menerimamu,” ucap Diaz kesal dan melepaskan paksa
dua tangan lembut yang tengan melingkar erat di pinggangnya, dan kemudian Diaz
pun pergi ke dalam. Niatnya hendak melihat Queen ingin mengetahui bagaimana keadaannya
dan sekaligus meminta maaf karena telah membuatnya menangis. Namiun, sepertinya
ia harus mengurungkan niatnya, karena keadaan di dalam juga termasuk sangat
genting. Ia melihat Al dan Nayla bertengkar.
Diaz sudah tidak
melihat siapaun di sana selain Al dan istri tuanya yang sudah sejak lama ia
rasa tidak lagi harmonis, hingga akhirnya ia malah jatuh cinta pada adik angkatnya.
“Nay, kau ini punya otak apa tidak, sih? Papaku baru saja
sadar dari komanya, selama hampir dua tahun dia berperang sendirian melawan maut,
dan baru tadi pagi dia dibawa pulang, kau malah bikin masalah! Lihat saja,
sampai ada apa-apa atau penurunan kondisinya, maka jangan salahkan aku jika aku
akan melakukan hal yang diluar batasku.”
Nayla hanya diam dan menangis dan menunduk saja, begitu
melihat sekelibat bayangan Diaz melintas, ia pun memberanikan diri mendongak
dan menatap Al dan berkata, “Mas, coba kau pikir jika aku ada di posisimu,
wanita mana yang tidak cemburu dan sakit hati jika di depan mata kepalanya
sendiri dia melihat suaminya menggoda seorang gadis yang lebih muda?”
Al menyeringai mendengar jawaban itu. Untung saja dia
teringat dengan Queen jika tidak, ingin sekali dia mengambil ponselnhya, memutar
video bukti perselingkuhannya dengan Jevin dan melemparkan ke mukanya saja.
“Kau berkata begitu seperti dirmu yang bersih saja, Nay. Aku
jijik sama kamu.” Al pun berelar dan pergi.
Nayla diam sesaat, raut wajahnya yang semula menunjukkan kemarahan dan rasa emosi akibat cemburunya yang besar, kini malah berubah seolah ia tengah ketakutan.
__ADS_1
"Mama, kenapa mama berantem lagi sama papa?"
"Tidak apa-apa, Nak. kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui hal ini. Ya sudah, Bilqis kan udah selesai makan, kan? Tidur siang, dulu ya?" Nayla pun mengajak Bilqis naik ke atas dan tidur di kamarnya. karena Al juga sudah lama tidak pernah mau lagi sekamar dengan dirinya.