
"Quen, kau kan sudah usai magang, sebentar lagi lulus kedokteran, tidakkah kau memikirkan kembali lamaranku waktu itu? Aku masih menunggumu, dan sampai detik ini pun. Kau tahu, waktuku hanya kuhabiskan bersamamu selain keluargaku." Aditya menggenggam terat kedua tangan gadis di hadapannya. Dua bola mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Quen tersipu malu, dia ingin langsung mengatakan iya, tapi, takut dikata gampangan. Jika bilang tidak, akankah ada lagi kesempatan seperti ini? Sudah hampir tiga tahun Aditya menunggunya. Quen juga tahu seluk beluk pria di hadapannya.
"Kau kalau memang serius padaku, datanglah kerumah, temui kedua orang tuaku." Quen memalingkan wajahnya karena malu ditatap seperti itu oleh Aditya.
"Emm, kapan ya? Mungkin Minggu pagi kau bisa datang kerumah. Karena saat itu biasanya keluarga kami tengah berkumpul," jawab Quen dengan senang.
"Jadi, artinya kamu menerimaku asal orang tuamu merestui kita?" ucap Aditya tersenyum misterius.
"Ya, begitulah. Masa iya aku mau kawin lari. Aku belum sekolah profesi, masa pendidikanku kursng dua sampai tiga tahun lagi untuk mendapatkan gelar dokter."
Tanpa basa basi Aditya mengangkat tubuh ramping itu menggendongnya dan membawanya berlari. Quen memekik kaget dengan perlakuan Aditya yang sangat tiba-tiba.
"Awww... Pak, turunkan aku!" Gadis itu meronta-ronta. Membuat pria yang menggendongnya semakin gemas saja.
"Hay, Quen! Plis lah, kita bukan pasangan anak dan bapak, kenapa kau selalu memanggilku Pak? Panggil aku Aditya!" Perintah pria itu.
"Aku canggung, belum biasa." Protesnya dengan ekspresi memelas dan menggemaskan.
"Mau sampai kapan kau akan terus begini? Hah? Ayo biasakan mulai sekarang!" Pria itu tidak tahan memeluk erat tubuh Quen dan mengecup pipinya berkali-kali.
"Adiiiit! Kau ini, malu kalau kelihatan orang." Quen mendorong dada pria itu dan mengusap pipi bekas ciumannya.
"Kau lebay sekali, sayang? Aku ini laki-laki, tidak akan meninggalkan npda lipstick di pipimu," ucap Aditya gemas sambil mencubit hidung wanitanya.
🌸 🌸 🌸 🌸 🌸
Aditya duduk di depan kedua orang tua Quen.
Pria itu berusaha keras membuang nervousnya di depan calon mertua, tapi, tetap saja rasa itu ada. Meski ia berusaha berpikir bahwa orang tua Quen seumuran dengannya. Karena melihat Vano dan Clara masih nampak muda sekali, mereka bertiga seperti adik kakak saja.
Aditya masih panik menggoyangkan kakinya perlahan-lahan agar bisa rilex, ia bingung harus memanggil apa? Kakak, tapi mereka calon mertua, om tante, jika usia dia dibawah duapuluh lima tahun. Pasalnya usia dia sekarsng sudah tigapuluh empat. Tapi, tetap saja masih keren.
"Om, Tante, saya kemari ingin mengutarakan maksut saya untuk meminang putri anda, Quen." K
Jantung Aditya seolah berdetak kencang, ia bahkan sampai berkeringat demi mengatakan kalimat itu.
"Apakah kau serius dengan putriku? Berjanji tidak akan menyakitinya, dan tidak membandingkan dia dengan... Maaf, aku sudah tahu banyak mengenai anda, Dokter Aditya," ucap Clara tegas.
"Iya, Tante. Saya berjanji. Saya memang dari awal sudah menaruh hati pada Quen. Kami saling mencintai, bahkan putra saya, Axel. Dia sangat menyukainya."
Vano menghela napas dalam. Ia meraih kotak berisi rokok di depannya untuk merilekskan pikirannya. Putrinya akan menikah, dia akan mempunyai menantu, lalu cucu. Rasanya Vano masih belum percaya dengan semua ini. Ini terlalu cepat. Apakah dia sudah setua itu?
"Kami tidak pernah melarang putra putri kami menjalin hubungan pernikahan dengan siapapun. Tapi, sebagai orang tua, kami berhak menastikan calon suami putri kami ini benar-benar baik. Aku juga seorang laki laki, pasti jika akan memulai hidup baru dengan wanita, tidak sekedar mencari istri, tapi, juga mencarikan ibu untuk anakku." ucap Vano panjang lebar.
"Iya, Om. Insyaallah, saya akan memperlakukan putri amda dengan sangat baik."
"Baiklah, kau ngobrolah dengan Quen. Aku akan memanggilkannya." Clara pun berdiri beranjak ke kamar putrinya.
Diketuknya pintu kamar Quen perlahan. Tak lama kemudian gadis itu keluar mengenakan mini dress berbahan katun motif floral selutu.
"Mama, ada apa memanggilku?" ucap Quen malu-malu.
"Keluarlah, Nak. Aditya menunggumu di bawah." Clara tersenyum sambil mengelus kepala putrinya lembut.
__ADS_1
Quen mengedarkan pandangannya ke bawah tangga, dilihatnya Aditya tengah duduk berhadapan dengan papanya.
🌸 🌸 🌸 🌸
Vano duduk santai dengan Clara di teras depan rumahnya. Rasa kantuk seolah tidak kunjung datanh meski sudah pukul sembilan lewat tigapuluh.
Keduanya asik bercengkrama. Bersma secangkor kopi. Seolah lupa kalau besok adalah hari Senin.
"Tanpa terasa kita sudah tua, ya sanyang? Rasanya baru kemarin kita kenal, nakal bersama dan menikah memiliko bayi yang cantik dan mungil. Tapi, bayi itu sudah dipinang orang," kelakar Vano sambil mengepulkan asap ke udara.
"Iya, aku kadang lupa kalau sudah tua, apalagi pas ngumpul bareng teman-teman di cafe milik Reza," timpal Clara. Keduanya saling tertawa begitu menyadari usia mereka yang sudah tak lagi muda.
Keduanya tertawa, "Ya sudah, ayo sayang kita tidur, besok aku harus kerja dan kau menyiapkan sarapan untukku." Vano mengangkat tubuh Clara menggendongnya membawa ke kamar.
🌸 🌸 🌸
"Aku ingin mengajakmu ke pantai pagi ini, apakah kau bisa?"
"Bisa, apakah kau mengajak Axel?"
"Tidak, kita berdua saja, pulangnya baru kita temui Axel."
Pria itu terus berbicara di telfon. Memandangi wajah polos yang masih terlelap. Sesekali mengelus kepalanya.
"Ok, baiklah! Aku akan siap-siap. Jam berapa kau menjemputku?" Quen beranjak menyibak tirai, membuka jendela dan menghirup dalam-dalam udara pagi yang belum terkontaminasi polusi.
"Sekitar jam tujuh, setelah aku mengantarkan Axel sekolah."
"Ok, aku tungg!"
"Mau kemana kamu, Quen?" tanya Vano, karena ia tahu hari ini putrinya tidak ada jadwal kuliah.
"Mau ke pantai, Pa."
"Sama Aditya?"
"Sama siapa lagi?"
Tak lama kemudian, Lyli menghampiri Quen dan Vano yang tengah menikmati sarapannya.
"Nona, Quen ada yang mencari anda."
Quen nampak bingung dipandangnya Vano dan jam tangannya bergantian.
"Siapa, Kak? Suruh masuk saja!" Seru Quen.
Karena penasaran, Quen pun ikut beranjak, dan benar saja. Di ruang tamu Aditya sudah menunggunya. Ia terlihat lebih macho dan manly saat mengenakam kaus hitam pres body yang memamerkan sedikit otot-ototnya dan setelan celana panjang berwarna biru gelap. Serta rambutnya yang sedikit basah terlihat mengkilat saat terbias cahaya matahari yang menerobos di jendela.
"Kau datang lebih cepat duapuluh lima menit," ucap Quen saat pandangan mata mereka bertemu.
"Biasanya wanita tidak suka menunggu." Aditya tersenyum lembut. Benar- benar membuat Quen terpesona. Bahkan rasanya ia ingin melompat duduk berhadapan dipangkuannya. Untung saja, Vivian segera datang dari pasar dan menyapa mereka.
"Quen, ajak nak Adit sarapan sekalian," ucap Vivian ketika tiba di meja makan melihat makanan di piring cucunya belum tersentuh.
"Sarapan dulu yuk!"
__ADS_1
"Kau saja, aku sudah tadi di rumaj bersama mamaku dan Axel."
"Ok, tunggu lima menit di sini, ya?" Quen tersenyum kembali ke meja makan.
Usai sarapan, Aditya memamitkan Quen pada kedua orang tua berserta kakek neneknya.
Di dalam mobil Aditya tidak ada habisnya mencuri pandang pada Quen yang duduk di sampingnya. Keduanya bingung mau membicarakan apa, sampai akirnya Aditya teringat kalau Quen katanya punya kakak. Tapi, dia belum pernah sekalipun bertemu dengannya.
"Quen. Katanya kau punya kakak. Dia di mana sekarang?"
"Kak, Al? Dia ada di Jepang. Sekitar tiga tahun silam setelah menikah dia kembali ke sana melanjutkan usaha Kakek Andreas."
"Sebelumnya dia ada di sana, ya?"
"Iya, lulus sma dia kuliah di sana selama lima tahun dan memegang kendali perusahaan. Setelahnya kembali ke Indo tapi bolak balik ke Jepang. Ini kakek memintanya untuk benar-benar fokus di sana. Jadi, kalau tidak penting-penting banget dia tidak akan pulang."
Aditya mengangguk paham. Dia tahu, Quen putri pengusaha sukses di sini, tapi, tidak menyangka kalau kakeknua juga punya perusahaan di Jepang. Namun, melihat sifat dan gaya hidupnya sama persis seperti anak kelas menengah ke bawah. Makan di warteg. Jajan di pinggir jalan. Nongkrong di cafe biasa. Bahkan kuliahpun dia mengandalkan gojek.
"Dia orang yang baik, kau bisa bertemu dengannya saat kita tunangan nanti." Quen tersenyum lagi menunjukan lesung pipitnya di pipi kanan.
Tiba di pantai, suasana sudah lumayan ramai, Aditya memilih tempat parkir yang tidak begitu dekat dengan mobil lainnya.
Ia menatap Quen penuh arti. Dan menggeserkan sedikit tubuhnya meraih pinggang gadis di sebelahnya.
"Dit, mau ngapain?"
Pria itu tidak menjawab, nafsunya terlalu menggebu, ia langsung memeluk dan mencium gadis di sebelahnya.
Dengan liar tangannya bergerilnya di sana sini, memberikan beberapa bekas merah di dada Quen.
Quen mendesah pelan menjambak rambut Aditya, "Dit, jangan tinggalkan bekas di leher!" Serunya terbata-bata.
"Kenapa? Kau takut? Aku akan menjadi suamimu, sayang."
Tatapan mata Aditya nampak berkabut oleh nafsu. Mungkin wajar dia sudah sekitar lima tahun tidak pernah bermain dengan wanita. Dan ino di dalam mobil, jauh dari keramaian.
"Jangan bikin orang tuaku ilfeel padamu. Beri kesan yang baik pada mereka, ok!" ucap Quen sambil mengusap rambut Aditya lembut.
Aditya tersenyum nakal dan berkata, "Baiklah, aku tidak akan memberimu tanda kepemilikan di leher, tapi di tempat lain boleh, kan?"
"Hey, kau semakin hari semakin nakal saja, Dit. Jangan gigit telingaku!" Teriak Quen sambil tertawa geli.
Aditya memegang kedua pundak Quen mendorong tubuhnya sampai tersandar pada pintuobil, ia merayap dan mencium bibirnya berkali-kali.
Quen hanua diam tak mampu berbuat apapun. Logikanya menolak, tapi, tubuhnya merespon Aditya.
"Percaya sama aku, ya? Aku tidak akan melakukannya sebelum kita resmi menikah. Bagaimanapun, aku akan menjagamu. Ayo kita turun dan bermain ombak di sana." ucap Aditya menyudahi permainannya.
Wajah Quen benar-benar memerah karena ia takut akan kebablasan. Sebab yang dia tahu dari teman-temannya. Laki-laki maupun perempuan yang pernah melalukan hubungan sexual sebelumnya, tidak akan bisa tahan dengan godaan. Terlebih Aditya sudah lama menduda.
Memang jikapun hari ini hal itu terjadi, bukanlah kali pertama dengan bagi gadis itu, sebelumnya dia pernah melakukan dengan kakak angkatnya. Tapi, jelas saja keadaannya berbeda. Saat itu tidak ada cinta melainkan kekaguman.
Quen berjalan agak gontai, dia masih belum bisa berdamai dengan suasana yang baru saja ia rasakan. Tubuhnya masih sedikit bergetar karna terlalu kaget.
Sekali lagi dipandanginya Aditya yang berjalan di sampingnya. 'He no bat, pantas saja banyak gadis dan janda yang tergila-gila padanya. Tapi, dia memilihku?' ucap Quen dalam hati.
__ADS_1