
Queen terkejut saat melihat ponselnya ada banyak panggilan tak terjawab dari Alex. Sekitar duapuluh lima panggilan.
Queen mengerutkan alisnya, lalu bergumam dalam hati, "Ada apa ya? tumben menghubungiku.'
Queen berjalan meninggalkan lobby rumah sakit, tiba di halaman depan, ia terkejut mendapati Alex berdiri di dekat ruang UGD.
"Bahkan dia sampai kemari? Ada apaan, sih?" gumamnya. Lalu melangkah hendak menghampiri pria itu, ia merasa kalau kedatangan Alex benar-benar ada hal yang penting, tapi, apa?
Menyadari kedatangan Queen, Alex berjalan cepat setengah berlari menghampiri wanita itu. Tanpa berkata sepatah kata pun, Alex langsung memeluk erat Queen. Pria itu tak pedulikan sektirar meskipun ia jadi pusat perhatian para dokter perawat dan orang-orang yang berlalu lalang.
"Hei, Lex. Apa yang kau lakukan?" ucap Queen tersenyum canggung karena malu dilihat oleh teman-temannya profesinya.
Tanpa melepaskan pelukannya Alex berulang kali meminta maaf kepada Queen. Bahkan satu kalimat yang membuat Quen terkejut.
"Queen, ayo kita rujuk. Aku ingin memulai awal bahagia denganmu lagi."
Quen mendorong tubuh kekar itu dengan kuat, dan memandangnya dengan tatapan yang sudah dijelaskan. Terlebih, mendapati ekspresi wajah Alex yang begitu serius. Ia makin pusing dibuatnya.
"Lex, kau tidak sedang ngeprang aku, kan?"
"Tentu saja tidak aku serus. Ayo kita ke kantor urursan agama. Kita nikah lagi!" Seru Alex sambil menggandeng tangan Quen mengajaknya ke mobil.
"Eh, tunggu dulu. Kamu tidak sedang demam bukan? Queen menghentikan langkahnya tepat di depan Alex. Ia berjinjit memegang dahi pria itu mengenakan punggung tangannya. "iya sih, normal kamu kenapa sih? kesambet di mana?" tanya Queen.
"Sini, aku kasih tahu kamu!"
Kembali Alex menarik lengan Quen dan membawanya ke tempat yang agak sepi. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukan rekaman yang baru saja didapatnya.
Quen sebenarnya lebih dulu tahu mengenai hal ini. Tapi, dia sudah ada Diaz. Namun tak dapat dipungkiri. Hatinya seolah kembali leleh mendengar permintaan maaf dari Alex dan lagi kalau begitu tulus dan sangat merasa bersalah.
"Aku sudah ikhlas kamu sama Helena, dan lagi bagaimana dengan Diaz? Aku tidak mungkin, kan mempermainkan hatinya?" ucap Queen dengan wajah terduk.
Alex diam. Ia mengamati gadis di depannya nampak sakit dan terpukul.
Pria itupun mundur beberapa langkah, menunduk dan menjagaku rambutnya sendiri dan berkata, "Memang aku salah dan terlalu menyakitimu dulu. Tetap mengabaikanmu dan juga keluargaku yang telah berupaya keras mengatakan kebenarannya. Tapi, aku yang terlalu naif, lebih percaya Helena."
Queen diam, tidak menjawab. Ia memalingkan muka menyembunyikan air matanya.
"Aku akan menceraikan Helena."
Queen terperanjat, ia menoleh ke arah Alex. Belum sempat ia berkata-kata, Alex lebih dulu menjawab.
"Bayi yang dikandungnya milik kakak iparku."
Perasaan Quen kian tak menentu. Hatinya terasa seolah dicabik-cabik. Sekalipun dia sudah ada Diaz, tapi, cintanya belum lama terbangung untuk pria itu, bisa saja karna dia dulu adalah semuah pelarian dan sandaraan saat ia benar-benar luka. Tapi, dengan Alex. Mereka pernah hidup bersama dalam suka duka, bahkan sekalipun Alex gak pernah menyakiti hatinya dengan sengaja terlebih Alex juga cinta pertamanya jelas akan menjadi sulit untuk dipertimbangkan.
"Itu urusanmu, aku tak lagi berhak. Yang jelas, aku sudah ada Diaz, gak mungkin aku mempermainkan dia, Lex. Aku harus pulang. Kakakku akan pergi ke Jepang malam ini."
Queen melewati Alex, mempercepat langkahnya sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Queen, aku tahu diri yang kulakukan keterlaluan walau diluar kesadaranku. Aku menghargaimu, berbahagialah dengannya, jangan lupakan aku, kita bisa jadi sahabat, kan untuk menghormati putra kita yang gugur?" Teriak Alex.
Queen menghentikan langkahnya. Ingin dia menoleh, memberikan senyuma setra anggukan dan berkata iya. Tapi, badannya terasa kaku untuk menoleh dan berbalik ke belakang. Air matanya kian deras membasahi pipinya.
Queen pun segera berlari menuju ke mobil merah, yang sudah standby sejak hampir sepuluh menit yang lalu.
Setelah masuk ke dalam taxi online yang dipesannya, Queen berusaha menenangkan diri. Ia melihat jam di layar sentuhnya dan membatin, 'pertemuan dengan Alex hanya beberapa menit tapi, sangat menguras hati dan menyita pikiran.
Tiba dirumah, Quen mendapati kakaknya masih mengenakan pakaian santai sambil menikmati kopi dan rokok terselip di antaraa jari tengah dan telunjuk kanannya.
"Queen, kau sudah pulang, Sayang?" sapa Al. Begitu menyadari adiknya sudah tiba.
Quen diam menunduk tak menyahut menyembunyikan air matanya.
Merasa ada yang tidak beres, Al menghampiri adiknya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Tapi, tidak. Bahkan wanita itu masih menangis.
"Ada masalah?"
Queen mengeleng dengan cepat.
"Terus kamu kenapa? Cepet bilang siapa yang menyakitimu?"
__ADS_1
Tiba-tiba saja emosi Al memuncak saat mendapati adiknya menangis. Bahkan ia sampai tak bisa kontrol diri.
"Bagaimana kalau aku sendiri yang menyakiti diriku?" jawab Quen dengan tersedu.
"Maksut kamu apa?"
Quen berjalan ke arah single sofa di ruang tengah, ia duduk di sana. Al pun turut mengikuti dan duduk di sebelahnya siap mendengarkan apapun yang adiknya keluhkan.
"Baru saja, saat pulang kerja Alex menemui ku dia meminta aku rujuk setelah menunjukan rekaman tentang Helena. Dia juga bilang kalau akan menceraikan Helena karena bayi yang dikandungnya itu adalah anak Aditya."
Queen menghapus air matanya dan masih sesenggukan.
Al diam, ia tak akan pernah menduga kalau akan menimbulkan rasa sakit kembali untuk Quen. Ia berharap dengan Alex mengetahui semuanya, mereka berdua mendapat balasan sesuai yang diperbuat. Tapi, malah sebaliknya.
"Bagaimanapun Alex adalah bagian dari masalahku. Dia tidak pernah menyakiti aku dengan sengaja. Dia pria baik dan setia. Hatiku hampir luluh karenanya tapi, aku harus jaga perasaan Diaz yang selama ini ada dalam keterpurukanku, Kak. Aku memang mencintai Diaz. Tapi, hatiku kembali hambar saat Alex kembali datang dalam hidupku meskipun dia mau kita cukup berteman saja."
"Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri, Queen. Menjauhkan dari aku dan Alex untuk beberapa waktu, kelak pada siapa kau merindu, pada dialah kau lanjutkan hidupmu."
Queen menoleh kebelakang terkejut saat mendapati Diaz tengah mendorong kursi roda kakek.
"Diaz? Sejak kapan kau di sini?" Tanya Queen terkejut lalu berdiri namun tak mampu mendekati pria itu.
Diaz tersenyum lembut dan berkata, "Aku tahu hatimu, melupakan seseorang di masa lalu itu memanglah berat. Sekarang satu-satunya solusi tenangkan diri kamu. Aku ikhlas, andai kau kembali dengan Alex jika emang dia bahagiamu dia cinta pertama mu aku tahu semua tentang dirimu dari Gea dulu saat kita sama-sama masih menjadi koas di rumah sakit Medika."
Air mata Quen kian deras mengucur. Ia terharu dengan kebesaran hati Diaz. Kini ia semakin yakin Diaz adalah yang terbaik, dia bukan pria yang pengecut dan penuntut apa yang dia mau harus dia dapatkan. Tapi Alex sama halnya hanya saja ia percaya dengan Diaz ia bisa hidup lebih baik.
"Enggak aku nggak butuh waktu aku cuma mau sama kamu saja Diaz. Setelah masa idah ku berakhir, ayo kita menikah," ucap Queen dengan mantap dan pasti.
"Apakah kau sudah tenang dalam mengambil keputusan ini?"
"Tentu saja sudah. Aku tidak mau memikirkan siapapun orang yang sebenarnya sayang sama diri kita adalah dia yang selalu ada saat kita jatuh."
Queen berkata seperti itu di depan Diaz, tapi ingatannya kembali pada saat bagaimana dia menikah dengan Alex saat itu dia juga sama halnya dengan terjatuh. Karena harga dirinya sebagai wanita akan hilang, bahkan keluarga besarnya terancam akan menanggung malu yang teramat sangat.
Tapi, itu adalah masa lalu, ia tidak mau menyakiti hati pria lain. Toh Alex juga sudah terima. Dia ingin berusaha penuh membahagiakan Diaz sebagaimana pria itu berusaha membuat ia tetap tersenyum saat keterpurukannya dulu.
🍁🍁🍁🍁
Dengan raut wajah lusuh dan kucel Alex kembali ke rumahnya. Hatinya sudah membaik setelah mendapat nasehat dari kedua orangtuanya.
Ia muak dan jengah dengan senyuman itu. Terlebih saat Helana bangkit dan menyapanya. "Kau sudah pulang Alex?" ucapnya ceria.
Alex melepaskan lengan Helen yang melingkar di lengannya. Dengan malas ia berkata, "Aku capek, Helena. Aku mau mandi dulu dan perlu istirahat."
Tanpa memperdulikan Helena, ia pun berjalan menuju kamarnya.
Helen menatap aneh ke arah suaminya, secapek apapun dia, ini adalah prilaku yang tak biasa. Tapi, ia berusaha untuk tetap positif thinking. Ia berjalan ke dapur menyiapkan makan malam untuknya.
Sementara Alex di kamar mandi, duduk di atas closed dengan air shower dingin mengalir ke tubuhnya. Ia berusaha mencari ketenangan dan mendinginkan otaknya yang terasa panas dan mengepul.
"Tunggu apalagi? Bukti sudah lengkap dan nyata. Toh hatiku juga sudah tak mau dengannya lagi. Setelah ini aku ungkapkan semua nya. Mungkin aku pelu mengundang kakak dan iparku agar sekalian jelas." Gumam Alex dalam hati.
Alex segera menyelesaikan mandinya lalu meraih ponsel dan menghubungi Novita.
Tapi, belum dia membuka kontak, Helena lebih dulu masuk dengan nampan berisi makan malamnya.
Gadis itu tersenyum penuh bahagia, seolah menggambarkan seorang istri yang setia dan sepenuhnya mengabdikan dirinya pada suami.
Mulanya Alex enggan memakan makanan itu. Tapi, ia berfikir agar ini ia ingat sebagai makanan terakhir yang ia masak untuknya dan lagi, sejak tadi siang perutnya juga belum terisi apapun.
Alex menggeletakkan ponselnya di atas nakas. Ia menghampiri Helen dan memakan masakan yang merupakan menu favorit nya dengan lahap tanpa berkata apapun.
"Enak, gak?" tanya Helena sambil matanya kelak menatap wajah Alex yang mulai basah oleh keringat karena makan makanan pedas buatannya.
"Iya," jawab Alex singkat. Dia lebih fokus pada perutnya yang lapar, sejak sore di rumah mama papanya bahkan mereka tak menawarinya makan sama sekali selain teh panas yang disediakan.
Alex tidak menyalahkan mereka. Mereka juga saking bingung dan terkejut nya atas apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimanapun. Orang taua mana yang rela putrinya dikhianati oleh menantunya.
Mama Rita bahkan sempat pingsan, bagaimana bisa, Aditya menanti kesayangannya itu aslinya seperti itu. Sejauh ini yang mereka tahu dia adalah sosok pria baik dan santun. Tapi, kenapa jadi berubah psikopath begitu?
Alex sudah tahu sejak awal bahwa Aditya sesudah mulai berubah sejak kenal Qeen. Bahkan ia rela menurunkan harga dirinya sebagai pria memaksanya mundur dengan mengatasnamakan keponakannya. Tapi, sejauh ini Alex juga tidak menyangka kalau ia segila itu.
__ADS_1
"Lex, ada masalah, ya?" tanya Helena lagi yang mulai tak tahan didiamkan suaminya sendiri.
"Banyak."
"Apa? Aku ini istrimu satu-satunya sekarang. Kamu cerita dong sama aku! Kita sebagai suami istri bukankah lebih baik saling terbuka?"
'hah, terbuka? Hehehe terbuka katamu. Apakah selama ini kau jujur dan selalu terbuka pula denganku?' batin Alex.
Ia pun meletakan sendok dan garpu di atas piring kosong. Dan meminum air putih yang telah disediakan lalu berjalan ke nakas mengambil ponselnya dan keluar ke halaman belakang.
Helena dengan cepat memberikan sisa-sisa makanan dan membawanya ke dapur tanpa mencuci lalu menyusul Alex dengan segera.
Memang hari ini ia banyak berubah lebih banyak diam dan merenung. Lantas apa yang membuatnya berubah? Pikir Helana, tanpa sedikitpun khawatir akan kebohongannya terungkap.
Wanita itu berjalan mendekati Alex, dan memberanikan diri untuk memijat kedua pundak kekarnya.
"Kamu sepertinya mikir berat banget. Ada apa, sih? Barang kali aku bisa bantu, cerita dong, Lex."
"Aku akan ceritakan semuanya sama kamu. Tapi tidak sekarang."
Alex melirik ke arah ponselnya yang mendapat balasan dari sang kakak, Novita.
Mulanya ia bertanya, apakah kakak sedang sibuk? Dan apakah kak Adit juga ada di rumah?
Sebuah kebetulan. Mereka tengah bersiap menjemput Axel di rumah nenek Livia. Mamanya Adit. Sebelum mereka berangkat dan tiba di sana, dengan cepat Alex membalas chat nya.
Alex melangkah, menjauh dari Helena dan menuliskan kalimat. "Ada hal penting yang akan aku bahas dengan kalian. Cepat datang ke rumah. Papa dan mama juga dalam perjalanan kemari."
"Memangnya kenapa, Lex?" Balas Novita, penasaran.
"Kemari saja, Kak dulu, ini menyangkut keluarga kita." Balas Alex.
"Baiklah."
tanpa menghiraukan Helena Alex berjalan menuju ke ruang tamu menunggu Kakak dan orang tuanya datang.
Tanpa lelah dan menyerah pula, Helena mengikuti Alex dan duduk di sebelahnya. Ia berusaha mencari topik pembicaraan agar tidak didiamkan. Ia paling tidak bisa kalau didiamkan oleh suaminya seperti ini.
Helena meraih tabloid yang tadi dibacanya. Ia tersenyum dan berusaha tertawa meski harinya sakit dengan perlakuan Alex yang tak biasa.
"Sayang. Coba deh, kamu lihat ini. Bagus dan lucu, ya?" ucapnya sambil menunjuk ke gambar baju dan aksesoris bayi perempuan.
Helena sengaja membuka halaman kusus bayi cewek karena saat USG kemarin, menunjukan kalau jenis kelamin bayinya adalah perempuan.
Alex hanya menoleh, tanpa senyum ia hanya menjawab singkat, "Iya."
Tapi, wanita itu tidak menyerah. Dengan semangat ia membuka halaman berikutnya dan menunjukkan halaman yang berisi box bayi serta desain kamar bayi perempuan yang lucu dan menarik dengan berbagai tema. Ada film Frozen, hello Kitty dan juga Barbie.
"Coba lihat ini, Lex! Kamu suka yang mana? Apa Frozen Ajaz ya kan warna dasarnya biru dan putih seperti salju. Katanya kamu ga suka pink."
"Terserah kamu aja," jawab Alex singkat lalu segera berlari saat ia mendengar suara deru mobil di halaman.
Ternyata papa dan mamanya Alex yang datang lebih dulu.
"Papa, Mama. Mari masuk!"
Alex yang sedari diam dan cenderung cemberut kini mendapatkan kembali senyumnya yang ceria.
Dalam hati Helen mengumpat, 'Susah payah aku berusaha membuat dia bicara dan tersenyum gagal. Tapi, dengan kedatangan mereka saja sudah melupakan masalah yang dia pikirkan tadi?'
Mau tidak mau, suka tidak suka, Helena menghampiri mereka. Awalnya ama Rita terlihat enggan menerima uluran tangan Helena. Tapi, setelah melirik ke arah putra dan suaminya ia pun membiarkan wanita yang menghancurkan hubungan rumah tangga kedua anaknya mencium tangannya untuk terakhir kalinya.
"Mama, Papa. apa kabar? apakah kalian sehat?" sapa Helena dengan penuh senyum yang nampak ketulus. Tapi, aslinya bagaimana tidak ada yang tahu isi hatinya.
Mulanya keluarga Alex sudah hampir menerimanya karena memperlakukan Alex dengan sangat baik. Terlebih, pada saudari dan orang tua Alex Helena nampak perhatian.
Tapi, setelah melihat rekaman video yang sore tadi ditunjukkan pada Alex, mama Rita dan papa Nicolas kembali membenci Helena. Bahkan kebenciannya melebihi saat pertama wanita itu muncul di antara rumah tangga Queen dan Alex.
"Ya, kami sehat," jawab mama Rita sewot dan duduk di sebelah suaminya menunggu kedatangan Novita dan Aditya.
Mama Rita merasa badannya bergetar darahnya seolah mendidih melihat Helena di depannya ingin dia marah dan memaki-makinya tapi, ia tahu, tidak mungkin. Biarlah semua terbongkar dengan jelas dulu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Novita dan suaminya pun datang. Alex mempersiapkan mereka masuk ke dalam dan meminta bibi membuatkan minuman untuk tamu-tamunya.
Alex mulai bimbang saat mendapati wajah kakak satu-satunya itu terlihat ceria dan semangat. mau di lanjut, atau tidak ini? pikirnya.