
Saat rombongan polisi dan Sherly tiba di halaman rumah besar
tersebut, nampak sebuah mobil ambulance warna putih terparkir manis di depan
halaman rumah. Tidak berselang lama, dua orang perawat mendorong blangkar yang
diatasnya ada seorang yang berbaring di atasnya.
“Ya Tuhan, siapa yang berada di atas sana? Om Chandra,
apakah tante Novita?” ucap Sherly dengan tubuh bergetar dan penuh dengan
keringat dingin. Ia hampir saja hilang kendali. Sherly hendak membuka pintu dan
keluar. Tapi, polisi yang duduk di dekatnya sambil memangku Adriel dengan sigap memeganginya dan tetap menahan agar dia tidak turun. Karena menurut laporannya saat di kantor polisi tadi, pelaku
yang melukai om dan tantenya juga mengincarnya, hendak membuniuh dirinya yang
kini berhasil melarikan diri.
“Sodari Sherly, mohon kerja samanya. Jangan sampaiterjadi
korban susulan,” ucap Polisi itu.
Sherly diam, tidak lagi berontak. Napasnya kembali terengah-engah.
Ia juga mulai terisak dan berteriak histeris mungkin ia trauma dengan apa yang
dilihatnya. Tak hanya itu, gadis itu bahkan juga mulai menjambak rambutnya
sendiri sambil menunduduk dan meringkuh.
“Bagaimana, ini?” tanya seorang polisi yang duduk di kursi
belakang. Tepat bersebelahan dengan Sherly.
“Anda tolong tenangkan dulu. Saya sudah siap dengan tembak
bius untuk berjaga-jaga jika pelaku mengamuk,” ucap salah seorang polisi muda
yang duduk di samping kemudi.
“Baik, Pak.” Dengan sigap dan waspada tiga orang polisi
turun untuk melihat situasi di luar. Bersamaan dengan itu, dua blangkar lagi
keluar dari rumah dan dua orang lagi terbaring di sana. Melihat pemandangan
itu, Sherly tak bisa menahan diri lagi. Jelas. Tadi yang terlibat dalam insiden
berdarah tiga orang. Ia juga kalau tidak salah ingat dan tak salah lihat, nenek
Dian tergelincir oleh darah di atas lantai Ketika hendak mengejarnya.
“Saudari Sherly!” seru polisis tersebut. Tapi, tak
diindahkan oleh gadis muda tersebut. Ia tetap berlari menghampiri para perawat dan membuka satu persatu penutup wajah di masing-masing jenazah yang akan dimasukkan ke dalam ambulance.
“Suster, bagaimana kondisi om dan tante saya?” teriak Sherly
dengan histeris.
“Maaf, pak Chandra dan bu Novita sudah meninggal Ketika kami
tiba. Sementara ibu Dian… beliau juga tidak terselamatkan.”
“Om Chandra… tante Noviiiii! Teriak Sherly histeris.
Seketika ia roboh dan terjatuh. Badannya terasa lemas dan tak memiliki daya
lagi. Ia terus menangis sedih sejadi-jadinya. Ia tidak mampu membayangkan
bagaimana nasib Adriel yang masih baru berusia tujuh tahun ditinggal meninggal
oleh papa dan mamanya. Akan dengan siapa dia?
“Aaaaaa… Aaaaa… “ teriak Sherly terus menangis meratap.
Terlebih saat Adriel berdiri di sebelahnya, menyentuh
bahunya. Dengan lemas dan tatapan yang kosong bocah kecil itu bertanya padanya,
“Apakah mama dan papa meninggal? Adriel tidak punya orang tua lagi, Cuma punya
kakak Axel saja.”
Kian histerislah Sherly dan merangkul erat tubuh kecil di
depannya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk dan mengelus punggung
kecil itu. tidak hanya dirinya, dokter, perawat, polisi serta seluruh pembantu yang
sudah sadar dari obat bius yang diberikan mama Dian juga turut menitikkan air
mata menyaksikan insiden di depannya. Bukan Novita atau Chandra yang mereka
semua tangisi. Tapi, nasib bocah tak berdosa yang kini benar-benar akan menjadi
seorang yatim piatu.
“Non, Sherly. Bagaimana ini Den Axel menelfon ke nomor
nyonya Novita? Sudah dari tadi ini,” ucap salah satu asisten rumah tangga
omnya.
Sherly melihat ke arah ponsel tersebut. Dengan tangan
gemetar ia mengambil alih benda pipih itu dari tangan bibi pengurus rumah itu.
ponsel yang semula mati, kini kembali berdering. Sebuah lagu dari Judika dengan
judul Cinta karena cinta bagian reffnya. Membuat hatinya kian teriris saja.
“Ha… halo, Xel,” jawab Sherly dengan tubuh bergetar dan
tergagap.
“Siapa, ini? Di mana Mama?” tanya pria itu dengan nada
dingin.
“Axel… huuhuhu…. “ Sherly sudah benar-benar tak mampu
menjawab pertanyaan Axel. Ia memberikan ponsel tersebut pada polisi yang berada
di dekatnya. Yang sedari tadi berusaha keras menenagkan dirinya. “dia putra korban wanita,” ucap Sherly pada
polisi tersebut.
Polisi yang menerima ponsel milik Novita dari tangan gadis
di sebelahnya juga sebenarnya bingung dan tak mampu mengatakan kebenaran dari
fakta ini. Tapi, ia adalah anggota polisi. Harus tetap tegas mengesampingkan
__ADS_1
perasaannya. Rasa haru dalam hatinya.
“Halo, selamat siang. kami dari anggota kepolisian yang kini
tengah menangani kasus pembunuhan ibu anda.”
“Apa? Mama terbunuh? Siapa pelakunya?” tanya Axel tak kalah
terkejut.
“Anda bisa datang ke lokasi kejadian atau ke kantor polisi
saja Tuan. Kebetulan kami memiliki saksi di sini,” jawab polisi itu.
“Baik! Saya akan segera ke sana.” Seketika tubuh remaja pria
itu langsung lemas tak berdaya. Dipeganginya kepalanya dengan kedua tangannya. Dia
diam tanpa ekspresi. Tapi, air matanya terus deras menbasahi kedua pipi tampan
dan sebagian mengalir pada kedua lengannya yang ia gunakan untuk menopang
kepalanya.
“Ada apa, Xel? Apakah mama mu sudah bisa di hubungi?” tanya
Zahara yang baru saja dari dapur. Ia juga tahu, kalau sejak pagi radi Axel kesulitan menghubungi kakak iparnya.
Axel masih diam.
“Xel, apakah ada masalah?” tanya Zahara sekali lagi. Ia
melihat seperti ada yang tidak beres pada keponakannya. Terlebih, bahu remaja
itu bergetar kian hebat saja. “Xel,” ucapnya lagi sambil memegang bahunya.
Zahara merasakan hawa panas dari tubuh remaja tersebut. Lalu, ia berfikir
apakah Axel menangis. Kenapa? Aapakah hal buruk terjadi pada diri kak Novita.
“Xel, apakah mama baik-baik saja?”
Axel masih diam. Zahara terus memperhatikan keponakannya
itu. tidak lama kemudian, remaja tersebut mengelengkan kepala.
“Apa yang terjadi pada mama kamu, Xel?” tanya Zahara mulai
tajut dan panik. Namun, tak ada sepatah kata pun jawaban dari keponakannya itu.
yang ada hanya membuat dirinya menebak-nebak. Tapi, yang masuk dalam pikiran
Zahara malah akan terjadi sesuatu dengan kandungan kaka iparnya. Ya, memang
tidak sepenuhnya salah dugannya itu. Dengan meninggalnya Novita, jelas
meninggal pula janin berusia tiga bulan tersebut.
“Apakah kandungan mamamu bermasalah, Xel?” tanya Zahara
sekali lagi dengan lembut.
“Aku harus ke jogja. Aku akan lihat hasil autopsi dan keterangan dari polisi. Siapa yang membunuh mamaku, dan apa motifnya,’’ ucap
Axel. Lalu beranjak. Tapi, baru beberapa Langkah saja, tubuhnya oleng dan
ambruk. Saking syock nya, Axel sampai tak sadarkan diri.
“Axel! Ya ampun, Xel? Bibi… Alex! tolong Axel dia pingsan,”
teriak Novita yang tengah tergopoh, bingung tak tahu harus berbuat apa. Sebab, ia juga tengah menggendong Lutfy. Saking kencangnya ia berteriak, bayi dalam
kian bingung saja.
“Ada apa, Non?”
“Ada apa, Zahara?” tanya bibi dan Alex bersamaan. Keduanya
juga muncul bersamaan walau dari tempat yang berbeda.
“Tolongin ini gimana, Axel jatuh pingsan, dan Lutfy juga
nangis,” jawab Zahara panik. Ia pun juga tergopoh dan bingung. Belum hilang rasa terkejutnya atas apa yang Axel katakan terkait mamanya, malah ditambah dengan dia jatuh pingsan.
“Sini, Non. Biar bayinya saya yang bawa,” ucap bibi pengurus
rumah Alex, dan membawa keluar Lutfy agar bisa tenang dan kembali terlelap.
“Kenapa dia bisa begini, Za?” tanya Alex tak kalah bingung.
Sebab, baru kali ini ia melihat Axel keponakannya sampai pingsan. Terlebih sebelumnya ia juga sama sekali tidak terlihat sakit dan baik-baik saja. Sakit parah saja dia tidak pernah sampai pingsan. Karena imunitas dia dari kecil cukup bagus.
“Dia dengar kabar kalau kak Novita meninggal karena dibunuh,
Lex,’' ucap Zahar dengan lemas.
“apa?” Alex tak kalah syock mendengar apa yang baru saja
istrinya katakan.
“Iya. Dia mulanya hendak ke Jogja, Lex, melihat sendiri kasus ini. Tapi... untung pingsannya masih di rumah. Bagaimana kalau di jalan?"
Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Ia juga nampak lemas. Wajahnya seketika memucat ketikyda mendengar hal tersebut. "Ya sudah, kita semua ayo ke sana.
Agar sama-sama tahu kronologi dan keadaan Adriel, dia pasti terus menangis,” ucap Axel.
"Baik, Lex," jawab Zahara beranjak
menyiapkan perlengkapan bayinya.
Alex hanya mengangguk dan terus berusaha membangungkan
keponakannya.
“Om, aku harus ke Jogja sekarang, Om,” ucap Axel begitu dia
tersadar. Padahal kondisi juga belum sepenuhnya stabil. Ia masih sempoyongan
dan sempat jatuh dari sofa Ketika ia mencoba untuk bangun dan berjalan
“Tenang, dulu, Xel. Om tahu bagaimana perasaanmu. Tapi
lihatlah om. Om ini juga om kamu, dan bisa disebut sebagai papa kamu juga, oke?
Om sudah tahu barusan tante Zahara berkata pada om. Kita akan ke Jogja
bersama-sama. Kau jangan mengemudi sendiri. Itu bahaya. Tunggu tantemu
menyiapkan perlengkapan Lutfy dulu, oke?” bujuk Alex, dan rupanya itu pun berhasil. Axel hanya diam, mengangguk dengan oatuh.
Sambil menunggu Zahara, Axel langsung menghubungi Al dan
Queen. Dia yakin, pasti kedua ponakannya akan syock dan tergoncang batinnya jika begini terlebih Adriel. Jadi, ia berniat mengajak Queen dengan tujuan meminta tolong agar
bisa memberi bimbingan konseling pada kedua keponakannya agar mereka tidak
__ADS_1
sampai stress karena terlalu larut dalam kesedihan dan duka yang mendalam.
****
“Di dalam kamar dan ruangan di mana pak Chandra dan bu
Novita meninggal, ternyata ada kamera tersembunyi. Jadi, motif pelaku membunuh
korban adalah lantaran dendam di masa lalu,” jelas seorang polisis yang di temui Alex, Axel dan juga Al. sementara Queen dan Zahara berada di tempat lain
untuk menenangkan Sherly dan juga Adriel.
Karena melihat Adriel dan Sherly masih benar-benar shock,
bahkan Adriel juga Cuma diam saja tidak mau berbicara, terpaksa Queen mmeberi
mereka berdua obat penenang. Begitu dua anak itu tertidur, Queen dan Zahara
ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Turut mencari tahu bagaimana
kronologinya.
“Jadi, pada video tadi sudah jelas, ya Pak. Kalau pelaku
adalah ibu Dian. Dia juga meninggal saat jatuh tergelincir darah karena di duga
serangan jantung dadakan. Dari video ini juga kita tahu, kalau tim medis datang
karena panggilan pak Chandra. Dia adalah korban salah sasaran.
"Mungkin dia terkejut saat hendak menusuk kak Novi malah terkena ke kak Chandra, Pak," sahut Alex. Tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
“Bagaimana, Al?” tanya Queen.
Al menghela napas dalam dan langsung merangkul istrinya.
Mungkin ia merasa bersyukur karena saat istrinya dah Zahara datang, video sadis
itu sudah berkhir.
“Bagaimana keadaan Sherly dan Adriel, Sayang?” tanya Al
begitu istrinya duduk di dekatnya.
“Dia sudah bisa tidur bersama Sherly dan juga Lutfy, Al.
bibi menemani mereka bertiga.”
“Baiklah, ya sudah. Ini kita urus pemakaman kak Novi,
Chandra dan mamanya.”
“Kak Novi di makamkan di mana, Lex?” tanya Queen pada adik
dari Novita.
“Ke Jakarta saja, Queen. kita bawa jenazahnya ke sana. Untuk
kaka Chandra, apakah biar di sana saja, ya? Biar tante Dian saja yang di sini. Kan di sini dia ada banyak kerabat,” ujar Alex.
“Kami nurut kamu saja, deh. Gimana enaknya saja,” timpal Al.
Queen melihat ke arah Axel. Ia tidak tega melihat remaja itu terus diam. Air matanya tak lagi nampak, tapi, matanya masih terlihat sembab.
Lagi pula, anak mana yang tidak sedih kehilangan satu-satunya orang tua kandung. Terlebih meninggal dengan cara yang tidak wajar. Sekalipun dia juga
mengalami, tapi setidaknya jenazah kedua orang tuanya dulu juga masih utuh dan
tidak sampai berdarah.
Queen mengambil tempat duduk tepat di dekat Axel. Dengan
ragu-ragu, dielusnya punggung remaja itu. ia berusaha tegar untuk menguatkan keponakannya. Sekalipun dia sudah bercerai dengan Alex, keponakan dan kakak
sekalipun ipar juga tidak bisa di sebut mantan, bukan?
“Xel, yang kuat, ya Sayang?” lirih Queen. Air mata yang
dengan susah payah ia bending kini malah terjatuh.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan remaja
tersebut. Ia malah langsung memeluk erat tubuh Queen dan menangis sambil
berbisik, “Terimakasih, Tante.”
“Kau dan adikmu tidak sendiri, kau masih memiliki om Alex
dan om Al. tantemu juga ada aku. Jangan sedih, belajarlah ikhlas, ya walau sulit. Kami juga orang tuamu dan Adriel,’ ucap Queen lagi sambil terisak.
Axel tidak menjawab. Ia hanya mengangguk saja. Membuat Zahara yang berada di sebelahnya juga ikut menangis.
"Terimakasih. Terimakasih." Hanya itu yang akhirnya terucap dari lisan Axel. Dia terlalu shock dan menganggap ini terlalu berat.
****
Kepergian Novita dengan cara yang tragis memberikan kesedihan yang mendalam di hati orang-orang terdekat mereka. Terlebih kedua anak yang dia tinggalkan. Keduanya berubah sangat pendiam dan tidak lagi banyak bicara.
Memang pada dasarnya Axel dari dulu anaknya dingin dan irit bicaranya. Jadi, perubahannya tidak begitu nampak. Lain dengan Adriel adiknya. Yang sebelumnya dia tipikal anak yang ceria kini jadi diam dan tidak banyak bicara. s
Sangat mencolok dan terlihat.
Sudah dua hari ini Al dan Queen meminta izin pada Alex dan Zahara agar mengizinkan Adriel tinggal bersamanya dengan alasan agar mudah melakukan perawatan psikisnya. Terlebih, di sini juga ada Berlyn putrinya. Ini akan sangat membantu kesembuhan Adriel. Walau lama, setidaknya masih ada hiburan dengan adanya teman sebaya dan yang ia sukai.
"Berlyn, ini sudah waktu jam makan siang. Ajak kakak Adriel makan, ya Sayang?" pinta Queen pada putri kecilnya.
Gadis kecil itu tersenyum. Memberi anggukan pada Queen dan kemudian langsung berlari menghampiri Adriel yang hanya diam membisu menatap foto almarhum Novita.
"Aaa... kak... mam...mam?" ucap Berlyn sambil tersenyum sambil memperagakan sebagaimana orang makan.
Adriel menoleh ke arah Berlyn. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Yok!" ucapnya lagi, sambil menarik lengan bocah yang usianya satu tahun lebih tua darinya.
Karena tidak ada respon, bocah itu berinisiatif mengambil nasi, lauk dan sayur dan memberikannya pada Adriel yang tetap tidak berkutik duduk di dekat kolam ikan.
Lagi, gadis itu memberikan pada Adriel sambil memberikan sepiring nasi pada bocah itu dengan senyumnya yang khas dan menyejukkan bagi siapapun yang melihatnya.
Adriel masih mengelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak lapar, Berlyn. Kau saja yang makan." Bahkan, sedikitpun bocah laki-laki itu tidak menoleh pada Berlyn yang sudah repot-repot mengambilkan makanan untuknya.
Karena tidak ada tanggapan sama sekali, bocah itu menyuapkan sesendok nasi pada Adriel. Sambil tersenyum, senyuman tulus penuh dengan permohonan.
"Hahaha, kau menyuapiku, Berlyn?" ucap Adriel, dan itu adalah pertama kali setelah tiga bulan mamanya meninggal. Membuat Queen dan Al yang diam-diam mengawasi dari jauh turut merasa lega.
"Ambil hpmu. Rekam dan kirimkan pada Alex," ucap Queen pada suaminya. Yang kebetulan ia baru saja membalas pesan chat dari Juna.
Berlyn mengangguk lembut dan anggun sekali. Terus menyuapinya. Keduanya tertawa. Setelah tiga kali suapan, sepertinya Adriel teringat akan sesuatu. Ia tidak melihat Berlyn makan sejak pagi.
"Kau apakah sudah makan?" tanya Adriel.
Berlyn tersenyum sambil mengeleng lembut.
Dengan cepat diambilnya sendok dari tangan Berlyn. Kali ini giliran Adriel yang menyuapi Berlyn.
"Kau sudah sangat peduli padaku. Terimakasih, ya?. Kau juga harus makan. Aku tidak mau kau sakit."
__ADS_1
Keduanya makan bareng dan sama-sama tertawa. Moment itu, mungkin akan abadi menjadi kenangan yang mungkin tidak akan terlupakan oleh mereka berdua. Terlebih, kejadian itu juga terekam oleh Al, dan dikirimkan pada Alex, Zahara dan Queen sendiri. serta kerabat-kerabat Axel dan Adriel dari mendiang Aditya. semua turut berbahagia melihat senyuman Adriel yang pertama setelah insiden tersebut. Queen dan Al banjir oleh ucapan terimakasih dari keluarga mendiang Aditya dan mendiang Novita. karena ia dianggap berhasil memberikan terapi tersebut.
Tapi, bagi Queen bukan dirinya yang berhasil. Melainkan, Berlyn dan Adriel sendiri yang sudah mau membebaskan diri dari kesegarannya yang mendalam.