
Sambil menunggu Al, Queen sekarang mulai bingung harus bagaimana. Mau naik ke atas ranjang, atau bagaimana? Apakah pura-pura tidur adalah pilihan tepat?
Tapi, rupanya, tindakan Al jauh lebih cepat dibandingkan dia mengambil keputusan.
"Sayang, ini apa?" tanya Al dengan nada dan raut wajah yang ditahan.
"Sudah berapa lama kamu menikah dan menyandang status sebagai seorang ayah? Masa kamu nggak tahu apa nama benda itu?" ucap Queen balik melempar pertanyaan.
"Tespek, kan? Punya siapa?" tanya Al lagi. Bahkan, dia memaksa, kedua matanya untuk tidak berbinar. Walau, mungkin jantungnya sudah mau loncat karena degupan yang begitu kencang.
"Kau pikir, siapa saja yang bisa masuk ke toilet dalam kamar kita? Apakah Berlyn?"
"Astaga, Queen! Kau... "
Queen tersenyum. Dia melihat kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata dari raut wajah suaminya. Bahkan, pria itu sampai menitikkan air mata bahagia.
"Selamat untuk siapa? Aku sangat bahagia, Sayang. Akhirnya, kita akan punya anak lagi," ucap Al langsung memeluk erat tubuh istrinya dan mengecup kening dan ujung kepalanya hingga beberapa kali.
"Sudah berapa usianya?"
"Tujuh Minggu."
Tanpa di duga, Al malah langsung menggendong tubuh Queen dan membawanya berputar-putar untuk meluapkan rasa bahagianya itu.
"Sudah, Al... Sudah. Ini sudah malam, turunkan aku, ayo kita tidur," ucap Queen.
"Kau sudah mengantuk?"
Aku baru saja melakukan perjalanan jauh. Tidak hanya ngantuk. Tapi, juga lelah. Memang kamu tidak?"
"Aku sudah terlalu bahagia dengan kabar ini, rasa lelah dan ngantuk ku hilang."
"Sudahlah, bahagia boleh, tapi jangan terlalu. Waktunya tidur, ya tidur saja, ayo!" ujar Queen. Kemudian, wanita itu berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuh lelahnya akibat aktivitas seharian yang cukip menguras tenaga dan pikiran.
__ADS_1
Al memperhatikan tingkah laku Queen. Kenapa di matanya dia jauh lebih menggemaskan?
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" tanya Queen yang masih mendapati suaminya mematung di tempat tidak segera menyusul dirinya yang sudah bersiap untuk tidur.
"Baiklah ini sudah cukup. Aku sudah akan menyusulmu."
Queen mengambil posisi tidur miring membelakangi suaminya. Lalu kemudian, Al berada tepat di belakang Queen dan memeluknya dari belakang.
"Jadi, hampir 2 bulan ini kita melakukan tanpa kita sadari kau sedang isi, Sayang?"
"He'emb... " jawab Queen.
"Lalu bagaimana kondisinya apakah kau sudah memeriksanya dengan teliti apakah dia baik-baik saja?" Tanya Al seketika langsung mencecar kuin dengan berbagai pertanyaan yang bersangkutan dengan cabang bayi yang kini berada di rahim istrinya.
"Dia baik-baik saja dan sehat kok. Hanya saja apa jenis kelaminnya masih belum bisa ditentukan."
"Tidak masalah aku juga tidak buru-buru mengetahui apa jenis kelaminnya tapi... " Aldian tidak melanjutkan kalimatnya.
Lama gue menunggu suaminya melanjutkan apa yang ingin dikatakan tapi karena hasilnya nihil akhirnya wanita itu pun berbalik badan.
"Artinya, melakukan hubungan suami istri aman, kan?"
"Ah, kau ini!" ucap Queen malu-malu sambil menyentil hidung mancung suaminya.
Diam-diam dia menyesali tindakannya berbalik badan untuk menanyakan apa yang hendak dikatakan oleh sang suami. Andai saja dia lebih jeli dan peka apa yang sekiranya ada dalam pikiran Al mungkin hal ini tidak akan terjadi.
"Tidak apa-apa, ya? Aku pengen banget, kita sudah lama tidak melakukannya," bisik Al dengan suara serak penuh nafsu.
"Melihat suaminya yang sudah seperti itu, akhirnya, Queen mengiyakan saja walaupun sebenarnya dia sudah merasa sangat lelah. Sebab, ini juga salah satu kewajiban dia sebagai seorang istri. Toh, tidak ada alasan lagi untuk nolak. Sebab, hari sebelum ini mereka sering melakukan hubungan badan juga tidak terjadi apa-apa pada bayinya.
Pagi-pagi buta Al sudah berada di dapur. Untuk hari ini sengaja dia menyiapkan sarapan khusus untuk kulit tentunya menu-menu khusus yang mengandung banyak gizi untuk si jabang bayi yang dia rasa cukup terlantar. Karena, mereka tahu bahwa Queen hamil sudah memasuki usia hampir dua bulan.
Sedangkan, akhir-akhir ini Queen terlalu banyak aktivitas di luar membuat dirinya kelelahan dan juga pikiran yang bisa dikatakan sangat rumit karena permasalahan keluarga dan juga pekerjaan. So, anggap saja ini dia lakukan sebagai cara dia untuk menebus kesalahan pada istri dan calon anak keduanya.
__ADS_1
Entahlah, kedua apa ketiga. Pertama banget menjadi seorang ayah kandung dia langsung memiliki anak kembar.
"Tuan, Al?" tanya bibi. Dia terkejut dan juga malu karena bangunnya kedahuluan oleh sang majikan.
"Bi, untuk pagi ini bibi masak saja seperti biasa aku di sini hanya khusus membuatkan sarapan untuk Queen."
Rasa heran ada, kenapa tumben banget. Biasanya seperti ini dilakukan oleh tuannya apabila ada masalah dengan sang istri. Tapi jika memang keduanya ada masalah atau habis melakukan perdebatan semalam harusnya raut muka Al tidak seperti itu.
23 tahun lebih bekerja di sini dia sampai tahu seperti apa karakter para majikannya. Sebab, Al menunjukkan rasa bahagia. Jadi, bibi sangat bingung. Apalagi, beberapa hari terakhir ini mereka sedang dalam masalah yang cukup pelik.
Tangan kanan Queen maraba-raba tempat tidur di depannya hingga sampai ia membuka mata ternyata kosong. Suaminya tidak ada di tempat.
"Ke mana dia?" gumamnya dalam hati. Sebab, selama ini yang pasti bangun duluan adalah dirinya. Tapi, ini tumben banget, suaminya sudan bangun duluan dan meninggalkan kamar pula.
Tidak mau ambil pusing dan berpikir panjang wanita itu pun segera bangun dan menuju toilet mencuci wajah dan menggosok gigi lalu keluar.
"Taraaa!"
"Astaga, Al! Kau membuatku kaget saja," ujar Queen sambil tertawa lirih.
"Ayo, sarapan kali ini, aku akan menyuapimu. Ini, aku sendiri yang memasaknya," ujar Al sambil memarkan hidangan yang da di nampan.
"Oh, kau... Kenapa repot-repot, Al? Kau jadi kurang tidur," jawab Queen sambil meletakkan kedua tangannya di sisi pipinya, karena dia merasa terharu atas tindakan Al.
"Aku tidak repot kok aku memang melakukan ini atas kesadaran diri sebagai wujud permintaan maafku kepadamu dan juga caraku menebus kesalahan kepada calon anak kita.
Kalau saja aku tahu lebih awal... "
Queen meletakkan jari telunjukknya di depan bibir Al.
"Ssst! Sudahlah kamu nggak usah membahas sesuatu yang telah berlalu. Kita bisa memperbaiki dari sekarang apalagi kondisiku dan calon anak kita sama-sama sehat."
"Baiklah! Kalau begitu, biarkan aku menyuapimu pagi ini, ujar Al. Akhirnya, mereka pun menikmati sarapan sendiri di dalam kamar.
__ADS_1
Soal Berlyn, memang mereka sengaja mendiamkannya beberapa hari ini setelah ada masalah. Tapi, sepertinya mereka berdua telah melupakan bahwa Mama jesslyn berada di sini.
Jika saja mereka ingat pasti mereka juga tidak akan menikmati sarapannya di dalam kamar. Melainkan berkumpul jadi satu di meja makan untuk menemani Mama jesslyn.